The Pregnant Man ~Chapter 13 End-{Happiness – Welcome, Children!}


The Pregnant Man

10649783_523976901079505_8311178734409661069_n

by Umu Humairo Cho, 2015

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Pairing :

AkaKuro! MidoTaka! AoKise! MuraHimu!

Rating : T

Length : 13 of 13

Romance, Family, Fluffy, Humor-maybe?-

Yaoi, Boys Love, Shonen-ai content.

OOCness! MPreg!

Kalimat/kata-kata non-baku di saat tertentu.

DLDR, yo~ Enjoy dan tinggalkan jejak ya:)

.

.

.

A Kuroko no Basuke Fanfiction

The Pregnant Man

Happiness – Welcome, Children!

Story by Umu Humairo Cho

.

.

.

Suasana di lorong rumah sakit Tokyo kepunyaan keluarga Midorima kala itu sangatlah tegang. Bibir orang-orang yang ada di ruaang tunggu kamar operasi bangunan tersebut terus melantunkan doa berharap yang terbaik untuk sahabat mereka.

 

Kazunari, Ryouta dan Tatsuya entah apa refleks saja mengelus-elus jabang bayi yang ada di perut masing-masing, seolah memberitahu dan meminta anak mereka ikut berdoa untuk keselamatan calon teman mereka juga. Para suami berusaha memberikan ketenangan pada ketiga uke tersisa. Kecuali Kazunari yang ditenangkan oleh Momoi yang baru saja datang. Seiring waktu berlalu, keluarga Seijuurou dan Tetsuya juga yang lainnya mulai memenuhi ruang tunggu yang sama.

 

Mereka sama-sama berdoa untuk orang tercinta mereka. Karena mereka tahu, semuanya akan baik-baik saja. Apalagi ada Midorima Shintarou dan Akashi Seijuurou di sana. Ya, pasti baik-baik saja.

“Eh…” Aomine Daiki langsung menepis pemikiran kata ‘baik-baik saja’ ketika mendapati ada Akashi Seijuurou di dalam ruang operasi itu. Apa benar akan baik-baik saja?, pikirnya sangsi dalam hati.

 

Aomine Ryouta yang mendapati ekspresi aneh suaminya pun penasaran. Guna menuntaskan rasa ingin tahunya, ia pun bertanya. “Daikicchi kenapa-ssu?”

 

“Hm?” Daiki menatap pasangannya dengan alis yang ikut bertaut. Lalu ia membuang pandangannya sambil bersiul. “Tidak apa-apa, Ryouta. Jangan pikirkan aku.”

 

“Tapi wajah Daikicchi aneh-ssu! Serius tidak apa-apa?”

 

“Iya. Hanya…”

 

“Hanya?” ulang Ryouta semakin penasaran.

 

“Hanya berpikir apa benar semuanya akan baik-baik saja kalau Akashi ada di dalam?”

 

“Eh? Memangnya kenapa-ssu?”

 

Daiki sekali lagi membuang muka saat dirasa semua pandangan mengarah padanya. Bukan maksudnya mau menjelekkan, kan hanya pemikiran yang datang begitu saja.

 

Tiba-tiba suara tawa yang ditahan menggema memecah hening yang tercipta. Daiki langsung mencari sumber suara dan mengernyit saat mendapati istri sahabatnya –Midorima sedang berusaha meredam tawanya.

 

Pemuda raven itu kemudian bertemu pandang dengannya. “Kurasa aku tahu apa yang kaupikirkan, Aomine. Pfftt,” Kazunari berujar sambil masih berusaha menutup mulutnya mencegah tawanya keluar.

 

“Ada apa sih, sayang?” penasaran, ibu Midorima bertanya pada menantunya yang hanya menggeleng.

 

Ruang tunggu itu jadi semakin hening membahas topik yang mereka sendiri ragu intinya apa. Tapi kemudian gumaman Murasakibara Atsushi berhasil membuat setiap nyawa yang ada di sana terdiam.

 

“Oooh—“ Murasakibara ber-oh lalu diam, namun kemudian meneruskan gumamannya. “…bagaimana ya keadaan di dalam dengan adanya Aka-chin? Pasti seru deh ada acara lempar gunting segala. Semoga Mido-chin masih hidup setelah ini. Aku butuh Mido-chin untuk lahiran Tat-chin soalnya~”

 

Dan hening makin tercipta. Masing-masing berusaha mencerna apa yang dikatakan Atsushi. Tapi Daiki lah yang pertama kali melepas tawa saat tiba-tiba pemikiran nistanya muncul begitu saja. Murasakibara Tatsuya menyusul sadar, namun ia langsung berucap pada sang suami—dengan ekspresi muka kosong.

 

“Atsushi cukup. Jangan… bicara lagi.”

 

Bukan hanya Tatsuya, yang lainnya jadi merasa ngeri dan seketika mereka ingat jikalau seorang Akashi Seijuurou adalah seorang posesif yang tak akan membiarkan siapapun menyentuh Tetsuyanya. Dan sekarang… apa kabar keadaan di dalam?

 

“SHIN-CHAAAAAN~ SELAMATKAN DIRIMUUU! AKU TIDAK MAU JADI JANDA HUWEEEEE~” detik selanjutnya teriakan Kazunari yang seketika tersadar suaminya dalam bahaya berhasil menghidupkan lagi semua yang asik tenggelam dalam pemikiran mereka sendiri. Lagipula awalnya pemikiran Kazunari tidak sampai sana. Tapi… berterima kasihlah ia pada Murasakibara Atsushi yang menyadarkannya.

 

Momoi yang sedari tadi di sampingnya langsung berusaha menenangkan. “Aduh, Kazu-chan tenangkan dirimu. Semuanya akan baik-baik-eh, ya pokoknya percaya saja. Ish, Dai-chan, kau sih bicara aneh-aneh!”

 

Daiki yang masih sibuk mengontol tawanya menatap sahabat sejak kecilnya itu. Ryouta dalam pelukannya merapat masih berusaha mencerna apa yang tadi didengarnya. “Loh? Kenapa aku? Aku tidak bilang apa-apa, Satsuki. Yang bicara kan Murasakibara.”

 

“Kau yang mulai, Dai-chan!”

 

“SHIN-CHAAAN!!!”

 

DAK! DAK! DAK!

 

Tanpa sepengetahuan siapa-siapa. Kazunari sudah ada di depan pintu operasi dan menggedor-gedor pintu tak bersalah itu. Momoi langsung menjerit bersama ibu mertua Kazunari dan ibu kandungnya.

 

“Astaga Kazu-kun! Tenangkan dirimu, sayang. Tidak akan ada apa-apa di dalam. Ayo sini tenangkan dirimu.”

 

“Aku tidak mau jadi janda, kaa-san. Aku harus menyelamatkan Shin-chan.”

 

“Jangan bicara yang aneh-aneh, Kazu-kun. Ayo duduk. Kasihan bayimu.”

 

Meski ragu, dan dikuasai rasa khawatir, Kazunari menyerah dan menurut. Ia duduk dihimpit ibu dan ibu mertuanya. Mulutnya tak henti berdoa semoga suaminya baik-baik saja di dalam.

 

Dan… ada yang bisa bayangkan keadaan di dalam?

 

xxxXXXxxx

 

Midorima dan paramedis yang lainnya sudah mengelilingi sang nyonya Akashi dengan berbagai macam peralatan yang sudah siap menunjang kegiatan operasi yang akan mereka lakukan. Akashi Seijuurou mengawasi tak begitu jauh dari ranjang yang ditiduri Tetsuya.

 

Lampu ruang operasi sudah menyala dan Midorima Shintarou beserta para suster sudah siap akan memulai operasinya. Saat tangan Shintarou akan mendarat pada kain putih yang ada di atas perut Tetsuya, dan hampir menyentuh. Suara Seijuurou tiba-tiba menggema.

 

“Shintarou, jangan berani sentuh Tetsuyaku.”

 

Deg!

 

Shintarou langsung menegang, para suster yang membantu pun diam. Shintarou ingin melirik, tapi tak jadi. Tangannya juga refleks berhenti. Ketika ia sadar, sudah ada gunting yang bertengger di dekat wajahnya. Takut-takut ia menjawab. “Kalau tidak k-kupegang, aku tiba bisa mengeluarkan b-bayimu, nanodayo.”

 

“Jangan sentuh.”

 

“T-tapi Akashi…”

 

“Dan jangan pernah berani menyentuhkan pisaumu pada Tetsuyaku. Kau mau melukainya?”

 

Shintarou langsung cengo dibuatnya. “Astaga Akashi. Kau berharap apa? Memangnya dari mana kau berpikir bayimu akan keluar? Kuroko bukan wanita—“

 

“Kau mau mati, Shintarou?”

 

“Akashi aku serius, nanodayo. Sekarang kau tenang dan biarkan aku menyelamatkan keluarga kecilmu atau… kau akan kehilangan mereka.”

 

“Hooo, kau berani mengancamku? Midorima Shintarou?”

 

Midorima Shintarou habis kesabaran. Dengan tanpa memikirkan keselamatannya lagi setelah itu, dengan pedenya ia berteriak.

 

“AH TERSERAH SAJA. AKU LELAH, AKASHI AKU LELAH. KAZUNARI MASIH MEMBUTUHKANKU DAN KAU TAK MENGERTI. JADINYA KAU MAU KUROKO MELAHIRKAN ATAU TIDAAAAAAK?”

 

Shintarou menjerit pilu dalam ruangan yang serba steril itu. Para bawahannya hanya diam membeku menyaksikan tontonan yang diberikan dokter mereka juga kawannya. Dan dengan gilanya, Shintarou berjalan ke arah Akashi dan membawa (menyeret) pemimpin Akashi group cabang Tokyo itu keluar, ke tempat di mana semuanya berkumpul mendoakan yang terbaik untuk Tetsuya.

 

“SHIN-CHA—“

 

Berat hati Shintarou memotong Kazunarinya lalu bicara pada Seijuurou.

