Greatest Accidental ~Chapter 12 {Kim Taehyung and His Struggle}


.o.o.o.o.

 

Park Jimin X Min Yoongi

Kim Taehyung X Jeon Jungkook.

BTS and other characters © God, themselves

Greatest Accidental © Fujimoto Yumi, 2016

Indonesian!AU. | YAOI. BoysLove. | T+ | OOC.

Police!NamVMin. CollegeStudent!JinSugaHopeKook.

Older!NamVMin. Younger!JinSugaHopeKook.

Non-EyD.

 

.o.o.o.o.

 

Greatest Accidental

Chapter 12

Kim Taehyung and His Struggle.

Summary :

Hanya tentang hari-hari di mana Taehyung berjuang untuk mendapat restu dari ketiga kakak overprotektif kekasihnya, Jungkook.

Kecuali Yoongi, tentu saja.

 

e n j o y

 

.o.o.o.o.

Jungkook tengah mengepak barang bawaannya untuk liburan ke pulau Jeju bersama Taehyung –dan Jimin juga Yoongi tentunya. Itupun, Yoongi yang memaksa. Tadinya hanya Jungkook dan Taehyung, tetapi ketika Yoongi tahu, ia langsung membom Jimin lalu memaksanya agar mereka ikut. Yoongi berpikir bisa gawat jika Jungkook hanya berdua dengan Taehyung di pulau indah itu.

 

Namun di tengah kegiatannya, ponsel Jungkook berbunyi dan menandakan adanya telpon dari sang kekasih, Taehyung. Tanpa menunggu lama, pemuda bergigi kelinci itupun mengangkatnya.

 

“Ya, hyung~?”

 

[“Kamu udah packing?”]

 

“Udahhh~ ini Kookie lagi packing. Kenapaaa?”

 

[“Kita berangkatnya telat sehari ya?”]

 

“Eh? Emang kenapa?”

 

[“Orangtua hyung tiba-tiba ngabarin mau dateng. Mereka mau ketemu kamu.”]

 

“EH?”

 

[“Kookie?”]

 

“K-kapan? Terus kak Suga sama pak Jimin gimana?”

 

[“Hyung udah kasih tau Jimin kok. Mereka tetep berangkat sesuai jadwal, nah! Nanti kita nyusul. Oke?”]

 

“Mmm… ne~”

 

[“Kookie? Mau kan ketemu orangtua hyung?”]

 

Jungkook terdiam sebentar sembari memilin ujung telunjuknya di bajunya. Ia menggigit bibir tak yakin. Apakah dia siap? Tetapi… bukankah ini yang terbaik?

 

“Apa gapapa hyung?”

 

[“Gapapa apanya?”]

 

“Ketemu orangtua hyung? Kookie takut…”

 

[“Kok takut?”]

 

Dugeun-dugeun…”

 

Seketika Jungkook mendengar suara tawa Taehyung di sebrang line. [“Kamu lucu ah. Kirain kenapa. Udah, tenang aja. Mereka bakal suka sama kamu, kok.”]

 

“Beneran?”

 

[“Iya Kookieee. Hyung nanti ke kost-an kamu, ya? Kangen~”]

 

“Apasih hyung kan kemarin baru ketemu~”

 

[“Gapapa dong kangenin kamu mah.”]

 

“Hmmm~ bawain patbingsooo!”

 

[“Iya iyaaaa. Love you.”]

 

Nadoyoooo.”

 

Jungkook memasang cengiran setelah menutup panggilan dari Taehyung. Ia kemudian menatap kopernya dan kembali melanjutkan apa yang ia kerjakan tadi. Tidak apa kan kalau dia bersiap-siap dari sekarang?

 

Tetapi daripada itu, entah mengapa pemikiran tentang bertemu orangtua Taehyung membuatnya gelisah. Apakah mereka akan menyukainya?

 

“Duh gimana ya? Kok Kookie jadi deg-degan gini sih TT”

 

Jungkook melirik jam yang menunjukkan pukul 6 sore, lalu beranjak keluar kost-an. Setelahnya ia memencet bel kost-an Yoongi dengan tidak berperikebelan.

.

.

.

Yoongi tengah duduk santai sambil menyuapkan es krim ke mulutnya selagi matanya melihat layar laptop dan sesekali mengetik di sana sampai suara bel berbunyi. Yoongi mengernyit dan melihat jam, ia berpikir apa itu Jimin? Atau ketiga tetangga tak bisa diamnya itu?

 

Mengabaikan seluruh pertanyaan yang muncul, Yoongi bangkit dan membukakan pintu, terlihatlah di sana wajah Jungkook dengan cengiran kelinci khasnya.

 

“Kook?”

 

“Kak Sugaaaaar~”

 

Jungkook menatap ceria lalu menyelonong masuk tanpa menunggu perintah sang empunya. Yoongi yang sudah biasa akan kelakuan tiga sahabatnya hanya menghela napas dan menutup pintu, kemudian menyusul Jungkook yang sudah nangkring di atas sofa dengan secup es krim yang tadi dimakan Yoongi.

 

“Kenapa lu? Tumben?”

 

“Kok tumben?”

 

“Ya tumben.”

 

Namja kelinci itu cemberut, kemudian memasang wajah diimut-imutkan (ya walau imut, Yoongi tetaplah Yoongi yang akan bersikap tsundere) membuat namja yang lebih tua menoyor kepalanya. “Jelek, Kook.”

