The Pregnant Man ~Chapter 12-{Cheeriness}


The Pregnant Man

10649783_523976901079505_8311178734409661069_n
by Umu Humairo Cho, 2015
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Pairing :
AkaKuro! MidoTaka! AoKise! MuraHimu!
Rating : T
Length : 12 of ?
Romance, Family, Fluffy, Humor-maybe?-
Yaoi, Boys Love, Shonen-ai content.
OOCness! MPreg!
Kalimat/kata-kata non-baku di saat tertentu.
DLDR, yo~ Enjoy dan tinggalkan jejak ya:)
.
.
.
A Kuroko no Basuke Fanfiction
The Pregnant Man
Chapter 12 — Cheeriness
Story by Umu Humairo Cho
.
.
.

Malam sudah sangat larut. Warna hitam menghiasi langit yang agak cerah dengan beberapa bintang yang menghampar berjauhan. Suara jangkrik menghiasi malam yang tenang itu. Angin dingin berhembus membuat seseorang di sampingnya merapatkan selimut, juga tubuh sosok itu yang merapat mencari kehangatan darinya.

Murasakibara Atsushi beberapa detik lalu terbangun entah karena apa. Tirai jendela yang masih terbuka menampilkan lukisan malam di musim semi. Tak lama kemudian, manik ungunya beralih ke arah sosok yang masih merapatkan diri padanya, ia juga serta merta menyalurkan kehangatan yang dicari sosok paling dicintainya beberapa tahun belakangan ini -lebih dari cintanya pada semua makanan yang ada di dunia.

Atsushi tersenyum ketika ia mendapati helai poni yang selalu saja menutupi mata kiri pasangan sehidup sematinya. Satu tangan besarnya terangkat guna menyampirkan poni tersebut, kemudian ia agak bangun untuk memberikan kecupan di dahi sang pemuda yang sembilan bulan belakangan ini tengah mengandung anak pertama mereka.

Memasuki bulan penuh kesiagaan, Atsushi benar-benar meninggalkan semua pekerjaannya di restoran. Walau ia dulu hanyalah seseorang yang selalu makan banyak dan malas melakukan apapun, Murasakibara Atsushi adalah anak yang penurut. Makanya, ia kini menuruti nasihat orang tuanya agar selalu ada untuk sang nyonya Murasakibara Tatsuya tercinta jika sosok itu membutuhkan apa-apa.

Detik setelahnya, Atsushi tiba-tiba melamun. Membayangkan bagaimanakah wujud anak mereka mengingat semua yang selama ini Tatsuya idamkan semasa mengidamnya. Bagaimana sifat anak mereka? Dan cenderung mirip siapakah anak mereka kelak?

Sulit untuk membayangkannya, tapi Atsushi tahu bahwa kini ia sedang menuju tahap super bahagia. Karena sebentar lagi, dalam kehidupannya bersama Tatsuya tercinta, akan hadir sosok kecil yang akan menghiasi hari-hari barunya.

Dan yang bisa ia bayangkan hanyalah…

Ia, Tatsuya dan anak mereka…

Akan bahagia.

Itu saja.

xxxXXXxxx

Matahari pagi datang dalam sunyi. Murasakibara Tatsuya terbangun di pagi yang tenang dengan rasa nyaman ketika bias mentari menyapanya hangat. Perlahan, tak ingin memberikan tekanan pada calon kehidupan di perutnya, ia mendudukkan dirinya setelah mendapat sepenuhnya kesadaran lalu bersandar di kepala ranjang. Beberapa detik setelahnya, pandangannya beralih ke arah seseorang yang masih berbaring dalam tidurnya.

Murasakibara Atsushi, suami tercinta masih terbuai dalam mimpi indah di sampingnya bersandar. Sejenak, tangannya mengusap perutnya yang membesar, lalu beralih mengelus surai ungu kecintaannya. Atsushi yang memang sudah sangat mengenal belaian tangan pasangan hidupnya, sekalipun tadinya masih nyenyak terlelap, langsung terjaga begitu saja dan tersenyum ke arah Tatsuya.

“Pagi, Tat-chin~” Atsushi menyapa Tatsuya dengan senyum di wajahnya. Pemuda setengah titan itu kemudian duduk di atas ranjang mereka ketika sudah mendapatkan kesadaran sepenuhnya. Lalu tangan besarnya bergerak untuk mengelus perut besar pemuda raven di sampingnya. “Pagi juga, baby-chin~” sapanya lagi ketika tangannya terus membelai tempat di mana calon anak mereka berada.

Tatsuya tersenyum melihat dan mendapati sapaan pagi dari suaminya. “Pagi, Atsushi,” balasnya dengan tangannya yang diletakkan di atas tangan besar pasangannya. “Pagi juga, papa-chin~” lanjutnya lagi seolah-olah anak mereka lah yang menyahut.

Keduanya lantas tersenyum kemudian sebelum akhirnya saling berbagi ciuman manis di pagi yang sangat cerah di penghujung akhir musim semi itu.

Atsushi, yang belakangan sudah sangat khawatir pada kondisi Tatsuya, yang terkadang terus memaksa untuk mempersiapkan sarapan mereka, lantas lalu menanyakan apa menu sarapan yang diinginkan oleh pemuda hamil itu. Meski Tatsuya kembali protes, setelah mendapat jawaban yang ia mau, Atsushi beranjak meninggalkan pasangannya di atas ranjang yang nyaman berniat untuk membuatkannya. Meninggalkan sang nyonya Murasakibara yang terus cemberut setelah sebelumnya mendapatkan sebuah ciuman penuh sayang dari suaminya itu, juga dengan pesan untuk tak pergi ke mana pun sebelum dirinya datang menjemput.

Seharusnya tadi ia langsung ke dapur saja. Salah karena justru menunggu sang suami bangun, batin Tatsuya yang kemudian hanya bisa terima harus menunggu sampai Atsushi menjemputnya lagi untuk ke meja makan.

Benar-benar protektif. Dan rasanya aneh Atsushi bersikap demikian selain kepada makanannya. Tapi well, untung aku sudah terbiasa, batinnya lagi lalu memutuskan untuk kembali berbaring menunggu sang suami datang.

xxxXXXxxx

Hari itu, yang dirasakan oleh Murasakibara Tatsuya hanyalah rasa penuh kebahagiaan yang tak terhingga yang ia dapatkan dari sang suami tercinta. Ia merasa tidak kesepian lagi karena selama 24 jam, 1440 menit dan 3600 detik ia akan terus ditemani oleh titan ungunya. Sungguuuuuh, bulan terakhir kehamilan yang sangat menyenangkannya.

Tatsuya tidak tahu harus melakukan apa jika harus membayar hal yang seperti ini untuk terus terjadi di hidupnya. Ia ingin, kelak setelah anak mereka lahir, Atsushi juga bisa ada di sampingnya selama seharian untuk menemaninya mengurus anak pertama mereka. Sehingga mereka bisa berbagi hal pertama apapun dari sang bayi kelak.

