Greatest Accidental ~Chapter 7 {Un-Yoongi-like. Typically Jungkook-ssi Pt. 1}


Greatest Accidental ©Fujimoto Yumi, 2016

Park Jimin X Min Yoongi

Kim Taehyung X Jeon Jungkook

BTS’s member ©God, themselves

Rated T – M. / Romance, Fluffy, Humor, Friendship.

Slash. Yaoi. Boys Love. OOC. Indonesian!AU.

Police!NamVMin. CollegeStudent!JinSugaHopeKook.

Older!NamVMin. Younger!JinSugaHopeKook.

 

Note : DLDR? I gain no profit by publishing this story.

Based on true story. Thanks to ma friends who inspires me with her story😄

This is just for fun. Enjoy and happy reading.

 

Bahasa non-baku. Beware.

 

Summary : Awalnya iseng mikir untuk bisa lolos dari tilangan polisi, namun pemikiran itu justru membawa Yoongi dan Jungkook pada kenyataan bahwa setiap keisengan akan berakhir dengan konsekuensi (yang membahagiakan dalam kasus mereka).

 

xxxXXXxxx

 

Greatest Accidental

Subtitle Chapter 7 : Un-Yoongi-like. Typically Jungkook-ssi.

Summary for this chapter :

Karena yang namanya perasaan, bisa menghancurkan kerasnya batu sekalipun.

Karena yang namanya hati, adalah mutlak sesuatu yang tak bisa dibohongi.

Karena yang namanya cinta, datang tanpa diminta dan takkan pergi tanpa disuruh.

Namun saat disuruh sekalipun, cinta itu akan tetap berpijak di sana tanpa mau beranjak sedikitpun sampai yang mencinta saling bersatu.

Ini hanya tentang hari libur yang membuat Yoongi bertanya-tanya siapa dirinya.

Dan membuat Jungkook berbelok dari niat awalnya.

Ini hanya sepenggal kisah di mana empat hati saling berdegup dalam irama yang mereka sendiri tak tahu apa artinya.

Ini hanya tentang kisah cinta… yang tak pernah disangka-sangka akan hadir di bawah langit biru yang ceria.

 

xxxXXXxxx

 

Chapter 7

Un-Yoongi-like. Typically Jungkook-ssi Pt. 1

 

xxxXXXxxx

Akhirnya, liburan akhir semester sudah datang. Yoongi terbangun sangat siang dan tak mempedulikan beratus kali bunyi ponselnya yang menggema. Ia melirik ke arah jendela yang barusan ia buka. Cerah, tetapi sepertinya panas. Yoongi dalam hati memutuskan untuk tetap berada di rumah sampai hatinya menyuruhnya untuk beranjak menikmati dunia luar.

 

Tetapi yang namanya gangguan, pasti ada saja. Ia menggerutu pada siapapun yang membunyikan bel kost-annya tanpa berperasaan. Dan siap menyemprot orang itu namun ditahan saat melihat wajah tiga sahabat-adik tingkat-anak kelinci polos muncul di depannya.

 

“SELAMAT PAGI MENJELANG SIAAAAAAAAANG~”

 

Diam. Yoongi hanya mengernyit kemudian melongokkan kepalanya keluar dan melirik ke kanan-kiri, entah mencari apa. Ia makin mengernyit saat Seokjin, Hoseok dan Jungkook masuk ke kost-annya seenak udel mereka.

 

“Oi, oi, oi. Gue belum bolehin kalian masuk. Keluar lagi, terus baru masuk sampe gue bolehin. Cepet.”

 

“Ogah.”

 

“Anjir. Gini hari udah ganggu hidup gue aja deh lu pada. Ngapain sih?”

 

Yoongi ikut bergabung di sofa yang ada dalam kost-an mewahnya. Hoseok sudah selonjor kaki begitu juga dengan Jin, dan Jungkook sendiri asik dengan ponselnya yang langsung diingatkan ketiganya soal jangan-sms-an-terus-sama-polisi-pedo yang Jungkook langsung sangkal supaya tidak kena marah.

 

“Tay gue nanya.”

 

“Kita pindah.”

 

“Hah?” Yoongi mendadak bego. Ia menghela napas kasar seraya mengusak rambutnya. “Lu pada mau nginep di sini aja udah pasti gue usir apalagi tiba-tiba mau ting—“

 

“Dua pintu kiri dan satu pintu kanan dan kita tetanggaan kakak Sugar~”

 

“Hah?”

 

Yoongi mulai berpikir saat Hoseok berucap demikian. Pemuda berambut caramel itu mengusak kembali rambut caramelnya. Masih berusaha meloading sampai akhirnya ia sadar dan berteriak—“ANJIR SERIUSAN?!”

 

Yang ditanya hanya menganggukkan kepala beberapa kali sampai suara Yoongi menggema lagi. “Pindah, pindah. Pindahlah kalian wahai makhluk astral dari kost-an ini. Hidup gue makin ga tenang.”

 

“ANJIR JAHADDD.”

 

“Canda, oi. Tapi kok bisa?”

 

“Ya bisalah~ apasi yang ga kita bisa, yegak, kak Jin?”

 

“Yoi, Hos.”

