Sebastian?


Sebastian?

midocover-2382

Midorima Shintarou X Takao Kazunari

Shutoku’s team basketball

I owned the story but not for character.

They are belong to Fujimaki Tadatoshi

Romance, Fluffy, Humor!Failed

BoysLove, Shonen-ai content. Nista. OOCness.

Summary :

Terkadang, butuh banyak usaha untuk bisa bersama.

Tapi jika tanpa sadar benang merah itu terhubung, dan si pemilik tak mengetahuinya.

Bagaimana cara mereka untuk sadar?

Haruskah satu di antara mereka memulai duluan?

“Kami itu hanya Sebastian, senpai.”

“Yakin hanya sebastian?”

Ciyus loh? Miapah?”

Ciyus banget malah. Miowoh senpai. Miayam atau mikuah sekalian boyeh deh.”

Don’t like unread ya, guys.

My first MidoTaka solo fiction(?)

Enjoy and review ya~

.

.

.

A MidoTaka Fanfiction

Sebastian?

by Umu Humairo Cho

.

.

.

Di saat kita mencintai seseorang, rasanya kita hanya ingin terus bersamanya. Entah itu dalam keadaan sedih ataupun senang. Berada di sampingnya pun sudah lebih dari cukup untuk membuat kita bahagia sekalipun terkadang keberadaan kita menyebalkan untuknya. Hanya saja, melihatnya salah tingkah karena lelucon yang kita berikan, rasanya… menyenangkan, bukan? Seolah-olah, kita ingin memiliki seluruh ekspresi yang mungkin akan ditunjukkan sosok itu.

 

Ya, itulah yang dirasakan oleh Takao Kazunari.

 

Berada di samping Midorima Shintarou sebagai partner basket sudah lebih dari cukup untuknya. Biar hanya dia yang tahu bahwa ia menyimpan rasa. Ia tidak ingin jika sosok itu tahu, pemuda berambut hijau itu akan menjauhinya.

 

Takao tak sanggup membayangkan hal tersebut.

 

Mereka dekat, orang-orang tahu itu. Mereka selalu ke mana-mana berdua. Seolah mereka benar-benar terikat. Semua orang mengetahuinya, hanya saja mereka tidak tahu jika keduanya sama-sama menyimpan rasa.

 

Hanya saja, mereka semua tidak tahu jika sebenarnya masing-masing dari mereka selalu mencari cara supaya mereka bisa bersama. Lebih dari seorang teman. Walau terkadang senpai di tim basket mereka selalu menggoda kedekatan mereka, tetapi pada kenyataannya, status mereka memang hanya teman, kan? Iya kan?

.

.

.

Hari itu jam belajar sudah selesai terlebih dulu dari biasanya. Guru-guru akan mengadakan rapat kenaikan kelas. Setelah pertandingan winter cup yang lalu, tim basket Shutoku semakin berusaha keras untuk maju, supaya mereka lebih kuat dan bisa menjadi juara turnamen yang akan datang.

 

Takao Kazunari yang melihat partner hijaunya sedang membereskan barang-barangnya, dengan lucky item yang terus dibawanya, langsung menghampiri sosok Midorima kemudian menepuk pundak teman setimnya itu.

 

“Yo~ Shin-chan. Ayo kita langsung ke gym! Bagaimana kalau main one-on-one?”

 

Midorima menghela napas mendengar betapa cerianya Takao Kazunari. “Tidak mau, nanodayo.”

 

Moouuuu, kenapa, Shin-chan~? Mau ya? Ya? Ya?” desak Takao menempeli Midorima.

 

Urat kekesalan Midorima muncul. “Berisik, nanodayo. Sekali tidak mau ya tidak mau. Dan berhenti menempeliku seperti itu-nodayo, Bakao,” balasnya sambil membetulkan letak kacamatanya.

 

Takao yang mendengar hal itu semakin merapat ke arah Midorima, menggodanya. “Ga apa-apa dong, Shin-chan~ toh semua orang tahu kita dekat~ Oke-oke saja kan kalau ada gosip tentang kita? Hohoho.”

 

Midorima langsung menjitak kepala Takao. “Jangan seenaknya-nodayo, Bakao.”

 

Mou. Sakit, Shin-chan~ kau mau kulaporkan ke komnas HAM gara-gara memukuliku terus?”