 

“Renungkan segalanya Akashi selagi aku mengeluarkan bayimu. Setelah itu terserah kau mau membunuhku atau apa. Aku mah apa atuh. Jadi dokter juga serba salah huwe mamah.”

 

Butuh beberapa puluh detik bagi Seijuurou mencerna semuanya. Ia melayangkan tatapan tajam pada Shintarou yang sudah melesat masuk ke dalam ruang operasi dan mulai membantu teman semasa SMPnya –sang nyonya Akashi Tetsuya. Tentunya dengan berusaha mengabaikan pemikiran mengenai apa yang akan dilakukan Akashi Seijuurou setelah ini.

 

“SHINTAROU!”

 

Dan oh, Kami-sama, aku hanya ingin ada ketika anakku lahir~, batin Shintarou juga –Seijuurou dalam heningnya suasana yang meraja.

 

xxxXXXxxx

 

Para kawan beserta keluarga yang awalnya tadi memikirkan juga apa yang terjadi didalam, dibuktikan sudah dengan dibawanya Akashi keluar.

 

Demi apa pemikiran tersirat Aomine dan Murasakibara benar-benar terjadi.

 

“Oi, Seijuurou.”

 

“Shintarou, berdoalah setelah ini kau masih bisa hidup untuk melihat anakmu. Berdoa saja,” Seijuurou bergumam dengan aura gloomy yang pekat. Ia menatap penuh rasa ingin memusnahkan pada pintu ruang operasi yang tertutup mengabaikan panggilan ayahnya.

 

“Oi, Seijuurou.”

 

Diabaikan lagi. Akashi Seijuurou masih asik mengatur strategi pembunuhan dr. Midorima Shintarou tanpa mempedulikan kalau orang tua dokter itu ada di ruangan yang sama dengannya. Yang lainnya pun tak berani mendekat. Begitu juga saat ibu mertuanya, ibu Tetsuya akan melangkah maju –tiba-tiba tangan Akashi Seichirou menahannya sambil bergumam ‘biar aku saja’.

 

“Oi, Seijuurou! –pletak!” Akashi senior itu memanggil anaknya sambil menggeplak kepalanya membuat orang-orang tersisa terutama mereka yang sejak SMP berteman dengan Seijuurou melongo tak percaya.

 

Seijuurou yang merasakan pukulan pada kepalanya tanpa menyadari suara orang yang memanggilnya akan menengok untuk mengancam orang itu. Namun saat tepat ia menoleh, ia langsung terdiam mendapati wajah murka sang ayah.

 

“Oi, Seijuurou.”

 

Wajah Akashi Seichirou sudah sangat seram dibanding dengan wajahnya (mungkin begitulah pemikiran anggota Kisedai di sana). Seijuurou hanya diam, balas memandang ayahnya.

 

“Kau baru saja membongkar niat jahatmu di depan orang tua calon korban, bodoh. Akashi tidak pernah begitu.”

 

“EH?”

 

Mereka yang ada di ruang tunggu berpikir Akashi senior itu akan memarahi Seijuurou untuk menyadarkannya. Tetapi kenapa jadi begini? Kuroko Teshiro –ayah Tetsuya, yang menjadi mertua Seijuurou akhirnya ikut turun tangan mendekat pada ayah-anak itu.

 

Ano, Seichirou-san, bukan begitu—“

 

Namun sayang, ucapannya terpotong.

 

“Tapi kupikir kau sudah tobat, nak, semenjak menikah dengan Tetsuya. Ampuni kawanmu yang dengan baik hati membantu persalinan menantuku yang kawaii itu. Lupakan dendammu. Kali ini biarkan sajalah sekali seumur hidup si Shintarou menyentuh Tetsuya. Kalau lain kali –baru habisi.”

 

“Hei, Seichirou!”

 

“Hahaha, okay. Aku bercanda,” ayah Seijuurou langsung menyengir menatap besannya. Ia lalu beralih pada Seijuurou lagi. “Wajar Shintarou harus melakukan itu. Otak cerdasmu ke mana, oi? Kalau tidak pakai pisau operasi anakmu juga mana bisa keluar. Sudahlah, buang dulu sikap posesifmu itu. Apa kata ibumu kalau melihat anaknya begini, astaga.”

 

Sejujurnya Seijuurou ingin sekali menjawab. Namun ia menganut paham ‘jangan ladeni ayah dalam hal berdebat. Aku takkan menang’ makanya, daritadi ia diam saja dan berusaha menerima walau berat.

 

Puk! Puk!

 

Sang ayah menepuk-tepuk punggungnya membuat Seijuurou mendelik namun tak bicara. “Kau benar-benar penurut, ya, Seijuurou. Anak baik. Ibumu memang hebat karena membuatmu sangat menurutiku, hohoho.”

 

Akashi Seijuurou hanya mendengus dalam hati. Ia juga sudah mendaratkan tatapan mematikan untuk Daiki, Ryouta dan Atsushi yang sedari tadi memasang wajah melongo namun menahan tawa. Seijuurou janji untuk memberikan mereka pelajaran suatu hari nanti.

 

Dan sepertinya, ayahnya belum puas menyiksanya (dengan cara membuatnya terlihat seperti bukan Akashi Seijuurou yang dikenal Kisedai). “Katakan ‘Ya, otou-san, maaf. Aku mengerti.’ Lalu minta maaf pada keluarga Midorima. Cepat.”

 

Ucapan Akashi Seichirou sama mutlaknya dengan ucapannya. Dengan sangaaat berat hati, Seijuurou pun buka suara. “Ya, otou-san, maaf. Aku mengerti,” ujar Seijuurou pelan lalu beralih ke keluarga Midorima. “Maafkan aku juga, Midorima-san.”

 

Kalau saja Daiki, Ryouta dan Atsushi tidak menyadari tatapan membunuh Akashi yang mereka kenal, mungkin mereka sudah tertawa sambil bertepuk tangan karena takjub. Sayangnya, mereka harus menyimpan itu untuk menjadi kejadian paling langka yang pernah mereka lihat seumur hidup mereka.

 

Karena hal itu juga, waktu terus berlalu. Dengan Seijuurou yang terus berjalan ke sana kemari di depan pintu ruang operasi sambil membayangkan apa-apa yang terjadi di dalam –apakah Tetsuyanya kesakitan? Apakah Tetsuyanya baik-baik saja? Bagaimana kabar bayi kembar mereka? Apakah semuanya baik-baik saja?– pemuda scarlet itu benar-benar tak bisa berhenti melayangkan pertanyaan aneh yang membuatnya terlihat seperti bukan Akashi Seijuurou yang dulu bahkan sampai sekarang dikenal sebagai seseorang yang ahli dalam berbagai bidang.

 

Yang lainnya hanya memaklumi, sambil bibir mereka tak henti berdoa. Waktu terus berjalan dan semoga saja operasinya berjalan dengan sukses.

 

Tak beberapa lama, suara tangisan yang bersautan mulai terdengar. Mereka bisa mendengar dua tangisan yang berbeda. Dan tak seorang pun dari masing-masing yang ada di ruang tunggu itu bisa menyembunyikan rasa bahagia mereka. Mereka saling mengucap syukur atas kesuksesan operasi tersebut.

 

Selanjutnya lampu operasi di atas pintu padam. Seijuurou langsung berdiri lebih tegap. Yang lainnya pun sama. Mereka menunggu sampai Midorima Shintarou keluar. Keluar untuk menyampaikan mengenai kabar bahagia ini. Mengenai gender dua bayi kembar itu, mengenai segalanya mengenai dua bayi baru tersebut.

 

Saat pintu terbuka, Seijuurou langsung menghadang di hadapan Shintarou, menatapnya penuh rasa penasaran. Shintarou yang walaupun sudah was-was takut Akashi justru ingin menyerangnya dengan gunting, berusaha menenangkan diri dan professional, ia pun menyampaikan berita bahagia itu.

 

“Selamat, Akashi. Seperti yang kau ketahui, bayimu kembar, keduanya laki-laki. Satu berambut biru muda dan satunya berwarna merah. Dan…”

 

Shintarou menjeda. Ia melirik yang lainnya yang masih mendengarkan dengan seksama.

 

“Dan… Shintarou?”

 

Shintarou berdeham sebelum melanjutkan. “Dan… yang berambut biru bermata merah, keduanya. Tapi yang berambut merah –ehem. Matanya hetero, nanodayo.”

 

“Oooh, begitu. Hetero, ya? –APA?”

 

Loh kok kau kaget?”

 

“Oh, maaf. Refleks karena terlalu senang. Btw warna apa?”

 

“Kanan biru, kiri kuning, nanodayo.”

 

“Oooh, begitu. Boleh kulihat mereka bertiga sekarang? Oh boleh? Terima kasih,” tanpa menunggu jawaban Shintarou, Seijuurou menerobos masuk dan melihat keluarga kecilnya. Menyisakan Shintarou yang sekali lagi menghela napas antara lelah dan lega. Ia kemudian memeluk Kazunari seolah ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja juga setelah ini.

 

Begitu juga dengan yang lainnya. Yang terus mengucapkan rasa syukur dan sangat senang dengan kehadiran nyawa baru dalam hidup mereka. Bisa dilihat, seorang Akashi Seichirou di sini yang terlihat sangat bahagia, orang tua Tetsuya juga sama. Namun, mereka yang tentunya bersahabat dengan pasangan merah-biru muda itu juga ikut merasa gembira.

 

xxxXXXxxx

 

Akashi Seijuurou berjalan mendekati ranjang yang ditiduri pasangan paling dicintainya, Akashi Tetsuya yang masih terlelap akibat bius yang diberikan sebelum operasi tadi. Seijuurou mengusap sayang dahi Tetsuya, menyingkirkan poninya kemudian mengecupnya.

 

Seijuurou merasa sempurna. Benar-benar sempurna.

 

“Terima kasih, Tetsuya. Terima kasih.”