Ah, seriously. I really can’t wait to see, and I really can’t find anything right to puts up on something that combine with my husband and soon-to-be-our-child. I just really can not. I doubt I can find a right word to describe my feeling later, pikir Tatsuya dalam dunia lamunnya yang hanya terdiri darinya, suaminya dan anak mereka kelak.

Larut dalam lamunan bahagia itu, Tatsuya bahkan tidak sadar jika Atsushi sudah duduk di sofa yang sama dengannya. Tepat di sampingnya. Dan manik ungu itu terlihat tertarik akan apa yang saat ini istrinya lamunkan sampai-sampai ia merasa bahwa Tatsuya entah berada di mana.

Atsushi hanya tidak mau melewatkan wajah penuh kebahagiaan yang Tatsuya tunjukkan sekarang hilang. Makanya, ia lebih memilih untuk terus memandangi wajah yang selalu tersenyum padanya penuh kelembutan itu tanpa berniat mengganggunya. Tapi sepertinya, tanpa harus disadarkan, pemuda raven itu sadar jika sedari tadi ada yang terus memperhatikannya.

“Ada apa, Atsushi?” tanya pemuda raven itu lembut sambil mengangkat tangannya untuk mengelus pipi besar di hadapannya.

Atsushi hanya menikmati hal itu sebentar, sebelum membalas pertanyaan yang diajukan kepadanya. “Tidak apa, kok, Tat-chin~ Tadi sedang memikirkan apa?”

“Hm?” Tatsuya masih tetap menggerakkan tangannya untuk mengelus pipi suaminya. Matanya juga terus memandangi manik ungu yang selalu membuatnya merasa dicintai. Tapi kemudian, ia menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya tadi. “Hanya… memikirkan tentang kita.”

Kita?”

Kita. Kau, aku dan bayi kita nanti.”

“Oh. Memang apa yang Tat-chin bayangkan? Mirip siapakah baby-chin nanti? Warna rambut dan matanya apa? Lucu atau tidak? Makannya banyak atau tidak, begitu?” Tatsuya tanpa sadar tertawa mendengar seluruh pertanyaan Atsushi. Sederhana sekali tetapi bisa membuat hatinya berbunga-bunga. Mengetahui fakta bahwa Atsushi juga menantikan kehadiran anak mereka, membuat hati Tatsuya merasa sangatlah nyaman, gembira dengan perasaan hangat yang meluap-luap.

Ia benar-benar merasa dicintai. Oleh Atsushinya. Dan ia tahu… ia selalu mendapatkan cinta itu.

Kind of that, Atsushi. Tapi, aku tidak peduli dia akan mirip siapa. Either you or me, aku pikir, selama dia anak kita, aku akan lebih merasa sangat bahagia karena sudah melahirkannya,” sahut Tatsuya tersenyum manis ke arah suaminya.

Saat mendengar ucapan itu, Atsushi merasa benar-benar telah sangat tepat memilih Tatsuya untuk menjadi pendamping hidupnya selamanya.

“Hm~ it sounds good, Tat-chin. Aku tidak menyangka Tat-chin yang akan menggombaliku begitu~ jadi ayahnya di sini siapa, ne?” sekalipun berucap demikian, Atsushi terkekeh kemudian sambil terus melihat ke arah wajah Tatsuya yang masih tersenyum. Ia lalu menegapkan duduknya, dan menangkup pipi orang yang paling disayangnya itu. “I think you got the point. Mau baby-chin mirip siapa, yang penting dia anak kita. Thaaat’s so right, Tat-chin.”

“Yap!” dan percakapan itu diakhiri dengan ciuman yang Tatsuya terima dari suaminya. Ia tahu, semua yang berasal dari Atsushi, adalah hal yang paling -paling berharga yang selama ini ia miliki dalam hidupnya.

Termasuk, kehidupan yang ada dalam dirinya kini. Kehidupan yang akan segera hadir kelak. Dan ia menantikannya. Mereka, menantikannya.

.
.
.

Tengah malam sekali, Aomine Daiki terbangun entah karena apa. Sekalipun seharian kemarin ia tidak melakukan apa-apa, entah kenapa ia merasa sangat lelah. Matanya menyipit sayu mengintip jam di dinding yang saat itu menunjukkan pukul dua kurang sepuluh menit. Ia mengacak rambutnya dengan tangan kirinya yang bebas lalu melirik ke arah pemuda kuning kesayangannya yang menjadikan tangan kanannya sebagai bantal.

Dipandanginya wajah yang terpahat amat manis dan-cantik, menurutnya. Iya, Aomine Ryouta, pasangan hidupnya, menurut Daiki pantas memiliki semua kata yang menjelaskan tentang keindahan. Lagipula, Ryouta sendiri juga tidak akan protes sekalipun dibilang cantik atau manis olehnya. Justru, pemuda kuning itu malah akan narsis setelahnya. Daiki sangat hafal tabiat istrinya itu.

Memiliki pasangan yang sebegini sempurna, dan sebentar lagi, di antara mereka akan bertambah kehidupan lain yang sekarang tinggal di dalam perut Ryouta, membuat Daiki benar-benar bersyukur karena sudah diberi kebahagiaan yang sangat indah ini. Ia tidak pernah membayangkan akan hidup sesempurna ini, dengan Ryouta di sampingnya. Juga calon anak mereka.

Kami… terima kasih…

Daiki mengelus pipi tanpa noda tersebut, membelainya halus membuat Ryouta merapatkan diri kepadanya mencari kehangatan di malam yang lumayan dingin. Sejenak, tatapan Daiki mengarah ke langit-langit kamar, namun kemudian kembali lagi ke wajah mulus sang nyonya Aomine.

Dan Daiki tersenyum. Ketika lagi-lagi ia mengingat segala sesuatu yang ia dapat. Ketika ia tahu, Kami-sama memang mempersiapkan kebahagiaan ini untuknya.

Dikecupnya kening Ryouta dan mantan Ace Kiseki no Sedai itu menggumam dalam sepinya malam yang semakin larut. “Terima kasih, Ryouta. I love you,” diiringi lagi dengan terpejamnya dua mata, Daiki mengikuti nalurinya untuk tertidur kembali, menanti senyuman cerah sang istri di esok hari.

xxxXXXxxx

Suara cicit burung di pagi hari yang tenang kala itu, membangunkan sesosok pemuda bermahkotakan sewarna matahari yang cerah dari tidurnya. Suara lembut deru angin yang seolah mengetuk-ketuk jendela membuatnya benar-benar terjaga. Pasangan putra tunggal keluarga Aomine itu terduduk di tempatnya, mengumpulkan nyawa.

