LDR ~Chapter 9 Part 2 End


If you are brave to say “Good bye,”

Life will reward you with a new “Hello.”
– Paulo Coelho
.
.
.
LDR

beautiful-quotes-images-3

I own nothing except the story
KyuMin belongs to each other
Super Junior is belong to God and themselves
Genderswicth fanfiction. Bahasa non-baku di saat tertentu.
LAST CHAPTER Part End~
Be easy on me^^
DLDR okay? Give me concrit after reading~
EnJOY~
.
.
.

Ujian berjalan dengan begitu nyata. Siswa-siswi tingkat akhir Sekolah Menengah Atas Seoul itu berusaha sebaik mungkin. Belajar, memutar otak, berdiskusi dan lain-lain. Berharap jika kelak hasilnya akan membawa mereka menuju masa depan yang cerah.

Tak ada bedanya dengan yeoja berambut coklat dan pirang ini. Dua sahabat karib sejak kecil. Yeoja berambut coklat bernama Sungmin itu melirik ke atas buku yang terbuka milik sahabat pirangnya, Hyukjae.

Diam-diam diperhatikannya ekspresi yeoja yang tengah menatap buku yang terbuka itu. Sungmin jadi bertanya terus dalam hati, bagaimana Hyukjae bisa fokus ujian kalau di jam belajar begini saja ia malah sibuk bengong memikirkan anak kelas sebelah bernama Donghae tersebut?

Ditegurlah sang sahabat pirang. “Hyukkie? Kau masih di sini?” tanya Sungmin mengibaskan tangannya di depan wajah gadis cantik itu sambil menunggu responnya.

Hyukjae langsung mengerjap dan memandang sahabatnya. “Minnie apa sih. Iyalah aku masih di sini. Kenapa?”

Sungmin langsung memandang sangsi sahabatnya. Besok ujian terakhir mereka tapi Hyukjae seolah tak niat belajar. “Habis Hyukkie rasanya ada di belahan dunia mana gitu. Besok ujian terakhir loh. Setelah itu baru bisa pedekate sama dia deh.”

“A-apa sih, Minnie? Udah ah, mending kita belajar lagi.”

Emang daritadi Hyukkie belajar?” Sungmin tak percaya sepenuhnya. Ia menatap penuh selidik sahabatnya.

“Belajar kok,” bohongnya. Hyukjae meringis dalam hati. ‘Ga deh, Minnie. Daritadi aku malah kepikiran dia mulu.

“Minnie ga percaya masa. Hyukkie daritadi bengong gitu.”

Hyukjae tidak tahu harus malu atau bersyukur memiliki Sungmin sebagai sahabatnya yang begitu peka. Ia melihat ke arah Sungmin lagi. “Oke aku bohong. Sekarang aku beneran bakal belajar. Janji,” kata yeoja pirang itu kemudian membaca bukunya lagi.

Tapi perhatiannya kembali terpecah ketika pintu perpustakaan terbuka dan masuklah… sosok yang sejak tadi mereka bicarakan.

Dan sosok itu dengan percaya diri berjalan ke arah mereka, lalu duduk di depan Hyukjae yang langsung tegang.

“Hai,” sapanya pada mereka berdua, atau mungkin hanya pada Hyukjae.

Yeoja berambut pirang itu mengerjap. Duduknya jadi agak tegap. Sungmin hanya berusaha menyembunyikan senyumannya. Ia lalu pura-pura melihat ke arah lain dan memainkan ponselnya. Membalas pesan yang baru saja masuk ke benda elektronik itu.

“Oh, hai,” suara balasan Hyukjae adalah hal terakhir yang Sungmin dengar sebelum larut dalam percakapannya dengan sang kekasih di belahan dunia sana.

.
.
.

Kyuhyun tersenyum penuh arti ketika membaca email yang baru saja masuk dari kekasihnya, Sungmin. Siwon dan Changmin yang kebetulan menginap di apartemennya mengernyit tak mengerti ketika tiba-tiba sahabat mereka tersenyum begitu.

Berniat memenuhi rasa penasaran, Changmin pun bertanya. “Kenapa lo, bro?”

Kyuhyun melirik ke arah sahabatnya mendengar pertanyaan itu. “Apa? Gue? Engga kok. Ini dapet email dari Minnie katanya si Donghae tiba-tiba nyamperin tempat mereka duduk di perpus.”

“Donghae? Mereka? Maksudnya Sungmin sama Hyukjae?” Siwon memastikan.

“Yoa,” Kyuhyun mengangguk mengiyakan. “Terus, ada sapaan ‘Hai’ gitu. Ah, shit. Gue ga sabar pengen balik terus ngebajak twitternya si Eunhyuk.”

Changmin yang tadi habis bertanya langsung diam karena mendapatkan jawaban yang diinginkan, mengernyit lagi. Bajak twitter? Ngapain nunggu balik ke Korea? Ini anak ga bakat jadi hacker apa?, batinnya.

“Eh, ChoKyu. Lo ngapain nunggu lama-lama buat ngebajak. Lo tau unamenya, dan gue yakin lo bisa nebak password twitternya Eunhyuk. Bajak aja sekarang,” usul Changmin yang langsung di tatap dua sahabat karibnya itu.

Tiba-tiba, muncul lampu di atas kepala Kyuhyun. “Eh, jenius juga lo, Changkul. Kok gue ga kepikiran, sih?”

Changmin mendengus. “Iyalah. Di otak lo cuma ada Sungmin doang. Sungmin ini, Sungmin itu. Mana mau mikirin hal lain?” pemuda tampan nan tinggi itu kembali membaca buku di depannya. Padahal jam sudah lewat tengah malam, tapi ketiga sahabat itu masih asik belajar -dan berbincang.

Gue liat Hyukjae juga beberapa hari ini ga buka twitter deh. Ga muncul sih,” kata Changmin lagi yang langsung di respon Kyuhyun cepat dengan mengambil laptopnya.

“Oke, first. Gue coba hack dulu. Kalo berhasil, gue ganti passwordnya abis itu,” gumam Kyuhyun yang langsung dapat gelengan kepala dari Siwon.

“Asli sadis lo pada,” ujar Siwon yang diabaikan dua orang lainnya.

Tapi kemudian Kyuhyun menjawab. “Gue lagi nolong dia, kok. Sadis di mananya cobak?”

Dan Siwon hanya mendiamkannya saja. Ia kembali larut membaca buku untuk ujian keesokan harinya.

.
.
.

Hari sudah hampir berganti. Hyukjae masih larut dalam bacaannya mempersiapkan diri untuk ujian hari terakhirnya. Diliriknya lagi jam dinding di kamarnya tersebut, menghela napas lalu memandang ponselnya yang sudah dia diamkan selama ujian. Takut tak bisa fokus seperti hari pertama.