 

Detik terus berlalu dan Seijuurou kali ini benar-benar merasa bahwa ia begitu hidup. Berapa lama ia dan Tetsuya bersama? Namun kebahagiaan ini… benar-benar tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

 

Seandainya ada sesuatu yang bisa menggantikannya –namun Seijuurou tak yakin ada. Benar-benar tidak ada. Karena takkan ada yang mampu menggantikan kebahagiaan yang begitu nyata seperti ini. Tidak ada.

 

“Tuan, nyonya Akashi akan segera dipindahkan ke ruang rawat.”

 

Seijuurou langsung menoleh saat seorang suster memberitahunya. “Baik. Dan bayi kembar kami?”

 

Selesai berucap demikian, dua suster lainnya membawa dua bayi yang masih merah, terselimut hangat dengan kain yang menjaganya dari hawa dingin. Kedua paramedis itu mendekat membawa kedua bayi tersebut ke hadapan ayahnya.

 

Tangan Seijuurou refleks terangkat dan mengelus sisi berbeda pipi bayi kembarnya dan Tetsuya. “Welcome, children. Thank you for coming to my life. To our life. Thank you…” Seijuurou berbisik begitu lirih, namun kedua suster yang mendengar itu tahu –suaranya diliputi kebahagiaan, rasa syukur dan rasa yang takkan bisa dijelaskan oleh apa atau siapapun. Bahkan, Tetsuya yang masih belum sadar, sampai menitikkan air matanya akan hal ini.

 

Dan hari itu. Tepat di penghujung bulan Mei, anak kembar keluarga putra tunggal Akashi, yaitu Akashi Seijuurou dan pasangannya Akashi Tetsuya, lahir ke dunia dengan selamat sentosa tanpa cacat sedikitpun.

 

Ah, senangnya.

 

xxxXXXxxx

 

Detik jam seolah berjalan begitu cepat serasa menaiki turbo super kilat. Hari sudah berganti menyapa penghuni ruang rawat yang pintunya bername-tag Midorima’s Special Patients’ tersebut dengan hawa kebahagiaan yang kental.

 

Saat Tetsuya membuka mata dan merasakan perih pada bagian perutnya, dan ia sadar bahwa mungkin efek biusnya sudah menghilang –ia agak meringis saat akan bangun. Namun Seijuurou yang saat itu melihat ia terjaga, segera mendekatinya kemudian menyuruhnya kembali berbaring.

 

Kala itu, yang didapatkan Tetsuya adalah pelukan dan kecupan penuh cinta juga terima kasih yang Seijuurou berikan padanya. Tapi ia bisa merasakan bahwa apa yang berusaha disampaikan oleh suaminya itu agak berbeda. Sangat berbeda.

 

Tetsuya tersenyum saat mendengar gumaman berulang Seijuurou. Ia mengangkat satu tangannya mengelus surai scarlet suaminya penuh sayang. “Jangan berterima kasih, Seijuurou-kun. Kebahagiaanku juga, karena bisa melahirkan mereka. Terima kasih juga untukmu.”

 

Pemuda teal itu sekali lagi –memberikan senyuman paling menawan untuk Seijuurou membuat sang pemuda scarlet menanamkan lagi kecupan untuk sang istri.

 

“Kau tahu itu tidak benar. Aku harus berterima kasih karena kau mau berjuang. Berjuang melahirkan mereka, Tetsuya. Kau tahu, melahirkan dengan jalan operasi juga bisa menyebabkan kematian.”

 

“Dan aku masih di sini, Seijuurou-kun. Apa yang kau khawatirkan? Midorima-kun tidak bicara hal yang aneh selama masa kehamilanku, kan? Karena itulah, aku masih di sini. Bersamamu. Untukmu. Dan untuk si kembar.”

 

Seijuurou tersenyum mendengarnya. Tetsuya selalu bisa membuatnya merasa bahagia. Tetsuya selalu bisa membuatnya merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia. Bukan karena memiliki harta berlimpah yang tujuh turunan takkan habis, atau memiliki berlian paling mahal, atau mungkin bisa memiliki satu bidadari milik Kami. Tapi karena Seijuurou memiliki Tetsuya. Hanya itu.

 

“Ya, kau masih di sini. Dan sekali lagi aku berterima kasih. Okaa-san. Terima kasih karena bertahan untuk si kembar. Juga untukku.”

 

Kebahagiaan yang datang berhembus menerbangkan semua rasa takut yang kemarin menghantui Seijuurou. Rasa takut akan kehilangan keluarga kecilnya. Tapi, kemarin dan hari ini membuktikan bahwa sejujurnya Kami-sama sangatlah mencintainya. Sekalipun ia kehilangan sang bunda saat kecil, namun kini… ia mendapatkan sosok yang bagai pengganti –bukan. Namun sosok pelengkap hidupnya sampai mati. Dan sekali lagi, Seijuurou bahagia.

 

Terlalu larut dengan momen mereka, tiba-tiba satu persatu anggota keluarga, juga teman-teman berdatangan sambil mengutarakan ucapan selamat. Tetsuya hanya tersenyum dengan Seijuurou yang masih menggenggam tangannya. Kemudian Seijuurou sedikit menyingkir saat ibu mertuanya datang untuk memeluk putra semata wayangnya itu memberikan selamat pada dirinya juga pemuda teal dalam pelukan wanita itu.

 

Namun kemudian, ucapan Tetsuya membuat semua fokus mengarah padanya. “Ne, Seijuurou-kun, aku ingin melihat si kembar. Onegai?”

 

Seijuurou hanya tersenyum. Semuanya yang ada di ruangan itu pun juga. Dan sejujurnya mungkin Tetsuya tidak sadar jika ayahnya tak ada di sana. Tetsuya bertanya-tanya apakah arti senyuman Seijuurou juga yang lainnya? Serta ke manakah ayahnya?

 

Matanya mencari ke sana kemari kehadiran pria tersayangnya selain Seijuurou dan sang ayah mertua. Berusaha menangkap sosok itu yang mungkin berdiri di pojok ruangan bersembunyi. Namun, pintu yang terbuka selanjutnya membuat pandangan Tetsuya jatuh tertubruk begitu saja pada sosok yang berdiri dengan mendekap seorang bayi. Kemudian di belakangnya seorang suster membawa sosok yang terlihat hampir serupa dengan yang dibawa ayahnya. Saat keduanya mendekat, sang ibu mengambil bayi dalam dekapan si suster dan kedua orang tua Tetsuya berdiri di dekat ranjang yang berseberangan dengan Seijuurou. Menunjukkan wajah bayi kembarnya, dalam sekejap; membuat kebahagiaan makin memuncak bergemuruh dalam darah pemuda teal tersebut.

 

Sejurus kemudian, ayah dan ibunya memberikan si kembar pada Tetsuya dan Seijuurou. Detik setelahnya sesaat si kembar berada dalam pelukan kedua orang tuanya –Tetsuya agak menyingkir ke samping untuk memberi ruang pada bayi mereka agar berbaring bersamanya. Seijuurou menaruh bayi lainnya di samping kembarannya. Tangan Tetsuya mengelus pipi kedua bayi itu bergantian, begitu juga dengan Seijuurou. Mereka saling menatap untuk beberapa saat, seolah saling bicara dalam bahasa di mana hanya mereka yang mengerti.

 

Pemuda berambut langit musim semi itu penasaran akan nama yang akan menyandang kedua bayi kembar menggemaskannya ini. Maka bertanyalah ia pada sang suami. Yang juga sejak tadi di tunggu oleh yang lainnya. “Jadi, siapa nama anak kembar kita, Seijuurou-kun?”

 

Akashi Seijuurou yang sebelumnya agak membungkuk pada keluarga kecilnya, seketika berdiri tegak. Tersenyum pada semua orang di sana. “Perkenalkan, anak kembar kami. Yang berambut biru adalah Akashi Naoki dan yang berambut merah… kuberi nama Akashi Seiji.”

 

Selanjutnya yang terdengar adalah opini-opini para kawan yang mengomentari kemiripan wajah bayi kembar itu. Dan mereka semua sepertinya juga sepakat bahwa keduanya memiliki kemiripan seimbang antara Seijuurou dan Tetsuya. Terlebih agaknya bentuk wajah Seiji mirip seperti Seijuurou. Dan pemikiran itu hanya menambah kebahagiaan yang tak ada bandingnya.

 

xxxXXXxxx

 

Matahari semakin merangkak dengan cepat. Hari begitu cepat berganti dan sudah mau menjelang petang lagi, para orang tua telah pamit untuk memberi ruang. Para kawan tetap tinggal untuk tetap ikut merasakan kebahagiaan. Bayi kembar itu tertidur nyenyak dengan nyaman di samping sang ibu. Para uke yang melihat merasa begitu hangat, mereka benar-benar menantikan giliran mereka untuk merasakan hal yang sama.

 

Kazunari mengelus perutnya lalu bersuara. “Tet-chan omedetou~ Aku sangat tidak sabar tiba giliranku.”

 

Tetsuya tersenyum menanggapi. “Terima kasih, Kazunari-kun. Tapi… apa kau siap merasakan sakitnya?” Tetsuya agak menggoda sahabatnya itu. Yang hanya dibalas kekehan Kazunari.

 

Kazunari memeluk lengan suaminya. “Kalau Shin-chan berani memberikan rasa sakit yang lebih darimu, akan langsung kubuang Shin-chan ke jurang.”

 

Respon yang didapat adalah tawa. Shintarou sendiri hanya membetulkan letak kacamatanya tak menanggapi. Ia dan yang lainnya hanya berusaha untuk menikmati binar kebahagiaan yang terpancar.

 

“Tetsuyacchi aku ikut senang-ssu! Bahagia sekali rasanya melihat Naokicchi dan Seijicchi. Huhu rasanya ingin cepat-cepat melihat bayiku dan Daikicchi-ssu.”

 

“Terima kasih, Ryouta-kun. Bersabarlah, aku yakin sebentar lagi.”

 

“Omong-omong, kalian tahu tidak. Sebelum Akashi menelpon itu sebenarnya aku habis mengerjai Shin-chan dengan pura-pura mau melahirkan, loh.”

