Greatest Accidental ~Chapter 5 {Should We Call It As A Luck?}


Greatest Accidental © Fujimoto Yumi, 2016

Park Jimin X Min Yoongi

Kim Taehyung X Jeon Jungkook

BTS’s member © God, themselves

Rated T – M. / Romance, Fluffy, Humor, Friendship.

Slash. Yaoi. Boys Love. OOC. Indonesian!AU.

Police!NamVMin. CollegeStudent!JinSugaHopeKook.

Older!NamVMin. Younger!JinSugaHopeKook.

 

DLDR? I gain no profit by publishing this story.

Based on true story. Thanks to ma friends who inspires me with her story😄

This is just for fun. Enjoy and happy reading.

 

Bahasa non-baku. Beware.

 

Summary : Awalnya iseng mikir untuk bisa lolos dari tilangan polisi, namun pemikiran itu justru membawa Yoongi dan Jungkook pada kenyataan bahwa setiap keisengan akan berakhir dengan konsekuensi (yang membahagiakan dalam kasus mereka).

 

xxxXXXxxx

 

Greatest Accidental

Subtitle Chapter 5 : Should We Call It As A Luck?

Summary for this chapter :

Sial sudah. Tujuh turunan.

Mengapa ini semua harus terjadi pada Yoongi?

Dan kenapa lagi Jungkook benar-benar menaruh hati pada polisi pedo itu?

Jawabannya, hanya Author dan Tuhan yang tahu.

 

xxxXXXxxx

Hari itu sudah hampir memasuki jam makan siang. Yoongi dan Seokjin baru saja selesai kelas dan berniat langsung ke kantin. Mereka membicarakan apa saja yang masuk akal dan tidak. Juga sedikitnya mereka mengkhawatirkan adik tingkat mereka, Jungkook, yang sepertinya sudah terkontaminasi virus dari si polisi pedo itu.

 

Kan ngeri, kalau Jungkook suka pada polisi pedo itu.

 

Tetapi semoga itu hanya pemikiran keduanya (bertiga sih sama Hoseok).

 

Saat keluar dari gedung fakultas yang langsung dihadapkan pada lapangan besar, Yoongi yang berjalan paling depan mengernyit. Ia lalu menggaruk lehernya yang tidak gatal ketika melihat ada banyak staff dan dosen yang baru saja berhamburan bubar di sana. Namun yang menarik perhatiannya adalah—kenapa ada seseorang berseragam polisi bersama rektor kampus mereka?

 

Mau teriak lalu ngumpat kan tidak enak. Tetapi kegelisahan yang mendera Yoongi tiba-tiba terjawab saat salah satu dari ketiga polisi itu menoleh ke tempat di mana Yoongi berdiri, lalu berkedip.

 

“Yalord napa nasib gue sial mulu, sih.”

 

Yoongi merutuki nasibnya yang sepertinya lagi-lagi harus berurusan dengan polisi. Inikah karma karena membohongi oknum bertubuh bantet waktu itu?

 

Entahlah.

 

Seokjin yang mendengar protesan Yoongi langsung melihat ke arah depan di mana Yoongi menjatuhkan pandangannya. Alisnya mengernyit ketika mendapati sosok yang sepertinya ia kenal. Tetapi… Jin sendiri juga tidak yakin?

 

Lalu ia merasakan tarikan pada tasnya yang berasal dari Yoongi. Dan ajakan untuk kabur. “Jin, mending kita cabut yuk sebelum dipang—“

 

Namun…

 

“Oh, Yoongi-ah!”

 

“—gil. Mampus aja kan kenapa rektor manggil nama gue sih?” Yoongi dengan malas menghampiri sang rektor dengan menyeret Jin di sampingnya.

 

Saat sampai di depan bapak rektor keduanya membungkuk sedikit lalu melempar senyuman terpaksa (hanya Yoongi sih). Lalu menyapa balik. “Siang, pak. Masih napas, pak?”

 

“Siang, Yoongi-ah. Tentu saja saya masih nap—Ya! Kamu ini tidak berubah.” Mr. Jang selaku rektor Universitas Bangtan menggeleng mendapati kelakuan Yoongi yang tidak berubah sama sekali.

 

“Piss bapaknya. Kan kali aja bapak di sini tapi ga napas.”

 

“Min Yoongi.”

 

“Oke, pak. Saya diem kok.”

