Greatest Accidental ~Chapter 4 {(Un)Lucky?}


Greatest Accidental © Fujimoto Yumi, 2016

Park Jimin X Min Yoongi

Kim Taehyung X Jeon Jungkook

BTS’s member © God, themselves

Rated T – M. / Romance, Fluffy, Humor, Friendship.

Slash. Yaoi. Boys Love. OOC. Indonesian!AU.

Police!VMin. CollegeStudent!JinSugaHopeKook.

Older!NamVMin. Younger!JinSugaHopeKook.

 

DLDR? I gain no profit by publishing this story.

Based on true story. Thanks to ma friends who inspires me with her story😄

This is just for fun. Enjoy and happy reading.

 

Bahasa non-baku. Beware.

 

Summary : Awalnya iseng mikir untuk bisa lolos dari tilangan polisi, namun pemikiran itu justru membawa Yoongi dan Jungkook pada kenyataan bahwa setiap keisengan akan berakhir dengan konsekuensi (yang membahagiakan dalam kasus mereka).

 

xxxXXXxxx

 

Greatest Accidental

Subtitle Chapter 4 : (Un)lucky?

Summary for this chapter :

Yoongi dan Jungkook tidak tahu mereka itu sedang sial atau beruntung?

Karena lagi-lagi hampir kena tilang.

Karena lagi-lagi bertemu.

Seolah hal itu sudah ditakdirkan dan mereka tak tahu harus bersikap bagaimana.

 

xxxXXXxxx

Hari itu hari Selasa, dan Yoongi tengah ada kelas Sejarah Kesusastraan Inggris, yang sialnya ia pikir tak satupun apa yang dijelaskan dosen masuk ke otaknya. Yoongi terlalu pusing dan hanya mencorat-coret bukunya sambil sesekali melirik Jin yang asik mencatat. Ia lalu menyenggol sahabatnya membuat Jin langsung berpaling ke arah Yoongi.

 

“Napa lu.”

 

“Bete. Lu sih gue ajakin bolos ga mau.”

 

“Inget mama, Ga. Udah bayar mahal kuliah kita.”

 

“Sok lu, ah.”

 

“Udah sana coba fokus, lu.”

 

“Ga masuk njir. Itu nenek-nenek ngejelasin apa, si?”

 

“Tentang jaman Elizabeth ucet. Macem-macem karya sastra yang udah ada—“

 

“Gue. Tau. Jin. Iprit. Tapi tetap aja ga masuk.”

 

Seokjin yang mendengar itu hanya mengangkat bahu dan fokus lagi. Pun ia juga melihat sang sahabat yang melakukan hal sama. Ia yakin Yoongi hanya terlalu malas untuk fokus pada matkul satu ini.

 

Yoongi itu pintar, namun kadang kemalasannya itu menghambatnya. Jadi kalau dia tidak niat belajar, maka anak itu akan benar-benar unmood untuk mengerti apa yang dijelaskan dosen.

 

Yoongi berusaha mengingat setiap kata yang dijelaskan dosennya. Lalu ketika ia hampir memahami itu, suara koor nyanyian sontak membuyarkan konsentrasinya. Saking kesalnya, Yoongi bangkit dari bangku menuju jendela kelas, membukanya kemudian menyemprot siapapun di bawah sana yang sedang menyanyi itu.

 

“WOI BERISIK! GATAU ORANG LAGI BELAJAR SEJARAH APA?!” semprotnya. Pemuda manis itu lalu melihat Jungkook di antara orang-orang yang seenaknya menyanyi tidak pada tempatnya. “JEON JUNGKOOK AWAS LU NANTI. PINDAH LAPAK GA?! KALO GA PINDAH, NANTI KALO KETEMU, GUE CEBURIN KE KOLAM LELE DI BELAKANG KAMPUS LIATIN AJA.”