Pagi masih sangat gelap. Matahari belum menunjukkan dirinya, dan Ryouta sudah terbangun di pagi yang cukup dingin itu di dalam pelukan suaminya. Pemuda hamil itu melirik sekilas ke arah pasangannya yang masih nyenyak terlelap, tersenyum lalu menempatkan kecupan di dahi pemuda yang selalu saja bisa membuatnya tersenyum dan tertawa penuh sayang.

Ah, pagi yang indah. Dan Ryouta menyukai ketika yang dirasakannya kala itu hanyalah bahagia. Kebahagiaan yang ia sendiri ragu untuk mengklaimnya sebagai kebahagiaan abadinya. Karena ia tahu, masih ada kebahagiaan lain di esok hari yang cerah.

Kebahagiaan yang pasti akan merubah seluruh hidupnya.

Lamat bergerak secara sengaja, ingin merileks-kan seluruh bagian tubuh yang terasa agak pegal, Ryouta bangkit dari posisinya untuk membersihkan diri dan berniat menyiapkan sarapan untuk Daiki. Memang, sang ganguro hitam itu sudah melarangnya menyentuh dapur. Tapi oh, percayalah. Bisakah seorang istri, di pagi yang begini tenang hanya diam dan menunggu suaminya bangun hanya untuk memesankan sarapan disaat dirinya masih bisa memasak?

Ryouta tahu Daiki akan marah, tapi… ia juga tahu inilah kewajiban seorang istri dalam rumah tangga. Jadilah, pagi itu… mengenyampingkan dulu bayangan reaksi apa yang akan diberikan Daiki, Ryouta berlalu ke kamar mandi setelah itu membuat sarapan pagi.

xxxXXXxxx

Aomine Ryouta menggerakkan tangannya dengan sangat lihai di atas papan pemotong. Di pagi yang perlahan berwarna cerah itu, ia tengah memasak sarapan untuk sang suami yang masih nyenyak dalam tidurnya. Menjelang kelahiran bayi mereka, suaminya, Aomine Daiki, sengaja mengambil cuti setelah beberapa minggu kemarin sempat lembur berturut-turut sehingga membuat Ryouta memanggil oneecchinya.

Dan itu hal yang menyebalkan.

Ryouta tidak mau mengingat betapa protektifnya kedua kakak perempuannya tersebut ketika sudah berhubungan dengannya. Selama oneecchinya ada untuk sekedar memperhatikannya, ia tidak boleh melakukan apa-apa. Jadilah, Ryouta hanya duduk diam di atas sofa sambil menonton-makan-nonton-ngemil-nonton sampai Daiki pulang. Ia baru tahu kalau hal itu sangatlah membosankan.

Lalu sekarang, ketika ia mendapati sang suami setiap hari menemaninya, Ryouta sangatlah senang. Sampai-sampai, masih pagi sekali, ia sudah bangun untuk membuatkan sarapan, dengan mengabaikan fakta jika bisa saja tiba-tiba Aomine Daiki terbangun, dan memergokinya di dapur.

Kalau saja ia tidak benar-benar fokus pada acara memasaknya, ia pasti bisa merasakan kehadiran orang lain di sana. Namun sayang, Ryouta terlalu sibuk dengan dunianya sampai-sampai tak peduli sekitar.

Daiki, yang sebenarnya ingin sekali marah hanya bisa berdiri di pintu dapur sambi terus mengawasi gerak-gerak pasangannya itu. Mau berapa kali dinasihati pun, Aomine Ryouta tidak akan menurut. Entah sejak kapan ia jadi seorang keras kepala, Daiki sendiri sudah lelah melarangnya.

Tapi Daiki senang, Ryouta benar-benar melayaninya dalam hal apapun. Dan Ryouta benar-benar istri yang sempurna untuknya.

“Ah,” Daiki mendengar sosok itu mendesah pelan, pandangannya langsung beralih ke arah pemuda kuning tersebut. Daiki cukup curiga kenapa, tapi sekali lagi ia hanya memperhatikan. Sampai, ketika ia melihat sosok hamil itu akan berbalik untuk berjalan sedikit ke arah lemari pendingin, keseimbangannya hilang dan Ryouta akan jatuh.

Sontak, pemuda biru dongker itu langsung melesat dan menahan berat tubuh yang hampir bertemu dengan dinginnya lantai.

Ryouta yang juga merasa ngeri karena tiba-tiba terpeleset, langsung berpegang erat pada sosok suaminya yang tengah menahannya dari belakang.

Oh, Tuhan. Kalau saja tidak ada Daikicchi… apa yang akan terjadi padaku dan bayi kami-ssu

Pikirannya kosong dan hanya penuh dengan rasa takut. Segala kemungkinan hinggap dalam kepalanya. Wajahnya benar-benar pucat. Tak tahu harus apa.

“Ryouta, kau tidak apa-apa?” sampai suara Daiki langsung menyadarkannya dari segala pikiran itu, Ryouta sontak mendongak untuk menatap mata sang suami. Ia langsung merasa bersalah dan merasa sudah siap untuk dimarahi.

“D-daikicchi…”

Daiki menegakkan tubuhnya lalu membawanya ke ruang tamu, mendudukkan di sofa kemudian ganguro itu ikut duduk di sampingnya, memeluk Ryouta sambil menciumi rambut pirangnya. “Demi Tuhan, Ryouta. Katakan kau baik-baik saja?”

Ryouta jadi benar-benar merasa bersalah. Ia mengangguk dalam pelukan yang penuh kehati-hatian itu. “Aku… baik-baik saja-ssu,” Ryouta menyamankan dirinya dalam pelukan itu.

“Sudah kukatakan berulang kali untuk tidak menyentuh dapur, ingat?” Ryouta mengangguk. “Dan, kenapa kau malah ada di sana pagi ini?”

“Maaf-ssu. Aku hanya…”

“Demi Tuhan aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku tidak ada di sana, Ryouta,” pelukan Daiki mengerat, namun masih menjaga perut besar pasangannya.

Ryouta tanpa sadar terisak kecil, ia tahu ia salah. Kalau saja ia menurut…

“Jangan ulangi lagi, please…”

“A-aku janji-ssu…”

Dan keduanya membiarkan keheningan mendominasi. Sejenak tak memikirkan apapun dan berusaha meresapi kehadiran masing-masing. Rasa aman yang Ryouta rasakan melalui lengan Daiki yang memeluknya, juga rasa lega karena Daiki mendapati Ryouta dalam dekapannya.

Tahu kalau perut manusia harus diisi pagi itu untuk memberikan energi, apalagi dengan keadaan Ryouta yang hamil tua. Daiki langsung mengambil telpon yang ada di dekatnya, masih memeluk pemuda pirang itu ia memencet sederet nomor, menunggu jawaban.

Sampai, suara di seberang menyapanya pagi itu.

