Greatest Accidental ~Chapter 9 {Un-Yoongi-like. Typically Jungkook-ssi Pt. 2}


I’ve never let anybody wander through my thoughts. I don’t know how you found a way in.

– sana abuleil.

 

Ini sudah hari terakhir liburan semester ganjil yang dijalani Yoongi dan teman-temannya. Di hari terakhir inilah, Yoongi berdiam diri di kost-an sambil bergelung dalam selimut hangatnya. Sembari acapkali berpikir… benarkah ia benar-benar berubah dan siapakah dirinya selama sebulan ini?

 

Kalau kemarin ia bisa membuang harga dirinya untuk meminta maaf yang berujung –penolakan lagi dari Jimin, kini dia sadar… dan bertanya-tanya ke mana perginya Min Yoongi yang asli?

 

Tetapi Yoongi tak mau ambil pusing. Bukankah dia… sudah berusaha untuk meminta maaf atas ucapan menyakitkan yang ia tujukan pada sosok itu?

 

Bukankah… Yoongi sudah tahu apa jawabannya?

 

Langit cerah yang mengintip melalui kaca jendela kamarnya menemani Yoongi merenung dalam terpakuannya tentang hatinya yang kian gelisah. Berusaha mencari jalan keluar dari panjangnya labirin gelap yang kian menyesatkannya.

 

.o.o.o.o.

 

Greatest Accidental ©Fujimoto Yumi, 2016

Park Jimin X Min Yoongi

Kim Taehyung X Jeon Jungkook

BTS’s member ©God, themselves

Rated T – M. / Romance, Fluffy, Humor, Friendship.

Slash. Yaoi. Boys Love. OOC. Indonesian!AU.

Police!NamVMin. CollegeStudent!JinSugaHopeKook.

Older!NamVMin. Younger!JinSugaHopeKook.

 

Note : DLDR? I gain no profit by publishing this story.

Based on true story. Thanks to ma friends who inspires me with her story😄

This is just for fun. Enjoy and happy reading.

 

Bahasa non-baku. Beware.

 

Summary : Awalnya iseng mikir untuk bisa lolos dari tilangan polisi, namun pemikiran itu justru membawa Yoongi dan Jungkook pada kenyataan bahwa setiap keisengan akan berakhir dengan konsekuensi (yang membahagiakan dalam kasus mereka).

 

.o.o.o.o.

 

G r e a t e s t A c c i d e n t a l

C h a p t e r 9

Un-Yoongi-like. Typically Jungkook-ssi Pt. 2

Summary :

Karena yang namanya perasaan, bisa menghancurkan kerasnya batu sekalipun.

Karena yang namanya hati, adalah mutlak sesuatu yang tak bisa dibohongi.

Karena yang namanya cinta, datang tanpa diminta dan takkan pergi tanpa disuruh.

Namun saat disuruh sekalipun, cinta itu akan tetap berpijak di sana tanpa mau beranjak sedikitpun sampai yang mencinta saling bersatu.

Ini hanya tentang hari libur yang membuat Yoongi bertanya-tanya siapa dirinya.

Dan membuat Jungkook berbelok dari niat awalnya.

Ini hanya sepenggal kisah di mana empat hati saling berdegup dalam irama yang mereka sendiri tak tahu apa artinya.

Ini hanya tentang kisah cinta… yang tak pernah disangka-sangka akan hadir di bawah langit biru yang ceria.

 

e n j o y

 

.o.o.o.o.

 

Flashback ke hari di mana Yoongi dan Jimin kembali bertemu dan berakhir dengan hujan yang mengguyur Yoongi dan membasahi Daegu… dan Yoongi menunggu tukang ojek langganannya, Seokjin untuk menjemputnya dan membawanya pulang ke kost-an hangatnya.

 

Seokjin tengah cemberut di hadapan lelaki yang lebih tua beberapa tahun darinya. Yang belakangan ini ia ketahui bahwa status namja itu sudah berubah menjadi ‘tunangannya’.

 

Hari ini kedua orangtua mereka memaksa mereka untuk bertemu, berbincang tentang persiapan pernikahan yang Seokjin tak mau menebak kapan akan berlangsung. Tetapi sepertinya ia harus berterima kasih karena ternyata tunangannya merupakan tipe yang pengertian.

 

Saat namja di sampingnya tengah membujuk Seokjin yang merajuk, bunyi ponselnya memecah pembicaraan mereka dan Seokjin bersingut untuk menjawab telepon yang ternyata dari sahabatnya.

 

“Apaan cuy?”

 

[“Jemput gue dong, di Daegu. Sekarang.”]

 

Set. Ga salah denger kan, dia? Apa barusan sahabatnya, Yoongi, memintanya untuk menjemputnya di kampung halaman sosok itu?

 

Seokjin mengernyitkan alisnya walau sang sobat tak melihatnya. Lalu menjawabnya. “Set lu kata gue supir pribadi lu apa? Naik taksi.”

 

[“Ga bawa duit.”]

 

Namja cantik itu sukses dibuat memutar bola mata. Yoongi terkadang pinter, ya?

 

“Ya bayar nanti, bebebkuuu. Gitu aja kok pinter.”

 

Sebenarnya, Seokjin merasa ada yang aneh dengan sahabatnya. Apalagi setelah itu jawaban yang Yoongi berikan membuat dia terkejut bukan main.

 

[“Jemput Jin, plis. Gue abis berantem sama bang Yujin. Gue tunggu oke? Bye.”]

 

“Eh Suga—woi! Tung—“

 

Setelah itu sambungan diputus secara sepihak. Dan Seokjin dibuat mulas akan itu. Karena Seokjin yakin, pasti telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

 

Seokjin lalu langsung menghadap tunangannya yang masih duduk di sofa, lalu menjulurkan tangan, meminta sesuatu. “Bang minjem mobil, dong.”

 

Tunangan Seokjin mengernyitkan alis, melempar tanya yang sangat kentara. Membuat Seokjin buka mulut lagi. “Ayo dong bang Namjoon~ pinjem mobil please~ Suga butuh bantuan. Dan aku harus jemput dia di Daegu.”

 

“Kenapa harus kamu?” Namjoon beranjak dari duduknya lalu menghampiri Seokjin, dan berdiri di depannya. “Kenapa kamu harus jemput dia, hm? Urusan kita belum selesai, Jin-ah.”

 

I knowww. But we can talk it later, ne? Suga butuh aku, bang. Dia sahabatku. Dan aku yakin pas dia bilang dia abis berantem sama abangnya, pertengkaran itu pasti serius banget karena nyatanya dia ga bawa uang sepeserpun buat pulang ke Seoul. So—may I borrow your car, sir?”

 

Seokjin memasang wajah memelasnya yang membuat Namjoon menghela napas, mengalah. Bukankah untuk mempermudah perjodohan ini, Kepala Polisi Seoul itu harus pintar mengambil hati namjanya?

 

Arra, arra. Janji akan kembali dengan selamat?”

 

“Emangnya aku ke sana mau balapan? Ya engga, lah.”

 

Seokjin mengambil kunci yang sudah disodorkan Namjoon, lalu berterima kasih dengan mengecup pipinya sebelum menghilang di balik pintu apartemen milik tunangannya.

 

Setidaknya Namjoon tahu, Seokjin tak sepenuhnya menolaknya.

 

.o.o.o.o.