 

Really? Taetae-hyung bilang Kookie imut kok kalau begitu._.”

 

“Y aja. Lu ngapain ke sini? Tumben.”

 

“Emang ga boleeeh?”

 

“Ga.”

 

“Jaad :(“

 

Yoongi hanya mengangkat bahu kemudian fokus lagi pada laptopnya ketika dia kembali mendudukkan dirinya di tempat tadi sebelum ia membukakan pintu.

 

“Kak.”

 

“Hm?”

 

“Menurut kakak…”

 

“…”

 

“…Kookie harus gimana pas ketemu orangtuanya Taetae-hyung?”

 

Yoongi mengernyit, namun membalas santai. “Be yourself.”

 

Be yourself?”

 

“Hm.”

 

Be myself?”

 

“Iye curut. Ga tuli kan?”

 

“Maksudnya be yourself tuh gimana?”

 

“Lari-lari di tempat atau muter-muter sambil bilang “Kookie lo emang imuutttt!” ampe orangtuanya polped itu ngusir lu.”

 

Jungkook langsung cemberut. “Ih kak Suga mah Kookie kan serius.”

 

“Ya lagian gitu aja nanya. Orang tinggal jadi diri sendiri aja kok bego.”

 

“Jadi diri sendiri yaaa?”

 

“Hmmm. Emang kenapa? Polped itu mau ngajak lu ketemu ortunya?”

 

Ne!”

 

“Tjih.”

 

“Kok tjih?”

 

“Ga.”

 

“Tuh, itu artinya Taetae-hyung serius kan sama Kookie? Makan—hmph!” mulut Jungkook disumpel kue coklat oleh tangan Yoongi saat si namja kelinci ingin meneruskan kalimatnya.

 

So. Noisy. Diem bisa?”

 

Yang diperintah hanya kembali mengerucutkan bibirnya. “Kalian kenapa sih kak, ga bisa nerima Taetae-hyung gitu?”

 

“…”

 

“Kak—“

 

“Belum waktunya.”

 

“Terus kapan waktunya?”

 

“Kapan-kapan.”

 

“Kapan-kapan itu pasti lama banget :(“ Jungkook menghabiskan kue coklat yang masih ada. Lalu bersandar di sofa milik Yoongi. Kemudian mahasiswa semester 2 itu melirik kakak tingkat sekaligus sahabatnya lagi. “Kak Suga udah packing?”

 

Jungkook bertanya perihal rencana liburan mereka (Jimin, Yoongi, Taehyung dan dirinya) yang walaupun baru akan dilaksanakan minggu depan.

 

“Dah.”

 

Tetapi dua namja manis ini sudah repot-repot packing dari sekarang.

 

Jungkook cemberut mendengar jawaban Yoongi. “Singkat aned kusyedih.”

 

“Bomat.”

 

“Bingung Kookie kok pak Jimin tahan ya sama yang begini?” Jungkook menggumam sembari memainkan jarinya pada sandaran sofa di kost-an Yoongi.

 

“Hah?”

 

“Enggaaa~ Kookie cuma lagi ngumpatin Mr. Kim kok._.”

 

Yoongi langsung noleh, mengernyit tak percaya pada Jungkook. Lalu telunjuknya mengarah ke dahi adiknya itu. “Elu? Ngumpatin Mr. Kim? You? Cursing on someone? Mustahil, Kook.”

 

“Ih gacayaan banget sih kakak Sugar. Kookie kan ndak pernah boong -3-“

 

“Y aja.”

 

“Huh!”

 

Jungkook makin menyamankan posisinya dan mendiamkan Yoongi yang kembali fokus pada kerjaannya. Dan Yoongi sendiri hanya membiarkan sosok yang ia sudah anggap adik lama-lama terpejam di sana. Ketika mendapati Jungkook sudah terlelap, Yoongi mengusap sayang kepala Jungkook, menyingkirkan poninya yang menutupi matanya.

 

You’ve grown up this fast, Jungkook-ah…”

.

.

.

Taehyung sampai di depan kost-an Jungkook dan langsung memencet bel. Tetapi menunggu sampai lebih dari tiga menit tak ada tanda-tanda sang kekasih membukakan pintu untuknya. Polisi muda itupun mendudukkan dirinya di kursi teras yang ada kemudian mulai menghubungi ponsel kekasihnya, namun tak ada jawaban.

 

Taehyung menghela napas. Apa Jungkook ketiduran? Apa Jungkook lagi keluar? Atau… dia lagi sama ketiga kakaknya itu? Tetapi melihat lampu di atas pintu dua kost-an pojok mati, Taehyung yakin yang menempati tengah tak ada di rumah. Namun saat melihat ke arah kost-an kekasih sahabatnya, Taehyung mengangguk-angguk sendiri.

 

Mungkinkah Jungkook ada di kost-an Yoongi?

 

Entah kenapa Taehyung dilemma. Tanya Yoongi atau tidak? Ketuk pintunya atau tidak? Bagaimana kalau baru dengar suaranya saja saat menanyakan Jungkook pemuda berambut caramel itu sudah memutuskan untuk mendiaminya?