 

“APA?” para uke kaget dan agaknya benar-benar berpikir sebenarnya apa yang Kazunari inginkan.

 

Kazunari hanya tersenyum. Tatsuya yang sedari tadi diam pun buka suara. “Kuyakin kau memberikan serangan jantung mendadak pada suamimu, Kazunari.”

 

“Hehe, kau tidak tahu saja bagaimana ekspresi Shin-chan. Menyegarkan, loh.”

 

Tsk. Dan aku tidak akan tertipu lagi, nanodayo.”

 

“Hoo, aku tidak yakin begitu, Shintarou.”

 

“Aku pasti bisa, nodayo.”

 

“Baiklah kami percaya saja pada Midorimacchi-ssu. Kami kan masih butuh Midorimacchi untuk lahiran kami.”

 

Obrolan itu terus berlangsung, tanpa jeda. Membicarakan kehidupan mereka yang setelah ini akan semakin berwarna. Sebentar lagi, hanya tinggal menunggu maka masing-masing dari keluarga kecil di sana akan (dan telah) memiliki anggota baru. Kala itu, yang bisa mereka lakukan sambil bercakap hanyalah tersenyum. Pembicaraan yang tak luput dari rasa bahagia yang melimpah itu bagai backsound kehidupan mereka yang sesungguhnya. Terlebih… jika kehidupan itu diisi dengan tangis bayi, makin sempurnalah semuanya.

 

Kazunari yang usia kandungannya hanya terpaut beberapa hari dari Tetsuya mulai bertanya, kapankah gilirannya mengenalkan dunia pada anaknya? Kapankah ia bisa mengelus pipi bulat bayinya seperti saat Tetsuya atau Akashi melakukannya? Kapankah ia dan Shintarou bisa melakukan semua itu?

 

Sebentar lagi? Sampai kapan… dirinya harus menunggu?

 

Deg!

 

“Ugh…” Kazunari tanpa sadar melenguh saat merasakan sentakan pada perutnya. Ia langsung mengusap-usap abdomennya mengatakan pada sang bayi bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa mereka sebentar lagi juga akan segera keluar. Bahwa mereka—“Ughhh… gghh…” Kazunari merubah usapannya menjadi cengkeraman pada bagian bawah perut besarnya.

 

Saat itu, yang lainnya sibuk melihat respon dua bayi milik teman mereka, tapi sepertinya Ryouta menyadari ada yang aneh dengan sahabatnya itu?

 

“Kazucchi? Kau baik-baik saja-ssu?” Ryouta bertanya pelan sambil mengernyit. Shintarou yang kebetulan saat itu baru masuk (setelah dari kamar mandi) ke ruangan yang memang dikhususkan untuk temannya semasa SMP dan tiga uke lainnya nanti menautkan alis kemudian mendekat pada Kazunari.

 

“Kazunari kau kenapa, nanodayo? Jangan mulai lagi. Kau ingat kan kalau kau mengerjaiku lagi aku akan membuatmu melahirkan di mana pun tempatnya?”

 

Kazunari tidak menjawab. Pemuda raven itu hanya menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit akibat sentakan yang setiap kali datang menerjangnya. Semua yang memperhatikan bertanya-tanya, apakah teman mereka itu sudah mau melahirkan?

 

“Kazunari kau berkeringat,” Tatsuya berujar dari tempatnya. Shintarou yang mendengar langsung menangkup pipi sang istri.

 

Lamat-lamat ia memperhatikan ekspresi yang diberikan pasangan hidupnya. “Katakan, Kazunari. Kali ini kau tidak berpura-pura, kan?”

 

Kazunari ingin mengangguk. Namun ia merasa semua tenaganya sudah habis hanya untuk meredam sakit yang mendera perutnya. Ia benar-benar tidak tahan. Tubuhnya hampir jatuh kalau saja Shintarou tak langsung menangkapnya. Peluh yang membahasahinya mengucur begitu saja.

 

“Midorima-kun, sepertinya Kazunari-kun akan benar-benar melahirkan.”

 

Dan ucapan Tetsuya yang diamini Kazunari kemudian berhasil membuat Shintarou panik setengah mati.

 

“Shin-chan b-baka… aku… ugh… s-sungguhan…”

 

Seketika, Shintarou mengambil ponsel dan memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan ruang operasi secepat yang mereka bisa. Setelah itu, ia langsung membopong sang istri keluar ruangan menuju tempat melahirkan.

 

“Bertahanlah, Kazunari. Maafkan aku yang tidak cepat tanggap.”

 

Kazunari hanya tersenyum. Ia dibatas antara sadar dan tidak, ia bisa melihat di belakangnya, teman-temannya dan suaminya mengikuti mereka perlahan. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang karena merasa lelah, Kazunari bisa mendengar Ryouta yang memekik sambil bilang pada seseorang ditelpon dengan kalimat ‘Kazucchi mau melahirkan-ssu!’. Dan setelah itu hanya putih yang dilihatnya.

 

xxxXXXxxx

 

Kazunari berpikir memang bukan hal yang baik mengerjai suaminya masalah seperti ini. Jadinya tadi saat ia akan benar-benar melahirkan, Shin-channya malah seperti ragu-ragu jikalau dirinya pura-pura lagi.

 

Ia tahu ia tak seharusnya seperti itu. Dan jika semua ini berjalan baik-baik saja. Biarkan dia meminta maaf dan takkan melakukan hal yang sama lagi. Karena setelah ini keluarga kecilnya akan berkumpul. Karena setelah ini… hanya ada mereka bertiga. Hanya ada dirinya, Shintarou dan bayi kecil mereka.

 

Hanya mereka.

 

xxxXXXxxx

 

Ruang tunggu itu seperti yang sudah-sudah. Sama persis ketika Akashi Tetsuya ada di dalamnya –dipenuhi anggota keluarga beserta teman-teman dari Kazunari maupun Shintarou. Masing-masing dari mereka berdoa, memohon yang terbaik untuk kelancaran operasi dengan alasan yang sama seperti sebelumnya.

 

Tetsuya yang saat itu sudah bisa berjalan walau bekas jahitannya masih sakit pun hadir, dengan dalam dekapannya bayi berambut merah yang tertidur nyenyak, seolah tak terganggu. Kembaran bayi itu, ada di gendongan ayahnya –tampak dalam keadaan yang sama.

 

Tatsuya yang kebetulan duduk didekat Tetsuya mengusap surai merah Seiji, kemudian usapannya beralih pada pipinya yang halus. Tetsuya menanyai istri Atsushi itu maukah mencoba menggendong Seiji dan Tatsuya menjawabnya dengan anggukan. Seketika, bayi mungil itu berpindah tangan, kemudian Tetsuya mengambil Naoki juga dari Seijuurou. Saat itu, ia mendengar Tatsuya bergumam seolah mengajak putranya berbicara sambil terus mengelus pipi Seiji. “Sebentar lagi Seiji dan Naoki punya teman lagi. Senang tidak, sayang?”

 

Tetsuya tersenyum mendengar ucapan itu. Dan seolah mengerti, bayi itu perlahan terbangun –membuka matanya memperlihatkan manik heteronya. Tangannya mengepal-kepal lalu Tatsuya menaruh satu jarinya di sana, sekejap Seiji menggenggamnya. Bayi itu mengerjap-kerjapkan matanya membuat Tatsuya semakin ingin untuk cepat bisa melihat bayinya.

 

“Sepertinya Seijicchi bilang iya-ssu,” ah, ternyata bukan hanya Tetsuya yang mendengarnya. Namun Ryouta juga. Pemuda kuning itu duduk di sisi yang lain Tetsuya. Jikalau Tatsuya di sisi kanan, maka Ryouta di sisi kiri. Tangan pemuda kuning itu mengelus pipi Naoki yang perlahan juga ikut membuka matanya. “Naokicchi juga pasti senang, kan-ssu? Sebentar lagi ada yang akan menemani bermain selain Seijicchi.”

 

Pemandangan itu sedikitnya mengalihkan kekhawatiran akan operasi yang sedang terjadi. Mereka seketika merasa hangat dan mereka seketika juga merasa bahwa kelak, Midorima Kazunari akan segera bergabung di sana dengan bayi dalam dekapannya. Dan mereka tahu itu benar.

 

Karena setelahnya, lampu ruang operasi padam. Namun tak ada yang keluar. Mereka yang menunggu harap-harap cemas, apalagi orang tua Shintarou dan Kazunari. Tapi kemudian saat seseorang bersurai hijau, berpakaian baju operasi keluar dari dalam membuat semuanya langsung berdiri, menanti kabar. Ibu Kazunari yang pertama kali maju disusul ibu Shintaraou bertanya pada orang itu. “Shintarou-kun, bagaimana sayang? Semuanya baik-baik saja, kan?”

 

Ekspresi yang awalnya ditampilkan Shintarou kosong berganti menjadi raut kegembiraan. Orang-orang di sana entah mengapa merasa lega. Semuanya… memang baik-baik saja. Dan hari itu, mungkin kali pertama mereka melihat Shintarou menangis –selain Kazunari dan orang tuanya.

 

“Bayi kami laki-laki, kaa-san. Dan dia… sangatlah sehat.”

 

Dan yang bisa didengar hari itu, hanyalah sorak sorai kebahagiaan. Tepat di awal bulan Juni di penghujung akhir musim semi, anggota keluarga Midorima bertambah satu orang.

 

xxxXXXxxx

 

Ruang rawat khusus itu hanya dihuni oleh dua keluarga yang anggotanya baru saja bertambah. Yang lainnya memutuskan untuk pulang dan berjanji besok akan kembali. Tetsuya tertidur di ranjangnya dan Seijuurou tertidur di kursi samping tempat tidurnya. Bayi mereka juga terlelap dalam ranjang bayi yang memang di siapkan di dekat masing-masing ranjang.

 

Ruangan itu berbentuk persegi dan lumayan luas. Di setiap sudut terdapat satu ranjang lengkap dengan ranjang bayinya. Dan dua ranjang beserta ranjang bayi dalam ruangan itu sudah tersisi. Tersisa dua yang kosong.