 

“Ah, saya hampir lupa. Kenalkan, ini teman saya, Namjoon kepala polisi di kota kita, Seoul, dan 2 bawahan terpercayanya.” Mr. Jang mengenalkan ketiga polisi di sampingnya itu. Yang mana Yoongi sendiri sedari tadi menghindari tatapan salah satu polisi yang sudah sangat ia hapal wajahnya.

 

Si polisi bantet bernama Jimin yang sejak Yoongi keluar fakultas sudah menjatuhkan pandangannya pada Yoongi.

 

Yoongi dan Seokjin hanya tersenyum saja kemudian membungkuk. Lalu keduanya garuk-garuk leher bingung harus bagaimana.

 

“Loh, kenalkan nama kalian dong,” ucap Mr. Jang.

 

Yoongi langsung menyumpahi namja tua itu supaya cepat berhenti bernapas dan berhenti menyusahkannya.

 

Yoongi memasang wajah tersenyum paling terpaksa sepanjang ia hidup. Lalu menyapa ketiga polisi itu. “Annyeong, Yoong imnida.”

 

“Dan jabatanmu, Yoongi, jabatan.”

 

Yoongi langsung memaki lagi dalam hati, memasang senyum super terpaksa dan mengenalkan diri lagi. “Annyeong, Yoongi imnida. Ketua BEM Universitas Bangtan.”

 

Sebelum diminta aneh-aneh lagi oleh rektor kampusnya, pemuda berambut mint itu lalu menyenggol Seokjin yang sontak mengikuti kelakuannya. “Seokjin imnida, sir. Wakil ketua BEM Universitas Bangtan. S-salam kenal.”

 

Sosok yang tadi dikenalkan sebagai kepala polisi memasang senyum khasnya kemudian ikut memperkenalkan diri. “Halo, Namjoon imnida. Senang bertemu kalian berdua terutama dengan Seokjin-ssi,” kata sosok itu membuat yang disebut namanya memiringkan kepalanya bingung.

 

Lalu dua anak buahnya ikut memperkenalkan diri dan Yoongi sudah berlagak memalingkan wajahnya pura-pura tak mendengar atau melihat apa yang dilakukan mereka.

 

Hal itu membuat Jimin terkekeh. Berbeda dengan Taehyung yang sepertinya mencari orang lain. Namun belum ia sempat bertanya, sosok yang Taehyung cari sudah berteriak dari kejauhan memanggil kedua kakak tingkat kesayangannya.

 

“Kak Sugaaaaaaaaaaaaaaaa~ Kak Jiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin~”

 

Jungkook dengan pedenya berlari menghampiri mereka. Namun saat sudah sampai di tengah perjalanan, Hoseok tiba-tiba datang dan membelokkan arahnya dengan merangkul Jungkook, membawanya pergi ketika melihat sinyal dari Yoongi untuk melenyapkan Jungkook dari hadapan mereka berenam.

 

Seokjin makin menggaruk lehernya yang tidak gatal lalu berucap maaf. “M-maafkan Jungkook. Dia memang suka seperti itu, hehe…”

 

Mr. Jang hanya tertawa. “Saya tahu. Jungkook-ah itu simbol masa muda bukan? Begitu semangat dan ceria.”

 

Juga polos pake banget,’ tambah Yoongi maupun Seokjin dalam hati.

 

Dan kedua sahabat itu tiba-tiba teringat, ini waktunya makan dan perut mereka sudah keroncongan minta diisi. Maka pamitlah mereka berdua kepada sang rektor dan tiga polisi tersebut.

 

“Ehm… pak, kalau gitu kami pamit ke kant—“

 

“Ohiya, sekarang waktunya makan siang. Kenapa kalian tidak menunjukkan di mana letak kantin kampus kita?”

 

YALORD MATI AJA LU PAK JANG!’ kata Yoongi dalam hati sambil mengumpat-umpati rektor kampusnya.

 

Tetapi mereka tidak punya pilihan lain. Yakinkan Seokjin untuk berhenti jadi anak baik lalu ikut menyumpahi sang rektor kampus tercinta bersama Yoongi sekarang ini.

.

.

.

Dan di sinilah mereka. Duduk berdampingan satu sama lain di bangku meja kantin. Yoongi berhadapan dengan Jungkook dengan di samping kirinya Hoseok, di kanannya ada Taehyung dan di samping kanan Taehyung ada Jimin. Di sebelah kiri Yoongi sendiri ada Seokjin dan berikutnya adalah Namjoon. Yang mana posisi duduk itu disambut ceria oleh Jungkook dan protesan oleh Seokjin dan Jimin.

