Greatest Accidental ~Chapter 3 {Almost Raid by Police (2)}


Greatest Accidental © Fujimoto Yumi, 2016

Park Jimin X Min Yoongi

Kim Taehyung X Jeon Jungkook

BTS’s member © God, themselves

Rated T – M. / Romance, Fluffy, Humor, Friendship.

Slash. Yaoi. Boys Love. OOC. Indonesian!AU.

Police!NamVMin. CollegeStudent!JinSugaHopeKook.

Older!NamVMin. Younger!JinSugaHopeKook.

 

DLDR? I gain no profit by publishing this story.

Based on true story. Thanks to ma friends who inspires me with her story😄

This is just for fun. Enjoy and happy reading.

 

Bahasa non-baku. Beware.

 

Summary : Awalnya iseng mikir untuk bisa lolos dari tilangan polisi, namun pemikiran itu justru membawa Yoongi dan Jungkook pada kenyataan bahwa setiap keisengan akan berakhir dengan konsekuensi (yang membahagiakan dalam kasus mereka).

 

xxxXXXxxx

 

Greatest Accidental

Subtitle Chapter 3 : Almost Raid by Police (2)

Summary for this chapter :

Lagi-lagi hampir kena tilang.

Tapi bukan Yoongi dan Jungkook namanya kalau ga bisa lolos.

Dan mungkin memang benar—cinta itu membutakan segalanya.

Terbukti dengan dua polgan yang lagi-lagi makan gaji buta dengan meloloskan target tilang mereka.

 

xxxXXXxxx

Hari itu kebetulan Yoongi berangkat bareng Jungkook ke sekolah. Karena ojekannya Yoongi a.k.a Seokjin tidak masuk karena sakit dan Hoseok kabarnya berangkat bersama kakak php yang sudah ditaksirnya lima tahun belakangan ini.

 

Dan karena buru-buru, dikejar waktu, karena keduanya sudah hampir telat masuk kelas, Yoongi lupa untuk membawa helm sendiri, pun Jungkook yang lupa untuk membawakannya untuk Yoongi. Jadilah mereka di sini sekarang, lagi-lagi dipinggirkan.

 

Dan lagi-lagi ada razia dadakan. Demi apapun Yoongi lelah. Beda dengan Jungkook yang sedari tadi sudah cengengesan tak jelas.

 

Yoongi menatap malas sang polisi yang ternyata adalah polisi yang sama yang waktu itu mereka bohongi. Walau wajahnya datar dan malas, yakinlah Yoongi sedang dugeun-dugeun sekarang. Bagaimana tidak? Yoongi harus apa kalau polisi ini minta denda? Karena Yoongi dkk membohongi mereka?

 

Jungkook sendiri sudah memberikan surat-surat pentingnya kepada Jimin sambil mempertahankan cengengesannya. Yoongi yang melihat itu akhirnya membekap mulut Jungkook lalu berbicara pada polisi bantet tersebut.

 

“Pak… kali ini beneran damai deh, pak? Kali ini kami beneran ke kampus. Serius. Dua juta rius, deh. Ini udah telat paaak. Dosennya killer gila. Bisa ga diizinin masuk kalau dalam 10 menit belum sampe. Bapak ga kasian sama kita?” ujar Yoongi sambil memasang senyum melas.

 

Polisi bernama Jimin itu hanya mengernyit, lalu partnernya yang bernama Taehyung itu ikut menghampiri tempat mereka. Dan Yoongi bisa merasakan mulut Jungkook makin lebar cengirannya. Namun Yoongi tak sedikitpun berniat melepas bekapannya itu.

 

“Waktu itu kalian sudah bohong sama kami, loh. Kali ini kami ga bisa mentolerir lagi.” Taehyung menjawab membuat inner Yoongi teriak-teriak bastard.

 

“Serius, pak. Ini udah jam 10 lewat 5. Kami masuk jam 10 dan kalau 10.15 belum masuk kelas ga akan boleh masuk. Kali ini ciyusan deh ke kampus, ga nongkrong lagi kayak kemarin. Makanya pak… damai aja, ya?”

 

“Asdfghjkl skjdaksjbdka.” Jungkook mengoceh masih dengan tangan Yoongi membekapnya.

 

Yoongi langsung mengencangkan bekapannya. Kemudian kembali melempar senyum ke arah dua polisi itu, yang sebenarnya hanya satu yang memperhatikan.

 

“SIM dan STNKnya kami tahan. Kalau mau balik ya, sidang.” Jimin berucap membuat Yoongi makin misuh-misuh dalam hati.