 

Ah, kenapa Jimin harus pacaran sama mahasiswa galak nan tsundere seperti itu? Dan lagi kenapa Jungkook, kekasih imut bak anak kelincinya bisa-bisanya berteman dengan dia? Hoaaa, memikirkannya saja membuat Taehyung ingin menjambak rambutnya.

 

Saat sudah memutuskan untuk memencet bel kost-an Yoongi, tepukan di pundaknya membuat Taehyung berbalik.

 

“Bantet?”

.

.

.

Jimin memarkirkan mobilnya di halaman kompleks kost-an mewah di kota Seoul itu. Saat akan menjejakkan kaki di teras kost-an yang berderet pemiliknya keempat sahabat yang ia kenal, Jimin mengernyit mendapati Taehyung tengah berdiri di depan tempat tinggal Yoongi.

 

Maka Jimin memutuskan menghampiri sahabatnya guna menuntaskan rasa penasarannya.

 

Jimin menepuk pundak Taehyung membuat namja itu berbalik. “Bantet?”

 

Ingin rasanya menabok muka Taehyung, namun ia urungkan dan langsung bertanya. “Lu ngapain di depan kost-an Yoongi?”

 

“Mau nanyain Jungkook.”

 

“Hah?”

 

“Congek lu yak. Gue bilang mau nanyain Jungkook. Soalnya gue bel-in kost-annya ga ada yang buka. Gue telponin, sms-in ga dijawab. Khawatir kan gue. Nah, tiba-tiba otak canggih gue berpikir ada baiknya nanyain ke pacar lu, Jim.”

 

Jimin hanya mengangguk-angguk.

 

“Tapi karena gue takut kena semprot sama pacar lu, gue pikir dulu 100000000000000000000 kali. Pas mau mencet bel eh lu—“

 

“Ya ya ya. Berisik, bacot. Mending lu minggir sekarang biar gue yang mencet belnya.”

 

Jimin sudah paham apa yang Taehyung maksud. Makanya dia langsung menyingkirkan tubuh sahabatnya lalu memencet bel kost-an kekasihnya.

 

Tak lama, wajah Yoongi muncul di sana, hanya membukakan pintu, kemudian kembali masuk ke dalam meninggalkan dirinya (juga Taehyung) dan pintu yang terbuka lebar.

 

Jimin hanya geleng-geleng lalu mengisyaratkan Taehyung untuk mengikutinya.

 

Kedua polisi muda itu berjalan masuk ke dalam kost-an mewah milik Yoongi. Jimin langsung menyusul kekasihnya yang beranjak ke dapur, dan Taehyung melayangkan matanya ke segala penjuru, mengamati baik-baik apakah isinya sama dengan isi kost-an Jungkook.

 

Lalu tak sengaja, pandangannya jatuh pada namja imut bak anak kelinci yang tertidur nyaman nan pulas di atas sofa, dengan selimut yang membungkusnya. Taehyung tersenyum tanpa sadar dan menggerakkan kakinya untuk mendekati sosok namja imutnya.

 

Pemuda berambut coklat itu mendudukkan dirinya di samping sofa (setelah menaruh bungkusan patbingsoo di atas meja), menatap wajah Jungkook dan mengusap rambutnya pelan, menyingkirkan poni yang menutupi dahinya, kemudian Taehyung mengecupnya penuh kasih sayang. Ia melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 lebih. Dan ia pun berniat untuk memindahkan Jungkook ke kost-annya.

 

Taehyung sudah siap akan mengangkat Jungkook tetapi suara yang muncul dari sosok yang tengah terlelap itu membuat gerakannya langsung terhenti.

 

“Tae-hyung…”

 

“Hmm?” Taehyung refleks membalas dan melarikan tangannya ke pipi Jungkook, membuat yang disentuh makin pulas tidurnya.

 

Be patient neee?” igau Jungkook lagi dengan suara parau, dan Taehyung hanya terkekeh tanpa suara. “They just need time to blessed us. Need… time…”

 

Taehyung benar-benar terdiam di tempatnya dan menggerakkan jarinya mengusap pipi kekasihnya ketika mendengar igauan itu. Taehyung tahu, kok. Taehyung tahu bahwa ketiga kakak overprotektif Jungkook bernama Yoongi, Seokjin dan Hoseok itu hanya perlu waktu sampai percaya padanya.

 

Lalu jika waktu itu adalah selamanya untuk Taehyung mendapatkan kata ‘setuju’ dari mereka untuk bersama Jungkook, Taehyung akan dengan senang hati menunggu, dan dia tidak akan pernah menyerah sekalipun dunia memintanya.

 

Hyung tau, Kookie, I just know that. Lets fighting together.”

 

Selesai bermonolog begitu, Taehyung meraupkan tangannya di bawah leher Jungkook dan lututnya, kemudian pamit pada Yoongi dan Jimin supaya dia bisa membawa Jungkook ke kost-annya.

 

Yoongi tadinya mau mengatakan bahwa Jungkook bisa menginap, namun ia urungkan niatnya saat tangan Jimin meremas pinggangnya erat, dan saat dia melihat kekasihnya itu, entah kenapa Yoongi pun membiarkan Taehyung membawa Jungkook pergi dari sana.

.

.

.

Sepeninggal Taehyung dan Jungkook, Jimin membuat Yoongi bersandar di meja konter dengan dia di depan sosok itu. Melabuhkan tangannya di kedua sisi tubuh Yoongi, menatap langsung ke dalam mata si rambut caramel yang enggan melihatnya.