 

Jungkook di bawah sana yang mendengar itu –yang tadi melambai-lambai pada Yoongi sontak langsung mengambil tasnya dan memberi tanda peace pada kakak tingkatnya. Membungkuk seolah Yoongi ada di depan sosok itu kemudian berteriak sebelum kabur bersama teman-temannya yang lain.

 

“AMPUN KAKAK SUGAR! KOOKIE MASIH SAYANG NYAWAAA. LOBYU COMAD CEMUNGUDH BELAJARNYA EAH.”

 

“Najis.”

 

Yoongi langsung kembali ke tempat duduknya dan hanya mengabaikan tatapan heran, kagum, juga lucu teman-temannya. Begitu pula dosennya yang hanya melempar senyum maklum pada Yoongi.

 

“Gue kadang takut kena semprotan lu juga, tau.”

 

“Mau?”

 

Yoongi langsung melirik Jin yang seketika menggeleng keras. “Makasih, qaqa. Kubelum mau budek gegara teriakan elu. Kookie setiap hari aja udah lelah gue. Palagi elu yang ngomel-protes mulu.”

 

“Diem ga, lu. Cot amat. Gue lagi fokus.”

 

“Napa gue jadi kena juga sih, hiks.”

 

Pun akhirnya kelas itu tenang lagi, dengan Yoongi yang berhasil fokus dan mencerna seluruh penjelasan pada mata kuliah yang sangaaaaaaat tak ia minati.

 

Beberapa puluh menit kemudian, matkul tersebut selesai dan sang dosen memberikan tugas dari fotokopian yang ia bawa. Yoongi yang kebetulan waktu itu –dipaksa- jadi pengurus kelas pun kebagian untuk memfotokopikan kertas itu. Ia hanya mengangguk malas dan menagihkan uangnya.

 

“Bayar dulu. Gue males nalangin, ga punya duit.” Ucap Yoongi datar, dingin dan judes.

 

Anak-anak sekelasnya mah sudah biasa. 5 semester sekelas sama Yoongi, dan mereka pun hanya memberikan uangnya kepada pemuda manis itu. Namun saat kemudian Yoongi –yang dibantu Jin sedang mengumpulkan uang fotokopian teman-teman mereka, pintu kelas terbuka yang mana lalu muncullah kepala dengan wajah yang tak asing untuk mereka semua.

 

“Errr… kak Suga? Kak Jin?”

 

Yang dipanggil langsung menoleh lalu melihat ke arah sosok yeoja bernama Seolhyun, teman sekelas Hoseok.

 

“Iya, kenapa?” Seokjin menjawab –dan Yoongi kembali ke pekerjaannya tadi. Namun pemuda manis itu langsung berhenti lagi ketika mendengar gadis tersebut menyampaikan maksudnya mencari mereka.

 

“Itu, kak. Hosiki… pingsan.”

 

“HAH?”

.

.

.

Saat sampai infirmary kampus, Yoongi yang masuk lebih dulu langsung menyemprot Hoseok yang kebetulan sudah sadar. Pemuda yang lebih sering disapa Suga itu berkacak pinggang lalu memaki-maki adik tingkatnya tersebut.

 

Pabo. Lu ngapain sih sampe sakit segala, ha? Kangen gue pukul, ya?!”

 

“Oi, oi, Sugar, lu galak amat. Santai dulu, bro. Hosiki baru bangun dari pingsannya, kan.”

 

“Bomat.” Yoongi langsung beralih ke Hoseok lagi. “Lupa makan lagi lu? Keasikan ngerjain tugas kelompok sendirian sampe lupa tidur? Mana temen kelompok lu sini gue pites satu-satu. Ngeselin amat lama-lama.”

 

Hoseok hanya cemberut sambil nyengir mendengar omelan kakak tingkat yang sudah seperti kakaknya itu. “Woles napa kak. Gue cuma kecapean aja, kali.”

 

“Sekalian aja lu mati sana. Gue seneng banget dah, Hos.”

 

“Tay lu kak. Niat khawatir apa gimana sih.”

 

“Bodo amat ya kalo lu mati mah.”