 

Tsk. Salahmu sendiri menempel padaku terus, nanodayo.”

 

“Ih, ga apa-apa dong! Abisnya Shin-chan hangat sih.”

 

Midorima makin makan hati. “Menjauh, nanodayo. Atau aku akan melemparmu ke ring basket dari sini, nanodayo.”

 

“Whoaaa~ Shin-chan sugoiii~ bisa melakukan ituuu~?” bukannya takut, Takao malah memasang tampang ‘sumpah-kau-bisa-melakukannya-Shin-chan?’ dan dibalaskan pelototan Midorima yang detik setelahnya kembali mencoba melepaskan Takao darinya.

 

Pasangan yang aneh ya? Sekalipun kelihatannya mereka seperti sedang bertengkar, tapi siapa yang tahu jika jantung keduanya berdegup di luar batas normal?

.

.

.

Bunyi decit sepatu menghiasi gym Shutoku. Masing-masing ada yang melatih shootnya, passnya, dribblenya dan lain-lain. Otsubo selaku kapten pun sesekali mengawasi anggota timnya dan berusaha menyemangati mereka.

 

Tepat ketika bunyi peluit pelatih terdengar, mereka istirahat sejenak dari latihan itu.

 

Takao langsung duduk di bangku panjang dan meminum air mineral yang ia miliki. Disusul Miyaji, Otsubo dan Kimura kemudian. Midorima tak terlihat di manapun, mungkin sedang ke toilet.

 

Miyaji mengelap keringatnya yang mengucur bak air terjun, ia kemudian melirik ke arah Takao lalu melihat sekeliling, seperti mencari sesuatu (atau seseorang).

 

Sebelum sempat bertanya pada pemuda raven itu, suara Otsubo terdengar. “Oi, Takao. Kau dan Midorima—ada hubungan special kan?”

 

Deg!

 

“Uhuk!” Takao langsung terbatuk, kemudian menatap sebal senpainya dan menyalahkannya. “Tuh kan gara-gara kapten aku jadi tersedak. Lagian kok tiba-tiba nanya begitu? Kenapaaa? Naksir aku yaaa? OH! Atau jangan-jangan naksir Shin-chan? Oh my God sun! Oh my my my!!! Kapten—“

 

DAK!

 

Saking kesalnya, Otsubo menggeplak kepala raven belah tengah itu.

 

Kagak, baka. Siapa juga yang suka. Orang cuma nanya, soalnya kalian kan dekat banget. Ya ga, Miyaji, Kimura?”

 

“Hooh tuh bener ngedh,” Miyaji setuju. Kimura di samping Otsubo manggut-manggut.

 

Beberapa detik berlalu Takao hanya terdiam, lalu membalas. “Kami tuh hanya Sebastian, kapten, senpai.”

 

“Hah?” koor ketiganya.

 

“Iya, kami hanya Sebastian, kok.”

 

Otsubo, Miyaji dan Kimura langsung saling pandang, kemudian tiba-tiba muncul ingatan kedekatan kedua kouhainya itu. Yang sering berantem, tapi selalu bersama. Yang suka saling maki, tapi nantinya ketawa-tawa. Yang suka dateng latihan bersama dengan kendaraan cinta, terus pulangnya berdua. Yang suka digosipin sama anak-anak Shutoku, tapi masa bodo. Masa sih mereka cuma Sebastian?

 

“Yakin hanya Sebastian?” Otsubo meyakinkan sekali lagi.

 

“Iya kapten~” Takao mengiyakan.

 

Ciyus loh? Miapah?” tanya Miyaji lagi salah gaul. Masih tak yakin sama pendengarannya. Apa ini anak ditolak sama Midorima? Setau Miyaji…

 

Ciyus banget malah. Miowoh, senpai. Miayam atau mikuah boyeh deh.”

 

Plak!

 

Geplakan kedua Takao dapatkan dari Miyaji.

 

“Asli sumfah ga yakin. Perlu nanas buat ngeyakinin diri sendiri ga?” Kimura bersuara pada akhirnya.

 

Takao mangap. “Apa hubungannya nanas dengan meyakinkan diri sendiri, senpai?” tanyanya tak tahu.

 

“Ya emang ga ada. Tapi kan kali aja berhasil.”

 

“Etapi yakin Takao? Serius demi apalah kalian cuma Sebastian?” Otsubo lagi-lagi bertanya.