 

Hoseok sih diam-diam saja sambil memakan makanannya. Namun ketika melihat wajah bête kakak-kakak tingkatnya, ia pun dengan tanpa takut kena tabok Yoongi bertanya. “Muka lu berdua kenapa, kak? Sepet amat kayak abis dikasih tugas-deadline-24jam dari Mr. Kim?”

 

Yoongi langsung melotot pada Hoseok yang seketika meringis. “Galak ya, tetep. Kak Suga jangan kutuk adikmu yang tampan ini.”

 

“Najis.” Ucap seseorang di samping kanan Yoongi membuat semuanya melirik ke arah situ. Yoongi langsung mengernyit mendapati anak kampus mereka yang lain tiba-tiba ada di sana.

 

“Sejak kapan lu duduk di samping gue, Nam?”

 

“Sejak lu masang tampang pengen nelen orang, ‘Ga.”

 

“Coba ulang.”

 

“Ogah. Lagian ama temen sendiri judes amat sih.”

 

“Peduli amat. Pindah sono lu. Bikin sempit aja si.”

 

“Yalord tempat masih kosong gini juga pelit amat. Ckckck. Pantes jomblo, galak sih lu.”

 

“Masalah apa buat lu? Keseringan ditinggalin Kak Gyu sih jadi kesepian gitu elonya.”

 

“Bgst kalo ngomong suka bener. Udah ah iye gue pindah.”

 

“Gbye. Semoga lu keselek sambel mbak Jum.”

 

“Suga sialan. Gue doain lu punya pacar. Biar mulut lu ada yang nyumpel kalo mulai kejudesannya.”

 

“O.”

 

Sosok bernama Nam Woohyun itu hanya menggelengkan kepalanya dan mengdengus lelah. Sudah biasa ia berdebat dengan adik tingkatnya tersebut. Hoseok dan Jungkook sudah tertawa menyaksikan perdebatan itu, Jin sendiri hanya sesekali dengan canggung menanggapi apa yang ditanyakan Namjoon. Karena sejujurnya ia merasa kurang nyaman duduk di samping sang kepala polisi yang entah dari mana mengenalnya (walau Jin merasa ia juga mengenalnya).

 

Taehyung memandangi Jungkook dan merasa gemas dengan tawanya. Jimin pun hanya tersenyum maklum ke arah Yoongi sembari menyuap makanan ke mulutnya.

 

Tetapi kemudian seruan Jungkook berhasil membuat suasana hening tercipta. “Susuuuuu~ mbak Jum! Kookie pesen susu doooong~ kak Hosiki yang traktiiiiiir~”

 

Yoongi sontak menepuk mulut Jungkook membuatnya langsung diam. “Kalo mesen ya samperin jangan teriak gitu. Lagian udah gede masih minum susu. Inget umur, Kook.”

 

“Gapapa ih, Kak Suga. Kata umma minum susu itu bisa bikin kita tambah tinggi~” ucap Jungkook polos yang disambut tawa Hoseok juga Taehyung di kedua sisinya.

 

Yoongi langsung mengernyit dan makin melotot pada namja bergigi kelinci itu. “Kook lu beneran mau ngerasain mandi di kolam lele belakang kampus?”

 

“Eh? E-engga kok, hehe. Kookie kan cuma… becanda. Pissss. Kookie ga bermaksud ngomongin soal tinggi badan hehehehe.”

 

“Tapi Jungkook bener loh. Minum susu itu bisa ngebantu pertumbuhan tinggi badan,” sahut Taehyung yang langsung dapat geplakan dari tangan partnernya, Jimin yang duduk di sampingnya.

 

“Mari sudahi soal tinggi badan, terima kasih.”

 

Namjoon langsung tertawa keras mendengar itu membuat Seokjin kaget dan sontak duduk dengan tegak. Taehyung pun menyikapi itu dan menepuk-tepuk punggung partnernya. “Terima saja kekurangtinggianmu itu, sobat.”

 

“Mati aja lu sana Kim Taehyung.”

.

.

.