 

“Fak. Kenapa lu ikutan manggil gue ‘Hos’ juga sih kak Jin iprit?”

 

“Anjir lu juga jangan ikutan manggil gue Jin iprit adek tingkat syalan.”

 

“Ya elu duluan kali, kak. Ih kezeeelll.”

 

“Lu pikir gue ga kesel, hah?”

 

“Berantem yuk, kak?”

 

“Ayuk mau di mana?”

 

“Ranjang boleh.”

 

“NAJEZ IYUCH AMIT-AMIT DAZAR JONES ABADI EMANG ENAK GA PERNAH DINOTIS KAK CHWANG.”

 

“JAHAADDD FIX JAHAD BANGET HUKS BHUHUHUHU.”

 

“OI BERISIK NJIR MENJELANG SIANG BEGINI UDAH BIKIR KERIBUTAN AJA DI DEPAN GUE.”

 

“ODOB.”

 

“LU BED—“

 

“Errr… kakakdeul?”

 

“APA?”

 

“I-itu, bel kost-an kak Suga bunyi daritadi…” balas Jungkook mencicit karena yang memelototinya bukan hanya Yoongi, namun Seokjin dan Hoseok pun ikutan.

 

Yoongi yang mendengar itu langsung berniat membukakan pintu. Namun belum sempat sampai, pintunya sudah menjeblak terbuka dan nampaklah wajah kesal abang Yoongi yang kemudian langsung menyemprot tepat di depan muka adiknya.

 

“LAMA BUZET GUE KERING DI DEPAN KOST-AN LU NUNGGU LU BUKA PINTU. ONANINYA KELAMAAN OI AMPE GA DENGER BEL BUNYI.” Cerocos Yujin pada adiknya yang langsung mendidih mendengar bacotan kakaknya.

 

Seokjin, Hoseok dan Jungkook yang sedikitnya tahu setelah ini akan terjadi perang (bacot) kakak-beradik itu langsung duduk merapat di sofa setelah sebelumnya mengambil cemilan di kulkas Sugar kesayangan mereka.

 

“ANJIR LU BILANG APA HAH? SIAPA YANG ONANI?! ITU MAH ELU KARENA KELAMAAN JOMBLO. TAU HARI BARU BERANJAK SIANG GA SIH NAMU KOK JEM SEGINI?! GA PUNYA JAM APA GA PUNYA DUIT BUAT BELI? GINI HARI BIKIN GUE KESEL AJA DIH NAJIZ LU KAKAK GUE APA TUKANG KREDIT NAGIH DUIT PANCI?!”

 

Kesal. Yoongi benar-benar kesal. Mungkin dia dan teman-temannya memang sudah secara gamblang mengobrol tentang ini-itu bahkan yang menjurus ke sana. Dengan Jungkook yang selalu menjadi oknum lebih banyak bertanya karena tidak mengerti. Nah tapi ini abangnya yang entah ngeledek dia atau buka aib sendiri seenaknya memfitnah Yoongi demikian.

 

Bagaimana tidak kesal? Rasanya Yoongi ingin jambak-jambakan dengan kakak tersayangnya ini.

 

Namun untungnya Yujin langsung sadar dari efek lelah menunggunya di depan kost-an sang adik dan membalas bentakan Yoongi dengan nada biasa walau masih ada nada jengkel di dalamnya. “Elah. Masa ngunjungin adek gue aja pake jam-jam-an. Emang ini rumah sakit apa kalo mau jenguk harus sesuai jamnya.”

 

“Tay. Mati aja lu sana kelamaan jomblo.”

 

“Diem. Lu juga masih jomblo dazar Sugaram yang tak manis melainkan asin seasin status jomblo lu.”

 

“BANG YUJIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNNN?!”

 

“Iya, oke. To the point ah gue di sini. Lu mau sambilan ga?”

 

“Hah? Sembilan?”

 

“SAMBILAN CONGEK BUZET DAH KOK ADEK GUE CAKEP-CAKEP CONGEKAN?”

 

“IYA DENGER SAMBILAN ELAH. Sambilan apaan? Jadi tukang sapu jalanan? Lu aja gue mah ogah.”

 

“Bukan, njir. Part-time di cafenya Jomi mau?”

 

“Hah? Kok tiba-tiba?”

 

“Dia butuh orang, keknya cafenya laku deh. Oi, lu betiga mau ga?”

 

Yang diajak bicara, tiga orang yang daritadi anteng menonton pertengkaran adik-kakak itu sontak duduk tegak karena kaget. Lalu Seokjin lah yang pertama kali menggeleng. “Mau balik ke Gwacheon untuk beberapa waktu, bang. Terus ngurusin laporan yang Suga kasih ke gue supaya gue periksa.”

 

Yujin beralih ke Hoseok. “Lu, mblo?”

 

Mirror plis, bang, lu juga mblo yak. Pass deh bang, gue malahan udah dapet part-time di game-center.”

 

Yujin lalu beralih ke si maknae yang masih memasang tampang anak kucing minta dipungut. “Lu, Kook?”

 

“Hmm, Kookie kemarin dapat part-time di toserba ujung kompleks, bang, hehehe.”

