Greatest Accidental ~Chapter 6 {Once Upon A Time}


Greatest Accidental © Fujimoto Yumi, 2016

Park Jimin X Min Yoongi

Kim Taehyung X Jeon Jungkook

BTS’s member © God, themselves

Rated T – M. / Romance, Fluffy, Humor, Friendship.

Slash. Yaoi. Boys Love. OOC. Indonesian!AU.

Police!NamVMin. CollegeStudent!JinSugaHopeKook.

Older!NamVMin. Younger!JinSugaHopeKook.

 

Note : DLDR? I gain no profit by publishing this story.

Based on true story. Thanks to ma friends who inspires me with her story😄

This is just for fun. Enjoy and happy reading.

 

Bahasa non-baku. Beware.

 

Summary : Awalnya iseng mikir untuk bisa lolos dari tilangan polisi, namun pemikiran itu justru membawa Yoongi dan Jungkook pada kenyataan bahwa setiap keisengan akan berakhir dengan konsekuensi (yang membahagiakan dalam kasus mereka).

 

xxxXXXxxx

 

Greatest Accidental

Subtitle Chapter 6 : Once Upon A Time

Summary for this chapter :

Yoongi hanya butuh menuangkan semuanya.

Yoongi, Seokjin, Hoseok sangat butuh untuk menaruh perhatian lebih pada Jungkook, adik tingkat kesayangan mereka.

Dan hari-hari mereka dilewati dengan banyak aksara serta kejadian yang tiada habisnya.

 

xxxXXXxxx

Hari itu sangatlah cerah di kota Seoul. Aktifitas di Pusat Kepolisian Seoul pun tak begitu padat. Seorang namja berkepalakan brunette terduduk di atas kursi kerjanya. Memainkan sebuah kertas yang berisi sederet angka, nomor telepon seseorang yang hingga kini tak pernah dicobanya. Kim Taehyung, salah satu anggota dalam jajaran terpercaya kepolisian itu kini menopang kepalanya sambil terus memelototi nomor tersebut. Haruskah Taehyung mencoba untuk menghubunginya?

 

“Oi.”

 

Tepukan pada bahu yang justru Taehyung dapatkan ketika ia dilanda kebingungan. Dan nampaklah sahabatnya sejak SMP itu kini duduk di sampingnya yang merupakan meja kerja sosok itu juga.

 

“Lu kenapa?”

 

“Diem, Jim. Berisik.”

 

“Apa sih. Baru juga ditanya udah sewot aja.”

 

“Gue bingung, deh…” sahut Taehyung kemudian bersandar di kursinya, lalu satu jarinya memainkan kertas kecil itu. “Gue pengen nyoba nelpon nomor ini tapi kok… ragu?”

 

“Ragu kenapa?”

 

“Ga tau gue juga. Btw lu sendiri, bukannya udah dapet nomornya si Yoongi-Yoongi lo itu ga nyoba ditelpon?”

 

“Buat apa?”

 

“Yha anjir. Pedekate bruh.”

 

“Kost-an dia deket rumah gue kali. Kalo bisa gue samperin ngapain nyampah di ponselnya?”

 

“EH SERIUS?” Taehyung tidak percaya. Ia tanpa sadar mencengkram bahu sahabatnya. “Kok lu untung banget jadi orang?!”

 

Jimin yang dibilang demikian cuma bisa senyum miris. “Beruntung pala lu tuh. Ga tau aja kalo si Yoongi itu galaknya ngalahin macan.”

 

“Ya emang ketauan sih dari mukanya.”

 

“Njir ga usah diperjelas. Udeh, sana coba telpon tuh nomor. Kali aja nyambung.”

 

“Nah kalo engga?”

 

“Ya lu banyak-banyak tobat makanya. Niat lu jelek sih ngepedoin anak di bawah umur begit—ADAW! Sakit, pabo! Kalo mukul ga usah kenceng-kenceng kali?!” cerocos Jimin yang diakhiri rintihan karena Taehyung menggeplak kepalanya.

 

Pemuda berambut brunette itu menghela napas dan mengambil ponselnya. “Gue coba telpon begitu pun elu, Jim. Jadi kalo sama-sama ga kesambung, galaunya ga sendirian gue.”

 

“Bgst. Temen si temen. Kalo galau sendiri aja lu sono.”

 

“Jahat ih pak Jimin sama Taetaehyung.”

 

“NAJIS!” Jimin sontak teriak di muka Taehyung yang lagi-lagi mendapat geplakan. Kali ini dari atasan mereka, pak Namjoon yang entah sejak kapan ada di belakang mereka.

