Greatest Accidental ~Chapter 8 {Path}


Greatest Accidental ©Fujimoto Yumi, 2016

Park Jimin X Min Yoongi

Kim Taehyung X Jeon Jungkook

BTS’s member ©God, themselves

Rated T – M. / Romance, Fluffy, Humor, Friendship.

Slash. Yaoi. Boys Love. OOC. Indonesian!AU.

Police!NamVMin. CollegeStudent!JinSugaHopeKook.

Older!NamVMin. Younger!JinSugaHopeKook.

 

Note : DLDR? I gain no profit by publishing this story.

Based on true story. Thanks to ma friends who inspires me with her story😄

This is just for fun. Enjoy and happy reading.

 

Bahasa non-baku. Beware.

 

Summary : Awalnya iseng mikir untuk bisa lolos dari tilangan polisi, namun pemikiran itu justru membawa Yoongi dan Jungkook pada kenyataan bahwa setiap keisengan akan berakhir dengan konsekuensi (yang membahagiakan dalam kasus mereka).

 

.o.o.o.o.

 

Greatest Accidental

Subtitle Chapter 8 : Path

Summary for this chapter :

Karena ketika hati sudah menyerah.

Sekeras apapun kekuatan memberi petuah untuk terus berjuang.

Maka hanya akan ada ketersia-siaan.

Bukan karena mau. Tetapi harus.

Itulah yang membedakan antara hatimu dan hatiku.

Yang pada akhirnya memberi perbedaan, menciptakan batas tak kasat mata yang berakhir menyakiti kita.

 

.o.o.o.o. 

Chapter 8

Path

.o.o.o.o.


Taehyung pikir, sedekat-dekatnya dia dengan Jungkook, dia merasa bahwa ada batas tak kasat mata yang memisahkan mereka. Selengket-lengketnya Jungkook padanya, pasti ada saat di mana Jungkook akan benar-benar jauh.

 

Dan karena itu Taehyung tidak mau memiliki harap berlebih. Bagaimana jika Jungkook tipe php?

 

Ah, Taehyung itu pemuda berusia 25 tahun yang sudah mapan lahir dan batin kan? Masa dibuat galau dan stress begini hanya karena mahasiswa berusia 18 tahun?

 

Maka Taehyung berpikir untuk membiarkan semuanya berjalan layaknya air yang terus mengalir. Menahan perasaannya yang terus membuncah karena dia yakin pasti ada saat di mana semuanya akan berakhir bahagia

.

.

.

Hari itu Taehyung menunggu di mobilnya setelah tadi ia mengatakan pada Jungkook agar menyelesaikan pekerjaannya dulu. Ini sudah hampir minggu ketiga liburan semester Jungkook, dan Taehyung tidak pernah absen untuk mengunjunginya atau mengajaknya jalan-jalan.

 

Taehyung tidak pernah mengatakan bahwa itu adalah kencan. Biarlah Jungkook sendiri yang menganggapnya apa karena Taehyung benar-benar menikmati kebersamaanya bersama anak kelinci imut itu.

 

Bukan kali pertama Taehyung benar-benar menunjukkan afeksinya. Tetapi Jungkook selalu bisa mengacaukan itu semua. Karena itu Taehyung tidak mau memaksa. Mungkin ada saatnya semua yang ada di antara mereka terjawab seiring berjalannya waktu.

 

Maka ketika Jungkook tersenyum lima jari menghampiri mobilnya, Taehyung sudah siap dengan segala sesuatu yang akan membuat senang anak itu. Namun untuk sekali saja, bolehkah Taehyung berharap kini Jungkook yang menentukan tempat jalan-jalan mereka?

 

“Jadiiii kita mau ke mana?”

 

Mollayo, hyung. Kan hyung yang ngajak Kookie jalan-jalan.”

 

Selalu itu. Taehyung berharap Jungkook akan menjawabnya berbeda kali ini. Tetapi… ya tetap saja begitu.

 

Si brunette menghela napas lalu menatap Jungkook yang juga menatapnya. “Gimana kalau Kookie yang gantian nentuin?”

 

“Hmmm…” Taehyung benar-benar merasa gemas akan tingkah Jungkook sekarang. Maka tanpa bisa menahannya, ia pun mencubit kedua pipi Jungkook yang agak gembil membuat sang empu meringis meminta dilepaskan. “Hyung appoooooo~”

 

Taehyung hanya tertawa. Lalu menyalakan mesim mobil untuk kemudian membelah jalanan sore hari bersama Jungkook yang sudah teriak agar Taehyung membawanya ke sana.

.

.

.

Tujuan Jungkook selalu sesederhana yang Taehyung pikir. Tetapi namja berambut coklat itu senang, setidaknya Jungkook selalu ingat kewajibannya soal belajar.

 

Yap, Jungkook menarik Taehyung ke toko buku. Setelah itu akan memintanya menraktir apapun yang Jungkook mau. Tak ada yang bisa Taehyung lakukan kecuali menuruti semua yang namja imut itu pinta. Karena bagaimanapun, melihat senyum Jungkook adalah apa yang selalu Taehyung inginkan.

 

“Taetae-hyung?”

 

“Hmmm?”

 

Hyung bosen ya nemenin Kookie ke toko buku terus?”

 

“Ga kok, kata siapa, hm?” Taehyung dengan kemeja kotak-kotaknya melihat langsung ke wajah Jungkook dan seketika benar-benar gemas akan ekspresi yang dikeluarkan sosok itu. Taehyung membawa kedua tangannya untuk mencubitnya kemudian mengelus kedua pipi Jungkook dengan ibu jarinya, penuh sayang. “Kenapa kamu itu imut banget sih, hm? Hyung gemes banget tau sama Kookie.”

 

Jungkook hanya cengengesan dengan menunjukkan gigi kelincinya yang semakin membuat Taehyung merasa ingin menculiknya dan membawanya pulang. Tapi sayang, dia ingat kalau dirinya itu oknum masyarakat. Yakali dia nyulik anak orang dan berakhir di penjara –yang merupakan tempatnya kerja sehari-hari? Taehyung belum cukup gila untuk melakukan itu, kawans.

 

“Kamu mau beli apa?”

 

“Buku.”

 

“Ya tau, Kookie, buku. Buku apa maksud hyung, gituloh.”

 

“Ya bukuuu~”

 

“Ya buku apaaa? Ih hyung kok makin gemes sama kamu?”

 

“Hehehehe~”

 

“Malah nyengir. Yaudah sana cari bukunya, gih.”

 

“Siap, hyung!”

 

Hyung tunggu di bangku itu, ya?” Taehyung menunjuk bangku tak jauh dari tempat mereka berdiri. Jungkook hanya mengangguk kemudian tanpa sengaja berkedip pada Taehyung yang membuat namja lebih tua itu mengerjap sesaat karena merasa pasokan oksigen tengah mengkhianatinya. “Shit. Barusan tuh anak ngedip, kan? Astaga Taehyung banguuuuuuuuuuuuuuuuunnnnn!”

 

Taehyung menjambak rambutnya lalu berjalan dan mendudukkan dirinya di kursi tunggu. Membiarkan Jungkook menghilang dari rak ke rak mencari entah buku apa dan tak menyadari bahwa ia baru saja membuat Kim Taehyung merasa menjadi orang paling gila hari itu.

 

“Liat aja, Kookie. Hyung langsung lamar baru tau rasa.”

 

Sayangnya tanpa Taehyung tahu, Jungkook mendengarnya dan hanya tersenyum kemudian benar-benar berlalu mencari apa yang ia butuhkan.

.

.

.

Jungkook mendatangi Taehyung dengan beberapa buku di tangannya. Kemudian pamit lagi untuk membayar, namun Taehyung menahannya. Taehyung menawarkan diri untuk membayarkan buku-buku Jungkook dan menyuruh namja kelinci itu duduk tenang di kursi yang barusan ia duduki.