 

Mendengar itu, Yujin kemudian membawa pandangannya pada adiknya lagi lalu menyeret pemuda caramel tersebut ke kamar sosok itu. “Mandi, ganti baju terus ikut gue. Lu mulai kerja hari ini sampe liburan semester lu abis.”

 

“HAH?”

.

.

.

Secepat-cepatnya waktu berjalan, Yoongi tidak pernah berpikir akan sebegini cepat dia nurut pada abangnya. Karena pada dasarnya, siapapun tahu bahwa Yoongi adalah pembangkang nomor satu akan setiap ucapan yang dilontarkan Yujin pada adiknya. Tetapi kenapa ia ada di sini? Terjebak di café milik teman abangnya yang walaupun sudah dia kenal, rasanya menyiksa juga. Capek sih, ya. Kalau kerja jadi kasir sih bodo amat, tapi ini jadi pelayan? Mati aja abangnya yang saat ini sedang leha-leha di Daegu sana.

 

Yoongi menggosok kasar meja-meja yang sudah selesai dipakai pelanggan. Ia menggerutu sepanjang kerja. Namun sebisa mungkin menikmati karena lumayan bakal dapat tambahan jajan untuk dompetnya. Tetapi konsep liburan yang Yoongi mau hanyalah tidur-tiduran di rumah, tanpa melakukan apa-apa, bukannya menggerakan kaki ke sana kemari seperti ini di sini.

 

“Gerutu mulu lu, Sugar. Kan gue bilang nanti gaji lu dua kali lipat dari yang lainnya.”

 

“Y.”

 

“Ih lu napa sih?” Zhoumi amat sangat penasaran pada perubahan sikap adik sahabatnya itu. Dia tahu Yoongi itu suka sekali menggerutu, sering badmood, galak dan judes. Tetapi ini sudah kelewatan. Kenapa juga dia dan cafenya harus kena imbas anak macan macem Yoongi ini? “Oi, oi. Hello everybody? Anybody home? May I talk to Min Yoongi-ssi? Holaaaa, homina homina?”

 

“Diem lu Jom-ge.”

 

“Lu napa? Sumpah cerita deh. Kelakuan lu makin gue kenal makin beda. Biasanya lu ga pernah sebadmood ini, yak.”

 

Bukannya menjawab, Yoongi malah bertanya balik. “Ge, menurut lu… apa jadinya kalau polisi dilaporin ke polisi?”

 

“Lah emang dia bikin kesalahan apa?”

 

“Ngepedoin gue.”

 

“HAH?”

 

“Jadi gini…”

.

.

.

Hari itu adalah tepat seminggu sudah Yoongi bekerja di café milik sahabat abangnya, Zhoumi. Selesasi kerja, Yoongi menyempatkan mampir untuk belanja di toserba di mana Jungkook kerja part-time. Namun sepertinya Tuhan begitu membenci Yoongi, karena lagi-lagi ia dipertemukan dengan polisi bantet yang belakangan ini benar-benar mengganggu hidupnya.

 

Sialnya lagi, saat akan mengambil suatu barang, tangan sosok itu ikutan mengambil barang yang sama. Yoongi lelah Tuhaaannn, kenapa cobaan ini begitu berat?

 

“Ini, biar kamu aja yang ambil.”

 

“Ga usah. Udah ga minat.”

 

Yoongi melengos meninggalkan sosok itu. Tetapi polisi bernama Jimin tersebut selalu punya cara untuk membuatnya jengah. Seolah mengikutinya ke sana kemari, atau meliriknya terus-terusan. Yoongi bosan, mendapati itu semua. Ia pun bosan dengan serentetan sms yang kerap kali dikirimkan sosok itu. Maka Yoongi memutuskan untuk bicara, memintanya berhenti. Supaya sosok itu tidak perlu lagi sok mengkhawatirkannya seolah mereka ada apa-apa.

 

“Eh.” Jimin tersentak saat melihat Yoongi berdiri di depannya. Pemuda tampan itu memasang wajah bertanya yang membuat Yoongi mendengus. “Ada apa, Yoongi-ya?”

 

Berdecak, Yoongi kemudian mulai membuka suara. “Pak, bisa berenti nge-sms saya terus?”

 

“Maaf?”

 

“Semua sms bapak, super duper mengganggu. Bapak tau seberapa pentingnya ponsel dan nomor saya? Saya anak kuliah yang sebentar lagi menghadapi tingkat akhir pak. Tolong berenti nyampah di kotak masuk saya. Bapak bukan siapa-siapa dan bapak ga punya kewajiban untuk ngekhawatirin saya. Jadi, tolong, dengan amat sangat, berenti pak, berenti sms-in saya. Saya muak.”

 

Right into kokoro. Entah mengapa hati Jimin meringis mendengar setiap patah kata yang meluncur bebas dari mulut sosok di depannya. Tangan Jimin yang tadinya tengah mengambil bungkusan snack langsung mengapung di udara, dan napas berat berhembus keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka.

 

Lalu ia tersenyum, pedih. Mengabaikan hatinya yang diremat karena pada akhirnya Jimin tahu… ia sudah kalah. Ia sudah tidak diizinkan lagi untuk berjuang mendapatkan sosok di depannya ini.