 

“Iya senpai seriuuus. Dua rius, tiga rius, sagitarius –eh.” Takao kelepasan nyebut zodiak bintang entah punya siapa.

 

“Demi apah? Ga percaya ah ga percaya.”

 

“Ya gapapa sih kalo ga percaya.”

 

“Masa cuma Sebastian? Kasian amat.”

 

“Hahaha, begitu ya? Iya ya kasian amat,” Takao tertawa miris. Menertawai dirinya sendiri.

 

“Tapi ngomong-ngomong Sebastian itu apa sih? Siapa? Kok daritadi diomongin? Midorima suka sama Sebastian?” pertanyaan bodoh Miyaji membuat yang lainnya kejengkang.

 

“MIYAJI KAU DARITADI MASYAOLOH-__-“ Otsubo teriak ngamuk. Siap-siap hampir terjun menyerang Miyaji dan menghadiahinya nanas attack (karena Otsubo tahu anggota timnya yang ini suka sekali nanas).

 

Takao hanya tertawa melihatnya. Menyaksikan penyiksaan yang diterima kakak kelasnya, Miyaji. Ia bahkan tidak tahu jika Midorima Shintarou sudah kembali ke gym itu.

 

“Sudah kan menyiksaku? Jadi apa?” Miyaji bersuara.

 

“Kau yang udah salah gaul begitu masih nanya. Takao jelaskan.”

 

“Eh?” lamunan Takao yang terus mencari sosok Midorima buyar. “Itu … artinya sebatas teman tanpa kepastian. Loh kok rasanya aku ngarep gimana gitu ya? Tapi dalam kasusku ya artinya itu sebatas rekan dalam latian aja lah. Biar ga ngenes-ngenes banget kedengerannya.”

 

“Baru sadar? Kau kan terkenal maso, Takao. Yaelah, masih aja nyangkal. Bilang aja emang ngarep kenapa sih? Biar ga ngenes terus.”

 

“Ih, senpai jahat bener,” Takao manyun, sambil mengkeret di tempatnya. Syedih, dikatain maso dengan jelas. Yang pada kenyataan memang iya kan?

 

Puk!

 

Miyaji menepuk kepala adik kelasnya itu. “Yaudahlah, bener tuh kata Otsubo. Terus, tembak aja. Kalau ditolak, gue siap nampung kok!”

 

“Eh?” Takao mangap –lagi.

 

“WOI MIYAJI MODUS AMAT!” suara dahsyat Kimura menggema. Kemudian melempar nanas ke arah pemuda bersurai emas itu biar yang dilempari nanas senang.

 

“EH SANTAI DONG! JADI ORANG ITU HARUS BISA LIAT DAN MEMANFAATKAN OPPOTURNITY!”

 

“JANGAN MODUSIN ANAK ORANG! KASIAN DIA GA TAU APA-APA!”

 

SABODO AMAT! GUE PAN SENPAI YANG BAIK. KAN KASIAN KALAU DIA SAKIT HATI KAGAK ADA YANG NAMPUNG!”

 

“SET! MAKIN NYOLOT AJA! KALO ADA YANG DENGER ABIS LOH MIYAJI.”

 

“ALAH EMANG DIA BERANI SAMA GUE? DIANCEM LEMPAR NANAS AJA TAKUT!”

 

“KAPAN? PITNAH AJA KERJAAN LU!”

 

“Dalem mimpi gue si…”

 

“MIYAJIIIII~”

 

“KALIAN SEMUA BERISIK! LATIHAN DIMULAI LAGI! SEKARANG!”

 

“BAIK, PELATIH!”

 

Dan sejujurnya, percakapan yang berakhir absurd itu terus didengarkan oleh Midorima membuatnya kepikiran akan sesuatu. Tetapi kemudian pemuda berambut hijau tersebut ikut bergabung dengan yang lainnya. Meninggalkan Takao, yang masih mencerna segalanya.

 

Kok tetep ga bisa nangkep apa-apa sih?, batin pemuda Hawk Eyes itu.

.

.

.

Takao duduk termenung di atap sekolah. Matanya menerawang jauh ke dalam cakrawala. Berkedip sesekali, dan kemudian kembali teringat percakapan lalu dengan para kakak kelasnya. Percakapan atau pertanyaan yang berujung kenistaan?

