The Pregnant Man ~Chapter 11-{Parents Visiting}


The Pregnant Man

10649783_523976901079505_8311178734409661069_n

by Umu Humairo Cho, 2015

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Pairing :

AkaKuro! MidoTaka! AoKise! MuraHimu!

Rating : T

Length : 11 of ?

Romance, Family, Fluffy, Humor-maybe?-

Yaoi, Boys Love, Shonen-ai content.

OOCness! MPreg!

Kalimat/kata-kata non-baku di saat tertentu.

DLDR, yo~ Enjoy dan tinggalkan jejak ya:)

.

.

.

A Kuroko no Basuke Fanfiction

The Pregnant Man chapter 11

Parents Visiting

Story by Umu Humairo Cho

.

.

.

Melewati hampir dua bulan waktu yang bagi Seijuurou terasa sangat normal –kembali, entah kenapa jadi membuatnya merindukan tingkah aneh sang istri. Usia kandungan yang sekarang menginjak bulan ke delapan itu, yang selama ini selalu menimbulkan hal-hal aneh benar-benar berhenti tepat ketika sebulan sesudah Tetsuya menghabiskan isi dompetnya dengan memborong seluruh perlengkapan bayi.

 

Kalau saja Seijuurou tahu Tetsuyanya akan seboros itu saat hamil, ia pasti dulu –saat bulan madu- tidak menghabiskan waktu sampai satu bulan dengan menelantarkan begitu saja perusahaannya. Seijuurou yakin waktu satu bulan itu bisa membuatnya menghasilkan uang yang banyak untuk persiapan seperti sekarang ini.

 

Mana dia tahu jika Akashi Tetsuya benar-benar sangat out of character saat mengandung anak kembar mereka?

Seijuurou jadi bertanya sendiri. Apa sebenarnya yang salah dengan cara pembuatan anak kembar mereka itu? Seijuurou ingin tahu kenapa sikap Tetsuya sebegini nistanya? Ya, tidak nista-nista amat sih, tetapi tetap saja. Harus berapa kali Seijuurou meyakinkan dirinya di setiap pagi hari ketika melihat sang istri sudah memakai kostum entah dari anime apa dengan senjata apa saja yang berganti setiap harinya. Kalau saja dirinya yang jenius itu tidak benar-benar sadar jika orang hamil wajar saja bersikap begitu, entah apa yang Seijuurou lakukan.

 

Sekali lagi diperhatikannya sikap sang istri yang entah kenapa sekarang ini lebih diam atau mungkin kembali mendekati sifat kuuderenya yang lama itu? Aneh. Barusan dirinya mengingat-ingat sikap Tetsuya yang out of character selama delapan bulan mengandung. Tetapi sekarang uke biru muda itu sangat diam (atau hanya perasaan Seijuurou saja?).

 

Seijuurou sih, hanya memperhatikan dalam diam sang istri yang sedang memasak sarapan mereka di Minggu pagi yang cerah itu. Walau sesekali bisa ia dengar gumaman tak jelas dari istri tercintanya.

 

Memasuki bulan ke delapan kehamilan Tetsuya, Seijuurou semakin sering mengontrol kantor dari rumah. Entah kenapa ia merasa berat meninggalkan uke tercintanya di rumah sendirian –walaupun para maid dan butler bertebaran- tetap saja bagi Seijuurou, Tetsuya akan aman selama dirinya ada di samping sosok hamil itu.

 

Larut dalam kenangan-kenangan pahit (dan –sangat- sedikit manis) Seijuurou selama delapan bulan, suara halus Tetsuya tiba-tiba menggema. “Ne, Sei-kun?”

 

“Hm?” sahutnya refleks sambil sesekali melirik koran di tangannya, kemudian istrinya yang masih asik memasak itu.

 

“Sebelum kau turun tadi, kaa-san, tou-san dan otou-sama menelpon. Mereka bilang akan berkunjung hari ini,” ujar Tetsuya lagi setelah mendengar respon sang suami.

 

Seijuurou layaknya bapak-bapak –ehem, maksudnya calon bapak- mengambil cangkir kopinya lalu menyesapnya sebentar sebelum menegakkan duduknya di kursi meja makan. Sedetik kemudian membalas ucapan istrinya. “Hari ini? Kapan? Tumben mereka berkunjung.”

 

Dua pertanyaan dengan satu pertanyaan retoris diakhiri dengan pernyataan itu didiamkan Tetsuya sebentar. Ia memfokuskan diri pada masakannya sebelum akhirnya menjawab suaminya. “Katanya sore ini akan tiba. Lagipula tidak salah kan kalau mereka mau menengok kita?”

 

Diam-diam Seijuurou mengiyakan Tetsuyanya itu. “Baiklah. Apa perlu kita makan malam di luar?” katanya kemudian yang dibalaskan langsung gelengan Akashi Tetsuya.

 

“Biar aku memasak saja.”

 

“Hm?” Seijuurou memandang cangkir yang isinya sudah habis. “Tidak, Tetsuya. Ingat, kan? Kandunganmu sudah memasuki bulan ke delapan. Saat ini saja rasanya aku ingin menarikmu duduk lalu menyuruh koki keluarga kita untuk meneruskan masakanmu.”

 

Tetsuya yang mendengar itu tersenyum kecil menanggapi. “Kau terlalu mengkhawatirkanku, Seijuurou-kun.”

 

“Salahkah?” Seijuurou bangkit dari duduknya lalu menghampiri Tetsuya kemudian memeluk hati-hati sang istri dari belakang. Tangannya mengelus lembut perut buncit orang tercintanya itu. “Apa kabar mereka? Rasanya walaupun aku terus bersamamu, aku melewatkan sesuatu.”

 

Tetsuya tersenyum mendengar nada kekhawatiran dan penasaran dalam kalimat suaminya. “Tidak salah. Hanya saja aku masih sanggup memasak. Dan lagi, rasanya tidak ada yang kau lewatkan. Bukankah semalam kau sudah mendengar sendiri tingkah si kembar walau masih pelan responnya?”

 

Seijuurou balas tersenyum mendengar jawaban istrinya. Melihat Tetsuya yang sedikit menengok ke arahnya ini, membuat Seijuurou mengecup kilat bibir yang sejak dulu selalu menjadi candu untuknya. Diusap lagi perut besar itu. “Tapi Shintarou bilang kau tidak boleh kelelahan, ingat?” satu tangannya membantu Tetsuya mengaduk kari di dalam panci. Satunya lagi tetap mengelus perut istrinya. Bibirnya mengecupi samping kepala Tetsuya. “Lagipula, rasanya aku tidak sabar ingin mendengar respon mereka lagi, yang lebih keras tapinya.”