Mendapat ejekan dari Kyuhyun dan kroninya. Hah, benar-benar menyebalkan. Ia tidak menyesal meninggalkan twitter belakangan ini. Setidaknya ia tidak harus menghadapi kerusuhan Kyuhyun dan teman-temannya di jejaring sosial itu.

Memutuskan untuk menutup buku dan tidur ketika jarum jam hampir menunjuk angka satu, Hyukjae berjalan malas ke tempat tidurnya. Berdoa sebelum tidur, semoga besok sempurna.

.

.

.

Eun Hyuk @AllRiseSilver 1h
@donghae861015 Night, ya. Sukses buat besok:)
Expand

Yunho @imYHl 1h
what a surprise!
Expand

Donghae @donghae861015 1h
thanks and night too dan sukses buat kamu juga besok:) nice dream, Hyukkie:)RT @AllRiseSilver: @donghae861015 Night, ya. Sukses buat besok:)
Expand

Eun Hyuk @AllRiseSilver 1h
@donghae861015 nice dream too;)
In reply to Donghae

Donghae @donghae861015 1h
Semoga bukan mimpi. Haha. Amin ya Tuhan. And night all.
Expand

Changmin Shim @SChangmin 30m
Jelas bukan mimpi. Kalo mimpi itu terlalu indah, Hae😄 RT @donghae861015: Semoga bukan mimpi. Haha. Amin ya Tuhan. And night all.
Expand

Yunho @imYHl 20m
Dan gue semakin yakin itu bajakan.
Expand

Tapi sayang Donghae tak membaca twittan yang di update oleh kakak Sungmin, Yunho. Yang sudah pasti tahu itu pasti kerjaan trio kampret kurang kerjaan. Yunho jadi berpikir, itu anak tiga kelewat pintar kali ya? Bener-bener. Bukannya belajar malah ngebajak twitter orang.

.
.
.

Bukan salahnya merasa puas bisa membajak akun Hyukae kan? Kyuhyun kesal sendiri karena temannya itu masih saja lambat. Well, sebenarnya lebih kesal pada Donghae sih. Dia kan cowok? Tapi kenapa tidak langsung tembak saja sih?

Mau sampai kapan namja dengan julukan ikan dari Kyuhyun dan Changmin itu terus diam? Besok setahu Kyuhyun, adalah hari terakhir mereka ujian. Dan sampai sekarang masih belum ada progress di antara mereka. Jika Kyuhyun sudah membicarakan tentang Hyukjae dan Donghae dengan Sungmin, rasa-rasanya mereka berdua ingin sekali menyomblangkan mereka.

Rasanya greget. Mereka saling suka tapi tak ada yang membuat pergerakan.

Well, bukan salah mereka. Masih musim ujian gini juga. Jadi jalan lain Kyuhyun adalah… membajak twitter Hyukjae. Sadis sih, dan dia juga tidak mau terlalu memikirkan apa yang akan terjadi jika Donghae tahu bahwa yang selama ini mention-an dengan dirinya bukanlah Lee Hyukjae yang asli.

Sudahlah. Mari kesampingkan hal itu dulu. Terlalu dini untuk memikirkan akibat dari perbuatannya, pikir Kyuhyun dalam hati.

.
.
.

Pagi buta sekali, Sungmin sudah terbangun lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selang beberapa puluh menit kemudian ia selelsai dan duduk di depan meja belajar. Ia kembali membuka materi pagi itu. Tapi sesekali ia mengecek ponselnya berharap ada sapaan dari Kyuhyunnya di negeri sana.

Dan ketika ponsel itu berkedip, dengan cepat Sungmin membalas email yang ada. Iseng, Sungmin membuka akun twitternya yang selama ujian ini tidak terjamah. Dirinya tidak berjanji untuk tidak membuka akun media sosial itu sih, sahabatnya Hyukjae lah yang berjanji pada dirinya sendiri untuk meninggalkan sejenak twitternya daripada terus kesal dan tidak fokus gara-gara ulah Kyuhyun juga kroninya.

Betapa kagetnya Sungmin ketika ia tanpa sengaja membaca satu update-an dari sahabat pirangnya itu.

Loh, katanya Hyukkie gamau buka twitter? Kok? Ini malah nge-mention Donghae ngucapin selamat pagi gitu? Tunggu, Hyukkie juga bilang mau fokus ujian dulu, kok~ eh? Kok Minnie jadi bingung?” gumam Sungmin sendirian.

Ia berusaha menemukan jawaban dari pertanyaannya. Tak lama, ia lalu ingat bahwa ia pernah membaca sebuah update-an sang kekasih di mana dirinya ingin membajak twitter Hyukjae. Dan… bolehkah ia menyimpulkan demikian?

“Ish, dasar Kyunnie iseng. Kalau Hyukkie tau gimana?”

Ia lalu membalas lagi email kekasihnya sekaligus bertanya perihal kebenaran twitter Hyukjae itu. Awalnya Kyuhyun tidak mengaku, tapi lama kelamaan karena Sungmin terus memaksanya, namja tampan di luar negeri sana akhirnya mengaku dan meminta Sungmin untuk membantunya menyembunyikan hal ini. Kyuhyun bilang bahwa ia hanya ingin membantu Hyukjae lebih dekat dengan Donghae. Itu saja.

Tapi kan… bagaimana jika keduanya tahu yang sebenarnya? Bagaimana jika Donghae tahu itu bukan Hyukjae? Bagaimana jika Hyukjae tahu twitternya dibajak walau demi kepentingannya? Namun, Sungmin sangat tahu mungkin saja Hyukjae tidak suka dengan cara Kyuhyun yang ini.

Gadis berambut coklat itu jadi bingung. Apa yang harus dilakukannya?

Mendukung sang kekasih dengan resiko Hyukjae akan ikut menceramahinya?

Atau mengatakan yang sejujurnya pada Hyukjae kalau twitternya sedang dibajak?

Lalu bagaimana jika Hyukjae memutuskan untuk membuka akunnya lagi tapi tidak bisa? Haruskah Sungmin berbohong?

Oh, bahkan di hari terakhir ujian ini, dirinya harus memikirkan hal rumit ciptaan kekasihnya sendiri. Betapa ia selalu berpikir bagaimana bisa dirinya awet dengan seorang evil macam Cho Kyuhyun itu.

.
.
.

Ujian akhir sudah terlewati sejak dua hari yang lalu. Sungmin masih belum mendapati tanda kalau-kalau sahabat pirangnya menyadari ada yang salah dengan twitternya. Gadis brunette itu melirik ke arah Hyukjae yang asik memainkan ponselnya, surfing internet mungkin? Tapi tak ada tanda bahwa Hyukjae membuka twitternya.

