Of Rain, You and I


Of Rain, You and I © Fujimoto Yumi, 2016

9

Park Jimin X Min Yoongi © God, themselves

BTS © God, themselves

Rated T+ / Romance, Fluffy, Slice of Life

AR. OOC. SLASH. YAOI. DLDR.

Drabble/Ficlet Collection.

 

Summary : Hanya sebuah cerita tentang hujan di mana Yoongi mematri hal itu menjadi kisahnya bersama sang kekasih tercinta, Jimin, yang akan selalu membekas dalam ingatan.

 

xxxXXXxxx

 

I.

Hari itu tanggal 9 bulan Maret, yang berarti adalah ulang tahun Yoongi. Sejujurnya di hari itu, ia sudah menyiapkan segala rencana bersama kekasih bocahnya, Jimin. Namun sayangnya, hujan yang turun menghancurkan itu semua.

 

Kesal. Itulah yang Yoongi rasakan sekarang.

 

Namun dia bisa apa? Membenci hujan bukanlah kuasanya. Karena pada dasarnya, hujan adalah bagian dari memori yang takkan pernah bisa Yoongi singkirkan dari ingatan.

 

Karena hujan mempertemukannya dengan Jimin. Karena di saat hujanlah Jimin meminta Yoongi menjadi kekasihnya. Karena hujan, adalah keadaan di mana Yoongi bisa bermanja dalam dekapan hangat Jimin. Dan Yoongi menyukai itu semua.

Namun kini, hujan menghancurkan segala sesuatu yang Yoongi rencanakan. Hujan merusaknya, dan Yoongi berpikir tidakkah ada hari lain untuk hujan turun selain sekarang?

 

Ini hari ulang tahunnya, dan apa kabar dengan segala sesuatu yang akhirnya rusak itu?

 

“Yoongi-hyung?”

 

“Hm.”

 

“Mau sampai kapan berdiri di depan jendela begitu?”

 

Jimin tiba-tiba sudah berada di belakangnya dan memeluknya. Menyelipkan kedua tangannya melingkupi perut Yoongi, yang di mana langsung bisa memberikan rasa hangat pada tubuhnya itu.

 

Yoongi langsung bersandar pada dada bidang kekasihnya, sambil matanya masih memperhatikan rintik-rintik hujan yang jatuh di luar sana melalui kaca jendela kamarnya yang ditempatinya bersama Jin.

 

“Jimin.”

 

“Hm?”

 

Yoongi menikmati saja saat Jimin menggesekkan hidungnya di leher Yoongi. Tetapi Yoongi tahu sebisa mungkin sosok itu menaruh atensi pada panggilannya. “Kenapa? Tidak jadi bicara?”

 

“Rencana kita—“

 

“Hmmm kalau hyung mau ayo saja kita keluar sekarang?”

 

“Tapi di luar hujan, Jim.”

 

“Ya terus?”

 

“Tau, ah.”

 

Jimin terkekeh dan makin mengeratkan pelukannya pada perut Yoongi. Bibirnya mengecupi bagian bawah telinga namja berambut silver di depannya. Kemudian memberi sedikit hisapan di sana. “Ayo. Aku tidak keberatan pergi di bawah hujan bersamamu. Apalah arti hujan kalau akhirnya nanti kita berada di ruangan indoor juga, hyung? Kan hanya—“

 

“Berisik. Tutup mulutmu dan enyah sana.”

 

Jimin hanya meringis dalam hati, namun ia tak melepaskan tangannya pada tubuh Yoongi, pun ia malah makin-makin mengeratkannya. “Aku bisa mengundurnya jadi besok kalau hyung mau?”

 

“Tidak usah. Aku sudah tidak mood makan dagingnya.”

 

Mwo?”

 

“Belikan cheesecake sana!”

 

“Kan hujan, hyung.”

 

“Masa bodo. Sana pergi dan belikan aku cheesecake!”

 

Pun Jimin hanya menurutinya, dengan sebelumnya ia mencuri satu kecupan dari kekasih bersurai silvernya tersayang.

.

.

.

II.