 

Tetsuya terkekeh. “Mereka tumbuh dengan perlahan, Sei-kun. Tidak terasa juga sudah musim semi.”

 

“Kau terlalu banyak mengidam, Tetsuya. Musim semi sudah berlangsung selama dua bulan, kautahu?”

 

Tetsuya lagi-lagi terkekeh. “Aku tahu. Maafkan acara mengidamku yang keterlaluan, Seijuurou-kun,” Tetsuya setelah mematikan kompor berbalik menghadap suaminya, ia kemudian memberikan kecupan di bibir pemuda yang sangat dicintainya itu, yang dibalas dengan suka cita oleh pemuda tersebut.

 

Namun kemudian Seijuurou mengambil jarak di antara mereka. “Jadi, sarapanku sudah siap?” dikuasai rasa lapar, Seijuurou pun bertanya, mengabaikan keinginan terdalam dirinya untuk terus menanggapi kecupan pemuda biru langit itu, membuat Akashi Tetsuya tertawa pelan membalasnya.

 

“Tentu, Seijuurou-sama. Sarapan Anda akan siap sebentar lagi!”

 

Yah, dan pagi itu rasanya ingin Akashi Seijuurou miliki selama-lamanya.

.

.

.

Aomine Daiki menggeliat dalam tidur nyenyaknya. Tirai kamar sudah terbuka sejak tadi –jika ia menyadari. Dan ketika dirabanya tempat di sebelahnya berbaring, sudah kosong juga dingin, menandakan jika seseorang yang menempatinya sudah lama bangun.

 

Daiki mendudukkan dirinya kemudian melirik jam yang bergantung tepat di depan ranjang miliknya bersama sang istri –agak ke atas sedikit. Hampir pukul sembilan, pikirnya. Daiki tidak tahu jika ia benar-benar menikmati tidurnya kali ini.

 

Ia menghabiskan dua bulan bekerja mati-matian setelah insiden borong-perlengkapan-bayi dua bulan ke belakang, walau masih menyempati memenuhi kemauan Ryouta yang berhenti telak sebulan sesudah insiden itu, tetap saja. Aomine Daiki kadang misuh-misuh sendiri mengingatnya.

 

Terlebih saat itu juga ia berbohong pada orang kantornya bahwa istrinya akan melahirkan. Padahal mah hanya satu dari sekian banyak acara mengidam yang anti mainstream ciptaan Ryouta.

 

Bicara lagi soal istrinya, ke manakah gerangan istri seksi sang ganguro hitam ini? Sedang memasak sarapan kah? Mungkin saja. Mengingat ini hari Minggu dan Daiki juga libur, jadi pasti ia sedang memasak. Lalu apa hubungannya? Entahlah.

 

Pemuda berkulit tan itu pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebelumnya ia sempat berkaca sebentar, sedetik ia ingat kalau Ryouta pernah bilang ia bahkan seksi saat bangun tidur. Ketika diteliti ternyata benar, ia memang memancarkan aura keseksian yang di luar batas –orang gila eh orang normal maksudnya. Ya apapun itu. Ryouta tidak bohong saat mengatakan dirinya seksi.

 

Duh, sudahlah. Kenapa jadi membicarakan yang begini? Kita skip.

 

Hampir tigapuluh menit menyegarkan tubuh dengan air hangat yang Daiki sangat yakini sudah di siapkan oleh sang istri –yang pastinya lagi disiapkan beberapa menit sebelum dia bangun- membuatnya semakin mencari sosok kuning kesayangannya itu. Kira-kira pagi ini sarapan seperti apa ya yang Ryouta siapkan?

 

Dibawanya langkah kaki miliknya pelan-pelan namun pasti mencari penghuni lain singgasana mereka dan berhenti tepat di pintu dapur. Daiki bisa melihat sang istri yang sedang menata makanan di atas meja makan. Saat dirasa Ryouta ada sepasang mata yang memperhatikannya, menolehlah ia dan mendapati sang suami sudah sangat fresh dan tampan berdiri sambil bersender di sana.

 

Ohayou, Daikicchi. Sudah bangun rupanya-ssu,” sapanya yang membuat Aomine Daiki kembali mengambil langkah mendekat kemudian mengait pelan pinggang istrinya dan mendaratkan kecupan pagi di bibir yang dulu sangat hobi ngoceh itu (walau terkadang masih sampai sekarang).

 

“Kalau belum bangun aku tidak mungkin di sini, Ryouta,” balas Daiki kemudian melepas rangkulan tangannya di pinggang sang istri lalu mendudukkan pelan-pelan Ryouta di salah satu kursi meja makan. “Ini lumayan siang untuk  hari Minggu biasanya.”

 

Ryouta terkekeh menjawabnya. “Tidak apa-apa, kan? Daikicchi pasti sangat lelah bekerja terus-ssu. Tidak ada salahnya bangun siang sekali-kali-ssu.”

 

Daiki tersenyum mendengar itu. “Kau tahu itu.”

 

Ryouta mengangguk kemudian menyendokkan nasi beserta lauk-pauk ke piring sang suami. Kemudian suaranya kembali menggema. “Tadi kaacchi dan toucchi bilang akan berkunjung-ssu, Daikicchi!”

 

Hal itu membuat Daiki mengernyitkan alis. “Tumben? Kapan?”

 

Ryouta meletakkan piring yang sudah berisi makanan itu di depan suaminya. “Nanti sore. Katanya mereka ingin menengok anak, menantu serta calon cucunya ini-ssu!” balas Ryouta kemudian mengelus pelan perut buncitnya.

 

Sontak saja Aomine Daiki ikut melakukan hal yang sama. “Benar juga. Sudah tidak terasa. Kandunganmu makin besar saja, ya?”

 

Aomine Ryouta mengangguk semangat. “Dan dia tumbuh dengan sehat-ssu! Aku senang, Daikicchi!”

 

“Tentu saja. Jadi, haruskah nanti kita makan malam di luar?”

 

Ryouta cepat-cepat menggeleng. “Tidak usah, Daikicchi. Aku dan duo kaacchi sudah berencana untuk masak bersama-ssu.”

 

“Hm, sebaiknya kau menonton saja dan duduk.”

 

“Aku tidak apa-apa kok-ssu! Daikicchi jangan terlalu mengkhawatirkanku.”

