Be My Answer


Be My Answer © Fujimoto Yumi, 2016

img_160617_061213

Park Jimin X Min Yoongi © God, themselves

BTS and other characters © God, themselves

Rated T. / Romance, Fluffy, Friendship, Slice of Life.

SLASH. AU. OOC. DLDR.

 

I gain no profit by publishing this story.

And this is dedicated for Min Yoongi’s belated birthday present from me.

 

a.n1 : Jimin, Taehyung, Jungkook cuma beda setahun sama yang lainnya. Suga, Jin, Namjoon dan Hoseok seumuran.

 

xxxXXXxxx

Hari itu, kelas TK besar dan TK kecil di gabung menjadi satu. Di mana hal tersebut disambut senang oleh seorang namja cilik bermahkotakan langit senja yang langsung mencari sosok favoritnya di antara anak-anak kelas lain.

 

Di pojok ruangan, seorang namja kecil bernama Min Yoongi tengah bermain dengan balok mainannya bersama temannya sejak kecil, Seokjin, ketika namja lain bermahkotakan langit senja bergabung dan mulai mengganggu Yoongi. Yoongi langsung cemberut saat namja itu menyentuh –hampir merobohkan balok yang ia buat.

 

Yoongi melipat tangan di dada lalu mendelik pada namja lainnya. “Jimin! Sana pergi jangan ganggu!”

 

Namja yang dipanggil Jimin hanya menggeleng dan merapat padanya. Menggesek-gesekkan hidungnya pada leher Yoongi ketika namja kecil itu memeluk Yoongi dari samping. Lalu setelahnya mulai memainkan rambut mint milik Yoongi.

 

Ya! Jangan ngusel dan mainin rambutku. Sana ih, ngapain, sih?”

 

“Yoongi-hyung main sama Jimin aja, yuk!”

 

Ga mau. Maunya sama Jin!”

 

“Yaaah~ udah ayo main sama Jimin ajaaa~”

 

Anniyo! Pergi sana dan jangan ganggu aku sama Jin. Kan ada Taehyung tuh yang bisa diajak main. Sana. Tuh lihat dia lagi cemberut karena tidak kau ajak main.”

 

Jimin hanya merengut lalu meninggalkan Yoongi yang sejak tadi mendorongnya menjauh bersama Seokjin. Seokjin sendiri hanya geleng-geleng melihat kedua teman sekelasnya itu. Ia lalu kembali fokus pada mainan di tangannya.

 

Dan saat mendengar Yoongi yang menghela napas kasar, Seokjin mengalihkan pandangannya lagi ke arah teman sejak kecilnya itu. “Kenapa?”

 

“Tidak apa-apa, kok. Cuma kesal aja Jimin suka sekali menggangguku.”

 

Seokjin tertawa lalu menepuk bahu Yoongi menenangkan. “Kan Jimin memang selalu begitu padamu. Sabar yaaa.”

 

Ya!” Yoongi menunjuk Seokjin dengan balok mainan yang ia pegang. “Kau tidak membantu, dasar princess pink!”

 

“Biarin saja, wek.”

 

Dan kemudian mereka berdua kembali bermain dengan mainan masing-masing.

 

Sampai pada suatu hari, Yoongi yang sedang serius memperhatikan gurunya yang menjelaskan tentang pelajaran saat itu di depan kelas (yang lagi-lagi digabung) sembari tangan kecilnya bergerak-gerak menulis apa yang dijelaskan oleh songsaenimnya, tiba-tiba secarik kertas mendarat di atas meja, di depannya. Namja cilik itu mengernyitkan alisnya, ia lalu memutar kepalanya ke belakang dan menemukan Jimin, teman sekelasnya yang tengah melambai padanya, lalu mengisyaratkannya untuk membuka kertas tadi.

 

Walau merasa aneh, namja cilik itu pun mengikuti apa yang diperintah temannya. Dan ia segera kembali mengernyit mendapati tulisan yang ada di sana.

 

Ia menoleh lagi sambil memiringkan kepala yang dibalaskan cengiran oleh Jimin. Yoongi kemudian fokus lagi ke arah saenim dan berusaha mengabaikan mengenai apa yang tertulis di kertas itu. Walau dalam hati ia bertanya-tanya, apa maksud Jimin? Apa maksud tulisan yang Jimin berikan padanya?

 

Dan di hari yang cerah itu, Yoongi mengukir keheranannya menjadi kenangan mengenai orang pertama yang menyatakan cinta padanya, dalam benaknya yang hingga kini tak pernah sedikitpun terlupa dan lenyap.

 

Yang justru menggantikan keterlambatannya menyadari itu menjadi sebuah rasa ketika akhirnya ia mengerti apa yang berusaha Jimin katakan kala itu.

 

Jimin menyukainya.

 

Itu dulu, saat mereka TK.

 

Lalu apa kabar sekarang? Setelah 10 tahun lebih berlalu? Setelah ternyata Yoongi sendiri yang pergi dari kota di mana ia mengenal Jimin?

 

Entahlah.

 

Namun rasa dalam hati Yoongi itu nyata. Ketika ia sadar arti dari tulisan itu, Yoongi mulai memupuk rasa untuk sosok itu. Sosok yang sekarang entah bagaimana rupanya. Dan masihkah ia mengingat Yoongi seperti Yoongi mengingatnya?