 

Entahlah.

 

Tanpa sadar, tanpa tahu kenapa –Takao tersenyum miris. Satu tangan terangkat, menyentuh dadanya yang terus berdebar kala memikirkan orang itu. Ya, orang itu. Mantan Shooter nomor satu Kiseki no Sedai yang itu. Iya, Midorima Shintarou! Masa Aomine Daiki sih? Mana sudi Takao maso-maso ke dia. Kalau Kise mah mungkin. Oke abaikan.

 

Takao tertawa lirih dalam hatinya. Harus berapa lama ia menyimpan perasaan ini –yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu kapan datangnya. Entah kapan perasaan itu hadir di dalam hatinya? Mungkin sejak ia dikalahkan saat pertandingan sewaktu SMP dulu? Who knows? Takao sendiri tak mengingatnya. Tapi jika ia, sinting benar dirinya yang jatuh cinta pada sosok yang mengalahkannya dan membuatnya pernah membenci basket.

 

Takao jadi garuk-garuk kepala sendiri.

 

Sampai-sampai ia mengoceh sendirian. “Memikirkannya membuatku gila. Dia itu siapa sih sebenarnya? Aneh.”

 

Hening. Hanya suara angin yang berhembus menggema memecah sepi. Tapi kemudian suara Takao terdengar lagi. “Kenapa orang sepertinya bisa menarik orang lain sejauh ini ke dalam jurang kharismanya? Eh, memang akunya aja yang tertarik. Orang macem dia mana peka bikin orang tertarik? Ish kok jadi ga nyambung?”

 

Takao misuh-misuh sendiri. Tak sadar jikalau curhatannya kepada angin (atau langit) itu ada yang dengar.

 

Sampai teriakan—“AAARRGGHHH!! HUSH HUSH?!! PERGI SANA?!! PERGI DARI KEPALAKU!”—terdengar nyaring sehingga membuat orang itu mengernyitkan dahi.

 

Takao lalu berbalik berniat pergi tapi ia terpaku sebentar sebelum membuka suaranya lagi. “S-shin-chan? S-sejak kapan di situ?”

 

“Baru datang ketika kau teriak stress begitu, nanodayo,” jawab Midorima santai dan berjalan mendekati pagar pembatas.

 

Entah Midorima sadar atau tidak, Takao menghela napas lega. Dalam hati komat-kamit berdoa semoga sosok hijau itu tak mendengar kegalauannya.

 

“Hmm, Shin-chan ngapain ke sini? Kan jam istirahat hampir selesai?”

 

“Memangnya tempat ini punyamu, nanodayo?” Midorima menjawab santai dan bersandar pada pagar pembatas, menghadap Takao. Tapi kemudian ia hanya diam.

 

Suasana hening yang meraja itu seakan membuat keduanya canggung. Takao tidak tahu kenapa tiba-tiba Midorima Shintarou ada di sini. Dan Midorima sendiri tidak yakin kenapa dia memutuskan untuk mencari Takao Kazunari yang sedari tadi tak dilihatnya. Adakah yang bisa menjelaskan alasan mereka satu sama lain?

 

Apakah Midorima akhirnya memilih untuk maju selangkah?

 

Midorima memang tidak menuntut jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan barusan. Karena ia merasa tidak perlu. Tapi kenapa Takao yang biasanya berisik bisa sediam ini?

 

Midorima ingin bertanya. Tapi kenapa ia harus bertanya?  Ah, karena kau peduli kan?

 

“Kau ini kenapa, nanodayo? Wajahmu seperti orang galau. B-bukan berarti aku sering memperhatikanmu, nanodayo,” ujarnya kemudian.

 

Takao yang sejak tadi diam langsung memandang sosok hijau itu. Berjalan ke arah pembatas pagar dan ikut bersandar di samping Midorima. “Heee, Shin-chan itu tetap saja tsundere. Aku kenapa yaaa? Tidak apa-apa sih. Dan aku tidak galau! Shin-chan sok tau huuu~” Takao menjawab sambil menyoraki pura-pura partner basketnya itu.

 

Bukannya Midorima ingin bersikap tidak tahu apa-apa, hanya saja ia ragu. Haruskah… ia membahas tentang pembicaraan Takao beserta para senpai?

 

Mungkin.