Setelah hari itu, entah kenapa di setiap kesempatan Yoongi maupun Jungkook pasti bertemu atau berpapasan dengan Jimin dan Taehyung. Begitu juga dengan Jin yang selalu uring-uringan entah mengapa.

 

Dan juga pernah suatu ketika mereka tiba-tiba mendapat masalah di jalanan, namun entah bagaimana, dua polisi itu justru membantu mereka. Diakhiri dengan keadaan kaki Jungkook yang cedera dan kaki Yoongi yang keseleo.

 

Namun semuanya sudah lebih baik sekarang.

 

Seperti hari ini, Yoongi yang sedang mampir ke minimarket harus menepuk keras dahinya karena bertemu sosok itu kembali. Sumpah, rasanya Yoongi ingin pindah rumah atau kalau perlu pindah kota kalau bisa.

 

“Ah, kita ketemu lagi Yoongi-ya. Sendirian?”

 

“Bapak ga liat ya ada banyak orang di minimarket ini?”

 

“Galak seperti biasa, ya. Btw kaki kamu sudah sembuh?”

 

Yoongi hanya melengos tanpa menjawab dan pergi ke bagian rak lain. Namun sepertinya Jimin juga memiliki tujuan yang sama. Dan hal itu membuat Yoongi menghela napas kasar. “Bapak itu stalker pedo yang suka ngikutin saya, ya?”

 

Geer mampus gue. Tapi kalo iya gimana?’

 

Jimin yang ditanya begitu hanya melempar senyum. “Saya juga butuh sesuatu di bagian rak ini.”

 

“Maksud saya itu. Kenapa di mana-mana bapak itu ada? Saya lelah pak liat muka bapak.”

 

Jinjja? Sayangnya justru saya senang liat kamu terus.”

 

“Maso.”

 

“Siapa? Saya? Oh tidak apa-apa kalau saya harus maso demi dapetin kamu.”

 

“HAH?”

 

Jimin tersenyum saja. “Btw, kamu sama Jungkook itu udah kenal lama?”

 

“Kepo banget pak. Urus aja urusan bapak sendiri, gih.”

 

Youngi berlalu ke meja kasir dan ternyata Jimin juga ikut di belakangnya. Mendapati itu, Yoongi hanya membiarkan saja. Ia sudah tidak terlalu peduli pada polisi bantet di belakangnya itu. Namun ketika ingin membayar dan bersiap mengeluarkan dompet, tangan sang polisi tiba-tiba sudah terjulur memberikan ATMnya pada mbak-mbak kasir.

 

Sebelum Yoongi sempat protes, si mbak kasir sudah selesai melakukan transaksinya dan memberikan kembali kartu ATM beserta struk pembeliannya. Melihat itu, Yoongi langsung mengambil struknya kemudian mengeluarkan uang miliknya dan memberikannya kepada Jimin.

 

“Makasih pak tapi saya masih bisa bayar. Bye.”

 

Yoongi berjalan marah ke arah pintu keluar. Jimin buru-buru menyelesaikan urusannya lalu mengejar sosok pujaannya.

 

“Yoongi tunggu.”

 

“Pak, bisa kan ga gangguin saya?”

 

“Oke, saya minta maaf kalau kamu ga suka sama apa yang saya lakukan. Maaf oke?”

 

“Terserah pak. Saya permisi.”

 

Dan Jimin hanya membiarkan sosok itu berlalu. Pun ketika angin berhembus Jimin hanya tersenyum. Mungkin… tidak semudah itu menaklukkan hati seorang Min Yoongi.

 

“Jimin, fighting!” semangatnya pada diri sendiri, sembari matanya menyelami langit malam yang tampak kala itu. Menemaninya dalam pemikiran, apakah semua akan berjalan dengan lancar?

.

.

.

Jungkook sedang menyusuri deretan rak di toko buku untuk mencari apa yang ia butuhkan. Kepalanya bergerak ke sana kemari untuk mencari judul yang tepat. Namun sesekali ia juga berpikir untuk membeli satu-dua komik sebagai pelepas stress.

 

Saat matanya menangkap judul buku yang ia cari, dan berada di bagian atas, Jungkook sudah akan menjinjit walau masih ada rasa nyeri di kakinya. Namun tangan lain sudah mengambilkannya lebih dulu, membantu Jungkook meraih itu. Segera saja, Jungkook berbalik dan melihat sosok itu lalu mengernyit, tapi melempar senyum kemudian.

 

“Taetae-hyung!”