 

Shintarou duduk di samping tempat tidur istrinya yang masih terlelap. Tangannya terulur mengusap dahi sang pemuda raven yang terlihat sangat nyenyak. Satu tangannya menggenggam tangan Kazunari seolah berusaha menyalurkan semua rasa yang ia miliki sekarang. Rasa senang, rasa syukur, rasa bahagia yang meluap dan rasanya Shintarou tidak tahu harus bagaimana lagi mencurahkannya.

 

Lamat-lamat cahaya bulan yang saat itu hadir menembus jendela membuat pemuda raven yang kini telah menjadi seorang ibu terjaga, ia mengerjap ketika mendapati bahwa ada yang melingkupi tangannya dalam genggaman. Kazunari mengerjap lagi beberapa kali sebelum akhirnya menemukan seseorang yang paling ia cinta ada di sampingnya –dan orang itu juga yang menggenggam tangannya dengan erat juga hangat.

 

“Shin-chan…”

 

Shintarou tersenyum. Tangannya yang mengusap dahi tadi terus melakukan pekerjaannya sambil kemudian menyampirkan setiap helai rambut yang ada. Genggamannya juga semakin erat, dan Kazunari seketika tahu arti dari semua itu.

 

“Terima kasih, Kazunari,” pemuda hijau itu berbisik, amat lirih sampai Kazunari harus meyakinkan dirinya bahwa ia tetap mendengar walau sepelan apapun suara sang suami. Nyonya Midorima itu memberikan senyum kesukaan sang kepala keluarga kecilnya. Shintarou seketika merasa bahwa ia benar-benar memiliki semua yang ada di dunia. “—dan walau kurasa, terima kasihku takkan cukup. Apalagi sebelumnya aku—“

 

“Sstt—Shin-chan, aku juga minta maaf. Aku tidak seharusnya mengerjaimu jadi aku juga yang membuatmu seperti itu kemarin. Bukan salahmu, sungguh. Dan kau, tidak perlu berterima kasih. Kau harus tahu bahwa setiap pasangan akan sangat bahagia bisa memberikan kehidupan baru untuk pasangannya. Begitu juga, aku. Karena itu, jangan berterima kasih…”

 

“Tidak bisa…” Shintarou seketika menggunakan kedua tangannya untuk menggenggam tangan Kazunari. “…mana mungkin bisa? Kalau saja Kuroko tidak menyadarkanku, mungkin kau—“

 

“Setiap orang membuat kesalahan, Shin-chan. Seorang dokter pun… akan membuat kesalahan. Karena kita… pada hakikatnya hanyalah manusia biasa. Kau tahu itu, bukan? Dan aku masih di sini, bersamamu dan bersama si kecil, apa yang mesti dikhawatirkan lagi, hm?” tangan Kazunari terangkat mengusap pipi Shintarou meyakinkannya.

 

Shintarou balas memegang tangan itu, walau tangannya yang lain masih memegang tangan kiri Kazunari. “Ya… aku tahu… terima kasih karena selalu mengerti aku, Kazunari. Sekali lagi, terima kasih.”

 

Kazunari tahu Shintarou akan terus seperti itu. Ia hanya tidak punya pilihan lain selain menerima ucapan terima kasih suaminya dan juga membalasnya, dengan seluruh perasaannya yang meluap saat itu. “Kalau begitu, sama-sama dan terima kasih kembali, otou-san. Kalau tidak ada tou-san, bayi kita… juga aku… takkan ada… ya, kan?”

 

“Aku ada karena kalian juga ada… untukku…”

 

Kazunari terkekeh. Terkekeh untuk menyembunyikan rona yang mungkin sudah menyandang pipinya. Dan seketika ia teringat ketika melirik ke arah ranjang bayi, ia juga ingin sekali tahu nama seperti apa yang sudah disiapkan Shin-channya. “Ne, Shin-chan, siapa nama si kecil?”

 

Shintarou yang mendengar pertanyaan itu seketika tersenyum kemudian memajukan tubuhnya untuk mengecup kening sang istri sebelum membisikkan nama bayi mereka pada pasangan hidupnya.

 

Kazunari semakin tersenyum, apalagi ketika akhirnya ia tahu harus memanggil si kecil dengan nama apa. Sekali lagi… ia ingin berterima kasih karena sudah diberi kesempatan untuk bisa mengenal Shintarou sehingga bisa melahirkan bayi mereka.

 

Karena Kazunari tahu… kebahagiaannya, baru saja dimulai. Baru saja.

 

xxxXXXxxx

 

Bulan merangkak ke peraduannya dan digantikan oleh sang mentari yang perlahan muncul. Cahayanya bersinar menembus setiap celah yang ada pada ruang rawat khusus di Midorima’s Hospital. Keheningan yang tercipta seketika pecah saat suara tangis menggema, membuat semua figur yang tertidur langsung terjaga. Akashi Tetsuya yang menyadari jika putranya yang menangis dengan sigap bangkit dari berbaringnya dan mengambil sang bayi, berusaha menenangkan. Selagi tangannya mengayun pelan menenangkan Naoki yang masih terisak, matanya menatap Kazunari penuh rasa bersalah.

 

Kazunari yang menyadari tatapan itu pun hanya maklum saja. “Naoki-chan haus? Atau mungkin popoknya basah?”

 

“Sepertinya,” Akashi Tetsuya merasakan tangannya basah dan mungkin itulah alasan mengapa Naoki menangis. Ia masih berdiri di dekat ranjang, lalu ia mengalihkan pandangannya pada Seiji yang masih terlelap. “Untung Seiji-kun tidak terbangun,” ujarnya mendesah lega. Seijuurou datang menghampirinya dan mengambil Naoki –menawarkan diri untuk menggantikan popoknya. Tetsuya hanya mengiyakan saja, kapan lagi seorang Akashi Seijuurou mau menggantikan popok bayi?

 

Shintarou dan Kazunari yang sedari tadi memperhatikan pun hanya diam, saling melirik betapa mereka juga tak menyangka akan apa yang mereka dengar. Namun kemudian mereka tersenyum, semua orang bisa berubah karena orang terkasih mereka.

 

Kazunari mengisyaratkan Shintarou untuk mengecek putra mereka yang bahkan baru berusia beberapa jam, belum sehari. Semalaman Shintarou juga terus menjaga bayi mungil itu, takut jika tiba-tiba ia menangis. Namun untungnya tidak. Bayi itu tertidur sangat nyenyak sekali. Seolah tidak terganggu akan suara apapun.

 

Saat Shintarou melihat lagi bayi mereka, dengan surai hijau yang sama sepertinya –bayi itu masih tertidur nyenyak sekali. Shintarou agak membungkuk untuk membelai surainya, mengusap penuh sayang kemudian mengelus pipinya yang agak tembam. Dan seolah tahu siapa yang menyapanya, bayi tersebut seketika membuka matanya perlahan, memperlihatkan manik sekelam malam seperti milik Kazunari.

 

Shintarou seketika tersenyum, dokter muda itu kemudian mengambil bayinya untuk dibawa kepada sang istri, meletakkan sang bayi mungil dalam gendongan sang bunda. Kazunari menerima dengan senang hati. Walau sakit menderanya, ia tetap berusaha untuk duduk, dan mendekap bayinya. Anak pertamanya dengan suami tercinta.

 

“Kalian belum memberitahukan namanya, Shintarou. Kami juga ingin tahu,” Seijuurou tiba-tiba berucap dari tempatnya. Pasangan hijau-raven itu saling melirik lalu menatap pasangan merah-biru muda lainnya.

 

Kazunari yang tengah mendekap bayinya sejurus bermain dengan pipi bayi itu, kemudian pada jari-jari mungil yang terbuka-tutup menyambut jarinya. Ia memberi lirikan lagi pada Shintarou seolah memintanya agar ia yang mengenalkan bayi mereka.

 

Shintarou berdeham sebelum memperkenalkan bayinya dan Kazunari. “Meet my son, Akashi, Kuroko. Namanya Midorima Shinkai, nanodayo.”

 

Dan detik setelahnya, satu persatu penjenguk datang –walau hanya terdiri dari keluarga dan teman-teman Kisedai mereka. Sekali lagi Shintarou mengenalkan putranya itu kepada semua yang turut berbahagia atas kehadiran nyawa baru tersebut.

 

xxxXXXxxx

 

Suasana kebahagiaan yang masih terpancar seolah terus melayang bebas berkeliaran dalam ruangan luas berbentuk persegi itu. Bergerak ke sana dan kemari menyapa seluruh penghuni yang menempatinya. Dilihat dari tengah ruangan menghadap pintu masuk, jika kita lihat ke timur, maka ada pintu lagi di sana. Begitu juga ketika kita melihat ke barat. Pintu itu masing-masing membawa mereka ke kamar mandi yang lumayan besar.

 

Dari salah satu pintu itu, Aomine Ryouta tengah berada di dalamnya. Daiki yang sedari tadi memperhatikan gerak-getik istrinya bertanya-tanya apa yang dilakukan Ryouta di dalam sehingga memakan waktu yang cukup lama untuk sekedar buang air kecil.

 

Pemuda tan itu lalu mengalihkan pandangannya pada dua keluarga berbahagia dan satu keluarga yang juga statusnya sama dengannya –menunggu kelahiran bayi mereka. Pemikiran Daiki seolah melayang ketika bayangan kegembiraan jikalau akhirnya bayinya dan Ryouta sudah hadir. Dan pemikiran itu seakan melenakannya. Daiki begitu terlarut dalam bayangan yang ia yakin sebentar lagi akan terwujud.

 

Namun sebuah suara seperti sesuatu yang terjatuh membuat fokus Daiki kembali pada sang istri. Ia langsung bergegas menuju kamar mandi dan benar saja, Daiki mendapati Ryouta sedang berpegangan pada tempat cuci tangan dengan raut yang mengaduh sambil satu tangannya memegangi bagian perut.