 

“Anying gue baru sadar langsung diajak berantem kak Suga mah jaad.”

 

“Udah napa, ucet dah kalian suka banget adu congor. Sesama orang rempong diem dulu.”

 

“Ngaca, woi.”

 

“Iye tau gue cakep. Udeh, gini. Sekarang mending lu pulang deh, Hosiki. Biar gue anter, ya? Ga protes lu. Protes gue kurung di kost-an lu sampe lu lupa dunia itu kayak apa.”

 

“Ga penting, njir. Bawa cepet ni anak kalo bisa lu karungin,” sahut Yoongi sadis. Seokjin hanya melengos kemudian membantu Hoseok untuk berdiri dan berjalan.

 

Yoongi sendiri mengambil tas pemuda itu untuk ia bawakan. Dan melihat Hoseok yang protes, Yoongi hanya memutar bola mata, namun Seokjin sudah gemas untuk ngomel-ngomel lagi di telinga adik tingkatnya.

 

“Vangke. Hidup lu protes mulu kayak Suga. Jadi nax baik apa susahnya si, Hosiki? Lu beneran mau ngerasain gue kunciin di kost-an lu apa? Diem dan jalan aja kok susah. Minta banget gue dorong ke mulut Mr. Kim dih.”

 

Hoseok langsung mingkem. Dari semua dosen sastra, Mr. Kim adalah satu-satunya dosen yang paling dihindari anak-anak sastra itu sendiri.

 

“Gue mending ngayuh sepeda ampe Busan deh daripada lu suruh gue ketemu dia, kak.”

 

“Makanya diem dan jalan aja. Ngeyel deh, ih.”

 

“Iya, bunda. Bawel kali kusampai lel—“

 

PLOK!

 

Yoongi langsung menabok mulut Hoseok yang sudah siap menyelesaikan kalimatnya.

 

“Diem, kuda Gwangju. Ngomong lagi gue bikin kak Chwang notis lu beneran.”

 

“Mau du—“

 

“ANJIR DIEM!”

 

“Okesip. Piss…….”

 

Tanpa mereka tahu, ketiganya sudah sampai di area parkiran yang kebetulan dekat dengan kantin. Seokjin pun meminta Hoseok untuk duduk menunggu selagi dia mengambil motor, dan Yoongi juga ada di sana menemani Hoseok.

 

Dan tak lama kemudian, terdengarlah teriakan 7 oktaf dari sosok bocah polos kelinci yang tak lain dan tak bukan bernama Jeon Jungkook yang beberapa waktu lalu Yoongi semprot habis-habisan dari lantai 3 gedung fakultas.

 

“KAK HOSIKIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII~~~~~”

 

Yang diikuti terjang pelukan sehingga Hoseok agak terdorong ke belakang, membuat belakang badannya terantuk pinggiran meja.

 

“Sakit oi, Jungkook! Sadis amat najis gue lagi sakit juga, huks.”

 

“Muup kakak kesayangan Kookie~”

 

“Iye iye. Udah sono lepas, sesak ih.”

 

“Kak Hosiki mau pulang ya? Ikuuuuut~” Jungkook berucap sok imut pada kakak tingkatnya yang ia anggap seperti abang sendiri. Mereka sangat dekat dan sudah biasa bagi Jungkook untuk bermanja pada ketiganya.

 

“Iya udah sana ambil motor, gih.”

 

“Ok—“

 

Yoongi hanya melirik mereka namun kemudian matanya menangkap sosok Changmin yang berjalan keluar fakultas menuju mobilnya. Saat itu juga, sebuah ide muncul di kepala cantiknya. Tanpa peduli Hoseok atau yang lainnya, Yoongi pun memanggil kakak tingkat mereka tersebut.

 

“Kak Changmin!”

 

Hoseok dan Jungkook langsung berhenti bicara, dan memilih melihat ke arah Yoongi yang tengah melambai pada kakak kelas incaran Hoseok.