 

“Halo, Kookie. Mencari buku ini?” Taehyung menggoyangkan buku di tangannya. Jungkook hanya mengangguk kemudian Taehyung memberikan objek itu pada Jungkook. “Ini, ambillah.”

 

“Makasih, Taetae-hyung!”

 

“Iya, sama-sama. Jangan terlalu maksain kakimu yang cedera itu, ya. Btw Kookie sudah makan siang?”

 

Jungkook mengangguk menjawab nasihat awal, lalu langsung geleng-geleng mengenai makan siang. “Belum. Kenapa, hyung?”

 

“Makan, yuk. Hyung traktir deh.”

 

“Oke! Kookie bayar ini duluuu.”

 

“Kemarikan.”

 

“Eh? Kenapa, hyung?”

 

“Biar hyung yang bayar. Kookie tunggu di luar saja, ya?”

 

“Siap, pak!” Jungkook memberi salute kemudian lari kecil keluar toko buku untuk menunggu Taehyung selesai membayar diiringi peringatan Taehyung untuk berhati-hati.

 

Melihat itu, Taehyung menampilkan senyum sembari berpikir. Ah… Tuhan ternyata mempermudah jalannya mendekati Jungkook. Dan jika ada tiga kakak tingkat namja kelinci itu, sudah pasti mereka akan geleng-geleng dan memarahi Jungkook yang kelewat polos itu. Dan mungkin juga akan meneriaki Taehyung sebagai polisi pedo yang membuat dia dalam masalah.

 

“Huft, semoga tidak.” gumamnya sendiri kemudian berlalu ke meja kasir. Lalu melirik sedikit ke jendela toko di mana Jungkook berdiri menunggunya. “Semoga mereka mengerti tentang kita, Kook-ah.”

 

Kim Taehyung sepertinya sudah gila…

.

.

.

Yoongi mengacak kasar rambutnya sembari beranjak ke pintu depan berniat membukakan pintu untuk orang yang tidak berperikepagian memencet bellnya sedari tadi. Saat sudah membukanya, Yoongi sebenarnya ingin menyemprot habis-habis sosok itu, namun ia urungkan ketika melihat wajah abangnya muncul di sana.

 

“Lama amat si lu. Ga ngampus emang jam segini baru bangun?” abang Yoongi, Yujin langsung masuk begitu saja tanpa permisi. Meninggalkan namja berambut mint itu di depan pintu, namun kemudian ikut menyusul ke dalam untuk memaki-maki abangnya.

 

“Jangan asal masuk kek, bang! Ini kan kost-an gue!”

 

“Alah berisik. Dijengukin bukannya makasih malah maki-maki. Udah sono cepet mandi terus ngampus. Abis itu gue anter.”

 

“Ogah. Emang gue anak perawan yang mesti dianter ngampus apa. Mending ngebus atau ngangkot.”

 

“Yaudah bawa motor deh. Gue kasian sama lu ntar kalo dilecehin di dalem angkot atau bus gimana? Umma bisa ngamuk, kan.”

 

“Sialan. Perhatiannya ke arah sana ih najisin. Lu kira adek lu ini ga bisa jaga diri?”

 

“Bacot amat buset pagi-pagi. Gue suruh mandi malah ngoceh di sini. Cepet udah mau jam 9 tuh.”

 

“Hah?” Yoongi langsung menengok ke arah jam dan secepat kilat menghilang di pintu kamar mandi. “PABO HARUSNYA LU BILANG DARITADI BANG YUJIN MBLO.”

.

.

.

Yoongi merutuk siapapun kepala polisi yang selalu dan tidak pernah berhenti menyuruh para bawahannya untuk melaksanakan operasi razia seperti ini. Yoongi benar-benar ingin mengamuk, marah, mencaci-maki atau kalau bisa membunuh satu persatu oknum polisi di depannya ini.

 

Apalagi polisi bantet bernama Jimin yang tidak pernah lelah mengganggu hidupnya. Dan lagi… kenapa setelah bertemu polisi ini, nasib Yoongi selalu sial? Yoongi benar-benar lelah. Akan kuliahnya, akan tugasnya, dan sekarang makhluk bantet berseragam polisi ini makin-makin membuatnya menderita.