 

Daiki mengusap pipi uke pirang itu. “Aku mengkhawatirkanmu dan si jabang bayi, Ryouta.”

 

“Aku tahuuu~ Aku akan berhati-hati kok-ssu. Aku janji, Daikicchi. Lagipula Daikicchi masih bisa memantauku kok-ssu.”

 

“Iya-iya, terserahmu. Jadi, sekarang kita bisa makan sarapannya?”

 

“Tentu-ssu!”

 

Dan rasanya, Aomine Daiki selalu berharap pagi seperti akan terus berpihak padanya.

.

.

.

Midorima Shintarou mengeringkan rambutnya seusai keluar dari kamar mandi dan melirik ke arah ranjang yang sekarang sudah sangat rapi. Alisnya bertaut bertanya-tanya, ke manakah istrinya? Seingat Shintarou saat ia mandi tadi, Kazunari masih tidur-tiduran sambil menyala-padamkan lampu di meja nakas tempat tidur. Tapi sekarang sosok itu sudah raib entah ke mana.

 

Namun Shintarou hanya mengangkat bahu kemudian mengingat bukan hanya dia yang tinggal di rumah itu, mungkin saja istrinya sekarang ini ada di dapur membantu adik dan ibunya memasak. Bisa saja kan?

 

Memutuskan untuk mengambil pakaian santai mengingat ini hari Minggu yang semoga saja tenang untuknya, yang jika dibandingkan dengan hari-hari absurd lain akibat sang istri, Shintarou berharap pagi ini akan benar-benar tenang.

 

Semoga saja.

 

Selesai mematut diri sebentar di depan kaca, Shintarou memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Dan ketika kakinya menginjak lantai satu rumah itu, bisa ia dengar suara berisik yang berasal dari dapur. Segera saja ia menuju tempat itu.

 

Berhenti tepat di depan pintu dapur, Shintarou bisa melihat tangan lihai sang istri ditemani adik perempuannya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Tapi ke mana ibu Shintarou? Tumben sosok wanita paruh baya itu tak terlihat?

 

Adik Shintarou –Shina, menengok dan melihat sang kakak berdiri memasang raut bingung di pintu dapur. Ia pun menyapa kakak laki-lakinya itu. “Oh, pagi nii-san.”

 

“Ah,” Shintarou tersentak dan langsung membenahi kacamatanya yang sebenarnya tidak dalam keadaan miring atau apapun kemudian menjawab. “Pagi-nodayo, Shina.”

 

Shintarou pun melirik ke arah istrinya yang masih sibuk masak itu. Lalu ketika Kazunari berbalik membawa mangkuk berisi lauk dan menaruhnya di meja makan –yang sebelumnya melewati dirinya- kemudian berdiri di depan Shintarou, dan menyapanya. “Pagi, Shin-chan,” sapanya dan mendaratkan kecupan ringan di bibir suaminya itu.

 

Shintarou hanya tersenyum, kemudian duduk di salah satu kursi meja makan. “Kaa-san dan tousan ke mana?”

 

“Hm?” Kazunari menanggapi sekilas, lalu kembali sibuk memasak.

 

Mendengar respon yang kakak iparnya berikan, Shina pun melanjutkan jawabannya. “Mereka sudah pergi pagi-pagi sekali. Katanya harus keluar kota.”

 

“Hm, begitu-nodayo,” Shintarou pun diam kemudian. Duduk menunggu istri dan adiknya siap menghidangkan sarapan di atas meja. Beberapa menit setelahnya, Kazunari dan Shina ikut bergabung bersama dirinya menyantap sarapan di Minggu pagi yang cerah itu.

 

Tapi kemudian Shina bersuara lagi. “Kemungkinan kaa-san dan tou-san pergi selama seminggu. Begitu katanya. Pesan mereka, ‘tolong katakan pada kakakmu untuk menjaga calon cucu kami dan turuti semua kemauannya’ begitu.”

 

Mendengar ucapan sang adik, Shintarou hanya memutar bola mata bosan lalu melirik ke arah Kazunari yang kembali memasukkan lauk ke dalam piringnya. “Harusnya kaa-san tahu kalau menantunya itu sudah berhenti mengidam, nanodayo. Usia kandungannya kan sudah delapan bulan. Mau mengidam sampai kapan memangnya?”

 

Shina mengangkat bahu. “Aku kan hanya menyampaikan apa yang diucapkan kaa-san,” gadis cantik dengan warna rambut sama seperti Midorima Shintarou itu kembali memakan sarapannya. Lalu melirik jam dan menyelesaikan kegiatan-mengisi-energi-di-pagi-hari itu. Setelah selesai, ia meletakkan sumpitnya dan bersiap pergi. “Terima kasih atas sarapannya. Aku akan langsung berangkat,” ucap remaja itu lalu menaruh piringnya di tempat pencucian piring.

 

Kazunari yang sedari tadi diam melihat ke arah adik iparnya. “Mau ke mana Shina-chan?” tanya pemuda raven itu.

 

Shina tersenyum pada kakak iparnya. “Aku ada kerja kelompok. Kira-kira sampai sore. Kalau begitu aku berangkat, nii-san, Kazu-nii.”

 

“Hm, hati-hati, nanodayo.”

 

“Hati-hati di jalan, Shina-chan!”

 

Okay.”

 

Dan suasana di meja makan itu kembali diam. Shintarou dan Kazunari masing-masing kembali menikmati makan pagi mereka. Sampai pemuda hamil itu teringat jika tadi saat memasak, ibunya menelpon, wanita yang sangat Kazunari sayangi itu bilang akan datang berkunjung siang ini.

 

Ia pun melirik suaminya yang masih makan dengan tenang. “Ne, Shin-chan,” mulainya dengan pelan meminta perhatian Shintarou.

 

Shintarou melirik Kazunari seolah bertanya ada-apa?

 

“Tadi, kaa-sanku menelpon dan katanya akan nanti sore berkunjung loh~ sayangnya kaa-san dan tou-san sedang tidak ada di rumah. Orang tuaku pasti ingin mengobrol dengan kaa-san dan tou-san.”

 

“Begitu? Mungkin tujuan utamanya juga melihat keadaanmu. Kita ‘kan belum sempat berkunjung lagi, nanodayo.”

 

“Iya juga sih.”

 

“Nanti malam pesan makanan saja. Kau harus istirahat, tidak boleh terlalu lelah, nanodayo,” kata Shintarou lagi ketika menyelesaikan sarapannya dan menyesap minumannya. Ia sedikit bersandar di kursi meja makan.