 

Yoongi harap, ya. Yoongi harap—Jimin masih menyimpan sedikit rasa cinta (monyet) yang ia miliki saat mereka kecil dulu.

 

Seseorang boleh berharap, kan? Dan Yoongi berpikir… ia pun boleh memupuk harap itu. Lalu berusaha menjadikannya nyata. Dalam hidupnya.

 

“Oi. Melamun lagi, Suga?”

 

Namja yang lebih biasa dipanggil Suga itu langsung tersentak saat seseorang duduk pada ayunan yang sama dengannya di taman kompleks dekat rumahnya. Yoongi melihat Seokjin yang terus menatapinya penuh tanda tanya.

 

“Apa?”

 

Kenapa malah balik bertanya?”

 

Yoongi hanya mengangkat bahu lalu kembali membuang pandangannya ke arah langit. Berusaha menelusuri cakrawala yang luas di atas sana. Mengabaikan eksistensi sahabat di sampingnya. Dan ketika angin berhemus menerbangkan mahkota sewarna mint miliknya, ingatan singkat tentang Jimin kembali memasuki pikirannya.

 

Jimin. Jimin. Jimin. Apa kab—

 

“Memikirkan Jimin lagi?”

 

—ar. Tuhan, punya sahabat yang mengertimu luar dalam itu menyiksa, kalau mau tahu. Yoongi langsung melihat ke arah Seokjin yang malah mengikuti jejak Yoongi barusan menatapi langit.

 

Kenapa jadi Jimin?”

 

Well, semenjak kembali ke kota ini, aku tahu kok kalau kau berusaha mencari keberadaan Jimin di antara masyarakat kota. Mengaku saja.”

 

“Tidak juga.”

 

“Ya, okelah. Kalau sudah di puncaknya, kau juga pasti akan meledak.”

 

“Jin—“

 

“Tidak ada yang salah dengan berkata jujur, Suga.”

 

Dan Yoongi tertawa kecil. Mungkin memang bukan pada Seokjin ia harus berbohong. Ketika saat itu ia hanyalah anak kecil yang tak mengerti apa-apa. Namun apa yang bisa dianggap serius dari sebuah pernyataan cinta seorang anak TK? Lucu, bukan? Membaca saja kadang kau gagap, ini sudah berani menyukai seseorang.

 

Tetapi bukan salah Jimin juga. Rasa suka bisa tiba-tiba datang, iya kan?

 

Lalu ketika mereka akan masuk ke sekolah dasar, Yoongi dan keluarganya pindah dari Seoul ke Tokyo. Setelah 4 tahun berlalu, Yoongi merasa ada yang salah ketika ia terus dan terus mengingat mengenai hal tentang Jimin, dan soal secarik kertas itu. Yang lalu tanpa ia sadari, mulai tumbuhlah suatu rasa yang ia pun tak yakin itu apa.

 

Namun makin ke sini, makin ia menyadari jika sejujurnya ia merindukan Jimin dan segala keberisikan dan kehebohan sosok itu, dan Yoongi tahu ia sudah jatuh. Pada bocah yang lebih dulu dewasa daripada dia menurutnya, atau mungkin bocah polos yang menganggap rasa nyaman terhadap sesama sebagai rasa suka berlebih.

 

Entahlah. Sekarang harus di kemanakan perasaannya ini? Saat ia kembali ke Seoul pun, ternyata giliran Jimin yang pergi. Kembali ke kota kelahirannya, Busan, dan Yoongi serasa buntu untuk mencari jalan keluar.

 

“Sudah jangan dipikirkan terus. Kalau jodoh takkan ke mana.”

 

Dan Yoongi juga tidak mengerti sejak kapan Seokjin tahu tentang perasaannya kepada Jimin? Entahlah. Sungguh Yoongi merasa buntu, sebuntu-buntunya. Ia pun hanya mengabaikan perkataan sang sahabat untuk kemudian kembali menatapi langit yang cerah.

 

Apa kabar… kau, Jimin-ah?

 

xxxXXXxxx

 

 

Yoongi tengah berjalan bersama Seokjin ke arah kediaman mereka masing-masing setelah tadi di perempatan kompleks mereka berpisah dengan teman Yoongi yang lain, Namjoon dan Hoseok. Beberapa langkah mereka mengambilnya dengan santai, lalu tiba-tiba Seokjin berhenti membuat namja bersurai mint itu ikut berhenti.

 

Sang sahabat memasang wajah kaget sambil menatapi sesuatu (seseorang) di ujung sana, yang ternyata jika diteliti lagi ada di depan kediaman milik Yoongi.

 

Yoongi melihat warna orens cerah dari balik tembok. Ia memiringkan kepalanya ketika berusaha mengingat bahwa ia merasa familiar dengan warna itu. Sampai ketika Seokjin menyenggol lengannya sembari menunjuk sosok itu dengan dagunya.

 

Yoongi masih tidak mengerti bahkan sampai sosok itu memutar pandangannya dan bertemu pandang dengan Yoongi dari tempatnya berdiri.

 

Namja berambut orens itu langsung memasang senyum sembari menghampirinya dengan sedikit berlari. “Oh! Yoongi-hyung!”