 

Saat Seokjin menemukan Yoongi yang berdiri diam di pinggir trotoar di bawah hujan yang mengguyur, tanpa pikir panjang berusaha menampik pemikiran buruknya, Seokjin membawa sahabatnya masuk ke dalam mobil Namjoon yang ia pinjam. Lalu selama perjalanan kembali ke Seoul yang berlangsung hening, namja yang lebih sering disapa Jin itu menghubungi Hoseok untuk membantunya mengurus sesuatu.

 

Hoseok tengah malas-malasan berada dalam dekapan hangat sosok yang lima tahun ini ia tunggu. Akan tetapi baru kesampaian saat minggu lalu incarannya itu menerima hasil belajarnya selama empat tahun di Universitas Bangtan, kesuksesan sidangnya dengan pernyataan lulus yang ia terima dan sosok itu wujudkan dengan menghampiri Hoseok dan menyatakan semuanya.

 

Tentang mengapa ia membuat Hoseok menunggu, dan mengapa ia dengan teganya melakukan itu. Tetapi Hoseok mengerti, dan ia merasa kebahagiaan yang melingkupinya ini sudah lebih dari apa yang ia harapkan.

 

“Kak, ih, diem duluuu.”

 

“Kamu yang diem, Hosiki. Aku ga ngapa-ngapain tuh.”

 

“Kalo ngomong suka ga ngaca, yeuuu. Bibirnya ituloh, gausah gelitik-gelitik bawah telinga akuuu.”

 

Hoseok berusaha mendorong wajah Changmin yang walaupun tangannya memegang stick xbox, bibir tebalnya bisa saja menjelajah belakang sampai ke bawah telinganya.

 

“Hosiki diem. Nanti kalah.”

 

“Bodo ya, bodo. Menang juga ga ngaruh.”

 

Changmin gemas, ia memilih melepas pegangannya pada stick xbox untuk kemudian melingkupi perut Hoseok dari belakang. Lalu menenggelamkan hidungnya dihelaian hitam milik kekasihnya.

 

“Manis dikit, dong. Tsundere gitu. Padahal suka, kan?”

 

“Ga tuh.”

 

“Ketularan Suga, ya?”

 

“Apaan. Nanti kalo kak Suga denger rame, loh.”

 

Changmin hanya tertawa dan terus mengganggu Hoseok yang masih berusaha membuat perlawanan. Iya, sih. Hoseok tsundere, kan? Buat apa lima tahun nunggu pas udah jadian dan dimanjain gitu sok nolak? Muna deh, ah, Hosiki mah.

 

“Kak Changmiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin~”

 

Dan untungnya, suara ponsel yang berdering membuat Hoseok segera kabur dari backhug yang diberikan Changmin, lalu Hoseok menjawab panggilan itu. Disapa dengan suara entah-berapa-oktaf Seokjin di ujung line.

 

“Minta kunci duplikat sama tante Yoona, tolong beresin kost-an Suga, ya?! CEPET! Hush.”

 

Hoseok mengernyitkan alisnya yang langsung ditanya Changmin ada apa. Namun belum sempat menjawab, suara Seokjin menggema lagi. “Eh, minta bantuan Kookie juga sana. CEPEEET. Jangan galauin kak Chwang mulu hush hush. Beberapa jam lagi gue sama Suga sampe.”

 

Dan kernyitan di alis dan dahinya makin terlihat. Tetapi secepat kilat ia beranjak keluar karena merasa… bahwa ada yang tak beres dengan kak Sugar kesayangannya.

 

Flashback End.

.

.

.

Semester genap berjalan dengan begitu cepat. Sudah sebulan terlewat semenjak Yoongi kembali bersama Seokjin dengan keadaan basah dan pandangan kosong (walau ekspresinya masih datar) dan membuat ketiganya (Jin, Hoseok dan Jungkook) khawatir.

 

Tetapi tak satu pun di antara mereka yang berani untuk bertanya. Karena mereka tahu, bahwa itu akan menyakiti sosok kesayangan mereka.

 

Sebulan berjalan dan tak ada yang berubah. Yang mengherankan, ternyata Yoongi bisa kembali menjadi dirinya seperti sebelum liburan berjalan. Yoongi kembali menjadi sosok yang judes, galak, dingin, cuek dan suka seenaknya. Walau tak dipungkiri ketiganya, terkadang mereka akan mendapati Yoongi yang terduduk sendirian sambil melamun, lalu tanpa sadar mengusap bibirnya dilanjut mengacak surainya.

 

Terlebih dengan hubungan Yoongi dan abangnya. Beberapa hari setelah kepulangan Yoongi ke Seoul, Yujin juga menyusul adiknya. Kemudian mereka bertengkar lagi dengan topik yang sedikit mereka mengerti, tapi banyakan ga mengertinya.

 

Mereka menyerah. Mereka hanya bisa menunggu Yoongi membuka diri. Namun mana mungkin? Walau sekalipun akhirnya melihat Yoongi dan abangnya berbaikan, itu tak mengurangi kekhawatiran mereka. Dan saat mereka bertanya pada Yujin, Yujin pun hanya meminta mereka memberi ruang pada Sugar kesayangan mereka.

 

Akan tetapi, rasa sayang Jungkook pada Yoongi membuat terus khawatir. Maka ketika ia bertemu dengan Taehyung untuk nonton (lagi), Jungkook melempar tanya. Atau lebih tepatnya mengorek informasi apa saja yang mungkin Taehyung tahu tentang kakak Sugarnya dan polisi bantet bernama Jimin itu.

 

“Emangnya kenapa, hm?” Taehyung balik bertanya saat mereka menunggu film pilihan mereka diputar.

 

Jungkook menatap Taehyung gemas karena tak segera menjawabnya. “Jawab aja dong, hyung~ Kookie kan penasaran~”

 

“Hmm… I have no rights to tell it to you, Kook-ah, Itu hak Jimin atau Yoongi.”

 

Waeyo? Apa masalah mereka… seberat itu, hyung? Jujur aja… Kookie khawatiiiiiiiiiiiiiiiirrrr banget sama kak Sugar~”

 

Taehyung tersenyum menenangkan sembari mengusap kepala hitam Jungkook dengan potongan mirip jamurnya. “It’s okay. Mereka pasti bisa menyelesaikannya. Ne?”

 

Taehyung mungkin berpikir, bahwa benar bukan haknya. Tetapi mungkin ada saatnya nanti, Taehyung akan berkata pada Jungkook kalau dia akan selalu ada untuk membantu mereka. Atau membantu Jungkook mengusir kekhawatirannya pada Yoongi.

 

“Sekarang gimana kalau kita nikmatin filmnya?” ajak Taehyung lembut yang Jungkook balas dengan anggukan, dan tatapan teduh penuh kenyamanan disertai senyuman di kedua sudut bibirnya. Dan, oh! Jangan lupakan kecupan di pipi yang Taehyung dapat dan berhasil membuatnya terpekur lucu.

 

“Makasih karena selalu ada buat Kookie, hyuuuung.”

 

Taehyung menyadarkan dirinya, lalu mengangguk. Pemuda tampan itu kemudian menempatkan kecupan balasan pada rambut Jungkook, begitu lembut membuat si mahasiswa itu memejamkan matanya menikmati ciuman Taehyung di sana.

 

Anytime, Kookie. You can count on me.”

 

Saranghae, Taetae-hyung.’ bisik Jungkook dalam hati, dan terlarut pada layar basar di depannya. Pun dengan tangannya yang terbungkus erat oleh tangan Taehyung yang menggenggamnya.

.

.

.