[“Hai, Dai-chan? Ada apa menelpon pagi-pagi?“]

“Ah, Satsuki. Bisa kau ke rumah? Tolong lanjutkan masakan Ryouta,” ujar Daiki langsung setelah sahabat sejak kecilnya menyapanya.

[“Eeeh? Ryou-chan masih memasak? Katamu sudah tidak.“]

“Panjang ceritanya. Bisa kan?”

[“Hai. Bisa kok. Tunggu, ya! Aku akan segera ke sana.“]

“Terima kasih, Satsuki.”

[“Jangan sungkan, Dai-chan. Jaa, matta.”] dan sambungan pun terputus.

Ryouta yang sedari tadi memperhatikan, mulai menyimpan banyak tanya pada suaminya itu. Ia mendongak untuk melihat raut wajah Daiki. Kenapa… Daikicchi setenang itu-ssu? Dan seriuskah dia menyerahkan urusan masak kepada Momocchi?

Ne, Daikicchi. Kau yakin-ssu, meminta Momocchi memasak? Tidak apa-apa memangnya-ssu?” tanya Ryouta, masih menatap penuh tanya suaminya.

Daiki langsung menatap balik pasangan sehidup sematinya. “Tidak apa-apa. Jangan khawatir, Ryouta.”

“T-tapi kan, masakan Momocchi…”

Kaa-san bilang skill memasaknya sudah naik. Jadi, masakannya sudah bisa dimakan.”

“Sungguh-ssu?” kaget Ryouta. Tapi melihat Daiki yang mengangguk, entah kenapa ia langsung percaya. “Baiklah-ssu. Aku akan sangat menantikan masakan Momocchi!”

“Hm. Dan berjanjilah untuk tidak lagi menyentuh dapur, Ryouta.”

Ryouta langsung merengut. “I-iya-ssu.”

“Anak baik,” balas Daiki menangkup kedua pipi Ryouta dan mendaratkan kecupan-kecupan di bibirnya. “Tapi kau lupa memberikanku morning kiss, Ryouta.”

Pemuda pirang itu tertawa. Lalu mencium bibir di depannya. Melumatnya sebentar sebelum melepas dan menatap langsung mata biru dongker suaminya. “Sudah-ssu,” katanya sambil nyengir yang dibalaskan ciuman lagi oleh Daiki.

Jadilah, pagi itu, menunggu Momoi datang, keduanya saling berbagi ciuman selamat pagi dengan berusaha melupakan kejadian mengerikan yang terjadi tadi. Semoga, tak kejadian lagi.

.
.
.

Akashi Seijuurou entah mengapa merasa sangatlah lelah. Di malam yang semakin larut ini, ia malah duduk tegap di meja kerjanya memeriksa data yang dikirimkan sekretarisnya via email karena sampai Tetsuya melahirkan, dia akan mengontrol kantor dari rumah. Benar-benar dari rumah. Baginya, tak ada waktu untuk ke kantor disaat Tetsuya membutuhkan segala perhatiannya. Maka dari itulah, rasanya ia benar-benar seperti hengkang dari kantornya sendiri hanya untuk setia berada di samping pasangannya yang sedang hamil tua.

Mengingat segala hal tentang Tetsuya, sontak saja ia langsung melirik ke arah ranjang di mana sosok itu kini tengah berbaring dalam mimpi indahnya, tidak tahu jika Seijuurou tengah sengsara dengan kiriman pekerjaan ini dari bawahannya.

Ah, Seijuurou jadi ingin bergabung dengan sosok biru langit itu daripada repot-repot kerja seorang diri di malam yang dingin begini. Tapi… Seijuurou tidak bisa mengabaikan kewajibannya begitu saja. Ia harus memeriksa dan menyelesaikannya agar kelak di hari ke depan, ia tidak harus repot-repot kerja lagi. Maka dengan menekan rasa ingin memeluk Tetsuya, sejenak ia berkutat dengan pekerjaannya -tentunya dengan sedikit merengut.

Sepuluh menit, setengah jam, satu jam, sampai dua jam kemudian, lama-kelamaan, wajah Tetsuya muncul begitu saja dalam bayangannya membuat Seijuurou tidak bisa fokus. Mendapati wajah malaikat istrinya dalam benaknya, Seijuurou jadi sontak memalingkan wajahnya lagi ke arah sosok pasangannya yang masih tidur nyenyak layaknya bayi dari layar monitor di permukaan meja. Lalu tatapannya beralih ke arah perut Tetsuya yang besar.

Ah, melihat perut besar itu, pemuda scarlet tersebut langsung teringat akan usia kandungan Tetsuya sampai hari ini. Sudah memasuki bulan terakhir, sudah lewat beberapa hari lebih bahkan. Dan mengingat perkiraan Midorima, Tetsuyanya akan melahirkan di usia kandungan sembilan bulan lewat satu minggu atau lebih. Jadilah, Seijuurou makin siaga.

Pemuda scarlet itu akhirnya mengabaikan pekerjaannya dan berjalan mendekati ranjang mereka, mendudukkan diri di samping sosok berbaring istrinya. Tangannya terangkat guna mengelus surai biru langit yang halus tersebut, yang entah kenapa memberikan getaran halus kepadanya. Seperti disengat listrik kebahagiaan hanya karena mengusap rambut teal itu. Seijuurou tersenyum kecil, matanya lalu berpaling ke arah perut yang membesar, kemudian ganti mengelusnya.

Sejurus kemudian, dibungkukkan tubuhnya, kemudian mendekatkan bibirnya pada permukaan abdomen tersebut. Seolah berbisik, ia seakan mengajak bicara calon bayi mereka. “Terima kasih karena sudah hadir di kehidupan, tou-san, my children. Tou-san selalu menunggu kehadiran kalian untuk melihat dan mengenal dunia ini. Bersama tou-san, juga kaa-san. Hanya kita.”

Senyuman yang jarang terlihat selama Akashi Seijuurou hidup, dan hanya pada Tetsuyalah ia bisa memberikan senyuman itu. Kini, Seijuurou juga akan memberikannya pada anak kembarnya. Hanya pada mereka akhirnya Akashi Seijuurou akan menjadi sosok yang lebih dewasa lagi yang memiliki kewajiban untuk menuntun keluarga kecilnya itu menuju kebahagiaan yang hakiki.

Dan malam semakin larut, pemuda scarlet tersebut masih asik mendekatkan permukaan bibirnya pada perut Tetsuya, masih seolah mengajak mereka bicara. Berbisik-bisik, entah melesakkan kalimat dan kata-kata yang bagaimana seakan ingin memberitahu sesuatu kepada anak kembarnya.

Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan anak tunggal keluarga Akashi tersebut. Tidak malam dengan bintang yang bertebaran, tidak angin yang berhembus halus seolah memberikan kenyamanan, tidak ranting pohon yang dedaunannya bergoyang, tidak juga tanah bumi yang ditapaki banyak kegembiraan. Akashi Seijuurou hanya punya rasa cinta, kasih sayang, keinginan dan kebanggaan karena ia (akan) memiliki hal paling membahagiaan di dunia selama dua puluh enam tahun ia hidup. Dan ia tahu itu.

xxxXXXxxx

Pagi mungkin sengaja mengintip. Tirai jendela kamar yang tak sepenuhnya tertutup mengantarkan bias sinar mentari memasuki celah terkecil dari kaca itu. Entah bagaimana, cahayanya mengarah langsung pada perkamen-perkamen terabaikan di meja kerja sang pemilik kamar.

Ketika cahaya matahari semakin meninggi, satu dari dua anak adam itu tak bergeming merasakan hangatnya bias sinar mentari. Kelopak matanya terbuka perlahan-lahan, manik sebiru langit musim semi mengintip takut-takut seakan pendar keemasan itu akan melukainya. Tapi kemudian, pemuda bernama Akashi Tetsuya itu sepenuhnya terjaga ketika merasakan ada tangan yang memeluk erat seolah tak ingin melepas.

Sejurus kemudian, Tetsuya langsung menoleh dan beralih menatap pemuda dengan surai scarlet yang ikut tertimpa sinar, membuat rambutnya jadi seakan-seakan hampir sewarna jingga. Cahaya tersebut juga menyapa bagian pipi yang terlihat, membuat Tetsuya ikut menjulurkan tangannya menyentuh pipi putih itu dengan penuh cinta.

Pagi yang indah, melihat sang suami tertidur dalam nyenyak yang seolah tak terganggu oleh sinar mentari yang menyala hangat, Tetsuya merasa beruntung terbangun di pagi itu. Kemudian wajahnya maju sedikit untuk memberikan sebuah ciuman penuh kasih untuk pasangan paling dicintanya. Ciuman selamat pagi, kata mereka.

Tak ingin membangunkan sang suami yang terlihat sangatlah lelah, pemuda teal itu dengan hati-hati menyingkirkan tangan yang melingkari abdomen besarnya, lalu turun dari ranjang menuju pintu kamar mandi di sebelah almari yang berdiri kokoh di pojok ruangan. Selang beberapa puluh menit penuh kehati-hatian, Tetsuya keluar dan meninggalkan kamar, menuju dapur untuk sekali lagi melanggar perjanjian tak tertulis dengan suaminya untuk tak menyentuh wilayah tersebut. Tapi Tetsuya mau. Mau untuk membuatkan makanan enak untuk pemuda yang selama ini selalu dan akan terus mencintai dan dicintai olehnya.

Mengabaikan segala akibat yang mungkin akan muncul, Tetsuya berlalu menuju pantry dan mempersiapkan segalanya. Ketika beberapa maid, butler dan para koki rumah memergoki nyonya mereka di sana, sontak mereka berusaha mengambil alih pekerjaan yang langsung ditolak oleh pemuda hamil itu.

“Tidak, tidak apa. Kalau kalian mau, kalian bisa mengawasiku memasak dari sana dan bantu aku mengambil sesuatu yang kuperlukan. Kalian mengertikan?”

Karena pada dasarnya, Tetsuya selalu berusaha untuk bersikap baik pada mereka yang selalu membantunya mengurus rumah (lupakan saat ia sedang mengidam), Tetsuya berharap mereka bisa mengerti. Dan karena para pekerja di rumah mewah itu menghargai keinginan pria hamil yang statusnya adalah istri, juga pemuda teal tersebut sangat baik pada mereka, orang-orang yang tadi diajak bicara hanya bisa mengangguk dalam diam lalu memperhatikan dalam tegang. Dengan sesekali ke sana-ke sini untuk mengambil sesuatu yang diperlukan majikan mereka.

Beberapa puluh menit berkutat dengan masakan, dan tak selang beberapa lama itu juga muncul suara langkah kaki yang mendekati dapur dan dapat didengar oleh mereka yang hanya melihat, Akashi Seijuutou secepat itu muncul di pintu dapur lalu bersandar di sana dengan tangan terlipat di dada. Menatap tajam satu per satu pekerjanya seolah memberikan siksaan batin dari pancaran mata yang ia berikan.

Tetsuya yang menyadari kehadiran suaminya di sana, dan mengulum senyum berharap Seijuurou tak marah. Makanya, ia langsung menyapa suami tercintanya itu. “Pagi, Seijuurou-kun.”

“Pagi, Tetsuya,” Akashi Seijuurou menghampiri sang istri yang masih sibuk memasak, mengait pinggangnya pelan sebelum mendaratkan kecupan di samping pelipis Tetsuya membuat pemuda teal itu semakin tersenyum. “Sebaiknya serahkan sisanya pada koki yang ada, Tetsuya.”

Senyumannya langsung sirna dan menatap sedih suaminya. “Sebentar, setelah ini semuanya akan siap, Seijuurou-kun. Please?”

Seijuurou lemah, akan kata please yang keluar dari mulut mungil yang bagai candu untuknya itu. Ia tidak bisa melakukan apapun kecuali mengiyakan jika Akashi Tetsuya sudah mengucapkan kata sakti tersebut.

Karena efek kata itu membuatnya doki-doki. Bagaimana tidak, dengan ekspresi wajah yang oh-so-kawaii sampai membuat Seijuurou lupa cara bernapas, seolah berlomba-lomba menghirup oksigen dengan yang lainnya. Juga jangan lupa suara Tetsuya yang dibuat saaaangat halus sampai Seijuurou salah mengartikannya sebagai suara musik harpa yang mungkin saja berasal dari surga.

Makanya, makanya, tak ada yang bisa Seijuurou lakukan selain memasang tampang oh-ya-sudah-lakukan-apapun-yang-kaumau. Tapi kalau ini kasusnya, berubah jadi oh-ya-sudah-lanjutkan-saja-acara-memasakmu lalu diakhiri dengan kecupan lagi di dahi.

Karena seberapa banyakpun Akashi Tetsuya melanggar perjanjian tak tertulis mereka agar sosok hamil itu tak menyentuh dapur, mau berapa kali diperingatkan juga, Seijuurou tahu Tetsuyanya sangatlah keras kepala.

Jadi lupakan. Lupakan soal perjanjian. Lupakan soal Tetsuya yang tengah hamil tua. Lupakan, Seijuurou, lupakan.

Setelah diyakini suaminya membiarkan ia meneruskan pekerjaannya, Tetsuya yang merasa ada sedikit sentakan di perutnya, tapi ia fokus lagi dan kali ini meminta seorang maid untuk mengambil mangkuk yang lumayan besar karena masakannya sudah hampir jadi, mengabaikan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang.

Sedangkan si pemuda scarlet memilih untuk berlalu dan menunggu di meja makan. Berniat untuk menonton istrinya memasak sambil berjalan ke sana-sini.