 

Maka Jimin hanya bisa bergumam maaf, dengan senyuman yang senantiasa terpatri di kedua sudut bibir dan usapan pada helai caramel Yoongi yang ajaibnya tak ditampik sang empunya rambut. “Maaf… udah bikin kamu ga nyaman, Yoongi.”

 

Mungkin saat itu Yoongi juga berpikir, bahwa setiap nada yang ia dengar dari tujuh kata yang menguar dari bibir Jimin membuat hatinya tercubit. Nadanya terdengar sangat pahit, seolah yang mengucapkannya menahan perih yang seakan ingin menjerit sakit. Apa… Yoongi sudah membuat kesalahan? Apa dia sudah keterlaluan?

 

Pun saat ia merasakan sapuan tangan pada helai rambutnya, Yoongi justru diam dan terpekur di tempatnya. Menyaksikan bagaimana bibir-dengan-senyum milik Jimin menyelipkan kata-kata lagi keluar dari sana. “Kamu mau… saya pergi, kan?”

 

“Ya.” Yoongi sontak menjawab dan langsung menegang lagi melihat kurva senyuman itu melengkung turun, namun kembali lagi seperti semula.

 

Okay. Mungkin emang udah saatnya saya berenti, bukan? Sekali lagi… maaf, ya, Yoongi,” sebelum beranjak meninggalkan Yoongi yang masih tergugu, Jimin mengeluskan punggung tangannya lalu ibu jarinya pada pipi putih tanpa cacat milik pemuda bermahkotakan caramel yang masih berdiam diri di tempatnya. Dan polisi bernama lengkap Park Jimin itu berbisik, “I wish that I could say I love you… and to be with you… without any worries that get me in… to the darkness that I couldn’t escape even for just a step away… from you… and your sweet smile that drive me and sink me into the deep sleep and have no dream except… I ended up living with your hatred that break me for two.”

.

.

.

“ANJU LU MAU NGELAPORIN ORANG YANG CUMA NYATAIN CINTA KE ELU? JAHAD SUMFAH SUGAR?!”

 

“BACOT BERISIK GAUSAH TERIAK BERAPAAN SIH?!”

 

“Sumpah ih lu kok sadis sih?”

 

“Kalo gue ga suka sama tuh orang gimana? Masa lu maksa gue buat nerima dia sih, ge?”

 

“Lu yakin ga suka sama dia?”

 

“…ya.” Yoongi… merasa ragu,

 

“Lu udah ketemu dia lagi?”

 

Yoongi hanya mengangguk.

 

“Kapan?”

 

“Waktu mau berangkat kerja ke sini. Saat itu bang Yujin nganterin gue.”

 

“Terus?”

 

“Ya gitu.”

 

“Ceritain.”

 

“Buat ap—“

 

“CERITAIN!”

 

“IYE BAWEL DAZAR TIANG LISTRIK.”

.

.

.

Diboncengan motor yang sedang membelah jalanan lalu lintas kota Seoul, Yoongi mengoceh tiada henti. Ia memaki-maki abangnya yang makin rajin mengunjunginya. Kenapa sih, makhluk astral macem abangnya harus serajin ini datang jauh-jauh dari Daegu hanya untuk mengantarkannya kerja ke café Zhoumi? Yoongi kan bisa berangkat sendiri (yang biasanya berakhir telat karena sejujurnya dia benci bangun pagi). Lagian café macam apa yang bukan jam 8 pagi gitu?

 

Dan yang membuat Yoongi makin komat-kamit seperti dukun adalah palang razia yang sontak membuat Yoongi memukul-pukul helm yang digunakan abangnya. Dan membuat jempol Yujin kepleset lalu tanpa sengaja mematikan lampu motor dengan berakhir mereka diberhentikan.

 

“Bang Yujin bego ga bisa nyetir lu ngapain sok nganterin gue, hah?” omel Yoongi saat si polisi meminta abangnya menunjukkan surat-suratnya. Namun saat mendongak dan mendapati polisi yang beberapa hari lalu Yoongi temui membuatnya tergugu seketika.

 

Yoongi ingin duluan melengos, tetapi gerakan Jimin berhasil membuatnya membatu di tempat. Tanpa melihatnya, atau menyapanya, atau sebatas memberi senyuman tidak Yoongi dapatkan. Jimin mengabaikannya dan seolah tidak kenal. Hal itu membuat Yoongi berpikir sendiri. Makhluk ini… benar-benar menuruti permintaannya kah?

 

Mengabaikan hatinya yang bertanya-tanya, Yoongi berlalu setelah sebelumnya berteriak pada abangnya dan menaruh helm di stang motor begitu saja. “Bang gue duluan, bye.”

 

Yang tentu saja kemudian mengabaikan sahutan abangnya dan berlalu menyetop taksi yang ada.

 

“Fak. Punya adek gitu amat. Dia yang bikin diberentiin gini juga,” gumam Yujin yang Jimin balas dengan pelan.

 

“Dia adik bapak?”

 

“Iyalah. Kenapa? Mau bilang ga mirip?”

 

“…mungkin sifatnya.”