 

Kazunari hanya terkekeh mendengar nada kekhawatiran suaminya itu. “Aku masih bisa memasak, kok. Jangan khawatir begitu, dong, Shin-chan~”

 

“Kau tidak mau dikhawatirkan, nanodayo? Ya sudah.”

 

“Iiih, Shin-chan jangan ngambek, dong. Aku ‘kan cuma bercanda. Tapi aku serius masih bisa memasak makan siang, kok. Lagipula kupikir kaa-san pasti juga bantu. Jadi nanti Shin-chan tenang saja dan mengobrol dengan tou-san.”

 

“Oke, senyamanmu, nanodayo. Tapi jika kau merasa kelelahan langsung istirahat, okay?” Shintarou mengusap rambut halus istrinya.

 

Kazunari tersenyum super manis. “Baik, Midorima-sensei~!”

 

Dan Shintarou hanya bisa balas tersenyum menanggapinya. Ah. Ternyata ini benar-benar hari Minggu yang tenang ya? Mari lupakan sejenak kalau kedua mertuanya itu akan datang nanti sore.

.

.

.

Murasakibara Atsushi kembali berkutat dengan bahan-bahan masakan di atas meja pantry dapur rumahnya. Sedangkan sang istri di sampingnya berurusan dengan panci berisi sup. Rupanya pasangan satu ini memutuskan untuk memasak sarapan bersama.

 

Atsushi hanya bisa menuruti segala perintah sang istri karena jika sudah di rumah, urusan dapur diserahkan semuanya kepada Murasakibara Tatsuya. Tidak peduli jika dirinya merupakan pemilik restoran sekaligus koki yang cukup handal. Tatsuya tidak pernah mengizinkan Atsushi memasakkan makanan untuk mereka, kecuali disaat Tatsuya sedang ingin sekali memakan masakan buatan suaminya.

 

Jadi pagi itu, pasangan ungu-hitam ini begitu khidmat memasak sampai suara dering telpon yang berkali-kali berbunyi membuat keduanya saling berpandangan, sedikit merasa terganggu. Tapi tak satupun dari mereka yang berniat mengangkatnya.

 

Lalu Tatsuya melirik ke arah pemuda tinggi yang masih sibuk memotong-motong daging, Tatsuya yang sudah selesai dengan supnya pun mematikan kompornya sebentar sebelum beranjak untuk mengangkat panggilan telpon itu. Beberapa menit kemudian kembali ke dapur, ia melihat suaminya sudah siap dengan wajan di atas api yang menyala.

 

Melihat itu segera saja Tatsuya langsung mengambil alih. “Atsushi biar aku yang lakukan. Sekarang mending Atsushi duduk saja menunggu,” kata Tatsuya sambil mendorong pelan suaminya.

 

Atsushi balas cemberut lalu mengambil alih wajan itu. “Harusnya kan Tat-chin yang duduk. Tat-chin lagi hamil besar, tahu~ Ayo sana duduk saja~”

 

Tatsuya tersenyum kecil kemudian balik mengambil wajan itu dan menyelesaikan masakan mereka. “Jangan cerewet. Sana duduk, habis ini kusiapkan minumanmu.”

 

Atsushi menggumam sambil berjalan ke arah meja makan yang di atasnya sudah mereka tata piring-piring dengan rapi. Lalu duduk di salah satu kursinya memperhatikan istri tercinta. Ia pun mengingat jika sebelumnya Tatsuya menjawab panggilan telpon, tapi dari siapa?

 

Ne~ tadi siapa yang telpon, Tat-chin~?” tanyanya sambil menggerakkan jarinya memutar di atas piringnya yang masih kosong.

 

Tatsuya mematikan kompor karena hidangannya sudah selesai, lalu berbalik dan membawanya ke meja makan. Detik berikutnya ia berkutat membuatkan minuman untuk Atsushinya. “Telpon? Oh, tadi telpon dari orang tuaku. Katanya mereka juga kaa-chin dan tou-chin akan datang nanti sore, Atsushi.”

 

“Hm~? Tumben sekali, ne~? Berarti aku tidak usah ke restoran kalau begitu~” sahut Atsushi membiarkan saja ketika Tatsuya sudah kembali membawa minuman untuknya lalu mengambilkan nasi beserta lauk-pauk ke dalam piringnya.

 

“Mereka bilang ingin melihat keadaanku. Dan ya, sebaiknya Atsushi menyerahkan restoran pada Takashi-san.”

 

Okay~ kalau begitu, Tat-chin. Dan nanti biar aku yang siapkan makan malamnya, ne~?”

 

Tatsuya langsung menggeleng lagi. “Aku masih bisa memasak kok. Lagipula kaa-chin dan mother pasti membantu. Jadi Atsushi mengobrol dengan tou-chin dan father saja, okay?”

 

“Tat-chin harus istirahat dong~” Atsushi berucap sambil menyuap makanan ke mulutnya. Tatsuya hanya terkekeh kecil menanggapinya.

 

“Jangan terlalu khawatir, Atsushi~”

 

“Tapi aku tetap khawatir, Tat-chin~” katanya lagi setelah menelan makanannya. Lalu menyuap lagi.

 

Tatsuya hanya balas tersenyum lagi. Kemudian mengelus perutnya. “Baby-chin baik-baik saja. Sudah tidak menendang kok. Jadi tidak sakit lagi.”

 

Atsushi yang melihatnya ikut mengelus perut besar Tatsuya. “Wakatta~ tapi kalau butuh bantuan, panggil saja, ne~?”

 

Dan Tatsuya hanya membalasnya dengan anggukan. Detik berikutnya mereka larut dalam kegiatan sarapan mereka. Sesekali Atsushi bertanya apa menu makan malam yang akan dihidangkan. Sejujurnya Atsushi bersyukur bahwa ini adalah pagi normalnya yang telah kembali.

 

Ia hanya bisa berharap jika pagi seperti ini akan terus berulang di hari-hari berikutnya.

.

.

.

Ryouta berlari kecil berniat membukakan pintu apartemen ketika mendengar bel berbunyi. Daiki yang saat itu sedang duduk santai sambil menonton televisi sampai bangun mendadak dari duduknya dan berteriak pada istrinya agar tidak berlari yang dibalaskan dengan kekehan Ryouta.

 

Beberapa puluh detik menenangkan dirinya yang hampir jantungan, Daiki akhirnya memutuskan untuk menyusul Ryouta menyambut orang tua mereka.