 

Daiki refleks berlari mendekat, menopang Ryouta yang hampir terjatuh. Panik mendera tanpa mau dinego, alhasil peluh ikut keluar menemani Ryouta yang sudah basah. Dengan rasa panik yang makin kuat, Daiki berteriak memberi sinyal pada temannya di ruangan. “MIDORIMA TOLONG! RYOUTA MAU MELAHIRKAN!”

 

Pemuda tan tersebut keluar dengan membopong Ryouta yang mengaduh sakit. Teman-temannya diam melongo tak tahu harus melakukan apa, begitu juga dengan Shintarou yang masih tergugu di tempatnya. Kemudian, istri Atsushi tiba-tiba ikut mengaduh sakit dalam panik yang menghimpit setiap orang di ruangan itu.

 

Atsushi yang untungnya sudah sadar, tiba-tiba bergumam tanpa mempedulikan Daiki yang terus berteriak pada Shintarou, atau Shintarou sendiri yang terus diam bagai patung. “Tat-chin mau melahirkan juga~? Ditahan dulu saja, ne~ aku tidak mau samaan dengan Mine-chin~”

 

“HOI!” walau dalam rasa serba salah, kesal, panik dan segala macam, untungnya pendengaran Daiki masih berfungsi normal. “Apa maksudmu bilang begitu, oi!”

 

Atsushi hanya siul-siul, tak menjawab. Hal itu membuat Daiki makin sebal. Ia juga lalu melirik Shintarou yang masih diam. “Hei, Midorima! Kau mau bantu aku atau tidak?”

 

“Eh? Ah, iya, nodayo. Cepat ayo bawa ke-“

 

“Ugh… At-sushi… aku…”

 

“Eeeh? Tat-chin beneran mau lahiran juga? Mido-chin~ tolong Tat-chin juga, ne~”

 

“Tidak! Ryouta dulu, Murasakibara!”

 

“Tat-chin!”

 

“Ryouta!”

 

“Tat-chin!!”

 

“Ryouta!!”

 

“Tat-chin~!!!”

 

“Ryo—“

 

“DIAM!”

 

Suara penuh penekanan dan tatapan tajam mengarah pada mereka menyadarkan seluruh orang di ruangan akan apa yang terjadi. Untungnya tiga bayi yang baru saja tertidur tak terbangun. Akashi yang tadi memotong pertengkaran kekanakkan dua temannya menatap masing-masing calon ayah. Yang ditatap kicep, tak berani bicara atau membalas tatap.

 

“Shintarou, buat keputusan.”

 

“Eh, ah, y-ya…” dokter muda yang baru saja mendapat gelar baru –gelar ayah langsung mengerjap karena sedari juga terdiam menyaksikan tontonan yang dihidangkan kedua teman. Ia kemudian melirik pada Ryouta dan Tatsuya. “Aomine, kau bawa ke ruang operasi yang kemarin. Murasakibara, kau bawa ke ruang yang di sebelahnya. Aku akan menelpon seniorku, nanodayo.”

 

Yang diajak bicara langsung bergerak. Shintarou segera menghubungi seniornya yang kebetulan juga bekerja di rumah sakit keluarganya. Setelah menerima konfirmasi bahwa sosok itu siap menolong, Shintarou beralih pada sang istrinya. “Kau di sini saja, nanodayo. Aku akan segera kembali.”

 

“Ta-“

 

“Tidak apa-apa, Kazunari-kun. Kita menunggu mereka di sini saja, bagaimana?”

 

“Eh? Tet-chan tidak ikut?”

 

“Ingin sih. Tapi kita tunggu mereka di sini saja. Naoki-kun dan Seiji-kun sedang tidur. Begitu juga Shinkai-kun. Jadi… kita tunggu di sini saja, ya?”

 

Kazunari akhirnya mengangguk. “Baiklah. Kalau ada yang menemani aku mau.”

 

Dan sedikitnya Shintarou merasa lega. “Kalau begitu, kami juga akan segera memberitahukan beritanya secepat mungkin, nodayo.”

 

Kemudian yang terlihat adalah Shintarou dan Seijuurou (yang sebelumnya mengecup kening Tetsuya) yang perlahan menghilang dibalik pintu ruang rawat yang berdiri menuju koridor. Keduanya lalu berlari ke tempat di mana sebelumnya Tetsuya dan Kazunari gunakan di hari-hari sebelumnya.

 

xxxXXXxxx

 

Shintarou dan Seijuurou sampai di ruang tunggu kamar operasi yang kini sudah dipenuhi oleh anggota keluarga Aomine, Kise, Murasakibara dan Himuro yang lain. Di sana, sudah ada teman Shintarou –senpainya sewaktu kuliah yang ia mintai tolong, Saga-sensei.

 

“Oh, kau, Midorima. Jadi, aku harus membantu yang mana?”

 

Pertanyaan itu Shintarou sambut dengan unjukan tangan. Kedua dokter itu langsung bergegas namun suara Atsushi menahannya.

 

“Mido-chin kau saja yang mengurus Tat-chin, biar teman Mido-chin mengurus Kise-chin~”

 

“Tidak bisa! Aku minta tolong duluan pada Midorima!”

 

“Mine-chin mengalah sajalah~”

 

“Tidak mau!”

 

“Harus mau!”

 

“Tidak mau!!”

 

“Harus mau!!”

 

“Ti-“

 

“CUKUP! Beliau lebih senior dariku. Dan kami akan berusaha sebaik mungkin, astaga. Kalau aku ninja dan bisa membelah diri, sudah kutolong kalian berdua, nodayo.”

 

Shintarou lelah dan ingin menangis rasanya. Entah setelah ini ia akan hidup tenang dan bahagia atau tidak. Yang jelas, yang harus ia lakukan sekarang adalah melakukan operasi –lagi. Sungguh pekan yang sangat melelahkan.

 

Dua seme tersebut juga akhirnya diam. Shintarou memberi isyarat pada seniornya sehingga detik setelahnya, kedua dokter itu menghilang dibalik pintu ruang operasi.

 

xxxXXXxxx

 

Suara tangis bersahutan dari dua ruang berbeda mengusir atmosfit kekhawatiran yang ada di ruang tunggu. Seketika suasana berubah ceria dengan kebahagiaan yang benar-benar terpancar dari wajah Daiki maupun Atsushi.

 

Lampu operasi yang padam menambah rasa yang dimiliki dua ayah baru tersebut. Menanti berita yang akan membuat kehidupan mereka semakin sempurna karena hadirnya malaikat mungil yang selama ini dinanti.

 

Diwaktu yang hampir bersamaan, Shintarou dan dokter Saga keluar dari ruang operasi. Mereka disambut oleh Daiki dan Atsushi yang sudah tidak sabar ingin mengetahui segalanya. Shintarou dan Saga hanya tersenyum kecil.

 

“Selamat, Aomine, anakmu laki-laki, nanodayo. Sehat. Wajahnya perpaduan kau dan Kise, -walau lebih Kise sih- rambutnya senada denganmu. Sekali lagi selamat, nodayo.”

 

Ucapan selamat itu disusul ucapan serupa yang dilontarkan oleh Saga-sensei. “Selamat, Muraskaibara-san. Anak Anda laki-laki dengan rambut senada mahkota ibunya. Matanya sewarna dengan Anda dan dia sangatlah sehat. Setelah keduanya dipindahkah, kalian juga bisa melihat bayi kalian. Midorima, tugasku selesai, aku kembali ke kegiatanku.”

 

“Ah,” Shintarou langsung tersadar dan membungkuk sekilas pada seniornya. “Terima kasih banyak, senpai. Tanpamu semuanya tidak akan berjalan baik.”

 

Saga mengibaskan tangannya. “Tidak, tidak. Suatu kehormatan bisa membantu. Btw, selamat juga atas kelahiran putramu, Midorima.”

 

“Terima kasih, senpai.”

 

“Terima kasih, Saga-sensei.”

 

Shintarou, diikuti Daiki dan Atsushi ikut membungkuk. Setelah dokter senior itu berjalan meninggalkan mereka yang semakin diliputi aura kebahagiaan yang takkan bisa siapapun mengelak tak merasakannya.

 

Karena hari itu, sehari setelah kelahiran di kecil Shinkai –dan tiga hari setelah kelahiran si kembar Naoki dan Seiji, dua nyawa hadir mengisi keceriaan yang semakin nyata mengayun di setiap hela napas para orang tua baru.

 

Dan sekali lagi –kebahagiaan hadir tanpa mau mengelak jika semua ini sudah ditakdirkan oleh Sang Penguasa yang dengan suka rela menebar cinta pada mereka yang dengan serius menginginkannya.

 

xxxXXXxxx

 

Lembayung senja mengayun dengan begitu anggun. Mentari menari bersiap hilang ke perpaduannya di ufuk barat. Burung-burung yang beterbangannya bercicit menimbulkan bunyi yang diiringi binar kegembiraan. Dedaunan di ranting pohon bergerak dengan angin yang berhembus membelai mereka, menambah keindahan yang disajikan dunia.

 

Ruang khusus yang sejak awal disiapkan keluarga Midorima kini terisi penuh. Di setiap ranjang, para ibu berbaring dengan di sampingnya para ayah yang dengan setia menemani. Di sudut berlainan yang berhadapan dengan ranjang Akashi Tetsuya, Aomine Ryouta masih terlelap dalam damainya keindahan dunia alam bawah sadarnya.

 

Aomine Daiki duduk setia di samping tempat tidur yang ditiduri Ryouta. Tangannya terangkat mengayun membelai mahkota kuning kesukaannya. Sekilas, ia melirik ranjang bayi yang juga sudah terisi. Bayi mereka –dirinya dan Ryouta ada di sana. Terlelap dalam buaian kehangatan yang diberikan Kami padanya.

 

Detik berlalu dengan begitu cepat. Tahu-tahu, pemuda pirang itu terjaga dari bius obat yang diberikan tadi sewaktu operasi. Gerakannya mengambil semua atensi Daiki. Pemuda tan tersebut dengan sigap berdiri, melihat lebih lanjut ekspresi yang diberikan pasangannya.

