If Love is Nearly Life Breaking ~Part 2


Jika cinta benar-benar mengerti segala sesuatu tanpa adanya aksara… kuharap kau juga.

Tentangku… yang tak pernah bisa menunjukkan afeksi maupun merangkai kata.

 

○○○

 

If Love is Nearly Life Breaking © Fujimoto Yumi, 2016

187310a60def6cf03036e538764c5746

Park Jimin X Min Yoongi © God, themselves

BTS, Infinite and other cast © God, themselves

Hurt/Comfort, Angst, Romance, Family, Friendship.

Rated M. AU. OOC. SLASH.

Bottom!Yoongi. Uke!Yoongi.

 

This is my very first MinYoon fiction, and maybe the one and only.

This fiction is dedicated for my dearest sister, Jimsnoona.

Hope you like it. I hope that it is exceeded your expectations.

 

○○○

“Kakak, mau sampai kapan tidurnya? Sudah waktunya makan malam, loh,” suara sang bunda menggema di depan pintu kamarnya. Yoongi langsung berusaha bangkit mengabaikan rasa sakit pada bagian belakangnya.

 

“Iya, bun. Yoongi mau mandi dulu.”

 

“Jangan lama-lama.”

 

“Iya, bunda.”

 

Kalau saja ia bisa mengatakan bahwa ia tidak nafsu makan. Kalau saja ia bisa mengatakan bahwa ia hanya ingin diam di sini dan mencerna segalanya. Kalau saja bundanya tahu apa yang terjadi… apa yang akan dikatakan bunda padanya?

 

Mengabaikan semua sakit yang tiba-tiba menyerang tubuhnya, namja berambut mint itu melangkah dengan pelan ke kamar mandi, berniat membersihkan diri. Berharap setelah ini semua rasa aneh yang menghinggapinya menghilang dan takkan datang lagi.

 

Hari ini mungkin tak kusadari… bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari mimpi.

Mimpi yang terwujud menjadi kenyataan pahit yang menyakiti.

Tentangmu.

xxxXXXxxx

 

Seokjin mengernyit melihat putra sulungnya yang berjalan agak tertatih. Terlebih, sang anak memakai kaus turtleneck. Karena jarang sekali Yoonginya memakai kaus model itu. Rasa-rasanya ada yang aneh, namun wanita paruh baya itu diam saja dan kembali menyendokkan lauk ke piring putra bungsunya.

 

Saat Yoongi sudah menduduki bangkunya, Seokjin langsung memintanya untuk mengangkat piringnya supaya ia bisa mengisi nasi dan lauk di atasnya. “Kakak mau pakai lauk apa?”

 

Yoongi hanya melirik malas makanan di atas meja. Dan menjawab seadanya, “Apa saja, bun.”

 

Ia lemas. Tak bersemangat. Yoongi ingin tidur dan berharap semua ini hanya mimpi. Namun apa bisa?

 

“Kakak sakit?” Yoongi langsung tersentak saat suara ayahnya menggema. Pemuda mint itu langsung menggeleng dan melahap makan malamnya. “Kakak kelihatan pucat. Mau ke dokter?”

 

“Yoongi oke, yah.”

 

“Kak Yoongi—“

 

“Kakak baik-baik saja, please?”

 

Min Namjoon, ayah Yoongi langsung terdiam. Seokjin yang sedaritadi memperhatikan juga tak berucap apa-apa. Jungkook di sampingnya melirik kakaknya, lalu menyeletuk. “Tadi siang Jimin kemari ya, kak?”

 

DEG!

 

Gerakan Yoongi langsung berhenti, dan itu membuat tiga orang lain di sana mengenyit penuh tanda tanya.

 

“Kakak?”

 

“Ya…”

 

“Ohhh. Terus sudah pulang? Kok Kookie tidak tahu?”

 

‘Aku pun tidak tahu kapan dia pergi.’

 

Melihat putra sulungnya yang diam saja, Seokjin langsung menengahi. “Sudah-sudah. Ayo kalian makan dulu. Mengobrolnya nanti saja, arra?”

 

“Iya bundaaa.”

 

Pun kemudian namja berambut mint itu kembali menyantap makan malamnya. Mengabaikan rasa sakit pada bagian belakang tubuhnya membuatnya duduk tidak nyaman. Atau ketika bagaimana adiknya Jungkook terus bertanya soal Jimin, atau ketika ayahnya terus-menerus memintanya untuk pergi ke dokter. Yoongi berharap ia tidak harus bicara banyak sekarang. Ia tidak ingin ke mana-mana. Tidak ketika seluruh rasa sakit menyerang seluruh bagian tubuhnya. Dan yang paling terasa sakitnya… adalah di bagian dadanya.

 

Bisakah seseorang meyakinkan dia bahwa dia baik-baik saja?

 

“Kakak sungguh baik-baik saja?” kali ini suara sang bunda menggema di ruang makan itu.

 

Yoongi langsung menyelesaikan makannya dan bersandar pada badan kursi di belakangnya. “Yoongi mau tidur, bun. Besok pagi pasti baik lagi. Cuma sedikit pusing.”

 

“Kakak yakin?” sang ayah memastikan dan namja mint itu hanya mengangguk. “Kalau pusingnya makin menjadi, langsung beritahu ayah atau bunda, arraseo?” Min Namjoon benar-benar mengkhawatirkan putra sulungnya ini.

 

Pun yang dilakukan Yoongi hanya mengangguk kemudian bangkit meninggalkan tiga anggota keluarga yang senantiasa terus berusaha menopangnya. Ada atau tidaknya masalah yang ia hadapi.

 

‘Apa bunda akan memaklumi jika ia tahu apa yang kulakukan bersama… Jimin? Apa ayah juga akan tetap khawatir? Oh shit. Pinggangku pegal sekali. Shit shit shit.’

 

Hei, kamu…

Aku pun berharap aku bisa jujur. Bukan hanya pada mereka, tetapi padamu juga. Bisakah?

xxxXXXxxx

 

Matahari pagi mengetuk pelan kelopak mata namja berambut mint yang masih nyenyak dalam tidurnya. Tirai kamar yang dibuka dan namja itu yakin sang bunda lah pelakunya, membuat sosok bernama Min Yoongi tersebut membuka matanya perlahan, membiasakan diri dengan bias mentari yang bersinar—memantul dari kaca jendela kamarnya.

 

Saat ia menemukan sang bunda yang sudah tersenyum padanya, Yoongi langsung sadar sepenuhnya. Apalagi ketika wanita paruh baya itu mengusap sayang kepalanya dan mendaratkan kecupan di sana.

 

“Pagi kakak tersayang bunda. Pusingnya sudah hilang?”

 

Sekalipun sikapnya dingin dan cuek, dan Seokjin tahu itu, Yoongi tumbuh penuh kasih sayang dari keluarganya. Tak ada yang tahu mengapa ia bisa tumbuh sedingin dan secuek itu pada orang lain.

 

“Pagi bun. Sudah lebih baik, kok.”

 

“Sekarang kakak mandi setelah itu sarapan. Ohya, bunda bertanya-tanya… biasanya nak Jimin jam segini sudah datang menjemput kakak. Tapi kok sekarang belum, ya?”

 

Yoongi langsung meringis mendengar nama Jimin disebut. Ia melirik meja nakas dan melihat jam yang berdiri tegak di sana. Hampir pukul sembilan dan dia ada kelas jam setengah sebelas. Well, memang biasanya Jimin sudah ada di bawah. Tapi sekarang… apa yang dia harapkan?

 

Namja mint itu diam saja tak merespon ibundanya. Yoongi hanya berjalan pelan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berhenti karena pertanyaan sang bunda. “Kaki kakak sakit? Kok jalannya tertatih begitu?”

 

Yoongi berpegangan pada dinding terdekat tanpa menoleh. Ia menjawab pelan pertanyaan sang bunda. “Kakak oke, bun. Jangan khawatir.” Dan kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi. Meninggalkan Seokjin yang masih mengernyit di samping tempat tidur anaknya.

 

“Kak Yoongi itu, kenapa suka sekali menyimpan masalahnya sendiri sih?” Seokjin hanya bisa geleng kepala dan berlalu dari ruangan bernuansa abu-abu yang tenang.

 

xxxXXXxxx

 

Di balik pintu kamar mandi, Yoongi bersandar. Kepalanya menatap ke langit-langit, napasnya tak beraturan dan entah apa yang merasukinya, satu tangannya terangkat lalu berlabuh di dadanya. Berusaha mengerti rasa apa yang ia rasakan kala itu. Berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi padanya ketika sang bunda menyebut nama Jimin barusan. Berusaha… seberusaha mungkin untuk mengartikan hal itu sebagai… sebatas rasa kehilangan karena sejujurnya ia sudah terbiasa.

 

Ya… Yoongi hanya berpikir demikian. Ia sudah terbiasa dengan Jimin yang menjemputnya. Ia sudah terbiasa dengan Jimin yang selalu mengganggunya. Ia juga sudah terbiasa ketika Jimin mengatakan kalimat-kalimat cinta itu. Dan kini ketika ia merasa hatinya kosong, Yoongi hanya bisa berpikir karena ia merasa aneh. Aneh karena tidak akan lagi menghadapi itu semua.

 

Ah… mungkin tidak. Ini baru hari pertama ia kembali menggenggam status kesendiriannya. Ini hari pertama Jimin bukan lagi berstatus sebagai kekasihnya. Dan mungkin hari-hari selanjutnya Yoongi akan terbiasa. Tanpa sosok itu. Tanpa sosok Jimin yang berusaha mengambil semua atensi yang dimilikinya.

 

Saat terbangun tadi pun Yoongi tak berusaha mencari ponselnya. Karena biasanya, ponsel itu akan berdering membangunkannya dari mimpi indah. Dan ketika hanya kesunyian dan sapaan selamat pagi dari bundanya seperti biasa, Yoongi tahu semua sudah berubah.

 

Setelah ini… setelah ini tidak akan lagi kata ‘kita’ di antara dia dan Jimin. Ya. Setelah ini semuanya akan berbeda.