Namun tiba-tiba suara pecahan porselin membuat Seijuurou sontak berhenti, membatalkan niat dan langsung melihat ke arah Tetsuyanya, diiringi dengan teriakan para maid yang sedari tadi siaga di belakang sosok biru muda kalau-kalau Tetsuya masih membutuhkan bantuan.

“Tetsuya-sama!”

“Tetsuya!” Akashi Seijuurou langsung berlari mendekat ketika sosok itu sedikit membungkuk dan berpegangan pada pinggiran meja dapur. Tangan lainnya seolah mencengkram bagian perutnya. Ada apa? “Tetsuya, kau kenapa? Kau baik-baik saja? Tetsuya jawab aku!”

Seijuurou panik, istrinya terlihat kesakitan dan peluh menyelimutinya.

“A-akashi-sama, m-mungkin Tetsuya-sama a-akan m-melahirkan,” gugup gempita berdatangan selesai seorang maid berkata.

Akashi Seijuurou langsung melihat ke arah kepala pelayan dan menyuruhnya. “Tadashi, suruh Fujiwara menyiapkan mobil. Kita akan ke rumah sakit sekarang juga.”

Tadashi yang ditatap dan diajak bicara dalam keadaan panik spontan tegap, menjawab kemudian berlari pergi. “Baik Akashi-sama!”

Selanjutnya Seijuurou langsung mendekap Tetsuya, menggendongnya dengan bridal style, lalu berbisik seraya berjalan agak cepat ke halaman. “Bertahanlah, Tetsuya. Kita akan segera ke rumah sakit.”

Tetsuya yang penuh keringat bersandar lemah pada kehangatan suaminya. Tangannya mencengkram perut seolah mengatakan pada bayi kembar mereka bahwa semua akan baik-baik saja. “Ugh…”

Di batas antara kesadaran dan ketidaksadaran, Tetsuya, maupun Seijuurou bahkan seluruh penghuni yang ada di rumah itu berdoa. Semoga, semua berjalan dengan baik.

Bersabarlah, nak. Kalian akan segera melihat dunia ini. Segera.

Berusaha mengaburkan panik yang mendera, Akashi Seijuurou mengambil ponselnya dan memencet sederet nomor, ketika orang di seberang sana menjawab, tanpa jeda Seijuurou berkata. “Shintarou! Aku mau kau siap di rumah sakit sekarang. Tetsuya sepertinya akan melahirkan. Kuberi waktu 5 menit untuk kau bersiap-siap!”

.
.
.

Di dalam keheningan yang panjang Midorima Shintarou duduk bersandar di kepala ranjang dengan di tangannya sebuah kalender meja dan mata hijau dokter muda itu bergerak-gerak mengikuti urutan tanggal. Memasuki akhir Mei dan akan menjadi awal bulan Juni, Shintarou langsung berpikir, menerka-nerka akankah perkiraannya tepat.

Usia kandungan Kazunari hanya berjarak beberapa hari dari Kuroko-Akashi Tetsuya, begitu juga dua teman istrinya yang lain. Kemungkinan mereka akan melahirkan di bulan yang sama sangat mungkin terjadi. Tapi bukan itu yang ia pikirkan. Perkiraan hanyalah perkiraan, hal itu bisa saja meleset, kan? Makanya Shintarou selama bulan terakhir kehamilan Kazunari ia benar-benar waspada kalau-kalau pemuda raven itu akan tiba-tiba mau melahirkan.

Saat ia sadar sedari tadi dalam pikirannya ia membicarakan si pemuda raven kesayangan, tanpa ragu tatapannya pun teralih ke arah sosok di sampingnya. Tangannya yang tadi memegang kalender langsung meletakkan benda itu di meja nakas sebelah tempat tidur, diganti dengan memainkan helaian halus sewarna langit malam milik Kazunari.

Midorima Shintarou membungkuk sedikit guna memberikan kecupan di dahi terbuka pemuda itu. Satu tangannya yang sedari tadi digenggam dan tak mau dilepaskan oleh si penggenggam -Kazunari, membuat pemuda hijau itu mengeratkan genggaman mereka.

Cahaya malam yang masuk melalui jendela kamar menjadikan hal tersebut sebagai satu-satunya sumber penerangan selain satu lampu meja yang baru saja dipadamkan. Ruangan dengan minim cahaya itu terasa hangat walau ada di malam yang lumayan dingin. Hawa musim panas entah kenapa belum juga hadir, tapi Shintarou tak peduli.

Ketika dirasanya sosok di sampingnya mendekatkan diri, Shintarou ikut merapat, siap memberikan kehangatan tubuhnya pada pria hamil itu. Tangannya yang bebas mengusap perut besar Kazunari penuh sayang. Lukisan malam yang nampak dari jendela kamar kalah akan keindahan yang Shintarou dapatkan dari wajah tidur bak bayi istrinya. Tidak ada yang lebih indah dari Kazunarinya untuk sang dokter muda.

Dan Shintarou berpikir, di dunia ini, tidak ada yang bisa ia samakan dengan pemuda itu. Sekalipun ia jatuh tertimpa beratus-ratus bongkah berlian, jika bukan Kazunari yang ia miliki, ia tidak mau. Iya, baru saja Shintarou tak mempedulikan ke-tsundere-annya. Baru saja ia mengakui sesuatu yang mustahil bisa ia akui kalau-kalau sosok raven itu terjaga. Namanya juga Midorima, sedikit tsundere ke istri pasti bisa dimaklumi karena ia tahu ia sangat dicinta.

Balik lagi ke Kazunari, bola mata hijau zamrud miliknya terus meneliti, seolah mengexplore setiap emosi yang dipancarkan sang pasangan hidup (ia tahu Kazunari sedang tidur) namun tetap saja; masih terjaga di malam yang sebegini larut, dengan hawa yang agak dingin, apalagi yang bisa ia lakukan selain mengagumi pahatan Kami pada wajah istrinya? Biarlah dulu ia selalu tsundere dengan mengatakan yang berkebalikan, saat itu ia juga masih remaja ingusan. Tapi sekarang sudah hidup dengan sosok yang sama selama beberapa tahun, tak ia miliki lagi alasan untuk bersikap demikian karena Kazunari sudah sangat hafal tabiatnya. Berpura-pura pun bercuma. Pemuda hamil itu bisa menerjemahkannya seolah dirinya itu perkamen berbahasa asing dan Kazunari kamusnya. Begitu.

Dan Shintarou merasa mereka sangatlah klop.

Bicara soal cocok, ada lagi hal lain yang membuatnya akan semakin merasa cocok. Membayangkan seperti apa rupa bayi mereka, membuat Shintarou bertanya-tanya akankah kehadiran malaikat kecil itu dapat merubah seluruh kehidupan mereka ke arah yang jauh lebih baik lagi?

Semoga.