 

Changmin mendekati mereka dan Hoseok langsung diam. Apalagi saat Yoongi bilang bahwa Hoseok sakit, pemuda tinggi itu pun memastikan bahwa Hoseok baik-baik saja dan mengajaknya ke dokter. Yoongi pun meminta Changmin untuk mengantar Hoseok ke kost-annya yang langsung diiyakan sosok tersebut.

 

“Makasih ya, Kak Chwang. Nanti kami nyusul deh.”

 

“Oke. Sampai ketemu di sana ya, Suga, Jungkook.”

 

Yoongi dan Jungkook hanya mengangguk, meninggalkan Hoseok yang sebenarnya dalam hati maki-maki (dan berterima kasih) pada kakak tingkat judes kesayangannya tersebut.

 

Kalo aja lu ga pinter gini, kak Suga, udah gue anying-anyingin daritadi kali, hiks. Napa jadi begini…’

 

Tak lama Seokjin datang dan mengernyit tidak mendapati Hoseok di sana, dan bertanya. “Hoseoknya mana?”

 

“Pulang.”

 

“Sama siapa?”

 

“Kak Chwang.”

 

“SERIUS?”

 

“Bct. Jungkook cepet ambil motor lu dan kita cabut.”

 

Dan Jungkook hanya mengikuti apa yang diperintahkan kakak tingkat kesayangannya itu.

.

.

.

Yoongi sedang ngoceh –yang lebih mirip ngerap- di belakang Jungkook yang memboncengnya. Karena jujur saja, tadi Jungkook memaksa dia untuk naik bersamanya. Yoongi hanya mengiyakan, namun saat setelah lampu merah dan melihat palang ‘operasi simpatik’ Yoongi langsung ngebacot sendiri.

 

Walau sejujurnya dia sudah pakai helm, tetap saja dia rasanya kesal kalo sudah melihat para polisi itu.

 

“Dafaklah. Demen banget ngeraziain orang sih tuh polisi. Ga capek apa. Gue aja yang ngeliatnya capek. Untung kita lengk—“

.

.

.

“—ya anjir napa diberentiin juga, sih?”

 

“Hehehehe.” Yoongi mendengar Jungkook cengengesan dan langsung menepuk helm Jungkook.

 

“Jeon Jungkook! Lu sengaja ya? Yalord ya Tuhan apa salah Yoongi punya adek tingkat begini amat?”

 

Dan Yoongi pun ngoceh tidak jelas lagi sembari memaki-maki Jungkook di sana. Mengabaikan dua polisi –yang anehnya merupakan dua polisi yang sama yang selalu hampir menilang mereka.

 

“Selamat siang. Boleh lihat surat-suratnya?” Jimin berucap ramah pada mereka berdua.

 

Yoongi memutar bola mata malas. “To the point, pak. Kesalahan kami apa, ya? Actually, we are in a hurry, sir.

 

“Lampunya mati, Yoongi.”

 

“Hah?”

 

“Lampu motor yang dikendarakan Jungkook mati. Kok budek sih,” balas Taehyung sewot. Yoongi langsung melempar pandangan paling mematikan yang berhasil membuat Taehyung mingkem.

 

Kemudian pemuda manis itu langsung mengait leher Jungkook dari belakang dan berbisik di telinganya (yang terhalangi helm). “Jeon Jungkook lu beneran minta diceburin ke kolam lele, kan? Bilang aja napa.”

 

“Hehehe maap kak. Tadi kepencet—“

 

“Jungkook sumfah kulelah menghadapi dirimu adekku. Kapankah kau sadar untuk bersikap lebih dewasa dari ini? Qaqa lelah harus—“

 

“Ehem. Jadi, surat-suratnya, Jungkook-ssi?” Taehyung menginterupsi ‘perdebatan’ kecil mereka, di mana kemudian Jungkook langsung mengeluarkan SIM dan STNKnya.

 

Yoongi hanya diam lagi, namun sesekali melirik ke arah polisi bantet (baginya) yang juga tengah melirik padanya. Lalu melihat ke arah beberapa meter di depan di mana Seokjin tengah menunggui mereka.