 

Bukannya mereka berdua tidak melihat atau mendengar bagaimana Taehyung memperlakukan atau merespon Jungkook, pendengaran Yoongi cukup baik untuk memahami nada apa yang Taehyung pakai tadi. Dan dia hanya dilanda kebingungan. Sudah cukupkah segini saja? Dia butuh bukti lebih, kalau Taehyung benar-benar akan menjaga Jungkook dan takkan menyakitinya.

 

Baby?”

 

Jimin memanggil Yoongi dari pemikirannya yang tak berujung itu. Saat si pemuda caramel mendongak, wajah Jimin sudah sangat dekat dengan wajahnya membuat hidung mereka saling bersentuhan. Sontak, Yoongi memasang pertahanan dengan meletakkan kedua telapak tangannya di dada Jimin, menjaga jarak mereka agar tetap ada.

 

“Apa? Munduran dih.”

 

Did you see that? Did you hear that?”

 

Yoongi diam sebentar. Lalu membalas, “I did.”

 

“And?”

 

What?”

 

“Menurut kamu gimana?”

 

“Gimana apanya.”

 

“Yoongi, please?”

 

“Kamu mau aku bilang apa, mas? Yaudah aku liat tadi dan aku denger, terus? Aku harus gimana?”

 

“Kamu… bisa percaya kan sama Taehyung?”

 

“Gatau deh.”

 

“Yoongi?”

 

“Masih banyak waktu buat yakinin aku dan yang lainnya, mas. Kenapa harus sekarang disaat baru itu aja yang dia tunjukin?”

 

Yoongi melengos dan berlalu dari kedua lengan Jimin yang hampir membungkusnya di depan meja konter itu. Si pemuda caramel melanjutkan kegiatannya membuka bungkus makanan yang dibawa Jimin saat kekasihnya kembali berucap di belakangnya.

 

Well, lets us see, Yoongi. Taehyung orang yang serius kalo dia mau.”

 

“Lagian, mas…” Yoongi menaruh dua piring spaghetti yang dibawa Jimin di atas nampan dan dua minuman kemudian memutari konter bar yang disandari Jimin lalu menaruhnya di permukaan. “…kenapa mas yang ngebet supaya aku restuin mereka coba?”

 

Yoongi sudah duduk di bangku bar ketika Jimin mencondongkan tubuhnya dan memberi kecupan kilat di hidung kekasihnya. “Cause he deserves it.”

 

“Y aja deh.”

 

“Seriusssss.” Jimin ikut memutari konter bar kemudian duduk di samping Yoongi. “Aku temenan lama sama Taehyung dan baru kali ini dia bener-bener serius.”

 

“Jadi selama ini cuma main-main kan?”

 

“Ga gitu, Sugar babyyyy—owh! Kamu ini selain suka gigit, suka gebuk juga ya?” Jimin memajukan bibirnya memasang tampang ngambek yang justru membuat Yoongi ingin muntah ketika tangannya sukses menggeplak kepala kekasihnya (yang lebih tua itu). “Serius. Taehyung tuh ga pernah bener-bener jatuh cinta, this is his first time.”

 

“Bomat deh, mas. Ga ngurus love life om-om pedo kek gitu.”

 

“Ini juga pertama kalinya buat aku.”

 

“Oh.”

 

“Ya ampun singkat banget. Serius, kamu itu—mmphh!” ucapan Jimin terpotong ketika dengan bernapsu Yoongi memasukkan selilitan spaghetti ke mulut polisi muda itu. Dan kalau diintip sedikit, yakinkan Jimin bahwa ada rona merah di sana.

 

Ah lucunaaaa, jadi pengen gigit, pikir Jimin saat mendapati pemandangan itu.

 

Yoongi kembali memakan mienya dengan Jimin yang terkekeh kemudian mengusap kepala sosok yang lebih muda. “Kamu imut ya, jadi makin cinta—aw.”

 

Dan yang Jimin dapatkan hanyalah sikutan di pinggangnya, yang ajaibnya—sakitnya luar biasa.

.

.

.

Setelah mati-matian berusaha membuka pintu kost-an Jungkook, akhirnya Taehyung bisa membaringkan kekasih kelincinya itu di ranjangnya. Memastikan Jungkook nyaman, terlindungi dari hawa dingin yang berniat memeluknya, Taehyung menyelimuti Jungkook serapat yang dia bisa. Lalu menanamkan kecupan di dahi sosok yang terlelap itu.

 

Hal selanjutnya yang Taehyung lakukan adalah terduduk di sana, diam hanya memandangi makhluk ciptaan Tuhan yang kini memiliki seluruh hatinya tanpa terkecuali, sosok pertama yang membuatnya benar-benar mau berjuang.

 

Cinta pertamanya.

 

Lucu bukan? Dia lelaki dewasa hampir kepala tiga dan baru kali ini benar-benar jatuh cinta. Terhadap yang lainnya selama ini Taehyung tak pernah benar-benar bisa merasakan perasaan yang ia rasa untuk Jungkook sekarang, dan kini dia tahu… bahwa apa yang ia miliki untuk Jungkook akan terus ada dan takkan terhapus.