 

“Berisik. Kapan sih kalian belajar soal wibawa, hah?!” omel Namjoon pada dua bawahan terpercayanya itu.

 

Namjoon tidak mengerti kenapa dua anak buahnya ini kadang bisa sangat absurd jika sudah bersama.

 

Jimin dan Taehyung yang mendengar ucapan atasannya langsung menyengir meminta maaf. “Maaf, pak. Khilaf.”

 

“Khilaf setiap hari apa namanya, Jim, Tae?”

 

Tanpa disangka, Namjoon menarik bangku di belakangnya dan duduk menghadap mereka berdua yang sudah memutar kursi itu agar menghadap atasan mereka. Lalu membuka topinya dilanjut mengacak surai pirangnya.

 

“Kalian, sejak tadi ngapain dan ngomongin apa?”

 

Dua orang yang ditanya saling berpandangannya dan masing-masing langsung mengusap tengkuk mereka. Bingung harus menjawab apa.

 

“Oi, saya nanya sama kalian.”

 

“Ga, pak. Ga ada apa-apa, kok. Serius.”

 

“Ada yang bilang ke saya…” dua cowok berbeda warna rambut di depan Namjoon sontak menahan napas menunggu kelanjutan kalimat atasannya. “…kalo kalian lagi jatuh cinta—“

 

“UHUK UHUK.” –dan tiba-tiba batuk padahal tidak sedang makan apa-apa. Mungkin mereka keselek kenyataan bahwa atasan mereka akhirnya tahu keanehan mereka belakangan ini.

 

“Ya, soalnya saya juga merasa akhir-akhir ini kalian beda, gitu loh. Beneran jatuh cinta, Jim, Tae?” tanya Namjoon penasaran.

 

Jimin maupun Taehyung langsung garuk-garuk kepala yang tidak gatal dan membalas pelan –dan hampir berbarengan. “Entahlah, pak.”

 

Tetapi sepertinya namja berusia hampir kepala tiga itu bisa langsung menangkap apa yang terjadi pada dua bawahannya. “Loh, kenapa? Emang inceran kalian sesulit itu sampe kalian lemes gini? Super aneh belakangan dan kayak orang gila senyam-senyum terus?”

 

Sumpah demi apa Taehyung dan Jimin kok merinding? Ini kenapa atasan mereka sampai memperhatikan ekspresi yang mereka keluarkan sih?

 

“Pak… detail amat nanyanya?”

 

“Keberatan, Jim?”

 

“Ga, sih. Tapi…”

 

“Ya?”

 

“Errr… semuanya baik-baik saja, pak. Dan kami janji itu tidak akan mempengaruhi kinerja kami di kepolisian.”

 

Namjoon tiba-tiba tersenyum puas dan bangkit. “Oh, harus. Sebenarnya hanya itu yang ingin saya dengar dari kalian. Karena jika sampai saya melihat kalian zooning out kayak orang ga punya otak, saya ga segan-segan ngehukum kalian. Ingat, kalian itu dua orang kepercayaan saya. Jangan mengecewakan saya. Paham?”

 

Mendengar nada suara Namjoon yang super penuh penekanan itu membuat Jimin dan Taehyung langsung bangkit dari duduknya dan berdiri tegak. Lalu memasang sikap hormat pada atasan mereka.

 

“SIAP PAK!”

 

“Bagus. Kembalilah bekerja.”

 

Yes, sir!”

 

Dan Namjoon meninggalkan mereka begitu saja. Yang mana ternyata dua pemuda tampan itu melewatkan senyum puas, licik tapi penuh kemenangan milik Namjoon (yang disinyalir berisi ejekan juga).

.

.

.

Setelah melihat atas mereka masuk ke dalam ruangannya, secepat yang mereka bisa, Jimin dan Taehyung mengambil ponsel mereka untuk menuntaskan rasa penasaran mereka itu.

 

Mereka bersamaaan menekan sederet nomor telepon di ponsel masing-masing dan melakukan panggilan.

 

Mereka menunggu…

 

Menunggu…

 

Menunggu…

 

Menunggu…

 

Dan menunggu…

 

Dan ternyata…

 

“ARGH SIAAALLLLL?!”

 

Tidak tersambung kawans.

 

Karena ternyata nomor tersebut tidak terdaftar.

 

Poor dua polisi ganteng ini…

.

.

.

