Greatest Accidental ~Chapter 10 {Festival; Day 2}


Anak-anak yang melihat adegan antara Jimin dan Yoongi seakan menahan diri untuk bersorak. Terutama sahabat keduanya plus pak Namjoon yang merasa gemas sambil gigit bibir saat mereka mendapati wajah Jimin yang perlahan mendekati wajah Yoongi. Masing-masing mengepalkan tangan di dada. Contohnya Jungkook dan Hoseok, yang jika ciuman di antara dua orang itu terjadi, sudah pasti akan berteriak.

 

“Yaaaaaa terussssss sedikit lagiiiiiiii…” ini Hoseok sambil mencengkeram lengan Changmin erat.

 

“Maju terus pak Jimin, maju terus pantang mundurrrrrrr…” dan ini Jungkook, yang sudah hampir lompat kegirangan kalau saja Taehyung tak memeganginya.

 

Saat Jimin dan Yoongi benar berciuman… yang bisa disorakkan oleh ketiganya (dan yang lain) hanyalah…

 

“YUHUUUUUU.” – Hoseok.

 

“Akhirnyaaaa.” – Jin.

 

“HORAAAAAAAYYYY.” – Jungkook.

 

Dan—“CIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE.” koor semua orang yang menonton. Membuat pasangan yang tengah diperhatikan langsung memisahkan diri dan canggung satu sama lain.

 

Namun bukan berarti, mereka yang mengenal Jimin dan Yoongi tak melihat betapa mereka saling memandang penuh kehangatan di sana.

 

Taehyung merangkul Jungkook yang seminggu ini telah resmi jadi kekasihnya. Mengecup pucuk kepala namja imut itu dan berbisik, “Benar kan apa kata hyung? Mereka pasti bisa menyelesaikannya.”

 

Jungkook hanya mengangguk, lalu mendongak sedikit untuk memberi kecupan pada pipi Taehyung yang gemas dengan langsung memeluk Jungkook erat. Disertai bisikan ‘aku mencintaimu’ sebanyak yang Taehyung bisa.

 

Hoseok pun jingkrak-jingkrak lalu memeluk pacarnya, Changmin.

 

Dan Jin yang dirangkul tunangannya, Namjoon, hanya bisa tersenyum lega dan merasa… bahwa setelah ini semua pasti akan kembali seperti semula.

 

Karena cinta… selalu bisa menimbulkan perubahan, bukan?

 

.o.o.o.o.

 

Park Jimin X Min Yoongi

Kim Taehyung X Jeon Jungkook.

BTS and others character © God, themselves

Greatest Accidental © Fujimoto Yumi, 2016

Indonesian!AU | BoysLove | T+ | OOC.

Police!NamVMin. CollegeStudent!JinSugaHopeKook.

Older!NamVMin. Younger!JinSugaHopeKook.

Non-EyD.

 

.o.o.o.o.

 

Greatest Accidental

Chapter 10

Festival; Day 2

Summary :

Hanya tentang hari kedua festival Universitas Bangtan.

Di mana kejadian hari itu memaksa Yoongi, Seokjin dan Hoseok memberikan restu kepada Taehyung memacari Jungkook.

 

e n j o y

 

.o.o.o.o.

 

Yoongi mengusap dahi lelah sembari berjalan keluar gedung kampusnya. Hari sudah sangat malam dan akhirnya festival ini selesai dengan sukses. Tetapi rasanya, besok masih akan berjalan panjang. Ah, besok hari kedua sekaligus terakhir, dan ketua pelaksana kurang kerjaan itu tetap meminta Yoongi untuk datang.

 

Yoongi berjalan seraya menunduk, tidak melihat mobil audy hitam yang sudah menunggu sejak tadi dengan seseorang bersandar pada badan mobil. Ketika suara sosok itu menggema, barulah Yoongi mendongak untuk melihat polisi yang selama ini mengejarnya berdiri di sana.

 

“Butuh tumpangan?”

 

Jimin tersenyum tampan di sana, satu tangannya terulur berharap Yoongi mau menyambutnya. Dia siap mengantarkan Yoongi ke manapun kalau sosok itu minta, dan sepertinya Yoongi benar-benar dalam mood lelah, atau dalam keadaan di mana dia merasa bahwa sudah cukup ia membohongi dirinya.

 

Maka Yoongi lebih memilih melangkah maju, untuk masuk ke dalam dekapan Jimin dan meletakkan kepalanya di bahu pemuda itu. Mencari kenyamanan yang tak bisa Yoongi pungkiri, bahwa tubuh ini… memang menyediakan perlindungan yang seharusnya Yoongi miliki sejak lama.

 

“Yoongi?”

 

Namja manis itu hanya menggumam dengan kepalanya yang ada di ceruk leher Jimin. Kemudian makin menyamankan lagi posisinya, meletakkan pipinya di bahu Jimin. “Aku lapar.”

 

Entah ke mana perginya kecanggungan dan rasa sakit yang ia miliki sebelum ini, atau keformalan yang ia gunakan. Yoongi hanya berpikir… semuanya memang seharusnya seperti ini.

 

“Aku lapar… Jimin-nii.”

 

Jimin membalas itu dengan melepaskan secara perlahan pelukan Yoongi, lalu menatap manik dark brown yang memancarkan keteduhan yang melenakannya. Tetapi Jimin tersenyum, kemudian mengecup dahi pemuda manis di hadapannya.