 

Menghela napas untuk meringankan rasa berat yang menghinggapi kala itu, Yoongi bersingut menjauh dari pintu kamar mandi ke arah bath up untuk membersihkan diri.

 

Dalam diam, ia berharap semua akan baik-baik saja. Ya, semua akan baik-baik saja.

 

xxxXXXxxx

 

Yoongi berjalan ke arah taman di mana biasanya ia berkumpul dengan dua sahabatnya dalam diam. Sembari sesekali bibirnya bergerak mengikuti nyanyian yang terdengar di telinga, dalam sunyi ia ikut terhanyut. Walau sejujurnya ia mati rasa, ia tak bisa mendengar suara musik yang sudah ia setel max volume pada headsetnya. Ia pun bertanya-tanya, namun pada akhirnya ia tak peduli. Sampai ketika ia melihat dua sahabatnya di sana, dan ketika ia bertemu pandang dengan Sungyeol, namja tinggi itu langsung beranjak. Pergi berlalu meninggalkan Hoseok yang tengah mengernyit, menghindari dirinya yang baru saja akan bergabung.

 

‘So…’

 

Namun Yoongi tetap berjalan ke sana. Menghampiri Hoseok yang duduk sendiri. Mengabaikan rasa kecewanya karena Sungyeol memilih menjauhinya hanya karena mungkin ia sudah tahu dari Myungsoo bahwa Jimin dan dia sudah berakhir. Ah, mungkin saja, kan?

 

“Yo, Suga! Mukamu makin seram. You okay, bro?” Hoseok langsung menyapanya sesaat ia duduk di samping namja itu.

 

Yoongi hanya meliriknya sekilas, lalu mengeluarkan laptop dan mulai asik dengan kegiatannya sendiri. Percayalah bahwa tadi Hoseok sempat memasang wajah heran karena ia menghampiri namja itu dengan tertarih dalam langkahnya. Namun Yoongi tak peduli. Pun ia terus mengabaikan Hoseok yang sudah larut dalam kegiatannya juga, seakan tahu seperti apa Yoongi sebenarnya.

 

Namun beberapa detik kemudian, Hoseok mengalihkan pandangannya lagi ke arah Yoongi. “Serius, Suga. Kau oke?”

 

“Kenapa?”

 

Well… kau tahu, Sungyeol bilang kau dan Jimin—“

 

I’m okay.”

 

“Yakin?”

 

“Hoseok.”

 

“Oke, oke. Tapi—“

 

“—tidak selamanya kau harus menyimpannya sendirian, Min Yoongi.” Ucapan Hoseok terhenti dan disambung oleh suara lain, yang Yoongi yakini bahwa itu suara sahabatnya, Sungyeol.

 

Yoongi mendongak dan melihat Sungyeol mendorong minuman ke arahnya. Ia mengernyit, lalu melirik minuman itu dan Sungyeol bergantian.

 

“Apa? Kau berpikir aku akan   menghindarimu karena aku tahu kau dan Jimin putus? Oh ayolah, Min Yoongi. Who do you think I am? Aku memang kadang protes dan kesal padamu, tapi bukan berarti aku akan menjauh hanya karena aku berpacaran dengan kakak mantanmu.”

 

Yoongi hanya diam mendengarkan Sungyeol. Hoseok mengangguk di sebelahnya. Ia pun tak menjawab dan hanya meminum cappuccino yang dibawakan sahabatnya. Sungyeol sendiri menghela napas lelah dan duduk di seberangnya.

 

“Kau tahu kau tidak sendirian, Suga. Kau punya aku, Hoseok, bunda, ayahmu, Kookie dan yang lainnya. Kau tidak boleh melupakan itu.”

 

“…”

 

“Dan lagi, menyimpan masalahmu sendirian hanya akan membuatmu tambah tua. Kau dengar tidak? Tambah tua. Kuyakin kau akan tambah jelek.”

 

“Yup. Min Suga menua, hiiii. Akan jadi apa kau nanti?” Hoseok menyahut yang dibalas pukulan pada kepalanya. Ia meringis namun kemudian tertawa. “Setidaknya kau sudah bisa menemukan kegunaan tanganmu lagi, ‘Gus.”

 

“Berisik.”

 

Tsk. Btw kenapa dengan kakimu? Kok jalan kayak mummy gitu?” Sungyeol tiba-tiba bertanya.

 

Dan pertanyaannya dijawab ketus oleh Yoongi. “Bukan urusanmu.”

 

“Oh, sepertinya aku tahu?!”

 

“Tutup mulutmu, Hopeless.”

 

Hari itu, sekalipun langit mendung menghiasi angkasa, sekalipun Yoongi merasa berat di hatinya, sekalipun ia tahu ada yang salah, Yoongi tetap seperti dia yang biasanya. Tidak peduli semuanya akan terbaca. Karena bagi kedua sahabatnya, percayalah Yoongi itu hanyalah seperti buku yang terbuka. Walau terkadang mereka sulit menebak dan menghadapinya. Mereka mengenal Yoongi jauh sebelum hari mendung itu. Mereka bersahabat dengannya, jauh sebelum Yoongi benar-benar menjadi orang yang kini tengah berbohong pada mereka.

 

Bertaruh atas nama hati, atas nama perasaan, atas nama ego. Karena mereka terlalu mengenal Min Yoongi sampai-sampai mereka lelah menunggu namja mint itu untuk bergantung pada mereka.

 

Karena itu biarlah waktu yang membuatnya jujur. Pun mereka tahu, bahwa tak selamanya Yoongi akan diam. Bahwa ada saatnya ia sampai pada batasnya. Dan Sungyeol maupun Hoseok, terlalu tahu akan hal itu semua.

 

“Soal itu, kalian tidak sok bule ‘kan pakai break-up sex segala?”

 

“Lee Sungyeol tutup mulutmu atau aku akan memotong lidahmu itu.”

 

“Dih kami kan hanya bertanya, Suga!”

 

“Kau juga, Hopeless. Tutup mulutmu atau enyah dari sini.”

 

“Iiih, Agus mah galak.”

 

“Mati sana kalian berdua.”

 

Angin yang berhembus kala itu, sedikitnya menentramkan hati Yoongi. Karena ia tahu ia tidak sendirian… menghadapi semua masalah yang ia timbulkan sendiri.

 

xxxXXXxxx

 

Hari berikutnya, namja mint itu terbangun dengan keadaan badan yang masih pegal, entah kenapa. Namun namja bernama Yoongi itu tak ambil pusing. Pun ia tak repot-repot mengecek ponselnya yang berdering di meja nakas samping tempat tidur, seolah mengetahui siapa gerangan yang selalu suka mengganggunya di pagi hari. Kalau bukan Sungyeol, berarti Hoseok atau mungkin… Jimin.

 

Entahlah.

 

Yoongi meringis setiap kali mengingat nama namja yang lebih muda darinya itu. Hatinya seakan tercubit sesuatu, sakit dan sesak. Seolah napasnya tertahan akan hempitan beban yang tak kasat mata. Tetapi Yoongi menganggap hal itu hanya sebatas keterbiasaan yang hilang saja. Ia tidak kehilangan, bukan? Ia… tidak mungkin kehilangan Jimin, bukan?

 

Nada dering ponselnya terus terdengar membuat Yoongi segera mengangkatnya dan mengumpat pada orang itu.

 

Goddammit. Apa maumu?”

 

[“Bangun sleeping beauty. Sudah jam berapa ini? Masa kau belum sampai kampus? Mentang-mentang su—“]

 

PRAK!—Yoongi memutus sambungannya dan menghempaskan ponselnya ke atas meja nakasnya. Ia yakin telinganya akan panas kalau pagi-pagi sudah mendengarkan ocehan Sungyeol.

 

Namun nada dering selanjutnya kembali berbunyi. Setelah memastikan bukan Sungyeol yang menelpon, Yoongi mengangkatnya.

 

“Berisik, Hopeless. Aku baru bangun dan bolos jam kuliah pertama.”

 

[“Masih sakit memangnya badanmu sampai telat bang—“]

 

PRAK!—sekali lagi Yoongi menutup dan menghempaskan paksa ponselnya yang tak berdosa. Sampai ketukan pada pintu kamarnya menyapa paginya yang sudah diisi rasa kesal pada dua sahabatnya itu.

 

“Kak? Kak Yoongi mau sampai kapan tidurnya? Bunda tidak bisa masuk soalnya kakak kunci pintunya, sih.”

 

Yoongi langsung memaksakan diri bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu. Di sana, sang bunda sudah berdiri dengan sarapan di kedua tangannya. Wanita paruh baya itu masuk begitu saja dan meletakkan sarapan anaknya di dekat ponsel inosen yang tergeletak hampir retak. Lalu mulai merapikan ranjang putra sulungnya.

 

“Kakak tidak ke kampus?”

 

“Kampus kok, bun. Cuma ya, kesiangan.”

 

“Siapa suruh pintunya dikunci, dan diketuk-ketuk tidak bangun juga.”

 

“Bukannya bunda punya kunci duplikatnya?”

 

“Hmmm…” sang bunda seolah teringat sesuatu dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Yoongi mengikutinya dan menemukan bundanya memegang sebuah benda kecil seperti anak kunci. “…kuncinya ketinggalan pas bunda membenahi kamar kakak kemarin, hehe.”

 

Yoongi mendengus sayang, lalu mendorong ibundanya keluar ruangan berkeramik tersebut. “Yoongi mau mandi bun. Selamat pagi dan terima kasih sarapannya.” Setelah mencium sekilas dahi bundanya, pintu mahogani itu tertutup meninggalkan Seokjin yang tersenyum.

 

“Selamat pagi juga anak bunda, dan… semoga suka sarapannya.”

 

Pun kemudian, wanita dua anak itu berjalan keluar ruangan yang terlihat tenang, dihias dengan tinta abu-abu yang melekat pada dinding-dindingnya, juga dengan warna putih seputih kanvas pada langit-langit kamarnya. Namun, tak pelak, Seokjin bisa merasakan bahwa ruangan itu hanya diisi dengan rasa kekecewaan dan kehilangan yang dalam. Tirai jendela yang terbuka, tak menjadikan ruangan itu sama seperti hari-hari sebelumnya.