 

Yoongi salah apa Tuhan sampe dihukum beginiii?, batinnya meratap pada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Yoongi menghela napas saat polisi pendek itu memprosesnnya. Dalam progressnya, Yoongi pun mengambil ponsel dan mengirim WA ke Jin, berniat nitip absen di matkul pertama hari ini. Yang sialnya adalah matkul Mr. Kim, si guru killer nan menyebalkan seumur hidup makhluk itu bernapas.

 

Serius.

 

sugarfree         : Titip salam

sugarfree         : buat Mr. Kim

bundajin          : Lah lah napa yu?

bundajin          : Jangan bilang ga masuk cuma grgr belom bikin tugas

sugarfree         : Lu ga akan percaya kalo gue bilang gue lagi ngapain

bundajin          : Paling yu masih molor. Kerjaan lu kan molor mulu sob. Ampe kaya parasit yang

ga lepas dari inangnya.

sugarfree         : Njir. Serius gue Jin iprit. Gue titip salam pokoknya

bundajin          : Sejak kapan yu ada hubungan ama Mr. Kim?

sugarfree         : JIN LU JANGAN NGAJAK BERANTEM NJIR

sugarfree         : INI GUE LAGI KENA TILANG NJIR KAN VANGKE BANGET

sugarfree         : DAN POLISINYA ADALAH POLISI YANG SAMA KEK WAKTU ITU

sugarfree         : SIYAL GUE LELAAAH

bundajin          : NJIR CIYUS LU?

bundajin          : LU BAWA MOTOR?

sugarfree         : Iya

sugarfree         : Abang gue lagi visit, maksa nganter atau gue bawa motor. Ya gue pilih bawa

motor lah.

sugarfree         : Begonya adalah SIM GUE KETINGGALAN KAN ANJIR BANGET EAK

bundajin          : OGEB LU AH

bundajin          : OBAP

bundajin          : KOK GUE YANG KEZEL JADINYA

bundajin          : AH YAWDA LAH YU NIKMATI SAJA FLIRTING AMA TUH POLBAN(?)

bundajin          : TAR GUE SALAMIN KE MR. KIM

bundajin          : CEMUNGUDH EAH SOBAT Q YANG PALING GALAK

bundajin          : Eh tapi mau denger saran gue ga?

sugarfree         : ANJIR LU MINTA BANGET GUE BUANG SIH JIN

sugarfree         : AWAS AJA NANTI GUE SAMPE KAMPUS GUE UNYENG-UNYENG LU

SAMPE JADI PERKEDEL

sugarfree         : EH JADI MAKANANNYA SI BELANG SEKALIAN

sugarfree         : O

sugarfree         : G

sugarfree         : A

sugarfree         : H

sugarfree         : SARAN LU SESAT SEMUA

sugarfree         : KBYE

sugarfree         : KFIX

sugarfree         : GBYE

bundajin          : Yawda gud luck sobatq~ :*

 

“Yoongi.”

 

Panggilan itu sontak membuat Yoongi berpaling dari layar ponselnya. Pemuda manis itu menatap Jimin bertanya. “Ya, pak?”

 

“STNK dan motor kamu saya tahan. If you want to take it back, sidang oke?”

 

Yoongi memutar bola mata mendengar itu. Namun secepat mungkin, ia juga memutar otak mencari sesuatu alasan yang mungkin akan membuat namja di depannya ini meloloskan dia –lagi.

 

“Pak…”

 

“Sebentar…” Jimin menghilang lagi, menghampiri rekannya di ujung sana. Maka Yoongi pun melanjutkan chattannya dengan sang sobat.

 

sugarfree         : Najis.

sugarfree         : Enyah lu yang jauh. Mitamit iyuch alay. Dasar Jin iprit cabe alay.

bundajin          : Njrit. Ngakak berantem masa

bundajin          : Kbye

bundajin          : Siyu in kampus eah. Abis itu kita berantem

bundajin          : Yang kalah nraktir kwetiau yang menanf

bundajin          : Deal kan deal?

sugarfree         : Bodo amat

sugarfree         : Nulis aja lu masih typo

sugarfree         : Belajar nulis dulu yang bener sono lu

bundajin          : Anying. Perhatian banget sih Sugar qu

sugarfree         : NAJIS

sugarfree         : IYUCH

sugarfree         : DAZAR CABE ALAY

sugarfree         : BYE

bundajin          : VANGKE LU

 

“Jadi, tadi ada apa, Yoongi-ya?”