 

“Lapaaarrrrr.” Yoongi mulai merengek. Dan Jimin merasa –benar-benar merasa gemas akan perubahan sikap mahasiswa dalam dekapannya ini.

 

“Mau makan apa, hm?” Jimin membawa jarinya mengelus pipi Yoongi.

 

“Gatau. Apa aja. Jimin-nii berisik nanya mulu.”

 

Jimin terkekeh. “Apa-apaan panggilan niichan itu, hm?”

 

“Terus maunya dipanggil apa?”

 

“Apa aja asal jangan bapak, sir apalagi om.”

 

“Yaudah gimana kalo aku panggil mas aja? Abis dipanggil niichan juga gamau.”

 

“Leh ugha.”

 

“Atau mau aku panggil aa?”

 

“Aa Jimin gitu?”

 

“Iyaaa.”

 

“Leh ugha. Kayak udah pacaran ya?”

 

Yoongi mengernyit, lalu menyentil pelan dahi polisi di hadapannya (agak dongak dianya). Ia kemudian melengos sembari mencebik. “Bukannya emang udah daritadi siang aku jadi pacar mas Jimin?”

 

“Huhh?”

 

“Jadi, kalau orang udah c-ciuman kayak gitu belum jadi pacar?”

 

Jimin tertawa, lalu dibuat berpikir. Setelahnya ia merasa bodoh sendiri, dan sedetik kemudian pemuda tampan itu membawa Yoongi ke dalam dekapannya lagi. Dilanjut dengan kata cinta yang mengayun bersamaan dengan angin yang berhembus.

 

You got the point. I love you, Yoongi.”

 

Yoongi tersenyum, dan membalas pelukan Jimin. “Me too, I love you.”

 

Beberapa meter di belakang mereka, Hoseok yang tengah mencari kakak Sugarnya bermaksud mengajak pulang bersama langsung terhenti langkahnya melihat yang dicari tengah larut dalam pelukan dan kecupan orang yang dicinta.

 

Maka Hoseok memutuskan berbalik lagi, untuk menghampiri Changmin yang sudah menunggunya.

 

“Loh, Suganya mana?”

 

“Sama pak Jimin, lagi lovey-dovey gitu. Pulang duluan yuk!”

 

“Yakin?”

 

“Iyaaaaaaaaaaaaaaaaaa~”

 

“Yaudah, ayo.”

 

Hoseok tersenyum sekilas, melihat keluar jendela. Memandang langit yang berbintang. Kebahagiaan yang dia rasakan sekarang, memang berasal dari kebahagiaan yang mungkin berusaha Yoongi bagi pada dunia sekitar.

 

Congratulation kakak Sugar kesayangan~”

.

.

.

Keesokan paginya, Yoongi terbangun dengan suara bel yang ditekan dengan tidak berperikebelan. Yoongi mengumpati siapapun itu yang sudah mengganggu tidurnya. Ia melirik meja nakas dan melihat jam, seketika teringat bahwa ini hari kedua sekaligus hari terakhir festival di kampusnya berlangsung.

 

Mau tak mau, Yoongi beranjak dan membukakan pintu. Dan terlihatlah ketiga sahabatnya dengan cengiran khas Jungkook yang mendominasi.

 

“Pagi kakak Sugaaaaaaaaaaaar~”

 

“Hm. Pagi.”

 

“Kok kita ga disuruh masuk?” Jungkook menyahut lagi sambil manyun. Jin dan Hoseok hanya diam di dekatnya. Yoongi masih memblok jalan masuk ke kamar kost-nya. Seolah si pemilik kamar masih berusaha mengumpulkan nyawa. Sampai Hoseok menyeletuk dengan menyelipkan kalimat menggoda di setiap nadanya.

 

“Uhuk, kak Suga. Dah bangun belum? Mimpiin pak Jimin eaaaaaaaak?”

 

Plak!

 

Dan sebuah tabokan di muka Hoseok dapatkan sebagai jawaban. Sang korban manyun, Yoongi hanya tetap memasang wajah datar dan Seokjin yang sudah capek berdiri ikut buka suara.

 

“Dipersilahin masuk dong, kakak. Kita capek nih diri mulu.”

 

“Bodo.”

 

Usai berucap demikian, Yoongi berbalik masuk ke dalam kost-annya lalu menutup pintu di depan muka ketiga sahabatnya yang langsung teriak protes.

 

“OI SUGA!”

 

“KAK SUGA IH JAHAAADDD!”

 

“KAK SUGAR KOOKIE BELUM SARAPAAAAN.”

 

Tak lama pintu terbuka lagi, namun hanya sedikit. Dan wajah Yoongi mengintip di sana. “Ga ada makanan, Kook. Minta Seokjin sana.”

 

“Buka pintunya dulu makanya weh. Ini gue bawa makanan,” Seokjin menyahut. Yoongi melirik, kemudian menoleh ke belakang seolah melihat sesuatu. “Ada siapa si? Ada pak Jimin yaaaa?”

 

Yoongi mengernyit, membuka pintu lebar-lebar yang mendapat cengiran dari ketiganya. Tetapi setelah itu ia kembali membantingnya.

 

“WOI BIASA AJA!”