 

“Kookie tunggu sini biar hyung bayar bukunya dulu, oke?”

 

“Tapi kan hyung—“

 

“Kookie tunggu di sini, hm?”

 

Jungkook cemberut tapi mengangguk dan mendudukkan dirinya. Membiarkan Taehyung membawa buku-buku yang ingin ia beli. Padahal Jungkook ingin bayar sendiri, namun apa daya kalau Taehyung ingin membayarkannya?

 

Sembari memperhatikan punggung Taehyung di meja kasir, Jungkook menghela napas lelah. Tuhan, kapan Jungkook bisa memeluk punggung Taehyung semau dan sebebas yang ia mau? Bolehkah dia berkhianat sekarang? Bolehkah?

.

.

.

Kala itu Jimin mengusak kasar rambut basahnya kemudian turun ke lantai bawah, berniat makan karena hari terlampau siang. Ini hari Minggu, tetapi kenapa rasanya rumah sangat sepi? Saat di ruang keluarga, Jimin hanya menemukan appanya yang tengah duduk anteng menonton tv, dan ketika melihat Jimin datang, sang appa langsung meminta Jimin menjaga fotokopian, karena ummanya dan Jisoo sedang pergi ke pasar.

 

Pasrah, Jimin pergi ke dapur untuk mengambil makanan supaya bisa menjaga bisnis keluarganya sambil makan. Dan untungnya makanannya sudah habis ketika bel pintu tokonya berbunyi.

 

“Ah, selamat dat—“

 

Belum sempat Jimin mengucapkannya, pintu itu langsung tertutup kembali begitu saja. Tetapi Jimin yakin ia bisa mengenali siapa yang ingin masuk itu.

 

Yoongi. Ya dia.

 

Jimin hanya menghela napas maklum. Bukankah ini jalan yang dia pilih? Menjauhi Yoongi, adalah jalan yang terbaik pikirnya maupun menurut Yujin, kakak Yoongi.

 

Tetapi yang terjadi selanjutnya membuat Jimin langsung menoleh lagi. Pintu itu kembali terbuka dan Yoongi benar-benar masuk ke dalam, berdiri berhadapan dengan Jimin yang hanya dibatasi etalase berisi alat-alat kantor dan yang lainnya.

 

Jimin ingat prinsip berbisnis. Sekalipun yang kau hadapi adalah musuhmu, dia di sini untuk hal lain. Seperti apa yang Yoongi lakukan waktu itu di café ZhouZhou, maka Jimin tersenyum dan menanyakan keperluan namja berambut caramel di depannya.

 

“Ya? Ada yang bisa dibantu?”

 

“Fotokopi. 20 rangkap.”

 

“Ditunggu, ya.” Sembari mengambil kertas yang disodorkan Yoongi, Jimin berucap kemudian berlalu membelakangi sosok yang kini menatap punggungnya penuh pertimbangan.

 

Haruskah ia minta maaf?

 

Yoongi menghela napas lelah. Kenapa tadi ia malah buru-buru menutup pintu tempat ini saat melihat Jiminlah yang menyambutnya? Mereka hanya perlu saling pura-pura tidak kenal, kan? Kenapa Yoongi harus membuatnya jadi sesulit ini?

 

“Ini, ada lagi?” Jimin memberikan lagi kertas yang tadi Yoongi berikan bersamaan dengan hasil fotokopiannya. Kemudian ia melihat Yoongi menggeleng dan bertanya berapa jumlah uang yang harus ia bayar.

 

Sesudah Jimin menghitung dan menyebutkannya, berucap terima kasih dengan pelan, Yoongi berlalu dari tempat itu tanpa mengindahkan hatinya yang terus berteriak untuk meminta maaf.

 

Sesungguhnya, mungkin itu yang Yoongi dengar. Tetapi mungkin juga itu hanya perasaannya.

 

Jimin yang ditinggalkan hanya tersenyum lagi. Sampai membuat appanya yang kebetulan melihat mereka menggeleng lalu menepuk kepala putra sulungnya. “Jangan senyum terus nanti mulutmu robek, Jim.”

 

Dan Jimin membalasnya dengan tertawa. Namun langsung diam saat sang appa menambahkan. “Kalau cinta itu, sekalipun disuruh pergi ya toh jangan pergi. Namanya cinta ya berjuang. Umur 25 kalo digituin aja nyerah gimana mau seriusin dia?”

 

Nyelekit. Jimin langsung menoleh ke appanya yang langsung pergi begitu saja. Sepeninggal namja paruh baya itu, Jimin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedikit membenarkan perkataan ayahnya, namun banyak menyalahkan setiap frasa yang ada di dalamnya.

 

Kalau saja ayahnya tahu bagaimana Yoongi. Akankah dia menjadi Jimin atau terus berjuang mendapatkannya? Entahlah.

 

Jimin hanya butuh waktu, pikirnya. Dan semuanya akan indah jika memang mereka berjodoh. Benar kan?

 

Tak lama, suara sang appa kembali terdengar. “Jangan ngimpi terus. Wujud-in dong, Jim. Ngimpi dia jadi jodohmu, kalo ga dicoba diraih ya kapan nyatanya?”

 

Appa diem aja napa. Udah sana nonton tipi lagi.”

 

“Cuma saran.”

 

“Iya tau.”

 

“Semangat ya anak appa.”

 

“Makasih appa.”

 

“Jangan lupa cucu kalo udah jadian.”

 

“YAKALI LANGSUNG CUCU.”

 

“Anak jaman sekarang kan gitu. Ngasih cucu dulu baru minta ngadain resepsi.”

 

“Jangan samain Jimin sama mereka, appa. Yaampun ama anak sendiri gitu amat.”

 

Appa kebelet pengen punya cucu.”

 

“Bodo. Minta aja sana sama umma.”

 

Ummamu udah gamau punya anak lagi, Jim.”

 

“Yaiyalah, appa. Ngaca dulu lagian umur segini masih mau anak bayi.”

 

“EH MULUTNYA YA!”

 

“ASTAGA KHILAF! Maafin Jimin ya, appa.”

 

“Untung anak, coba bukan. Udah sana jaga lagi.”

 

“Iyaaaa.”

 

Tetapi, mau umur hampir kepala tiga atau bukan, bagi Mr. Park dan istrinya, Jimin adalah anak pertama –imut- mereka yang selalu asyik untuk digoda. Membuat Jimin marah atau berteriak, itu jadi suatu kesenangan sendiri bagi mereka.

 

Jimin juga kadang lupa kalau dia sudah dewasa. Untungnya di saat itu terjadi, Jisoo menyadarkan dia. Namun karena percakapan barusan, sedikitnya membuat Jimin merasa lebih baik.

 

Berjuang, ya? Mungkin nanti… jika Yoongi memberi kode lampu hijau untuknya berjuang lagi. Dan membiarkan Jimin menghancurkan batas tak kasat mata yang sejujurnya sangat terlihat saat mereka saling berhadapan tadi. Membuat hatinya serasa nyeri, tetapi Jimin tak bisa melakukan apa-apa kecuali melihatnya dalam sunyi dan pedih yang ia ciptakan sendiri.

 

Cuaca yang mendung kala itu menemani Jimin memaki dirinya yang begitu payah. Membiarkan sosok yang ia puja berlalu begitu saja tanpa berusaha untuk menahannya lebih lama. Atau membuat hadirnya kesempatan supaya dinding di antara mereka hancur lebur tak tersisa.

 

Tetapi Jimin sedang menyerah sekarang, dan menunggu datangnya waktu untuk dia bangkit kembali. Hanya itulah yang bisa ia yakini, di saat hatinya terus memintanya untuk kembali menggapai apa yang tadi bisa di raih namun Jimin terlalu takut.