Tapi, mata foxynya langsung membola ketika Hyukjae mengklik ikon burung biru muda di layar ponselnya. Oh tidak

“Eh?”

Suara Hyukjae langsung membawa kesadaran Sungmin dari pemikirannya yang melayang entah ke mana. Ia melirik pelan sahabatnya. Bertanya lirih, “Kenapa, Hyukkie?”

“Ini, twitterku ga bisa dibuka masa. Aneh. Salah password katanya,” ujar gadis itu. Dalam hati Sungmin sangat merasa bersalah. Apakah ia harus jujur? Tetapi ia sudah berjanji. Oh, umma, apa yang harus Minnie lakukan?

“Minnie?”

“Hm? Ya, Hyukkie?”

Kenapa diam?”

Gapapa kok, cuma lagi mikir aja twitter kamu kenapa ya? Kok aneh ga bisa dibuka,” balasnya cepat membuat Hyukjae mengerutkan kening. Tapi tak ambil pusing.

Udahlah,” balas gadis pirang itu yang entah membuat Sungmin menghela napas lega.

Maaf, Hyukkie… suatu saat kamu bakal tau dan… ngerti deh pasti.

.
.
.

Dua hari setelahnya, Hyukjae absen karena demam. Dan sepertinya tidak terlalu ambil pusing karena setelah ujian akhir memang tidak ada pelajaran, hanya menunggu kalau-kalau ada pengumuman.

Sungmin berjalan ke kantin sendirian, sepi rasanya. Hyukjae tidak masuk, Kyuhyun nun jauh di sana, Kibum tak kelihatan, sepertinya mengurung diri di perpustakaan. Jadilah, Sungmin sebatang kara menjelajah koridor sekolah menuju kantin sendirian.

Tapi kemudian, langkahnya terhenti ketika ada yang memanggil.

“Sungmin!”

Sungmin menoleh, dan mendapati Donghae di sana. Seketika, ingatannya teringat akan update-an twitter dari malam. Di mana, Kyuhyun yang sedang membajak twitter Hyukjae mentionan dengan Donghae.

Namun lamunannya langsung buyar saat Donghae bertanya. “Hyukjae mana?”

“Eh?”

“Iya, Hyukjae, temanmu itu loh, yang rambutnya pirang terus man-”

“Minnie tau Hyukkie tampangnya gimana. Hyukkie ga masuk, sakit.”

“Hah? Masa? Kok dia ga bilang semalam ya?”

Duh, gimana mau bilang kalau yang mentionan denganmu bukan Hyukkie yang asli?, batin Sungmin meringis.

Gatau, tadi pagi dia telpon Minnie bilangnya gitu, sakit, jadi ga masuk, deh.”

“Ooooh,” Donghae meng’oh’ panjang. Tapi kemudian menatap Sungmin serius. “Kalau gitu, boleh minta nomor hapenya?”

“Apa?” Sungmin menelengkan kepalanya dengan mulut yang membulat lucu. Andai ada Kyuhyun di sini, entah apa yang akan terjadi pada gadis kelinci itu.

“Minta nomornya hapenya Hyukkie, Sungmiiiin.”

“Ooooh, gimana ya? Minnie tanya Hyukkie dulu, yah?”

Kenapa?” Donghae membeo.

“Soalnya, Hyukkie mesennya gitu ke Minnie. Dulu, ada yang pernah minta nomor Hyukkie ke Minnie juga terus Minnie kasih eh alhasil Hyukkie dikejar-kejar sampe diteror sama orang itu.”

“Oh, jadiナ ya udah tanya gih. Eh, tapi, gue ga akan kayak gitu kok. Cuma mau… ya lo tau lah.”

Gimana ya, Donghae. Minnie takut diomelin Hyukkie lagi, kalo ga tanya Hyukkienya aja langsung.”

Udah, tapi ga dikasih.”

“Tanya di mana?”

Twitter.”

Duh. “Oooh, ya berjuang aja terus, hehe. Ya sudah, Minnie mau ke kantin, ya. Bye, Donghae.”

“Oke, bye.”

Dan rasanya Sungmin makin bersalah.

‘Kyunnie ini semua gara-gara Kyunnieeeeeeeeeeeeeeeeeeeee~’

.
.
.

Donghae @donghae861015 10m
Kamu lagi sakit? @AllRiseSilver
Expand

Eh? Sakit?

Kyuhyun langsung mengirim email ke pacarnya untuk menanyakan kebenaran yang ada. Si Eunhyuk sakit? Mikirin Donghae mulu sih tapi ga mau make a move, batinnya.

Tak lama, ia mendapat balasan dari pacarnya yang mengatakan bahwa hal itu benar.

Oooh. Dasar tuh anak, sakit kenapa coba?

Eun Hyuk @AllRiseSilver 7m
Hehe iya nih. Tapi ga parah kok sakitnya, cuma demam. RT @donghae861015: Kamu lagi sakit? @AllRiseSilver
Expand

Donghae @donghae861015 5m
@AllRiseSilver boleh jenguk?
In reply to Eun Hyuk

INGIN sekali rasanya Kyuhyun membalas; boleh kok, Hae. Datang aja ke rumah; tapi Kyuhyun masih sayang nyawa. Belum Hyukjae yang mungkin tiba-tiba akan menelponnya lalu mencak-mencak, atau kekasih imutnya yang akan menguliahinya. Ah, nanti sajalah. Dan karena rasanya tubuhnya sangat lelah, ia memilih untuk mengabaikan mention itu.

Belum waktunya membuat mereka ketemuan. Masih ada banyak waktu.

.
.
.

Tak terasa, pengumuman kelulusan sudah lewat, dan yang sangat menyenangkan adalah Sungmin, Hyukjae, Kyuhyun, dan yang lainnya lulus dengan nilai yang bagus. Mereka terkadang masing-masing membicarakan masa depan dengan teman-teman mereka.

Upacara kelulusan juga semakin lama semakin dekat. Changmin dan Siwon hanya geleng-geleng melihat betapa semangatnya Kyuhyun menyomblangkan sahabatnya dengan Donghae. Ya, bukan salahnya, sih. Mereka berdua sebenarnya juga cukup greget karena sampai sekarang, Dongae masih belum nembak Hyukjae.

Gila, sampai kapan cowok itu mau membuat gadis yang menurut keduanya cantik seperti Hyukjae menunggu? Sampai Kyuhyun putus sama Sungmin? Ga akan mungkin bro, berakhir kali dunia, menurut mereka.