Taehyung tengah menumpukan kepalanya di atas meja kerjanya, menunggu Jimin kembali dengan kopi yang ia pesan. Sesekali Taehyung bisa mendengar senandung ceria atasannya yang sepertinya sedang bagus moodnya, yang justru membuat mereka berdua (Taehyung dan Jimin) lembur begini di kantor.

 

Tak lama yang ditunggu datang, dan langsung mengikuti Taehyung menjatuhkan kepalanya di atas meja kerja di mana di dekatnya laptop menyala menampilkan laporan kasus yang sudah mereka pecahkan.

 

Taehyung tak mau mengganggu. Jimin punya masalah belakangan ini, dan dia tidak ingin membuat hidup sahabatnya itu lebih buruk. Walau Taehyung ingin sekali bertanya tentang hati namja itu, rasanya… salah saja. Jadi Taehyung memilih diam.

 

Diam itu emas, pikirnya terkadang. Tapi sebanyak apapun dia diam, kenapa tak pernah ada emas yang nyasar ke banknya? Oke, ngaco. Pemuda brunette itu memutuskan melirik lagi Jimin yang entah masih hidup atau sudah mati.

 

“Oi, Jim.”

 

“Hmm?”

 

“Lu masih hidup kan?”

 

“Hmm.”

 

“Seriusa, sob. Jangan mati dulu. Katanya ga bakal nyerah.”

 

“Diem, KimTae. Mending lu urus laporannya. Gue lelah.”

 

“Lelah mikir gimana caranya muter waktu ke hari di mana Yoongi—aduh!” kalimat Taehyung terpotong saat Jimin melayangkan tangannya untuk menggeplak kepala sahabatnya.

 

“Bacot amat. Berisik. Diem aja. Mending lu mikirin cara gimana nembak Jungkook. Dasar pedo.”

 

“Ngaca woi.”

 

“Lah. Gue sama Yoongi cuma beda lima tahun, bruh. Nah, elu sama Jungkook? Lu yang ngaca, Tae. Ga sadar diri, buset.”

 

“Tanpa ngaca gue tau kok gue ganteng, Jim. Temen lu ini, kapan si ga ganteng?”

 

Jimin memutar bola mata bosan mendengar kenarsisan sahabatnya sejak SMP itu. “Yha aja gue mah. Dasar pedophile mecum.”

 

“NGACA WOI.”

 

“Hah? Apa? Taetae-hyung ngaku kalo Taetae-hyung pedophile? Akhirnyaaa~”

 

“Najis geli dengernya. Nama gue jadi terdengar menjijikkan pas elu yang nyebut, Jim.”

 

“Bodo amaaat. Taetae-hyung~”

 

“PARK-BANTET-JIMIN IYUCH NAJISIN.”

 

“Jangan teriak, oi. Dasar om-om pedo.”

 

“Nga—“

 

“Berisik amat sih, kalian! Teriak mulu daritadi. Ada apa, hah?”

 

Mampus kan, batin mereka bersamaan saat Namjoon keluar dari ruangannya dan memasang wajah yang membuat mereka mulas.

 

Keduanya sontak menggeleng dan kembali larut dalam pekerjaan mereka ditemani segelas kopi yang mulai mendingin. Meninggalkan atasan mereka yang masih mengernyit, namun merasa tak perlu ikut campur.

 

“Kalau belum selesai juga, bawa pulang sana. Saya bosen liat muka kalian.”

 

Anjir, rasanya mau ngomong kotor, batin Taehyung dan Jimin yang seketika kembali melihat ke arah Namjoon yang masih berdiri sambil bersandar di daun pintu. Kemudian masuk ke ruangannya mengambil mantel dan tas kerjanya.

 

“Saya juga mau pulang. Inget. Pulang. Muka kalian udah kayak nahan pup berhari-hari, secapek itukah ngerjain laporan?”

 

“I-iya pak. Kami akan pulang abis ini.”

 

Setelahnya, Namjoon yang gantian meninggalkan mereka di keheningan lantai dua kantor kepolisian Seoul itu.

.

.

.

Yoongi membuka kasar tirai kamar yang tersibak angin pagi di musim semi. Tatapan matanya menelusuri angkasa luas, namun kemudian beralih untuk melihat jam di dinding kamarnya.

 

Ah, dia harus rapat. Sebentar lagi festival kampus berlangsung, Yoongi yang akan melepas jabatannya sebagai ketua BEM tahun ini harus membantu untuk terakhir kalinya. Setelah itu dia mau bebas, bebas mengurus proposal skripsi yang akan ia ajukan.

 

Maka Yoongi berjalan ke arah kamar mandi dan membersihkan diri. Sembari menghela napas entah sudah ke berapa kali, dan pikirannya selalu terarah pada pertemuannya dengan Jimin hari itu.

 

Bukankah… ia hanya perlu melupakannya?

 

.o.o.o.o.

 

Ketika rapat hari itu sudah selesai beberapa jam lalu, terlihat Jungkook tengah merengek pada Hoseok meminta ditraktir susu sebagai pajak karena ternyata namja itu sudah jadian dengan kakak tingkat php kesayangannya.

 

Seokjin dan Yoongi dibuat melongo mendengar itu.

 

“SERIUSAN LU, HOS?”

 

“Iyaaaaaaaa.”

 

“Njir kapan jadiannya lu?”

 

“Hmmm gatau lupa gue kak._.”

 

“Dan lu nyembunyiin ini dari kita?”

 

“Siapa yaaa yang waktu itu malah berantem di WA? Siapa yaaaa yang liburan ini sibuk banget sampe-sampe kita cuma bisa ngobrol di chat? Kutuh ga bisa diginiin kak. Kangen tau ga sama kalian bhuhuhuhu.”

 

Yoongi langsung mengernyit jijik dan Jin hanya memutar bola mata bosan. Lain halnya dengan Jungkook yang masih menarik-narik ujung baju Hoseok meminta susu favoritnya. Dan Hoseok hanya mengusap kepala Jungkook sembari mengatakan mereka akan membelinya nanti.

 

“Gue pikir setelah lu jadian sama kak Chwang, kelebayan lu bakal berkurang, Hos? Kok malah makin jadi?”

 

“Anjir sakit. Kak Suga tuh kenapa, sih? Selalu aja giniin Hosiki? Salah Hosiki apa kak apa? Apa selama ini sayang Hosiki ke kakak kurang banyak? Makany—aduh!”

 

Yoongi menyentil dahi Hoseok membuat namja itu berhenti mengoceh. Wajah Yoongi sudah separuh jijik. Serius, kapan Hoseok sembuh, Tuhan?

 

Jin hanya geleng-geleng, Jungkook masih merajuk sambil menggigiti ujung lengan bajunya dengan tangan Hoseok yang mengusap-usap surai hitamnya.

 

“Jangan lebay, curut. Najis amat sih lu. Lama-lama makin alay bukannya bener. Kok kak Chwang mau sama lu.”

 

“Tuhkan sakit lagi.”

 

“Bodo. Lagian jangan-jangan lu lupa minum obat deh.”

 

Mendengar itu, muka Hoseok berubah ceria lagi. Dan Yoongi maupun Seokjin sudah memutar mata bosan karena pasti setelah ini Hoseok hanya akan berbicara ga jelas.

 

“Eh iya, kayaknya Hosiki keabisan obat. Mana ya kombantringggnya?”

 

“Lu cacingan?”

 

Bodohnya adalah, kenapa mereka bertiga tak bisa untuk tak menanggapi Hoseok? Persahabatan yang aneh.