 

Seokjin semakin berpikir, sampai berapa lama Yoongi akan menyimpan semua rasa itu sendirian?

 

“Bunda masih berharap kakak akan jujur… apapun masalah kakak. Bunda di sini, kak Yoongi… selalu berharap agar kakak bergantung pada wanita tak muda lagi yang sangat mencintai putranya. Tetap bahagia, ne, anakku?” sembari menatapi pintu kamar mandi tersebut, setelah memastikan bahwa cintanya tersampaikan, Seokjin benar-benar berlalu. Diiringi dengan harapan yang terus berusaha ia pupuk agar terus tumbuh. Kepada putra sulungnya. Kepada Yoonginya… kebahagiaan pertama yang hadir dalam hidupnya.

 

Love you, kakak Yoongi~”

 

xxxXXXxxx

 

Keesokan harinya, dan keesokannya lagi, dan terus keesokannya, Yoongi kembali mengulangi hari yang sama. Namun yang berbeda dari hari-hari sebelumnya dan hari ini adalah… tak sedikitpun adanya eksistensi Jimin dalam hidupnya. Tidak lagi. Tidak lagi ketika semuanya memang sudah berakhir.

 

Tidak ada dering ponsel di pagi hari, atau pesan di siang hari yang memperingatkannya makan siang, atau di malam hari yang mengharapkannya mimpi indah. Tidak dari semua itu benar-benar terjadi beberapa hari belakangan ini, dan Yoongi dibuat resah karenanya.

 

Satu minggu lebih. Ia pikir ia sudah terbiasa. Terbiasa dengan keberisikan Jimin atau tingkahnya yang menyebalkan. Ocehannya di telepon yang selalu bisa membuatnya mengernyit kesal, atau pesan-pesan chessynya yang membuatnya merasa disayang. Dan itu semua kini telah hilang. Bergantikan kenangan yang terus berputar bagai kaset rusak setiap detiknya dalam ingatan.

 

Yoongi tersiksa, namun tak ia akui. Yoongi kerepotan, ketika pada akhirnya bundanya menanyakan perihal Jimin padanya. Yoongi marah, ketika ia sadar… mulai detik di mana Jimin mengatakan bahwa mereka putus, hidupnya tidak akan sama lagi. Hidupnya sudah berubah, ya… berubah seratus delapan puluh derajat dari yang biasanya.

 

Yoongi mungkin terluka… tapi selalu berhasil ia sembunyikan. Pun namja itu tahu, bahwa ia tak takkan bisa membohongi satu-satunya sosok yang bisa membacanya luar dalam dan mengerti dirinya, juga tentang semua kegelisahan yang ia miliki.

 

Yoongi hanya berharap semua emosinya akan terus tertahan. Ia hanya berharap dirinya akan tetap berdiri tegak tanpa terjatuh kesakitan. Karena tidak ada yang boleh melihatnya hancur. Tidak tirai kamar yang terus berkibar menyapanya di pagi hari, dengan pantulan sinar mentari yang tersebar indah menyinari kamarnya. Tidak lantai kamar yang selalu ia pijaki, ia nodai dengan seluruh keegoisannya yang selalu tampak, atau tidak pada dirinya sendiri… yang selalu yakin bahwa ia baik-baik saja. Yang selalu berpegang teguh bahwa ia tak terluka.

 

Namun Yoongi tetaplah Yoongi, sedingin apapun dia di luar, dia hanyalah sosok rapuh yang butuh sandaran di dalam. Dan Seokjin selalu mengetahui hal itu. Karena ia yang melahirkannya, karena ia yang membesarkan Yoonginya.

 

Seperti malam itu…

 

Yoongi terbangun tiba-tiba karena mimpi yang membuat sekujur tubuhnya basah. Tangannya mencengkram erat seprai selagi matanya menatap langit-langit kamar, napasnya memburu seakan bersautan dengan entitas lain di sekitar. Ia keringatan, tapi yang terpenting, apa yang ia impikan membuat ia gelisah tak karuan.

 

Jimin.

 

Mengapa ia memimpikan Jimin dan kejadian hari itu? Mengapa dia… hanya mengingat bagian di mana Jimin mengatakan kata cinta padanya? Dan yang terpenting dari itu semua, mengapa Yoongi merasa jijik pada dirinya?

 

Pemuda berambut mint itu langsung bangkit untuk duduk kemudian menyembunyikan wajahnya di kedua lutut. Keadaannya yang basah keringat, tak membuat Yoongi repot-repot untuk berganti baju. Ia hanya berpikir dan terus berpikir, bodohkah dia? Atau Jiminkah yang terlalu buta untuk memahami satu hal? Ataukah ini salah mereka berdua? Yoongi tidak tahu jawabannya. Tetapi yang pasti, apa yang terjadi membuat Yoongi berpikir betapa… rendahnya dia hari itu. Sekalipun pada akhirnya, ia menyerah karena ia… memiliki setitik rasa untuk pemuda yang lebih muda darinya tersebut.

 

Namun apa Jimin tahu?

 

Yoongi menangis dalam diam. Ini belum terlalu malam, dan ia takut suaranya akan terdengar oleh keluarganya, dan Yoongi merasa ia hanya perlu bersembunyi lagi. Karena pada akhirnya ia mulai sadar, bahwa ia memang kehilangan Jimin dari hidupnya. Dan itu adalah kesalahannya.

 

Tidakkah Jimin merasa bahwa hari itu ia menyerah karena ia percaya pada Jimin? Atau Jimin hanya berpikir bahwa Yoongi menyerah karena setelah itu Yoongi akan memintanya pergi? Apa Jimin berpikir jika ia mendapatkan apa yang ia mau, maka Yoongi berpikir bahwa Jimin akan berhenti mengganggunya. Apakah Jimin berpikir demikian? Terkutuklah Jimin dan segala kebodohannya jika itulah yang ia persepsikan.

 

Yoongi benar-benar menyerah. Karena ia tahu ia sudah jatuh. Jauh sebelum hari itu. Jauh sebelum ia sadar bahwa ia jatuh cinta. Jatuh cinta pada sosok yang selalu berusaha mengambil alih atensinya. Jatuh cinta pada sosok yang lebih muda darinya. Tetapi hanya sebesar itukah kekuatannya menghadapi Yoongi? Apakah Yoongi sudah tidak pantas diperjuangkan lagi? Apakah Yoongi sangat buruk sampai-sampai membuat Jimin menyerah?

 

Yoongi menangis lagi. Dan ia harap itu adalah kali terakhir ia menangis untuk seseorang.

 

Entah apa yang merasukinya, Yoongi bangkit dan menghapus air matanya. Berjalan tergesa ke arah meja belajar dan membuka laptopnya. Mengutak-atiknya mencari satu nama, nama Jimin. Dari semua akun sosial dan emailnya, tak sedikitpun tersisa di sana. Yoongi memeriksa ponselnya dan nomor Jimin pun menghilang dari kontaknya.

 

Tuhan, Jimin benar-benar menghapus segala bukti keberadaannya dalam hidup Yoongi, dan itu semakin menyakitinya.

 

Yoongi langsung bangkit lagi dan berjalan keluar kamar, memasuki kamar adiknya tanpa permisi, lalu berjalan ke arah meja belajar Jungkook mengabaikan suara si pemilik kamar yang protes padanya.

 

“Ih, kakak! Kookie kan bicara sama kakak, kok malah didiamkan? Kak Yoongi mau apa, sih? Di laptop Kookie ada apanya? Kak Yo—“

 

“Diam, berisik. Pinjam sebentar.”

 

Jungkook langsung diam dan memperhatikan apa yang dilakukan kakaknya. Si kakak membuka akun facebooknya dan mengetik nama Jimin di sana. Men-scroll ke bawah profil facebook itu, atau melihat-lihat isi chat yang bahkan belum dibalas.

 

“Kak?”

 

Kalau Kookie masih berteman dengannya atau bisa mencarinya, dan kalau dirinya tidak bisa, artinya… Yoongi di block, kah?

 

“Kak?”

 

“Pinjam ponsel sini cepat.”

 

Jungkook cemberut namun tetap memberikan ponselnya. Ia kesal karena panggilannya tidak dijawab dan malah diperintah dingin seperti itu. Namja berambut hitam itu memperhatikan bagaimana kakaknya berjalan ke arah jendela, melihat lukisan malam di luar sana. Sambil menunggu panggilannya diangkat, Jungkook hanya diam melihat. Namun satu pertanyaannya, kakaknya itu kenapa?

 

“Jimin.”

 

[“…”]

 

“Jim—“

 

[“Apa?”] cih! Mengapa di saat seperti ini yang mengangkat harus si tuan repot itu?

 

“Myungsoo? Aku ingin bicara dengan Jimin. Berikan ponselnya—“

 

[“Jimin tidak ada.”]

 

DEG!—apa maksudnya tidak ada?

 

“Aku hanya ingin bicara sebentar—“

 

[“Ke mana saja kau seminggu ini, Min Yoongi? Baru sadar kalau ada yang menghilang dari hidupmu sekarang? Kesempatanmu sudah terbang dibawa angin. Enyah. Jangan hubungi Jimin lagi.”]

 

“Apa maksudmu? Aku hanya ingin bicara dengannya—“

 

[“Sudah kubilang ia tak ada bukan? Kau tuli atau bagaimana? Jalani hidup masing-masing dan jangan menganggunya lagi. Kau punya kehidupan yang harus kau jalani begitu juga dengan Jimin. Kalian sudah tidak perlu saling mencampuri urusan masing-masing. Kalian sudah putus dan itu hal mutlak yang harus kau sadari, Min Yoongi.”]

 

“Aku—“

 

Ucapannya terpotong lagi saat suara di seberang sana kembali berbicara. [“Jalani hidupmu, Min Yoongi. Maka Jimin akan bisa menjalani hidupnya juga. Selamat tinggal.”]