Jadilah, sesekali keduanya ikutan ngebajak twitternya Hyukjae. Masalah akibat nanti sajalah dipikirkannya. Lagipula sepertinya Hyukjae belum tahu kalau twitternya dibajak.

.
.
.

Hari itu, menjelang dua hari sebelum upacara kelulusan, Hyukjae duduk di ayunan kayu di rumah sahabatnya, Sungmin. Ia melihat ke sekeliling seolah tengah berpikir. Ada apa dengan akun twitternya? Kenapa tidak bisa dibuka? Ia benar-benar penasaran. Lalu kenapa tiba-tiba Donghae lebih sering mencuri pandang ke arahnya, apalagi waktu itu sampai menyapanya terang-terangan dan menimbulkan kebingungan besar bagi gadis pirang tersebut.

Hyukjae melirik ke arah pintu di mana tadi sahabatnya menghilang dan belum kembali, lalu ia memainkan ponsel Sungmin dan coba membuka-buka akun media sosial Sungmin, terutawa twitter.

Awalnya tidak ada yang menarik. Tapi sejurus kemudian, ia bisa membaca update-an dari akun twitternya yang belakangan ini tidak bisa dibuka.

Dan oh, akun itu mentionan dengan Donghae.

Tuhan…

Hyukjae langsung mengklik nama akunnya untuk melihat profilnya. Apa saja yang sudah dilakukan si pembajak? Demi Tuhan, siapa pula yang membajaknya?

Hyukjae berusaha menemukan nama yang tepat. Dan saat merasa nama yang ia pikirkan cocok menjadi seorang hacker kamfret, ia bersumpah ingin sekali memiting orang itu kalau bertemu.

Hyukjae sukses menganga membaca tweetan-tweetan itu. Demi apalah ini…?

Kyuhyun kau memang bedebah!

Segera saja ia menge-chat Kyuhyun di akun line-nya.

.
.

Leehyukkie
Heh setan jahat. Puas ya lo puas banget ngebajak akun twitter gue? Kyuhyun sumpah ih jahat banget sama gue😦

Chogamekyu
Eh mampus lo akhirnya gue ketauan. Minnie yang cerita?

Leehyukkie
ANAK BAIK MACEM MINNIE BANTUIN LO JUGA?

Leehyukkie
OH YA AMPUN PACARAN SAMA IBLIS SALAH BANGET SIH TUH MALAIKAT SATU!

Chogamekyu
Nyantai aja kalik. Capslock semua. Hape baru, mbak?

Chogamekyu
Lagian, berterimakasihlah pada sahabatmu yang ganteng ini. Kan lo jadi bisa pedekate dengan mudah.

Leehyukkie
MALES BANGET! Kyu, lo bayangin ga sih gimana reaksi Donghae kalau tau itu bukan gue? Lagian, gue heran sebenernya kenapa dia ga sadar. Padahal di sekolah kami ga pernah ngobrol seolah deket.

Chogamekyu
Kan gue yang minta via akun lo. Gue bilang aja kalo lo terlalu malu buat pedekate langsung. Jadi gue minta dia deket di sosmed aja.

Leehyukkie
Kyu, kamfret banget sih, lo. Gue kurang sabar apa cobak jadi sahabat lo? Dan lo giniin gue? Salah gue apa hah, apa? Jahat banget lo sama gue :”(

Chogamekyu
Hyukkie, justru gue ngebantu lo supaya cepet jadian sama diaaa!

Leehyukkie
TAPI GA LUCU! LO MALAH NAMBAH KERJAAN GUE AJA BUAT JELASIN YANG SEBENERNYA KE DIA! MATI SANA!

Chogamekyu
Jahat amaaaaat😦 oke, maafin gue yak? Changmin sama Siwon ikutan loh~

Leehyukkie
BODO AMAT!

Chogamekyu
Eh, btw besok gue minta dia nunggu di taman kota loh.

Leehyukkie
CHO KYUHYUN MATI SANA!

Leehyukkie
BALIKIN AKUN GUE BTWWWWW

Chogamekyu
Oke, boss! Sukses buat besok sobat~

Leehyukkie
Bleh. Dasar iblis jahannam. Abadi lah kau di neraka-_-

Chogamekyu
Wkwkwk. Sukses besar ah buat besok.

Dan Hyukjae benar-benar tidak tahu harus apa. Haruskah ia menjelaskan kesalahpahaman ini sekarang pada Donghae via twitter? Tapi akankah ia percaya? Oh Tuhan, rasanya ini ratusan kali lebih sulit dari sebelumnya. Hyukjae jadi ingin menangis.

Bagaimana ia bisa menyelesaikan masalah yang ditimbulkan sahabat super kampretnya itu?

“Bagaimanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?”

“Hyukkie?” Sungmin tiba-tiba muncul dengan minuman di tangannya. Gadis cantik berambut coklat itu mengerutkan alis mendapati Hyukjae yang nampak stress. “Kenapa?”

“Masih tanya lagi? Kamu udah tau kan kalau twitter aku dibajak sama pacarmu yang super kamfret itu?”

“Eh?”

Dan hari itu mereka habiskan dengan Sungmin yang berulang kali minta maaf lalu Hyukjae yang akhirnya menangis sambil curhat.

.
.
.

Sungmin langsung berniat menge-chat kekasihnya via akun line-nya. Dia harus memarahi evil satu itu karena sudah membuatnya kelabakan mendiamkan Hyukjae yang terus menangis sambil mengoceh curhat dan menceramahinya.

Leebunnymin
Kyunnie sih, Hyukkie jadi nangis tuh seharian bingung harus ngejelasin kayak gimana ke Donghae.

Chogamekyu
Tinggal bilang ‘aku cinta kamu’ aja kok susah.

Leebunnymin
Beda tau, Kyuhyunnie-ku yang ganteeeeeng -3-

Chogamekyu
Apa bedanya sih, peri cantik? Sama aja perasaan. Lagian, dengan begini mereka bakal langsung jadian deh besok.

Leebunnymin
Cowok itu… bener-bener deh pemikirannya kadang pendek banget. Ke mana perginya otak jeniusmu, Kyunnie? Kyunnie pikir, Hyukkie akan nyaman menjalani hubungan yang sejak awal dimulai dengan kebohongan?

Chogamekyu
Kebohongan gimana? Eunhyuk kan beneran cinta sama si ikan.

Leebunnymin
Cape deh ngejelasinnya. Gini ya. Pada kenyataannya, mereka itu ga pernah deket. Bisa bayangin secanggung apa Hyukkie? Atau ketika Donghae tau yang selama ini mentionan sama dia bukan Hyukkie yang asli?

Leebunnymin
Sekali-kali, pikirin akibatnya dong Kyunnie. Ini sih, malah mungkin bikin mereka makin jauh dari status pacaran.