 

“Kami mah bagai bumi dan langit, makanya—eh bentar, bapak kenal adik saya?” Yujin langsung melihat ke arah polisi yang sedang bicara padanya. Dia melihat bagaimana polisi dengan name-tag Jimin itu terus memperhatikan arah di mana adiknya berlalu. “Bapak siapanya Yoongi?”

 

Jimin langsung tersadar dan mengerjapkan matanya beberapa kali. “Bukan siapa-siapa. Cuma hama yang akhirnya bisa dibasmi.”

 

“HAH?”

 

“Ah, ini surat-surat bapak. Walau sebenarnya bapak melanggar karena lampu motornya tidak menyala, saya pikir bukan masalah besar. Selamat pagi dan selamat beraktifit—“

 

“Bapak mantan adik saya?”

 

“Maaf?”

 

“Atau bapak naksir dia?”

 

Jimin dibuat menatap sosok abang Yoongi. Lalu menggeleng pelan dan tersenyum. “Hari makin siang, bapak bisa telat pergi bekerja.”

 

“Yoongi emang gitu. Dia dingin dan penuh pertahanan diri. Tapi kalo dihantam terus, nanti roboh juga, kok.” Entah darimana datangnya rasa yakin dalam diri Yujin, dia kok berpikir bahwa sosok di depannya ini butuh bantuan. Jika memang sosok itu mengenal Yoongi dan pernah ada hubungan, setidaknya Yujin berpikir bahwa mereka perlu memperbaikinya.

 

“Maaf, saya yang menyukainya. Dan mungkin terlalu percaya diri.”

 

Yujin tersenyum. “Mind to tell me, sir? I can help you about this kid. Saya bisa liat dia berubah belakangan ini dan saya pikir saya perlu ngebantu untuk balikin dia kayak semula?”

 

Jimin dibuat terdiam mendengar itu. Tetapi kemudian dia sadar, dia tidak bisa membebani Taehyung untuk mendengarkan masalahnya. Namun bukan berarti ia akan memanfaatkan kakaknya Yoongi. Jimin hanya ingin tahu, Yoongi itu seperti apa… dan sekalipun tak bisa memiliki, Jimin akan merasa lebih dari bahagia hanya dengan mengenal sosok itu lebih jauh.

 

Dan tanpa keduanya tahu, lampu merah super lama yang menjebak Yoongi dalam taksi membuatnya terus memperhatikan gerak-gerik mereka. Yoongi mengerutkan dahinya melihat kakaknya seolah akrab dengan Jimin. Atau bagaimana akhirnya Yoongi berpikir… mengapa rasanya ia ingin minta maaf pada sosok berambut hitam itu?

 

Adakah sesuatu yang berubah dalam diri dan kesehariannya pada detik di mana ia meminta sosok itu pergi dari hidupnya?

.

.

.

Indeed. Lo berubah semenjak lo minta orang itu pergi. Yakin kayak gitu ga suka?”

 

“100%  ga suka, ge. Ga usah ngajak ribut.”

 

“Cih. Lu moody-an belakangan ini karena ngerasa bersalah, Yoong. Liat aja kalo tiba-tiba itu polisi muncul di depan lu gandeng orang lain. Gue yakin lu langsung cacingan.”

 

Yoongi mendengus. Ia memilih untuk berlalu menyambut tamu yang baru datang. Meninggalkan Zhoumi yang hanya menggelengkan kepalanya. Lalu setelah melihat Yoongi menuju meja pesanan untuk menyebutkan apa yang dipesan tadi, saat itulah bel café berbunyi lagi.

 

Zhoumi dan pemuda caramel itu sontak menengok ke arah pintu. Dan Zhoumi bersumpah ia bisa melihat wajah Yoongi yang berubah tegang. Dengan langkah kaki yang diseret, adik sahabatnya menghampiri kedua sosok itu untuk melayani mereka seprofesional yang dia bisa.

 

“Meja untuk dua orang?”

 

Sosok yang ternyata Jimin dan seorang perempuan masing-masing melihat Yoongi yang menyambut mereka. Jimin memasang wajah terkejut, namun ia langsung mengontrol ekspresinya ketika melihat wajah tersenyum Yoongi –yang justru membuatnya menjerit pedih dalam hati. Lalu menjawab pertanyaan sosok itu dengan datar dan singkat. “3 orang.”

 

Zhoumi di sebrang ruangan bisa melihat sosok yang ia sudah anggap sebagai adik menggigit bibir bawahnya kencang dan dia takut itu akan berdarah. Tetapi Zhoumi tak bisa apa-apa. Apalagi ketika Yoongi dengan lancarnya tetap mematri senyum (yang dipaksakan) di sana.

 

“Satu cappuccino dan strawberry milkshake masing-masing satu. Ada lagi yang bisa saya bantu?”

 

“Tidak, terima kasih.”

 

“Pesanan akan segera diantar. Mohon tunggu sebentar.”

 

Dan Yoongi berlalu… mengabaikan suara hatinya yang mengerang gelisah. Atau tatapan Jimin yang terus mengikutinya. Juga bisikan angin hari itu yang sejujurnya justru menyakiti masing-masing dari mereka. Sebenarnya apa yang terjadi… benarkah satu permintaan benar-benar merubah hidup keduanya seperti ini?