 

Ketukan angin malam pada kaca jendela kamar Jungkook membuat Taehyung tak bosan memandangi wajah malaikat sosok menggemaskan itu. Tangannya mengusap-usap rambut kekasihnya, mulutnya tanpa sadar menggumamkan lullaby berharap Jungkook mendapat mimpi indah. Dengan keadaannya yang terduduk di bawah, di samping ranjang yang ditiduri Jungkook, lambat laun Taehyung ikut terpejam merasakan kebahagiaan yang menyeruak masuk ke dasar hatinya.

 

Setelah ini, keesokannya dan seterusnya, yang harus Taehyung lakukan adalah tetap berada di samping Jungkook dan Taehyung sangat yakin akan hal itu.

 

Karena dia mencintai Jungkook seperti dia mencintai saat melihat sosok itu tersenyum bahagia.

.

.

.

Banyak hari yang masih tersisa sampai Sabtu minggu depan datang. Dan di hari-hari itu, Taehyung tengah berjuang. Sebelum mengenalkan Jungkook kepada orangtuanya, mendapat persetujuan dari ketiga kakak Jungkook bukan hal yang salah kan?

 

Hari itu hari Minggu, dan Taehyung juga Jimin dapat libur. Pada dasarnya Taehyung tak bisa diam saja, dia pergi ke kost-an Jungkook karena yakin Jimin juga pasti akan menyusul tak lama setelahnya.

 

Ketika memarkirkan mobil di halaman luas kost-an mewah tempat tinggal kekasihnya, Taehyung mengernyitkan alis ketika mendapati Seokjin dan Hoseok tengah di luar untuk menjemur kasur di halaman.

 

“Pagi menjelang siang, Seokjin, Hoseok. Sedang beberes?”

 

“Hm.”

 

Masih mending dibalas, itupun sama Seokjin, dan Hoseok hanya melengos. Namun kemudian wajah Hoseok berubah serius setelah bertukar pandangan dengan namja tinggi tunangan atasannya itu dan menatap ke arahnya. “Pak, bisa tolongin kami ga?”

 

Taehyung mengernyit sebelum membalas, “Ya?”

.

.

.

Terkutuklah para mahasiswa ini, batin Taehyung ketika dirinya dimintai tolong oleh Hoseok dan berakhir di kediaman milik ibu kost-an, Im Yoona.

 

Ketika Taehyung dibawa untuk kemudian berdiri di depan pintu pemilik kost-an mewah itu, Hoseok di sampingnya dan Seokjin di belakangnya. Saat pintu di depannya terbuka, wajah sumringah Hoseok dan suaranya yang ceria membuatnya pusing seketika.

 

“Tante Yoonaaaa! Maap Hosiki ga bisa bantu. Tapi sebagai gantinya, Hosiki bawa bantuan kok! Katanya pak polisi ini mau bantu tante ngurus semuanya!”

 

Wanita cantik itu tersenyum cerah kemudian mengajak Taehyung masuk ke dalam dan mulai menjelaskan apa-apa yang harus ia kerjakan –yang demi Tuhan- bolehkah Taehyung memilih untuk membawa kabur Jungkook setelah ini lalu mereka kawin lari?

 

Taehyung hanya mengangguk-angguk sekilas menjawabnya, kemudian melihat ke sekeliling. Ruangan sudah sebegini rapih masih mau diapakan? Dan ketika Yoona meminta mulai untuk mengeluarkan perabot rumahnya terlebih dahulu, dalam hati Taehyung bersumpah akan langsung melamar Jungkook kalau ketiga kakak gilanya itu merestui mereka.

 

Matahari sedang menuju tahap panas-panasnya ketika Taehyung membawa satu persatu perabot rumah yang dititahkan Yoona untuk dikeluarkan terlebih dahulu. Saat membawa barang-barang itu, tiba-tiba Jungkook keluar dari kandangnya dan mengernyit melihat kekasihnya tengah membantu si pemilik kost.

 

“Loh? Taetae-hyung?”

 

“Hai, Kookie~” Taehyung nyengir sembari membawa sofa ke tanah lapang. Barisan kost-an Jungkook dkk dan rumah pemilik kost tidak begitu jatuh, jadi wajar jika Taehyung bertemu kekasihnya.

 

Namun saat akan menghampiri kekasih imutnya itu, suara tante Yoona menggema sembari memberikan kuas roll dan meminta untuk segera mengerjakan apa yang ia minta. Mau tak mau Taehyung hanya bisa melemparkan senyuman ke arah Jungkook.

 

Sedang di sisi Jungkook, ia cemberut mendapati keadaan itu. Lalu dengan semangat ia akan menghampiri Taehyung namun tangannya ditahan oleh Hoseok yang masih asik sapu-sapu halaman.

 

“Mau ngapain lu?”

 

“Bantu Taetae-hyung!”

 

“Gausah. Mending lu beresin kost-an lu aja.”

 

“Tapi kan kak—“

 

“Sawang di kost-an lu di mana-mana tuh.”

 

“Engga ih! Kookie mau ke Taetae-hyung ajaaaa! Mau bantu diaaa!” Jungkook langsung lari secepat kilat menyusul kekasihnya ke rumah tante Yoona. “Taaaaaant, Kookie juga mau bantu!” ujarnya mantap dengan senyum polos khasnya.