 

Yoongi berkedip. Rasa-rasanya Yoongi mengenal suara itu. Seokjin menyenggolnya lagi, namun Yoongi belum sempat bereaksi ketika merasakan ada tubuh lain yang menubruknya dengan pelukan super erat. Ia rasanya hampir sulit bernapas jika saja sosok itu tak langsung melepas dekapannya kemudian mengacak rambut mint-nya.

 

YA!”

 

Yoongi langsung protes yang dibalas kekehan oleh sosok itu. Sosok… yang rasanya familiar bagi Yoongi. Tapi… siapa? Salahkah jika ia menganggap bahwa figure yang sedikit lebih tinggi darinya itu adalah Jim—

 

“Jimin kau kapan datang?”

 

DEG!

 

—in! Ini sungguhan Jimin?

 

Sosok di depannya memasang cengiran lalu membalas pertanyaan Seokjin. “Hari ini, dan aku langsung ke sini saat byuntae mengabariku kalau dua tahun yang lalu Yoongi-hyung kembali ke kota ini. Ah!” sosok yang dipanggil Jimin tadi langsung memegang kedua tangan Yoongi lalu menariknya ke halaman rumah sosok itu. “Jimin rindu sekali hyung! Hyung apa kabar? Keberatan kalau hyung mempersilahkan Jimin masuk supaya kita bisa mengobrol lebih banyak?”

 

Tuhan, baru bertemu lagi saja sudah seberisik ini. Apa kabar hari-hari berikutnya?

 

Ya! Jangan menarikku. Jin—“

 

“Aku pulang dulu, oke? Setelah itu aku akan ke rumahmu. Bye, Suga~ sukses, ne?”

 

YA!”

 

“Suga?! Whoaaa cocok sekali denganmu, hyung!”

 

Aish, berisik, Jimin! Dan berhenti menarik—YA!”

 

Percuma protes, karena ketika keduanya menginjakkan kaki di depan pintu rumah keluarga Min, ibunda Yoongi sudah membuka pintu dan berdiri di depan mereka. Lalu memeluk Jimin dan membawanya masuk ke dalam –masih dengan tangan Jimin yang menarik lengannya.

 

Yoongi sejujurnya mau terus berontak, tapi demi Tuhan—mendapati Jimin di sini entah mengapa membuat hatinya menghangat. Ah… ia… memang merindukan Jimin, bukan? Merindukan keberisikan dan kehebohan sosok itu. Karena Yoongi memang sejak awal ingin kembali ke sini saat ia menyadari bahwa ia menyukai Jimin. Benar begitu, bukan?

 

“Yoongi-hyung? Kau melamun?”

 

“Huh?”

 

Yoongi langsung mengerjap saat ia ternyata sudah terduduk di atas sofa ruang tamu bersama Jimin di sampingnya. Yang kini tengah mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Yoongi. Namja mint itu langsung menatap Jimin lalu membuang muka. “Apa, sih. Singkirkan tanganmu.”

 

Jimin langsung cemberut mendengar Yoongi berkata begitu. Ia melipat tangan di dada sambil bersandar pada sofa ruang tamu. “Hyung tidak rindu padaku, yaaa? Padahal aku saaaaangat merindukan Yoongi-hyung!”

 

“Masa bodo.”

 

“Jahat banget~”

 

“Baru tahu?”

 

Yoongi bangkit untuk berlalu ke kamarnya. Namun tangannya dicekal oleh genggaman Jimin yang memaksanya kembali terduduk di atas sofa.

 

“Apa sih, Jim? Lepas, mau ganti baju.”

 

Hyung?”

 

“Hm?”

 

“Yang waktu itu—“

 

“…?”

 

“—saat kita TK. Hyung ingat, bukan?”

 

“Yang mana?”

 

“Masa lupa?”

 

Beneran lupa.” Bohong. Padahal kalau Yoongi disuruh menebak, ini pasti ada hubungannya dengan secarik kertas itu.

 

“Beberapa hari sebelum hyung tiba-tiba pindah, aku ngasih secarik kertas ke hyung. Ingat tidak?”

 

“Lupa.”

 

Ah, mengapa Yoongi jadi menyangkal seperti ini? Seharusnya ia hanya perlu bilang ingat dan mengatakan bahwa ia juga menyukai Jimin, kan?

 

Beneran lupa? Padahal aku mau bilang kalau –sekalipun saat itu aku masih kecil, tapi aku serius. Karena jujur saja—sampai saat ini… rasa itu masih ada.”

 

DEG DEG DEG!

 

Tuhaaaan, apa kabar jantungku? Detakannya sampai terdengar di telingaku sendiri, Yoongi membatin. Ia langsung membuang wajah saat tak sengaja tatapannya bertemu dengan Jimin.

 

Jimin sendiri masih memandangi sosok yang menjadi cinta pertamanya itu. Memperhatikan setiap pahatan Tuhan di wajah tersebut. Yang terlihat manis, dengan kulitnya yang putih pucat, atau pipinya yang agak tembam, bibirnya yang tipis namun menggoda. Oh, rasanya Jimin ingin mencicipi yang satu itu. Tapi kapan?