 

“Tunggu—“

 

Tuuut… tuuut… tuuut…

 

Sambungan terputus begitu saja dan meninggalkan Min Yoongi yang masih terpaku di depan jendela yang menampakkan lukisan indah malam. Tangannya masih mengapung setelah menurunkan ponsel yang tadi ia dekatkan ke telingannya. Matanya menatap tajam ke arah luar, dan tanpa sadar… entah apa yang membuat hatinya serasa diremat, Yoongi menangis lagi. Setitik air mata jatuh dari satu matanya disusul dengan remasan pada tangannya, meremas kuat ponsel adiknya.

 

Saat Jungkook akan bersuara lagi, Yoongi menghempaskan kasar ponsel itu ke jendela sehingga hancur berkeping-keping. Jungkook yang melihatnya langsung teriak protes yang tentu saja diabaikan oleh sang kakak.

 

“IH KAKAK MAAAAH~ DENGAR KOOKIE TIDAK SIH? BUNDAAA~” mengabaikan adiknya yang berteriak memanggil sang bunda, Yoongi secepat kilat keluar kamar Jungkook dan masuk ke kamarnya, menguncinya, mengabaikan ketukan beruntun yang dibuat oleh adik, bunda dan ayahnya.

 

“Kak Yoongi? Kakak baik-baik saja? Kok sampai bikin rusak ponselnya si adek? Kak Yoongi? Buka pintunya dong, kak. Kak Yoongi jawab bun—“

 

“Kakak baik, bun. Selamat malam, kakak mau tidur.”

 

“Loh, loh, loh. Baru bangun tidur kok sudah mau tidur lagi? Makan dulu dong, kak.”

 

“…” hening tanpa jawaban. Entah apa yang Yoongi lakukan di dalam.

 

“Kak Yoongi? Ish, kak Yoongi?” Seokjin bersuara lagi. Namun hanya tetap dibalas oleh sunyi yang makin meraja dari dalam pintu kamar di depannya. Wanita itu melirik sang suami dan anak bungsunya yang masih merajuk. Dan ia bisa melihat pasangannya menjanjikan ponsel baru pada Jungkook, lalu beranjak dari depan pintu kamar sang anak sulung. Pun, Seokjin merasa berat untuk pergi, namun apa ia harus memaksakan sang anak untuk bicara ketika ia masih membutuhkan privasi untuk dirinya sendiri?

 

Dan Seokjin akan terus menunggu. Menunggu sampai Yoongi mau membuka diri padanya, lalu menceritakan segala sesuatu yang ia sembunyikan darinya. Sekalipun Seokjin tahu, mengenai satu masalah yang akhir-akhir ini mengganggunya. Tentang Yoongi… dan kekasih putranya. Tentang mereka yang mungkin tak lagi bersama.

 

Keesokan paginya, mereka sarapan seperti biasa. Rasa-rasanya tak ada yang aneh ataupun berubah. Namun Seokjin tetap tak menanggalkan tatapannya dari Yoongi. Ia masih khawatir, masih sangat khawatir pada anak sulungnya itu. Karena itu ia mungkin akan meminta sang anak untuk berangkat bersama sang ayah dan adiknya hari ini.

 

“Kakak berangkat sama ayah saja, ya? Nanti pulangnya baru naik bis.” Seokjin berucap setelah sedari tadi memperhatikan tingkah putra sulungnya. Jungkook di sebelah Yoongi menatap bergantian ibunda dan kakaknya.

 

Anni, bun. Kakak naik bus saja. Bye.” Setelah pamit pada ayahnya dan mengusap kepala Jungkook (walau adiknya itu masih menunjukkan sikap ngambek), kemudian mengecup pipi sang bunda, Yoongi kembali berlalu, meninggalkan mereka bertiga yang semakin bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya dengan sosok kesayangan mereka itu?

 

Jungkook yang sedari tadi diam tiba-tiba menyeletuk. “Perasaan Kookie saja atau emang Jimin tidak pernah ke rumah lagi semenjak Rabu kemarinan, bun?”

 

Seokjin menatap putra bungsunya dan ikut mengelus kepalanya. Ia tersenyum lalu menyuruh Jungkook untuk cepat-cepat menghabiskan sarapannya. “Sana berangkat. Nanti kesiangan, loh.”

 

“Iyaaaa.”

 

“Ayah juga berangkat bunda. Kookie ayo.”

 

“Iya, yahhh.”

 

Satu dua langkah masing-masing anggota keluarga Min Yoongi ambil menuju aktifitasnya, hanya satu hal yang membuat mereka sama. Dalam hati mereka serentak berdoa; ‘Semoga kakak baik-baik saja.’

 

xxxXXXxxx

 

Cahaya terik matahari menyinari meja piknik di taman belakang Universitas Seoul. Dan di sanalah Yoongi beserta dua sahabatnya sering berkumpul. Melakukan masing-masing kegiatan mereka, atau sesekali mengobrol, bertengkar atau kembali larut dalam pekerjaan yang hanya mereka yang tahu.

 

Yoongi selalu sibuk bermain dengan laptopnya, begitu juga dengan Hoseok di sampingnya, atau Sungyeol di depannya yang larut dalam acara chatting dengan pacarnya, sehingga bias sinar mentari yang menyorot justru bukannya membuat mereka kepanasan, mereka justru merasa hangat.

 

Seperti Yoongi, yang entah mengapa merasa lebih baik hari ini.

 

Bisa dibilang, apa yang ia rasakan sejak tadi hanyalah perasaan lega. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Seolah tak pernah ada yang hilang darinya atau seolah tak pernah ada kesalahan yang ia buat.

 

Ia ingin hidup… seperti sebagaimana ia pernah bernapas sebelumnya. Ia ingin bebas, terbang di langit biru tanpa membawa beban apapun di pundaknya. Namun apakah bisa?

 

“Jimin jadi pindah, Yeol—owh! Ya! Kenapa kau menginjak kaki—“ ucapan Hoseok langsung terpotong melihat gelagat Sungyeol yang meminta melirik ke samping.

 

Namja berambut hitam itu langsung menoleh dan melihat kegiatan yang sahabatnya lakukan berhenti begitu saja. Tangannya mengapung di udara tak jadi menyentuh keyboard. Badannya kaku, dan Hoseok tidak bisa menebak ekspresi apa yang kini tengah dikeluarkan sahabat baiknya itu. Namun melihat bagaimana Sungyeol yang masih dan makin keras menginjak kakinya, yakinkan Hoseok bahwa ia sudah membuat satu kesalahan.

 

Menyebut nama Jimin. Ya. Itu adalah kesalahannya.

 

“Err… Suga, usai kampus mau makan cheesecake~?” Sungyeol mengabaikan tatapan memohon Hoseok yang memintanya melepas injakan kakinya. Ia beralih menatap sahabat di depannya. Berharap tawaran darinya akan sedikit mengalihkan perhatian namja mint itu.

 

Yoongi langsung tersadar lalu menunduk, beberapa detik setelahnya menggeleng dan kembali menjalankan jari-jemarinya di atas keyboard laptopnya. Mengabaikan tatapan kedua sahabatnya yang memandang khawatir padanya.

 

“Suga, dengar—“

 

“Bisakah kau diam, Yeol?” suaranya begitu parau, entah apa yang merasuki Yoongi, ia kini tengah menahan tangis yang ingin keluar. Berusaha meredam sakit yang tiba-tiba datang. Berusaha mengabaikan luka yang tiba-tiba menganga lagi, entah karena apa.

 

“Bagaimana bisa aku diam, eoh?” Sungyeol menghela napas. Ia mengusap wajahnya kasar, tidak mengerti harus bagaimana lagi agar sahabat berambut mint-nya ini mau –sedikit saja bergantung pada mereka. “Bagaimana aku bisa diam ketika aku melihat sahabatku menyiksa dirinya sendiri?”

 

“Aku tidak.”

 

“Yoongi… berhenti membohongi dirimu sendiri. Bisa?”

 

“Aku tidak sependap—“

 

“Min Yoongi.”

 

“Berhenti ikut campur, Sungyeol. Biarkan aku—“

 

“APA? APA, HAH, APA? BIARKAN KAU APA? BIARKAN KAU MENYAKITI DIRIMU LEBIH DARI INI?” Sungyeol teriak kalap dan berdiri dari duduknya. Mengempaskan tangannya ke meja dengan keras mengakibatkan semua mata memandang ke arah mereka. Ia terlalu lelah menghadapi sang sahabat. Ia terlalu lelah berusaha membacanya.

 

Hoseok sampai ikut berdiri, ia merasa ia harus menenangkan Sungyeol. “Yeol, kontrol dirimu.”

 

“Katakan dulu pada sahabatmu untuk berhenti menyakiti diri sendiri.” Namja tinggi itu duduk kembali. Mengusap kasar wajah cantiknya lagi. Menjambak pelan rambut brunettenya. Mengabaikan dua entitas di depannya.

 

Hoseok yang melihat itu hanya diam, namun kemudian melirik ke arah Yoongi yang juga sejak tadi tak bersuara. Ia selalu tak bisa membaca sosok itu. Yoongi terlalu sulit baginya. Sekalipun mereka sudah bersahabat lama, tapi Hoseok selalu berhasil dibuat bingung akan tingkahnya. Ia memang mengenal Yoongi, hanya sebatas mengenal bagaimana sosok itu tanpa tahu benar bagaimana harus menghadapinya. Kalau tidak ada Sungyeol, mungkin ia akan selalu gagal menangani sahabatnya itu.

 

“Suga,” Hoseok memulai. Ia akan berusaha membuat suasana tegang ini lenyap terbawa angin. Dan berharap anak-anak kampus mereka sudah tidak melihat ke arah di mana mereka duduk kini.

 

“…”

 

“Sungyeol benar. Kau tahu itu…” namja berambut hitam itu menjeda kalimatnya. Menarik napas dalam, semoga ini yang terbaik dalam hal ia berbicara. “…belakangan kau berbeda. Kau makin diam dan kau makin jauh. Kau makin tertutup dan itu bukan hanya menyiksa aku ataupun Sungyeol, tapi aku yakin bunda beserta ayahmu pun merasakan hal yang sama.”