 

Wanita itu hanya tersenyum kemudian mengisyaratkan Jungkook mendekat supaya dia bisa memberikan kuas cat lainnya. Di belakang Jungkook, Hoseok mendengus.

 

“Kook gue bilang kan beresin kost-an lu dulu.”

 

“Tuh, tant. Masa Kookie ga boleh bantuin tante.”

 

Hoseok mendelik. “Bukan. Lu juga mau bantu karena ada si polped. Sini lu makan dulu.”

 

“Nantiiiiiiiiiiiiiiiiiiii~”

 

“Oi Jungkook.”

 

Suara Yoongi tiba-tiba menggema membuat Jungkook buru-buru sembunyi di balik tubuh Taehyung.

 

“Makan dulu sini cepet.”

 

“Nanti bareng Tae-hyung~”

 

“Sekarang.”

 

“Gamau!”

 

“Elah nih bocah. Tant, suruh dia makan dulu.”

 

Yoona yang diajak bicara langsung beralih ke Jungkook. “Cookies makan dulu sana.”

 

“Gamau.”

 

Taehyung yang pusing pun akhirnya angkat bicara. “Kookie, makan dulu sana. Biar hyung kerjain ini dulu abis itu kita ngapain deh terserah kamu.”

 

Jungkook makin cemberut. “Gamau. Mau bantu hyung. Gamau ninggalin hyung berduaan sama tante Yoona.” Jungkook membalas dengan suaranya yang makin pelan saat mengucapkan kalimat terakhir.

 

“Hah?”

 

Jungkook hanya diam. Lalu elusan di pipinya membuat dia mendongak melihat Taehyung. “Sana makan dulu, oke? Hyung bisa atasin ini kok, serius.”

 

“Tapi—“

 

“Nanti kamu kotor kena cat. Nanti kamu capek. Mending kamu istirahat di kost-an atau main sama mereka. Ya?”

 

Hoseok dan Yoongi hanya memutar bola mata. Sedangkan tante Yoona matanya sudah berbinar melihat bagaimana Taehyung memperlakukan Jungkook dengan begitu manis.

 

“Cookies dengerin pacarnya atuh. Dikhawatirin gitu ih tante jadi iri.”

 

Mau tak mau, Jungkook berjalan ke arah kedua kakaknya di depan pintu sebelum berlalu dengan ucapan. “Nanti Kookie balik lagi pokoknya buat bantu hyung!”

 

Dan Taehyung hanya tersenyum. Memaklumi dan menyadari kalau sebenarnya Hoseok, Yoongi dan mungkin Seokjin sedang mengerjainya dengan menjebaknya bersama pemilik kost kurang kerjaan ini.

 

Bekerja tukang. Mengecat ruangan yang sesungguhnya sudah bagus. Kalau saja dia tidak cinta sama Jungkook, sudah Taehyung bawa kabur sejak lama.

.

.

.

Hari sudah beranjak sore ketika Taehyung selesai dan Jungkook tak kembali. Yakinlah dia ini memang kerjaan ketiga mahasiswa itu. Sesaat keluar dari rumah tante Yoona berbekal jam tangan rolax sebagai bayaran (yang awalnya dia tolak tapi akhirnya diambil juga), dengan keadaan yang kotor cat, Taehyung menyandangi kost-an kekasihnya.

 

Baru akan memencet bel, pintu di depannya sudah terbuka dan terlihatlah Jungkook siap keluar kalau saja Taehyung tak menangkapnya.

 

“Loh, mau ke mana kamu, Kook?”

 

Hyung!”

 

“Hai.”

 

Jungkook hanya menyeret Taehyung ke dalam dan menyuruhnya mandi. Saat melewati ruang tengah, Taehyung sempat melihat Yoongi, Seokjin dan Hoseok di sana. Ia juga berani bersumpah mendengar Hoseok menggumam. “Oh udah selesai pak. Kirain tante Yoona minta tolong sampe seluk-beluknya.”

 

Taehyung menghela napas lelah. Yah, hari ini dikerjain, besok apalagi?

 

Hyung sana mandi! Airnya udah Kookie siapin.”

 

“Makasih, sayang.”

 

“Sayang-sayang pala lu peyang.”

 

“Kak Hosiki kangen kak Chwang ya? Judes amat Kookie sedih.”

 

Yang ditanya diam. Taehyung memaksakan senyumnya dan berlalu. Membersihkan diri dari keringat dan noda cat. Setelah hampir satu jam, dia menghampiri Jungkook yang sedang menghangatkan sesuatu. Juga dia bisa melihat bahwa hanya ada Yoongi di sana.

 

Taehyung pun duduk di sofa tak jauh dari Yoongi yang tengah memainkan ponselnya. “Seokjin dan Hoseok pulang, Yoongi?”

 

“Hm.”

 

“Ohh. Kamu ga pulang?”

 

Seketika Yoongi memberikan tatapan tajam padanya. “Kenapa? Mau modusin Jungkook kalo gue tinggal berduaan doang? Mending lu pulang pak sebelum gue usir.”

 

Lah itu udah ngusir,’ Taehyung membalas dalam hati ketika Jungkook menghampirinya dengan sepiring makanan untuknya.

 

Hyung makan dulu yaaa. Capek pasti belum makan.”

 

“Makasih Kookienya hyung~”

 

“Hehehe sama-samaaaaa.”