 

Saat benar-benar mendapati Jimin melihat ke arahnya, Yoongi langsung menyeletuk. “Ya, pak, ada yang salah dengan wajah saya?”

 

Jimin hanya balas tersenyum, menggeleng gemas lalu menjawabnya. “Iya ada. Salahnya itu kenapa kamu manis banget sampe saya ga bisa berpaling gitu.”

 

Ucet…’ Yoongi bergeming dan hanya merapatkan kedua bibirnya dimodusin seperti itu oleh polisi bantet yang sangat tidak ia suka itu.

 

Tetapi rasanya tidak sopan kalau tidak berterima kasih. “Maacih bapak. Saya bersyukur saya terlahir manis.”

 

Ampuni Yoongi, Tuhan. Karena terlalu narsis tapi semoga Tuhan bikin Yoongi tambah manis, amen.’

 

Polisi bername-tag Jimin itu pun tersenyum mendengar balasan Yoongi. Lalu menoleh ketika rekannya yang lain memanggil. Sedangkan Taehyung sudah memasang senyum sejuta umatnya yang dibalas Jungkook dengan cengiran polosnya.

 

“Suratnya lengkap, tapi kenapa lampunya mati tadi, Jungkook-ah?”

 

“Maaf, pak. Tadi ga sengaja kesenggol jari Kookie. Kami mau ditilang lagi, ya? Yah jangan dong, pak. Kak Hosiki lagi sakit terus kami buru-buru~”

 

Taehyung menenggakkan dirinya ketika mendapati wajah memelas Jungkook. Ingin rasanya menculik anak itu dan membawanya pulang. Ia kemudian menutup lagi buku tilang yang sudah terbuka, menyerahkan surat-surat Jungkook dan menghela napas.

 

“Iya sudah. Saya tidak punya pilihan lain selain bebasin kamu lagi. Tapi lain kali jangan sampai ngelanggar peraturan lagi ya, Kookie? Manis-manis kok jadi rules-breaker, sih. Di kampus engga kan?”

 

Jungkook langsung menggeleng menjawab itu. “Kookie mah anak baik pak kalau di kampus. Tanya aja kak Suga nih.”

 

Yoongi yang namanya dipanggil sontak menjawab. “Apaan?”

 

“Itu kata pak polisi—“

 

“Ya sudah sana kalian jenguk teman kalian. Jungkookie pelan-pelan ya, bawa motornya. Nanti kalo kenapa-napa kasian muka manisnya Kookie bisa lecet-lecet,” Taehyung memotong ucapan Jungkook sendiri sembari tersenyum pada mahasiswa berusia 18 tahun itu.

 

Yoongi hanya memutar mata bosan lalu menyuruh Jungkook menjalankan motornya. Yang sebelumnya berterima kasih pada Taehyung karena dibebaskan –lagi.

.

.

.

Saat itu hari sudah hampir berakhir. Pukul 8.30 malam, Yoongi baru berniat untuk pergi ke tukang fotokopian untuk melakukan tugasnya. Itu pun dia baru saja pulang dari kost-an Hoseok. Yoongi hanya melenggang malas menuju tempat fotokopi langganannya dekat kost-an yang dia tinggali.

 

Yoongi mendorong pintunya kemudian langsung memanggil sosok yang biasa melayaninya. “Jisoo mau fotokopi dong!”

 

Tak lama sosok bernama Jisoo datang dan langsung tersenyum pada Yoongi. “Yo, kak Suga! Fotokopi lagi kak?”

 

“Hm. Rangkap 27 ya.”

 

“Oke—Oh bang Jim—“

 

Ucapan Jisoo mengambang di udara begitu saja. Yoongi bingung namun tak peduli walau tadi ia sempat dengar bel pintu tempat fotokopian itu juga berbunyi. Dan sepertinya Jisoo berbicara pada sosok di belakang Yoongi.