Karena pada dasarnya Shintarou tahu, tak mungkin setiap orang tua tak merasa bahagia akan kehadiran sosok baru dalam kehidupan rumah tangga mereka. Tak mungkin Shintarou tak mensyukuri sebuah hadiah dari Kami untuknya dan Kazunarinya. Karena memang Shintarou tahu, sejak ia menetapkan kata klop pada ikatannya dengan Kazunari, ia tahu akan ada banyak kebahagiaan yang mendatanginya. Oh, tentu abaikan masalah mengidam itu.

Asik lagi dengan pemikirannya, Midorima Shintarou seolah tak peduli bulan semakin tenggelam, malam semakin larut. Suara deru angin makin terdengar bagai melodi pengantar tidur. Dalam beberapa kerjapan mata, pemuda berambut hijau yang kelak akan menjadi ayah itu terlelap di samping sosok tersenyum istrinya yang terbuai dalam mimpi indah.

Dan Shintarou juga yakin, ia juga pasti akan mimpi indah.

.
.
.

Pagi menyapa malu-malu. Kazunari bukan orang pertama yang terbangun kala itu. Ketika ia melihat ke arah samping kirinya, sudah tak ada lagi sosok Midorima Shintarou -suaminya di sana. Bagian ranjang itu sudah dingin, tanda kalau sang pemakai sudah angkat badan cukup lama.

Kazunari tak langsung bangkit,, ia menyandarkan dirinya di kepala ranjang. Menikmati hembusan angin yang masuk melalui celah jendela yang -mungkin- sengaja dibuka oleh suaminya. Ia merasa segar, walau belum mandi. Ia merasa nyaman (walau agak pegal) tapi bisa mencium wangi khas Shintarou membuat ia merasa lebih dari cukup.

Mata gelap kelabu miliknya menjelajah isi kamar itu, berharap bisa menemukan jejak Shintarou di sana. Dari pintu kamar mandi yang tertutup, berharap ada suara gemericik air, atau lemari pakaian yang meninggalkan jejak sentuhan tangan (entah bagaimana Kazunari berharap demikian), atau meja kerja yang berdiri kokoh di pinggir ruangan dekat jendela, sampai ke bawah ranjang. Namun tetap tak ada. Dan Kazunari hanya bisa menyimpulkan kalau Shin-chan-nya sudah keluar dari kamar ini tanpa membangunkannya. Bagus. Padahal ia ingin sekali minta cium. Ah, Shin-chan baka.

Cklek!

Tapi, suara pintu yang terbuka lalu disusul sosok yang sejak tadi dicarinya, tak jadi membuat Kazunari berlama-lama memaki suaminya dalam hati. Ah. Ia ingin cepat-cepat dipeluk, diusap-usap, dicium-cium, di-di-diapa-apain lah. Yang penting sama Shin-channya!

“Pagi, nodayo, Kazunari. Ternyata kau sudah bangun,” Midorima Shintarou mendekatinya dengan sebuah nampan berisi susu, air putih dan beberapa potong roti. Pemuda hijau itu duduk di pinggiran ranjang setelah menaruh nampan tersebut di meja nakas samping tempat tidur lalu mengambil serta merta gelas susu dan memberikannya pada Kazunari. Menonton bagaimana pemuda raven itu menghabiskan susunya.

Setelah sosok hamil itu menyerahkan gelas kosong yang ia ganti dengan potongan roti, Kazunari yang sedari diam dilayani pun buka suara. “Neee, Shin-chan, kenapa tidak membangunkanku saja dan sarapan di bawah?”

Shintarou yang sibuk mengelap bekas remahan roti dipinggiran bibir istrinya melirik sekilas sebelum menjawab. “Sarapannya belum siap, nanodayo.”

“Eh?” Kazunari memiringkan kepalanya penuh tanya. “Kok? Belum ada yang masak ya, Shin-chan? Kalau begitu, sini. Biar aku sa-”

“Sudah, nodayo. Dan jangan harap kau boleh menyentuh dapur. Kaa-san dan Shina kesiangan, jadi baru mulai masak sarapan, nanodayo.”

“Oooh,” Kazunari hanya meng-oh dan memakan habis rotinya. Jujur ia lapar. Tapi menghadapi sikap suaminya yang tak sedikitpun berniat memberikannya sapaan pagi, membuat Kazunari cemberut sesaat setelah air putih menuruni kerongkongannya.

“Kau kenapa, nodayo? Masih lapar? Tunggu saja, sebentar lagi siap.”

Kazunari tidak membalas dan hanya menatap pasangannya dengan penuh rasa ingin. Ingin apa saja. Ingin dipeluk, dielus, diusap, dibelai, dicium, di-di-di-diapa-apakan lah pokoknya. Tapi sepertinya Shintarou sengaja tak peka.

“Apa, nodayo, Kazunari? Masih marah karena tak kubangunkan?”

Pertanyaan Shintarou disambut gelengan.

“Kau ingin kuantar ke kamar mandi untuk membersihkan diri, nodayo?”

Kazunari kembali menggeleng.

“Lalu? Mau kucium, nodayo?”

Pertanyaan berikutnya yang hampir Kazunari balas anggukan, namun secepat kilat ia ganti gelengan.

“Lihat siapa yang sekarang tsundere, nanodayo. Biasanya kau yang memberiku morning kiss, kan? Lalu kenapa sekarang-cup!” kalimat dokter muda itu tak selesai saat suara kecupan menggema di kamar hangat mereka.

Kazunari menunduk, sebenarnya dalam hati bertanya apa yang membuatnya merasa malu mencium suami sendiri. Ah, ada apa dengannya pagi ini. Aneh sekali. Ingin dimanja, ingin lebih diperhatikan. Entahlah.

Dan ketika ia berniat mendongak, sebuah bibir menabrak lagi bibirnya. Selang beberapa menit barulah Kazunari sadar jika itu bibir Shintarou Midorima. Sejurus kemudian, selagi menunggu sarapan siap (yang tanpa campur tangan Kazunari) pemuda raven itu memanjakan diri dalam ciuman hangat orang terkasih.

xxxXXXxxx

Setelah sarapan, kedua mertua dan adik iparnya sudah pergi entah kemana, dan tinggallah dirinya dengan suaminya. Tapi Kazunari merasa bosan. Apalagi ketika sosok itu duduk menyandar pada sofa ruang keluarga dengan buku di tangannya, tidak bisakah Midorima Shintarou hanya menaruh perhatian padanya?

Ide jahil muncul, ingin mengerjai suaminya yang seorang dokter. Ia ingin lihat bagaimana reaksi Shintarou kalau tiba-tiba saja Kazunari berakting seperti akan melahirkan? Oh, Kazunari benar-benar ingin lihat reaksinya.

Maka ketika tadi ia sedang berjalan mondar-mandir tak tentu arah tapi yakin Shintarou terus mengawasinya, ia tiba-tiba membungkuk -berpegangan pada meja buffet terdekat. Mengaduh dengan satu tangannya lagi memegang bagian perut.