 

Demi semua kasus yang pernah Taehyung terima, kenapa Yoongi segalak dan sejudes ini sih? Lihat saja tampangnya yang seolah ingin membinasakan Taehyung. Tetapi untungnya dia terselamatkan ketika bel berbunyi dan tak lama masuklah Jimin bergabung di sofa yang Yoongi duduki.

 

“Ayo pulang?” Jimin mengajak Yoongi untuk beranjak kembali ke kost-annya yang hanya dibalas lengosan oleh si pemuda caramel. “Baby?”

 

“Nanti. Kalo polped itu udah pulang.”

 

Jimin hanya memutar mata kemudian menggendong Yoongi di bahunya, yang tentu saja mendapat berontakan, pukulan serta seruan dari sosok mungil itu.

 

“JIMINNNNNNNNNNNNNNN!”

 

“Tae, inget dosa!”

 

“Lu juga, Jim!”

 

Dan tinggallah Taehyung dengan Jungkook yang lama-lama berdekatan dan bermesraan di atas sofa mewah dalam kost-an yang tak kalah mewah itu.

.

.

.

Pernah juga ketika hari Sabtu yang dijadwalkan untuk liburan bersama tinggal beberapa hari lagi, Jungkook yang diapeli Taehyung sehabis pulang kerja (yang anehnya hanya setengah hari) merengek pada kekasihnya untuk minta dibelikan kuda.

 

Demi apa mau ditaruh di mana kudanyaaa?

 

Taehyung memasang tampang bodohnya ketika baru menginjakkan kaki di teras kost-an Jungkook, pacar imutnya itu sudah merengek-rengek di lengannya minta dibelikan kuda.

 

Sabarkan hatiku, Tuhan, batin Taehyung lelah.

 

Taehyung melirik Hoseok yang kebetulan juga sedang mengapeli bangku teras sembari memainkan ponselnya. Fokusnya sih ke hape, tapi senyum sinis itu pasti ditujukan ke arahnya. Apalagi kemarin, Taehyung baru saja membawa motor Jungkook ke bengkel yang –entah bagaimana rusak parah.

 

Tuhan, kerjaan mereka lagi kah?

 

“Yaela, Kook. Katanya Taetae-hyung lu cinta, masa lu minta kuda aja ga mau beliin,” kata Hoseok mengompori. Jadilah Jungkook cemberut, lalu menarik-narik pipi Taehyung.

 

“Taetae-hyuuuung~”

 

“Iya-iyaaaa.”

 

Taehyung menyapu pandangannya ke seluruh penjuru. Dan menemukan spot yang menurutnya tepat untuk membangun kandang kuda kecil-kecilan. Di sisi kiri kost-an, dekat pepohonan yang berdiri beserta semak-semak di sana. Bukan taman menurutnya. Jadi, Taehyung berlalu ke rumah milik tante Yoona meninggalkan Jungkook yang makin cemberut.

 

Tetapi omongan Taehyung ketika ia kembali ke hadapan Jungkook membuat Hoseok yang sedari tadi mendengarkan mendecih tak senang, tapi berpikir juga bahwa Taehyung tak segan-segan menghabiskan uangnya untuk adik kesayangannya itu.

 

“Kamu mau kuda yang mana, hm? Ayo telpon yang jualnya.”

 

Dan sisa hari itu disibukkanlah mereka dengan segala sesuatu tentang membangun kandang kuda (yang dilakukan Taehyung sendirian) sampai kudanya (yang masih cimit) datang dan membuat Jungkook senang bukan kepalang.

 

Sebagai ucapan terima kasihnya, pemuda berambut potongan jamur itu memberikan kecupan yang langsung dapat teriakan dari kakak-kakaknya yang kebetulan melihat kejadian hari itu dengan kesal.

 

“Oi. Gausah cium-cium!”

 

“Astaga lu Jungkook, lu kira ini padang gurun melihara kuda.”

 

“Yaelah, Hoseok kan kuda ngapain beli kuda lagi.”

 

“LAH KAK JIN MAH.”

 

“Berisik woi.”

 

Tetapi entah kenapa ada satu hal yang disadari Jin, maupun Hoseok, bahwa apa yang selama beberapa hari ini Taehyung tunjukkan murni kalau dia memang benar-benar menginginkan dan mencintai Jungkook dengan tulus.

 

Maka keduanya mendekat, merapat pada Yoongi yang melipat tangan di dada memperhatikan bagaimana Taehyung dan Jungkook tengah bermain dengan anak kuda di sana.

 

Well, menurut lu gimana, ‘Ga?”

 

“Jangan tanya gue.”

 

“Kalo gue kasih mereka restu, gimana?”

 

“Serah lu.”

 

“Yeuuu kak Sugar ayo dunds ah kita harus bersatu.”

 

“Bagi gue sih belum cukup. Tapi…”

 

“Tapi?”

 

“Y in aja gih sana. Bosen gue liat mukanya tiap hari ke sini.”

 

“Yaelah bilang aja kangen pak Jimin yang cuma sesekali mampir ke sini.”

 

Dan tabokan di muka Hoseok dapatkan.

 

“Lu kali yang kangen kak Chwang karena dia sibuk nyari duit juga.”

 

“Paan si kak Sugar.”

 

“Diem lu, Hos.”