Chogamekyu
Gampang. Nanti Kyu bantu lagi.

Chogamekyu
Minnie cantik jangan khawatir gitu. Kyu bakal mempertanggungjawabkan perbuatan Kyu kok, sayang.

Leebunnymin
Janji ya?

Leebunnymin
Awas kalau engga. Minnie marah nanti. Btw, Minnie ngantuuuuk banget~ Minnie bobo dulu ya? Dah, Kyunnie~ love youuu:*

Chogamekyu
Selamat tidur sayang:* mimpiin Kyunnie ya? Love you too{}

Dan Sungmin benar-benar terlelap setelahnya dengan nyaman. Berharap esok ‘kan cerah. Segala sesuatu yang menjadi permasalahan akan selesai dengan mudah. Terutama untuk sahabatnya. Sungmin benar-benar berharap jika besok Hyukjae baik-baik saja. Dengan ada atau tidaknya dirinya di samping sosok pirang itu.

Sungmin yakin Hyukjae bisa mengatasi segalanya.

Andai besok ia punya waktu untuk menemani Hyukjae, pasti dia akan menemani sahabat pirangnya melakukan apapun. Tapi sayang, besok ummanya memaksa untuk membawanya pergi ke rumah nenek, berkunjung katanya dan memberitahukan kabar kelulusan serta mungkin mengundang halmoninya untuk datang di pesta kelulusan pada lusa siang.

.
.
.

Hyukjae berbaring menatap langit-langit kamarnya. Sesekali tangannya bergerak lincah membalas satu per satu line yang masuk ke ponselnya. Hyukjae menghela napas ketika mendapat line dari Kyuhyun atau Changmin atau Siwon, terutama ketika dua orang lainnya itu ikut minta maaf disertai dengan LEDEKAN semoga berhasil untuk besok ya, Hyukjae~, begitu isinya dan Hyukjae sangatlah muak.

Baru kali ini ia merasa hidupnya sangat sulit. Masalah yang ditimbulkan sahabatnya ini benar-benar menyita seluruh perhatiannya sampai-sampai Hyukjae lupa untuk melakukan beberapa hal yang sudah menjadi kebiasaannya.

Ia jadi membayangkan bagaimanakah tampang Donghae ketika Hyukjae memberikan penjelasan perihal kebenaran yang ada jika selama ini, cowok dengan rambut coklat terang itu tidak pernah sedikitpun berinteraksi dengannya.

Bahwa mereka… tidaklah pernah dekat sedikitpun. Dan hanya ada beberapa tegur sapa yang asli, mengenyampingkan hal-hal yang ada di twitter (karena itu memang bukan dirinya).

Hyukjae lelah. Sungguh lelah. Ia ikut sesak membayangkan ekspresi yang akan Donghae berikan. Walau rasa sesaknya tidak lebih sesak dari rasa yang ia rasakan ketika melihat Sungmin menangis akibat ulah Changmin. Ia jadi merasa bersalah karena kemarin seharian malah menceramahi sahabat imutnya itu.

Hanya saja… kenapa anak baik seperti itu harus takluk pada iblis macam Kyuhyun sih? Benar-benar tak bisa dipercaya.

Hyukjae menatap lagi jam dinding di kamarnya. Pukul dua tigapuluh siang. Serius, bahkan ia tak menyangka jika waktu sudah berjalan sebegini cepat hanya karena ia kebanyakan melamun yang tidak penting.

Rasa kesalnya pada Kyuhyun benar-benar membuatnya ingin sekali mencincang namja itu. Tapi mengingat-ingat bahwa Kyuhyun pernah bilang bahwa Kyuhyun membuat janji dengan Donghae… hari ini! Oh, kapan? Ah, shit. Jam berapa? Tunggu, apa yang harus kulakukan?

Kelabakan akan pikirannya jika Donghae sedang menunggunya, Hyukjae panik dan berganti baju dengan cepat. Dan seolah membaca kebingungannya, ponselnya berbunyi menandakan ada line masuk lagi, kali ini dari Kyuhyun yang syukurnya, memberitahukan tentang jam janjiannya dengan Donghae.

Chogamekyu
Di taman kota jam 3 jangan lupa. Pangeran impian lo nungguin tuh. Dandan yang cantik eaaa😄

Leehyukkie
Jam berapa? Jam 3? Hanjir lo baru ngingetin gue sekarang? Kyuhyun lo emang kamfret deh ya. Mati gih sana-_-

Tanpa menunggu balasan Kyuhyun,. Hyukjae langsung berlari keluar rumahnya. Ia hanya punya setengah jam untuk sampai sana. Mudah-mudahan tepat waktu, batinnya merana.

.
.
.

Hal yang tidak disangka Hyukjae akan dirinya sendiri adalah… kenapa dirinya berlari? Bukannya minta diantar atau naik taksi? Oh, Tuhan. Sebegini paniknya karena takut terlambat? Hyukjae jadi seperti orang bodoh hanya karena keisengan Kyuhyun.

Ia semakin mempercepat laju larinya dan sesekali melirik jam tangannya. Sudah telat lima menit. Jarak dari rumahnya ke taman kota memang tidak terlalu jauh. Tapi karena Hyukjae SIALnya salah mengambil sepatu dan memakai high heels, jadilah susah-susah untuk sampai ke sana. Dan ia juga sangat yakin bahwa kakinya sudah lecet. Menyedihkan sekali aku hari ini, pikirnya.

Ketika memasuki area taman kota, matanya langsung mencari sosok Donghae. Beberapa saat mencari, akhirnya ia bisa menemukan sosok namja yang sedang berdiri bersandar di sebuah pohon yang ada di sana. Hyukjae langsung berlari mendekati Donghae, terengah-engah. Dan Donghae tampaknya langsung sangat senang saat mendapati sosok gadis pujaannya itu di depannya.

“Hyukkie kau-”

“Maaf… aku… hah… terlambat. Dan lagi…”

“Tidak apa. Tarik napasmu dulu, Hyukkie. Kau kelihatan lelah sekali. Kau berlari?”

Hyukjae hanya mengangguk dalam diam dan mengatur napasnya yang memburu. Donghae yang melihat itu merasa tak tega, ia pun berlalu untuk membeli minuman dan kembali lagi dalam waktu kurang dari lima menit. Ia langsung memberikan air minum itu.

Hyukjae langsung meminumnya dan bergumam terima kasih. Setelah merasa lebih baik, Hyukjae berdiri tegak menghadap Donghae. Begitu juga dengan Donghae yang benar-benar senang bahwa kini Hyukjae benar-benar ada di depannya.

“Hei, Hyukkie. Kautahu-”

“Donghae, ada harus yang kukatakan padamu,” Hyukjae spontan memotong. Menatap intens ke dalam mata Donghae.