 

“Yha anjir ga dunds, kakaaaaaaaak. Berarti salah ya? Obat Hosiki apa sih selama ini? Ohiya, harusnya kakak Sugar ngingetin Hosiki buat beli diana.”

 

“Itu nama orang.”

 

“Diaput?”

 

“Buat apa lu minta obat diare?”

 

“Ish salah mulu ih malesin deh. Berarti obatnya kinanti.”

 

“ITU OBAT MENSTRUASI PABO. SEJAK KAPAN PACARAN SAMA KAK CHWANG BIKIN LU JADI HAID SEGALA.”

 

“YALORD KOK HOSIKI SALAH MULU. TERUS APA DONG OBAT HOSIKI? PASTI NAMA OBATNYA KUACI?”

 

“BODO AMAT, HOS, BODO. MAU NGELUCU GARING. DASAR CURUT ALAY. Beneran heran gue kak Chwang mau sama lu.”

 

Hoseok cemberut, mendengar yang satu ini. “Hatiku sakit kakak Sugar, karena selalu ditikam kalimat nyelekit itu.”

 

“Bodo.”

 

“Kak Jin belaaaaiiiiin~”

 

“Bodo.”

 

“Bhuhuhu semuanya jahat sama Hosiki huwaaaaa.”

 

“Berisik, kuda Gwangju. Punya pacar bukannya makin dewasa malah makin bocah.”

 

“Yeu, bilang aja kak Suga sirik ya, kan? Masih jomblo siiiih~”

 

Mampus, Hoseok langsung membatin saat melihat ekspresi Yoongi yang menggelap. Lalu tanpa peringatan, namja bernickname Suga itu maju dan memiting leher Hoseok yang langsung teriak minta ampun.

 

“AMPUN KAK SUGA IYA AMPUN. UMMA TOLONG HOSIKI BHUHUHU HELEEEPPPP.”

 

Seokjin dan Jungkook di dekat mereka hanya memperhatikan. Kapan lagi, melihat yang begini. Walau sudah terbiasa, setidaknya… hal itu bisa mengurangi rasa kangen yang mereka miliki.

.

.

.

Malam itu malam minggu, dan Jungkook sudah rapih dengan setelan kemeja flannel yang menemani kaus putih polos dan jeans Luis juga sepatu sneaker untuk jalan keluar.

 

Bersama siapa?

 

Siapa lagi kalau bukan Taehyung?

 

Yoongi dan Seokjin bahkan Hoseok disibukkan dengan rapat ini-itu, proposal ini-itu dan membuat Jungkook diabaikan. Rasanya mau ngambek, tapi Jungkook sayang mereka. Lagipula, malam ini Jungkook juga berniat membelikan sesuatu untuk mereka bertiga dengan uang hasil kerja sambilannya kemarin.

 

Dan mengajak Taehyung rasa-rasanya bukan keputusan yang salah.

 

Jungkook keluar dari kost-annya dan berjalan meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya itu untuk menghampiri Taehyung yang sudah menunggu.

 

Sebenarnya, hubungan mereka apa Jungkook juga tidak tahu. Namun bolehkah Jungkook tetap ada dalam keadaan seperti ini? Menikmatinya dan membiarkan semua ini berjalan layaknya air yang mengalir?

 

Maka ketika Jungkook masuk ke dalam mobil Taehyung yang sudah menunggu, detik berikutnya mereka bertolak untuk menikmati setiap detik yang berputar di malam minggu itu.

 

.o.o.o.o.

 

Taehyung mengikuti Jungkook ke setiap toko yang ada. Namja imut itu mengatakan ingin mencari sesuatu yang cocok dengan kakak-kakaknya. Dan Taehyung hanya memperhatikan, bagaimana Jungkook mengeluarkan ekspresi imutnya saat berpikir, atau ketika dia menemukan sesuatu yang pas untuk para hyungnya.

 

Taehyung sendiri tak pernah bisa menahan tangannya untuk mencubit gemas pipi Jungkook. Pun hal itu membuat perasaan yang Taehyung punya makin-makin menumpuk rasanya, seolah meminta dikeluarkan saat itu juga.

 

Dalam hati, Taehyung berpikir… bolehkah dia mengatakannya sekarang? Setidaknya… hanya mengungkapkannya saja, kan?

 

Tanpa mengharapkan jawaban?

 

Jungkook tiba-tiba menarik Taehyung ke sebuah café yang lumayan ramai (bukan café ZhouZhou. Bisa-bisa keesokannya dia kena semprot kakak Sugarnya kalau ke sana). Mereka mengambil tempat di pojokan, biar keliatan kayak orang pacaran. Padahal mah, status mereka itu ga jelas.

 

Bikin Taehyung ingin gigit bibir Jungkook saja karena tadi mereka melewati pasangan-pasangan yang pacaran. Eh, tunggu. Belum boleh, Tae. Simpan dulu anganmu untuk gigit-gigit bibir Jungkook.

 

Sama halnya dengan Jungkook. Dia sebenarnya ingin gigit jari daritadi. Kenapa sih, mereka bikin Kookie iri? Kookie kan juga mau gitu-gitu sama Taetae-hyungie~

 

Oke. Mengabaikan jeritan hati keduanya, Yumi memilih menyamankan posisi mereka dengan duduk bersandar pada badan kursi, saling berhadapan. Pelayan datang tak lama dan mereka menyebutkan pesanan mereka.

 

Lalu Taehyung melirik belanjaan Jungkook, dan bertanya. “Udah semuanya kan, Kookie?”

 

Jungkook hanya mengangguk. Karena beberapa detik setelahnya, pesanan mereka datang dan mereka mulai larut dalam euphoria bisa menyeruput minuman sambil tatap-tatapan. Oke aneh, abaikan.

 

Tapi kalau bertanya pada Taehyung, sudah pasti dia gemas. Karena lihat saja, Jungkook lagi-lagi menyisakan minumannya di pinggiran bibir untuk natal nanti. Bukan deh, Taehyung ngaco. Maksudnya, mungkin modus supaya Taehyung menghapus noda itu dengan ibu jarinya.

 

Berharap boleh, kan? Lagipula siapa suruh Jungkook pesen cappucino? Biasanya juga susu. Susu entah merknya apa Taehyung tak tahu. Daripada susu itu, Taehyung juga punya susu kok. Errr… oke, sepertinya Taehyung sudah melantur ke mana-mana otaknya akibat sisa minuman itu.

 

Maka tanpa bisa dicegah, tanganya terulur untuk menghapus jejak kopi di sudut bibir Jungkook. Pemuda tampan itu tersenyum, yang dibalas senyuman kelinci juga dari Jungkook.

 

Dan tanpa bisa direm lagi, kalimat seenak jidat itu meluncur bebas dari mulut keceplosan Taehyung.

 

“Kookie jadi pacar hyung mau?”

 

“Huhh?”

 

Jungkook mengedip, beberapa kali sampai dia merasa kedipan itu justru membuat Taehyung makin memintanya jawaban. Dan tanpa disadari keduanya, minuman Jungkook tumpah begitu saja. Dengan masing-masing manik yang masih saling memandang. Mengabaikan degup jantung dan deru angin yang saling bersahutan.

 

Dan keduanya tak ada yang sadar. Entah siapa yang menyuruh, Taehyung bangun dari duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Jungkook yang masih setia menatapnya.

 

Bersamaan dengan angin yang berhembus, wajah Taehyung semakin dekat dan Jungkook menutup kedua matanya, membiarkan sosok tampan di seberang meja menempatkan kecupan di bibir manis miliknya.

.

.