 

Dan kemudian pintu itu kembali terbuka. Tak ada Yoongi di sana, mengisyaratkan ketiganya untuk bisa menelisik lebih dalam kehidupan pagi Sugar kesayangan mereka.

 

“Heran. Pagi-pagi udah betmut aja sih tuh kakak Sugar. Perasaan terakhir gue liat kemaren dia lagi peluk-peluk-cium sama pak Jimin de—“

 

BRAK!

 

“OI BUZET NYANTAI AJA BRO!”

 

Hoseok yang tadi menyeletuk langsung menyingkir untuk duduk di konter dapur. Ngeri ya, pagi-pagi sudah menghadapi macan ngambek macam Yoongi? Yang dia sendiri tidak tahu kenapa mood kakak tingkatnya itu bisa sampai tahap seperti ini.

 

Dan Seokjin yang selalu suka untuk menanggapi justru membuat Hoseok harus siap hati (dan kuping). Mereka memang duo aneh yang menyeramkan.

 

Jungkook sendiri sudah buka kulkas dan mencomot sekotak susu dari dalamnya. Duduk di samping Hoseok kemudian memainkan ponselnya. Hoseok yang yakin Jungkook tengah berkomunikasi dengan polisi pedo langsung menyeletuk sinis. “Ga ada kerjaan apa itu polisi pagi-pagi udah gangguin lu aja, Kook?”

 

Jungkook meringis mendengarnya. Sepertinya dia dan Taehyung harus butuh usaha ekstra mendapatkan restu ketiga kakaknya, deh.

 

“Hehehehe ga kok, kak Hosikiii~ Ini Kookie baru balesin sms Taetae-hyung yang semalem.”

 

Alasan sih, tapi bodo amat kan. Jungkook cari aman soalnya.

 

“Gausah dibales juga gapapa, Kook.” Jin membalas sembari menyiapkan sarapan di meja konter. Dan tak lama (setelah hampir setengah jam sih) Yoongi muncul dengan wajah yang agak segaran. “Udah betmutnya, kak?”

 

“Diem.”

 

Yoongi duduk di kursi di samping Jungkook, dan menyisakan satu lagi untuk Jin. Ia diam saja dan membiarkan Jin membagikan makanannya. Toh, dia dapat sarapan gratis, ya masa masih protes?

 

Jungkook yang duduk di sampingnya melirik Yoongi, lalu cengengesan pada kakak kesayangannya itu. “Hehehehehe kak Sugaaaa~”

 

“Hm?” Yoongi menjawab di balik gelas susunya. Pemuda caramel itu melirik Jungkook yang masih menatapnya. “Apaan?”

 

“Kookie bareng yaaa~”

 

“Bareng?”

 

“Kak Suga mau ke kampus lagi kan hari ini? Kak Jin sama kak Hosiki kan nanti berangkat sama kak Chwang dan pak Namjoon, Kookie males bawa motor, makanyaaa~ Kookie bareng aja sama kakak dan pak Jimin yaaa?”

 

“Hah?”

 

“Taetae-hyung bilang dia bareng pak Jimin, jadiiiiii Kookie juga ikut ya?”

 

“Bentar, Kook. Siapa yang bilang gue bakal berangkat sama dia?”

 

Jungkook menelengkan kepalanya kali ini. “Loh? Taetae-hyung bilang pak Jimin mau jemput kakak dulu katanya.”

 

“Dia ga bilang—“

 

“Ta—“

 

“—atau sms.”

 

Tetapi Yoongi kemudian teringat, bahwa semenjak pulang kemarin ia belum menyentuh ponselnya sama sekali. Maka pemuda caramel itu beranjak kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya. Benar saja, di sana ada beberapa panggilan dan sms dari Jimin yang mengatakan bahwa dia akan menjemputnya.

 

Tanpa sadar Yoongi cemberut, kenapa Jimin tidak bilang tadi malam saat mengantarnya pulang sih?

 

Setelah itu Yoongi memutuskan kembali ke dapurnya dan memulai sarapan. Dia pun hanya mengangguk ke arah Jungkook yang membalasnya dengan pekikan terima kasih juga cengiran khasnya. Detik selanjutnya keempat sahabat itu larut dalam sarapan yang diisi oleh keberisikan Hoseok dan cengiran Jungkook.

.

.

.

Suara klakson mobil yang berbunyi membuat Seokjin membereskan peralatannya dan bergegas ke depan untuk melihat siapa yang sudah datang menjemput. Walau sebenarnya Yoongi yakin sih, kalau itu memang jemputan untuk Seokjin.

 

Karena setelah itu Seokjin pamit pada mereka disusul Hoseok yang juga melakukan hal yang sama.

 

Ketika pada akhirnya tinggallah Yoongi dan Jungkook, pemuda caramel itu melihat adik tingkat yang sudah seperti adiknya sendiri tengah mengangguk-angguk pada layar ponselnya. Yoongi mengernyit dan bertanya pada Jungkook.

 

“Nonton apasi sampe ngangguk-angguk gitu?”

 

“Oh, ga nonton kok, kaaak. Ini Kookie dapet line dari Taetae-hyung katanya dia udah deket.”