Alis Donghae berkerut. Secepat inikah? Tapi… harusnya ia yang memulai kan?

“Hyuk-”

“Donghae sebenarnya aku-”

“Aku tahu. Soalnya aku juga-”

“Bukan itu! M-maksudku… ada yang harus kautahu sebelumnya. M-maaf… sungguh tapi… kau harus tahu ini, Donghae-ya.”

Raut penuh kebingungan Donghae berikan. Sebenarnya ada apa di sini? Apa yang sebenarnya ingin disampaikan Hyukjae?

“Donghae?”

“Ah, ya? Tentu… katakan saja.”

B-begini, orang yang… mentionan denganmu selama ini di twitter itu bukan… aku…” Hyukjae menunduk. Tidak tahu harus bagaimana. Ia menunggu respon Donghae. Walau ia tidak yakin hatinya akan baik-baik saja.

“M-maksudmu?”

“I-itu Kyuhyun. Dia… membajak akun twitterku, Donghae-ya. M-maaf. Kyuhyun memang… begitu.”

Takut. Akankah setelah ini Hyukjae tidak memiliki kesempatan apa-apa lagi? Namun kemudian suara tawa Donghae yang justru terdengar miris di telinga Hyukjae membuat hatinya serasa diiris belati.

Tuhan… sakit sekali.

“Ah, b-begitu rupanya. Haha, betapa bodohnya… aku. Tidak menyadari hal seperti itu. Ahahaha. Baiklah, baiklah. Jadi… ini hanya permainan-”

“Tapi aku tidak akan mengelak.”

“Maaf?”

Donghae menatap bingung gadis di depannya. Angin berhembus menerbangkan masing-masing helai rambut mereka. Seketika, yang dilihat Donghae hanyalah kecantikan yang terpancar dari sosok yeoja manis pujaannya itu. Mengabaikan hatinya yang terasa… sesak. Mengabaikan luka yang baru saja tercipta menganga di dasar hatinya.

“Aku tidak akan mengelak kalau Kyuhyun pernah bilang bahwa aku… bahwa aku menyukaimu…” suaranya pelan. Hyukjae sendiri merasa yakin dirinya sendiri tak dapat mendengarnya.

Tapi di luar perkiraan, namja di depannya sekilas tersenyum. Mulai mengerti apa yang terjadi.

Hyukjae mengabaikan pipinya yang merona, ia mengangkat wajahnya menatap langsung namja tampan di depannya.

“Aku tidak akan mengelak tentang aku yang… menyukaimu…”

Kali ini Donghae tersenyum lebih lebar. Ia mulai mengambil jarak mendekat ke arah gadis pirang di depannya. Tangannya terjulur menyampirkan rambut ke belakang telinga gadis cantik itu.

“Kautahu, Hyukkie? Sesungguhnya… aku kecewa saat mengetahui itu bukan kau. Tapi… mendapati dirimu yang jujur terlebih dahulu tentang perasaan itu membuatku sedikit… malu. Bukankah seharusnya sebagai lelaki aku yang lebih dulu menyatakan cinta padamu?”

Mereka saling memandang dalam diam. Angin terus berhembus memberi kesejukan. Menerbangkan helai rambut mereka, menggoyangkan dedaunan di ranting pohon. Tangan Donghae terangkat untuk menangkup pipi putih gadis pujaannya. Namja tampan itu menyatukan dahi mereka membuat Hyukjae sedikit tersentak mundur.

“D-donghae…”

“Kau… sudah tahu kalau aku juga… menyukaimu kan?”

Gadis itu tersentak sekali lagi. Tapi… walau sedikit ragu entah instingnya benar atau tidak, ia mengangguk mengiyakan.

“Syukurlah kalau begitu,” Donghae mengecup kening Hyukjae dengan lembut. “Kau harus tahu kalau aku juga menyukaimu, Hyukkie.”

Dan Hyukjae benar-benar tersenyum lembut. Mereka berdua tak menyadari jika sedari tadi ada yang memperhatikan semua yang terjadi di antara mereka.

“Masa cuma cium kening? Di bibir dong!” orang itu berseru. Membuat Donghae maupun Hyukjae langsung saling melepas diri. Dilihatnya Kyuhyun yang berjalan santai ke arah mereka. Seketika, kemarahan menguasai Hyukjae. Dengan segera saja ia melemparkan tasnya ke arah Kyuhyun, melepas sepatunya dan juga melemparkan ke arah yang sama.

“Aduduh, Hyuk. Santai aja kenapa. Masih aja dendam. Udah jadian juga,” kata Kyuhyun langsung memunguti barang-barang Hyukjae.

Hyukjae masih menatapnya marah. “Ngapain lo di sini? Sejak kapan lo di sana, hah? Tunggu, Minnie ga tau lo ada di sini?”

Kyuhyun hanya menyeringai. “Bisa jaga rahasia sampai besok kan?”

“Males. Buat orang kurang kerjaan kayak lo ngapain dibantu.”

“Oh ayolah Hyukkie. Gue udah bantuin lo jadian sama Donghae juga. Masa lo ga mau-”

“Mati sana,” Hyukjae hanya berujar dingin. Donghae yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya tersenyum kecil lalu melempar sapa ke arah Kyuhyun.

Udah lama ga ketemu, Kyu. Pengen marah sih sama lo, tapi makasih juga ya,” Kyuhyun hanya mengangguk lalu berjalan mendekat ke arah Hyukjae dan memberikan tas gadis itu dan berjongkok untuk memakaikan sepatu sahabatnya.

“Sama-sama ah, ikan. Lo sih kelamaan ga nembak-nembak Eunhyuk. Jadilah gue bertindak. Hahaha. Btw, Hyuk, udahlah jangan ngambek mele sama gue. Oke? Jangan rahasia oke, oke?”

Hyukjae hanya mendengus. Ia melipat tangannya di dada membuang muka. “Rumah lo sebelahan kalik. Ketauan juga nanti.”

Gue nginep di rumahnya Siwon, Hyukkie cantik. Jadi… okay? Bantuin gue, plisss?”

“Terserahlah.”

Yeaaay. Hyukkie emang baik!” Kyuhyun memeluk sekilas sahabatnya lalu menepuk bahu Donghae. “Jaga dia, Hae. Kalo sampe lo nyakitin dia, siap-siap aja jadi musuh seumur hidup gue.”

Donghae hanya mengangguk. Dia dan Hyukjae memperhatikan langkah Kyuhyun yang semakin menjauh. Menghilang bagai terbang bersama angin. Dan keduanya merasa lebih melengkapi sekarang, Hyukjae punya Donghae begitu pula sebaliknya.