 

Tetapi Yoongi tidak peduli, Jisoo sudah meninggalkan dia dan orang asing itu untuk melakukan tugasnya. Sampai ketika Yoongi menoleh ke samping, dan mendapati wajah yang tak asing baginya di sana.

 

Astaga Tuhan ampuni semua dosa Yoongi, Tuhaaaan.’ Batinnya menangis. Mengapa lagi-lagi harus ketemu dengan polisi bantet satu ini?

 

“Sedang fotokopi, Yoongi?”

 

“Iyalah, pak. Masa jogging di sini.”

 

“Galak ya.”

 

“Guguk kali galak.”

 

Yoongi bisa mendengar bahwa sosok itu terkekeh pada balasannya yang menggunakan nada super judes. Pemuda manis itu mengabaikan Jimin dengan memainkan ponselnya namun suara sang polisi menggema lagi.

 

“Kamu sendirian?”

 

“Bertiga kan sama bapak sama Jisoo.”

 

“Oh, kenal deket sama Jisoo?”

 

“Kepo deh, pak.”

 

“Boleh dong kepoin dikit, mah.”

 

“Haram, pak. Inget istri di rumah.”

 

“Kalau saya bilang saya masih single kamu percaya?”

 

“Bodo ya, pak. Bukan urusan saya juga, yaaa.” Yoongi membalas cuek tanpa melirik sedikitpun ke arah Jimin.

 

Tak lama kemudian, hasil fotokopiannya sudah selesai. Saat akan membayar, Jisoo langsung mengangkat kedua tangannya di depan dada sembari berucap, “Eits! Hari ini khusus buat kak Suga, gratisssss deh dari Jisoo!”

 

“Mane bisa gitu. Berapa cepetan.”

 

“Dih dibilang gratis juga kak Suga suka gitu deh. Udah sana balik ke rumah kak, udah malem tuh.”

 

Sebenarnya sih Jisoo bertanya dalam hati kenapa tiba-tiba abangnya menyuruh untuk menggratiskan fotokopian Yoongi. Namun ia hanya menuruti dan melambai ceria pada Yoongi yang pergi dengan raut bingung.

 

Disertai tawaran Jimin pada Yoongi yang dibalas galak olehnya.

 

“Yoongi mau diantar ga?”

 

“Anter aja diri bapak ke penjara, pak, karena godain anak orang. Inget umur pak.”

 

Tsadeeessstttt. Tetapi Jimin hanya balas tersenyum dan menggeleng. Kemudian melirik Jisoo –adiknya yang sejak tadi memasang wajah penuh tanya padanya.

 

“Apa?”

 

“Abang ngegebet kak Suga?”

 

“Suga? Sejak kapan kenal dia?”

 

“Iya, kak Suga itu kak Yoongi, lagian dia suka fotokopi di sini, bang.”

 

“Dia tinggal di mana?”

 

“Itu tuh, kost-annya tante Yoona.”

 

“Serius? Kost-an elit itu, kan?”

 

“Yoi.”

 

“Oke. Abang masuk dulu. Semangat jaganya, ya.”

 

Btw kok abang pulang cepet?”

 

Happy hour~”

 

“Hah?”

 

Jimin mengabaikan adiknya untuk meninggalkan dan melenggang masuk ke dalam, kemudian mengucap salam. “Jimin pulang, umma, appa.”

 

Tetapi lalu disusul Jisoo yang yakin sekali akan pemikirannya akan sang kakak. “Umma masa bang Jimin ngegaet kak Sugaaaaa~!”

 

Dan langsung dibalas teriakan oleh ibu mereka. “HAH? SERIUS?”

 

“Iyaaaa~ tadi aja kak Suga fotokopi sama bang Jimin ga dibolehin bayar~”

 

“JIMIN-AH BERANI BANGET?! HARUS DAPETIN SUGA GAMAU TAU KALO GITU CARANYA?!”

 

“AISH PARK JISOO DASAR KOMPOR!”