 

Di samping ranjang yang ditempati Ryouta, istri Murasakibara Atsushi ikut terjaga. Mereka masing-masing meringis merasakan sakit yang mendera perut ke bawah. Seketika mereka sadar jikalau efek bius sudah hilang sepenuhnya.

 

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dan hadirlah para orang tua dari masing-masing orang tua baru tersebut. Seluruh orang yang lebih dewasa dari mereka mengucapkan selamat atas kehadiran Aomine dan Murasakibara kecil di antara mereka semua.

 

Dan tiba-tiba, percakapan dimulai dengan kata kunci ‘nama’. Saat itu, Aomine Ryouta tiba-tiba berseru, “Aku mau menamainya Ryoska, Daikicchi-ssu!”

 

Setiap kepala bersurai beda warna menatap pada Ryouta yang terlihat menggebu-gebu. Bibirnya melengkungkan senyuman yang Daiki anggap begitu cantik. Tapi kemudian, pemuda tan itu mengajukan protes dengan memberitahu keinginannya mengenai nama sang anak.

 

Loh, tapi aku mau menamani Kiryuu, Ryouta.”

 

“Iiih, aku mau Ryoska, Daikicchi~”

 

“Kiryuu saja.”

 

“Kaname-nya mana?”

 

“Kazunari jangan jadi korban anime, nodayo.”

 

“Pokoknya Ryoska!”

 

“Kiryuu!”

 

“Zero~”

 

“Ryouka-nee jangan ikut-ikutan-ssu!”

 

“Kaname sajalah, Ryouka.”

 

“Zero bagus kali, Ryouki.”

 

“Ryoskaaa!”

 

“Kiryuu!”

 

“Zero—“

 

“DIAM!”

 

Nah. Siapa yang berteriak barusan?

 

“Kalian membuat kepala kaa-san pusing. Begini saja, namai saja si mungil Kaneki.”

 

Asdfghjkl—kita butuh Hide juga kalau begitu,” Tatsuya yang sedari diam di ranjangnya menyahut tiba-tiba.

 

“Kenapa pembicaraan ini jadi menyangkut-pautkan nama-nama karakter anime, yah?” Akashi Tetsuya bergumam setelahnya.

 

Begini saja, man-teman,” Aomine senior tiba-tiba angkat bicara. “Bagaimana kalau namanya Haru?”

 

“Jangan. Pasti setelah ini ada yang bilang—“

 

“Kalau gitu Tatsuyacchi bagaimana jika Tatsuyacchi menamai si kecil dengan Makoto?”

 

Tuh kan bener.”

 

“Sudah-sudah,” Daiki akhirnya menghela napas lelah. Kise senior ikut membuang napas kemudian melirik seluruh orang di sana.

 

“Aku punya nama yang bagus. Duh, kali ini tidak ada sangkut-pautnya sama anime, lah.”

 

“Apa toucchi?”

 

“Bagaimana kalau Aomine Nouka?”

 

“Nouka?”

 

“Yap.”

 

Yang lainnya diam. Saling berpikir satu sama lain. Detik jam terus berlalu, dan mereka belum memberikan tanda setuju. Namun kemudian, semua sontak berseru. “SETUJU!”

 

Dan binar keceriaan seketika nampak begitu nyata. Kemudian Daiki mengambil si kecil Nouka dan mengantarkan ke pelukan sang bunda. Selanjutnya, mereka menatap keluarga di samping ranjang Ryouta yang sedari tadi menyimak.

 

“Tatsuyacchi bagaimana dengan si kecil? Namanyaaa-ssu?” Ryouta bertanya sambil mengusap putranya.

 

Tatsuya melirik suaminya lalu melirik ke arah orang tua dan mertuanya. Bisa Tatsuya lihat orang tua dan mertuanya memasang wajah penasaran, begitu juga dengan yang lainnya. Pemuda raven itu kemudian memberi isyarat agar Atsushi yang mengumumkan nama anak mereka.

 

Atsushi yang sedari tadi diam, melihat sang anak yang tahu-tahu sudah terjaga. Kemudian, pemuda titan itu mengambil sang putra lalu menaruhnya dalam dekapan Tatsuya. “Hm, ne~ perkenalkan~ namanya Murasakibara Shouta~”

 

Pemuda bersurai ungu itu berucap dengan nada yang sama seperti biasanya. Namun siapapun tahu, jikalau sosok itu ada dalam tahap super bahagia. Dan sekali lagi, kebahagiaan yang berhembus menyapa setiap nyawa dalam ruangan itu sepenuhnya memberikan kenyamanan yang takkan bisa dilupakan begitu saja.

 

Tatsuya membelai kepala putranya penuh sayang, begitu juga Atsushi yang seketika bergabung. Hari itu mereka benar-benar bahagia. Karena hari itu Shouta ikut hadir dalam kesempurnaan cinta mereka. Dan mereka tahu takkan ada yang bisa menggantikan itu semua.

 

Takkan ada. Dan takkan bisa.

 

xxxXXXxxx

 

Keesokan harinya ruangan itu penuh padat seolah berada di tempat yang diminati khalayak massa. Teman-teman semasa SMA mereka datang berkunjung satu persatu, sehingga seolah tak ada ruang lagi untuk sisanya yang belum datang.

 

Teman-teman Tetsuya dan Seijuurou dari Seirin juga Rakuzan berdiri melingkari keduanya –di mana di masing-masing tangan terdapat bayi mungil yang tengah mengedip lucu pada mereka. Seijuurou meneliti mereka, dan merasa di antara para ex pemain basket SMA Rakuzan ada anggota yang hilang.

 

“Di mana Mayuzumi-senpai?” Seijuurou bertanya saat menyadari sosok kakak kelasnya –si ex pemain bayangan Rakuzan tak ada tanda keberadaannya. Seijuurou juga tak yakin jikalau sosok itu masih bisa menggunakan misdirection.

 

Para former member tim basket Rakuzan saling bertukar pandang. Kemudian Hayama lah yang menyahuti. “Katanya Mayuzumi-san akan ke sini bersama Ogiwara, Akashi.”

 

“Eh? Ogiwara-kun? Kok bisa?”

 

Loh, Tet-chan tidak tahu ya kalau mereka itu pacaran?”

 

“Apa?” Tetsuya sungguh kaget mendengarnya. Seijuurou juga bahkan membeliak sedikit akan berita itu. “Sejak kapan?”

 

“Entahlah. Sudah lumayan lama, kok,” Mibuchi membalas lagi meninggalkan pasangan merah-biru muda yang dilanda rasa tak percaya.

 

Namun kemudian suara Riko menyadarkan Tetsuya sepenuhnya. “Kuroko-kun, boleh aku menggendongnya? Er… siapa yang berambut merah ini?”

 

Tetsuya langsung melirik Seiji dalam dekapannya. Seketika ia ingat jikalau mereka –Tetsuya dan Seijuurou belum mengenalkan kedua putra mereka. Tetsuya berkata sambil tersenyum. “Minna, meet our precious twins. Yang berambut biru dalam dekapan Sei-kun adalah Naoki, dan yang bersamaku namanya Seiji,” setelahnya Seiji berpindah tangan ke Riko yang langsung menyambut bayi berambut merah itu penuh suka cita.

 

Suasana kegembiraan benar-benar terlukis indah seolah sang pelukis menorehkan kuasnya pada kanvas putih tak bernoda dengan seluruh tinta kebahagiaan yang dimilikinya. Pun Kagami yang tiba-tiba menawarkan diri untuk menggendong Naoki yang sebelumnya dihadiahi tatapan maut ala Seijuurou. Namun hal itu sirna saat Tetsuya mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

 

Tak lama kemudian, mereka yang awalnya dibicarakan tiba-tiba muncul, membuat semua pasang mata mengarah pada mereka. Mayuzumi dan Ogiwara yang baru masuk langsung tercengang betapa semua orang fokus menatap mereka.

 

“Ada apa?” Ogiwara bertanya yang disambut decakan kesal Tetsuya. “Eh? Kenapa kau tiba-tiba kelihatan marah begitu, Kurokooo? Maaf kalau aku baru bisa menjenguk.”

 

Tetsuya mendengus pelan. Ia menatap tajam teman sejak kecilnya itu. “Ogiwara-kun curang. Kau tidak pernah cerita jika kau pacaran dengan Mayuzumi-san?”

 

“Eh?” Ogiwara terkaget. Namun kemudian tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya. “Gomenna, bukannya begitu. Hanya saja-“

 

“Apa?” Tetsuya menuntut.

 

“Hanya saja kami terlalu sibuk pada pekerjaan masing-masing jadi tidak sempat membicarakan omong kosong seperti itu pada kalian.”

 

“Mayuzumi-san bisa bilang begitu. Walau bagaimana pun aku menuntut penjelasan.”

 

“Kami ke sini bukan untuk diinterogasi, Kuroko. Kami ke sini untuk melihat bayimu dan Akashi.”

 

“Oh…” Seijuurou mengusap sayang surai biru langit istrinya berusaha menenangkan. Dalam tatapannya, Seijuurou seolah berkata pada Tetsuya ‘mereka-akan-membayar-apa-yang-mereka-rahasiakan-dari-kita-sayang’ yang sedikitnya membuat mood pemuda teal itu membaik.

 

Selanjutnya, komentar Ogiwara mengenai si kembar berhasil mencuri atensi pasangan itu. “Wah, Naoki mirip Kuroko dan Seiji mirip Akashi. Tapi semoga sikap mereka beda jauh dengan orang tuanya.”

 

“Hei, bicara begitu nanti gunting Sei-chan melayang, loh.”

 

“Masa yang dalam tahap super bahagia masih bagi-bagi gunting, sih. Kasihan nanti Naoki dan Seiji terlalu dini mengenal ayahnya,” Ogiwara terus bicara tanpa peduli keselamatan. Mayuzumi hanya menghela napas sambil memperhatikan. Toh, entah mengapa ia yakin mantan kaptennya itu takkan benar-benar mengeluarkan gunting yang ia simpan diam-diam di balik saku. Mungkin berpikir juga, terlalu awal untuk memperlihatkan sifat asli pada anak kembarnya.