 

Mendengar itu, Yoongi dibuat berpikir, kok Jimin ga menghubunginya lagi sih? Apa karena Yoongi tidak membalas sms Jimin saat sosok itu mengatakan akan menjemput—

 

“Kak Suga ponselnya bunyi tuh,” suara Jungkook membuat perhatian Yoongi teralih dari pemikirannya.

 

Ia pun melihat ID Jimin di layar ponselnya. Dan tanpa ba-bi-bu lagi Yoongi langsung mengangkatnya.

 

“Hm?”

 

[“Kamu udah siap? Aku bentar lagi sampe.”]

 

“Udah. Daritadi.”

 

[“Bentar yaa. Abis kamu ga bales sms aku sih.”]

 

“Baru liat tadi pas Jungkook bilang ke aku. Udah buruan, aku udah telat.”

 

[“Iya-iyaaa. Udah sarapan, kan?”]

 

“Udah. Udah jangan nanya mulu ah buru. Bye.”

 

Yoongi langsung menutup panggilan itu secara sepihak. Jungkook yang sejak tadi memperhatikan hanya cengo di tempat. Tetep galak ya kakak Sugarnya sekalipun pada akhirnya statusnya dan pak Jimin udah pacaran, batinnya sambil tetap duduk diam.

 

Yoongi yang tanpa sadar diperhatikan melempar tanya. “Apa?”

 

Jungkook gelagapan karena kepergok memperhatikan. “Hehehehe engga kok, kak. Kuy ah. Kita tunggu di depan ajaaa.”

 

“Hmm.”

 

Mungkin Yoongi sedang dalam masanya menyukai respon ‘hm’ singkat padatnya itu. Dan Jungkook hanya bisa memaklumi.

.

.

.

Sesaat keduanya masuk ke dalam mobil Jimin, Yoongi terus melayangkan tatapan penuh intimidasi pada Taehyung yang duduk di jok belakang bersama Jungkook. Kenapa sih? Kenapa sih polisi pedo itu ada aja kelakuannya?

 

Tetapi saat merasakan ada tangan yang menggenggamnya, Yoongi dibuat berpaling dan bertemu tatap dengan Jimin yang seolah meyakinkan, bahwa Yoongi bisa mempercayai Taehyung –yang saat itu tengah duduk dempet sambil ketawa-ketiwi bersama adiknya.

 

Yoongi mendengus dan melihat ke depan, namun ia membiarkan saat tangannya tetap digenggam oleh Jimin.

 

Suasana dalam mobil itu perlahan mencair. Pasalnya suara tawa Jungkook selalu menjadi nada kesukaan Yoongi karena dengan itu ia bisa memastikan, bahwa Jungkook tengah dalam keadaan yang tidak akan membuatnya khawatir. Yah, kecuali soal statusnya dengan polisi di sampingnya itu.

 

Yoongi rasanya ingin maki-maki deh. Apalagi di saat ia melihat polisi pedo itu mencuri ciuman di pipi Jungkook. Sumpah, bolehkah Yoongi meminjam pistol Jimin dan mengarahkannya kepada Taehyung?

 

Suara rem yang ditarik membuat Yoongi melihat ke arah Jimin yang berniat membuka seatbelt. Yoongi bisa melihat Jimin memarkirkan mobilnya di pinggiran tempat minum starbak dan mengode Taehyung untuk ikut bersamanya.

 

“Kamu ga keberatan aku beli kopi dulu kan? Lumayan ada promo beli satu gratis satu.”

 

Mendengar itu, entah kenapa mulut pedas dan otak sadisnya bekerja. “Dih, mas Jimin polisi bukan sih? Kok mainnya gratisan?”

 

Anehnya, Jimin justru terkekeh kemudian mencubit kedua pipi pacarnya gemas. “Bukan gitu. Sayang aja kalau kuponnya ga di reedem, Yoong.”

 

Lalu Taehyung menyahut. “Hooh. Lagian gaji belum turun. Irit dikit gapapalah.”

 

“Emangnya saya nanya bapak, dih. Udah sana keluar beli.”

 

Taehyung meringis, Jungkook hanya tersenyum maklum. Namun sebelum Jimin keluar, Yoongi menahannya dengan kalimat, “Aku juga mau satu. Beliin.”

 

Jimin pun hanya mengangguk-angguk. Kemudian menyusul Taehyung keluar untuk membeli kopi. Sebelum keduanya masuk, Jungkook yang merasa Taehyung melupakan sesuatu langsung membuka kaca mobil dan berteriak pada pacarnya. “Taetae-hyung ponselnya kelupaaaaaan.”

 

Taehyung yang diteriaki begitu langsung berbalik untuk menghampiri Jungkook, mengambil ponselnya. Tidak lupa mengecup dahi kekasihnya diiringi ungkapan kasih sayang kepada namja imutnya. “Makasih, Kookie. Love you.”

 

Jungkook hanya terkekeh dan melambai-lambai pada Taehyung. Yoongi yang melihat itu bersandar di tempatnya duduk kemudian menyeletuk. “Apa deh, Kook. Jangan seintim gitu juga sama itu polisi. Kalo dia cuma main-main gimana?”

 

“Tapi kan ka—“

 

“LAGIAN—“ Jungkook langsung mengkeret mendengar nada penuh penekanan dari kakak Sugarnya. “—kenapa dia tiba-tiba duduk di belakang sih? Geser ah gue pindah ke belakang. Gerah liat itu polisi megang-megang lu.”