 

Hyung?” Jimin mencoba mengambil perhatian Yoongi yang sedari tadi tak merespon perkataannya. Ia mengusap pipi Yoongi lembut, berusaha meraih atensi pemuda itu. “Hyung mendengarku, kan?”

 

“Aku—“

 

“Yoongi coba—eh? Umma mengganggu kalian, ya?“ ucapan umma Yoongi langsung membuat namja mint itu menjauhkan wajahnya dari tangan Jimin yang tadi mengelusnya. Ia kemudian bangkit dari duduk lalu menghilang menaiki tangga menuju kamar. Meninggalkan Jimin yang masih terpaku, namun lalu tersenyum pada ibunda Yoongi. “Beneran ganggu?”

 

Ne? T-tidak, kok, ahjuma, hehehe.”

 

“Benar, ya? Oh iya, orang tua Jimin apa kabar?”

 

“Baik, kok, ahjuma. Besok mereka sampai di Seoul.”

 

Jinjja? Aaah, tidak sadar bertemu dengan ibumu. Salamkan padanya, ne?”

 

“Siap, ahjuma!”

 

“Ehmm, daripada menunggu di sini, mending Jimin ke atas, ke kamar Yoongi. Pintu kedua dari tangga, gih sana.”

 

“Eh? Tidak apa-apa, ahjuma?”

 

Nyonya Min hanya mengangguk lalu mengusir halus anak sahabatnya yang merupakan teman putranya itu juga untuk naik ke lantai atas. Meninggalkan ia yang akhirnya memutuskan untuk kembali menekuni sesuatu di dapur kediamannya.

 

“Hubungan mereka apa, sih? Jadi penasaran…” pun sambil bergumam menyuarakan kebingungannya mengenai dua anak adam tadi.

 

xxxXXXxxxx

 

Yoongi langsung membalikkan badan ketika pintu kamarnya diketuk. Ia mengernyit lalu mendekati pintu itu untuk membukanya, yang langsung dihadapkan pada wajah Jimin yang tengah tersenyum padanya.

 

“Hai, hyung~ ahjuma menyuruhku untuk naik dan melihat kamarmu. Jadi? Boleh aku masuk?”

 

Ya, Tuhan. Cobaan apalagi ini?

 

Yoongi hanya mengangkat bahu kemudian memutar tubuhnya berlalu dari hadapan Jimin, tanpa mengatakan apa-apa namun ia membiarkan pintu kamar itu terbuka. Jimin yang diberi jawaban seperti itu menganggap bahwa Yoongi mempersilahkannya. Ia pun memasuki ruangan milik sosok pujaannya.

 

Matanya menjelajah ke seluruh penjuru kamar, dengan Yoongi sendiri duduk di kursi meja belajar di mana ia tengah mengerjakan tugas sekolahnya, mengabaikan Jimin yang masih bingung harus bersikap bagaimana.

 

Sepuluh tahun lebih mereka tidak bertemu dan saling bertukar sapa. Namun bukan berarti Jimin tidak tahu mengenai sosok itu. Karena sebisa mungkin, Jimin mencari tahu semua tentang sosok pujaannya. Dan untungnya Taehyung, sahabatnya mau membantunya. Jimin sangat berterima kasih pada sobatnya itu.

 

Berbicara mengenai mereka. Mereka ini apa? Teman? Ya, mungkin hanya sebatas itu. Mereka teman yang hanya dekat dalam hitungan tahun saja. Dua tahun, apa itu sudah cukup? Dan lagi itu ketika mereka masih kecil dulu. Tetapi rasa suka Jimin pada Yoongi tidak main-main. Jimin berani bertaruh bahwa rasa suka itu masih ada sampai sekarang. Namun apa Yoongi sendiri akan percaya?

 

Yoongi sendiri, Jimin bukannya tidak tahu. Bahwa sejujurnya Jimin pernah mendapati berita di mana sahabat sosok itu sendiri yang mengatakan bahwa Yoongi menyukainya. Namun apa benar? Apa benar Yoongi juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Atau itu hanya delusi Jimin semata?

 

Karena itulah Jimin di sini, berusaha untuk mencari jawaban dari Yoongi, mengenai perasaannya, dan mengenai perasaan sosok itu kalau boleh. Namun apa semua akan berjalan sesuatu perkiraannya?

 

Entahlah. Jimin pun tidak mengerti.

 

Kenapa kembali?”

 

“Eh?”

 

Saat ia melihat ke arah Yoongi, sosok itu sudah memutar arah pandangannya menatap Jimin dengan tangan terlipat di dada dan wajah cemberut di sana. “Aku tanya, kenapa kembali?”

 

“Memangnya tidak boleh?”

 

Yoongi menggeleng menjawab itu. “Lalu kenapa pergi?”

 

“Bagaimana dengan hyung?”

 

“Aku?”

 

“Ya. Kenapa pergi dan kenapa kembali?”

 

Molla. Aku hanya mengikuti ke mana appa dan umma membawaku.”

 

Begitu juga aku.”

 

“Oh…”

 

Hening meraja tiba-tiba, sampai kemudian Jimin mendekati Yoongi lalu berlutut di depan tempatnya duduk. Mengambil tangan namja itu untuk Jimin genggam dalam tautan erat kedua tangannya.

 

Hyung sudah mau jawab?”