Yoongi tengah terduduk di depan pintu beranda kamar yang ditempatinya. Pintu kaca itu memperlihatkan cuaca luar di mana hujan tengah turun deras membasahi Seoul dan mengetuk-etuk pelan kaca di depannya.

 

Ia tengah menunggu Jimin yang sedang numpang mandi di kamarnya. Matanya sedari tadi menatap nyalang ke luar, memperhatikan bagaimana rintik-rintik hujan menyentuh kaca di depannya, atau ketika setetes air itu mengalir turun, yang pada akhirnya seolah menjadikan timbulnya embun.

 

Suara pintu kamar mandi yang terbuka menyadarkan Yoongi bahwa Jimin sudah selesai mandi, dan di saat itulah matanya menangkap sesuatu di luar sana. Seekor kupu-kupu yang terbang kesusahan karena sayapnya basah. Sontak, namja berambut caramel itu berteriak memanggil sang kekasih untuk menghampirinya.

 

“Jimin! Jimin cepat ke sini! Ya! Jimin cepatlah! Lihat ada kupu-kupu di luar di sana!”

 

Jimin yang mendengar kekasihnya berteriak heboh langsung menghampiri sosok mungil itu. Ia kemudian menumpukan dirinya pada satu lutut, dengan satu tangan berlabuh di atasnya. Ia pun memperhatikan apa yang ditunjuk Yoongi.

 

“Ah.”

 

“Kau lihat, kan?”

 

Jimin hanya mengangguk walau ia tak yakin Yoongi dapat melihatnya. Pemuda berambut coklat itu kini mendudukkan dirinya di belakang Yoongi, menyelipkan tangannya di pinggang pemuda caramel di depannya lalu menarik sosok itu untuk bersandar pada dada bidangnya.

 

Dan Yoongi sendiri seketika mendapatkan tempat ternyaman untuk bersandar. Ia pun menyerukkan kepalanya di bawah dagu Jimin. Satu tangannya terangkat untuk menggerakkan jari telunjuknya menunjuk kupu-kupu yang masih berada di luar sana.

 

“Ah! Haruskah kita membawanya ma—Ya! Aish, kenapa malah pergi?” Yoongi bermonolog sendiri. Jimin hanya tersenyum lembut sambil berusaha memberikan kehangatan pada sosok yang paling dicintainya tersebut.

 

“Sayang sekali dia pergi, ne? Padahal ada malaikat yang mau menolongnya,” Jimin bergumam menyahuti monolog kekasihnya tadi sambil menumpukan dagunya pada kepala caramel Yoongi. Dan ia hanya mendengar dengusan setelah itu sebelum pemuda dalam dekapan tangannya makin menyandar padanya.

 

Mereka diam dengan masih memperhatikan hujan yang turun. Tangan Yoongi memainkan jari-jemari Jimin yang melingkari perutnya. Ia pun menunduk, melihat bagaimana tangan itu selalu bisa memberikan kenyamanan padanya, dan juga keyakinan agar percaya bahwa Jimin akan selalu mengulurkan tangan kapanpun ia butuh.

 

Dan tiba-tiba Yoongi bertanya, pun ia benar-benar menjadi orang lain yang Jimin sendiri bingung dari mana datangnya. Namun ia tahu, inilah cara Yoongi menunjukkan kemanjaan padanya, hanya padanya.

 

Ne, Jimin?”

 

“Hm?” Jimin menyahut sambil menghirup aroma sampo pada rambut caramel Yoongi.

 

“Menurutmu, apa kupu-kupu tadi akan baik-baik saja? Tidakkah sayapnya akan rusak karena berada di bawah hujan begitu lama?”

 

“Entahlah, hyung. Aku bukan ahli serangga. Tapi mungkin… bisa saja itu terjadi…” dekapan Jimin makin mengerat, dan Yoongi justru bertambah nyaman bersandar di sana. “…tapi jika itu aku… mungkin sayapku akan patah. Karena hujan versiku—owh!”

 

“Apaan sih. Sejak kapan kau punya sayap? Dasar bocah aneh,” Yoongi mendengus lagi sehabis ia mencubit lengan Jimin barusan. Rasa-rasanya Jimin makin suka bicara yang aneh-aneh.