Yoongi memaki di depan wajah pemuda di depannya. Seokjin, Hoseok dan Jungkook ada di belakangnya dengan keadaan Jungkook yang terduduk di bawah memegangi kakinya yang kesakitan.

 

“MAKANYA KALO GA PUNYA SURAT IZIN MENGEMUDI ITU GAUSAH SOK BAWA MOTOR. GARA-GARA LO ADEK GUE SAMPE LUKA GITU BRENGSEK?!” semprot Yoongi.

 

Seokjin akhirnya meminta Hoseok menenangkan Jungkook yang kesakitan, lalu mendekati Yoongi yang sudah menguap panas saking marahnya. Dia menyentuh bahu sahabatnya itu, yang Seokjin sendiri yakin bahwa sebenarnya sahabatnya itu juga terluka.

 

“Suga, udah. Mending kita bawa Kookie ke rumah sakit. Ga enak diliatin orang.”

 

“Diem lu. Gue ga mau tau. Gue mau nelpon polisi.” Balas Yoongi tanpa melihat ke arah Seokjin dan hanya memelototi pemuda di depannya. “Lo kalo berusaha kabur, gue kejar lo sampe mati. Bsgt. Gue pengen banget nonjok lo.”

 

“Yoongi.”

 

“Apa sih—“

.

.

.

Jimin duduk santai di samping sahabatnya Taehyung, dalam mobil dinas mereka. Baru saja, setelah frustasi mengenai nomor telepon itu, atasan mereka pak Namjoon tiba-tiba meminta mereka pergi mengantarkan berkas (yang padahal bisa menyuruh opsir lain daripada menyuruh mereka).

 

Saat asik melihat jalanan, Jimin dibuat mengernyit saat di pinggir jalan ia seperti mengenali empat sosok anak adam ditambah 1 anak adam lainnya yang tengah terlibat adu mulut. Dan mungkin Jimin benar-benar mengenali siapa yang sedang mengomel itu.

 

“Tae, berenti coba. Liat tuh ada ribut-ribut apaan.”

 

Taehyung langsung meminggirkan mobilnya dan mengikuti Jimin yang keluar untuk melerai perdebatan itu.

 

Seokjin dan Hoseok yang menyadari itu ingin memperingatkan Yoongi, namun tidak jadi.

 

Jimin dan Taehyung bisa mendengar bahwa Yoongi (tuh kan Jimin benar) sedang memaki sosok di depannya. Dan pandangan Taehyung langsung jatuh pada Jungkook yang terduduk di bawah dengan tangan memegangi kakinya ditambah ekspresi kesakitan di wajahnya.

 

“—nonjok lo.”

 

“Yoongi.” Jimin memegang bahu Yoongi membuat namja manis itu berusaha menyingkirkan tangannya. Disertai penolakan yang keluar dari bibirnya.

 

“Apa sih—“ dan ketika Yoongi menoleh, ia sontak memutar bola mata bosan. “Lo lagi. Ga cape apa muncul terus di hidup gue?”

 

Jimin hanya mengabaikan itu dan menatap dari atas sampai bawah sosok di depan Yoongi, lalu pemuda berambut orens tersebut menoleh ke arah Taehyung yang mengkhawatirkan Jungkook. “Tae, lo bawa Jungkook ke rumah sakit pake mobil. Biar di sini gue yang nanganin.”

 

Taehyung yang mendengar itu mengangguk. Kemudian beralih lagi ke arah Jungkook yang masih terduduk. “Kamu bisa jalan, Kookie? Sakit banget ga kakinya?”

 

Taehyung benar-benar khawatir. Ia sampai menggulung bagian bawah celana Jungkook untuk melihat memarnya akibat jatuh dari motor. Dan ia juga tahu mungkin Yoongi, inceran Jimin mendapat luka yang sama.

 

Jungkook menggeleng membalas Taehyung. “Kaki Kookie sakit banget, hyung. Hiks… ga bisa jalan huweeeee.”

 

“Iya, sini hyung bantu, ya?” selesai berucap demikian, Taehyung mengambil tangan Jungkook dan menyampirkannya di pundaknya. Kemudian satu tangannya ia selipkan di bawah kedua lutut Jungkook. “Nah sekarang kita ke rumah sakit. Kunci motor kamu kasih ke Yoongi aja.”

 

Jungkook hanya mengangguk-angguk kemudian menyerahkan kunci motornya pada Yoongi dan melepas helm yang ia pakai untuk selanjutnya diterima Jimin. Seokjin dan Hoseok mengikuti di belakang. Taehyung pun beralih pada mereka.