 

“Jawab apa?”

 

“Tentang pertanyaanku… yang dulu maupun tadi?”

 

“Memang kau tanya apa?”

 

Jimin langsung menghela napas mendengar jawaban Yoongi. Ia kemudian bangun dari berlututnya untuk berjalan ke arah jendela yang terbuka menampilkan langit cerah hari itu.

 

“Bukan apa-apa. Omong-omong, mulai besok Jimin satu sekolah dengan hyung, loh!”

 

“Masa?”

 

“Iyaaaa~ masa tidak percaya sih. Hyung satu sekolah sama byuntae, kan?”

 

Byuntae?”

 

“Taehyung maksudku, hyung.”

 

“Oh… iya.”

 

“Semoga aku bisa sering melihat hyung!”

 

“Semoga tidak.”

 

Ya! Wae wae waeyooo?”

 

Dulu saja kau suka menggangguku. Apalagi sekarang. Aku tidak yakin kau sudah berubah.”

 

Jimin cemberut lagi. “Hyung jahat sekali~”

 

“Bodo.” Yoongi langsung berbalik lagi menatap buku di atas meja belajarnya. Lalu tak lama ia merasakan hangat napas di dekat tengkuknya, dan suara bisikan di telinganya.

 

Hyung boleh berpura-pura lupa tentang apa yang kita bicarakan tadi. Tapi… aku akan menunggu sampai hyung menjawabku. Saranghae.”

 

Pemuda berambut orens itu lalu menggigit kecil daun telinga Yoongi sebelum berjalan ke arah pintu kamar. Ia berhenti di sana untuk kemudian menoleh ke arah Yoongi yang juga menatapnya. “Sampai besok, hyung. Love. You.”

 

Dan menghilang di balik tertutupnya pintu kamar Yoongi, menyisakan dirinya yang masih berdebar akibat perkataan dan perbuatan Jimin barusan.

 

Tuhan… mengapa juga Yoongi harus sok-sok an menyangkal? Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan? Mengapa tadi ia tidak langsung mengatakan yang selama ini ia rasakan mengenai Jimin? Mengapa? Yoongi pun tidak tahu dan ia hanya bisa berharap… bahwa besok, masih ada kesempatan untuknya bicara jujur.

 

Tak lama setelah Jimin pergi, Seokjin datang sambil mengernyit, pun… Yoongi mulai menceritakan apa yang beberapa menit lalu terjadi. Dan jadilah, hari itu ia sesorean mendengarkan omelan Seokjin yang membuat telinganya sakit.

 

xxxXXXxxx

 

“Yoongi hyuuuuunggg~”

 

BRUK!

 

Teriakan beserta terjang pelukan Yoongi dapatkan dan ketika melihat siapa yang melakukannya, Yoongi langsung memukul kepala orang itu.

 

“Sakit, pabo!”

 

Jimin cemberut lalu dengan seenaknya mengait pinggang Yoongi membawanya ikut berjalan melintasi koridor menuju kantin. Dengan di belakang mereka Seokjin, Taehyung dan Jungkook hanya menggelengkan kepala melihat kelakukan Jimin.

 

“Belum pacaran aja sudah peluk-peluk. Dasar Jimin modus~”

 

“Aku dengar itu, byuntae. Awas saja kau nanti.”

 

“Ayeeeee, bilang aja kau masih digantungin sama Yoongi-hyung! Hahaha kasihan sekali kau. By the way aku dan Jungkook duluan, ah! Bye! Semoga berhasil kawan~”

 

Tiba-tiba saja Taehyung dan Jungkook sudah melewati mereka sambil melambai. Seokjin di belakang mereka makin menggeleng, Jimin mendengus lalu Yoongi yang berusaha melepas rangkulan Jimin pada pinggangnya.

 

Ya, lepaskan!”

 

Anniyooooo~ aku mau peluk hyung!”

 

Ish! Kau ini tidak berubah sama sekali.”

 

“Habis hyung enak dipeluk, sih.”

 

“Terserah.”

 

Jimin menyeringai mendengarnya. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke arah telinga Yoongi. “Love you,” berbisik di sana kemudian menggigit kecil lagi daun telinga namja mint tersebut. Detik selanjutnya ia berlalu meninggalkan sang pujaan hati dengan sahabatnya.

 

Yoongi yang masih mencerna kejadian tadi mulai menampakkan raut kesal dan berteriak. “YA! PARK JIMIN AWAS KAU!”

 

“Berisik, Suga. Bilang saja kau suka, kenapa sih? Pakai teriak segala. Semua orang bisa mendengar tahu.”

 

“Siapa yang kau bilang suka?”

 

“Kau, lah.”

 

“Bagian mana yang kusuka, hah?”

 

“Semuanya, kan? Dari Jimin memanggil namamu, memelukmu, mengait pinggangmu, berucap kata cinta terus menggigit telingamu. Kau suka, kan? Pfftt—kenapa wajahmu jadi merah gitu?”

 

“Ap—YA! Berhenti tertawa dan aku tidak memerah!”

 

“Coba ngaca sana. Mukamu merah begitu. Atau tanya saja murid yang kebetulan memperhatikan kita sekarang.”

 

“Kim Seokjin berhenti!”