 

Namja itu melirik lagi Yoongi di sampingnya, lalu menatap Sungyeol seolah mengirim sinyal agar namja tinggi itu membantunya. “Kau tidak baik-baik saja. Kau sedang membohongi dirimu sendiri. Orang yang baik-baik saja tidak akan memberi respon sepertimu saat orang lain menyebut nama mantan pacarnya, Suga.”

 

Yoongi hanya diam. Kepalanya semakin menunduk, poninya menutupi keseluruhan wajahnya. Baik Hoseok maupun Sungyeol semakin sulit memastikan bahwa sobatnya baik-baik saja.

 

“Kau tahu kau bisa bergantung pada kami. Kau tahu kami bukan sekedar mengenalmu sekalipun kadang kami sulit untuk menebakmu. Tapi kau sahabat kami. Kau bagian dari hidup kami. Dan aku yakin, sampai sekarang pun kau belum memberitahu keluargamu kalau kau dan Jimin sudah putus.”

 

Strike. Yoongi langsung mengepalkan tangannya saat perkataan itu masuk ke indera pendengarannya. Sungyeol memang benar, ia memang belum mengatakan apapun tentang Jimin pada keluarganya. Karena Yoongi tidak mau membuat ibundanya sedih, tidak karena dia.

 

“Kau tidak bisa terus bungkam. Kau tidak bisa terus bersembunyi. Kami di sini, Yoongi. Kami di sini dan kami siap untuk menjadi sandaranmu. Karena itulah adanya sahabat. Ne?”

 

Entah ke mana perginya suara bising di halaman belakang kampus, percayalah bahwa Hoseok maupun Sungyeol bisa mendengar suara jantung mereka masing-masing. Mengingat bagaimana kini Yoongi yang masih diam sambil mengepalkan tangannya erat. Atau bagaimana sosok itu berusaha untuk menutupi semua ekspresinya. Keduanya terlalu takut, jika pembicaraan ini malah semakin menyakiti sahabat mereka.

 

“Kalian tidak mengerti.”

 

DEG!

 

“Aku… baik-baik saja.”

 

“Suga…”

 

“Sungguh… aku baik-baik saja. Bunda tidak perlu tahu dan kalian tidak perlu—“

 

“Suga!”

 

“—ikut campur dalam masalahku. Aku baik-baik saja dan akan tetap baik-baik saja.”

 

“Yoongi.”

 

“Jimin… aku hanya… aku hanya teringat sesuatu. Bukan berarti—aku terluka atau ap—“

 

“Min Yoongi angkat wajahmu!” Sungyeol bangun dari duduknya dan agak membungkuk ke depan, berusaha mengangkat kepala Yoongi agar menatapnya. Meneliti ekspresi apa yang tengah sosok yang sejak tadi berbicara sambil bergetar keluarkan, dan ternyata… ia menangis. Min Yoongi sahabatnya menangis dan itu menyakitinya. “Suga, oh God…”

 

Sungyeol langsung melepaskan tangannya dari Yoongi dan kembali terduduk, lemas di tempatnya. Ia kemudian menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya di atas meja. Meninggalkan Hoseok yang masih diam, dan Yoongi yang masih… menangis.

 

“Menangislah. Menangislah, Suga. Kau tahu itu hak semua orang. Menangislah karena kami akan selalu ada di sini.” Hoseok mengusap-usap kepala mint sahabatnya. Mengelap air matanya dengan sapu tangan miliknya, membiarkan Yoongi tetap mengeluarkan seluruh emosi yang selama ini ditahannya. “Kami tidak akan ke mana-mana. Sungyeol ikut menangis untukmu. Menangislah. Keluarkan semuanya yang ingin kau keluarkan. Ne?”

 

Dan makin banyaklah air mata yang keluar dari kedua mata cantik itu. Yoongi menangis sesenggukan untuk yang pertama kali, di depan mereka, di depan dunia yang selalu menganggapnya tak punya hati. Kali ini, ia benar-benar menangis. Menangis atas nama rasa yang terus menghimpitnya. Menangis atas nama hati yang ia sendiri yang melukainya. Menangis untuk dirinya. Menangis untuk keterlambatan ia menyadari tentang perasaannya. Dan menangis untuk… rasa kehilangannya.

 

Matahari yang menyorot tajam di angkasa, di mana sinarnya bermuara langsung di atas meja mereka, menemani ketiga anak adam itu dalam diam. Menemani Sungyeol yang masih menangis untuk sahabatnya, menemani Yoongi yang sesenggukan atas kebodohannya, menemani Hoseok yang berusaha menenangkan mereka berdua.

 

Pun, ketika semuanya semakin kabur, ketika semua rasa yang menghimpit semakin terkubur, apa yang dirasa hari ini, sedikit berharap akan benar-benar lenyap. Dengan tetesan air mata yang mengalir di kedua pipi bak sungai yang terus mengikuti ke mana harus bermuara, satu persatu hati yang terluka mulai hilang pedihnya. Sungyeol mulai berhenti menangis, berpindah tempat duduk lalu memeluk sahabatnya, Yoongi masih menunduk namun membiarkan dua sosok di sampingnya menenangkannya, dan Hoseok berusaha untuk memberi kenyamanan untuk keduanya. Karena tak ada yang bisa ia lakukan selain itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali percaya bahwa setelah ini semuanya akan baik-baik saja. Ya, baik-baik saja.

 

“Kau tahu kau tidak perlu takut menangis karena tidak akan ada yang menertawaimu, Suga. Tidak aku, ataupun Hoseok. Kau tahu itu, bukan?”

 

Yoongi tak menjawab. Ia masih bergeming di antara dua sahabatnya. Namun Sungyeol mengerti, ia menghapus air mata yang membasahi wajah sosok itu, dan Hoseok mengusap sayang surai mint sahabatnya, keduanya sama-sama berusaha memberikan kenyamanan untuk sosok di antara mereka.

 

“Kau tahu kami selalu di sini. Kami akan selalu mendengarkanmu, kami tidak akan menghakimimu, tidak sekalipun kami tahu kau salah. Kami mungkin akan memarahimu, Suga, tapi kami juga akan berusaha membantumu mencari jalan keluar. Kau tahu itu, bukan?”

 

“Jhope benar. Meskipun aku selalu nampak berlawanan pendapat denganmu, kau tahu aku menyayangimu. Kau sahabatku, Suga, my Sugar, our Yoongi. Kau pikir kenapa selama ini aku selalu berusaha membuatmu jujur pada dirimu sendiri soal Jimin? Karena aku dan Hoseok tahu semua akan berakhir seperti ini. Semuanya akan berakhir dengan kau menyakiti dirimu sendiri. Dan kami benar. Now, right now, would ya tell us what happened? Aku tahu kalian putus tapi—“

 

Yoongi yang sedari tadi diam tiba-tiba tertawa pelan. Membuat Sungyeol maupun Hoseok mengernyit ngeri. Sejujurnya mereka suka suara tawa sahabat mereka. Mereka suka senyumannya. Tetapi tawa lirih tadi membuat hati mereka seakan tercubit sesuatu, sakit lagi rasanya, dan mereka tidak tahu bagaimana cara menghilangkan rasa sakit itu. Tidak ketika sekali lagi Yoongi selalu berhasil membuat mereka diam seribu bahasa.

 

“Aku jijik pada diriku. Kalian dengar itu?”

 

Mereka diam. Sungyeol dan Hoseok benar-benar bungkam.

 

“Aku jijik dan merasa bodoh. Tapi aku merasa dia lebih bodoh. Apa dia sebegitu buta dengan rasa lelahnya memperjuangkanku sampai tak menyadari satu hal tentang hatiku?”

 

Saat keduanya baru akan menjawab, Yoongi sudah bicara lagi.

 

“Aku menyerahkan segala hal pertamaku padanya dan dia… tiba-tiba melangkah pergi begitu saja dari hidupku. Tidak, ini memang bukan salahnya tapi salahku. Namun apa dia tidak bisa merasakannya? Aku sudah terluka di sini, sudah cukup dia menghukumku. Kalaupun ingin putus apa harus menghilang? Apa aku tidak bisa minta maaf dan menjelaskan? Apa semuanya harus berakhir seperti ini? Apa aku harus hidup dihantui rasa bersalah? Apa aku harus hidup dihantui rasa jijik akan diriku sendiri? Haruskah aku menganggap apa yang terjadi hanya sebatas permainan yang justru menghancurkanku?”

 

“Suga…”

 

“Aku hancur, Sungyeol. Disaat aku memiliki keberanian untuk mengakui kesalahanku, mencoba untuk bicara padanya, pacarmu menyuruhku lenyap. Menjalani hidup masing-masing dengan rasa bersalah ini? Baru satu minggu dan aku sudah seperti ini? Bersembunyi dari semua orang yang mengkhawatirkanku? Apa kabar hidupku setelah hari ini? Apa aku masih bisa bernapas ketika pada akhirnya aku sadar bukan panggilan dari kalian yang aku harapkan untuk membangunkanku di pagi hari tapi… darinya?”

 

“Aku tidak ingin menangis. Aku ingin kuat dan bertahan tapi pada akhirnya kau menghancurkan pertahananku. Kau menyebut tentang bunda dan itu semakin menyakitiku. Bunda akan kecewa padaku kalau dia tahu hal ini. Anaknya, anak yang selalu ia sayangi dan banggakan… putus dari sosok yang sangat ia kenal setelah melakukan… melakukan… a-aku… apa yang akan bunda dan ayah katakan? Aku jijik… aku bodoh… aku—“

 

“Suga, Suga, Suga, tolong dengarkan aku, oh Tuhan, tolong dengarkan aku…” Sungyeol berusaha untuk memegang sahabatnya lagi, namun kali ini sosok itu menepisnya. Ia duduk merapat pada dirinya sendiri. Berusaha menjauh dari jangkauan dua orang di sisi kanan dan kirinya. Sungyeol hanya berusaha untuk mengerti. Ia hanya berusaha untuk memahami. Tuhan, ini lebih sulit dari perkiraannya. “…itu bukan salahmu. Bukan. Salahmu. Dan… aku yakin bunda akan mengerti. Kau bukan anak kecil lagi, karena itu… bunda akan paham akan apa yang terjadi, Suga. Dia tidak akan kecewa padamu.”