 

Sedenial-denialnya seseorang… jika sudah jatuh apa akan bisa mengelak lagi? Begitu juga dengan hati… seberapa banyakpun menampik jika sudah cinta takkan bisa lari ke mana-mana.

.

.

.

Jungkook mengusap dahinya selesai melayani dua-tiga pelanggan yang mampir ke toserba siang itu. Ia kemudian mendudukkan dirinya di kursi kasir, lalu mengambil ponselnya yang berkedip menandakan ada pesan masuk. Dan langsung menyengir melihat siapa yang mengirimnya dan dengan cepat membalasnya.

 

Jungkook lalu menumpukan kepalanya pada lipatan tangan. Toko itu sedang sepi, dan dia bisa sedikit bersantai sambil sesekali berchat ria dengan kak Seokjin, kak Hoseok dan juga Taetae-hyung.

 

Pemuda bergigi kelinci itu dibuat tersenyum saat mengingat bahwa Taehyung berjanji akan mentraktirnya es krim hari ini.

 

“Permisi, saya ingin membayar.”

 

“Oh, iya! Maaf—loh?! Taetae-hyung?!” Jungkoon terkejut melihat orang yang dipikirkannya tiba-tiba ada di depannya. “Hyung sedang apa?”

 

“Membeli es krim, untuk diberikan pada Jeon Jungkook.”

 

Namun Jungkook cemberut mendengarnya. “Kookie belum selesai kerja, hyung. Pulang dulu gih sana nanti balik lagi.”

 

Hyung tunggu di mobil, oke?”

 

Jungkook hanya menelengkan kepalanya membuat Taehyung mencubit pipinya gemas. “Sampai nanti, Kook.”

 

Dan Taehyung berlalu setelah meninggalkan uang di meja kasir yang langsung membuat Jungkook tersadar. “Loh hyung ini es krimnya?”

 

“Buat kamu.”

 

“Makasih Taetae-hyuuuung!”

.

.

.

Keduanya berjalan beriringan di sepanjang distrik yang dipinggirnya terdapat banyak jajanan. Jungkook tengah berusaha menghabiskan es krim yang dibelikan Taehyung beberapa menit lalu. Mereka kini tengah menikmati waktu jalan-jalan yang ketika ditanya tidakkah Taehyung harusnya bekerja dan sosok itu jawab bahwa jam kerjanya baru saja selesai ketika ia menjemput Jungkook.

 

Jungkook sih iya-iya saja. Karena sejujurnya ia menyukai kebersamaan bersama polisi ganteng satu ini.

 

“Kamu kerja sampe kapan di sana?”

 

Jungkook meliriknya lalu lanjut menjilati es krimnya. “Sampe akhir liburan semesteerrrr.”

 

“Butuh uang banget, Kook?”

 

“Engga sih, hyung. Kookie cuma mau ada kerjaan aja.”

 

“Buat nambah jajan dan uang kuliah?”

 

“Hehehehe iyaaa~ lagian Kookie juga mau beli sesuatu buat kak Sugar~ kak Jin~ sama kak Hosikiii~”

 

“Kamu deket banget sama mereka, ya?”

 

Jungkook langsung mengangguk semangat. “Mereka kakak kesayangan Kookie. Kookie kenal mereka waktu Kookie di sekolah menengah. Terus pas orangtua Kookie mutusin buat balik lagi ke Busan, mereka yang jagain Kookie.”

 

Taehyung hanya tersenyum dan sesekali mengusap lelehan es krim di sudut bibir Jungkook. Lalu menjilat jarinya dengan lidah miliknya. Jungkook tidak melihat itu, karena ia terlalu sibuk dengan makanannya.

 

“Kita mau ke mana lagi, hm?”

 

“Gatau, hyung. Kan hyung yang ajak Kookie jalan-jalan.”

 

“Hmmm, gimana kalau nonton?”

 

“Traktiiiiiiiiirrrrrrrrrrrrrrrr.”

 

“Iya, iya, ayo hyung traktir.”

 

Mungkin rasanya seperti jalan biasa dengan adik kandung. Namun apa yang dirasakan Taehyung berbeda. Haruskah ia bersyukur karena ini ternyata lebih mudah dari apa yang ia bayangkan?

 

Horror, action atau romance?”

 

Animation aja, hyung!”

 

Ngek. Namun mungkin juga Taehyung harus sadar diri. Mau berencana bagaimana pun, Jungkook selalu berhasil menghancurkan itu semua.

.

.

.

Hari ketujuh bekerja sambilan di toserba ujung komplek, ketujuh hari berturut-turut itulah Taehyung selalu muncul dan mentraktirnya jajan. Jungkook sih senang-senang saja. Namun ketika sosok itu menawarkan diri mengantarkan pulang, Jungkook langsung pasang tangan sambil mengatakan tidak.

 

Ia masih belum yakin untuk berkhianat dari kakak-kakaknya. Bagaimana jika mereka sungguhan gantung diri?

 

“Jungkook?”

 

“Oh, eh, Bambam kenapa?”

 

“Lo bengong aja. Pelanggan antri noh.”