 

Karena pada dasarnya… dia hanyalah seorang pengecut… bukan begitu?

.

.

.

Hari itu Taehyung meliburkan diri, karena semua laporan yang harus dia berikan pada pak Namjoon sudah sepenuhnya ia sampaikan. Dan sepertinya atasannya itu sedang dalam mood senang? Apa kemarin Taehyung melihat sosok yang mirip teman Jungkook sedang bersama atasannya? Ah, entahlah. Itu bukan hal yang penting karena sekarang Taehyung tengah bersiap. Pemuda itu menyisir rambut coklatnya sambil berkaca, kemudian melirik sekilas ponselnya berharap ada balasan dari Jungkook.

 

Karena hari itu Taehyung mengajak Jungkook untuk pergi lagi. Ke mana? Kebetulan orangtua Taehyung yang penasaran acapkali mereka menelpon dan Taehyung selalu memasang tawa, bertanya-tanya adakah sosok yang kini tengah membuat putra mereka berbunga-bunga.

 

Ya, kalau boleh… Taehyung ingin membawa Jungkook mengenal orangtuanya. Mungkin memang bukan dikenalkan sebagai pacar, karena itu masih terlalu cepat. Setidaknya, mereka saling mengenal. Dan hal itu memacu Taehyung untuk berpikir… bisakah ia juga mengenal orangtua Jungkook?

 

Setelah beberapa puluh menit tak mendapatkan jawaban, Taehyung berinisiatif menghampiri Jungkook di tempat kerja sambilannya. Berharap si namja kelinci ada di sana, dan mau untuk dikenalkan ke orangtuanya. Semoga saja.

.

.

.

Musim semi yang perlahan mengayun menerbangkan helaian hitam milik Jungkook ketika ia pergi keluar toko untuk buang sampah. Ia kemudian berkacak pinggang saat angin benar-benar menyapa wajahnya. Kepalanya mendongak ke atas dan melihat angkasa biru yang menyebar ruak di atas sana.

 

Sampai ketika seseorang menepuk bahunya, Jungkook menoleh hanya untuk berteriak senyaring yang dia bisa.

 

UMMAAAAA?”

 

Tetapi Jungkook masih pada posisinya. Ia masih meloading tentang sosok yang berdiri di depannya sambil tersenyum.

 

Lambat laun sadar bahwa ia sudah menyapa wanita cantik itu, dan selanjutnya Jungkook membawa tubuhnya untuk memeluk sosok yang sangat ia rindukan.

 

Ummaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~ kangeeeennnnn~”

 

Dan daun di ranting pohon musim semi ikut mengayun, menemani reuni itu dengan senyuman yang bertengger di masing-masing sudut bibir sepasang ibu-anak yang saling merindukan.

 

Untung saja toko tidak begitu ramai. Karena itu Jungkook bisa berjaga sambil bermanja-manja pada ibunya. Sekalipun Jungkook sudah meminta sosok itu menunggu di kost-an, Mrs. Jeon tetap keukeuh untuk menemani anaknya di toko itu.

 

Umma tunggu di kost-an ajaaaa. Kan ada kak Jin di sanaaa~”

 

“Yoongi dan Hoseok juga satu lingkungan kost sama Kookie, kan?”

 

Jungkook mengangguk sambil mengusel pada ummanya. “Iyaaa, tapi kak Sugar lagi pulang ke Daegu~ kak Hosiki kerja sambilan juga ummaaa~”

 

“Tuh, Yoongi aja inget pulang ke Daegu, kenapa anak umma yang satu ini engga?”

 

Jungkook cemberut membalasnya. “Kookie kan lagi kerja, wek.”

 

Mrs. Jeon dibuat terkekeh akan tingkah putranya ini. Sekalipun sudah jalan 19, tetap saja menggemaskan. “Arrayo~ umma mengerti~”

 

Dan di saat keduanya terkekeh itulah, pintu toserba terbuka. Menampilkan kepala coklat yang membuat Jungkook terpekur lucu dengan mulut bulatnya setelah menyebut nama si sosok yang baru saja masuk. “Taetae-hyung?”

.

.

.

Yoongi melangkahkan kakinya super malas di halaman rumahnya di Daegu. Setelah diseret secara paksa oleh abangnya yang tidak berperikesaudaraan itu, ia tak punya pilihan selain ikut pulang ke Daegu untuk bertemu umma dan appanya (yang katanya merindukannya).

 

Mulutnya sedari tadi mengeluarkan sumpah-serapah untuk Yujin yang hanya cuek seolah tuli akan mulut pedas adiknya.

 

Tetapi sepertinya dia jengah juga. Maka Yujin menyeletuk membalas adiknya. “Diem, oi, bacot amat, berisik. Itu mulut apa sambel? Pedes amat ama abang sendiri.”

 

“Bodo.”

 

“Lu ga kangen umma appa?”

 

“Kangen. Tapi lu ga perlu narik gue ke sini macem bawa paksa pelaku kejahatan ke penjara.”

 

“Cie.”

 

“Apaan cie.”

 

“Kok mengacu pada polisi-polisi gitu, ya? Pernah ada oknum polisi yang pdkt-in lu y—ADUH! ANJIR SAKIT!” kalimat Yujin berubah ringisan sakit saat Yoongi membuka sepatunya lalu dengan seenaknya melempar barang itu ke muka abangnya. “Syalan. Punya adek kayak apaan tau. Udah galak, judes, sadis lagi. Untung ada yang su—“

 

“HAH HAH HAH?! APA COBA GUE GA DENGER?!”

 

“Anjir dia ngamuk. Kaburrrrrrrrrrrr.” Yujin bergegas masuk ke dalam rumah menghindari amukan adiknya yang sudah keluar tanduk. Yoongi itu, bagi Yujin mudah sekali dibaca. Moodnya yang makin jelek selama liburan membuktikan bahwa ada yang berubah darinya.

 

Apalagi Zhoumi bilang, semenjak Yoongi melihat sosok polisi yang selama ini mengejarnya datang bersama cewek ke cafenya, mood Yoongi makin hancur. Bukan lagi Yujin, teman-temannya atau Zhoumi yang kena imbas, tapi rekan-rekan kerja di café itu pun juga.

 

Dan sebelum benar-benar kabur menghilang ke kamar, Yujin bisa mendengar adiknya mengumpat padanya. “Bang Yujin jomblo ga laku kurang kerjaan. Awas aja lu awas. Dasar jones.”

 

Dia suka ga ngaca, adek gue cakep-cakep otaknya miring ih miris, Yujin membatin meninggalkan ruang keluarga di mana ummanya sudah siap menenggelamkan sang adik dalam pelukan mautnya.

 

UMMAAAA~ YOONGI PUNYA GEBETAN TUH DI SEOUL. UDAH MAPAN LAGI!”

 

“BANG YUJIN SINI LU TURUN. GUE ULEK BARU TAU RASA.”’

.

.

.

Taehyung duduk tegak di depan sepasang ibu dan anak yang masing-masing menatapnya, dengan pandangan yang berbeda. Kalau Jungkook menatapnya sambil senyam-senyum, lain lagi ibunda Jungkook yang menatapnya seolah menilai Taehyung dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rasa-rasanya, ini seperti konsep ‘first meeting’ di rumah calon mempelai atau semacam acara lamaran secara tidak sengaja.

 

Demi semua senyum imut milik Jungkook, Taehyung gugup, man!

 

Tolong Taehyung Tuhaaaan?!

 

“Nak Taehyung?”

 

“Eh, ya? Maaf? Ah… errr—aish maaf…”

 

Taehyung gugup kan? Iya, jadi wajar saja kalau kosakata miliknya lenyap semua. Untungnya ibu Jungkook hanya terkekeh di mana Jungkook sendiri sudah nyengir lebar melihat betapa nervousnya Taehyung di depan mereka.