 

Namun Yoongi kemudian menyahuti Jimin. “Astaga pak. Kasihanilah sedikit anak kost, pak. Jauh dari mama papa masa disuruh sidang sih.”

 

“Loh, salah kalian kan melanggar peraturan lalu lintas?”

 

“Kelupaan bapak. Lagian kalo mau razia calling-caliing dulu kek biar kami ada persiapan. Eh.”

 

Yoongi langsung ingin menepuk mulutnya. Jungkook yang sedari tadi mencoba bicara terus mengeluarkan suaranya sampai si polisi bernama Taehyung itu menyuruh Yoongi melepas bekapannya.

 

“Iya kami pasti kabarin kalian kalo bakal ada razia lagi. Nah, makanya kamu, Min Yoongi, berikan nomormu pada Jimin biar dia bisa memberitahumu lain kali. Dan—mending kau lepas bekapanmu itu. Jungkook mau ngomong daritadi kau tahan-tahan.”

 

Yoongi sontak melepaskan tangannya untuk kemudian mengusap wajahnya kasar. Jungkook langsung meraih oksigen sebanyak-banyaknya, pun setelahnya ia melemparkan cengiran kepada Taehyung –dan disinyalir berhasil membekukan Taehyung untuk sesaat.

 

Tetapi detik berikutnya, Jungkook menatap Jimin yang masih memegang SIM dan STNKnya. “Pak, pak. Kookie jujur deh ya sekarang. Sebenernya pagi ini jam 10 Kookie ada kuis, loh. Dan sekarang udah jam 10.10 yang artinya Kookie udah telat dan entah nanti sampe kampus jam berapa dan punya berapa menit untuk ngerjain kuis itu.”

 

Yoongi manggut-manggut mengiyakan perkataan Jungkook. Dalam hati kasihan juga kalau adik tingkatnya ini sampai mengalami hal tersebut.

 

“Masa Kookie harus itung kancing nanti jawabnya? Apa kabar nilai Kookie pak? Bhuhuhuhu bapak ga kasian sama Kookie?”

 

Lah malah curhat, Yoongi membatin. Namun boleh juga sih siasat Jungkook supaya mereka diloloskan.

 

“Kalau kuis ini Kookie dapet B, matilah Kookie, pak. Sudah dipastikan Kookie bakal ngulang matkulnya dan Kookie ndak mauuu. Dosennya killer nyebelin sok cakep sok penting sok banget tau segalanya itu pak dan kalau ngejelasin suka bikin orang ngantuk kan ya jadi males banget kalau harus ngulang—mmph!”

 

Omongan Jungkook langsung terpotong ketika tangan Yoongi kembali membekapnya. Namja manis berambut mint itu langsung menyimpulkan maksud ucapan Jungkook.

 

“Jadi bapak, intinya yah pak, plis lolosin kami lagi kali ini? Pliseu?” Yoongi memasang tampang super melas ditemani Jungkook yang walaupun mulutnya dibekap masih bisa memperlihatkan tatapan melas anak kelinci yang disinyalir selalu berhasil menjadi ancaman untuk siapa saja.

 

Tetapi Jimin dan Taehyung hanya menghela napas berat lalu menggeleng.

 

“Kalian tau, sekali kalian bohong, orang ga akan mudah percaya lagi sama kalian.”

 

“Ya tapi pak—“

 

“Sidang ya, Jeon Jungkook. SIM dan STNK—“

 

“PAK Kookie mau jujur sekali lagiiiiiii.”

 

Yoongi sontak melepaskan tangannya ketika Jungkook hampir berteriak begitu.

 

“Nanti Kookie gimana pulangnya kalau STNKnya ditahan pak? Keluar kampus kan mesti nunjukin STNK. Ya masa Kookie harus ninggalin motor—“

 

“Kalau SIM sama STNKnya ditahan, otomatis motor kamu juga ditahan, anak manis,” Taehyung memotong—menyahuti protesan Jungkook.

 

Jungkook langsung menatapnya lalu mengedip beberapa kali. Dan itu berhasil membuat Taehyung tergugu. Sumpah demi apa barusan itu—

 

“Aduh.” Jungkook mengaduh merasakan tangan Yoongi kini menutupi keseluruhan wajahnya.

 

“Plis bapaknya. Only this time. We promise that we won’t tell lies again to both of you? We really need to go to campus now and—“

 

“Ehem. Oke, gini aja, Yoongi-ya—“ Yoongi memutar bola matanya malas mendengar panggilan sok dekat itu. “—berikan nomor ponselmu padaku lalu kami akan mengantar kalian ke kampus.”