 

“Cepat, aku lapar sekali.”

 

YA!”

 

Yoongi langsung berusaha menyamakan langkah Seokjin yang semakin cepat. Ia merasa kesal mengetahui fakta yang barusan disebutkan sahabatnya. Iya, dia suka semua yang Jimin lakukan. Tapi demi Tuhan! Ini koridor sekolah dan namja bersurai orens itu seenaknya memperlakukan Yoongi di depan semua orang. Apa kata mereka nanti?

 

“Mau sampai kapan kau daydreaming di sana, Suga? Cepat, sih. Aku sudah lapar.”

 

“Cerewet. Bilang saja mau ketemu Namjoon apa susahnya.”

 

“Ya, terserah. Omong-omong kan di kantin ada Jimin. Minta suapin dia gih.”

 

“KIM SEOKJIN!”

 

“Haha oke piss! Cepetan, ah!”

 

“Y!”

 

xxxXXXxxx

 

 

Yoongi memandang hamparan langit sambil menyangga kepalanya dengan kedua tangan. Ia kini tengah membaringkan tubuhnya di atap sekolah. Jam pulang sudah berbunyi sejak tadi, namun ia rasanya enggan untuk bangkit dari kenyamanan yang sekarang melingkupinya. Di telinganya terpasang earphone yang memperdengarkan lagu-lagu kesayangan. Matanya kemudian terpejam, memutar ulang kembali apa yang terjadi antara dia dan Jimin belakangan ini.

 

Ketika sosok itu muncul di depan rumahnya. Lalu memeluknya, menariknya ke rumahnya sendiri, mengatakan lagi soal perasaannya, lalu saat di kamar Yoongi, di mana sosok itu sepertinya kecewa ketika Yoongi sengaja mengalihkan pembicaraan. Namun lagi-lagi semua itu diakhiri dengan pernyataan cinta.

 

Ah… Yoongi tidak tahu. Mengapa kemarin, kemarinnya lagi atau sampai hari ini ia masih suka membohongi perasaannya di saat Jimin mulai bertanya apa jawabannya.

 

Dari mana Yoongi harus memulai?

 

“Mau sampai kapan hyung tidur di sini?”

 

DEG!

 

Yoongi langsung membuka mata dan mendapati Jimin yang berjongkok di samping tubuhnya. Namja bermahkotakan sewarna daun mint itu langsung berniat bangkit namun Jimin lebih cepat kembali membuatnya berbaring, lalu meletakkan tubuhnya sendiri di atas tubuh Yoongi.

 

“J-jim—“

 

“Ssttt, bisakah hyung diam sebentar?”

 

Demi Tuhan bagaimana bisa aku diam? Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu, siiiih?, batin Yoongi berteriak panik saat jari-jemari Jimin mengusap pelipisnya lalu turun ke pipinya. Kedua lutut dan sikunya menopang tubuhnya sendiri, seolah tak ingin memberi beban pada Yoongi.

 

Ne, hyung?”

 

“A-apa?”

 

“Apa itu benar?”

 

“Soal apa?” napas, Min Yoongi napas. Sedekat apapun jarak wajah Jimin denganmu sekarang kau hanya perlu bernapas, dengan hati-hati tapi. Jangan sampai bibir kalian saling sentuh. Tidak sekarang lebih tepatnya.

 

“Jin-hyung bilang… kalau hyung juga menyukaiku?”

 

Mwo?”

 

Ne… sepuluh tahun lebih, saat itu kita masih anak kecil imut tapi kini kita sudah dewasa. Namun bukan berarti kita bisa mengabaikan masa lalu, kan?”

 

Yoongi hanya diam, sekalipun ia tak ingin menatap ke arah mata Jimin, namun ia bisa apa? Ia tetap menatap mata itu daripada memperhatikan bagaimana bibir Jimin bergerak setiap kali menyuarakan kalimat-kalimat padanya.

 

“Beberapa tahun yang lalu aku pernah ke Tokyo, dan melihatmu dari jauh. Ingin sekali aku menghampiri hyung, tapi bagaimana ya? Hyung pasti tidak akan senang karena dulu aku suka sekali merecoki hyung. Memeluk seenaknya, mengusel, memainkan rambut hyung sampai mencubiti pipi hyung…”

 

Angin musim kala itu tiba-tiba berhembus menggoyangkan mahkota sewarna langit senja milik Jimin membuatnya nampak lebih menawan. Dan Yoongi dibuat menahan napas melihat itu.

 

“…terlepas dari itu semua. Aku hanya ingin agar hyung melihatku. Lalu saat aku memberikan secarik kertas itu –oh, konyol memang. Demi Tuhan itu ide byuntae yang entah dia tahu dari mana. Tapi aku sangat menyukai hyung dan tak ingin membagi hyung dengan siapapun. Seiring waktu berlalu, ketika hyung tak ada lagi di sana, aku berharap hyung kembali. Nyatanya tidak sampai ketika appa dan umma membawaku kembali ke Busan. Kangen… pengen meluk hyung terus rasanya.”

 

Jimin tiba-tiba saja menurunkan wajahnya lalu menyembunyikannya di leher Yoongi, menghirup aroma yang keluar dari sana. Mengusel dengan hidungnya kemudian memberi beberapa kecupan membuat Yoongi berjengit karenanya.