Donghae tersenyum dan mengambil wajah Hyukjae, berbisik pelan sebelum menyatukan kedua bibir mereka. “Saranghae, Hyukkie.”

Dan rasanya hari itu jadi hari terindah untuk seorang Lee Hyukjae semasa remajanya.

.
.
.

Angin yang berhembus kala itu menerbangkan beberapa helai rambut kecoklatan milik Kyuhyun yang bersandar di depan gerbang SMA Seoul. Ia berdiri menunggu orang yang dicarinya keluar dari bangunan sekolah tersebut, berniat memberi kejutan.

Sudah dua tahun. Dua tahun ia tidak melihat dan berbicara face to face dengan orang yang sangat dicintainya hingga kini. Sudah dua tahun ia menekan seluruh perasaan rindu yang mendesak seolah meminta untuk dikeluarkan. Menekan segala keinginan untuk mengambil penerbangan agar bisa pulang dan menemui sosok itu.

Tapi ia tidak bisa. Ia juga belajar di sana.

Ia juga tidak menyangka bisa kembali ke sini. Ia tidak pernah berani bermimpi terlalu tinggi, tapi Kyuhyun tahu Tuhan sudah menggariskan takdirnya seperti ini. Mencintai -dan dicintai malaikat cantik bernama Lee Sungmin tersebut. Adakah hal lain yang sangat membahagiakan selain itu?

Tidak.

Kecuali raut wajah kaget sang pujaan hati dengan baju kelulusannya yang tampak bersanding anggun dengan kecantikannya.

“Selamat atas kelulusannya, peri cantik.”

Jangan lupakan senyum yang perlahan hadir menghiasi bibir berbentuk M milik kekasihnya. Diiringi terjang pelukan yang begitu erat, seolah sudah menahan hal ini berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun.

Tangan Kyuhyun ikut mendekap tubuh mungil sosok yang selalu dipujanya ini. Kini, hari ini, sekarang, detik ini, Lee Sungmin ada dalam dekapnya. Dan sampai ia mati, tak akan pernah-Kyuhyun berani melepasnya lagi.

xxxXXXxxx

Langit sedang cerah-cerahnya menghiasi perkotaan Seoul. Awan putih bergerak ke sana kemari seolah menari mengikuti irama angin yang berhembus halus di sekitar mereka. Dari bukit tempat mereka duduk, hamparan luas langit memberi keindahan sendiri untuk keduanya yang sudah selama dua tahun ini tak pernah bersua.

Dan keheningan yang meraja, tak serta merta mengganggu mereka. Keduanya justru nyaman. Karena mereka tahu setelah ini mereka tidak lagi harus terpisah. Mereka tahu kalau setelah ini hanya akan ada kata mereka di setiap kalimat yang akan tercipta. Kyuhyun, maupun Sungmin tahu walau hanya saling memandang dan bersitatap, hal tersebut sudah merupakan satu dari sekian banyak keajaiban yang ada.

Mereka tahu. Karena mereka paham.

Senyum yang terpatri perlahan di dua sudut bibir yang berbeda memberikan gelenyar hangat yang merasuki setiap denyut darah, memompa sampai ke jantung membuat debaran alat pemacu mereka terdengar sampai ke telinga mereka sendiri. Lamat-lamat, saling memasang ekspresi yang sama dan akhirnya saling tertawa.

Karena mereka tahu kini mereka ada di dunia yang sama, dunia mereka. Bukan dunia yang diucap Sungmin melalui video chat di facebook. Bukan dunia yang dijabarkan Kyuhyun dalam panjangnya email. Bukan juga dunia dari masing-masing bibir yang terus saja memasang senyum yang melelehkan hati masing-masing.

Tapi kemudian Kyuhyun yang bergerak maju mendekat sedikit, menyampirkan poni Sungmin ke belakang telinga gadis cantik itu, membuat mata foxy yang selalu dipujanya ikut menatapnya. Kyuhyun mengelus permukaan pipi kenyal Sungmin dengan ibu jarinya. Masih halus-pikirnya. Dan seketika ia tahu bahwa Sungminnya tidak pernah berubah. Dan sosok itu tidak pernah tidak melenakannya.

Miss you, beautiful fairy,” bisik Kyuhyun tiba-tiba membuat mata Sungmin semakin menatapnya.

Yeoja brunette itu tahu mulut kekasihnya sangatlah manis. Dan ia terbiasa. Namun, dua tahun tak mengobrol langsung begini, bukan dari layar ponsel atau laptop lalu mendengar kata-kata cheesy dari Kyuhyun rasanya langsung membuat jantungnya berdebar tak karuan. Sungmin jadi takut kalau-kalau organ vital itu membuncah; loncat keluar saking cepat detakannya.

Tapi Sungmin tersenyum. Memamerkan senyum yang paling membuat Kyuhyuk tak waras dan membalasnya. “You know, miss ya, too, Kyuhyunnie.”

Dan seketika, pemuda dengan rambut kecoklatan itu tahu. Hanya Sungmin yang bisa membuatnya gila. Hanya Sungmin yang bisa melinglungkannya. Hanya Sungmin yang bisa membuat detak jantungnya serasa berhenti saat itu juga ketika cewek di depannya ini tersenyum sambil berbisik lirih. Karena Kyuhyun tahu, tak ada hal yang lebih indah dari Lee Sungminnya.

“Apa kabar kamu, Minnie? Rasanya menyenangkan menanyakan ini langsung. Bersitatap denganmu, melihat senyummu, memandang mata foxymu, terlena akan sua-”

“Sudah cukup, Kyu. Mulutmu itu makin lama makin manis karena terlalu banyak bergaul dengan Changmin dan Siwon,” potong Sungmin yang dibalas kekehan Kyuhyun.

Well, tapi aku benar. Setiap pahatan yang ada pada Minnie, dari wajah, senyum, mata, sampai suara-itu benar-benar bikin Kyu terlena, kok. Serius, sumpah.”

Sungmin merasakan pipinya terbakar rona merah. “Kyu, please. Minnie masih belum terbiasa (lagi) digombalin secara langsung begini,” katanya merajuk yang makin membuat cowok di depannya itu mengembangkan senyumnya yang berubah menjadi smirk.

“Berarti kalau Kyu gombalin via sms, line, chatting atau apa gitu Minnie udah terbiasa?”

“Hm?” Sungmin memandang mata namja tampan di depannya lalu memeletkan lidah. “Tidak akan terbiasa wek.”