 

“Kalian berdua ikut saya.” Dan hal itu hanya dibalas anggukan kepala oleh keduanya. Walau sebenarnya Seokjin dan Hoseok mengkhawatirkan Yoongi juga.

 

“Kak, kita ketemu di rumah sakit, ye?” ucap Hoseok yang hanya Yoongi balas dengan anggukan.

 

“Kontrol emosi, kawan. Jungkook bakal baik-baik aja.” Seokjin menyahuti Hoseok.

 

Yoongi mendelik sadis pada sahabatnya. “Bacot. Udah sana lu pergi. Bikin gue tambah emosi aja si.”

 

“Galak ye tetep. See you there, kawan.”

 

Dan kali ini Yoongi hanya mengabaikan. Pun ia justru mengalihkan pandangannya lagi ke arah sosok di depannya lalu ke polisi di sampingnya. “Bisa cepet diproses ga sih, pak? Mesti banget kita stay di sini di saat Jungkook lagi luka gitu?”

 

Pedas. Serius. Jimin sampai merinding mendengarnya. Dan disinyalir pemuda di depan mereka pun demikian. Maka daripada mendapat kejudesan Yoongi terus menerus, Jimin pun mengulurkan tangannya untuk meminta surat-surat. Namun dalam prosesnya, ia sempat melihat Yoongi yang meringis kecil entah karena apa.

 

“Surat-surat kamu?”

 

“Errr… pak… saya lagi buru-buru makanya—“

 

“Tolong surat-surat kamu.” tegas Jimin. Jujur ia jadi frustasi karena sedari tadi Yoongi berdiri tidak bisa diam di sampingnya sambil merintih. Jimin khawatir. Serius.

 

Pemuda berambut orens itu menghela napas kemudian. “Kamu tidak memiliki surat-surat dan kamu berani mengendarai sepeda motor ini. Saya tidak punya pilihan selain membawa kamu ke kantor.”

 

“Tapi pak—“

 

“Berikan saya kartu pelajar kamu.”

 

“Pak—“

 

“Loh, pak Jimin?”

 

Bersamaan dengan itu panggilan pada Jimin menggema. Jimin langsung menoleh dan mendapati teman sekantornya tengah menatapnya penuh tanda tanya. Jimin bersyukur dalam hati kemudian menepuk pundak rekannya. “Kebetulan, pak Jun, bisa tolong tangani anak ini karena saya harus membawa Yoongi ke rumah sakit?”

 

“Yoongi?”

 

“Pemuda di samping saya. Kalau begitu saya duluan.”

 

Sosok yang dipanggil Jun hanya mengangguk dan menggantikan Jimin memproses remaja itu.

 

Jimin pun mendekati motor Jungkook lalu beralih pada Yoongi. “Biar motornya saya yang bawa,” ucapnya lembut. Sembari matanya memperhatikan ekspresi yang Yoongi keluarkan. Atau bagaimana Jimin berusaha mematri wajah itu dalam ingatannya.

 

Satu tangannya tanpa sadar terjulur untuk mengusap pipi Yoongi. Mata mereka bertemu untuk beberapa detik, sampai ketika Yoongi menampik tangan Jimin, Jimin pun tersadar dan kembali meminta kunci motor Jungkook.

 

“Ehem. Tadi ada noda di pipi kamu.”

 

“…” Yoongi diam saja. Ia pun sudah tidak protes lagi karena sejujurnya kakinya memang sakit, dan sepertinya keseleo karena jatuh akibat motor yang dikendarai Jungkook disenggol motor remaja tadi.

 

“Kamu bisa naiknya? Kaki kamu sakit kan?”

 

“Nyalain aja motornya terus cus ke rumah sakit. Bapak nanya mulu kayak tukang sensus.”

 

Mendengar itu Jimin sontak terkekeh. “Maaf. Saya cuma khawatir, kok.”

 

“Ga perlu. Emang bapak siapanya saya pake khawatir segala? Bokap bukan, nyokap bukan, paman, abang, kakek, sepupu, ponakan, pembantu juga bukan ya ga ada hak khawatir kali.”

 

Yalord, nyesek. Begitulah teriakan pilu hati Jimin kala itu. Ia pun hanya pasrah dan menjalankan motor yang ia kendarai ke arah rumah sakit terdekat.

 

Sesampainya di sana dan telah memarkirkan kendaraan, Yoongi sudah turun lalu menaruh helmnya di stang motor, lalu jalan masuk mendahului Jimin. Namun Jimin tahu Yoongi pasti kesakitan karena jalannya terseok begitu. Maka Jimin mendekatinya dan mengambil tangannya untuk ia rangkulkan ke bahunya.