.

I think too much. But only about the things that I can’t risk losing.

Maybe that’s why I can’t get you out of my head.

– sana abuleil.

 

Yoongi mengusak kasar rambutnya ketika dia dan Hoseok akan berangkat ke kampus, dengan keadaan lengkap Yoongi mengendarai motor Jin yang sudah diamanatkan kepadanya melalui satpam kost-an, keduanya harus diberhentikan oleh seseorang berseragam polisi. Kemudian meminta surat-surat penting miliknya.

 

Yoongi mendengus keras-keras, karena setelah ia memberikan apa yang diminta, polisi itu malah mencari-cari kesalahannya. Seperti spion motor yang mereka pakai tidak sesuai peraturan.

 

Lah, kalau niat cari duit gini, Yoongi sudah mau marah-marah. Yoongi akan dengan senang hati adu bacot dengan polisi itu. Tetapi sayang, waktu mepet menyiksanya. Ia melirik Hoseok yang juga bingung harus melakukan apa.

 

Namun tiba-tiba celetukan Hoseok membuatnya melotot sempurna, karena ia juga jadi mengingat cerita Jungkook tentang dia yang akan ditilang dan diselamatkan oleh polisi bernama Taehyung itu.

 

Apa Hoseok… sedang berusaha memberitahunya supaya meminta bantuan Jimin?

 

Gila. Mungkin Hoseok benar-benar harus minum obat.

 

“Ayolah, kaaaak. Rapat udah mulai seperempat jam lalu. Sampe-sampe kita jadi perkedel deh gue yakin.”

 

“Lu gila nyuruh gue—“

 

“Kak ayo dong. Kali iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii aja buang gengsinyaaaaa. Kalo Kookie aja bisa lolos mulus, kenapa kita engga? Ayo dunds kakak Sugarkuuu.”

 

“Ga. Lagian gue ga ada no—“

 

“Ucucucucu boong anet ah. Hosiki tau, ada kontak namanya polban di hape kakak kaaaaan?” ucapan itu berakhir dengan ringisan ketika Yoongi melayangkan geplakannya pada muka Hoseok yang pemuda itu balas dengan cemberutan.

 

Polisi yang mau menilang mereka, mengambil alih lagi atensi mereka. “Jadi? Boleh saya minta SIM dan STNK-nya lagi?”

 

“Pak, damai bisa?”

 

“Kamu mau nyogok?”

 

“Yaelah, bapak gelar razia gini mau cari duit juga kan?”

 

“Beraninya kamu—“

 

“Kaaaaaaaaaaak, ayo dong jangan bikin susah. Minta tolong sama pak Jimin aja keeeek. Gue gamau kena marah rektor bhuhuhu. Lagian rektor mana yang rajin ikut rapat ginian sih.”

 

“Hos, lu tau gue sama di—“

 

I knowww. Tapi bukannya ini kesempatan baik buat perbaikin semuanya?”

 

“Lo ga ngerti.”

 

“Plis, kak. Daripada bayar polisi kek gitu, mending duitnya buat makan, kan? Ayo dunds, selagi ada malaikat yang mau nolong.”

 

“Cih.”

 

Yoongi mendecih lalu agak menjauh dari adik tingkat merangkap sahabatnya. Mengeluarkan ponsel pintarnya kemudian mengetik nama—polban di sana. Sesaat Yoongi ragu, haruskah dia melakukan ini?

 

Ah… bukannya dia sudah ditolak? Apalagi alasannya nanti kalau Jimin bertanya? Pasti Jimin juga akan menyangka bahwa Yoongi itu tipe yang suka memanfaatkan orang demi kebaikan dan kesenangan diri sendiri.

 

Duh, mikirinnya aja sakit. Gimana kalau beneran?

 

Yoongi mencak-mencak dalam hati lalu melirik Hoseok yang hanya mengacungkan dua jempolnya ke arah Yoongi, kemudian larut dalam perdebatan pembelaan dengan polisi tadi.

 

Membuang harga dirinya untuk yang kedua kali, Yoongi memencet tombol memanggil pada ID milik Jimin di ponselnya. Menunggu yang di sana menjawab, mengabaikan hatinya yang berdenyut dan bibirnya yang sakit akibat ia gigiti sampai berdarah.

 

.o.o.o.o.

 

Taehyung melirik ponsel Jimin yang terus mengedip, dan dari tempatnya ia bisa melihat ID siapa yang tertera di sana. Ngintip sedikit sih, keliatan juga akhirnya.

 

Sugar?

 

Bukannya itu Yoongi?

 

Taehyung melirik sahabatnya yang sibuk dengan berkas-berkas kasus di muka meja. Lalu menyeletuk menyadarkannya.

 

“Mau ampe kapan lu ngindahin panggilan telpon itu?”

 

“Huhh? Apa?” Jimin saking seriusnya sampai tak benar-benar menangkap kalimat sahabatnya. Untuk menoleh pun dia patah-patah. Dengan kacamata menghiasi wajahnya, Jimin memutuskan membawa matanya berpaling dari barisan aksara di depannya. “Apa?”

 

Taehyung menunjuk ponsel Jimin dengan dagu. “Ponsel lu, ngedip terus daritadi. Coba lu liat siapa yang nelpon.”

 

“Hah? Emang kena—“ sembari mengambil ponselnya yang berkedip lagi, ID yang muncul di sana membuat Jimin langsung diam.

 

Mau apa… Yoongi menelponnya?

 

“Errr…”

 

“Angkat deh, Jim. Bukannya… lo nyesel ninggalin dia kemaren? Dan gausah sok nyimpen rahasia. Gue tau kok, kalo setiap pulang lo pasti bakal lewat depan kost-annya kan? Selesein ini and everything is gonna be alright.”

 

Jimin menghela napas. Taehyung ada benarnya juga. Kenapa dia tidak menyelesaikan ini secepatnya? Maka Jimin pun memutuskan untuk menjawab panggilan itu.

 

“Ya, Yoongi?”

 

.o.o.o.o.

 

[“Ya, Yoongi?”]

 

Duh, diangkat beneran. Gue harus apa, Tuhaaaaan?, Yoongi yang sedari tadi menunggu panggilan dijawab malah bingung harus apa setelahnya. Ia melirik Hoseok lagi, yang sudah memberi kode untuk menyelesaikan ini semua cepat-cepat. Karena itu Yoongi menarik napas perlahan, dan menghembuskannya diiringi kalimat yang meluncur kepada sosok di seberang line.

 

“Pak… Jimin?”

 

[“Ya?”]

 

Could you… please help me for a bit, sir?”

 

Hening sesaat, namun tak lama Jimin menjawabnya. [“Help you with?”]

 

Actually, I’m in hurry right now to go to campus but… on the way… ada polisi yang berentiin saya gitu aja dan well… mau nilang saya. I didn’t see the plate that give info about the… well razia?”

 

Hening lagi. Tetapi Yoongi yakin dia bisa mendengar Jimin tengah berbisik pada seseorang. Yoongi menunggu, dia harap Jimin mau membantunya. Lagipula, jika dia yang sudah buang harga diri begini masih tak mendapatkan bantuan, lain kali ketemu Jimin—Yoongi janji akan menghujaninya dengan makian dan lemparan bola basket berturut-turut.

 

[“And what should I do then?”]

 

Ih, gemes, pikirnya. Dijawab keheningan begitu, yang ternyata muncul jawabannya malah seperti itu. Yoongi menarik napas, berusaha meredakan emosinya yang akhir-akhir ini gampang tersulut.