 

“Aku serius. Sayapku mungkin akan patah, jika melihatmu menangis. Karena airmatamu, adalah kelemahanku.”

 

Yoongi langsung mendoangakkan sedikit wajahnya untuk melihat Jimin. Jujur ia merasa wajahnya panas, tapi apa pedulinya? Di depan Jimin ini, kan, dia merona?

 

“Kepalamu terbentur ya, Park?”

 

“Sayap-sayap cintaku yang akan patah, hyung. Karena airmatamu itulah, hujan yang menghancurkannya.”

 

“Berisik. Tutup mulutmu dan berhenti berbicara aneh.” Walau berkata demikian dengan nada paling ketus, Yoongi tidak beranjak dari posisi ternyamannya dalam pelukan Jimin. Jimin sendiri hanya terkekeh kecil dan mengeratkan tangannya.

 

Saranghae, hyung. Dan aku bersungguh-sungguh soal yang tadi.”

 

Yoongi diam awalnya, sampai akhirnya ia memutuskan agak bangun lalu memutar kepalanya untuk menatap wajah Jimin yang tersenyum lembut padanya. Namja berambut caramel itu pun melembutkan tatapannya. “Lalu? Aku harus apa?”

 

“Jangan pernah menangis. Dan kalau aku yang membuatmu menangis, hukum aku. Apapun.”

 

Jimin berucap dengan serius. Yoongi hanya kembali tersenyum, lalu memajukan wajahnya untuk memberi kecupan pada bibir tebal Jimin, sekilas. Namun masing-masing tahu ada cinta di sana.

 

“Oke. Kupegang janjimu. Dan… nado saranghae.”

 

Dan sejujurnya, kupu-kupu yang tadi mereka lihat pada akhirnya menemukan tempat di mana ia bisa berteduh. Tanpa kebasahan, tanpa harus merusak sayap indahnya di bawah rintikan air hujan.

.

.

.

III.

Sudah seminggu berlalu dan Yoongi masih mempertahankan aksi ngambeknya pada sang kekasih, Jimin. Ketika sosok itu menolak untuk memenuhi keinginan Yoongi makan cheesecake sepuasnya di hari ulang tahunnya.

 

Mereka kan tidak jadi pergi makan daging, di mana Jimin sendiri sudah membatalkan reservasinya (atas perintah Yoongi) dan kini, Yoongi hanya ingin makan cheesecake sepuasnya. Di kamarnya. Bersama Jimin.

 

Namun apa? Di luar sedang hujan (lagi) dan Jimin hanya membeli sekotak cheesecake saja, dan hal itu berhasil membuat Yoongi makin badmood karenanya.

 

“Kenapa cuma sekotak? Aku mau lagi.”

 

Nada suaranya sih dibuat merajuk, tapi yakinkan Jimin bahwa wajah datar itu masih bertahan di sana. Walau tangannya terlipat di dada juga, bagi Jimin—Yoonginya tetaplah terlihat manis dan imut.

 

“Apa lihat-lihat? Sana beli lagi cheesecake-nya!”

 

“Yang ini saja belum habis, hyung. Masa mau beli lagi. Habiskan dulu yang—“

 

“Beli lagi atau kau keluar dari sini?! Cepat sana beli!”

 

“Tidak mau~ hyung sudah ah. Jangan ngambek terus karena kita tidak jadi kencan. Makan ini dulu, sisanya menyusul, okay?”

 

“Tidak mau.”

 

“Ya sudah kalau begitu. Biar aku dan yang lainnya saja yang makan.” Jimin bersiap membawa pergi sekotak cheesecake itu, namun secepat kilat Yoongi menahan tangannya lalu menariknya untuk terduduk kembali di pinggir ranjang yang pemuda berambut silver itu duduki.

 

“Iya sini berikan.”

 

Jimin tersenyum membalas itu dan menaruh kotaknya di atas pangkuan Yoongi setelah sebelumnya memberikan kecupan di dahi pemuda itu. “Once again, happy birthday, my Yoongi. Be healthy and cute and beautiful and love me more.”

 

“Dalam mimpimu.”

 

“Aku akan rela tidak bangun jika mimpiku begitu.”

 

“Park Jimin gila.”