 

“Santai aja. Kenapa jadi gugup begitu, sih?”

 

“Ya… emm maaf, saya cuma ga nyangka akan ketemu ahjuma semendadak ini.”

 

Kepedean ga sih, Tae? Seolah-olah mau bilang kalau pertemuan ini udah direncanain, mau sekalian ngelamar Jungkook gitu?, batin Taehyung sendiri ngelantur.

 

Tetapi senyuman yang masih bertahan di bibir Mrs. Jeon di depannya, sedikitnya meringankan beban di pundak Taehyung, yang kali saja bertekad untuk menjauhkan anaknya darinya.

 

“Kalian udah kenal sejak kapan?”

 

“Errr… awal semester perkuliahan Jungkook?”

 

“Taehyung kerja?”

 

“Ah, ne, ahjuma. Saya udah kerja… well… di kepolisian.”

 

“EH? JINJJA? Taehyungie polisi?”

 

Kaget. Awalnya begitu karena tiba-tiba Mrs. Jeon teriak, tapi untung Taehyung bisa tetap memasang muka gantengnya. “Iya, ahjuma. Saya bekerja di kepolisian.”

 

“Wah, keren yaah. Kookie bilang dia mau jadi polisi dewasa nanti. Entah dewasa kapan maksud dia. Sedangkan kuliahnya dia malah ambil bahasa gini, kkkk. Kookie itu emang ga bisa ditebak. Tapi kalau nak Taehyung bersedia, yah… tolong ajari Jungkook sedikit demi sedikit tentang polisi-polisi gitu.”

 

Yang dibicarakan sudah cemberut di tempatnya. Taehyung hanya tersenyum dan mengangguk. Ia melirik Jungkook yang sudah merajuk meminta sang umma berhenti membahas itu.

 

Umma ga asik.”

 

“Kenapa? Seengganya kalau ga jadi polisi, Kookie nikah aja sama polisi kan kebagian jadi pasangannya polisi.”

 

“Apa sih umma ga nyambung wuuu.”

 

Dan Mrs. Jeon hanya tertawa lalu mengelus kepala anaknya. Wanita itu pun kembali larut dalam obrolan bersama Taehyung yang sepertinya lupa untuk mengajak Jungkook bertemu orangtuanya.

 

Biar sajalah. Bukankah begini lebih baik?

.

.

.

Jimin duduk di teras rumahnya setelah memesan pada Jisoo untuk membawakannya es teh. Polisi muda itu bersandar pada bangku santai yang ada di halaman belakang rumahnya, sembari menunggu kedatangan Taehyung yang katanya mau main ke sini.

 

Mau apa Jimin juga tidak tahu, tetapi namja bersurai coklat itu sudah terlalu sering ke sini. Bahkan sampai ummanya menganggap Taehyung seperti anak sendiri, dan akan mengingatkan Taehyung untuk terus datang lagi.

 

Tak lama pemikiran tentang sahabatnya berganti lagi ke sosok Yoongi. Sejak hari itu, Jimin tak pernah melihatnya lagi. Di café yang waktu itu Jimin datangi pun, Yoongi tidak ada. Saat Jimin sengaja pulang kantor melewati kost-an tante Yoona pun tak sedikitpun adanya eksistensi Yoongi. Ke mana dia?

 

“Sejak kapan rambut lu jadi item, Jim?”

 

“Udah lama. Makanya jangan mikirin Jungkook mulu.” Jimin membiarkan Taehyung ikut duduk bersandar di bangku santai sebelahnya. Tanpa melirik sahabatnya, Jimin tahu Taehyung tengah melempar tanya ke arahnya. “Apa?”

 

“Lu… sebenarnya udah nyerah beneran?”

 

“Kok lu tau?”

 

“Yaelah. Masih aja kaku sama gue, Jim? Serius. Waktu itu di café ZhouZhou itu si Yoongi, kan?”

 

“Yaps.”

 

“Dan lo biasa aja? Malah dengan santainya ngobrol sama Haeryoung. Ga ngerasa ada yang berusaha mecahin pala atau nyakar muka orang?”

 

Jimin tertawa. Siapa yang Taehyung bicarakan? Yoongi?

 

“Gue sih ngerasanya yah, waktu nyusulin lu ke café waktu itu, si Yoongi cemburu deh.”

 

“Ga mungkin.”

 

“Ga ada yang ga mungkin, kawans. Lo pikir, kalo dia ga cemburu, ngapain dia keliatan badmood gitu. Eh, bentar, dia emang selalu keliatan badmood.”

 

“Terus?”

 

“Lo bilang, waktu itu abangnya Yoongi bantuin lo? Ngasih saran apa dia?”

 

“Hmmm…” Jimin berusaha mengingat-ingat apa yang dipetuahkan Yujin, abangnya Yoongi padanya. Yang justru Jimin merasa itu malah makin menjauhkan Jimin dari sosok mungil itu. “Dia bilang Yoongi orang yang selalu dapetin apa yang dia mau. Dia nyaranin gue buat iyain kemauan Yoongi dan ikutin permainan dia. Tapi kok ya… nyesek, bruh.”

 

Taehyung balas tertawa –lebih ke arah mendengus sih. Merasa lucu pada pemikiran sahabatnya ini. “Lo tuh ya. Cepet banget nyerahnya.”

 

“Mungkin nyerah sekarang, Tae. Tapi gue cuma lagi usaha untuk ngumpulin lagi kekuatan buat bangkit.”

 

“Alah basi. Lo ngomong gini ujung-ujungnya juga nyerah beneran.”

 

“Byuntae syalan. Gue serius. Yang ini… gue ga bisa ngelepasin gitu aja.”

 

“Ya berjuang lah.”

 

“Iya gue tau. Btw lu sama Jungkook gimana?”

 

“Gimana apanya? Lo tau? Sedeket apapun gue sama dia, gue ngerasa kami punya jarak. Gatau sih ya. Rasanya gitu aja.”

 

“Lo ga coba tembak, Tae?”

 

“Gue malah pengen ngajak dia ketemu bokap-nyokap gue, Jim. Eh malah gue yang ketemu ummanya.”

 

“NJIR SERIUS?”

 

“Yap.” Taehyung meminum isi kaleng yang entah sejak kapan ada di sana. Lalu melirik Jimin yang masih menatapnya. “Kalo ditanya pengen atau ga nembak si Jungkook, ya mau banget lah. Tapi tiga kakaknya itu, loh.”

 

Jimin balas mendengus mendengar itu. “Kalo lo sayang dan tulus sama Jungkook, gue yakin mereka ngerti.”

 

Taehyung mengangguk, mengiyakan. “Sekarang. Tinggal elo, Jim. Mau maju atau stuck di sini?”

 

I dunno either. Just let it flow.”

 

“Pala lo tuh. Tentuin lah. Gue siap bantu.”

 

“Gue gatau harus makasih atau noyor pala lu, Tae.”

 

“Syalan. Mati aja lu ngejomblo.”

 

“Ngaca pak. Situ juga jomblo. Btw pak Namjoon sama temennya Yoongi ya? Si Seokjin-Seokjin itu?”

 

“ITU BENERAN TEMENNYA JUNGKOOK-YOONGI?”

 

“Iya sih kayaknya.”

 

“YHA ANJIR TERNYATA MATA GUE MASIH SEHAT.”

 

“GA USAH TERIAK KIMTAE SYALAN. BERISIK.”

 

“Pengen minta naik jabatan, Jim. Kan lumayan. Ngasih selamet ke pak bos dan pasangannya itu.”

 

“Fak. Boleh juga ide lu.”