 

Lalu menjawab. “Can you speak with the police and… save me? Dia bilang kesalahan saya ada di spion, tapi… sebelumnya ga ada masalah soal spion itu, kok.”

 

[“Oke. Kasih telponnya ke polisi itu.”]

 

“Serius?”

 

[“Ya, Yoongi, serius.”]

 

Mendengar itu, Yoongi pun bersingut dan menatap sinis oknum polisi di depannya. “Nih, bapak ngomong sama dia aja. Dia juga pernah berentiin motor ini, tapi ga bilang apa-apa soal spionnya.”

 

Polisi itu mengernyit, namun dengan bodohnya menerima ponsel yang Yoongi sodorkan. Lalu berakhir dengan wajahnya yang tiba-tiba memucah.

 

[“You, there. Sebutkan nama, pangkat dan lokasi kantor kamu kerja. Saya dapat laporan kalau kamu menggelar razia tanpa plang dan surat tugas dari kantor. Jadi, would you please tell me now?”]

 

Sekalipun berwajah pucat mendengar suara penuh intimidasi itu, sang polisi merasa mungkin ini hanya kerabat si pengendara lalu ia membalas ucapan itu. “Siapa Anda berani mengatakan saya tidak punya surat tugas kantor melakukan razia ini?”

 

[“Saya Park Jimin dari divisi dua kepolisian Seoul. Pangkat Sersan dan bekerja bersama Kim Taehyung di bawah arahan langsung dari Kepala Polisi kota Seoul, Kim Namjoon.”]

 

Gulp. Mati lah, kenapa jadi cari gara-gara sama senior gini?, polisi itu membatin. Kemudian melirik Yoongi yang terlihat puas dan Hoseok yang sudah nyengir.

 

“P-pak… m-maafkan saya. B-baik, saya akan membiarkan pengendara i-ini pergi. T-tolong jangan—“

 

[“Gamau ngasih tau dulu nama sama lokasi kantormu?”]

 

“A-ampun pak! Setelah ini saya akan kembali ke kantor dan bertugas kok! Tolong jangan melapor pada Kantor Pusat, pak!”

 

[“Well, memang itu yang harusnya kamu lakuin. Apa jadinya Negara kita kalau polisinya seperti kamu semua? Kembali kerja.”]

 

Yes, sir!”

 

Polisi itu menyerahkan ponsel Yoongi dan menyuruh pergi. Kemudian berlalu bersama temannya menaiki motornya dan bertolak ke arah barat, di mana kantornya berada.

 

Hoseok langsung tertawa keras dan Yoongi menghela napas lega. Tadinya langsung berniat untuk cus ke kampus, namun teringat bahwa telponnya masih tersambung kepada Jimin. Dan Yoongi… harus mengucapkan terima kasih, kan?

 

“Errr—“

 

[“Ya?”]

 

“Saya pikir udah dimatiin… makasih… udah bantuin.”

 

[“Sama-sama.”]

 

Singkat banget. Kalau begini rasanya Yoongi mau bicara ketus saja.

 

“Kalo gitu saya tutup. Siang.”

 

Memangnya cuma Jimin yang bisa irit bicara? Atau ketus? Yoongi juga bisa. Namun sebelum dia menutup panggilannya, suara Jimin menggema lagi dari seberang sana.

 

Membuatnya kembali tergugu. Kenapa sih… Jimin suka sekali menyulitkannya?

 

[“Hati-hati… Yoongi-ya.”]

 

.o.o.o.o.

 

Terhitung seminggu sudah terlewat sejak hari itu. Dan Yoongi, Jin, juga Hoseok disibukkan oleh persiapan festival kampus yang akan digelar esok.

 

Namun untungnya persiapan sudah mencapai 100%. Hanya tinggal berdoa besok akan berjalan dengan lancar. Tetapi kenapa ketua pelaksana kurang kerjaan itu masih meminta Yoongi untuk datang?

 

Yoongi lelah. Ingin tidur dan memikirkan tugas-tugas yang baru tersentuh 60% di mejanya. Namun apa daya, di saat ia punya waktu istirahat pun, ia harus merelakan waktunya untuk berangkat ke kampus.

 

Seokjin sudah hilang entah ke mana. Jungkook dan Hoseok pun begitu. Apalagi Hoseok yang sudah jadian dengan kakak tingkat php. Lah, Yoongi jadi makin sendirian. Kalau begini, kenapa yang dia ingat malah Jimin, sih?

 

Yoongi merutuk dirinya saat pemikiran itu datang. Maka ketika pak KOjek datang menjemputnya untuk mengantarnya ke kampus, Yoongi berusaha mengalihkan segala hal tentang Jimin—dan insiden ia minta tolong itu dari ingatannya.

 

Akan tetapi mungkin Tuhan punya rencana sendiri, KOjekan Yoongi tiba-tiba berhenti. Yoongi mengernyit dan bertanya, si driver bilang mogok sebentar. Yoongi rasanya ingin memaki, namun suara lain menahan kalimat yang ada di ujung lidah membuat ia mengumpati siapapun dalam hati.

 

“Maaf, pak. Kenapa tiba-tiba berhenti?”

 

Yoongi patah-patah menoleh. Dan mampuslah dia, kenapa Jimin ada di siniiiii?

 

“Oh, pak polisi. Maaf, pak. Ini teh motor saya mogok. Saya lagi usaha nyalain lagi, pak.”

 

Jimin juga kaget, karena ternyata itu Yoongi. Lalu ia beralih lagi pada driver KOjeknya. “Silahkan agak minggir ke sini, pak. Bahaya bapak masih agak ke tengah.”

 

“Iya, bapak. Nuhun.”

 

Dan selama motor yang berusaha dinyalakan itu, Yoongi mengisi otaknya dengan apa-apa yang mungkin dia lakukan di kampus, juga kemungkinan apa yang membuat Yujeong tetap memintanya untuk hadir.

 

Sayangnya, suara Jimin benar-benar memecah fokusnya. Kenapa, sih? Kenapa semuanya harus begini?

 

“Mau ke kampus?”

 

“Mau ke KUA, pak.”

 

“Oiya? Mana calonnya? Kok sama KOjek?”

 

“Calonnya udah diseberang langit. Wafat duluan.”

 

Anehnya, Jimin malah tersenyum dijudesi lagi oleh Yoongi. Setidaknya, dia hanya merasa bahwa Yoongi berusaha mencairkan ketegangan yang ada di antara mereka.

 

“Ga coba cari penggantinya? Saya mau, loh.”

 

Yoongi mendelik sinis. Akan tetapi ketahuilah, teman-teman, kalau dia sedang merasa deg-deg-an sekarang.

 

“Pak Jimin, dih, kerjaannya godain anak orang mulu. Ga capek apa? Mending bantuin pak KOjek nyalain motornya.”

 

Jimin tertawa lagi. “Iya, iyaaa. Ternyata kamu ga berubah.”

 

Aneh, bukan? Padahal pertemuan terakhir mereka terbilang tak baik. Namun nyatanya, hanya karena sebuah permintaan tolong dan panggilan telepon membuat keadaan seakan kembali seperti semula.

 

Jimin membantu si driver menyalakan motornya. Dan untungnya berhasil. Ia beralih pada Yoongi lagi yang entah secepat apa sudah nangkring kembali diboncengan motor KOjeknya.

 

“Makasih atuh, bapak. Saya tertolong. Ayo, den. Saya bisa anter aden lagi ke kampus.”