 

“Gini pak. Kalo emang—“

 

No—“ Jimin sudah mengangkat tangan bermaksud menahan kalimat Yoongi. “Dengar, aku tidak bisa meloloskanmu terus, Yoongi-ya. Aku juga harus professional.”

 

‘Ya bodo deh. Terserah.’

 

“Iya oke pak. Maksud saya kalo udah selesai boleh saya pergi? Saya harus ke kampus karena ada presentasi. Selamat. Pagi.”

 

Yoongi berbalik tanpa mengindahkan atau menunggu sosok itu menjawab. Lalu fokus lagi ke ponselnya untuk membalas WA Jin. Namun belum sempat kejadian, tarikan pada tangannya membuat Yoongi berbalik dan seketika mendarat ke dalam pelukan seseorang.

 

Ketika ia sadar dada bidang siapa di depan matanya, Yoongi langsung menarik diri yang mana malah membuat Jimin menahan tangannya karena Yoongi melewati batas area razia yang aman, dan hampir saja terserempet motor yang lewat.

 

“Hati-hati. Kamu bisa ketabrak, loh.”

 

Yoongi buru-buru melepas tangan Jimin yang memegangnya. “Makasih pak. Saya permisi.”

 

Kali ini dengan berhati-hati, Yoongi benar-benar berlalu. Ia menyetop taksi yang kebetulan lewat, kemudian di dalamnya ia mulai menghubungi kakaknya perihal kejadian tilangan tadi, menyuruhnya untuk menebus kembali motornya. Dan mungkin kalau ketemu, Yoongi dan abangnya akan adu makian 12jam non-stop.

 

And, thanks to Jimin to be the cause of it!

.

.

.

Jungkook mendorong pelan motornya yang bannya tiba-tiba bocor. Ya Tuhan di saat seperti ini kenapa nasibnya sial sekali? Ingin rasanya Jungkook menangis namun rasanya agak tidak pantas dengan imejnya sekarang.

 

Jungkook hanya butuh bengkel supaya dia bisa sampai ke kampus sebelum kuliah di mulai. Walau memang, ia baru ada kuliah sehabis jam 12, namun tetap saja dia harus sudah ada di kampus sebelum jam 12.

 

Dia belum makan. Jadi anak kost itu susah. Makanya Jungkook niat ngampus lebih awal supaya bisa makan dulu di kantin sambil menunggu jam mata kuliah mulai.

 

Namun di sinilah dia. Kelaparan dengan ban motornya yang bocor. Nasib sekali, kan…

 

Mungkin memang dasarnya Jungkook anak baik (dan polos), Tuhan berbaik hati mempertemukannya dengan bengkel disaat dirinya benar-benar merasa ingin meninggalkan motornya begitu saja. Maka dengan semangat Jungkook mendorong alat transportasinya ke tempat itu.

 

“Pak, mas, bu, mbak, tolongin Kookie dooong. Bannya bocor hiks tolong ditambeeeel,” Jungkook dengan polosnya langsung berteriak meminta perhatian orang-orang di sana. Yang mana dibalas senyum gemas yang lainnya.

 

Salah satu montir menghampiri Jungkook dan membawa motornya untuk diperbaiki. Dan saat itulah seseorang menepuk pundaknya membuat Jungkook sontak berbalik untuk bertemu pandang pada sosok polisi yang sangat dikenalnya.

 

“Oh! Taetae-hyung!” ujarnya semangat.

 

Taehyung hanya tersenyum lalu mencubit gemas kedua pipi Jungkook. “Ya Tuhan imut banget, sih. Jadi pacar hyung, yah?”

 

“Eh?”

 

“Ehem. Maksudnya, Kookie kok di sini? Ga ngampus?”

 

“Ban motor Kookie bocor, hyung~ makanya mampir ke sini. Padahal Kookie lagi otw ke kampus~”

 

“Oooh, mau hyung anter? Nanti hyung minta montirnya buat nganter motor Kookie ke kampus gimana?”

 

“Serius hyung?!”

 

“Iya serius dong, Kook. Gimana?”

 

“Ayoooo~ Kookie udah laper mau makan di kantin kampusss.”

 

“Loh? Kalau gitu gimana kalau kita makan dulu sebelum hyung nganter Kookie ke kampus?”

 

“Eeeh?”

.

.

.

“Taetae-hyung makasih traktiran dan tumpangannyaaa!” Jungkook memasang senyum sejuta kelinci pada wajahnya yang ia lemparkan pada Taehyung.