Tapi Kyuhyun tertawa. Tawa yang dirindukan Sungmin selama dua tahun ini. Tawa yang bisa ia lihat langsung dengan mata kepalanya sendiri tanpa halangan layar benda elektronik. Tawa yang bisa ia dengar langsung tanpa harus menempelkan earphone atau ponsel ke telingannya. Tawa yang membuat jantungnya berdebar. Tawa yang sangat… membuatnya nyaman. Tawa kekasihnya. Sungmin tahu ia menyukainya sebanyak ia menyukai orang itu.

Tanpa sadar ia juga ikut tertawa, yang membuat cowok di depannya itu sontak berhenti dan fokus memandanginya. Menatap Sungmin seolah ia adalah sosok langka yang takkan bisa ditemui esok hari, seolah ia adalah makhluk langit yang takkan pernah tinggal di bumi. Dan tawa itu selalu bisa membuat jantungnya berdetak dengan menggila. Mendengar suara tawa yang bagai musik harpa, yang memanjakannya, bagai simfoni favorit Kyuhyun selama ia hidup dan mencintai gadis brunette di depannya.

Dan mata mereka saling memandang. Rasanya tak perlu ada lagi ucap kata yang diperlukan untuk mengisi kerinduan masing-masing. Hanya dengan saling bersitatap, perasaan yang dulu meluap-lupa kini tersampaikan. Keduanya tersenyum pada masing-masing, meyakinkan diri mereka kalau yang mereka rasakan kini adalah rasa bahagia, karena akhirnya bisa saling melengkapi lagi.

Kyuhyun makin mendekat dan menempelkan dahi mereka. Kedua tangannya menangkup pipi chubby kekasihnya. Berbisik pelan dengan hidung yang bersentuhan. “Terima kasih karena kamu mau setia nunggu aku pulang, Minnie. Terima kasih karena sudah percaya padaku. Terima kasih karena sudah menjadi gadis yang tangguh yang tahan akan kritikan orang lain ketika mereka mencibirmu mengenai kesetiaanmu disaat orang lain menginginkanmu dan kau… sekali lagi… setia padaku.”

Sungmin balas tersenyum pada kekasih hatinya itu. “Tidak. Seharusnya yang berterima kasih adalah aku, Kyu. Kau, Kyuhyun, yang mengajariku bagaimana menjadi gadis yang tangguh. Kau, Kyuhyun, yang selalu setia padaku. Kau, Kyuhyun, yang selalu memberikanku kekuatan disaat mereka sekali lagi, mencibirku sampai akhirnya aku… kebal akan setiap kata-kata menyakitkan mereka. Semua itu karena kamu, Kyunnie. Seharusnya… Minnie lah yang berterima kasih,” ujarnya berbisik. Namun Kyuhyun masih sangat bisa mendengarnya.

Keduanya sekali lagi melempar senyum. Senyum kebahagiaan mereka hari itu dan selamanya.

Selamanya… mulai sekarang sampai selamanya -walau aku tak yakin waktu selamanya cukup untuk kita- aku tidak akan pernah ke mana-mana lagi. Aku tidak akan pernah pergi lagi, meninggalkamu sendiri. Kalaupun aku harus pergi, akan kubawa kau, hatiku, jiwaku, separuh hidupku bersamaku.”

Ucapan yang penuh kegombalan itu semakin membuat gadis brunette tersebut memerah. Tuhan, kenapa pacarnya sangat bisa membuatnya merona? Kenapa pacarnya bisa saja memiliki kalimat yang membuatnya meleleh? Kenapa, pacarnya, Kyuhyun, selalu bisa membuatnya bahagia?

Tetapi Sungmin, sekali lagi dan terus tersenyum manis. Melupakan rona merah yang menyandangi wajah cantiknya. Dan ia membalasnya. “Aku tahu, karena aku percaya. Bahwa Kyuhyunnie-ku, tidak akan pernah meninggalkanku sendiri lagi. Tidak akan pernah membuatku menunggu lagi. Karena kutahu kau.”

Dan wajah Kyuhyunlah yang pertama kali mendekat. Detik berikutnya bibir tebal Kyuhyun memagut lembut bibir shape M di depannya. Menekan halus penuh perasaan. Mereka berciuman seolah baru pertama kali. Tak ada tuntutan, hanya ada cinta. Ciuman tersebut hanya terisi cinta yang mendalam, kasih sayang yang tertahan. Rasa rindu yang memekik, rasa senang yang meluap. Karena mereka tahu, setiap perpisahan memiliki pertemuan yang baru.

Ketika deru angin berhembus di sekitar mereka, keduanya makin merapatkan diri dalam ciuman yang memabukkan namun penuh keindahan. Hari itu, di hari kelulusan Sungmin, ia mendapatkan hal yang takkan pernah terganti.

Ia mendapat masa depannya. Ia mendapat cintanya. Ia mendapat, Kyuhyun yang merupakan kehidupannya selanjutnya.

Dan mereka… bahagia.

Karena tak selamanya jarak akan terus terbentang. Tak selamanya waktu takkan terkikis. Tak selamanya cinta yang dipendam kan abadi di setiap hela napas yang menyebar ruak bagai awan, karena pada akhirnya… cinta itu kan muncul ke permukaan. Tak selamanya rasa rindu hanya akan menyesakkan dada sang perindu atau yang dirindukan. Tak selamanya, ketika orang-orang tak tahu tentang mereka dan terus mencibir, sejujurnya, orang-orang itulah yang semakin membuat mereka kuat.

Mereka, yang tak mengerti hanya tidak tahu. Kalau kekuatan cinta akan mengalahkan apapun di dunia. Cinta kan mengalahkan beribu jarakpun. Cinta kan mengalahkan beribu waktupun. Cinta juga akan mengalahkan segala sesuatu yang ada. Karena tujuan mereka mencinta adalah bahagia.

Dan ya, Kyuhyun juga Sungmin, mereka… bahagia.

.
.
.
The End
.
.
.

Author’s note:
Holaaaaa, finally God, saya menyelesaikan cerita ini walau jarak update last recent chapter jauh banget sama jarak post chapter ini. Dan itu butuh waktu sampai 5 bulan lebih untuk nulis ending yang agak… cheesy ini. Sorry.

Saya mau berterima kasih sama yang sudah setia nunggu fanfic ini. Dan juga, untuk nova137 yang waktu itu menanyakan tentang kelanjutan cerita LDR ini dan-akhirnya saya menamatkannya. Chapter ini ditulis khusus untukmu, dear, dan juga untuk semua reader LDR (dan juga sebagai hadiah untuk diri saya sendiri, yeay! Hbd to me /abaikan)

Thanks so much. Tanpa kalian, saya gatau tahu fanfic ini akan jadi apa. Dan yosh! Semoga suka sama endingnya.

Thanks again, guys. And, wanna give me your percious review? I hope so, and see ya!

Signed,
Umu Humairo Cho

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s