 

I’m crazy for you.”

 

“Enyah sana. Aku mau makan cheesecake-ku.”

 

“Iya-iyaaa~ jangan lupa sikat gigi sehabis itu, oke?”

 

Jimin sudah akan beranjak lagi seperti sebelumnya ketika mendapati Yoongi hanya diam tak merespon. Namun saat ia berbalik, Jimin merasakan tarikan pada ujung baju dan ketika ia kembali melihat ke arah kekasih, Yoongi memandangnya di sana dengan tatapan mata yang selalu ia suka.

 

Tanpa mengucapkan apapun, Jimin tahu bahwa Yoongi ingin dia tinggal—untuk menemaninya menghabiskan kue keju yang tadi dibelinya.

 

Arrayo~ Aku akan tinggal. Manis sekali sih, Yoongi-hyungku.”

 

Pun Yoongi tak menjawab, hanya melirik Jimin yang setia duduk di dekatnya seraya memakan kue keju favoritnya.

.

.

.

IV.

Bagi Yoongi, kehangatan Jimin di musim hujan begini adalah obat bius tersendiri yang membuatnya betah untuk benar-benar hanya berbaring di atas tempat tidur.

 

Ia memang suka tidur, namun dengan cuaca dingin di luar sana membuatnya enggan beranjak sekalipun ia sudah bangun. Apalagi ketika ia mendapati lengan kekar Jimin yang memeluknya. Ia jadi merasakan kantuk kembali menyerang, bagaikan obat yang berusaha membiusnya.

 

Dan Yoongi tidak keberatan. Selama Jimin yang memeluknya memberikan kenyamanan itu, selama Jimin yang berperan sebagai obat bius itu, Yoongi tidak takut akan kelebihan takaran. Karena ia tahu, Jimin pun bisa sekaligus menjadi sesuatu yang membuatnya merasa aman berada dalam dekapnya.

 

“Tidak mau bangun, hyung?”

 

“Masih ngantuk.”

 

“Tapi hyung harus sarapan.”

 

“Tidak mau. Mau tidur lagi. Dan jangan coba ke mana-mana.”

 

“Kau bilang ingin diajak jalan-jalan? Kebetulan kita libur dan sekarang sedang di Jepang, yakin hanya mau di tempat tidur saja?”

 

“Hujan, Jim~ dingin…”

 

Arra~ arra~ tidurlah lagi, Yoongiku~ love you.”

 

“Hmmm~”

.

.

.

V.

Mereka saling berdiri berhadapan. Di bawah langit yang mendung dengan napas saling terengah. Hari sudah malam dan keduanya justru tak berniat untuk segera sampai ke dorm.

 

Jimin masih menatap Yoongi dengan tatapan terluka, dan pemuda manis itu sendiri menatapnya tak terbaca. Marah, kesal, kecewa, semuanya bercampur aduk menjadi satu.

 

“Apa maumu sekarang, hyung? Aku hanya mengkhawatirkanmu tetapi apa? Kau tidak mau mendengarkanku.”

 

“Jimin dengar—“

 

“Apa?”

 

Jimin menghela napas lelah. Ia seharusnya sudah beristirahat di dorm, bergelung dibalik selimut hangat, kalau saja ia tidak ingat bahwa kekasih manisnya masih bekerja di studio untuk mengcompose lagu grup mereka.

 

Jimin hanya ingin menjemputnya. Jimin hanya ingin memastikan bahwa sosok itu baik-baik saja. Karena demi Tuhan Yoongi baru saja sembuh dari sakitnya, dan kini Yoongi ingin agar Jimin tidak terlalu mengkhawatirkannya. Apa bisa? Apa bisa Jimin bersikap demikian?

 

Mereka bertengkar karena ego masing-masing. Biasanya Yoongi tidak akan protes jika Jimin menjemputnya ke studio. Namun entah ada apa hari ini, semuanya terlihat berbeda. Jimin benar-benar marah. Dan Yoongi sendiri tak mau mengenyampingkan sedikit harga dirinya.