 

Sayangnya, itu hanya harapan mereka. Mana ada naik jabatan hanya karena memberi selamat pada atasan untuk hubungannya dengan pasangan? Mungkin terkadang mereka butuh minum, sesuatu yang menjernihkan kinerja otak mereka yang kian galau karena dua mahasiswa bernama Jeon Jungkook dan Min Yoongi yang tak pernah menotis mereka.

.

.

.

Keesokan harinya setelah semalaman Taehyung ada di rumah Jimin dan pulang tengah malam, namja brunette itu mengusak kasar rambutnya mendapati kursi di samping meja kerjanya kosong. Di mana Jimin dan kenapa jam segini belum datang juga? Apa sahabatnya itu masih galauin sosok mahasiswa denial bernama Min Yoongi itu?

 

Taehyung akhirnya memutuskan untuk mendudukkan dirinya di kursi kerjanya lalu mulai menghubungi sang sobat. Baru saja tadi Taehyung sampai, pak Namjoon sudah memanggil mereka dan meminta mereka untuk ikut menangani kasus bersama rekan dari divisi lain di daerah Daegu, kampung halaman Taehyung.

 

Maka dari itu, Taehyung benar-benar berharap bisa menemukan Jimin secepat yang dia bisa.

 

“Selamat pag—ADUH JANGAN ASAL NARIK DONG WOI!”

 

Maka saat Jimin ingin menyapa rekan-rekan kantornya, Taehyung sudah menariknya begitu saja keluar dari ruangan mereka dan berlalu menuju lobby.

 

“Apaan sih, woi, KimTae byuntae sialan. Jangan asal narik orang kayak mau ngajakin kawin lari woi.”

 

“Bacot lu, Jim. Ikut aja kenapa si.”

 

“Ya ada apaan, pabo? Jangan asal narik tapi ga ngasih tau apa-apa.”

 

“Kita dapat kasus. Di Daegu.”

 

“HAH?”

.

.

.

Jungkook mengendarai motornya dengan santai. Di belakangnya sang umma selalu menasihati Jungkook untuk menaati peraturan lalu lintas. Tetapi yang namanya sial, mau selengkap dan sepatuh apapun kalau oknum itu punya niat lain dibalik tergelarnya razia, Jungkook bisa apa?

 

Namja imut itu misuh-misuh dalam hati. Kenapa sih, ada polisi yang begini kurang kerjaan? (minus Taehyung karena polgan itu selalu meloloskan Jungkook). Jungkook dan ummanya pakai helm, loh. Lampu motor nyala, loh. Spion masih bagus, loh. Helm mereka SNI lagi. Kok dipinggirin begini? Jungkook pun bertanya-tanya, dan tanpa takut ia pun mengutarakannya.

 

“Salah Kookie apa pak?” Jungkook bertanya polos sambil cemberut. Ibunya juga menanyakan hal yang sama namun sepertinya polisi itu pintar sekali berdalih.

 

“Lampu motor Anda mati. Jadi saya berhentikan.”

 

“Mana mati, bapak? Orang nyala kok. Tanya aja umma Kookie~”

 

“Iya nyala kok, pak. Bapak jangan asal nilang gitu dong. Anak saya ga mungkin ngelanggar peraturan lalu lintas.”

 

“Ibu tidak percaya dan menuduh saya bohong?”

 

“Tapi bapak emang bohong kan? Bapak lagi cari duit kan? Gaji bapak kurang emangnya?”

 

“Bisa-bisanya ibu bicara begitu. Saya ini oknum polisi bu. Saya bisa menuntut ibu atas pencemaran nama baik!”

 

Ibunya dan si polisi malah bertengkar. Jungkook makin merengut dan bergegas mundur sebentar untuk menelpon seseorang. Jungkook ingat kok, ada seseorang yang bilang padanya jika dia ada di posisinya sekarang, hubungi saja sosok itu dan Jungkook akan lolos dan bernapas bebas.

 

Maka… Jungkook memutuskan untuk menelpon Taehyung meminta bantuan.

.

.

.

Dalam perjalanan ke Daegu, Taehyung menjelaskan setiap detail kasus yang ia terima dari pak Namjoon kepada Jimin. Jimin hanya sesekali merespon, karena pada dasarnya memang Taehyung yang mengetahui rincinya.

 

Cuaca hari itu cerah. Dan sesekali mereka mengobrol tentang hal lain. Misalnya kenapa Jimin terlambat dan apakah dia masih galauin mahasiswa bernama Yoongi itu?

 

Untungnya sebelum Taehyung semakin mengolok-olok Jimin yang cukup lelah mendengar ocehan sahabatnya, ponsel Taehyung berbunyi. Dan dahinya mengernyit walau raut senang sangat kentara muncul di sana.

 

“Ya, Kookie?”

 

Tjih. Ternyata Jungkook. Kenapa Yoongi juga tidak menelponnya?, batin Jimin merana. Yang kemudian langsung tersadar bahwa itu amat sangatlah tidak mungkin terjadi.

.

.

.

Senyum lima jari Jungkook makin melebar kala Taehyung mengangkat telponnya. Ia melirik sang umma dan si oknum polisi yang masih cekcok mulut. Kemudian menyuarakan maksudnya pada polisi ganteng di sebrang line.

 

“Taetae-hyuuuuuuung tolongin Kookieeee~”

 

[“Iya, Kookie, minta tolong apa, hm?”]

 

“Kookie kan lagi ditilang ya, hyung. Padahal kan, Kookie lengkap, lampu motor Kookie nyala, spion bagus, knalpot pun bagus. Masa pak polisinya bilang kalau lampu motor Kookie tadi mati. Kookie kan ga pernah boong kan, hyung, kan?”

 

[“Hmmm lalu? Kookie mau hyung ngapain?”]

 

Ish~ hyung bicara sama tuh polisinyaaaaaaaaaa! Lagian razianya ga ada palang-palangnya gitu hyung, itu beneran suruhan kantor, yah?”

 

Hening meraja dan Jungkook masih menanti jawaban Taehyung di sana. Sampai akhirnya ia mendengar suara rem yang ditarik dan suara seatbelt yang dibuka. Sepertinya, Taehyung sedang ada dalam perjalanan ke suatu tempat.

 

[“Berikan telponnya pada polisi itu, Kook.”]

 

Neeeeeee~”

 

Jungkook kemudian mendekati umma dan si polisi, lalu sambil masih cemberut menyodorkan ponselnya yang terhubung dengan Taehyung.

 

“Ya?”

 

“Nih, bapak ngomong sama orang ini aja. Dibilang Kookie tuh ga mungkin lupa nyalain lampu motorrrr~”

 

Si polisi mengernyit, namun menerima telpon genggam yang Jungkook kasih. Dalam hati berpikir, pasti akal-akalan supaya lolos. Tetapi nyatanya sapaan berikutnya dari orang di sebrang sana membuatnya tergugu tanpa tahu bagaimana harus berpijak lagi.

 

[“Sebutkan nama, pangkat dan lokasi kantor kamu bertugas. Saya Kim Taehyung dari divisi dua menjabat sebagai kaki tangan Kepala Polisi Kim Namjoon, pangkat Sersan, berpartner bersama Park Jimin dan kalau Anda menggelar razia tanpa surat perintah kantor. Tell me. Who. You. Are. Now.”]

 

Mampus, batin si polisi. Kenapa dia jadi berurusan sama senior begini?

 

Patah-patah ia menoleh ke arah Jungkook yang masih pasang tampang ‘apa-Kookie-bilang’ kemudian kembali fokus lagi pada ponsel di telinganya.

 

“A-anu, pak—“

 

[“Nama. Pangkat. Kantor. Well, kalau tidak—“]

 

“B-baik saya akan membiarkan anak ini p-pergi dan mengakhiri ini, pak.”