 

Di depan pintu apartemen itu, Ryouta tenggelam dalam pelukan ibunya dan ibu mertuanya. Kemudian Daiki pun beralih ke arah ayah dan ayah mertua yang ada di dekat mereka.

 

Tou-san, kaa-san. Lama tidak bertemu. Ayo masuk,” ujar Aomine Daiki kemudian menggeser dirinya mempersilahkan kedua orang tua dan mertuanya masuk. Ryouta berjalan masih diapit oleh dua ibu-ibu itu.

 

Keenamnya duduk di ruang tamu sederhana itu. Lalu Ryouta yang sepertinya sudah bisa lepas dari ibu dan ibu mertuanya berjalan ke arah dapur untuk membuatkan minuman. Daiki meringis dan ingin menyusul, tapi ibunya langsung menyuruhnya duduk kembali dan wanita itu pun menyusul menantunya.

 

Daiki kembali menatap ayahnya juga ayah-ibu mertuanya. “Apa kabar kaa-san? Tou-san? Maafkan aku dan Ryouta belum sempat mengunjungi kalian,” ujar Daiki.

 

Ketiga orang dewasa itu tersenyum maklum. “Tidak apa-apa, Daiki-kun. Kau pasti sibuk sekali sampai-sampai tidak bisa berkunjung. Kami bisa mengerti, kok,” ujar ibu mertuanya membuat senyum Daiki bertambah lebar.

 

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” kali ini ayah mertuanyalah yang bertanya.

 

Daiki menatap pria itu. “Belakangan ini baik, otou-san. Tidak banyak kasus yang masuk. Aku jadi punya waktu luang mengawasi Ryouta.”

 

Setelah berucap demikian, Ryouta dan ibu Daiki memasuki ruangan itu membawa nampan berisi teh yang langsung disajikan. Sampai suara ayah Daiki terdengar menyahuti kalimat sebelumnya.

 

“Sebaiknya kau coba untuk mengajukan cuti, Daiki. Kandungan Ryouta semakin tua umurnya. Kau harus selalu siaga berada di dekatnya,” Aomine senior itu mengambil cangkirnya dan menyesap isinya, sambil melirik sesekali ke arah anak dan menantunya.

 

Ryouta yang duduk di samping sang suami ikut melirik. Lalu meminum tehnya juga. “Cuti-ssu? Tapi kan masih lama sampai waktunya aku melahirkan, otoucchi. Jadi Daikicchi masih bisa pergi bekerja kok-ssu.”

 

Ibu Daiki menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak bisa, Ryouta sayang. Usia kandungan seperti inilah yang paling rentan kenapa-napa. Jika tidak ada yang mengawasimu, itu bisa berbahaya sekali. Kecuali selama Daiki kerja kau mau ada di rumah orang tuamu, atau rumah kami.”

 

“Setuju. Jadi Daiki-kun bisa menjemputmu kalau dia sudah pulang kerja. Bagaimana?” sambung ibu Ryouta yang sedari tadi menyimak.

 

Ayah Ryouta dan Daiki pun diam-diam mengiyakan usul itu. Daiki masih diam mempertimbangkan usul ibu serta ibu mertuanya. Tapi kemudian suara Ryouta kembali menggema.

 

“Tidak perlu, kaacchi. Kan kasian Daikicchissu. Capek pulang kerja harus menjemputku di rumah kaacchi dan toucchi. Lagipula aku akan baik-baik saja kok-ssu.”

 

“Ryouta…”

 

“Sebetulnya aku setuju pada usul kaa-san. Tapi melihat Ryouta tidak setuju, bagaimana?”

 

Hening. Tidak ada yang menjawab pertanyaan yang diajukan Daiki. Pemuda tan itu melirik lagi sang istri, menatapnya intens seolah meminta agar Ryouta mau menyetujui usul orang tua mereka. Tapi Ryouta kembali menggeleng dan tenggelam dalam cangkir tehnya.

 

Sampai kemudian, suara ayah Ryouta menggema. “Suruh saja Ryouko dan Ryouka untuk menjaganya bergantian,” santai, tenang dan sangat kalem sambil menyesap tehnya lagi, kepala keluarga Kise itu berucap. Yang dibalaskan tatapan lima pasang mata di sana.

 

Berkedip beberapa kali, akhirnya sang istri bersuara. “Setuju, tou-san. Kenapa tidak kepikiran, ya? Kita bisa meminta Ryouko dan Ryouka untuk menjaga adik mereka bergantian. Jadi bagaimana, sayang? Ryouta tidak keberatan kan? Daiki-kun juga pastinya?” ibu Ryouta menatap anak dan menantunya bergantian.

 

“T-tapi kaacchi—“

 

“Aku setuju,” Daiki memotong ucapan istrinya. Ryouta langsung balas cemberut lalu memukul kepala Daiki.

 

“Daikicchi jelek aku masih bisa jaga diri-ssu. Kasian oneecchi nanti kerepotan,” Ryouta mengeluh. Entah kenapa ia tidak setuju akan usul ini. Seolah-olah dirinya akan kenapa-napa jika sendirian.

 

“Ryouta…” sang ayah bersuara lagi. “…dengarkan toucchi. Kau ini tidak bisa diam. Suka melakukan segala sesuatu yang tidak penting tapi menyenangkanmu yang bahkan tanpa kau sadari bisa membahayakan dirimu. Jika ada kakakmu, setidaknya kami tenang.”

 

Mou~ toucchi tidak tahu saja mereka juga sama tidak bisa diamnya sepertiku-ssu.”

 

“Ryouta sayang, terima ya usul kami?” ibu mertua Ryouta membujuk halus. Ryouta masih menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Harus mau, Ryouta. Kalau tidak semua belanjaan kemarin kubuang saja, oke?” Daiki akhirnya bersuara yang dibalaskan tautan alis orang tua mereka dan pandangan horror Ryouta.

 

‘BUK!’

 

“Aduh, kenapa malah dipukul sih?” Daiki mengelus kepalanya yang tadi dipukul bantalan sofa.

 

“Daikicchi merasa kebanyakan uang-ssu? Sok-sok-an mau buang peralatan baby yang kemarin kubeli. Sana buang saja kalau memang Daikicchi punya uang satu truk-ssu!” Ryouta makin memukul-mukul Daiki yang hanya ditonton oleh orang tua mereka.