 

Jungkook manyun melihat Yoongi bersingut ke belakang, ke sampingnya di mana Jungkook benar-benar bergeser untuk memberi tempat. Dan kakak Sugarnya pun menempatkan dirinya di belakang kursi pengemudi.

 

Yoongi mengabaikan saja protes non-verbal Jungkook. Ia bersandar lalu mengeluarkan ponselnya dan mendengarkan lagu. Tak lama, kedua polisi muda itu kembali dengan Taehyung yang langsung mengernyit namun diam saja untuk kemudian duduk di depan, di samping Jimin.

 

Setelah memberikan minuman yang dipesan keduanya, Jimin menjalankan lagi laju mobilnya menuju ke satu tujuan, Universitas Bangtan. Dan perjalanan itu diselingi tatapan protes Taehyung yang Yoongi balas dengan tatapan kesinisan yang tak pelak membuat polisi muda itu diam di tempat.

.

.

.

Festival hari kedua sekaligus hari terakhir di Universitas Bangtan berjalan dengan damai semenjak dimulai tadi. Jimin dan Taehyung duduk di booth polisi yang ada sembari mengawasi keadaan sekitar. Namun tak ayal, tatapan mereka pastinya mencari keberadaan dua orang mahasiswa yang merupakan kekasih mereka masing-masing.

 

Jungkook sendiri tengah berfanboy ria karena artist yang tampil adalah penyanyi kesukaannya. Banggalah ia menjadi mahasiswa kampus ini, karena kakak-kakak tingkatnya bisa dengan mudah mendatangkan IU ke sini. Jungkook membiarkan euforia menyertainya, bernyanyi bersama dengan massa yang juga ikut terlena.

 

Di sisi lain, Yoongi berdiri sambil mengipasi dirinya dengan kipas bergambar anime yang ia pinjam dari teman kelasnya. Di sampingnya Seokjin pun berkacak pinggang. Sekalipun mereka bukan panitia, tetapi Yujeong, ketupel acara itu meminta mereka selaku ketua dan wakil BEM kampus untuk datang, itung-itung mengabdikan diri sebelum turun dari jabatan akhir semester nanti.

 

Yoongi menggerutu sepanjang ia berdiri di sana. Seokjin hanya mendiamkan. Mereka berdua bisa melihat bahwa Jungkook sedang asik berfanboy ria, dan Hoseok tengah diam-diam menyambangi satu per satu booth yang ada (bersama pacarnya).

 

Festival dengan tema gabungan berbagai culture sesuai dengan jurusan sastra yang ada di kampus mereka, membuat kegiatan itu dihiasi macam-macam. Entah dengan nuansa jejepangan, keinggrisan, kechina-chinaan, atau bahkan khas negeri mereka sendiri. Mabok-mabok deh yang berkunjung. Ibarat musik Negara Yumi kali ya, campur sari coeg /abaikan.

 

Merasa lelah hanya berdiri saja, Jin pamit ke ruang panitia, modus ngadem di sana. Yoongi tak menanggapi dan mulai berjalan entah ke mana. Dan di saat yang sama, sepertinya dua polisi di booth sana pun mengalamai kejenuhan. Maka keduanya pun membawa langkah mereka keluar sangkar, untuk ikut menjelajahi kemeriahan festival kesenian Universitas Bangtan.

.

.

.

Di tengah jelajahannya, Jimin mendapati punggung kekasihnya yang tengah berhenti di depan booth kaset-kaset. Kaset-kaset film dari Negara mana pun. Jadi siapapun yang suka ngebioskop, kuy dateng ke Universitas Bangtan untuk beli kasetnya di sini. Murah-murah, loooooh, itu teriakan salah seorang penjaga booth yang tengah promosi.

 

Diam-diam Jimin menghampiri Yoongi yang hanya memperhatikan seisi booth. Lalu tanpa peduli akan kena semburan pedas dari kekasihnya, Jimin menaruh satu tangannya di pinggang Yoongi yang langsung terkaget dan refleks menoleh. Dan entah Jimin yang terlalu dekat atau bagaimana, itu membuat kedua hidung mereka saling bersentuhan.

 

Yoongi sontak menjauhkan tubuhnya, namun tertahan oleh tangan Jimin. Polisi muda itu tersenyum tampan kemudian berucap pada kekasihnya, “Awas jatoh. Sakit, loh.”

 

Yang dipeluk mendengus, Jimin pun hanya memasang cengiran. Pacarnya kemudian mengalihkan pandangannya dengan keadaan tangan yang membatasi jarak di antara dada keduanya.

 

“Lepasin, mas. Malu tau.”

 

“Nanti jatuh kalo aku lepas.”

 

“Mas Jiiiiiim.”

 

“Hm?”

 

“Lepasin, please?”

 

“Gak.”

 

“Aa Jimin pleaseeeee?”

 

Bukannya melepas pelukan itu, Jimin makin mengeratkannya. “Ga mau. Kamu lagi free, kan?”

 

Jimin malah mengalihkan pembicaraan. Dan Yoongi hanya memutar bola mata bosan. Festival sudah berjalan setengah hari, pun polisi yang dimintai tolong menjaga ketertiban malah ada di sini bersamanya, bukannya melakukan tugasnya.

 

“Aku mah always free. Kamu tuh sana yang kerja. Lepasin dih.”