 

Di mana hal itu berhasil membuat Taehyung tergugu sebentar sebelum akhirnya ia sadar dan balas tersenyum. Satu tangannya terangkat kemudian mengelus rambut halus milik Jungkook. “Sama-sama, Kook-ah. Setelah pulang kampus jangan lupa makan juga, ya?”

 

“Siap, pak!”

 

“Nanti hyung suruh montrinya nganterin motor Kookie ke sini, oke?”

 

“Siap, pak!”

 

Taehyung tertawa saja. Lucu rasanya melihat Jungkook seperti itu. Dan kemudian Jungkook pun benar-benar berucap pamit lalu keluar dari mobil milik Taehyung. Ia melambai semangat sebelum berlari masuk ke dalam kampusnya. Pun ia berpapasan dengan Hoseok yang sepertinya baru akan masuk ke dalam fakultas yang sama dengan Jungkook disusul teman sekelas Hoseok yang lain.

 

“Kak Hosikiiiiiiiiiiiiiiiiiii~”

 

“Yo, Jungkookie. Baru dateng?”

 

Jungkook mengangguk kemudian berjalan di samping Hoseok yang sibuk membawa dua-tiga buku di tangannya.

 

“Tapi kok dari gerbang. Motor ke mana?”

 

“Bengkel kak, hehehe.”

 

“Terus? Tadi ngangkot?”

 

Jungkook langsung menggeleng.

 

“Lah terus?”

 

“Dianter Taetae-hyung!”

 

“Hah?” Hoseok menelengkan kepalanya.

 

Jungkook ikut melakukan hal yang sama.

 

“Siapa itu Taetae-hyung?”

 

“Taehyung hyung!”

 

“Taehyung hyung?”

 

“Iyaaaa pak polisi yang Kookie bilang ganteng dan ada imut-imutnya gitu.”

 

“Yeeee, LA mineral kali ada imut-imutnya.”

 

“Itu mah ada manis-manisnya, kak Hosiki.”

 

“Oiya lupa. Jadi, siapa tadi dia, Kookie?”

 

“Kim Taehyung, kaaak. Yang waktu itu hampir nilang kitaaaa~”

 

“Oh, dia toh. Oh…” Hoseok ngangguk-angguk sambil mencerna. Setelah beberapa puluh detik kemudian dan setelah mendengar Jungkook menjawab, dia langsung sadar ucapan adik tingkatnya itu dan berseru. “OH! APAH?!!”

 

Hoseok sontak teriak seriosa. Jungkook langsung terkaget sampai rasanya ia tadi loncat mundur beberapa langkah ke belakang.

 

“JEON JUNGKOOK DEMI APA? DAN SEJAK KAPAN PAK POLISI JADI TAETAE-HYUNG?! SEJAK KAPAN AAAAAAAAAAAA~~?!!!”

 

Oh, ingatkan Jungkook untuk jangan terlalu polos. Atau Hoseok yang jangan terlalu baper sampai lupa bahwa ia memiliki adik tingkat super innocent yang harus dijaga segala sesuatunya.

 

Sebelum Jungkook sempat menjawab, Hoseok sudah berlari masuk duluan ke dalam fakultas kemudian mulai mensummon nama Yoongi maupun Seokjin, dan mengadukan (kepada seluruh penghuni fakultas) mengenai apa yang dia dengar tadi.

 

“KAK SUGAAAAA~ KAK JIIIIIN~ INI GAWAAAAAT~ KOOKIE DAN POLISI ITU UDAH HYUNG-HYUNGAN HUWEEEEE~”

 

“OI JUNG HOSEOK BERISIK! KEMARI KAMU! MINTA SAYA KASIH HUKUMAN YA?!”

 

“AMPUN PAK AMPUUUUUN~”

.

.

.

Tbc.

A/N :

I definitely dunno what is this. I’m sorry for the missing humor part.

Lately, my humor sense is… so worst. But I’ve tried my best for making this one.

Hope you guys like it and thanks for all the reviews in the precious chapter!

Guys, will ya give me the honour to review this one? And tell me whats on your mind? I’d really appreciate it. I lav all of your reviews. It’s ma strength to go through this one and the other next.

 

So, review?

 

Btw, see ya again in anotha chapter.

 

—best regards,

Yumi.

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s