 

“Aku bukan anak kecil, Jim. Memangnya kau pikir—“

 

“Aku sudah lelah, hyung, untuk mengerti apa maumu. Aku tidak peduli lagi sekarang apa. Kau ingin sendiri bukan? Oke terserah. Aku pulang duluan. Jangan pergi jauh-jauh, sebentar lagi hujan. Bye.”

 

“Jim—“

 

Namun Jimin tak berhenti ketika Yoongi memanggilnya. Punggung itu semakin menjauh, kemudian menghilang dari pandangan Yoongi yang kini berkaca-kaca. Ia berpikir mengapa semua jadi begini? Mengapa dirinya harus begitu gengsi? Mengapa dirinya harus bersikap moody?

 

Yoongi tidak tahu, jika penolakannya melukai Jimin. Ketika sosok itu menjadi korban ke badmood-annya, yang mana saat Jimin ingin memeluknya Yoongi menjauh. Ketika Jimin hanya ingin memastikan ia baik-baik saja dan selamat sampai ke dorm, Yoongi menyuruhnya pergi.

 

Dan di sinilah Yoongi, terus terbayang akan tatapan penuh luka Jimin dalam ingatan. Di bawah langit yang perlahan menangis, menurunkan rintik-rintik hujan yang seolah menemaninya bersedih. Dalam diam, dalam sunyi… Yoongi terus menangis membiarkan hujan membahasi jalanan yang ia tapaki.

 

Sendirian.

 

Tanpa Jimin, dan tanpa kehangatan sosok itu yang senantiasa selalu bisa melenakan Yoongi.

.

.

.

VI.

Sudah hampir seminggu Jimin menghindarinya, mendiamkannya dan hanya merespon jika benar-benar penting. Semua member dibuat bingung, namun mereka tak berani ikut campur. Karena mereka tahu, apapun masalah yang sedang dihadapi Jimin dan Yoongi, mereka pasti bisa menyelesaikannya dengan baik.

 

Tetapi… merasa khawatir boleh bukan? Apalagi Yoongi terlihat pucat, dan hari ini pun ia harus kembali ke studio untuk melanjutkan projek lagu yang tengah dibuatnya bersama Namjoon dan Hoseok.

 

Jimin pun terlihat tidak peduli, begitu pikir Yoongi. Acapkali ia melirik ke arah dongsaeng merangkap kekasihnya itu, rapper BTS tersebut harus menahan sakit yang menghujam jantungnya karena Jimin akan langsung memalingkan wajahnya.

 

Tuhan… tidak bisakah mereka menyelesaikan ini?

 

“Suga-hyung, ayo kita berangkat.” Ucapan Namjoon hanya bagai angin lewat untuknya. Namun Yoongi tetap bangkit, berjalan ke arah pintu keluar berharap Jimin akan mengantarnya sampai sana dan memberi kecupan ‘hati-hati di jalan’. Tetapi itu hanya harapannya, Jimin pun justru berlalu ke kamar sesaat ia bangkit dari sofa yang ia duduki.

 

Tahan sakitmu, Yoongi. Setelah ini cari cara untuk berbaikan dengan bocah berisikmu itu, batin Yoongi meyakinkan dirinya sendiri. Kemudian berlalu bersama dua rapper lainnya menuju studio.

 

Hari sudah malam ketika mereka selesai. Namjoon dan Hoseok sudah pulang duluan karena Yoongi yang menyuruh. Pemuda manis itu turun ke lantai bawah dan ke arah lobby, pun kemudian melangkahkan kakinya di bawah langit malam yang dingin.

 

Sampai di seperempat jalan, hujan tiba-tiba turun dan Yoongi sama sekali tidak membawa payung. Ia berteduh di bawah kanopi toko yang sudah tutup di pinggiran distrik yang kebanyakan pemilik tokonya memilih menghangatkan diri dalam rumah, Yoongi menyandarkan dirinya di tembok di belakangnya.

 

Lama menunggu, hujan tak kunjung reda. Kalau sudah begini… Yoongi ingin Jimin ada di sini, di sampingnya. Menjemputnya, memeluknya, memberinya kehangatan dan kecupan di sepanjang jalan sepi yang sering mereka pilih untuk lalui. Tetapi apa… Jimin pun sekarang tidak berniat menjemputnya sedikitpun.