 

“Ciyus oi manusya gesrek gimana?”

 

“Lu kan yang paling tua Jin.”

 

“KITA SEUMURAN MIN YOONGI.”

 

“BIAZA AJA.”

 

“Elah yodah pokoknya… gue capek perang dingin ma tuh orang.”

 

“Perang dingin pala lu. Lu ngibar bendera perang segitu jelas.”

 

“Kan sama lu bedua juga, ogeb. Kok ngeselin sih. Gue restuin nih mereka, in one condition.”

 

“Apa?”

 

Jin hanya mengangkat bahu lalu mengalihkan pandangannya ketika Jungkook dan Taehyung bersiap masuk ke kost-an Jungkook. Tetapi Jin memblok jalan Taehyung dan menyuruh Jungkook masuk duluan.

 

“Ya, Seokjin?”

 

In one condition.”

 

“Eh?”

 

If you make him cry or hurt or leave him, you die. Do I make myself clear?”

 

Hoseok hanya ikutan Jin memberikan tatapan ancaman kepada Taehyung yang masih loading. Sedangkan Yoongi, hanya melirik tak berminat namun yakinlah bahwa dalam kepalanya, ia berpikir bahwa ini bukan satu-satunya waktu untuk benar-benar mengatakan iya pada hubungan Taehyung dengan adik kesayangannya.

 

Dan ketika Taehyung sadar dari keterpakuannya, hal pertama yang dia lakukan adalah bersorak, dengan tinjunya yang meluncur ke atas, meneriakkan betapa usahanya selama ini tak berakhir sia-sia.

 

You three can trust me. I’ll protect him and make him happy. Always!”

 

Di saat yang bersamaan, mobil Jimin datang membuat Taehyung langsung menghampiri sahabatnya dan memeluknya sesaat sosok itu keluar dari kendaraannya. Jimin yang kebingungan hanya mengernyit sampai Taehyung berucap, “MEREKA AKHIRNYA NGERESTUIN GUE, SOB!”

 

Namun sebelum Jimin membalas teriakan sahabatnya itu, Taehyung sudah menghilang masuk ke mobil. Tetapi akhirnya Jimin berteriak juga ketika merasa tadi mencium bau yang kurang sedap. “TAE LU BAU KUDA!”

 

Yang Taehyung balas dengan acungan jempol sembari menjalankan mobilnya keluar dari lingkungan kost-an itu.

 

Jimin pun hanya tersenyum lalu menghampiri Yoongi yang masih bersilang tangan di dada. Dengan Jin dan Hoseok didekatnya yang tengah menjawab seluruh pertanyaan yang Jungkook lemparkan.

 

Ketika Jimin sampai di depan Yoongi, namja itu mengetuk dahi Yoongi dengan telunjuknya penuh sayang. “Well? Finally?”

 

Yoongi hanya memalingkan mukanya dan membiarkan ketiga temannya menghilang di balik pintu kost-an. Meninggalkan dia dan Jimin di sana.

 

“Sugar baby?”

 

“Apaan?”

 

“Sekarang bisa percaya Taehyung kan?”

 

Pemuda manis itu hanya mengangkat bahu tak peduli lalu berbalik berniat masuk ke tempat tinggalnya sampai tangan Jimin menahannya dengan sebuah pelukan, dan berbisik di telinganya. “I know you will. Soalnya kamu ga sejahat itu untuk ngebiarin Jungkook ngerengek terus kan?”

 

“Apaan sih. Orang cuma Hoseok sama Jin yang kasih restu. Aku belum.”

 

“Loh?”

 

“Apa?”

 

“Kok belum?”

 

Mereka berjalan berdampingan memasuki kost-an Yoongi. “Ya belum aja. Emang kenapa?”

 

“Mereka kasih restu kok kamu belum?”

 

“Kenapa? Ga suka?”

 

“Kenapa emangnya belum?”

 

“Mas bawel banget sih nanya mulu.”

 

Keduanya duduk di sofa dengan tangan Yoongi asik merogoh kantung plastik yang dibawa Jimin, mencari es krim pesanannya. Ketika Jimin terus mengganggunya, Yoongi kembali menggunakan tangannya untuk menyikut Jimin, memintanya diam.

 

“Nunggu aku dapet ilham dulu baru restuin mereka. Puas?”

 

“Hmmm…” Jimin memutar duduknya menghadap Yoongi dengan satu tangan berlabuh di belakang kepala Yoongi, di atas sandaran sofa, lalu dengan iseng menggigit es krim yang siap masuk ke mulut Yoongi. “…oke deh. Nunggu ilham ya.”

 

“MAS JIMIN! Masih banyak juga!”

 

Yoongi berteriak kesal lalu membalasnya dengan menggigit bibir Jimin kemudian kabur masuk ke kamarnya, menguncinya dari dalam sembari mengejek Jimin dan baru keluar dua jam setelahnya dengan Jimin yang langsung menghujaninya dengan pelukan.

.

.

.

Tbc.

Yumi’s note :

A few chap again bakal tamat. Yumi ngerasa ini makin ngebosenin, ya kan? Ya kan?😄

Maybe in chap 15 or less, I’ll end this fic. Thanks for everyone who read and left reviews (or not) in any chap (1-11). Lav yall.

See ya again and sorry for the delay.

 

Signed,

Yumi.

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s