 

“Modus teh si bapak, yah.”

 

“Loh kok malah modus?”

 

“Ga. Oke, gausah. Kami naik angkot aja deh pak. Makasih tawarannya.”

 

Yoongi meminta Jungkook untuk turun dari motor (padahal yang ngebonceng Jungkook). Dan membiarkan dua polisi tadi bersiap menyandera(?) motor Jungkook. Namja bergigi kelinci itu makin memasang tampang melas melihat motornya dibawa.

 

Tanpa sadar, matanya berkaca-kaca dan secepat kilat mengambil ponsel untuk menelpon seseorang.

 

Saat seseorang disebrang line menjawabnya, tangis Jungkook langsung pecah.

 

“HUAAAA ummaaaaaaaaaa~”

 

“Yawla.” Yoongi langsung nepuk dahi, kemudian berniat mendekati Jungkook yang hampir kejer menangis. Namun ia diam saja saat sosok itu curhat ke ibunya.

 

Ummaaaaaaa masa motor Kookie diculik~”

 

‘Ucet. Diculik. Epik amat ngadunya.’

 

“Sama pak polisi, hiks.”

 

Pabo. Harusnya bilang diculik sama om-om pedo, Kook. Biar emak lu ngamuk kan seru tuh.’

 

“Padahal Kookie ada kuis pagi ini dan pak polisinya jahat sama Kookie, umma, hiks… Kookie gamau jadi polisi lagi kalo udah besar, hiks.”

 

‘Ya keuleus, Kook. Lu udah besar yak. Mo sebesar apa, sih? Ah, njir napa gue jadi perang pikiran sama diri sendiri. Ga lucu amat.’

 

Yoongi baru saja akan benar-benar melangkah mendekati Jungkook, namun kemudian sebuah suara menghentikannya. Disertai helaan napas berat yang mengudara. Dan ternyata itu Jimin, si polisi bantet kalau bagi Yoongi.

 

Sosok itu menyerahkan SIM dan STNK milik Jungkook beserta kunci motornya.

 

“Cepatlah ke kampus. Kali ini ga bohong, kan?”

 

“Loh? Cepet banget pak beru—“

 

“Mending cepet suruh Jungkook matiin telponnya. Rasanya ga enak udah punya satu kesan negatif ke calon mertua,” sahut Taehyung yang sedari tadi sebenarnya sudah misuh-misuh mendengar Jungkook mengadu pada orang tuanya.

 

Yoongi langsung mendelik mendengar itu. “Pede gila pak ortunya Jungkook mau jadi mertua bapak.”

 

“Loh kamu jangan meremehkan saya, ya.”

 

“Ya—udahlah serah bapak. Yang jelas saya ga rela, pak. Adik tingkat kesayangan saya bapak pedoin. Yang lain aja, yah, pak, yah? Inget istri di rumah,” Yoongi langsung merebut kunci motor Jungkook untuk kemudian mendekati juniornya itu.

 

“Kookie ayo cabuuuut~ kita dilolosin lagi nih!”

 

Namun Jungkook hanya manggut-manggut tanpa berniat mengemudikan motornya. Mau tak mau, Yoongi lah yang menyetir kali ini. Namun sebelum mereka benar-benar pergi, Jimin menahan mereka dengan syarat Yoongi harus memberikan nomor ponselnya.

 

“Buat apa pak?”

 

“Dua kali hampir kena tilang dan dua kali saya lolosin. Saya harus punya data kamu.”

 

“Bapak modus—“

 

“Cepat turun lalu ke kampus ngangkot saja sana—“

 

“Iya pak iyaaaaa. Bapak teh galak pisan.” Yoongi langsung mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan nomornya—dengan sedikit disalahkan pada dua nomor paling belakang. “Ini pak.”

 

Jimin menerima kertas itu dan sedikit menatapnya sangsi. Namun ketika ia mendongak dan melihat Yoongi yang tersenyum padanya, lenyap sudah kesangsiannya. Tanpa berkata apa-apa, Jimin hanya membiarkan motor dengan dua anak adam di atasnya itu berlalu dari hadapan dia dan Taehyung (yang sedari tadi masih diam memikirkan bagaimana kalau orang tua Jungkook terlanjur kecewa padanya karena membuat Jungkook sedih.)

 

“Sadar, mas, pak. Lagi-lagi ngelolosin yang ngelanggar gitu. Kalau pak Namjoon tau abis, loh.”

 

Suara itu berhasil membuat Jimin dan Taehyung sontak melihat ke arah yang bicara pada mereka. Lalu secepat kilat merangkul rekan keduanya itu. “Aaaah, jangan itu dong, Joongki. Masa sejahat itu sama kita, hehehe. Damai, oke? Gimana kalau kita traktir lo makan. Oke?”