 

“Aduh, iya oke tidak akan kubuang. Tapi terima usulan kaa-san dan tou-san dong,” Daiki masih berusaha menghindar dari pillow attack-nya sang istri. Melirik minta tolong juga pada empat orang dewasa di sana.

 

“Ryouta sayang, awas perutmu nanti tergencet. Ayo sudah Daiki-kun-nya jangan dipukul lagi, sayang,” ibu Ryouta bangkit dari duduknya dan berusaha menghentikan kegiatan anaknya itu.

 

Ryouta langsung menghentikan serangannya dan melirik galak Daiki.

 

“Ryouta, ini demi kebaikanmu, mengerti?” kata sang ayah yang terdengar amat mutlak. Mendengarnya Ryouta cemberut kemudian buka suara lagi.

 

“Iya deh~ tapi mereka ke sini kalau aku yang memanggil mereka saja, ne?”

 

“Loh? Tidak bisa dong, sayang. Mereka harus—“

 

“Iya atau tidak sekalian kaacchi?” Ryouta makin cemberut.

 

Kelimanya yang melihat itu pun menghela napas dan mengiyakan perkataan Ryouta. Kemudian pemuda kuning itu melirik lagi suaminya.

 

“Daikicchi jadi tidak membuang peralatan baby-nya-ssu?”

 

Daiki melirik Ryouta yang jika diperhatikan dengan seksama, memasang senyum kemenangan yang Daiki tidak mengerti untuk apa.

 

Ia pun menggelengkan kepalanya dan disambut oleh pelukan dari sang istri tercinta.

 

“Seboros-borosnya Daikicchi dulu hanya untuk beli majalah Mai-chan, aku yakin Daikicchi tidak akan mau membuang semua barang-barang itu-ssu! Kalau sampai iya, aku yakin Daikicchi harus kerja rodi lagi untuk lima bulan ke depan-ssu.”

 

Dan Daiki hanya misuh-misuh dalam diam. Dalam hati orang tua mereka bertanya, berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan hanya untuk membeli peralatan bayi? Sampai-sampai Ryouta memperkirakan jumlahnya sama dengan jumlah gaji Daiki selama lima bulan?

 

Oh, kami-sama, mereka tidak tahu jika Ryouta bisa seboros ini? Sudahlah. Memikirkannya membuat mereka pusing.

 

Lalu saat menyadari matahari semakin menghilang dan jam makan malam akan tiba, Ryouta beserta ibu dan ibu mertuanya pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.

.

.

.

Tatsuya mengusap-usap perutnya sambil menonton acara di televisi yang menyala. Pemuda raven itu melirik sang suami yang sibuk membuka-buka majalah kuliner sambil menyemil makanan favoritnya. Tatsuya melihat lagi ke arah jam dinding, kapan orang tua dan mertuanya akan datang?

 

Memang belum lama menunggu, tetapi duduk hanya menonton televisi begini rasanya menimbulkan rasa pegal di punggungnya. Istri Murasakibara Atsushi itu pun menegur suaminya meminta perhatian.

 

Ne, Atsushi?” panggilnya sambil menatap sosok ungu itu.

 

Atsushi berdeham lalu kembali pada kegiatannya. Tatsuya menghela napas dan langsung menyampaikan keinginannya.

 

Ne, Atsushi. Punggungku pegal sekali. Maukah Atsushi memijatku?” tanyanya sambil mengambil majalah di pangkuan orang tersayangnya. Atsushi langsung melihat manik hitam pasangan sehidup sematinya.

 

“Tat-chin pegal? Tuh kan~ kubilang tadi nontonya sambil boboan saja tidak dengar sih~” katanya tanpa mengiyakan permintaan Tatsuya.

 

Tatsuya cemberut lalu mencubit hidung Atsushi. “Jadi mau memijatku tidak? Ayo dong Atsushi~?”

 

“Hm?” Atsushi menyuap lagi snacknya. Lalu meletakkannya di meja. “Ne ne~ ayo cepat berbalik. Sini kupijat.”

 

Yes! Aku sayang Atsushi!” seru Tatsuya senang lalu memberikan kecupan singkat dan langsung berbalik.

 

Sosok ungu itu hanya tersenyum dan mulai memijat bagian yang ditunjuk Tatsuya. Selang beberapa puluh menit, suara dentang bel pintu rumah mereka berbunyi. Tatsuya langsung menyuruh suaminya berhenti dan berlalu membukakan pintu untuk kedua orang tua dan mertuanya.

 

Tatsuya menyambut kedua orang tua dan mertuanya dengan senyuman kalem namun manis andalannya. Di belakangnya, sang suami mengikuti dalam diam. Pasangan ungu-hitam itu pun membawa orang tua mereka ke ruang keluarga setelah sebelumnya Tatsuya menghilang dibalik pintu dapur. Atsushi sempat mau protes tapi tertahan oleh kecupan yang diberikan sang istri. Mendapat perlakukan itupun, sosok tinggi tersebut mengalah dan menemani orang tua serta mertuanya mengobrol yang sempat tersenyum melihat interaksi putra-putra mereka.

 

Beberapa menit kemudian, Tatsuya kembali dengan nampan berisi minuman di tangannya. Duduk di samping Atsushi lalu ikut larut dalam obrolan. Suara sang ibu membuat Tatsuya menatap wanita yang telah melahirkannya itu.

 

“Bagaimana kandunganmu, sayang?” wanita berambut hitam itu menatap penuh sayang Tatsuya lalu beralih ke arah perutnya yang besar. Tatsuya sontak mengikuti arah pandangan itu dan mengelusnya.

 

“Baik, mother. Well, mereka sudah mulai menendang,” balasnya sambil memberikan senyum pada semua orang yang ada di sana.

 

Ibu Atsushi yang mendengarnya meletakkan cangkir teh miliknya kemudian bertepuk tangan senang. “Aku tidak menyangka hanya butuh waktu satu bulan lagi dan aku akan mendapatkan cucu dari Atsushi!” wanita berambut ungu itu begitu semangat.

 

Dua pria dewasa di sana dalam diam mengiyakan perkataan itu. Lalu Murasakibara senior menatap putra bungsunya. “Lalu bagaimana dengan restoran, Atsushi?”

 

“Hm~?” Atsushi yang semula memandangi istrinya, beralih menatap ayahnya. “Restoran? Baik kok, tou-chin. Omsetnya juga makin naik~ Tou-chin dan kaa-chin harus coba resep baruku~”

 

Keempat orang tua itu tersenyum membalas sambil berucap serentak ‘kami pasti akan mampir’. Lalu kembali membicarakan mengenai kandungan Tatsuya. Namun kemudian suara nyonya Murasakibara membuat kelimanya sontak menatapnya.