 

“Oi, Bakao,” panggil Midorima.

 

Pemuda raven yang sedang menatap langit itu langsung menjawab. “Apa Shin-chan?”

 

Midorima diam sebentar. “Sebastian itu apa, nanodayo?”

 

“Apa?” respon Takao refleks.

 

“Sebastian, nanodayo. Nama orang atau apa?”

 

“Hah? Kok… Shin-chan tiba-tiba nanya begitu? T-tahu dari mana?”

 

“Aku dengar pembicaraan orang, nanodayo. B-bukan berarti aku kepo mau tahu apa yang mereka bicarakan, nanodayo.”

 

Jantung Takao berdebar super kencang. Ia melirik teman setimnya itu. “B-bukan pembicaranku dengan para senpai, kan?”

 

Midorima tidak langsung menjawab. Ia lalu menghadapkan tubuhnya ke arah Takao yang masih bersandar di pagar pembatas atap sekolah. Takao tak mampu bergerak.

 

Ah, Kami-sama… semoga memang bukan pembicaraanku dengan para senpaiiiii!’ doa Takao dalam hati. Ia tidak berani melirik ke arah Midorima di sampingnya.

 

Melihat gelagat Takao yang begitu tegang, tanpa sadar Midorima tersenyum kecil. Mungkin memang sudah waktunya ia jujur, walau harus mengesampingkan sifat tsunderenya itu.

 

“Takao,” panggil Midorima lagi. Takao tidak menjawab. Ingin menoleh juga rasanya berat.

 

E-etto, Shin-chan—“

 

“Sebaiknya kau mulai memikirkan arti singkatan baru dari kata Sebastian itu, nanodayo.”

 

“Eh?” Takao bingung, Ia langsung menghadap sosok hijau itu. “Memangnya kenap—“

 

Tapi pertanyaannya terpotong ketika Midorima Shintarou menunduk dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Takao dengan lembut. Pemuda hijau itu menciptakan ciuman manis untuk mereka berdua.

 

Takao yang masih kaget hanya bisa terpaku tanpa tahu harus apa. Selang beberapa menit dan ketika dirasa lidah Midorima mulai membelai celah bibirnya, sontak ia membuka mulutnya dan membiarkan lidah orang yang disukainya itu menginvasi rongga mulutnya.

 

Takao sadar sepenuhnya apa yang kini mereka lakukan. Tangannya pun bergerak mencengkeram baju bagian dada Midorima yang dibalaskan pelukan erat pada pinggangnya. Pun hal itu justru membuat Takao malah melingkarkan tangannya erat di punggung mantan Shooter nomor 1 Kiseki no Sedai itu.

 

Di saat kebutuhan akan oksigen semakin nyata, keduanya saling memisahkan diri. Dan Takao lah, orang pertama yang membuka mata. Ia lalu mendongak melihat seseorang yang baru saja menciumnya.

 

“Shin-ch—“

 

“Aku tidak akan pernah membiarkan Miyaji senpai menampungmu, nanodayo. Enak saja. T-tapi bukan berarti aku ingin sekali menerimamu. Lagipula—“

 

“Shin-chan!” Takao menangkup kedua pipi Midorima dan memaksa mata hijau itu bertemu dengan mata kelabunya. Midorima memandang lurus pemuda yang lebih kecil darinya itu.

 

“Apa, nanodayo?” jawab Midorima santai. Walau sejujurnya mereka saling berdebar.

 

“Tadi itu… apa?” tanya Takao oon. Midorima Shintarou memutar bola matanya menghadapi kebodohan Takao.

 

“Tadi itu namanya ciuman, nanodayo.”

 

“Aku… tahu. Tapi Shin-chan…”

 

“Mau kuulangi lagi supaya kau mengerti, nanodayo? Tapi bukan berarti aku sangat ingin menciummu, nanodayo.”

 

Tsk…” Takao mendengus mendengar ke-tsundere-an orang di depannya ini. Tetapi ia juga tidak bisa melakukan apapun ketika wajah Midorima kembali mendekatinya, memiringkan kepalanya berusaha untuk menggapai kembali bibirnya.

 

Tapi sebelum itu terjadi, suara bel membuat Midorima sontak menjauh. “Sudah masuk, nanodayo. Ayo ke kelas,” ajak Midorima tanpa memperhatikan ekspresi wajah Takao. Pemuda tinggi itu jalan lebih dulu dan memasukkan tangannya ke dalam kantung, sesaat—ia ingat kalau lucky itemnya aman di kantung celananya.