 

[“Gamau ngasih tau dulu siapa nama dan apa pangkatmu?”]

 

“M-maafkan saya, pak! Tolong jangan melapor pada Kepala Polisi Pusat.”

 

[“Bagus. Let him go. Kalau semua polisi kayak kamu, hancur Negara ini.”]

 

“S-siap sir!”

 

Dan polisi itu memberikan lagi ponsel Jungkook pada pemiliknya, dan memintanya pergi dari sana.

 

Jungkook tersenyum senang. Emang enak! Main-main sih sama Kookie!

 

“Taetae-hyung thankchuuu~ hyung lagi di mana?”

 

[“Sama-sama, Kookie. Hyung di jalan, ada kasus di Daegu. Kamu hati-hati pulangnya.”]

 

“Oooh di Daegu? Kampung halamannya kak Sugar dong~~ yaudah hati-hati dan sukses ya hyuuuung~”

 

[“Sugar? Yoongi maksud kamu?”]

 

Neeee~”

 

[“Ah, arraseo. Hyung tutup, ya?”]

 

Yesseu sir!”

 

[“Sampai ketemu lagi, Kookie.”]

 

Aye aye captain!”

 

Saat sambungan terputus, Jungkook tersenyum ke arah ummanya yang kemudian menepuk kepalanya sayang. “Hmmm, pinter juga Kookie minta bantuan Taehyungie?”

 

Dan Jungkook hanya tertawa, lalu mereka bertolak lagi ke tempat tujuan yang seharusnya.

.

.

.

Yoongi lagi misuh-misuh di sofa ruang keluarga sambil selonjor kaki dan nonton tivi. Fokusnya mah, ada pada ponselnya. Grup whatsapp yang hanya berisi dia, Jin, Hosiki dan Jungkook berasa rame akibat spam ga jelas dari makhluk muka kuda macam Hoseok. Yang apa saja bisa ia bicarakan di sana.

 

Apalagi topik utama selalu jatuh perihal kejombloan penghuni grupnya (yang cuma 4 orang itu).

 

senpainotisme merubah subjek menjadi “Geng Gesrek”

 

sugarfree                     : Kapan hidup gue tenang, Tuhan? Kalau tiap hari Hosmblo nyampah mulu di grup ini?

bundajin                     : Tobat gue ya Tuhan. Hoseok lagi mode gila apa stress tanpa akhir yalord.

senpainotisme             : IH KALIAN MAH JAAD MA AKYU

sugarfree                     : Alay lu

goldenmaknae            : Kak Hosiki lagi seneng kenapa siiiiiiiiiiiieh?

senpainotisme             : TAU GA SIEEHHHH

sugarfree                     : Buru cerita curut Gwangju

bundajin                     : Eh Sugar, maren gue liat mobil si polban lewat kost-an

sugarfree                     : Bodo.

bundajin                     : Seriusan bodo nih?

sugarfree                     : Jin iprit mending lo bilang sama gue permintaan terakhir lu sebelum mati apaan.

bundajin                     : Yeu galak kan.

senpainotisme             : Mau denger cerita Hosiki ga sieh?

goldenmaknae            : Kookie mau denger kooook~ tapi kak Suga ma kak Jin ndak tauuu

sugarfree                     : Makanya jan nyebut tuh orang mulu. Bosen.

bundajin                     : Yakin bosen?

sugarfree                     : JIN SINI LU ELAH. EMOSI LAMA-LAMA

bundajin                     : IH CAPSLOCK LU GANGGU AJA SIEH! HAPE BARU YAAA

sugarfree                     : TAY GUE KEZEL! PEN JAMBAK MUKA LU TAU GA

bundajin                     : Sian deh kita jauuuuuh

 

senpainotisme merubah subjek menjadi “Sugalak vs Jiniprit”

 

sugarfree                     : JUNG HOSEOK LU MAU MATI JUGA HAH

 

goldenmaknae merubah subjek menjadi “Kak Sugar lagi PMS”

 

sugarfree                     : INI ANAK CURUT ATU IKUT-IKUTAN ELAH KEZEL

bundajin                     : Lu marah-marah mulu si. Beneran pms apa?

 

bundajin merubah subjek menjadi “Awas Suga Galak!”

 

sugarfree                     : AARRGGHHH GUE FRUSTASI KAMVREETTTTT

 

“….iya umma. Dia polisi gitu. Ganteng lagi. Sayangnya anak bungsu umma sok denial nolak padahal suka juga.”

 

“Mereka udah pacaran?”

 

“Belom sih kayaknya. Waktu itu yah, Yujin kan ngobrol sama dia. Beeeuuuhhh tuh anak boyfriend material banget. Husband material juga malah. Omongannya ummaaaaa mengutamakan kebahagiaan anak bungsu umma banget. Sayang, Yoongi malah nyuruh dia sok pergi gitu eh malah galau pas liat itu polisi gandeng cewek ke cafenya si Jomi.”

 

“Ngomongin gue bang?”

 

“Hah? Ga. Ngapain kerajinan ngomongin elu, ya.”

 

“Lu pikir gue ga denger? Kok bisa gue sodaraan sama lu yang kerajinan banget ikut campur urusan gue?”

 

“Gue peduli.”

 

Yujin melihat adiknya yang lagi-lagi sudah mengeluarkan tanduk. Dan kalau dilihat dari sisi manapun, mood Yoongi memang sudah jelek dari awal.

 

Mood lu najisin. Cepet banget badmood sih lu.”

 

Well. Jadi, apa itu urusan lu tentang gue yang nyuruh itu polisi pergi dan sekarang lu sok peduli mau bantu dia? Buat apa? Lu pikir gue peduli? Ga. Jangan maksa gue untuk suka akan sesuatu yang ga gue suka.”

 

Denial aja terus, Yoon. Lu suka polisi itu. Kalo ga, ga mungkin lu berubah gini.”

 

“Berubah apanya? Apanya yang berubah dari gue, bang? Gue diem ya waktu lu nyeret-nyeret gue buat kerja di café bang Jomi. Gue diem saat lu nyeret gue ke sini. Sekarang gue ga bisa diem di saat lo sok-sok-an ikut campur masalah gue. Gue udah gede. Sampai kapan lu mau perlakuin gue kayak anak kecil?!”

 

Urat kesal Yoongi kentara terlihat. Ummanya yang melihat itu bersingut mendekati Yoongi namun terhenti saat si rambut caramel mengangkat tangannya, mengisyaratkan ummanya untuk tak menghampirinya.

 

For God’s sake. I’m already twenty one. Stop treating me like I’m fcking five years old! Goddammit! KENAPA LO SUKA BANGET IKUT CAMPUR MASALAH GUE SIH BANG KENAPA?”

 

“Yoongi, language!” Ummanya berteriak. Namun kabut amarah yang menguasai Yoongi menulikan pendengarannya.

 

“Sekarang. Lo belain polisi itu? IYA? JADI INI SALAH GUE, HAH? OH! SEJAK KAPAN NOLAK ORANG JADI SALAH GUE? JADI GUE GA BOLEH NOLAK ORANG? OKAY. GUE BAKAL MINTA MAAF DAN NERIMA DIA BIAR LO PUAS! ABIS PERKARA KAN?”

 

“Yoongi—“

 

“Teriak lagi, Yoon. Teriak aja terus. Liat aja diri lo sekarang. Untuk sesuatu yang bisa kita selesaikan baik-baik, lo milih teriak-teriak kayak gitu. Apa si yang gue singgung? Nyebut namanya pun engga. Gue cuma bicara soal hati lo, yang selalu lo bohongin selama ini. Kalo lo tanya kenapa, ya karena gue peduli. Lo adik gue. Satu-satunya. I want the best for you. I want you to be happy. To be happy with someone that can take care of you and protect you—“

 

“Dan menurut lo polisi itu bisa?”