 

“Aku balik ke booth buat mandatin bawahanku dulu. Abis itu temenin aku keliling oke?”

 

“Ga mau ah. Nanti aja. Udah sana kerja dulu.”

 

“Udah setengah hari, Yoongi-ya. Aku mau jalan-jalan di sekitar festival sama kamu.”

 

Mendengar ucapan Jimin yang begitu, Yoongi malah makin cemberut. “Kayak ABG aja dih. Yaudah sana cepet.”

 

Jimin tersenyum mendengar itu. Kemudian mengecup pelipis Yoongi sebelum berlalu dengan bisikan sayang. “Gitu dong. Anggap aja ini kencan kita, oke?”

 

Dan Yoongi yang ditinggalkan Jimin ke boothnya hanya memutar bola mata bosan. “Ga banget sih mas Jimin level kencannya di festival kampus gini. Tapi gapapa deh. Mau kaset yang ituuuu…”

 

Tetapi pada akhirnya Yoongi mulai benar-benar melihat seluruh isi booth kaset yang ada di depannya ini sembari menunggu Jimin kembali. Lalu meminta dibelikan apapun yang dia mau.

 

Jadi, siapa yang modus? Entahlah.

.

.

.

Jungkook merengut ketika penampilan IU selesai. Namun itu gampang, ia bisa meminta pada Hoseok supaya bisa bertemu di backstage dengan artist favoritnya. Tetapi mungkin sebelum itu, Jungkook menggunakan kesempatan untuk berkeliling.

 

Jungkook menyambangi satu per satu booth sampai akhirnya ia kehausan dan berniat membeli minuman. Tak menyadari jika sedari tadi ada yang mengikutinya. Ketika ia akan membayar minuman yang ia mau, ada tangan lain duluan yang membayarkannya. Jungkook langsung menoleh dan bertemu pandangan dengan Taehyung. “Taetae-hyung makasiiiih.”

 

Taehyung mengangguk dan mengecup samping kepala Jungkook. “Anytime, Kookie. Mau lanjut keliling?”

 

Jungkook mengangguk, namun kemudian melempar tanya pada Taehyung. “Loh, Taetae-hyung ga nugas?”

 

“Udah mandatin bawahan kok tadi. Santai aja. Mending sekarang kita jalan-jalan, gimana?”

 

“Okeeeeee~”

 

Detik setelahnya dimulailah petualangan keduanya di sekitar festival, di mana Jungkook terus-terusan menunjuk booth yang satu lalu ke booth lainnya. Mulai dari booth pakaian, pernak-pernik, merchandise anime sampai makanan. Taehyung? Hanya bisa menuruti kemauan kekasih kelincinya. Lumayan kan? Itung-itung kencan dan  menyenangkan hati namjanya.

 

Selesai menghabiskan isi kantong Taehyung, Jungkook mengajak yang lebih tua untuk ke bukit belakang yang ada di kampusnya. Namja kelinci itu bermaksud mengajak Taehyung istirahat sembari memakan jajanan yang sudah mereka beli.

 

Keduanya duduk di atas rumput yang mana Jungkook langsung bersingut membuka kantong jajanan dan kemudian memberikan satu kepada Taehyung. Taehyung sendiri menerima itu setelah mengucapkan terima kasih bermodalkan dusta kecup-kecup bibir Jungkook.

 

Jungkook sih tidak keberatan. Tetapi kalau ada yang melihat, pastikan Taehyung ingat untuk menulis surat wasiat.

 

Hyung makasih yaaa, hehehe udah beliin Kookie ini-ituuu.”

 

Taehyung hanya mengangguk-angguk sambil memakan jajanannya. Tetapi satu tangannya yang bebas membelai rambut Jungkook, menyampirkan poni jamur milik kekasihnya. “Asal kamu seneng, hyung juga seneng. Jadi, kalo Kookie kepengen apapun, bilang aja oke?”

 

“Okeee!”

 

Hening meraja setelah itu. Angin berhembus menerbangkan helaian rambut mereka. Keduanya saling melirik dan melempar senyum. Namun, Jungkook lah yang kemudian memecah suasana dengan meminta maaf pada kekasihnya. “Hyung, maaf yaaa. Maafin sikapnya kakak-kakak Kookie. Mereka sinis gitu ke hyung.”

 

Taehyung hanya tersenyum santai membalasnya. Makanannya yang tinggal sedikit ia lahap, mengelap tangannya pakai tisu lalu beralih mengusap pipi Jungkook yang menggembung karena masih mengunyah. Usapannya begitu lembut sampai membuat Jungkook tak berkedip.

 

It’s okay. Hyung ngerti kok. Itu tandanya mereka sayaaaaang banget sama kamu.”

 

“Kookie juga ga mau ngecewain mereka, hyung. Makanya, Kookie juga ngerasa bersalah banget kalo inget Kookie jadian diem-diem di belakang mereka sama hyung.”

 

“Mereka akan terbiasa. Lagian, udah ada pawangnya kan? Mungkin hyung emang harus ekstra berjuang dapet restu mereka deh. Padahal umma kamu aja ga masalah. Ini, yang bukan siapa-siapa agak ngerepotin ya?”

 

Mendengar itu Jungkook tertawa, dan Taehyung yang melihatnya –mau tak mau merekahkan juga senyumannya.