 

Yoongi langsung berontak, tetapi kali ini Jimin ingin lebih egois.

 

Stay still. Kamu kesakitan, Yoongi. Biar saya bawa kamu ke tempat duduk di dalam dan saya lihat kaki kamu.”

 

Kali itu, dan mungkin untuk yang pertama dan terakhir kalinya, Yoongi mau menurut. Karena sumpah demi apa, kakinya benar-benar sakit dan Yoongi tidak yakin ia akan bisa berjalan dengan baik.

 

Maka dibiarkan saja ketika Jimin membawanya masuk ke dalam lobby rumah sakit. Ia juga pasrah saat Jimin mendudukkannya disusul dengan namja itu yang berlutut di bawahnya untuk membuka sepatu dan kaus kaki Yoongi.

 

Biru keunguan. Yoongi bisa melihatnya. Sepertinya bengkak, dan keduanya sontak meringis. Jimin memijat pelan pergelangan kaki Yoongi membuat si empu mengernyit sakit, namun ia tahan. Yoongi tidak ingin Jimin mendengar rintihannya.

 

Dan Jimin yang merasa bahwa ia bukanlah anak medis pun menyerah, mungkin memang harus menyerahkannya pada pihak yang ahli selagi mereka berada di tempat yang tepat.

 

“Ayo, saya pikir kamu perlu periksain ke dokter.”

 

“Ga usah. Cuma keseleo, kalo diurut nanti sembuh. Udah, bawa aja gue ke tempat Jungkook.”

 

“Tapi Yoongi—“

 

“Pak, tolong… ga usah terlalu ngekhawatirin saya bisa?”

 

Jimin benar-benar menyerah sekarang. Sepertinya, semuanya memang tidak akan semudah yang ia pikir untuk menaklukan sosok satu ini.

 

Menghela napas untuk selanjutnya berdiri, Jimin memasang senyum seperti biasanya lalu membantu Yoongi berjalan lagi, menuju ke tempat di mana Jungkook berada.

 

Karena jatuh cinta… tak pernah butuh alasan ataupun menyerah begitu saja walau penolakan ada di depan mata. Benar begitu, kan?

.

.

.

Seokjin dan Hoseok memaki diam-diam karena sialnya Jungkook malah meminta Taehyung yang menemaninya diperiksa di dalam. Demi semua susu kesukaan Jungkook, sebenarnya doktrin jenis apa yang Taehyung gunakan sehingga membuat namja kelinci itu mendadak lengket padanya?

 

Mereka khawatir, bagaimana jika Jungkook sungguhan suka sama Taehyung? Bisa gawat kaaan?

 

“Oi, kalian ngapain di luar bedua? Jungkook mana?”

 

“Di dalem.”

 

“Sama pak polisi tadi.”

 

“Ap—aw.” Yoongi yang ingin menyambangi ruangan itu langsung tertahan karena kakinya tiba-tiba sakit. Pemuda berambut mint itu hanya bisa duduk pasrah di ruang tunggu kemudian mengumpat entah pada siapa. “Sialan.”

 

Seokjin dan Hoseok menyusul duduk di sampingnya disertai kekhawatiran dan rentetan pertanyaan yang Yoongi balas ketus. Karena jujur, ia benar-benar malas menjawab sekarang.

 

Yoongi pun kemudian melirik sinis ke arah Jimin yang hanya berdiri diam masih dengan senyum di bibirnya.

 

‘Awas aja kalo temen lu si polisi pedo itu ngapa-ngapain Jungkook. Mati lu, ntet, mati.’

.

.

.

Beberapa menit yang lalu –hingga sekarang.

 

Taehyung mendampingi Jungkook sembari menunggu dokter menangani namja kelinci itu. Ia mengelus rambut hitam Jungkook yang basah karena keringat dan menghapus peluh di dahi pemuda imut itu.

 

Juga jemarinya mengusap jejak air mata yang masih tersisa di kedua pipi Jungkook.

 

“Udah dong jangan sedih, hyung udah temenin Kookie di sini, kan?”

 

“S-sakit hyung… hiks…”

 

“Iyaaa, tapi ntar sakitnya ilang, kok. Kookie jangan takut, ya? Taetae hyung bakal nemenin Kookie terus di sini, hm?”