 

“Ya, ya, ya. Cepet pak saya udah tel—“

 

“Tunggu.”

 

Kata bernada perintah itu sontak membuat si driver diam di tempat. Begitu pula Yoongi yang langsung duduk tegak di jok belakang.

 

Dan yang membuat Yoongi makin tergugu adalah tangan Jimin yang meraih wajah berhelm-nya. Kemudian dua ibu jarinya masing-masing mengusap pipi kanan-kiri Yoongi. Disusul ucapan lirih yang begitu lembut.

 

Sorry for what I did back at Daegu, and was leaving you beneath the rain when I actually can bring you over here, with me and Tae. Maaf untuk setiap kalimat yang saya bilang, tapi… semua itu ada alasannya Yoongi. Dan mungkin, suatu saat kamu akan mengerti, bahwa saya… sedikitpun ga pernah berniat buat mainin kamu. I’ve already shown you my love. Tapi kamu yang ngindahin itu…”

 

Usapannya lembut melenakan Yoongi, namun rasa yang Yoongi punya sekarang benar-benar menyakitkan sampai rasanya ia sulit bernapas dengan benar.

 

“…good luck, today. Saya harap, ini bukan pertemuan dan usaha terakhir saya buat dapetin kamu lagi. Eventho you always push me away, saya ga akan ke mana-mana. Maaf karena terlihat maksa dan terdengar egois. But I love you, I’ve always wish what best for you.”

 

Dan sebelum melepas tangkupannya pada pipi Yoongi, dengan suara backsound Taehyung yang memanggilnya, Jimin memberikan kecupan singkat namun penuh rasa cinta yang dia punya pada Yoongi. Kemudian Jimin berbalik untuk menghampiri sahabatnya di mobil dinas mereka.

 

Meninggalkan Yoongi yang tergugu, meninggalkan Yoongi yang tak berkedip. Namun ketika driver KOjek menegurnya, suara menggelegar Yoongi pun menggema. Dan Jimin di sana hanya bisa terkekeh bersama Taehyung, sahabatnya.

 

“PAK JIMIN SIAL—AARRGGHHHHH!”

 

.o.o.o.o.

 

Yoongi jalan menghentak dengan kasar memasuki kawasan universitas tempatnya menuntut ilmu. Dan yang menyebalkan, ketika Yoongi melirik ke sekeliling, sudah ada Hoseok yang duduk mepet-mepet dengan Changmin yang mengunjunginya. Padahal, seharusnya Changmin cari kerja kan? Kenapa malah repot-repot datang ke sini hanya untuk pamer kemesraan? Lain lah, yang pacaran mah.

 

Akan tetapi sedetik kemudian Yoongi mendengus lucu. Entah mengapa rasa kesalnya pada Jimin lambat laun menghilang hanya karena melihat bagaimana kakak tingkatnya itu mengusap penuh sayang poni coklat Hoseok. Dan melihat Hoseok yang tersenyum begitu, membuat Yoongi senang dan menghangat.

 

Tiba-tiba, bola basket bergulir ke arahnya. Menyentuh kakinya yang dibalut trainers hitam-putih lalu disusul teriakan anak kampusnya yang mengajak bermain.

 

“YUK AH KAK SUGAR. MAIN BASKET DUYUUU.”

 

Entah kapan datangnya, Jin dan Jungkook sudah stand by berdiri di sampingnya dan menyatakan diri sebagai anggota tim Yoongi. Sedangkan yang mengajak mereka main, Jinki dengan dua temannya tanpa aba-aba memulai dan sudah akan merebut bola yang ada di tangan namja manis itu.

 

Tidak menyadari, bahwa sejujurnya di saat Yoongi memantulkan bola, teman-teman rektornya dari kepolisisan kembali menginjakkan kaki di sana.

 

Di saat itulah, Jimin memperhatikan bagaimana Yoongi bermain bersama si kulit bundar. Diikuti Taehyung dan juga pak Namjoon yang sesekali tersenyum.

.

.

.

Hari festival kampus…

 

“Nanti bakal ada polisi temen rektor yang bantu kita jaga keamanan, guys. Jangan lupa disambut, ya,” ucap ketua pelaksana dengan seenaknya pada panitia yang lain begitu juga pada Yoongi yang ingin sekali mencongkel matanya.

 

“Lu ngomong ama siapa sih, Jeong?”

 

“Ama semuanya. Sama lu juga kak.”

 

“Suruh Jin aja yang nyambut. Gue males banget.”

 

“Dih. Ketua BEM macem—“

 

“Bacot amat protes mulu. Yujeong-ya, mending lu pastiin semuanya beneran beres. MC-nya gimana.”

 

“Dah. Siap. Ayo kita mulai.”

 

“YOSH!”

 

.o.o.o.o.

 

Hiruk pikuk mahasiswa-mahasiswi ataupun siswa-siswi bertebaran di lapangan Universitas Bangtan yang tengah merayakan festival tahunan kampus. Dari arah mana saja, banyak yang berwara-wiri dan acara di panggung tengah diisi oleh bintang tamu yang lumayan terkenal.

 

Jungkook menonton sejak tadi. Sendirian. Menunggu Taetae-hyungnya datang dan menemaninya. Ga ding, bisa kena semprot dia nanti. Tapi ya, kalau bisa kenapa engga?

 

Bicara soal polisi, Jungkook sudah tahu loh, masalah kakak Sugar kesayangannya. Dan Jungkook harap, pak Jimin akan menyelesaikan semua itu hari ini.

 

Jungkook juga sudah bercerita pada kak Jin dan kak Hosiki, dan mereka juga memiliki keinginan yang sama. Karena mereka tak bisa ikut campur, dilihat dari Yoonginya sendiri yang tertutup begitu. Makanya mereka hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja.

 

Tiba-tiba Jungkook melihat sekelebat helaian coklat di antara lalu lalang manusia. Jungkook yang buta akan Taehyung menganggap bahwa itu memang oknum yang ia tunggu. Dan benar saja, Taehyung muncul di sana dengan Jimin di sampingnya.

 

Jungkook melambai, Taehyung beserta Jimin menghampiri tempat duduk Jungkook. Namja imut itu memasang senyum kelinci.

 

“Siang paaaaak.”

 

“Siang, Kookie. Tidak jalan-jalan menjajah stand?”

 

Jungkook menggeleng. “Nanti aja, hyung. Bareng kak Sugar, kak Hosiki atau kak Jin kalau lagi free~”

 

“Sama hyung gamau?”

 

Hyung kan lagi tugassss. Jangan makan gaji buta gitu dooong.”

 

Taehyung maupun Jimin langsung tertawa. Benar juga sih apa kata Jungkook.

 

“Iya, iyaaa. Mahasiswa sekarang emang pinter ya.”

 

Jungkook hanya mengangguk-angguk. Ketiganya kemudian mengalihkan pandangan ketika sang MC mengatakan bahwa acara memasuki waktu istirahat. Perasaan mereka berdua baru sampai, kenapa sudah istirahat saja?

 

Ya wong salah siapa datengnya kesiangan, pak?

 

Tetapi yang menarik perhatian Jimin bukanlah suara MC itu, namun sesosok mungil yang tengah bersidekap sembari matanya menjelajah ke sekeliling. Tanpa sadar Jimin tersenyum. Hal itu membuat Taehyung di sebelahnya menyenggolnya sehingga Jimin yang tak siap agak mundur ke belakang menyenggol orang yang lewat. Yang parahnya, orang itu pun tak sengaja menjatuhkan sampah pisang yang ia pegang. Alhasil, Jimin melangkah pada kulit itu dan membuatnya terpeleset.