 

“Bukan. Gue ga bicara soal polisi itu. But, if you ask me about him. Yes, I trust him. I—“

 

You fcking trust him when you are even just meet him once? How surprising! Pelet apa yang dia pake sampe lo percaya sama dia padahal kalian baru ketemu sekali? Hebat.”

 

“Yoongi, Yujin, cut it off. Udah, oke? Jangan bicarain ini lagi. Lupain a—“

 

“Mata lo ga akan merah gitu seakan nahan nangis atau tangan lo yang ngepal erat kalo lo ga lagi boongin diri sendiri. Lo mau nangis? Go ahead and just cry. Siapa yang mau ngelarang dan ngetawain lo di sini?”

 

Fck you, Yujin.”

 

Yes, fck me. Terus kenapa? Gue kenal lo, Yoongi. Lo adik gue dan seberapa pun lo berusaha untuk nutup diri lo dari dunia, lo ga bisa boongin gue. Hadapi kenyataan, Yoon. Jangan lari. Apa salahnya lo ngaku kalo lo ngerasa bersalah sama si Jimin? Apa salahnya ngiyain hati lo yang bilang lo pengen minta maaf ke dia dan bilang kalau lo suka dia? Apa sa—“

 

Just eat shit and die, man. You motherfcker.”

 

Yoongi berbalik dan pergi dari ruangan itu ke pintu keluar, meninggalkan suara bantingan pintu yang menggema. Diiringi teriakan sang umma yang memintanya kembali.

 

Umma udah, biarin. He needs it. Dia butuh berpikir.”

 

Dalam hati dia khawatir, namun Yujin tahu, Yoongi butuh semua waktu ini. Waktunya untuk berpikir dan menemukan jawaban atas hatinya yang terlalu lama ia bohongi.

.

.

.

Yoongi maki-maki entah pada siapa sepanjang perjalanan. Dan ia tidak tahu harus ke mana. Liburan hampir berakhir dan sudah hampir empat hari dia ada di kampung halamannya. Yoongi mau balik ke Seoul, tapi baru sadar kalau dia ga bawa uang sepeserpun.

 

Sial. Yoongi makin mengumpat mengingat pertengkarannya dengan Yujin barusan. Itu pertama kalinya Yoongi bertengkar dengan abangnya dan penuh kalimat makian dan umpatan. Itu pertama kalinya bagi Yoongi bertengkar hebat dengan abangnya di depan ummanya. Itu pertama kalinya untuk Yoongi menolak sandaran hangat yang ummanya siapkan. Dan semuanya karena satu topik, polisi bantet bernama Jimin.

 

Dan sekarang Yoongi di sini, di pinggir jalan tanpa arah tujuan. Jarinya sedari tadi memencet sederet tombol, untuk menyambungkannya pada Seokjin. Seraya menunggu, pikiran Yoongi dibuat berkelana. Tentang ucapan kakaknya. Tentang hatinya. Tentang Jimin. Tentang dirinya yang dibuat berpikir, siapa dia selama liburan ini berjalan? Dan kenapa… ia tak benar-benar bisa menampik bahwa ia berubah?

 

Yoongi menghela napas lagi, masih menunggu jawaban dari Seokjin. Sampai pada nada dering entah ke berapa baru dijawab oleh si empunya yang diiringi sapaan Seokjin padanya.

 

[“Apaan cuy?”]

 

“Jemput gue dong, di Daegu. Sekarang.”

 

[“Set lu kata gue supir pribadi lu apa? Naik taksi.”]

 

“Ga bawa duit.”

 

[“Ya bayar nanti, bebebkuuu. Gitu aja kok pinter.”]

 

“Jemput Jin, plis. Gue abis berantem sama bang Yujin. Gue tunggu oke? Bye.”

 

[“Eh Suga—woi! Tung—]

 

Yoongi langsung memutus sambungan. Tanpa melihat ke mana ia berjalan. Walaupun jalanan Daegu kala itu agak sepi, tetap saja pasti ada mobil yang lewat. Dan saking kesalnya, Yoongi sampai disoriented dengan sekitarnya.

 

Yoongi baru akan mendongak ketika suara klakson menggema. Tetapi untungnya, tarikan tangan seseorang pada tubuhnya menghempaskannya jauh dari kematian. Dan omelan menyusul kemudian.

 

“Kamu kalau mau bunuh diri seengganya jangan di depan saya?! Apa sih yang kamu pikirin Yoongi?! APA?!”

 

Kedua bahunya yang dipegang erat serasa sakit karena dicengkram terlalu keras. Yoongi yang masih terkaget perlahan mendongak untuk melihat orang yang menjadi objek utama pertengkaran dengan abangnya ada di hadapannya. Dengan napasnya yang terengah, dan pandangannya padanya yang tajam menghujam langsung ke manik dark brown milik Yoongi.

 

“Jawab. Saya bicara sama kamu.”

 

Yoongi hanya diam. Berusaha meyakinkan diri bahwa yang ada di depannya sungguhan Jimin karena jujur saja—ini kali pertama Yoongi mendapati sosok itu membentaknya.

 

Yoongi merasakan tubuhnya dibawa duduk oleh Jimin, dengan sosok itu berdiri di depannya. Masih menatapnya nyalang, melarikan tangannya pada helaian hitam (yang Yoongi tidak tahu sejak kapan orens jadi hitam) penuh frustasi.

 

Jimin menatap Yoongi yang masih diam. Sampai kapan, sampai kapan Yoongi akan mogok bicara padanya? Bukankah Jimin sudah menuruti apa yang Yoongi mau?

 

“Oke terserah. But at least, jangan bunuh diri di depan saya, oke? Setidaknya, jangan di depan saya.” Tegas Jimin pada Yoongi yang perlahan bisa berbaur dengan kenyataan.

 

Ia makin melihat Jimin dan melihat bagaimana ekspresi yang dikeluarkan sosok itu. Dan Yoongi merasa semakin bersalah. Hati kecilnya, seakan memintanya untuk mengucapkan maaf yang sudah ada di ujung lidah. Namun yang keluar lebih dulu adalah gumaman pelan terima kasih. “Gomawo…”

 

Pandangan Jimin langsung jatuh padanya. Dan polisi muda nan tampan itu menghela napas lelah. “Cheonma. Sekarang, mending kamu pulang.”

 

Tanpa melihat ke arah Yoongi, Jimin bersingut untuk pergi kembali ke mobil dinasnya bersama Taehyung. Namun entah apa yang merasuki Yoongi, ia berdiri secepat yang dia bisa lalu menarik ujung lengan seragam yang Jimin pakai. Dan berbisik lirih di sana, “Maaf.”

 

Katakan mungkin Jimin sedang tuli, atau berhalusinasi. Sebenarnya, apa sih yang terjadi pada Yoongi? Maka Jimin menatapnya lagi. Melihat bagaimana Yoongi kini melepas pegangannya pada ujung lengan bajunya, dan menunduk menatap tanah.

 

Pardon me?”

 

“Maaf. Bapak denger saya kalau belum tuli.”

 

“Untuk apa?”

 

“Untuk—“ secepat dia berusaha membalas tanya yang Jimin lemparkan, secepat itu juga Yoongi tersadar, kenapa dia meminta maaf?

 

Saat ia memutuskan untuk mendongak dan melihat semua ekspresi yang Jimin keluarkan, Yoongi makin tergugu. Mengapa… mengapa hatinya seolah bergetar dan seolah terisi akan rasa sesak yang memenuhinya? Mengapa Yoongi… ingin membawa tangannya pada pipi Jimin dan mengelusnya, dan mengatakan semua kata maaf yang bisa dia lontarkan tanpa jeda.