 

“Apa tidak sebaiknya Atsushi mengontrol restoran dari rumah saja? Atau minta kakakmu mengurus restoran sampai Tatsuya melahirkan?”

 

Hening. Masing-masing memikirkan maksud kalimat itu. “Ide bagus. Jangan sering meninggalkan Tatsuya sendirian. Kau harus siaga, Atsushi,” kemudian suara sang ayah menyahuti.

 

Ayah dan ibu Tatsuya mengiyakan hal itu, membuat Atsushi menatap ke arah Tatsuya yang juga menatap ke arahnya. Kemudian pemuda raven itu menatap orang tua serta mertuanya. “Mungkin aku bisa ikut ke restoran dan beristirahat di sana. Restoran pasti membutuhkan Atsushi, kaa-san, tou-san, mother, father.

 

“Benar…” suara tegas ayah Tatsuya terdengar. “…tapi ingat kau tidak boleh kelelahan, Tatsuya? Usia kandunganmu sudah tua. Rawan sekali kenapa-napa.”

 

Atsushi mengangguk-angguk sambil mengemut permen yang entah dia dapat dari mana. “Tat-chin diam di rumah saja. Aku juga mungkin bisa minta bantuan nii-chin mengurusnya dulu. Taka-chin juga bisa kupercaya sebenarnya~”

 

Tatsuya menghela napas mendengar kalimat suaminya. Mau tak mau ia mengiyakan keinginan itu karena sejujurnya ia juga sedikit merasa kesepian lagi ada di rumah sendirian. Melihat Tatsuya yang setuju itu pun, keenamnya melanjutkan obrolan dan barulah terputus sebentar ketika Tatsuya, ibunya dan ibu mertuanya pamit untuk menyiapkan makan malam.

 

Namun obrolan tiga orang kepala keluarga itu tak terputus begitu saja sambil menunggu hidangan apa yang akan menanti mereka.

.

.

.

Midorima Kazunari sibuk mengganggu sosok dokter muda yang kini tengah membaca buku kedokteran di ruang keluarga kediaman mereka. Pemuda raven itu merasa bosan menunggu orang tuanya yang tak kunjung datang. Jadilah, ia mengganggu suami tercintanya.

 

Shintarou yang diganggu begitu sesekali mendengus dan melayangkan tatapan protes yang hanya dibalas kekehan oleh istrinya. Kenapa sejak dulu, Kazunari suka sekali mengganggunya? Benar-benar anak ini, batin Shintarou melepas sebentar bacaannya dan menatap intens mata hitam kelabu pemuda itu.

 

“Diam, nanodayo. Aku sedang membaca. Kau lakukan sesuatu yang lain saja sana, nanodayo,” ujarnya membuat Kazunari berhenti memainkan helaian hijau Shintarou.

 

Ia cemberut mendapati respon suaminya itu. “Begitu? Bagaimana kalau aku bilang aku ingin main basket?”

 

Alis Midorima Shintarou bertaut jelas. “Jangan mulai lagi, Kazunari. Sangat tidak lucu, nanodayo,” ia memandang lepas manik kelabu istrinya. “Lagian kau ini kenapa, nanodayo? Seperti kurang kerjaan saja. Biasanya kau facebook-an dan heboh sendiri bersama Kuroko, Kise dan Himuro,” lanjutnya lagi yang dibalaskan Kazunari dengan meletakkan kepalanya di bahu sang suami.

 

Sofa empuk yang mereka duduki membuat Kazunari merasa nyaman. Apalagi ia bersama dengan orang yang sangat ia cintai. “Sedang malas saja. Sambil menunggu kaa-san dan tou-san, aku hanya punya niatan mengganggu Shin-chan, sih,” ujarnya sedikit mendongak ke atas dan melihat respon suaminya.

 

Dokter muda itu menghela napas mendengarnya. “Mengganggu orang membaca? Apa enaknya, nanodayo?”

 

“Aku hanya ingin lihat wajah kesal Shin-chan, kok~” Kazunari mengecup singkat bibir pemuda hijau itu.

 

Midorima Shintarou makin tidak mengerti sifat Kazunarinya itu. Berniat menjawab tapi tak menemukan kata apapun yang cocok, suara bel membuat keduanya saling berpandangan dan begitu yakin jika orang tua Kazunari –dan merupakan mertua Shintarou- sudah datang.

 

Segera saja pasangan itu menyambut kedua orang dewasa itu suka cita.

 

Kazunari melemparkan dirinya ke pelukan sang ibu dengan masih menjaga perut besarnya agar tidak tergencet. Disusul oleh Shintarou juga yang ikut tenggelam ketika nyonya Takao itu memeluknya. Kemudian calon ayah itu mengangguk kepada ayah mertuanya.

 

Selesai mengucap salam sekaligus melepas rindu dengan pelukan, mereka masuk dan duduk di ruang keluarga. Kazunari berlalu begitu saja menuju dapur tak menghiraukan peringatan sang suami seputar ‘duduk saja’ atau ‘biar aku yang buat minumnya’ yang tentu diabaikan oleh Kazunari yang sudah menghilang dibalik pintu dapur.

 

Midorima Shintarou menghela napas dan duduk di sofa di hadapan kedua mertuanya. Ia membenarkan letak kacamatanya yang tak berantakan sedikit pun lalu menanyakan kabar mereka. “Tou-san dan kaa-san apa kabar? Maaf aku dan Kazunari belum sempat mampir ke rumah,” tanyanya membuang sementara aksen khasnya selama bicara pada dua mertuanya.

 

Ayah dan ibu Kazunari tersenyum. Wanita yang sudah menginjak usia kepala empat namun masih terlihat kecantikannya itu bersuara. “Kami baik, Shintarou-kun. Dan jangan khawatir, kami mengerti kesibukanmu sebagai dokter dan… kau juga pasti sibuk memenuhi keanehan Kazu-kun.”

 

Shintarou tersenyum ketika sekelebat bayangan masa mengidam Kazunari berputar di kepalanya. Kedua orang tua itu tersenyum maklum mendapati respon menantunya. Tak lama Kazunari datang dengan empat cangkir di atas nampan dan meletakkan satu-satu di depan mereka.