 

Yoongi memeluk dirinya sendiri, kedinginan. Ia butuh Jimin, sangat membutuhkannya. Haruskah Yoongi menelpon Jimin untuk menjemput—

 

TAP!

 

Tatapan mata pemuda manis berambut mint yang tadi terus melihat ke bawah, terhenti pada sepasang sepatu yang berhenti tepat di depannya. Yoongi mengenali pemilik sepatu itu dan langsung mendongakkan wajahnya untuk bertemu tatap dengan pandangan datar dari Jimin.

 

Hatinya mencelos, namun sebisa mungkin ia tak ingin menunjukkannya. Jimin menyodorkan satu payung ke arahnya dan memintanya untuk kembali berjalan karena hari semakin malam, dan hawa hujan semakin dingin.

 

Suara datar Jimin benar-benar mengganggu Yoongi, tanpa melakukan apa yang Jimin suruh, Yoongi justru membuang payungnya dan berteriak di bawah hujan yang mengguyur seluruh tubuhnya, menumpahkan semua perasaannya. Pada Jimin, pada kekasih yang amat dicintainya.

 

“Kau bilang kau mencintaiku! Lalu apa ini caramu mencintaiku? Apa kau sudah lelah menghadapi sikapku yang seperti ini? Apa pada akhirnya kau menyadari bahwa bukan aku yang kau inginkan? Bahwa setiap perilaku kasar dan dingin yang kutunjukkan adalah benar sikap yang memang ingin kuperlihatkan padamu? Apa ini cinta yang selalu kau bicarakan, Jimin?!”

 

Jimin berhenti di tempatnya, namun tidak berbalik ataupun menjawab teriakan Yoongi.

 

“Kau sudah lelah, bukan?” airmata Yoongi mengalir dan tercampur dengan hujan yang membasahinya. “Kau lelah akan sikapku. Pada akhirnya… seminggu ini kau benar-benar menjauh dariku. Padahal biasanya… sekalipun hari ini kita bertengkar, keesokannya kau akan tetap bicara padaku. Apa kau… hiks… benar-benar lelah?”

 

“Kau bilang… aku boleh menghukummu jika kau yang membuatku menangis. Apa sekarang sayap cintamu benar-benar patah? Dan tak tersisa lagi cinta untukku? Kau bilang… airmataku adalah kelemahanmu… dan apa itu masih berlaku bahkan ketika… hiks… menatapku saja kau tidak mau?”

 

Jimin secepat mungkin langsung berbalik dan berdiri di hadapan kekasihnya yang masih menangis. Padahal, Jimin sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia takkan membuat Yoongi menangis lagi, namun sepertinya ia mengingkari itu.

 

Mereka saling bertatapan, dengan payung yang Jimin pegang melindungi mereka dari hujan. Namun Yoongi sudah basah kuyup, dan dia kedinginan. Jimin pun hanya melihatnya tanpa berniat untuk memeluknya. Tanpa berniat menyelesaikan ini semua.

 

Demi Tuhan apa yang harus Yoongi lakukan sekarang?

 

“Aku membencimu, Jimin… tidakkah seharusnya kau tahu bagaimana aku? Aku tahu kau mungkin akan lelah untuk mengerti… tetapi bukankah kau—hiks pernah berjanji untuk selalu bertahan akan sikapku? Aku—“

 

“Sssttt… kau terlalu banyak bicara, hyung.” Jimin memotong kalimat Yoongi dengan mengusap bibir pemuda manis di depannya yang sudah bergetar karena dingin dengan tangannya yang bebas. Pemuda yang lebih muda itu melembutkan tatapannya untuk kemudian tersenyum, memperlihatkan eye smile yang selalu Yoongi suka. “Maafkan aku… aku membuatmu menangis lagi. Kau boleh menghukumku sekarang, apapun. Bahkan jika kau memintaku untuk mati, akan kulakukan. Tapi berjanjilah untuk tidak menangis lagi setelahnya, hm?”

 

Yoongi hanya menggeleng lalu merapatkan diri pada pemuda di depannya. Mengalungkan kedua tangan putih tanpa cacat itu ke leher Jimin, untuk kemudian mencari kehangatan di balik lekuk leher Jimin, membuat pemuda lainnya melabuhkan satu tangannya yang tak memegang payung melingkari pinggang Yoongi.