 

Mengapa… Yoongi ingin memeluk sosok itu?

 

Ada apa dengan dirinya?

 

“Lebih baik kamu pu—“

 

“Maaf untuk apa yang pernah saya ucapin ke bapak. Soal… pergi dari hidup saya?”

 

Tawa miris yang Jimin berikan membuat hati Yoongi makin tercubit. Sebanyak itukah… dia melukai Jimin?

 

“Mau kamu apa sekarang, Yoongi? Bukannya saya udah nurutin apa mau kamu? Sekarang kenapa tiba-tiba kamu yang… menghampiri saya dan mengatakan ini?”

 

“Apa ga boleh?”

 

You are the one who told me to leave. Why… why did you do it to me right now? Kenapa sekarang kamu seolah memberi saya kesempetan untuk bisa berharap lagi bahwa suatu saat saya akan bisa milikin kamu?”

 

“Saya—“

 

“Memang semudah itu mainin hati seseorang, Yoongi. Tapi saya ga pernah berpikir demikian. Untuk bikin kamu lecet aja ga, tapi sekarang… kenapa semuanya jadi sulit begini? Apa yang sebenarnya kamu rencanain? Jangan minta maaf di saat hati kamu menolaknya. Itu… munafik namanya.”

 

Kedua tangan Yoongi mengepal, buku-buku jarinya memutih sampai ia bisa merasakan telapak tangannya terluka. Bagaimana bisa Jimin berucap demikian di saat Yoongi sudah membuat harga diri untuk minta maaf padanya?

 

Katanya cinta. Apa ini… yang Jimin bilang cinta?

 

You said that you love me, aren’t you? Tapi kenapa… sekarang bapak malah bicara kayak gitu ke saya?”

 

“Lalu saya harus apa? Apa kamu tau seberapa besar luka yang saya punya sekarang? Saya laki-laki, kamu nyuruh saya pergi dan saya mengiyakan, apa ada jalan untuk kembali melangkah ke belakang? Tidakkah itu egois?”

 

“Tapi—“

 

“Kenapa tiba-tiba? Di saat saya terbiasa dengan semua ini, kamu menghampiri saya. Ada apa?”

 

I told you. I just wanna say sorry, though. Why should make it hard?”

 

Isn’t that you who make it hard?”

 

“Pak—“

 

“Pulang, Yoongi. Cuaca mendung. Dan sebentar lagi hujan. Nanti kamu sakit.”

 

Tetapi nada itu, bukannya menenangkan Yoongi malah makin menyakitinya. Apa Jimin benar-benar menyerah? Apa tak ada jalan keluar yang lebih baik dari semua ini?

 

Melihat Yoongi yang terdiam dan terus menatapnya, Jimin dibuat berpikir, bolehkan dia berharap lebih. Maka Jimin membawa tangannya untuk menangkup kedua pipi putih milik namja manis di depannya, dan menempelkan bibir mereka mengabaikan kewarasan yang meneriakinya.

 

Dan saat itulah, Yoongi mendorongnya menjauh.

 

Jimin mengerti lagi sekarang. Seharusnya, dia memang tidak terlalu percaya diri kan?

 

“See. Kamu minta maaf karena kamu merasa bersalah udah nyakitin saya, Yoongi. Bukan karena kamu memberi saya kesempatan untuk dapetin hati kamu. Itulah kenapa saya mempertanyakan semuanya.”

 

Dan Jimin memutuuskan untuk berbalik, meninggalkan Yoongi berdiri di atas trotoar yang sepi, dengan rasa asing tersisa di bibirnya. Pun dengan hujan yang perlahan turun, dalam rintikan air itu… tanpa sadar Yoongi berbisik lagi; menyadari kesalahannya lagi, lalu memanggil nama Jimin. Berharap… sosok itu akan berbalik dan menghampirinya, menerima maafnya lagi dan membawanya pergi dari sini.

 

“Pak Jimin…”

 

“Jimin sir…”

 

“Kak Jimin…”

 

“Jimin-senpai…”

 

“Jimin-sunbae…”

 

“Jimin-hyung…”

 

“…Jiminnie…”

 

Nada suara Yoongi sudah benar-benar tercekat. Dan entah sejak kapan airmata ikut mengalir bersamaan dengan hujan yang mengguyurnya. Lalu yang diharapkan, tak sedikitpun membalikkan badannya.

 

“Jimin…”

 

Jimin terus berlalu, meninggalkan cintanya yang berdiri di bawah hujan yang mengguyur Daegu. Sebagaimana Jimin membiarkan hatinya terluka lagi, akan keputusannya sendiri. Tetapi dia memutuskan akan apa yang ia hadapi tadi, kan?

 

Bukannya ia tak mendengar bisikan lirih itu. Bahkan sekalipun hujan menulikan telinganya, Jimin masih sangat bisa mendengar suara lembut Yoongi yang mengayun memanggilnya.

 

Saat masuk ke dalam mobil dan Taehyung melempar pandangan khawatir, Jimin hanya mengibaskan tangannya agar si brunette membawa mobilnya pergi dari sana.

 

“Gue harap lo ga nyesel, Jim. He’d already opened up yourself for you, hadn’t he? And look what you did? I dunno wether to comfort you or to punch you.”

 

Kill me, Tae.”

 

Later, bro.”

 

Pun Jimin bisa melihatnya, melihat bagaimana Yoongi tetap berdiri di bawah hujan melalui kaca spion mobil dinas yang ditumpangi.

 

“Tapi sekali lagi… aku yang terlalu percaya diri, kan, Yoongi? Kamu hanya ingin minta maaf, bukan membuka diri kamu untuk aku cintai atau mencintaiku. Dan itu menyakitkan.”

 

Bersamaan dengan tetesan hujan yang menganak sungai di kaca mobil, Jimin pun ikut meneteskan airmatanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, untuk hatinya yang menjerit sakit… benarkah… ini keputusan yang tepat dengan pergi tanpa berbalik lagi?

 

Taehyung tak berkomentar, hanya bisa prihatin pada keadaan sahabatnya. Tetapi dia bisa apa? Karena jika ada batas tak kasat mata di antara mereka, bukan Taehyung yang bisa menghancurkannya, hanya mereka berdualah yang berpotensi.

 

Ketika hujan makin deras mengguyur kota, perlahan… sosok Yoongi menghilang dibalik embun yang menutupi kaca mobil yang mereka tumpangi. Membiarkan Jimin pergi… untuk kembali merenungi apa yang dia pilih.

.

.

.

Tbc.

Yumi’s note :

Yo, hai, hola. Ketemu lagi sama Yumi dan maaaaaaaaaaaaaaf banget baru apdet. Mood ke mana-mana. Sense humor juga ancur jadi muup, kalau chap ini sama sekali ga lucu.

Well, untuk yang nanya tunangan Jin siapa, udah kejawab kan? Obvious banget kan?

Dan untuk yang nanya ChangminXHoseok yang dominan siapa, it may be reveal in the next chap. Don’t miss it/?

Hayo ngaku siapa yang mempertanyakan kelanjutan VKook? Mari tuntaskan di next chap.

Dan apakah Hoseok akan jomblo terus? Mari temukan di next chap. Then, NamJin moment, semoga bisa nongol di next chap.

Ini perlu diganti genrenya ga si? Merasa ini drama abis bhuhuhuhu. Humornya ga ada pula. Maaf yah.

 

And thanks to Jimsnoona for the idea, MinYoon scene-nya menyusul ya, mbeb😄 Makasih juga udah nagihin terus, jadinya gue ga mager buat lanjut /tabok.

 

And again, thanks for the reviews, faves and follows. Yall the best!

Wanna tell me ‘bout this one? Kindly gimme review, guys? Thanks a lot before!

 

Lav,

Yumi

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s