 

Jungkook hanya mengangguk dan menikmati perlakuan Taehyung padanya. Menikmati bagaimana tangan besar nan hangat itu mengelus-elus rambutnya, mengusap wajahnya dan matanya yang tajam tersebut memandangnya lembut.

 

Mau menampik rasa suka yang Jungkook rasakan? Percuma. Jujur pun sudah tidak berlaku karena dia yakin sekali ketiga kakak tingkatnya sudah tahu mengenai hal ini. Nah tapi… apakah Taehyung juga sadar?

 

Mungkin iya, dan mungkin tidak.

 

Dan Jungkook juga tidak mau mengkhawatirkan kakak-kakaknya itu, apalagi kakak Suganya tersayang yang mana Jungkook ingat bahwa ibunya sempat berkata bahwa ia menitipkan Jungkook padanya. Sekalipun kost-an mereka berbeda, terkadang Yoongi ditemani Seokjin pergi mengunjunginya untuk memastikan bahwa Jungkook hidup dengan baik.

 

Maka Jungkook diam saja, dan bersikap seolah ia masih butuh petunjuk sekalipun ia sempat dengar dan mendapati betapa sosok di depannya ini menginginkannya. Jungkook memang polos, namun bukan berarti ia buta mengenai rasa suka ataupun cinta.

 

Jungkook hanya ingin membantu Yoongi menjaga dirinya dengan tidak membuat masalah. Itu benar kan?

 

“Kookie?”

 

“Eh? Iya, Taetae-hyung kenapa?” Jungkook mengerjap lucu. Hal itu membuat Taehyung mencubit gemas pipinya.

 

“Kamu imut banget sih.”

 

Jungkook nyengir saja. Karena dia sudah biasa dibilang begitu oleh ketiga kakak tingkat kesayangannya dan teman-temannya. “Kookie emang imut, hyung~”

 

Taehyung tersenyum lagi dibuatnya. Ia pun mengelus pipi pemuda lucu itu dan tiba-tiba teringat akan nomor telepon itu.

 

“Eh iya, Kook, nomor yang waktu itu kamu kasih ke hyung salah ya?”

 

Jungkook menelengkan kepalanya, lalu menepuk dahinya kencang membuat ia mengaduh sendiri yang Taehyung respon dengan kekehan. Pemuda brunette itu kemudian mengelus-elus sayang dahi Jungkook, mengecupnya untuk menghilangan sakit yang dirasa. (INI SUMPAH TAEHYUNG MODUS GILA. Gue khilaf, maaf.)

 

“Hehehe, Kookie salah nulis dua nomor paling belakang hyung. Maaf yaaa? Yang bener itu 97 bukan 79.”

 

“Dasar.” Taehyung hanya membalas demikian lalu menjawil hidung Jungkook.

 

Jungkook pun hanya menyengir polos. Dan dengan jarak mereka yang begitu dekat, siapapun pasti yakin kalau mereka sedang berusaha melakukan sesuatu apalagi dengan wajah Taehyung yang perlahan mendekat dan—

 

“Selamat sia—“

 

“ADUH.” Taehyung langsung mengusap dahinya yang terkena dahi Jungkook karena pemuda itu membenturkan dahi mereka.

 

Sakitnya bukan main, dan Jungkook hanya terus terkekeh minta maaf. Lalu membiarkan dokter yang baru datang untuk memeriksa kakinya. Meninggalkan Taehyung yang mengumpati dokter itu akibat timingnya yang sangaaaaaaat tidak tepat.

.

.

.

“Kok lama? Ngapain aja di dalem? Kaki lu gimana, Kook? Kata dokter apa? Terus—“

 

“Oi, pelan-pelan buset itu mulut apa kereta api, sih?” Seokjin langsung memotong setiap kata yang keluar dari mulut Yoongi.

 

Yoongi mencibir ke arahnya. “Diem. Gue khawatir, njir.”

 

“Ya sama kali. Emang lu doang?”

 

“Makanya diem gue kan lagi nanya sama si Jungkook.”

 

“Ya seengganya kasih dia kesempatan napas dulu, napa.”

 

“Elu kok—“

 

“Oke stop kakak-kakakku yang paling baiiiiiiik tapi banyak bacot, satu-satu nanyanya dan mungkin biar Hosiki yang nanya,” lerai Hoseok lelah akibat kelakukan kedua kakak tingkatnya. Pemuda berambut hitam itu lalu beralih ke arah Jungkook yang masih dipapah Taehyung. “Kookie baik-baik aja kan? Kata dokter apa?”