 

“Karena mereka udah jadi bagian hidup Kookie juga. Jadi—hyung jangan menyerah, okay?”

 

“Siap bos!”

 

Keduanya tertawa, membiarkan angin berhembus menyapa mereka. Sebagaimana kebahagiaan yang melingkupi keduanya. Dengan Taehyung yang merasa tak bisa berpaling dari tawa menggemaskan Jungkook, membuatnya berpikir untuk mencuri satu saja kecupan di bibir yang tengah melantunkan nada itu.

 

Maka ia mendekat, berusaha mengambil atensi namjanya. Menutup jarak yang ada, menjadikannya tak kasat mata. Jungkook mengikuti nalurinya, membiarkan Taehyung memberikan memori pada kotak kenangannya. Setidaknya, bukan di depan ketiga kakaknya kan mereka berciuman?

 

Dan ketika bibir Taehyung mendarat di bibirnya, Jungkook sontak melingkarkan tangannya di leher Taehyung, membiarkan yang lebih tua menyalurkan rasa yang dimilikinya. Begitu pula Jungkook, yang berusaha membalas semua yang Taehyung kasih padanya.

 

Pun ketika keduanya berpisah, saling melempar senyum, masing-masing mengabaikan keadaan sekitar. Membiarkan angin menemani mereka mengarungi kebahagiaan yang tengah mendera keduanya.

.

.

.

Meanwhile

 

Jimin dan Yoongi tengah berjalan beriringan dengan di tangan Yoongi terdapat semangkuk kecil PatBingSoo, di mana ia sudah bersiap untuk menyuapkan sesendok es ke mulut Jimin, namun dengan iseng ia justru menyuapkannya ke mulutnya.

 

Jimin mengernyit lalu berusaha mendapatkan sesendok es yang tengah di miliki Yoongi, tetapi karena gagal terus, ia memilih jalan pintas. Kenapa harus makan lewat sendoknya kalau bisa makan lewat mulutnya?

 

Maka Jimin menahan langkah Yoongi kemudian membawa wajah kekasihnya itu menghadapnya dan menabrakkan bibir mereka. Lidahnya menyelinap masuk meminta apa yang barusan menyapa lidah kekasihnya.

 

Mendapati perlakuan itu, Yoongi dibuat diam dan menerima saja lidah Jimin mengambil semua rasa yang ada di dalam mulutnya. Padahal es tadi sudah mencair, namun Jimin tetap seolah berusaha mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.

 

Beberapa detik kemudian sepertinya Jimin tahu Yoongi kesulitan bernapas, maka ia pun melepas ciumannya dan menyeringai pada kekasihnya. Hal selanjutnya yang dia lakukan adalah mengambil semangkuk kecil PatBingSoo itu untuk ia nikmati dan berjalan mendahului Yoongi yang masih terdiam.

 

Setelah beberapa langkah menjauh, Jimin yang tak mendengar adanya langkah susulan dari sang kekasih, berbalik dan mendapati Yoongi membawa pandangannya ke arah lain. Apalagi mata melotot itu. Sebenarnya apa sih yang dia li—

 

“EH—Yoongi tunggu!”

 

Untung saja Jimin cepat bereaksi. Kalau tidak, mungkin Yoongi sudah sampai ke tempat yang daritadi menyita perhatian Yoongi.

 

Jimin memegang kekasihnya dan berusaha menahannya di tempat. Jimin menangkup kedua pipi kekasihnya dengan tangannya, mengabaikan belanjaan mereka yang jatuh ke tanah. Jimin berucap lembut pada Yoonginya. “Yoongi, hei, liat aku coba?”

 

Yoongi melengos dan tetap memasang tatapan mematikan ke arah di mana Taehyung dan Jungkook tengah bermesraan. Jauh di belakang keduanya, Jin, Hoseok dan pacar masing-masing menghampiri Yoongi dan melempar tanya. Namun ketika melihat ke arah yang sama, Jin juga Hoseok sudah akan melakukan hal yang sama kalau saja Namjoon dan Changmin tak menahannya.

 

“Yoongi liat aku?” Jimin memerintah tegas. Mengabaikan Changmin dan Namjoon yang berusaha meyakinkan pacar mereka mengenai mempercayai Taehyung (yang kala itu tengah mencium Jungkook). “Liat aku sebentar dan dengerin aku, plis?”

 

Yoongi mengalihkan pandangannya dan bertemu dengan mata meneduhkan Jimin. Iya, mereka baru jadian kemarin tetapi Yoongi sudah merasa bahwa segala sesuatu dalam diri Jimin memang diciptakan untuk membuat orang merasa nyaman.

 

“Kamu percaya aku, kan?”

 

Yoongi tak menjawab. Ia hanya tetap menatap Jimin dan terus berontak, berusaha menyambangi Taehyung dan menarik rambutnya karena berani mencium adik kesayangannya.

 

“Yoongi, aku yang bertanggung jawab kalo Taehyung sampe nyakitin Jungkook. Kamu boleh salahin aku, kamu boleh benci aku. Tapi kali ini aja, percaya sama Taehyung, oke? At least, percaya sama aku dan kasih Taehyung satu kesempatan untuk buktiin ke kalian kalau dia serius sama Jungkook. Plis?”