 

“Suka… semua yang ada pada Yoongi-hyung. Aku suka sekali. Aku sampai meminta umma untuk sering menelpon Min ahjuma supaya tahu apa saja yang hyung lakukan sehari-hari di Tokyo. Walau tidak bisa berkomunikasi secara langsung, tapi itu sudah cukup buatku.”

 

Tiba-tiba Jimin mengangkat wajahnya lagi dan menggesekkan hidung mereka, membuat tangan Yoongi yang sedari tadi menahan dada Jimin semakin mendorongnya.

 

“Jim—“

 

“Seiring waktu berlalu membuat kita beranjak dewasa, lalu mulai muncul situs-situs jejaring sosial, aku mengikuti itu semua. Lalu tanpa sadar byuntae memberitahuku soal akun-akunmu. Memang tidak kutambahkan sebagai teman atau kufollow, tapi yakin deh, aku selalu menstalk-mu setiap hari, hyung.”

 

“Gila.” Yoongi refleks bersuara saat tahu hal itu. Dan Jimin hanya balas terkekeh, lalu menggerakkan wajahnya untuk menggesekkan hidungnya di pipi Yoongi.

 

“Aku memang gila. Makin dewasa bukannya makin berpikir itu hanya perasaan cinta monyet, ternyata makin nyata perasaanku pada hyung. Terus suatu ketika, saat Jin-hyung menulis status mengenai orang yang hyung suka, tahu tidak sih, hyung? Kalau aku cemburu? Aku hampir saja membanting laptopku jika saja aku tidak membaca komen-komenannya. Lalu ada satu komenan di mana Jin-hyung menyebut namaku. Tuh! Di sana aku merasa melayang tiba-tiba.”

 

Buang muka. Itu yang Yoongi lakukan sekarang sekalipun sedari tadi Jimin belum juga berhenti berusaha membuat kontak fisik dengannya. Entah menggesekkan hidung mereka, hidungnya pada Yoongi, atau tangannya yang bergerak, dan yakinlah itu membuat Yoongi was-was walau sebenarnya ia berdebar. Sejujurnya… apa yang sedang terjadi sekarang?

 

“Yoongi-hyung… aku bertanya lagi padamu. Apa kau… menyukaiku?”

 

Yoongi langsung terdiam ditanya begitu. Ia masih memalingkan wajahnya, dan ia bisa merasakan Jimin yang mulai menurunkan kepalanya kembali, lalu menyentuhkan hidungnya di leher Yoongi.

 

Bukannya mendorong dada Jimin, ia malah mencengkram bagian depan kemeja sosok itu. “Jimin—“

 

“Hm?” pemuda berambut orens itu malah asik mengendusi leher sampai bagian belakang telinga Yoongi. Satu tangannya bergerak untuk mengusap bahu sampai lengan sosok di bawahnya. “Katakan sesuatu, hyung.”

 

“Aku—ah!” Yoongi refleks memejamkan mata saat merasakan gigitan pada lehernya. Ia makin mencengkram baju depan Jimin, dan kepalanya agak mendongak seolah memberi akses lebih.

 

Oh, demi Tuhan. Mereka baru bertemu beberapa hari yang lalu lagi setelah perpisahan sepuluh tahun lebih. Di mana kini waktu membawa mereka ke bangku SMA, dan sekarang sepertinya dunia sedang berusaha membuat mereka jujur satu sama lain.

 

Ia bisa merasakan Jimin menjilat bekas gigitannya, di mana hal itu membuat tangan Yoongi bergerak sendiri lalu mengalung di leher pemuda di atasnya. Jimin tersenyum, ia kemudian agak mengangkat tubuhnya untuk melihat keseluruhan wajah sosok yang dipujanya. Tangannya bergerak mengelus pipi putih pucat itu. “Yoongi-hyung?”

 

Nado…” bisikan itu amat lirih, seolah Yoongi mengucapkannya di ujung lidah. Namun Jimin masih dengan jelas mendengar itu.

 

“Apa hyung? Aku tidak dengar.”

 

Pabo. Aku membencimu.”

 

Jimin terkekeh, lalu mendaratkan kecupan di dahi Yoongi. Lama, pun Yoongi justru meresapi itu. Seolah merasakan perasaan yang sedari tadi berusaha Jimin sampaikan. Mungkin ini saatnya dia jujur. Masa bodoh soal masa kecil dan semua hal memalukan itu.

 

“Aku juga… menyukaimu. Puas?”

 

“Sejak kapan?”

 

Kenapa mau tahu?”

 

“Memang tidak boleh?”

 

Yoongi hanya mengangguk saja. Yang lalu dibalas tatapan gemas oleh Jimin, juga gigitan pada hidungnya. “Ya!”

 

“Beritahu~”

 

“Uhm… empat tahun setelah itu?”

 

“Ha?”

 

“Musnah sana, Jim. Cepat bangun dari tubuhku, kau berat.”

 

“Hahaha iya, iya, aku dengar kok. Hmmm, empat tahun setelah itu. Coba kita hitung lamaan siapa ya di antara kita yang memendam rasa?”

 

“Bocah bodoh sepertimu dewasa sebelum waktunya. Dasar. Jangan kebanyakan nonton telenovela, kenapa sih.”