Ketika dirasanya pandangan Shintarou padanya sambil memasang wajah heran, ia mulai mengaduh lebih keras.

“Ugh… a-aduh… ittai… S-shin-chan, t-tolong…” dengan efek menjatuhkan satu pajangan terdekat hingga pecah, dan telinga dokter tampannya itu menangkap sang suara, Kazunari bisa melihat Shintarou yang langsung melemparkan buku di tangannya dan berlari secepat kilat ke arah ia berada.

“Kazunari! Kau kenapa? Mana yang sakit? Kau mau melahirkan? Kazunari jawab aku, hei!” bahkan Kazunari tak mendengar akses khusus suaminya itu. Terlalu fokus memandangi wajah panik sang suami, Kazunari sampai lupa merespon. Dan tak ada lagi raut kesakitan di wajahnya. Hal tersebut membuat pemuda hijau itu curiga. “Oi, Kazunari. K-kenapa kau diam? Jangan bilang kau… mengerjaiku?”

“Pfftt…” Kazunari langsung menatap tawa melihat ekspresi pongo suaminya. Dan hal itu menimbulkan kedutan kesal di pelipis Midorima.

“Ka-zu-na-ri…”

“Hahaha, oke, Shin-chan, maaf. Habis-pffft, Shin-chan keasikan baca buku terus bukannya menemaniku. Maaaaaaaf,” Kazunari menangkup kedua tangannya di depan wajah. Sambil diseret oleh suaminya ke arah sofa, rengekan Kazunari tak berhenti. “Shin-chaaaan, aku bosan dan kesepian. Tapi Shin-chan sibuk sendiri. Makanyaaaa…”

“Tapi tidak perlu pakai cara itu, kan, nodayo? Bikin panik saja,” balas Shintarou cepat.

Kazunari langsung nyengir mendengarnya. “Habiiiis, kepengen juga lihat reaksi Shin-chan, sih.”

Shintarou sontak mengapit kedua pipi Kazunari dengan jari telunjuk dan jempol di masing-masing tangan. “Tidak lucu. Sekali lagi melakukannya, kupaksa kau melahirkan saat ini juga.”

“Iya, Midorima-sensei!”

Tapi percakapan itu tiba-tiba terputus dan di layar ponsel Shintarou, muncul ID Akashi Seijuurou, kawan lamanya. Insting dokternya langsung membuat Midorima Shintarou menjawab panggilan tersebut.

Saat akan menyapa, yang menyapa indera pendengarannya lebih bikin panik lagi.

[“Shintarou! Aku mau kau siap di rumah sakit sekarang. Tetsuya sepertinya akan melahirkan. Kuberi waktu 5 menit untuk kau bersiap-siap!“]

Dan suara itu cukup keras untuk didengar oleh Midorima Shintarou, maupun Midorima Kazunari.

xxxXXXxxx

Dalam perjalanan ke rumah sakit, Midorima Kazunari yang malah ikut-ikutan panik langsung menghubungi teman-temannya yang lain mengenai kabar yang tadi diterimanya. Sekalipun tadi ia dipaksa menunggu di rumah dengan jaminan ibunya akan ada dalam beberapa menit tak membuat Kazunari mau menuruti.

Ia langsung ikut masuk ke dalam mobil Midorima Shintarou menuju rumah sakit keluarganya.

Dan sepertinya, dengan adanya Kazunari di sampingnya, Shintarou tak memiliki kesempatan untuk ngebut. Jadilah, ia sudah sangat siap kalau-kalau saat sampai ada gunting yang akan menyangsang tepat di jantungnya.

Tunggu. Terlalu cepat. Akashi membutuhkanmu untuk membantu persalinan istrinya, Midorima-san. Mari pending kematianmu sampai anak kembar keluarga kecil putra tunggal keluarga Akashi itu lahir.

.
.
.

“Midorima Shintarou! Kau SANGAT terlambat!” Akashi Seijuurou menodongkan guntingnya pada Midorima. Wajah keduanya memerah karena yang satu panik, yang satunya lagi panik juga tapi plus kehabisan napas karena berlari.

Saat akan menjawab, yang sebenarnya hanya akan mengantarkannya pada kematian, suara Kazunari yang bagai melodi surga menyelamatkannya dengan sosok hamil itu di dorong di atas kursi roda oleh seorang suster. “Shin-chan! Jangan meninggalkanku begitu, dong!”

Shintarou langsung menjawabnya. “Kan sudah kubilang tunggu di rumah, nodayo.”

“Tidak mau! Aku mau jadi orang yang walau bukan pertama melihat bayi Tet-chan.”

“Sesukamu lah, nodayo. Jadi, Akashi, kalau kau mempersilahkan biarkan aku masuk ruangan itu, nanodayo.”

Daritadi, Shintarou! Cepat!”

Midorima Shintarou langsung bergerak hampir memasuki ruangan, tapi mendapati Akashi Seijuurou di sampingnya sontak membuatnya berhenti. Teman-teman mereka yang lain, pasangan Daiki-Ryouta dan Atsushi-Tatsuya jug Momoi yang ada hanya menonton, walau dalam hati komat-kamit untuk keselamatan sahabat serta bayi kembarnya.

“Kau mau ngapain, nodayo?” tanya Shintarou pada Akashi.

“Masuk. Menemani Tetsuya.”

“Tidak perlu. Dia tidak akan melahirkan normal, Akashi. Jadi percuma sa-”

Sret!-kibasan angin gunting langsung menyapanya. “Aku. Ikut. Ke. Dalam. Midorima. Sensei.”

“S-sesukamu, n-nanodayo.”

Kami, Midorima Shintarou berharap masih hidup setelah ini.

Di luar bangunan bercat putih di mana banyak orang berlalu-lalang, angin di penghujung musim semi berhembus. Menerbangkan semua doa yang ada, menghanyutkan semua asa yang tercipta. Dalam setiap hela napas mereka yang mengenal Akashi Tetsuya, mereka berdoa. Deru angin mengiringi setiap baris kata yang terucap, dan juga dengan suara kaki yang berbondong-bondong memasuki lobby rumah sakit mencari tempat si pemilik nama Akashi Tetsuya berada.

Mereka ingin ada di sana, ingin ikut memberikan kekuatan dan doa untuk sahabat, anak, dan menantu mereka yang akan memerangi antara hidup dan mati bertajuk proses melahirkan -walau bukan dengan cara normal.

.
.
.
Tbc
.
.
.

Author’s note :
Astagay. Lama banget saya ga apdet masyaoloh maaf banget. Saya kena WB -lagi. Dan-dan-dan chapter ini apa banget, semoga ga mengecewakan ya:)

Anggap aja ini saya lagi ngasih kado ke diri sendiri dengan apdet ini ff. Happy bornday to me, haha😄

Btw, wanna review, minna?

Thank you~

Signed,
Umu

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s