 

Jungkook langsung melihat barisan antrian yang berbelanja di toko itu. Jungkook tersenyum minta maaf lalu mulai melayani mereka satu persatu. Dari sekian banyak orang, Jungkook bahkan bisa mengintip rambut caramel Yoongi yang kebetulan mampir ditemani oleh si polisi bantet temannya Taehyung itu. Namun sepertinya mereka sedang terlibat percakapan super serius.

 

Tetapi kepo hukumnya haram bagi Jungkook. Apalagi kekepoan itu berakibat diomelin Yoongi sejam non-stop, jadi Jungkook melengos dan memilih melayani para pelanggan di hari yang cerah itu.

 

Pulangnya, setelah meninggalkan Bambam dengan rekan lainnya, Jungkook dibuat berhenti karena mobil yang sangat dia kenal berhenti di sampingnya. Tak lama kepala Taehyung muncul dari sana. “Halo, hyung.”

 

“Hai, Kook. Mau pulang?”

 

Jungkook hanya mengangguk.

 

“Anter ya?”

 

“Makasih, hyung. Kookie bisa pulang sendiri. Kan bukan anak kecil lagiii.”

 

“Makan dulu, deh?”

 

“Hehehehe,” Jungkook langsung memasang senyum senang saat mendengar itu. Kemudian beranjak masuk ke dalam mobil Taehyung. “Kebetulan Kookie laper hehehe.”

 

“Mau makan apa?”

 

“Hmmm nasi goreng?”

 

“Yakin?”

 

“YUP!”

 

“Oke.”

 

Dan mobil itu membelah malam yang untungnya masih ramai. Coba sepi, mungkin Taehyung berpikir untuk benar-benar menjadikan anak di sampingnya ini untuk jadi miliknya. Seutuhnya.

.

.

.

Seniat-niatnya seseorang untuk menjaga perasaan atau tidak menyusahkan orang lain, pasti ada kalanya khilaf juga. Dan di sinilah Jungkook, benar-benar galau harus berbuat apa. Dia berjanji pada dirinya untuk membantu Yoongi agar bebas dari masalah. Tidak membuat sosok itu khawatir mengenai dirinya. Tetapi Jungkook mengakui bahwa ia menyukai Taehyung. Apa yang harus ia lakukan di saat ia ingin sekali menunjukkan rasa suka itu, pemuda bergigi kelinci tersebut langsung teringat akan Yoongi.

 

Jungkook bingung. Haruskah ia menahan perasaannya sampai temannya Taehyung, Jimin berhasil menaklukkan kakak Sugarnya? Tetapi bagaimana jika tidak takluk-takluk? Jungkook tahu sekali bagaimana kakak tingkatnya itu. Susah ditaklukan, sangat dingin, cuek dan super php. Apa kabar nasib Jungkook nanti? Masa mau ngejomblo terus bareng kak Hosiki? Uhuk.

 

Jungkook hanya menghela napas. Ia lalu menyandarkan kepalanya pada punggung sofa, memejamkan matanya yang mengantuk ia pakai begadang marathon nonton anime semalam, kemudian melirik ponselnya yang terus berkedip.

 

Pasti Taehyung.

 

Sosok itu hari ini mengajak Jungkook menonton lagi. Yang anehnya Jungkook tak pernah merasa bosan berada di dekatnya. Oh, Tuhan, apa yang harus Jungkook lakukan sekaraaaang?

 

‘Ting tong ting tong ting tong ting tong ting tong—‘

 

Bunyi suara beruntun bel membuat Jungkook hampir terlentang di atas sofa. Lalu beranjak untuk membukakan pintu setelah sebelumnya berteriak 7 oktaf pada tamunya. “IYA BENTAAAAAAAARRRRRRRRRR~”

 

Dan tampaklah ketiga kakak kesayangannya dengan tampang yang bikin Jungkook mules. Benar-benar mules sampai kebelet buang air beneran.

 

“HOLAAAA ADIKNYA KAK HOSIKI, KAK JIN IPRIT DAN KAKAK SUGAR TERSAYAAANG~ GIMANA KERJA SAMBILANNYAAAAA?”

 

Yang diajak bicara dan yang disebut namanya langsung tutup telinga karena teriakan Hoseok berpotensi menyebabkan tuli berkepanjangan. Jungkook hanya nyengir sambil berlalu ke dapur membuatkan minuman.

 

Tak lama balasan Jungkook mulai menggema. “Kerjaan Kookie baik, kok, kak Hosikiii. Seru deh, ternyata kerja ga capek-capek amat kok.”

 

Jungkook lalu kembali dengan nampan berisi minuman yang langsung ketiganya teguk. Di situ, Yoongi yang melihat layar ponsel Jungkook berkedip-kedip langsung menyeletuk. “Masih kontakan sama polisi itu?”

 

shit.

 

Jungkook langsung melirik ponselnya yang untungnya langsung mati lagi. Ia duduk di sofa kosong lalu mengambil handphonenya dan mengeceknya. Kemudian memasang mode silent agar tak ada yang mengganggu mereka.

 

“Hehehe ga kok, kaakkk. Cuma… terkadang doang, hehehe.”

 

“Boong ya, Kook?”

 

“Engga koook.”

 

“Okay deh. Percaya,” balas Jin yang terlalu lelah. Kembali ke kampung halaman malah membuatnya frustasi bukannya refreshing. Jin jadi berpikir kenapa hidupnya jadi begini?