 

Dan Yoongi tertawa lagi, kali ini suaranya makin parau, suaranya makin sarat akan sakit yang menghinggapinya. “Tidak akan kecewa? Setelah aku memberikan diriku padanya, lalu kami putus, dan kini kami seolah musuh? Bunda tidak akan kecewa? Kalau begitu aku yang akan kecewa. Aku yang akan kecewa, Lee Sungyeol… aku…”

 

“Min Yoongi. Kau tahu itu hanya refleks sesaat. Aku yakin kau kalut saat itu makanya—“

 

“—aku menyerah? Demi Tuhan aku memberikan diriku dan dia masih tetap memilih pergi.” Yoongi memotong ucapan Hoseok, ia makin menunduk dan mencengkram kuat satu tangannya.

 

“Ini hanya masalah waktu dan pemahaman, Suga. Karena kalian melihat cinta dari sudut pandang kalian masing-masing. Jimin dari sudut pandangnya yang merasa kau tak pernah menginginkan hubungan kalian, dan kau dari sudut pandangmu yang merasa cinta tak harus selalu berisi aksara dan afeksi. Namun satu kesalahan fatal, kau tidak menunjukkan keduanya. Ya, kau diam. Di sanalah kesalahannya. Pun hal itu akhirnya menimbulkan kesalahpahaman. Jimin bukannya menyerah memperjuangkanmu, namun ia sudah ada pada batasnya untuk terus berharap dan kau tahu itu.”

 

Sungyeol menatap takjub Hoseok yang barusan berbicara. Sejak kapan Hoseok bisa bicara seperti itu? Walaupun sejujurnya ada satu hal yang mengganggu Sungyeol mengenai Jimin, tapi ia sudah berjanji pada sosok itu, bukan? Apapun yang terjadi, apapun yang terjadi Sungyeol takkan mengatakannya. Tidak walaupun pada akhirnya sosok itu menyerah akan hidupnya.

 

“Aku…”

 

“Setelah ini kita pulang dan makan cheesecake. Bolos mata kuliah sesekali takkan membuat kita bodoh, bukan?”

 

“Oh, nice suggestion, Jhope!”

 

And, go! Btw cheer up, Suga! Kami di sini~ bersamamu~ menemanimu~ mengambil langkah—owh! Berhenti memukul kepalaku. Sungyeol sialan.”

 

“Diam. Suaramu jelek sekali membuat telingaku sakit, Hopeless.”

 

“Ih, dazar tiang sialan.”

 

“Apa aku tidak dengar?”

 

“Aku tidak mengatakan apapun, kok, wooo.”

 

Meninggalkan Yoongi beberapa langkah di belakang, dua sahabat itu seolah ingin bertengkar. Namun beberapa detik kemudian, mereka kembali mensejajarkan langkah mereka bersama sang sahabat tersayang. Pemuda berambut mint itu hanya menggelengkan kepala, sembari dalam hati ia berpikir, sudah benarkah ia? Haruskah setelah ini ia jujur pada ibundanya? Dan akahkah kedua orangnya memaklumi kesalahannya?

 

Yoongi berharap demikian. Karena apa yang terjadi malam itu, tanpa benar-benar berpikir bahwa Jimin akan pergi sungguhan, Yoongi menyerah atas nama hati yang tak pernah bisa berkata. Atas nama dirinya yang tak pernah bisa menunjukkan afeksi melalui aksara atau sebaliknya. Atas nama cinta yang tanpa ia sadari tumbuh. Sehingga pada akhirnya ketika apa yang paling ia biasakan hadir di hidupnya kini telah pergi, seminggu berperang batin dan bersikap seolah baik-baik saja, hari ini –di depan dua sahabatnya Yoongi menyerah. Menyerah untuk kekalahannya mempertahankan topeng dingin yang selama ini ia pegang teguh, menyerah akan hatinya yang nyatanya terluka tanpa tahu bagaimana mengobatinya.

 

Ya, karena pada akhirnya ia di sini. Berharap kejujurannya akan memberikannya jalan untuk menggapai jalan keluar dari rasa sakit dan putus asa yang ia rasakan. Berharap pengakuannya akan mengobati luka menganga di dasar hatinya yang ia sendiri yakin hanya Jimin lah yang bisa menyembuhkan. Walau semu, seperti berharap dapat memetik bintang dengan tangan sendiri, Yoongi ingin Jimin kembali. Yoongi ingin memiliki satu kesempatan untuk bilang tidak ketika Jimin mengatakan putus di hari itu. Yoongi ingin mengulang semuanya. Semua yang selama ini ia abaikan. Yoongi ingin merawat Jimin saat pemuda itu sakit, Yoongi ingin membalas ciuman pertama yang Jimin berikan.

 

Namun memikirkan itu semua, hanya akan membuat hatinya kembali menjerit. Yoongi tidak bisa menyuarakannya. Tidak ketika ia tahu dua sahabatnya akan merasakan sakit yang sama. Tidak ketika ia sadar mungkin Sungyeol sudah banyak berdebat dengan pacarnya yang merupakan kakak Jimin. Tidak ketika ia tahu mungkin Hoseok akan semakin khawatir dan bingung harus bersikap bagaimana. Dan tidak, jika itu justru menyakiti orang-orang di sekitarnya.

 

Yoongi ingin bangkit, untuk menghadapi kenyataan di depan mata. Kenyataan yang ada akibat ulahnya. Kenyataan yang ia sendiri tak yakin akan benar-benar ia terima. Karena itu biarlah hanya dia yang berusaha untuk memahami itu semua. Menerima apa yang sejujurnya ingin ia buang. Menikmati akibat dari kesalahan yang ia timbulkan. Menikmati perih yang terus menerus mengakar di hatinya tanpa tahu malu. Hanya untuk kali ini, biarkan hanya Min Yoongi yang berusaha untuk mencari jalan akhir. Untuk menggapai Jimin lagi, atau untuk melupakannya. Melupakan Jimin untuk selamanya…

 

“Mau sampai kapan kau melamun, oi, ‘Gus?”

 

Yoongi langsung tersentak dan melihat Hoseok berdiri di depannya, mengibas-ibaskan telapak tangannya di depan wajah Yoongi. Namja bersurai mint itu menggeleng kemudian jalan mendahului Hoseok yang mengikuti langkahnya di belakang.

 

“Hmm, cheesecake dan Americano mungkin enak~” mahasiswa tingkat lima berambut mint itu hanya tersenyum kecil. Terlalu terbiasa dengan selera makan sang sahabat.

 

“Aku mungkin akan makan lima piring kali, ya?”

 

“Mati saja kau kena diabetes, Hopeless.”

 

“Ah! Nanti kau kehilangan aku lagi, Yeol.”

 

Ish. Buat apa? Kau mati pun aku bahagia.”

 

“Sialan.”

 

Angin musim semi yang biasanya membuat Yoongi menggigil belakangan ini, kini terasa sejuk menyentuh kulitnya. Menerbangkan beberapa helai surainya mengikuti arah ke mana sang pembawa suasana mengayun. Berjalan bersama dua sahabat yang selalu setia ada kapanpun ia butuh. Membelanya sekalipun ia tahu kesalahan ada padanya, memberikannya sandaran ketika Yoongi merasa dunia menjauhinya, menyiapkan telinga untuk mendengarkan segala masalahnya, membuat ia merasa lebih baik.

 

Dan sedikitnya hal itu membuat Yoongi pun sadar. Bahwa di rumah, ia juga memiliki orang-orang yang siap menghadapi masalah bersamanya. Hanya saja, Yoongi terlalu takut apa yang menjadi masalahnya akan benar-benar melukai mereka. Tuhan, harus apa dia?

 

“Apapun yang terjadi. Kau harus menceritakannya setidaknya pada bundamu, oke?”

 

Yoongi langsung menoleh melihat Sungyeol bicara begitu. Namun ia tahu sahabatnya benar. Setidaknya, setidaknya hanya pada bundanya.

 

Dan pada akhirnya aku jujur. Mungkin memang bukan padamu.

Namun mengeluarkan semua perih yang hinggap ini sedikitnya membuatku tahu.

Bahwa jatuh cinta… memanglah harus selalu ada waktu untuk diucapkan.

Entah itu melalui tindakan. Atau melalui aksara yang menjelaskan segalanya.

xxxXXXxxx

 

Yoongi tidak menangis lagi ketika mengatakan itu semua pada ibundanya. Yoongi hanya mengepalkan tangannya erat dan berucap seribu maaf pada sosok yang telah melahirkannya. Ia terus meminta maaf atas apa yang ia lakukan. Dan sekalipun Seokjin adalah tipe seorang ibu yang mengerti bagaimana perkembangan dunia remaja kala itu, ia tidak bisa menyalahkan putranya atas kesalahan yang ia buat. Hal itu wajar. Pun mungin kebanyakan pasangan remaja di dunia memang selalu punya alasan untuk melakukan kesalahan yang sama.

 

Seokjin hanya mendengarkan dengan seksama. Ia mengelus rambut mint putra kesayangannya. Ia mengelus pipinya yang memang tidak basah, namun cenderung dingin karena gugup. Seokjin tahu Yoongi tidak menangis di depannya, namun di belakangnya, di dalam hatinya, Seokjin tahu putranya tengah menjerit. Menjerit akan rasa sakit yang semakin nyata ketika lagi-lagi kenyataan memaksa Yoongi untuk jujur; untuk mengakui segala kesalahan yang berbuah penyesalan dan kehilangan tiada akhir.

 

“Kakak dengarkan bunda, ne?” wanita paruh baya itu mengusap sayang rambut putranya, lalu beralih mengelus pipinya yang putih tanpa cacat, berusaha menyampaikan cinta yang tak terkira, berusaha menenangkan rasa gugup yang diderita sosok di depannya. “Bunda tidak marah. Bunda mengerti. Karena itulah cinta ada. Karena itulah mereka menyebut cinta itu buta. Ini semua bukan salah kakak, ataupun salah nak Jimin. Bolehlah kita salahkan keadaan, atau mungkin cinta. Namun yang terpenting sekarang, menyalahkan diri sendiri takkan berubah apapun, semua tidak akan kembali seperti semula, dan setidaknya kakak sudah jujur pada diri kakak sendiri dan bunda bangga. Anak bunda tidak pernah takut untuk mengakui kesalahan. Itulah yang membuat bunda tidak marah, sayang.”