 

“Bodo amaaaaaat~”

 

Dan semalaman itu Jimin diborong pertanyaan oleh sang ibu perihal kebenaran akan ucapan adiknya barusan.

 

Poor Jimin.

.

.

.

Jungkook sedang membeli nasi goreng di ujung komplek tempat kost-annya berada. Ia tengah memainkan ponselnya sembari chattingan dengan para kakak tingkat dan teman-temannya sampai ada yang duduk di sampingnya namun Jungkook tak terlalu peduli akan hal itu.

 

Tetapi mau tak mau Jungkook menoleh juga ketika sosok itu bicara padanya.

 

“Sendirian, Jungkook-ah?”

 

Jungkook langsung memasang tampang kaget mendapati sosok yang mengajaknya bicara. “Loh? Pak polisi? Ngapain pak di sini? Mau nilang Kookie lagi? Malem gini masih aja kerja, pak.”

 

Ucet, Taehyung dibuat mingkem mendengar ucapan polos gebetannya tersebut. Ia pun tersenyum gemas dan mencubit pipi Jungkook yang agak memerah, mungkin karena angin malam atau karena dirinya? Pede gila, Taehyung. Ngaca dulu dipenggorengan abang nasi goreng, gih.

 

“Ya mana mungkin, Kookie. Di sini saya juga mau beli nasi goreng, dong.”

 

Jungkook mengangguk-angguk polos lalu fokus lagi ke ponselnya. Namun ia kemudian teringat belum menjawab pertanyaan polisi (ganteng) itu. “Iya pak Kookie sendirian. Tapi kan ga lagi karena ada bapak sama Kookie di sini.”

 

“Ehem.” Taehyung langsung berdeham saat Jungkook bilang begitu. Dan rasanya ia agak janggal juga dipanggil bapak terus-terusan. Ya mana mungkin kan dipanggil bapak sama calon pasangan sendiri? Tidak apa deh dipanggil bapak, nanti tapi kalau mereka sudah punya anak, kan…

 

Sadar Kim Taehyung. Inceran lu anak 18 tahun yang masih polos bin ngegemesin.

 

“Ehm, oke. Btw, gimana kalau Kookie jangan panggil saya bapak?”

 

“Lalu panggil apa?”

 

“Gimana kalau hyung?”

 

“Polisi hyung?”

 

“Bukan, bukan. Jangan polisi juga. Gimana kalau Taetae hyung?”

 

“Taetae hyung?” Jungkook bertanya sambil menelengkan kepalanya imut.

 

Taehyung langsung teriak-teriak anjir imut banget dalam hati karena gemas akan tingkah mahasiswa satu ini. Namun dengan cepat pemuda brunette itu menguasai diri dan mengangguk. “Iya, Taetae hyung. Oke? Sepakat kan? Jadi kalau kita ketemu lagi Kookie jangan manggil saya bapak atau polisi. Manggilnya Taetae hyung, gimana?”

 

Jungkook sontak mengangguk cepat. Kemudian abang nasi goreng sudah menyelesaikan pesanannya. Di mana ketika Taehyung ingin menanyakan perihal nomor ponsel atau akun sosial Jungkook langsung teredam begitu saja oleh hembusan angin malam(?).

 

Jungkook pun kemudian buru-buru pamit karena teringat ada satu tugas yang belum diselesaikan. Taehyung balas melambai ketika sosok itu mengucapkan perpisahan dengan cerita padanya. Namun ia tersenyum, semoga ini awal yang baik untuknya… dan juga seterusnya semua akan lancar baginya.

.

.

.

 – to be continued.

A/N :

Hai. Ketemu lagi. Terima kasih untuk reviews, favs and followsnya. Maaf kalau chap ini humornya missed lagi. Semoga suka dengan chapter ini. Sorry for typo(s)nya juga. Ga fokus ngedit. Wkwk.

 

Well, see you in anotha chapter. May I have your reviews?

 

Thanks a lot!

 

Regards,

Yumi.

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s