 

Ia lalu menoleh ke belakang ketika tak mendengar satu langkah kaki pun. Takao, masih berdiri di sana tengah memegangi bibirnya. “Oi, Bakao. Sedang apa kau di sana, nanodayo? Kutinggal kalau kau tak beranjak.”

 

Takao langsung tersadar dan menatap Midorima. Ia lalu menyusul dan berdiri di samping sosok tinggi itu. Midorima langsung saja menggenggam tangannya lalu menariknya menuju kelas mereka.

 

Sepanjang perjalanan, sejujurnya banyak yang ingin Takao tanyakan. Apa dia harus benar-benar bertanya?

 

“Shin-chaaan?”

 

“Apa, nodayo?”

 

“Shin-chan… mendengar pembicaraanku dengan senpai-tachi ya?”

 

Midorima tidak langsung menjawab. Tapi kemudian ia mengangguk. “Begitulah. Dan lagi… sebenarnya aku mendengarmu dari awal tadi, nanodayo.”

 

“Oooh—APA?” Takao langsung berhenti yang sontak membuat Midorima juga berhenti. “Sumpah ih Shin-chan? Kau mendengarku sejak awal? Shin-chaaaaan~” Takao malu setengah mati. “Kenapa tadi bohong?”

 

Midorima hanya mengangkat bahu. Kemudian kembali membawa langkah mereka ke arah kelas sambil berucap. “Memang maunya bagaimana, nanodayo? Tadi saja aku sudah berbohong, kau kelihatan gelisah begitu. Bagaimana kalau aku jujur, nanodayo?”

 

“Ya tapi kan…”

 

“Takao,” kali ini Midorima yang menghentikan langkahnya, tepat di depan pintu kelas karena mereka memang sudah santai. “Dengarkan aku karena aku hanya m-mengucapkannya sekali, nanodayo,” Midorima menjeda lagi. “Yang tadi itu… aku melakukannya karena aku… menyukaimu. Jadi… jangan galau lagi, mengerti?”

 

Takao mengerjap beberapa kali, sampai sosok tinggi di depannya itu menepuk pelan pipinya.

 

“Sadar, oi, Bakao. Kau ini kenapa malah bengong, nanodayo. Aku tidak akan sudi mengulangnya lagi,” kata Midorima sambil melipat tangannya di dada.

 

Takao yang akhirnya sadar tak lama kemudian tersenyum. “Aku dengar kok, Shin-chan. Hehe, jadi sekarang kita pacaran dong, Shin-chan?”

 

“Kapan aku bilang begitu, nanodayo? Jangan geer dulu. Bukan berarti aku mau pacaran dengan—“

 

“Terus aja tsundere, Shin-chan,” Takao memutar bola matanya bosan. “Kan kita sama-sama suka. Jadi pacaran dong?”

 

Midorima membenarkan letak kacamatanya. “Ya sudahlah kalau begitu, nanodayo.”

 

“Hehehe gitu dong, Shin-chan!”

 

“Hm,” Midorima hanya merespon sedikit. Menurutnya, tindakan lebih berguna sekarang. Ketika ia membuka lipatan tangannya, pemuda tinggi itu sekali lagi menunduk dan mendaratkan ciuman di bibir pacar barunya itu.

 

Suki dayo, Shin-chan.”

 

“Hm, ore mo, nodayo,” tak peduli ada di mana. Sekali lagi mereka menyatukan bibir masing-masing. Sampai sebuah dehaman membuat keduanya memisahkan diri.

 

“Kelas sudah dimulai, Midorima, Takao. Simpan dulu lovey-dovey kalian. Masuk kelas sekarang,” kata orang itu yang ternyata ada sensei di pelajaran saat itu.

 

Keduanya saling pandang dan juga saling senyum. Walau Midorima hanya tersenyum kecil, hal itu membuat Takao merasa sangat senang.

.

.

.

END

.

.

.

A/N : Hola. Ketemu lagi sama saya. Ini fic MidoTaka perdana. Niatnya mau dibikin humor tapi lagi-lagi failed. Ya sudahlah.

 

Boleh minta reviewnya, minna?