 

“Pa—“

 

“Iya, Kookie? Bilang aja jangan takut, hm?” saat melihat Taehyung akan menjawab pertanyaannya, Hoseok memilih untuk melempar tanya lagi supaya ia bisa memotong kalimat sosok itu. Ia ingin Jungkook yang menjawab, bukan Taehyung.

 

Taehyung yang mendapati respon demikian pun diam, Jimin tak jauh darinya sudah mau ngakak melihat betapa speechlessnya wajah sahabatnya.

 

“Kookie?”

 

“Patah kak, kayaknya abis nahan biar ga jatuh tuh, terus ketiban motor jadi bunyi—krak—patah deh.”

 

“Ya ampun adiknya kak Hosiki kasian banget sih, udududududu,” Hoseok langsung mengambil alih Jungkook dari tangan Taehyung dan pelan-pelan membawanya menjauh dari dua polisi itu. “Bisa jalan ga? Kalau engga kak Hosiki gendong aja ya, ya, ya? Piggy back?”

 

Jungkook hanya mengangguk-angguk dan membiarkan Hoseok menggendongnya di belakang. Lalu Seokjin pun memapah Yoongi untuk pergi dari tempat itu juga, dengan sebelumnya mengucapkan terima kasih pada dua polisi yang hanya memperhatikan mereka sedari tadi.

 

“Makasih ya, pak, udah bantuin. Selamat siang.”

 

Menahan mereka tidak ada gunanya, menawarkan tumpangan tidak akan diterima, maka dari itu Jimin dan Taehyung hanya tersenyum dan mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah apa-apa selain membantu orang yang membutuhkan.

 

Pun kedua namja tampan itu hanya bisa melihat pujaan mereka semakin menjauh dan menghilang di ujung koridor rumah sakit, dan ingat bahwa mereka harus membayar biaya rumah sakit ini.

 

Jalan cinta kadang sulit, tetapi bukan berarti harus menyerah di tengah-tengah, kan?

.

.

.

Beberapa hari setelah itu, Yoongi maupun Jungkook sudah kembali masuk kuliah, setelah maksa Seokjin dan Hoseok (beserta gebetannya) untuk menjemput mereka supaya bisa nebeng ke kampus. Sebenarnya hanya Yoongi yang memaksa sih, tetapi ia juga sudah bosan karena Jungkook terus memintanya untuk masuk kuliah lagi (Jungkook menginap di tempat Yoongi selama kakinya sakit. Dan kembali ke kost-annya ketika sudah baikan.)

 

Mereka berempat kini berkumpul di dalam ruang kelas yang kosong. Ngadem sambil santai-santai dan bertindak sesuka hati.

 

Jungkook di salah satu kursi tengah cengengesan melihat ponselnya. Yoongi, Seokjin dan Hoseok curiga dan ingin bertanya, namun kelelahan hari ini mengurungkan niat mereka. Jadi mereka membiarkan saja.

 

Lalu Yoongi mengusak kasar rambutnya karena sedari tadi ponselnya berbunyi, atau ketika tanpa sengaja ingatan membawanya pada waktu di mana ia tanpa sadar bertemu dengan polisi bantet itu lagi.

 

Sial, Yoongi lelah, lelah akan kehadiran polisi kurang kerjaan itu.

 

“Lu napa sih kak Suga?” Hoseok tiba-tiba bertanya.

 

Yoongi tak sedikitpun melepaskan tangannya dari rambutnya (yang kini berwarna caramel) yang sudah acak-acakan. “Pusing. Pengen nonjok atau makan orang.”

 

“Widih sadeeeeees.”

 

“Napa sih lu. Badmood banget daritadi,” Seokjin menyahut. Jungkook hanya diam mendengarkan.

 

“Polisibantetsialanmodussokbaikpedo itu kenapa sih harus muncul terus depan gue?”

 

“Polisi bantet apa?”

 

“Au.”

 

“Ye kan maraaaaahhhh.”

 

Seokjin dan Hoseok menarik bangku mendekati Yoongi, lalu Hoseok menarik bangku Jungkook untuk mendekat juga.

 

“Jadi, lu sering ketemu tuh polisi?”

 

“Ya.”

 

“Gimana rasanya?”

 

“Jangan ngajak adu jambak, Jin. Kaki gue masih sakit, njir.”

 

Dugeun-dugeun ga, kak?”

 

“Bsgt. Nanya gitu lagi gue bikin lu sama kak Chwang ga akan bisa bersama.”

 

“Sadis banget…” Hoseok sedih dan akhirnya langsung memilih diam.