 

Sekalipun hatinya hancur melihat bagaimana rapuhnya sang putra sulung, sekalipun ia menyadari segala kejanggalan yang Yoongi tunjukkan satu minggu terakhir, menghadapi Yoongi yang seperti sekarang, selalu berhasil membuatnya serasa ditusuk belati tepat di jantungnya. Perih, sakit dan sungguh pedih… Seokjin ingin menangis melihat Yoonginya yang berusaha bersikap baik-baik saja di depannya. Seokjin ingin menangis untuknya jika memang Yoongi tak ingin memperlihatkan tangisnya. Seokjin ingin putranya jujur, sekali lagi saja… jujur padanya bahwa ia ingin menangis. Karena penyesalan yang selalu datang belakangan, karena sebagaimana dia melihat cinta dari sudut pandangnya yang akhirnya menghancurkannya. Seokjin ingin menjadi sandaran untuk kakak kesayangannya. Seokjin hanya ingin Yoongi bergantung padanya. Untuk kali ini saja. Dan ia takkan meminta lebih dari ini.

 

“Menangislah, kak Yoongi. Menangis itu manusiawi, nak. Kakak tidak akan kelihatan lemah dengan menangis. Menangis membuat semua yang menghimpit akan terasa lebih lega. Menangis akan membuat kakak lebih baik. Menangis tidak akan membuat bunda kecewa. Karena bunda sangat menyayangi kakak. Karena itu menangislah, menangis untuk hati kakak. Menangis untuk membuat bunda percaya kalau kakak tidak lagi membohongi diri sendiri. Karena bunda akan selalu di sini, bersama kakak sekalipun pada akhirnya kakak ingin bunda pergi.”

 

Dan runtuhlah semua pertahanan yang Yoongi bangun. Ia langsung memeluk bundanya erat dan menangis sesenggukan di sana. Menumpahkan semua rasa sakit yang menghimpitnya, menumpahkan semua perih yang menghujamnya. Hanya untuk kali ini… pun setelah ini ia harus bisa bangkit dan menentukan. Di antara dua pilihan yang selalu ada di otaknya. Dua pilihan yang sama-sama menyakitinya. Dua pilihan yang mungkin pada akhirnya ia akan gagal untuk melakukannya.

 

Lalu apa kabar ia setelah ini?

 

Berharap bumi akan membantunya, hujan pun mau berteman dengannya. Bunga-bunga yang mekar mau mengerti dirinya, bersamaan dengan hembus angin yang selalu ia puja. Yoongi hanya bisa berharap… apapun pilihannya… ia akan hidup dengan baik setelah semua ini berakhir menghantuinya.

 

Entah sudah berapa banyak air mata yang kutuang agar angin membisikimu.

Aku tersiksa, aku menyesal. Dan aku berharap, kau akan mendengarku.

Park Jimin, dapatkah kau mendengar suaraku? Dan merasakan betapa hancurnya hatiku?

Disaat aku sadar betapa aku sudah menghancurkan milikmu?

xxxXXXxxx

 

Hari-hari berikutnya datang. Setiap pagi Seokjin akan memberikan tawaran yang sama pada putra sulungnya, yang selalu dibalas dengan jawaban yang sama oleh si kakak, yang kemudian berlalu menghilang di balik pintu keluar  rumah mereka.

 

Seokjin menghela napas. Ia hanya bisa berharap bahwa putranya itu akan baik-baik saja. Ia khawatir, sungguh khawatir. Sekalipun pada akhirnya Yoongi mau bergantung padanya, Yoongi yang ia kenal sekarang benar-benar berbeda. Apa yang sebenarnya harus Seokjin lakukan?

 

“Bun, kita perlu bicara.” Suara sang suami tiba-tiba menyadarkan Seokjin dari lamunannya. Wanita cantik itu menatap pria yang dicintainya penuh tanda tanya. “Ini tentang si kakak. Dan kekasihnya, Jimin.”

 

DEG!

 

Oh, Tuhan… apa yang harus Seokjin jawab nanti jika Namjoon bertanya macam-macam?

 

“Ayah akan pulang setelah makan siang, dan setelah itu kita bicara, oke?”

 

Seokjin masih terdiam. Ia tidak fokus karena memikirkan banyak kemungkinan. Jungkook yang terus memanggil namanya pun diabaikan. Sampai ketika Namjoon menangkup kedua pipinya, fokusnya kembali—menatap langsung mata sosok yang sudah hidup sepuluh tahun lebih bersamanya.

 

“Bunda?”

 

“Iya, ayah. Nanti kita bicara. Sekarang berangkatlah, kasihan Kookie nanti terlambat ke sekolah.”

 

“Bun, Kookie bukan anak kecil lagi. Setiap Taetae mau jemput juga tidak boleh. Kenapa sih?”

 

“Kalian pacarannya yang normal-normal saja, ya. Tidak usah jemput-jemputan segala. Kookie belajar dulu yang benar supaya bisa lulus nanti.”

 

Ish, bunda!”

 

“Sudah, ayo kita berangkat.”

 

“Iya ayaaaah.”

 

xxxXXXxxx

 

Matahari senja mulai muncul dari peraduannya, Min Yoongi berjalan ke arah gerbang menuju halte bis terdekat kampusnya. Ia menolak tawaran Sungyeol yang ingin mengantarnya ke rumah. Entah kenapa, ia ingin sendiri hari ini. Ia ingin menikmati sore hari yang sejuk itu. Ia ingin kembali ke rumah sendiri tanpa siapapun. Mungkin… kembali berpikir langkah apa yang akan ia ambil.

 

Namja bersurai mint itu duduk menunggu bis datang, matanya menatap kosong ke depan. Ketika alat transportasi darat itu muncul di depannya, tanpa pikir panjang Min Yoongi menginjakkan kaki ke dalamnya. Ia mengambil tempat di samping jendela, memperhatikan pemandangan luar sambil otaknya kembali berpikir dan berpikir.

 

Melewati beberapa halte bis, yang bisa Yoongi tangkap adalah kenangan yang pernah ia lewatkan bersama Jimin. Tentang mereka, tentang suasana senja sehabis pulang kuliah, tentang hujan yang menjebak Jimin dan dirinya, berlindung di bawah kanopi halte, di mana Jimin berusaha menjaganya tetap hangat. Dan mengingat itu semua, membuat hati Yoongi kembali serasa diremat—sakitnya begitu terasa, seakan luka yang ada kembali menganga atau bahkan muncul lagi yang baru.

 

Pandangannya tiba-tiba mengabur. Matanya berkaca-kaca seolah ada yang menghalangi penglihatannya. Ia tidak menangis, namun rasa perih yang menghujam dada berhasil membuat Yoongi diam seribu bahasa. Menelan semua sakit dan pedih yang hinggap, menelan semua kekecewaan yang nampak. Yoongi tak ingin menangis lagi. Tidak ketika ia berpikir bahwa melupakan Jimin –mungkin adalah satu-satunya jalan terbaik yang harus ia ambil.

 

“Menangis, Min Yoongi?”

 

DEG!

 

Yoongi langsung melihat ke arah sumber suara, dan di sana… beberapa langkah di depan tempatnya duduk, Park Myungsoo –kakak Jimin tengah berdiri sambil berpegangan agar tak terjatuh. Menatapnya tajam, berhasil membuat pemuda mint itu merasa terintimidasi.

 

“Aku tidak tahu kalau kau bisa menangis.”

 

Oh, haruskah Yoongi terus-menerus mendengarkan perkataan sarkasnya itu?

 

Ia pun hanya diam, mengabaikan entitas yang bicara padanya. Berusaha tak peduli, namun setiap perkataan yang keluar dari mulut Myungsoo selalu bisa berhasil membuatnya teringat akan Jimin. Lagipula, mengapa pula namja repot itu ada di bus ini? Pergi ke mana mobilnya itu? Yoongi sungguh tak habis pikir, dari semua orang –kenapa harus Myungsoo yang ia temui?

 

“Penyesalan memang selalu datang belakangan, bukan?”

 

“…”

 

“Mungkin kali ini aku melihatmu menangis, mana tahu besok? Kau mungkin akan bisa tertawa lagi. Sedangkan adikku? Masih menyalahkan dirinya akan keputusan yang ia ambil sendiri.”

 

Kalau Jimin memang menyesal, tidak maukah ia bicara padanya?

 

“Kalian berdua memang sama-sama bodoh. Tapi kau lebih egois, Min Yoongi. Bagaimana kabarmu hari ini? Bagaimana rasanya hilang kontak dengan seseorang yang biasanya selalu berusaha untuk memprioritaskan dirimu di atas segalanya? Apa kau benar-benar kehilangan? Aku tidak tahu. Aku tidak mengenalmu sebaik itu.”

 

Yoongi meremas ujung jaket yang ia pakai. Cukup. Sudah cukup. Apa Myungsoo sebegitu membencinya sehingga ingin benar-benar melihatnya hancur?

 

Dan saat Myungsoo akan membuka mulutnya lagi untuk berbicara, Yoongi bangkit dari duduknya dan melewati Myungsoo begitu saja. Halte berikutnya sudah nampak, ia berdiri menunggu di depan pintu untuk turun. Ketika bus itu berhenti, tanpa berkata apa-apa, Yoongi melangkahkan kakinya keluar dari bus, tanpa menyadari ternyata pilihannya untuk turun justru semakin menyakitinya.

 

Mengapa setiap tempat yang kupijak… selalu bisa membuatku mengingat segala hal tentangmu?

Mengapa rasanya bumi ikut menghukumku?

Tak tahukah kau aku sudah cukup menderita di sini?

Tentang cinta ini… tentang rasaku.

Rasa yang selalu berusaha untuk mencari tahu di mana dirimu.