 

xxxXXXxxx

 

Beralih kepada pasangan hijau-raven di mana keadaannya sama seperti ranjang di sebelahnya. Mereka dikelilingi oleh former member tim basket Shutoku yang kini sedang mengagumi keimutan bayi dalam dekapan Kazunari.

 

“Siapa namanya Midorima?” Otsubo bertanya. Di sampingnya Miyaji dan Kimura mengiyakan.

 

“Namanya Shinkai, nodayo. Midorima Shinkai.”

 

“Hooo, imut sekali, Shinkai. Mirip sekali denganmu. Yang Takao sekali hanya mata dan bibirnya,” Miyaji berkomentar. Yang tentunya diiyakan oleh dua rekannya yang lain.

 

“Tapi dia terlihat sempurna, Miyaji, Otsubo.”

 

“Iyap.”

 

Dan setelahnya, masing-masing mulai membuka percakapan yang menimbulkan senyum di wajah Shintarou maupun Kazunari. Mereka berdua membelai sayang kepala hijau putra pertama mereka. Mengelus dengan begitu lembut berusaha menyalurkan seluruh kasih sayang yang tiada batasnya kepada si kecil. Yang lainnya terlarut dalam pembicaraan yang terus menimbulkan tawa yang terdengar sangat tulus di setiap telinga.

 

Mereka tidak menyangka jika akhirnya dua adik kelas mereka sekarang telah memiliki seorang putra yang pada akhirnya membuktikan jikalau cinta mereka itu begitu tulus –serius sama seperti sewaktu mereka dulu mengaku mereka saling jatuh pada pesona masing-masing. Karenanya mereka tahu bahwa Shintarou dan Kazunari tak pernah main-main soal masa depan.

 

Yang bisa mereka lakukan kini hanyalah memberi selamat dan menunggu si kecil tumbuh. Seperti siapa kelak si mungil itu? Akankah seperti Shintarou? Atau seperti Kazunari? Mereka tak bisa memastikan, namun mereka tahu keduanya pasti akan mendidik Shinkai dengan baik.

 

Karena sekarang pun mereka bisa melihat, betapa pasangan itu sangat menyayangi buah hati mereka. Yang tanpa peduli pada senpainya semasa SMA, Shintarou dan Kazunari berbagi ciuman kemudian mendaratkan kecupan di pucuk kepala sang anak. Seolah ingin menunjukkan pada dunia jikalau mereka berbahagia.

 

Ya, sangat berbahagia. Dan Miyaji, Otsubo juga Kimura bisa memberi kepastian bahwa mereka juga ikut dalam suasana hingar-bingar kebahagiaan itu.

 

xxxXXXxxx

 

“Wah, lihat itu, Shouta mengedip-kedipkan matanya. Kawaiii,” Fukui berkomentar menyaksikan si kecil Murasakibara yang ada dalam gendongan Tatsuya.

 

Okamura dan Liu hanya menonton, sesekali mereka menepuki bahu Atsushi mengucapkan selamat.

 

“Rambutnya seperti Himuro-aru,” Liu berucap sambil terus meneliti fisik putra pertama teman semasa SMAnya itu.

 

“Yap. Tapi matanya mata Murasakibara.”

 

“Perpaduan yang sempurna.”

 

“Setujuuu.”

 

Dan terus begitu. Ruangan yang penuh padat tersebut hanya terisi gumaman opini yang menghantar rasa hangat bagi masing-masing orang tua baru karena kehadiran anak pertama mereka. Atsushi dan Tatsuya saling melempar senyum yang sesungguhnya tertangkap juga oleh teman-teman semasa SMAnya.

 

Dan saat itu mereka tahu –bahwa keduanya bahagia. Sangat bahagia.

 

xxxXXXxxx

 

Ranjang Ryouta dikelilingi para ex anggota basket Touou dan Kaijou. Tak sedikit dari mereka yang membawa hadiah untuk si kecil Aomine Nouka. Momoi yang sedari tadi memekik ingin sekali menggendong bayi itu akhirnya kesampaian.

 

Para teman setim Daiki maupun Ryouta itu masing-masing memuji paras si kecil. Mereka tidak memungkiri jikalau figure mungil itu wajahnya mirip sekali dengan Ryouta –walau ada garis-garis yang menunjukkan sisi Daiki, juga mata dan rambut yang mirip ayahnya. Namun mereka tetap rasanya memiliki rasa sayang pada anak itu. Padahal baru hari ini bertemu.

 

“Aaah, lihat. Dia memegang jarikuuu,” Momoi berseru tiba-tiba. Yang lainnya langsung memperhatikan apa yang dilakukan gadis pink tersebut. “Astagaaa, Nouka imut sekali. Ikut pulang sama nee-san ya, sayang?”

 

Mouuu, Momocchi, aku juga masih ingin sama Nouka-ssu!”

 

“Habis Nouka imut sekali, Ki-chan.”

 

“Hehehe, siapa dulu dong ibunya!”

 

Dan yang mendengar hal itu, hanya memutar mata. Aomine Ryouta masih sama ketika ia masih menjadi Kise Ryouta. Narsis yang tak pernah berubah. Namun walau bagaimana pun, Kasamatsu, Moriyama, Kobori dan yang lainnya ikut berbahagia. Begitu pun Imayoshi, Sakurai juga para former member tim basket Touou yang ikut tertawa melihat tingkah si kecil Nouka yang begitu imut.

 

Dan sekali lagi –angin kebahagiaan berhembus membelai setiap orang yang tertawa dengan rasa senang yang begitu menggebu. Selanjutnya yang ada hanyalah kita yang berusaha mempertahankan kebahagiaan itu sendiri. Karena setiap jalan yang ditempuh, pastinya akan sulit. Tapi disetiap kesulitan, pasti memiliki keindahan yang tak ada tandingannya.

 

Karena Tuhan… selalu memiliki kejutan untuk kita semua.

 

xxxXXXxxx

Epilog

xxxXXXxxx

 

3 bulan kemudian…

 

Hari itu sekali lagi kediaman keluarga kecil Akashi diisi oleh orang-orang berkepala warna-warni. Dengan di masing-masing tangan sang ibu, ada bayi kecil yang usianya sudah bertambah –bahkan ada beberapa di antara mereka yang sudah bisa tengkurap atau duduk.

 

Momoi yang saat itu hadir menyaksikan keceriaan itu dengan bibir yang terus melantunkan senyum. Senyumannya semakin menjadi ketika melihat Naoki dan Seiji yang seolah sedang mengajak Shinkai berbicara sangatlah imut. Atau Nouka dan Shouta yang seolah saling mengajak bermain. Mereka berlima dibiarkan tengkurap di tengah-tengah para orang tua yang asing mengobrol –atau sibuk dengan kegiatan mereka.

 

Sang tuan rumah sendiri, Akashi Tetsuya sibuk di dapur untuk memintai tolong para maid juga butler mempersiapkan makan siang untuk mereka semua. Akashi Seijuurou hanya duduk-duduk santai sambil memperhatikan dua putranya seraya ia sesekali mengobrol dengan Atsushi dan Daiki.

 

Ryouta dan Tatsuya juga larut dalam pembicaraan. Sedangkan Shintarou dan Kazunari sibuk dengan dunianya memperhatikan Shinkai bermain dengan yang lainnya. Saat kemudian Momoi melihat Tetsuya kembali dan berjongkok di depan para bayi –mengusap masing-masing kepala beda warna itu, seketika ia mendapat ide untuk mengabadikannya menjadi sebuah potret. Dan menurutnya akan lebih menyenangkan lagi jika mereka semua ada di dalamnya.

 

“Ah! Minna! Bagaimana kalau kita foto bersama-sama? Dengan si kecil juga?”

 

“Whoaaa! Ide bagus Momocchiii!”

 

“Kalau begitu mungkin kita butuh Tadashi-san, Akashi-kun untuk memotret kita?”

 

Setelahnya yang terjadi adalah Seijuurou yang memanggil Tadashi dan kepala pelayan itu mengisyaratkan untuk mereka masing-masing merapat pada sofa yang tadi diduduki oleh Seijuurou dan yang lainnya.

 

Sesudah menyingkirkan meja sebentar, mereka masing-masing menghadap kamera. Di sofa yang dapat memuat tiga orang itu terisi oleh Tetsuya di tengah yang memangku Seiji, di samping kanannya Kazunari dengan Shinkai. Di samping kirinya Ryouta dengan Nouka. Lalu di deretan belakang sofa –berderet dari kanan dari sudut pandang lensa kamera adalah Shintarou-Seijuurou dan Daiki. Kemudian di jejeran bawah dari sudut yang sama Tatsuya dengan dipangkuannya Shouta, di tengah Momoi dan Naoki lalu disusul Atsushi.

 

Dan ketika Tadashi memberi aba-aba bahwa ia akan segera memotretnya, masing-masing mata mengarah pada kamera. Mereka semua tersenyum karena sekali lagi merasakan kebahagiaan yang tak ada tandingannya.

 

Hari itu… ketika bunga musim gugur mendingin –mereka menciptakan momen yang takkan pernah bisa mereka lupakan seumur hidup mereka.

 

xxxXXXxxx

 

The End

 

xxxXXXxxx

 

Author’s Note :

Hola, saya balik lagi membawa last chapter. And this is it. Semua yang bisa saya tuangkan. Maaf kalau ada kejanggalan –apalagi soal pas di rumah sakit. Hoho.

 

Terima kasih untuk yang setia baca fic ini dari awal sampai akhir. Love ya all.

 

See you at the next fic! Saya sedikit kepikiran buat bikin sekuel fic ini. Setiap chapter menceritakan satu keluarga aja. Ada yang minat?

 

Btw, gimana dengan chap ini? Mind giving me a review?

 

Thank you and thanks a lot! Without you I’m nothing.

 

Love,

Umu Humairo Cho

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s