 

“Sssttt… aku di sini… menunggumu menghukumku. Apapun akan kulakukan untukmu, hyung. Katakan apa yang bisa kulakukan, hm?”

 

“Jangan pergi… jangan pernah… jangan diamkan aku, menghindariku atau apapun itu.”

 

Jimin hanya tersenyum kemudian mengeratkan pelukannya. “Janji.”

 

Prove it.”

 

I will. For you.”

 

Karena pada dasarnya, hanya kepada dan untuk Yoongi lah ia bisa bertahan. Dalam sakit dan kekecewaan dan juga rasa lelah. Sebanyak apapun keengganan yang nampak pada wajah itu, atau sikap penuh sangkalan dan kata-kata tajam yang kian bebas menguar dari mulut manisnya, Jimin akan tetap berdiri di sana. Dalam lingkaran takdir ketika pada akhirnya ia memutuskan bahwa hanya dengan Yoongi lah ia akan melewati ini semua.

 

Sebanyak apapun badai yang menerpa jalan cinta mereka, pada kenyataannya… Jimin hanya melakukan itu untuk Yoongi, dan hanya dia.

.

.

.

VII.

Jimin memasuki kamar kekasihnya bersama hyung tertua mereka dengan pelan. Di luar hujan, badai sebenarnya, dan untungnya mereka tengah mendapat libur setelah latihan berhari-hari bahkan minggu untuk konsep baru comeback mereka.

 

Jimin melihat kekasihnya sudah membelit tubuhnya dengan selimut yang ada. Tadi saat Jimin tengah bermain PS di ruang tengah bersama Taehyung, Seokjin mendatanginya dan menyuruhnya untuk melihat Yoongi, yang disinyalir oleh sosok itu terus menggumamkan nama Jimin.

 

Jimin hanya tertawa saja lalu bergegas ke kamar dua hyung tertua itu. Dan di sinilah dia, berjalan pelan ke arah ranjang kekasihnya yang manis.

 

“Jimin?”

 

“Hm?” Jimin refleks menjawab dan langsung mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur Yoongi, melihat wajah sosok itu yang tidak tertutup selimut. Ah, ternyata benar mengigau?

 

Tangannya terangkat untuk mengusap poni mint kekasihnya. Dan Yoongi kembali menggumamkan namanya.

 

“Jimin…?”

 

“Ya, hyung? Aku di sini,” namja bermarga Park itu pun tetap membalas Yoongi yang mengigau, dengan tangannya yang tak berhenti bergerak.

 

Mata namja manis itu memang tertutup, namun sepertinya ia tahu bahwa Jimin ada di sana. “Jimin dingin… peluk…”

 

Jimin hanya tertawa saja lalu langsung masuk ke dalam selimut untuk mendekap erat kekasihnya. Berusaha mengusir hawa dingin badai malam itu, dan berhasil membuat Yoongi kini bersandar nyaman di dadanya dan terlelap dengan nyenyak.

 

Pemuda bermahkotakan langit senja itu melirik sekilas jendela yang sedikit terbuka yang menampakkan langit yang gelap dengan badai di luar sana, untuk kemudian mengalihkan lagi pandangannya pada sosok dalam dekapan yang terus bermanja pada kehangatan yang ia berikan. Dikecupnya pucuk kepala sang kekasih, lalu berbisik di sana; lembut dan halus juga penuh rasa cinta, “Selamat tidur, Yoongiku. Saranghae.”

.

.

.

Yumi’s note:

Hola ketemu lagi sama saya. Ini cuma kumpulan drabble/ficlet yang saya tau ga jelas wkwk. Fluffy dan chessy. Biasa otak butuh refreshing dari tugas.

Untuk Greatest Accidental masih diusahain ya/? Abis UAS kayaknya apdet. Ga janji. Bisa lebih cepat bisa juga lebih lambat. Wkwk.

Terima kasih yang udah bersedia baca dan memberikan review di ff-ff saya. Thanks a looooot.

 

At last but not least, Review?

 

Lav,

Yumi.

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s