Jimin-ah, kau di mana? Apakah kau harus benar-benar menghilang tanpa mau bertemu lagi denganku?

xxxXXXxxx

 

Hawa sejuk AC yang berhembus di ruang keluarga itu tak mengusik namja bersurai langit senja yang tengah larut dalam kegiatannya. Matanya terus terfokus pada layar ponsel yang kini tengah menampilkan gambar seseorang. Seseorang yang sampai saat ini masih dan akan terus ia sayangi.

 

Namja bernama Jimin itu mengelus halus layar ponselnya seolah mengelus wajah asli sosok dalam potret tersebut. Wajahnya tersenyum. Sebuah senyuman yang sarat akan sakit dan kekecewaan. Namun Jimin tetap berusaha menyembunyikannya.

 

Ia bersandar pada sofa, membawa ponsel itu agak naik ke atas. Menatap dengan seksama potret itu dari segala sudut, lalu tersenyum lagi. Kemudian menurunkannya lagi, dilanjut dengan mengelusnya lagi. Kegiatan itu terus terulang sampai beberapa puluh menit ke depan.

 

Lalu ia menghela napas, melirik kalender meja yang ada di dekatnya. Tanggal hari esok sengaja dilingkari oleh mamanya. Dan ini adalah hari terakhirnya di Seoul. Besok Jimin akan pergi dari sini dan mulai besok… Jimin akan benar-benar memulai hidupnya yang baru. Hidup tanpa Min Yoongi di dalamnya.

 

Satu minggu. Satu minggu berhasil membuat Jimin seperti orang gila. Satu minggu berhasil mendisfungsikan seluruh kinerja otaknya. Satu minggu berhasil membuat Jimin benar-benar merasakan sakit yang biasanya kasat mata. Oh, Tuhan, satu minggu ini adalah neraka untuknya.

 

Namun Jimin sudah memilih. Jimin sudah mengambil jalan ini. Dan hari itu… Jimin tak menyesalinya sama sekali. Mungkin Min Yoongi akan menyesal jika mengingat apa yang terjadi, tapi dirinya? Percayalah bahwa itu adalah kenangan paling indah sepanjang waktu Jimin jatuh cinta.

 

Sejujurnya ia ingin melihat Yoongi, hanya dari jauh kalau perlu. Ia ingin tahu bagaimana keadaan… mantan kekasihnya itu, keadaan sosok yang sampai saat ini masih ia cintai. Jimin ingin tahu dan memastikan kalau sosok itu baik-baik saja. Namun apa boleh?

 

Jimin tidak peduli jikalau kakaknya akan marah. Sang hyung belum pulang dan Jimin punya kesempatan untuk pergi. Hanya sebentar, melihatnya dari jauh saja itu sudah cukup. Mungkin Yoongi belum kembali ke rumah, mungkin ia masih di kampus. Dan selagi memikirkan itu semua, Jimin terburu bangkit dan berjalan tergesa ke pintu keluar, namun langkahnya tertahan oleh sang mama.

 

“Jiminie, mau ke mana kamu, sayang?”

 

“Ehmm, mau cari udara segar, ma.”

 

“Jangan pergi, ya. Kamu harus istirahat, loh.”

 

Gwenchana. Cuma sebentar kok, ma…” Jimin mendekati mamanya dan mengecup pelan pipi wanita paling berharga dalam hidupnya itu. “…setelah itu langsung pulang. Love you, mama cantik.”

 

Dan menghilang begitu saja di balik pintu keluar, meninggalkan Sunggyu yang menggeleng menghadapi tingkah putranya.

 

“Jika memang ingin memperbaiki, lakukan. Jika memang menyesal, ungkapkan. Apa salahnya untuk jujur pada mama? Jatuh cinta memang selalu seperti ini, Jiminie. Namun seharusnya kau tahu kau tidak sendirian.”

 

Sesakit apapun hatinya hari itu, mengetahui betapa hancur putranya, Sunggyu hanya bisa berpikir mungkin ini yang terbaik. Namun ternyata, memilih jalan ini—sama saja dengan menghancurkan diri sendiri. Ia harap ia bisa membantu, membantu Jiminnya meraih jalan keluar yang tak menyakitinya.

 

“Mama hanya mau kamu bahagia, putraku… hanya itu.”

 

xxxXXXxxx

 

Yoongi berdiri kaku membelakangi jalanan di depan halte bis yang saling bersebrangan. Tangannya mengepal kuat, ia memutar badan dan berjalan ke arah depan. Tanpa mengindahkan apapun, tanpa peduli jika batinnya berteriak tentang tempat itu.

 

Ya, tempat itu mengingatkannya akan Jimin. Tempat itu pernah menjadi bagian dari ingatannya bersama Jimin. Dan semua tempat yang ia datangi, rasanya memiliki kontrol sendiri untuk membuatnya sadar… bahwa Jimin selalu ada untuknya.

 

Hari itu… Jimin mengajaknya pulang bersama. Tanpa membawa motor, mereka menunggu bus datang. Karena terlalu lelah dan Jimin menyadari itu, Yoongi tertidur. Jimin menyadarkan kepala Yoongi pada bahunya. Setelah si rambut mint berpesan untuk membangunkannya kalau busnya sudah datang.

 

Namun sampai bis terakhir, Jimin tidak membangunkan Yoongi membuat mereka ketinggalan bis. Yoongi mendengus dan mengocehi Jimin yang justru ikut tertidur bersamanya. Alhasil, mereka pulang berjalan kaki. Menyusuri jalanan itu berdua di bawah langit musim gugur yang dingin karena musim salju hampir datang.

 

Di tengah perjalanan, musim gugur yang dingin itu seolah ingin ikut menangis sebagaimana pohon menjatuhkan daunnya. Mungkin hanya gerimis, dan Jimin tidak menariknya ke arah halte ketika mereka melewati satu halte berhadapan. Jimin justru menariknya dan mengajaknya berlari. Berusaha untuk menggapai ujung jalan agar ia bisa mengantarkan Yoongi selamat sampai di rumah.

 

Entah apa yang terjadi, Yoongi tiba-tiba berjongkok. Dan saat menoleh ke arah jalan, ia seolah melihat dirinya yang ditarik Jimin untuk berlari. Ekspresinya langsung mengeras, Yoongi langsung menggigit bibir bawahnya erat. Menahan isak tangis yang hampir mengudara. Bahwa sekalipun saat itu ia kesal pada Jimin, ia selalu merasa ia menikmati apa yang terjadi di antara mereka. Dan waktu satu tahun bersama sosok itu… berhasil meruntuhkan seluruh dinding yang baru saja berusaha Yoongi bangun.

 

Yoongi langsung menyembunyikan wajahnya pada lutut, menangis sesenggukan menumpahkan semua pedih yang menghujam jantungnya. Menikmati rasa sakit akibat perbuatannya sendiri. Berharap… sedikit berharap setelah ini Jimin akan berhenti menghukumnya dan mau menemuinya dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki segala hal.

 

“Huks… Jimin-ah… Jim—huks…”

 

Angin pun berhembus, menerbangkan helaian sewarna mint milik Yoongi, diiringi tangisan yang terus mengudara. Berharap Jimin akan mendengarnya… dan mau menemuinya.

 

Jimin-ah…

Pada akhirnya aku menyerah. Aku menangis lagi. Untukmu. Menangisimu.

Berharap kau akan datang dan menghiburku.

Hari itu… kehancuranku semakin nampak.

Dan aku hanya bisa merindukan kehadiranmu seperti orang gila.

Ne, Jimin-ah. Apakah kau sekarang tengah berbahagia?

xxxXXXxxx

 

Jimin berdiri menyangga tubuhnya di pegangan yang tersedia dalam bus. Matanya memandang ke arah luar, memperhatikan satu persatu halte yang terlewati.

 

Ia masih kepikiran, akankah ia bisa melihat Yoongi dari jauh? Atau sosok itu akan sadar dan memintanya pergi? Ah, entahlah. Ia hanya bisa berharap dapat melihat wajah Yoongi untuk yang terakhir kalinya. Hanya untuk kali ini saja.

 

Saat matanya melihat ke arah kanan, alisnya mengernyit melihat sosok yang berjongkok tak jauh dari halte bis. Warna rambutnya yang mint mengingatkan Jimin akan satu orang. Ya, Min Yoongi, hanya dia yang Jimin kenal berwarna rambut seperti itu.

 

Jimin langsung berjalan ke arah pintu, di saat yang sama, sebuah mobil melintas ke arah yang berlawanan. Saat pintu bus terbuka dan Jimin turun, dan saat Jimin akan berjalan ke arah sosok itu, bertanya ada apa dan memastikan apakah Yoongi baik-baik saja, suaranya tertahan ketika melihat apa yang disuguhkan untuknya.

 

Tangan Jimin mengepal. Melihat sebuah mobil berhenti di dekat sosok Yoongi yang masih pada posisinya. Seolah berbicara lembut padanya, seolah mengkhawatirkannya. Jimin hancur. Hatinya benar-benar hancur. Apa secepat ini Yoongi bisa menemukan penggantinya di saat Jimin mati-matian menyesali keputusannya?

 

Tuhan… mengapa rasanya sakit sekali?

 

Mengabaikan hatinya yang menjerit, Jimin berbalik dan berlari. Secepat mungkin yang ia bisa. Menahan jeritan pilu yang ingin ia keluarkan. Menahan laju air mata yang ingin ia tumpahkan. Karena demi Tuhan, sakitnya berkali lipat dibanding saat ia harus membuat keputusan. Mungkin setelah ini… Jimin akan benar-benar lupa. Tentang segala sesuatu mengenai sosok seorang Min Yoongi dalam ingatannya. Dan semua kenangan mereka.

 

xxxXXXxxx

 

– To be Continue

 

xxxXXXxxx

 

A/N :

Maaf sebesar-besarnya karena ff ini jadi Threeshot. Karena baru sadar alurnya lambat. At least, semoga suka, ya, Jims!

 

See you in 3 days for the last chap. Paling lambar minggu depan.

 

Regards,

Yumi

 

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s