 

Suara gedebuk yang amat nyaring terdengar membuat semua pasang mata melihat ke arah itu. Termasuk Yoongi, yang langsung kaku wajahnya. Namun tak lama ekspresinya berangsur-angsur geli. Demi apa? Apa barusan seorang polisi sedang berusaha mengambil atensi hiruk pikuk massa di sini?

 

Jimin mendelik melihat semua orang menahan tawa, termasuk sahabatnya yang hampir tak bisa menyembunyikan kekehannya. Jungkook di sebelah Taehyung sudah mengumandangan tawanya. Mahasiswa yang tadi makan pisang pun membungkuk berulangkali meminta maaf yang hanya Jimin balas senyuman ‘tak apa’.

 

Pemuda tampan itu bangkit. Lalu menoyor sahabatnya. “Sialan. Niat banget permaluin gue lu, Tae.”

 

“Njir ga sengaja serius, HAHAHA. Gimana sakit ga?”

 

“Jaim, pabo. Tawa lu gede banget sih. Sakit tay. Ngajak berantem banget lu.“

 

Jimin tak tahu saja, semenjak dia bangun dari jatuhnya. Yoongi yang tadi dia perhatikan sudah tak bisa menyembunyikan tawanya. Pemuda manis itu tengah membelakangi mereka dengan kekehan yang kerap kali terdengar walau kecil.

 

Melihat itu, Taehyung yang mengabaikan protesan sahabatnya meminta Jimin melihat ke arah Yoongi.

 

“Tuh liat. Pujaan hati lu malah ngetawain lu, Jim.”

 

Jimin langsung memutar kepala, dan benar saja. Bahu Yoongi yang bergetar jelas sekali bahwa namja manis itu tengah menertawakannya. Diliputi rasa kesal dan gemas, Jimin berjalan ke arah Yoongi mengabaikan keadaan belakang celananya yang kotor, atau tatapan orang-orang yang masih memandanginya lucu.

 

Saat sampai di belakang namja manis itu, tanpa pikir panjang Jimin membalikkan badannya lalu mengait pinggangnya. Kemudian menempatkan kecupan di bibir tipis yang langsung terdiam.

 

“Ap—“

 

“Sudah puas ketawanya, hm?”

 

Yoongi yang tadinya tengah menertawai Jimin habis-habisan dibuat tergugu karena kini dia justru berada dalam lingkupan tangan korban tertawaannya. Yoongi berusaha berontak, walau sebenarnya ekspresi geli masih tersisa di wajahnya.

 

“Pak le—“

 

“Ya? Apa? Maaf saya ga denger.”

 

“Lepasin. Ga malu apa meluk-meluk anak orang di tengah publik gini. Bapak oknum masyarakat lagi… yang barusan permaluin diri sendiri dengan jatoh ga elit gitu.”

 

Jimin meringis mendengar sindiran Yoongi. Namun rasa itu menguap saat melihat bagaimana wajah Yoongi tak bisa menyembunyikan responnya akan perbuatan Jimin.

 

Dan Yoongi tertawa lagi, membuat yang masih memeluknya terpekur tanpa tahu bagaimana caranya bernapas. Jimin terdiam dengan tangan yang masih mengait pinggang Yoongi. Kinerja otaknya serasa disfungsi melihat tawa orang yang ia cintai.

 

“Hahahaha. Bapak harus liat gimana ekspresi bapak saat jatoh tadi. Pfffttt, bapak lagi buat pertunjukan ya?”

 

Melihat dan mendengarnya, Jimin malah tersenyum. Tak peduli semalu apa dia tadi, kalau balasannya begini, Jimin rela jatuh ratusan kali. Hatinya pun menghangat, mendapati Yoongi yang sepertinya sudah melebur bersamaan dengan rasa bahagia yang ia rasakan kala itu. Yoongi terlihat berbeda, namun di satu sisi, dia tetaplah Yoongi yang sama.

 

Tetapi Jimin punya ide lain. Mungkin agak picik. Kalau Yoongi bisa tertawa begini dalam rengkuhannya, boleh Jimin mengartikan bahwa sedikitnya Yoongi sudah dapat menerimanya? Apalagi waktu itu Yoongi meminta tolong padanya. Bolehkah dia berharap lagi?

 

Maka yang dilakukan Jimin berikutnya adalah membawa tangannya untuk mengapit dagu Yoongi, membuat wajah mereka saling berhadapan dengan mata yang saling bersitatap. Kekehan masih terdengar, mungkin Yoongi belum sadar akan keadaan. Karena itu Jimin memutuskan untuk mengecup belah bibir itu lagi. Menghentikan tawa dan kekehan yang bebas menguar, menghasilkan sorakan ‘woohoooo’ dari orang-orang di sekitar mereka.

 

Yoongi yang buta akan keadaan, hanya bisa terbelalak. Beberapa menit mencerna, barulah ia sadar akan sesuatu. Namun suara hatinya yang berlomba memintanya menutup mata, mengalahkan rasa ingin tahunya mengenai benda asing yang menyapa belah bibirnya.

 

Hari itu, di bawah langit yang cerah di lapangan Universitas Bangtan, Yoongi mendisfungsikan seluruh kinerja otaknya hanya untuk terlarut dalam kecupan sosok yang belakangan ini merubahnya.

 

Merasakan manis yang bisa ia kecap, pun tangannya bergerak untuk mencengkeram kerah kemeja Jimin, membiarkan dirinya terlarut. Mengabaikan banyak pertanyaan atau kenyataan yang pernah terlintas dalam benaknya.

 

Hari itu, Min Yoongi menyerah. Menyerah pada hatinya yang lelah untuk berbohong dan berakhir menyakitinya. Bahkan melukai Jimin, sosok yang perlahan membelenggu seluruh rasa dan hatinya yang kini tak bisa lagi ia miliki.

 

Sendirian.

 

Tanpa Jimin.

 

Yang senantiasa menyadarkannya, bahwa ia… Min Yoongi, memang benar jatuh cinta.

.

.

.

Tbc/End?

Yumi’s note :

Gagal hiatus/? Kubozan sama paper yang ga kelar-kelar. Ngetik ini macem coba-coba beruntung, eh beneran dapet satu chapter. Banzai syekali.

 

Btw, TBC or END?

Wuakakakak. Niatannya ini END loh. End aja ya, ya, ya? Yuk ah kita end-in aja /woi.

 

Ini chapter sebenernya udah diketik sejak seminggu setelah chap 8 apdet, dan baru publish sekarang karena kubozan dengan paper and—Jimsnoona plijeu apdet samting. Ini GA-nya syudah kuapdet bhuhuhuhu. Dikau jaad syekali, qaqa php. FTS-nya mana oi. ItaKiss-nya juga mana. Gue minta komisi /ga.

 

Yawda lah. Maapkan segala kekurangan di chapter ini. Setelah ini Yumi beneran ngilang nih, mau belajar buat UAS /ga mungkin.

 

Pokoknya semoga suka. Lav-lav sama kalian semua yang ninggalin review di chapter kemarin /lemparkiss /dibuang.

 

Btw lagi, jangan lupa cuap-cuap ya! Mau marah-marah di kotak review juga tak apa. Kuikhlas /ga.

 

hug and kisses,

Yumi.

 

(maapkan segala typo(s) yang ada. Udah dicek berulang-ulang tapi pasti selalu ada yang miss. Maklum Yumi ga pake kacamata /gaditanya.)

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s