 

Di situ, Namjoon yang mendengar Jimin menyahuti. Ia berbicara pada Jin tetapi berharap yang lainnya juga mendengarnya. “Jungkook bukan anak kecil lagi, Jin. Dia berhak untuk dewasa. Walau Taehyung keliatan pedo gitu, tapi aku berani jamin Taehyung orangnya selalu serius. Jadi, plis, bisa kita mundur dari sini?”

 

“Ga. Aku mau nyamper—“

 

“Kamu ikut aku.”

 

“Bang Namjoon—“

 

“Sssttt. Ikut aku sekarang.”

 

Namjoon pun membawa Seokjin pergi, begitu juga Changmin yang sudah membopong Hoseok yang agak berontak. Sembari keduanya terus melemparkan sumpah serapah pada Taehyung yang masih asik menanamkan ciuman di wajah dan bibir Jungkook. Meninggalkan Jimin yang masih berusaha meyakinkan kekasih galaknya, Yoongi yang masih tak meresponnya.

 

“Yoongi, sayang, baby? Kamu percaya kan?”

 

Pada akhirnya Yoongi menghela napas. Lalu melemaskan wajahnya yang agak tegang karena melihat pemandangan itu.

 

“Mas.”

 

“Hmmm? Ada apa, hm?” Jimin mengelus pipi Yoongi yang agak memerah karena marah.

 

“Mas Jimin bilang, mas Jimin bakal tanggung jawab kalau temen mas itu nyakitin Jungkook, kan?”

 

“Iya.”

 

“Gimana kalo aku pinjem pistol mas Jimin aja buat nembak dia. Jadi, selesai. Ga usah repot-repot ada kesempatan kedua segala. Deal?”

 

Dalam hati Jimin meringis mendengar permintaan kekasihnya. Polisi tampan dengan pangkat Sersan itu berusaha mencairkan suasana dengan menarik Yoongi ke dalam dekapannya. “Itu tindakan kriminal, Yoongi. Aku mana rela kamu dipenjara, hm?”

 

“Bodo amat. Lagian berani banget sih tuh—ugh… mas, sesak woi.”

 

Yoongi yang dipeluk makin erat berusaha membebaskan diri. Namun Jimin tak membiarkan. Ia malah lanjut berujar. “Pokoknya… ya, apapun yang terjadi, aku yang bakal bertanggung jawab, oke?”

 

“Sekalipun aku beneran minjem pistol kamu terus nembak pak Taehyung itu?”

 

“Iya, iya sekalipun itu kejadian, aku yang bakal ngambil semua resiko itu dan gantiin kamu buat dihukum.”

 

“Boong banget. Mana rela kamu ngelakuin itu.”

 

“Kalo aku bisa?”

 

“Kutagih nanti liat aja.”

 

“Silahkan tagih. Tapi untuk sekarang, percaya Taehyung, oke?” Jimin sedikit melonggarkan pelukannya untuk menunduk agar dapat melihat wajah kekasihnya yang kini mendongak ke arah Jimin dengan tampang merengutnya.

 

Yoongi kemudian melihat ke arah lain asal bukan wajah atau mata Jimin dan membalas pelan. “Hm.”

 

“Yoongi baby?”

 

“Jangan panggil aku begitu!”

 

“Oke, Sugar baby.”

 

“Sersan Park pistolnya di mana? Pinjem dong! Saya butuh buat nembak orang yang lagi meluk saya sekarang.”

 

Dengan masonya Jimin justru tertawa dan mengeratkan pelukannya lagi. “Kamu sadis tau, ga.”

 

“Bodo.”

 

“Udah, ya. Biarin Taehyung sama Jungkook tenang di alam mereka.”

 

“Tjih.”

 

Kali ini Yoongi benar-benar sekuat tenaga melepas pelukan Jimin dan berhasil. Ia kemudian mengambil semua belanjaan yang jatuh ke tanah dan berjalan meninggalkan Jimin yang masih diam di tempat, sembari melirik Taehyung seolah berkata; ‘You owe me one, Kim Taehyung.’

 

Sedangkan di tempat Taehyung, yang sejujurnya sadar akan kejadian itu mengucapkan banyak terima kasih pada atasannya juga sahabatnya Jimin dalam hati, untuk kemudian kembali bercanda dengan Jungkook yang bercerita tentang kampung halamannya dengan penuh keceriaan.

 

Thank you pak Namjoon! Thank you sobat. I owe you both, everything.’

.

.

.

Tbc.

Yumi’s note;

Hola guys. Long time no see. Maapkan Yumi baru apdet. Entah kenapa makin ke sini feelnya agak susah TT

Btw ini apa? Yumi juga tak tau. Maap kalau ga ada humornya. Maap kalau romance-nya juga berasa. Percayalah bahwa Yumi ngetik ini sambil memerangi WB :((( Jadi maap kalau banyak kekurangan.

Yang minta ini jangan end dulu di chap kemarin, ini Yumi kabulkan yaaa. Ditunggu saja yaaa, kisah polban dan si galak, polgan dan si polos plus Jin&Jun also kakak tingkat PHP dengan anak alay /panjangamat.

Pokoknya Yumi makasih banget kalau masih ada yang nunggu ini dan mau baca. Lopyu comat kawan-kawanssss.

 

At last but not least, review?

 

—pelukkecup,

Yumi

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s