 

“Lu ya, kalo gue liat sih emang sering uring-uringan sejak polban itu masuk ke idup lu, ‘Ga. Yakin lu ga dugeun-dugeun ka—“

 

Plok!

 

“—ANJIR SAKIT WOI! NGAJAK BERANTEM NIH ORANG?!” Seokjin langsung teriak karena Yoongi menggeplak keras kepalanya.

 

“AYO AJA BERANTEM LAGIAN LU BIKIN EMOSI JUGA SIH.”

 

“ANJIR GUE PUNYA TEMEN GALAK BANGET SIH KAYAK LU.”

 

“PROTES MULU TAPI TETEP TEMENAN SAMA GUE.”

 

“ALAH SERAH BTW SAKIT BENERAN NJIR.”

 

“MAMPUS.”

 

Hoseok dan Jungkook hanya memperhatikan keduanya yang saling melotot dan adu bacot sambil siul-siul. Kira-kira siapa yang menang?

 

“Udahlah capek,” ucap Seokjin yang kembali duduk, menyerah menanggapi Yoongi lagi. “Jadi… lu protes apalagi kali ini?”

 

“Gue cuma kepengen manusia bantet satu itu lenyap dari hidup gue. TETAPI SIALNYA SIAPA BEDEBAH BRENGSEK YANG NGASIH NOMOR GUE KE DIAAAAA?”

 

“Hah?”

 

“Ga tau udah berapa kali dia sms gue. Capek serius. Maunya apa sih. Minta banget gue laporin ke polisi tuh orang.”

 

“Polisi dilaporin ke polisi. Tunggu dulu ah, akhirnya gimana itu?”

 

“Akhirnya lu ga bersatu sama kak Chwang dan ngejones selamanya, Hos.”

 

“Anjir nyelekit. Oke gue diem lagi, kak.”

 

“Bagus.”

 

“Jadi intinya?”

 

“Siapapun manusia laknat yang ngasih nomor gue ke dia, tolong kasih tau orangnya buat berenti sms-in gue terus sebelum gue laporin dia ke polisi atas tindakan kepedophilannya.”

 

“Sadis asli lu, ‘Ga.”

 

“Bodo.”

 

“Kayaknya pak polisi bantet itu serius sama kak Suga deh~”

 

“Kook jangan ikutan. Lu juga kenapa jadi lengket sama polisi pedo itu sih? Dan sejak kapan pak polisi jadi hyung-hyungan?” Yoongi bertanya sambil menatap tajam Jungkook yang langsung menunduk takut.

 

“Sejak saat itu.”

 

“Ya, kapan, elah gemes gue pengen gue cubit.”

 

“Jangan! Cubitan kak Suga kan sakitnya sampe tiga hari baru ilang.”

 

“Lebay njir.”

 

“Ciyusan dih.”

 

“Jadi, Kook?”

 

“Waktu itu ga sengaja ketemu pas lagi beli nasgor, kak. Ya terus Taetae hyung—“ ketiga kakak tingkat Jungkook sontak mengernyit jijik pengen muntah mendengar panggilan itu diucapkan Jungkook. “—minta Kookie manggil dia begitu.”

 

“Kok lu mau aja manggil dia begitu?”

 

“Loh emangnya kenapa? Kita kan jadi orang ga boleh sombong-sombong kak~”

 

“Kook…”

 

“Ya?”

 

“Awas lu kalo diem-diem jadian sama dia. Kita bertiga bakal gantung diri.”

 

Jungkook loading.

 

Satu detik…

 

Dua detik…

 

Tiga detik…

 

Lima detik…

 

Sepuluh detik…

 

Limabelas detik…

 

Tigapuluh detik…

 

Satu menit—

 

“EEHHH?”

 

Hari itu, teriakan Jungkook berhasil membuat semua dosen yang sedang mengajar di kelas keluar dari ruangan untuk mencari tahu dari mana asal suaranya, dan mempersiapkan hukuman apa saja jika menemukan pelakunya.

.

.

.

Tbc.

A/N :                                                          

Yup. Here we are. Maaf kalau humornya… missed again. Pissss.

Chap ini full flashback, di mana di chapter kemarin gue jelasin kalo kaki Jungkook dan Yoongi itu cedera dan keseleo (if you didn’t miss it.) Nah, inilah penjelasannya wkwk.

And, well, gimana dengan chapter ini? Boleh minta pendapatnya di kolom review?

Thanks a lot! And see you in another chapter!

 

Regards,

Yumi.

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s