 

Btw ada omakenya sedikit, hehe.

 

Signed,

Umu Humairo Cho

.

.

.

Omake

.

.

.

Di gymnasium saat latihan berikutnya.

 

Otsubo, Miyaji dan Kimura tanpa sadar mencari dua sosok kouhainya yang sampai sekarang belum kelihatan. Lalu ketika pintu ruang gym yang mereka pakai latihan sekarang terbuka dan terlihatnya dua orang yang dicari, ketiganya sontak merapat, mulai bergosip tentang keduanya.

 

Mereka bisa melihat Midorima dan Takao yang jalan berdempetan. Lebih dempet dari sebelum-sebelumnya. Juga jangan lupakan senyum kecil yang sangat tak kelihatan jika tidak memperhatikannya dengan teliti hadir di bibir Midorima.

 

Ketika keduanya mendekat ke arah mereka bertiga, pandangan tiga orang anggota kelas 3 yang ngotot untuk mau tetap ikut latihan itu masih mengikuti Midorima maupun Takao.

 

Merasa diperhatikan, Takao melihat ke arah para senpainya dan bertanya. “Senpai ada apa?”

 

Midorima sendiri memilih menjauh sedikit. Tapi ia diam-diam menunggu jawaban tiga senpainya.

 

“Kalian kok tadi lebih dempet sih? Mencurigakan,” komentar Miyaji yang diangguki oleh Otsubo dan Kimura.

 

Takao melirik Midorima yang hanya mengangkat bahu lalu berpaling. “Memangnya ga boleh senpai?”

 

“Bukannya begitu, sih. Tapi kalau sedempet dan hampir pegangan tangan gitu, plus, Midorima hampir senyum kau masih menyebutnya hanya Sebastian kami beneran ga percaya deh,” kata Otsubo kemudian.

 

Takao hanya tersenyum lalu menaruh kedua tangannya di belakang kepalanya. “Oh itu. Memang masih Sebastian kok. Tapi artinya sudah beda loh.”

 

“Ha? Maksudnya?” ketiga orang itu penasaran. Takao masih cengengesan.

 

“Iya, Sebastian. Artinya itu untuk saat ini itu sebatas pacar dengan kepastian, hehehe.”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

Takao yang tak mendapat respon itu hanya berjalan cuek menjauh dan menghampiri Midorima. Tapi kemudian teriakan ketiga senpainya sontak membuatnya melihat ke arah mereka.

 

“EEEEEEEEH? KALIAN UDAH JADIAN? PEJEEEEEEEEEEEEEEEE!!!” selagi ketiga orang itu terus berteriak, Takao mendongak menatap pacarnya.

 

“Gimana, Shin-chan? Cuma itu arti singkatan yang kupikirkan sih,” ujar Takao yang Midorima balaskan angkatan bahu. Ia hanya mendengus ketika tiga senpainya masih berteriak padanya.

 

“MIDORIMA POKOKNYA PEJE WOY PEJE!”

 

“SETUJU! PULANG LATIHAN HARUS NRAKTIR LAH!”

 

“YUHUUU PEJEEEE!”

 

Midorima makin mendengus lalu lagi-lagi memilih mengabaikan mereka kemudian beralih mengambil pinggang Takao, dan mendaratkan kecupan lagi di bibirnya.

 

Sontak kelakuannya mendapat teriakan lagi. Kali ini juga dari pelatih mereka.

 

“WOI KENAPA MALAH CIUMAN?”

 

HENPON MANA HENPON?”

 

“ASDGHJKL!”
“OTSUBO, MIYAJI, KIMURA STOP BERTERIAK! MIDORIMA, TAKAO! JANGAN CIUMAN DI SINI, HEI! LATIHANNYA DI MULAI SEKARAAAAAAAANG!”

 

Hari itu, gymnasium Shutoku dipenuhi keributan yang diciptakan pemakainya. Yang mana membuat siapa saja yang mendengarnya menutup telinga karena suara mahadahsyat mereka.

 

Tapi hari itu juga, Takao tahu. Jika pada akhirnya… hubungannya dengan Midorima Shintarou bukanlah lagi sebatas teman. Tapi lebih dari itu. Ya, lebih dari teman dan yang pasti dia mendapat kepastian.

.

.

.

Really End

.

.

.

One thought on “Sebastian?

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s