 

Jimin hanya tertawa, lalu mempertemukan dahi mereka. Menggesekkan lagi hidung yang sedari bertemu, kemudian juga mematri senyuman di sudut bibir.

 

“Tapi aku tidak menyesal. Toh, perasaanku terbalas. Sekalipun terlalu dini… aku tidak menyesal telah memilihmu di usiaku yang dini itu, hyung. Aku mencintaimu.”

 

“Ya ya ya. Terserah padamu.”

 

Yoongi hanya memutar mata kemudian benar-benar mendorong Jimin untuk bangkit. Untungnya, kali ini Jimin mau menuruti Yoongi, jadilah kini mereka duduk berhadapan.

 

“Mana ‘aku mencintaimu juga’ nya?”

 

Pemuda bersurai mint itu mendengus lalu memalingkan wajahnya sambil menjawab. “Dibawa pergi angin yang berhembus barusan. Sekarang minggir karena aku mau pul—“ dilanjut dengan pelototan horror ketika merasakan ada bibir lain yang menabrak bibirnya, diselingi lagi sapaan angin musim yang mengayun di sekitarnya.

 

Beberapa detik mencerna, barulah ia sadar bahwa Jimin tengah menciumnya. Di mana pada akhirnya, lambat laun ia mulai ikut memejamkan mata. Menikmati ciuman mereka di bawah langit cerah kala itu.

 

Ketika Jimin merasa Yoongi mulai membuka diri, ia memperdalam lagi ciuman itu. Melumat juga mengemut keseluruhan bibir Yoongi yang ada pada mulutnya. Memagut dalam, lalu tangannya ia bawa untuk melabuhkan diri di belakang leher sang kekasih, dengan Yoongi juga yang mengarahkan lengannya untuk mengalung di leher Jimin.

 

Mereka saling berciuman, cepat dan terburu. Seolah mengejar sesuatu tak kasat mata yang beterbangan di sekitar mereka akibat efek ciuman pertama yang bernapsu untuk saling memakan satu salam lain. Ketika pada akhirnya Yoongi berakhir di atas pangkuan Jimin, dengan kedua kakinya yang memeluk pinggang namja itu, atau tangan Jimin yang bergerak naik-turun mengelus punggung kekasihnya, mereka lupa bahwa senja hampir pergi. Rasa asing yang mungkin akan jadi rasa kesukaan mereka mulai saat ini terasa sangat memabukkan sehingga membuat mereka enggan menyudahinya.

 

Hari itu… Yoongi sudah jujur pada cinta pertamanya. Pun Jimin yang melakukan hal sama ketika pada akhirnya ia bisa menemukan setitik jawaban atas setiap rasa dan pertanyaan yang ia miliki.

 

Pun dengan setiap pertanyaan Yoongi mengenai hatinya. Jimin adalah jawabannya. Dan cinta mereka yang kini mulai terajut, sedikit berharap akan terus berjalan indah. Terima kasih pada waktu dan jarak yang membuat mereka sadar, bahwa sekalipun kau jatuh terlalu dini pada seseorang, bukan berarti rasa itu akan pudar.

 

Karena cinta selalu punya cara untuk dibuktikan kesungguhannya.

 

xxxXXXxxx

 

FIN.

 

xxxXXXxxx

 

a.n2 : ASDFHJKL gatau saya nulis apa. Maapkeun kalau ga jelas. Ini paksaan si Jimsnoona mesum yang bikin saya malah tambah baver bukannya mupon.

Ah, udahlah deh ya. Saya mah bisa apa atuh. Berawal dari pembicaraan soal first love—lalu nyangkutnya pasti ke MinYoon. Iya, otaknya si Jims kan mereka mulu. Saya mah apa atuh. INI SUMFAH BAVER BANGET BIKINNYA :” Ada satu scene yang merupakan pengalaman saya asli, HAHAHA. Yaudahlah. Udah gaje kan saya cuap-cuapnya.

 

Btw, happy belated birthday untuk Min Yoongi. Sukses selalu, ya, qaqa. Terima kasih untuk senyuman manismu yang jadi menyemangatku/?

 

Okeee, bolehkah saya minta reviewnya, guys?

Thanks a lot!

 

Regards,

Yumi

 

xxxXXXxxx

 

Omake

 

xxxXXXxxx

 

Angin berhembus menggoyangkan tirai kamar yang terbuka di dalam ruangan serba abu-abu itu. Sapaannya menyapa helai-helai kertas pada buku yang terbuka, di mana pada akhirnya hal itu menunjuk pada satu halaman di mana di sana terdapat secarik kertas yang sengaja di selipkan.

 

Ketika angin sekali lagi membelainya, kertas itu menunjukkan apa yang terdapat di dalamnya. Mengenai ungkapan cinta… mengenai kisah pemilik kamar yang kini tengah berbahagia.

 

Karena hari itu, angin pun ikut bersorak. Merasakan kebahagiaan setiap insan yang mau jujur pada perasaannya dibanding memendamnya. Memberi kehangatan lebih pada setiap hari yang berbahagia.

 

Jimin

Yoongi

 

xxxXXXxxx

 

See you again!

 

xxxXXXxxx

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s