 

Niat sosok bernama Joongki itu sih melaporkan keduanya, tapi ya jangan deh. Dapat traktiran makan kan boleh juga. Pun Joongki hanya menganggukkan kepalanya, dengan Jimin dan Taehyung teriak-teriak kesal dalam hati.

.

.

.

“Kak Hosikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii~” Jungkook teriak saat melihat Hoseok yang berjalan keluar dari gedung fakultas yang ingin dimasuki Yoongi dan Jungkook. Saat namja bergigi kelinci itu akan lari, Yoongi langsung menahan kerah belakang bajunya membuat namja imut itu berlari di tempat.

 

“Gausah lari kali. Hoseok kuda jinak. Dia ga akan bisa lari karena udah diiket sama kakak tingkat php itu.”

 

Ga nyambung sebenarnya. Tetapi ketika Hoseok sampai dan mendengar itu, namja yang lebih sering disapa Hosiki tersebut cemberut pada Yoongi, sambil misuh-misuh ia membalas perkataan kakak tingkatnya.

 

“Jangan bahas dia mulu, kek, kak. Pengen mupon nih akunya.”

 

“Alah mana bisa. Lu jomblo selama ini karena dia ya mana bisa beneran mupon.”

 

“Anjir nyelekit.”

 

“Udah ah gue mau masuk kelas—itu pun kalo dibolehin.”

 

“Eh tapi kok kalian baru dateng? Kookie bukannya ada kuis?” Hoseok menyahuti.

 

Jungkook langsung dibuat teringat dan secepat kilat pamit meninggalkan mereka sambil teriak ‘KUISNYA MR. JUNG UMMA KOOKIE TELAAAAAAT.’ Dan berhasil membuat Yoongi maupun Hoseok tutup telinga.

 

Hoseok masih menunggu jawaban karena melihat Yoongi berhenti dari niatnya meninggalkan dia. “Oi, kak Sugar?”

 

“Udeh ah. Gue bête, Hos. Lelah hayati hampir kena tilang lagi.”

 

“ANJIR CIYUS KAK?”

 

“BCT LU AH. Udeh gue mau ngelas dulu.”

 

“Hah? Sejak kapan lu jadi tukang las, kak?”

 

“KE KELAS DUDUL MAKSUD GUE ELAH EMOSI LAMA-LAMA.”

 

Tanpa menunggu Hoseok menjawab, Yoongi benar-benar berlalu meninggalkan namja yang biasanya kelewat cerita itu. Hoseok pun hanya geleng-geleng dan berniat meneruskan perjalanannya menunggu keduanya di kantin fakultas mereka.

.

.

.

– to be continue.

Author’s Note :

NJIR APA INI? Humornya missed lagi /pundungdipojokan.

Maapkeun. Ini sebenernya masih mau ngetik tapi ya kok mendadak lupa apa yang mau diketik, hiks. Ga bisa nemuin sense humor. Gue lupa plotnya masa. Dan ini—asli pemikiran otak, ga terinspirasi lagi kisah temen gue wkwk.

 

Jimsnoona mana Jimsnoona? INI UDEH APDET EAAAK. FUJOSHI THE SERIESNYA KUTUNGGU QAQA TANTIQS NAN MECUM :p

 

Ya, apa ya kemaren mau ngomong apa lupa, yawla. Kebiasaan pas udah gini lupa ambyar semua mau ngasih info apa. Maapkeun saya:”

 

Btw kalau udah bosen sama ff ini bilang yaaaah. Biar alurnya gue cepetin—karena ini alurnya keknya lambat amat. Biar MinYoon-VKooknya cepet jadian terus anu-anu /eh. OHIYA, mo minta maaf karena momen mereka yang minim abis. As I said before, ini alurnya lambat. College student life soalnye. So? Tell me when it starts so boring. And I’m so sorry that I cannot promise to keep the humor itself, because my humor sense sometimes is just like come by then just go whatever it wants, hiks.

 

Terus, kepengennya ini apdet tiap malam Jum’at haha:” Niatnye gituuu. Tapi ga janji setiap Minggu, seperti yang kalian tau—ini ff bakal slow-update. And thanks for understanding.

 

So… that’s it. I think that I’d already said what I wanna tell yall.

 

May I know your opinion? Your review is like a power for me. It’d never don’t make me laugh and happy. It always makes my day. THANKS A LOT MUAH:*

 

Best Regards,

Yumi.

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s