 

Ketika hening menyapa mereka, Jungkook masing-masing memperhatikan bagaimana tampang kakak-kakaknya. Jungkook bisa melihat kalau Yoongi berubah akhir-akhir ini. Juga Hoseok yang entah kenapa sedikit berbinar atau Seokjin yang makin terlihat lelah. Maka namja imut itu pun bertanya.

 

“Kalian kenapa, kak? Kok lesu-lesu gitu? Kecuali kak Hosiki tentunyaaa.”

 

Seokjin dan Yoongi bertukar pandang lalu sontak menggeleng. Namun celetuka Hoseok berhasil mengambil alih fokus mereka. “Kak Jin, lo dua hari lalu sama siapa di cafenya Jomi-ge?”

 

“Hah?”

 

“Iyaaa, malem-malem tuh. Lo sama orang. Itu siapa?”

 

Seokjin dibuat meringis mendengar pertanyaan Hoseok. Yoongi ikut penasaran karena hari itu ia memilih membolos karena terlalu malas.

 

“Orangnya ga lebih tinggi dari lo sih, kak. Rambutnya  pirang platinum gitu. Dia pacar lo, ya?”

 

“…bukan.”

 

“Boong.”

 

“…tapi tunangan gue.”

 

“Ohhhhh.”

 

“APA?!!!”

 

Yoongi, Hoseok dan Jungkook memasang wajah ih-serius-lo-Jin-iprit? Yang sukses Seokjin balas dengan geplakan di muka mereka masing-masing.

 

“Iya serius. Nyezek ga sih? Gue balik ke kampung halaman malah dapet kabar gue udah dijodohin.”

 

“Fak.”

 

“Yeah, fak banget. Stress gue makanya.”

 

“Tapi lo kenal orang itu, kan, kak?”

 

“Begitulah. Awalnya gue merasa asing, ternyata dia temen main gue waktu kecil. Lebih tua dia sih beberapa tahun dari gue.”

 

“Whoaaaa, selamat kak Jiiiiin~” seru Jungkook ceria yang Seokjin balas dengusan. Jungkook langsung diam lagi.

 

Tetapi mereka bertiga melihat ke arah Yoongi yang seketika diam. Dan menuntut jawaban. “Kakak Sugaaaar~?”

 

“Apaan?”

 

“Lu kenapa?”

 

“Gue kenapa?”

 

“Lo berubah.”

 

“Pala lu tuh berubah. Gue biasa aja tuh.”

 

“Bang Yujin dan Jomi-ge bilang lu jadi sering bengong.”

 

“Mereka stress. Ngapain kalian dengerin.”

 

“Seri—“

 

“Daripada itu, Kook. Gue liat kok, lu yang jalan sama si polisi itu.”

 

Jungkook langsung mingkem. Takut kena semprot. Namun Yoongi hanya menatapnya datar yang membuat Jungkook makin meringis.

 

“Awas. Kali aja dia cuma main-main.”

 

Seokjin dan Hoseok pikir, mereka tidak tahu duduk permasalahannya. Tetapi mengapa rasanya Yoongi yang sekarang bersama mereka itu aneh? Siapa dia? Kenapa hanya berkata demikian di saat keselamatan Jungkook dipertanyakan?

 

“Eh woi, lu siapa? Di mana Suga kita?”

 

“Jangan ngajak berantem anjir. Ini gue Suga.”

 

“ENGGAAAAA~ kak Suganya Hosiki ga kayak gini bhuhuhuhu~”

 

“Najis lo Hoseok dasar jomblo ngenes abadi yang ga laku-laku.”

 

“Anjir nyelekit banget sih kak Suga kalo udah ngomong. Sakit tau ga kak? Sakiiiiitttttttt.”

 

“Bomat.”

 

“Jaad.”

 

“Serius, Ga. Lu kenapa?”

 

“Elu lah yang kenapa. Orang gue gapapa juga.”

 

“Polisi ban—“

 

“JANGAN SEBUT NAMANYA. SEKALIPUN NAMPANG YANG KALIAN KASIH.”

 

“ANJIR KAGET JANGAN TIBA-TIBA TERIAK.”

 

Seokjin balas teriak saat Yoongi teriak. Dan makin-makinlah ketiga orang itu tahu, ada yang terjadi pada Sugar kesayangan mereka.

.

.

.

Tbc.

Author’s Corner :

Hola. Long time no see. Maaf baru apdet karena baru nemu mood untuk lanjut.

Garing banget ga sih chap ini? Dan sepertinya makin garing juga ffnya. Karena saya liat makin turun peminatnya, hehe. Ff ini saya rencanain udah mendekati ending, rencana. Ga mau bikin panjang-panjang, hehe.

 

Sebenernya konsep bersatunya(?) MinYoon udah kepikiran, tapi saya bingung ngebawanya gimana. Dan soal VKook, kayaknya kalian udah nebak deh gimana kelanjutan hubungan mereka wkwk.

 

Dan makasih untuk yang udah review di chap lalu, yang ngefave atau follow. Dan yang sudah baca. Thanks a lot. And at leaset, gimana menurut kalian chapter ini?

 

Review?

 

Regards,

Yumi

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s