 

Selama beberapa detik keempatnya larut dalam acara menyesap teh buatan Kazunari. Setelah itu, suara ayah pemuda raven terdengar. “Di mana orang tuamu, Shintarou? Tidak tou-san lihat sejak tadi,” ayah mertuanya itu memandang sekeliling rumah besar tersebut.

 

Manik hijau Shintarou ikut bergerak. Kemudian menjawab pertanyaan ayah mertuanya. “Shina bilang kaa-san dan tou-san keluar kota. Sepertinya ada urusan bisnis. Kukira aku bangun terlalu siang jadi tidak tahu jika mereka tak ada di rumah,” katanya lalu kembali menyesap tehnya.

 

Kazunari di sampingnya hanya melirik, tak berniat ikut obrolan itu dan kemudian hanya saling tatap dalam diam dengan ibunya.

 

Tapi kemudian wanita itu menyahut. “Wajar kalau kau bangun siang, Shintarou-kun. Urusan rumah sakit—semua orang tahu betapa beratnya menjadi seorang dokter. Kudengar belakangan ini kau sering pulang hampir pagi. Benarkah itu, nak?” sosok itu melirik Kazunari seolah memberitahu Shintarou jika istrinyalah yang bercerita pada ibu mertuanya.

 

Mau tak mau dan memang harus mengakui jika itu benar, Shintarou menganggukkan kepalanya. “Tapi setidaknya aku tenang meninggalkan Kazunari di rumah karena ada kaa-san, tou-san dan Shina yang menjaganya. Walau cukup sulit karena tak bisa mengontrolnya sendiri.”

 

“Dimengerti, Shintarou-kun. Bagaimanapun juga, suami mana yang tidak mau untuk selalu siaga di samping istrinya yang sedang hamil tua? Benar, kan?” kalimat ibu mertuanya hanya membuat Shintarou mengangguk.

 

Tapi Kazunari kemudian memberi respon. “Siaga sih siaga, kaa-chan. Tapi Shin-chan seolah-olah tak memperbolehkanku melakukan apapun. Aku baru tahu Midorima Shintarou itu sebegini posesifnya. Tidak kusangkaaa~” katanya protes pada orang tuanya.

 

Shintarou di sampingnya hanya memutar bola mata bosan. “Kalau ngidammu yang anti mainstream itu tak pernah terjadi, takkan kuperlakukan dengan begitu, nanodayo. Bukan salahku, kan?”

 

“Tetap saja menyebalkan, wleee,” Kazunari menjulurkan lidahnya meledek. Ayah dan ibunya hanya tertawa melihatnya. Shintarou menghela napas lelah.

 

Detik berikutnya sang ayah mertua kembali bersuara. “Tapi kurasa kau akan berpikir untuk sedikit sering absen ke rumah sakit saat mendekati kelahiran? Atau jauh sebelum itu? Walau sebenarnya tidak baik juga meninggalkan rumah sakit begitu saja.”

 

Shintarou tanpa sadar terkekeh pelan. “Setiap kali Kazunari menelponku untuk acara ngidam anehnya itu, aku selalu berpikir untuk mengambil cuti selama yang kumau, tou-san. Aku sudah sering meninggalkan rumah sakit, bahkan sempat terpikir untuk berhenti jadi dokter dan fokus pada tuan muda yang sedang hamil ini,” tangan Shintarou bergerak dan mengacak helaian halus sewarna langit malam. Kazunari cemberut mendengarnya. Ia mencubit pelan pipi Shintarou yang dihadiahi protes. “Hei, sakit, nanodayo.”

 

“Bodo,” Kazunari melipat tangannya di dada. Ia lalu melirik ayahnya. “Tak perlu cuti. Aku tidak tinggal sendiri di sini, tou-chan, ingat kan? Ada Shina-chan juga ayah ibu mertuaku.”

 

“Memang benar, tapi kau tidak akan mengerti bagaimana khawatirnya seorang suami meninggalkan pasangan mereka yang sedang hamil di rumah, tanpa pengawasan langsung dari suami itu sendiri.”

 

Dan Kazunari hanya semakin cemberut dan makin cemberut ketika tangan Shintarou mengacak lagi rambutnya. Ia kemudian melirik jam lalu bangun mengajak ibunya untuk membuat makan malam. Meninggalkan dua kepala keluarga di sana dengan banyak obrolan yang Kazunari sendiri tak mau pedulikan.

.

.

.

Hari Minggu yang indah. Begitulah pemikiran Akashi Seijuurou. Duduk di ruang keluarga, di atas sofa empuk bersama orang tercinta, di hangatkan oleh percikan api di perapian yang menyala, kurang indah apalagi hidupnya? Walau kini tangannya tengah berjalan-jalan di sepanjang perpotongan kaki pasangannya yang paling berharga, matanya tak berpaling sedikitpun dari wajah putih mulus nan manis tanpa noda Akashi Tetsuya.

 

Sang nyonya Akashi itu sendiri sedang asik membaca novel sambil bersandar pada punggung sofa, kakinya ada di atas paha sang suami. Tak mempedulikan sedikitpun satu-satunya makhluk hidup di sana. Larut dalam kesenangan hobi membacanya. Yah, walau demikian, yakinlah kalian, di hati Tetsuya hanya ada Seijuurou semata.

 

Mengabaikan semua kalimat author di atas yang semakin ngaco, Seijuurou masih asik memijat kaki istrinya. Tetsuya diam-diam sebenarnya melirik ke arah pemuda kesayangannya itu. Dan ketika pandangan mata mereka –heterochrome bertemu biru langit- tanpa sadar pasangan anak tunggal keluarga Akashi itu tersenyum.

 

Seijuurou yang mendapat senyuman itu balik melemparkan hal yang serupa. “Kenapa?” tanyanya masih sambil memijat kaki Tetsuya.

 

Tetsuya hanya menggeleng lalu melepas pandangan matanya pada novel di tangannya kemudian bersandar di bahu Seijuurou. “Mungkin sedikit tidak sabar bertemu kaa-san, tou-san dan otou-sama.”

 

“Hm?” satu tangan Seijuurou terangkat lalu menyibak poni sosok biru langit itu. “Kalau kau lupa, kau pernah bertemu otou-sama, Tetsuya.”

 

“Memang. Sekitar enam bulan yang lalu, kan? Sudah lama sekali, Sei-kun,” Tetsuya menikmati tangan Seijuurou yang bermain dengan poninya itu. Terasa sangat hangat terlebih karena adanya perapian di sana.

 

“Yeah. Tapi kupikir itu bisa jadi pertemuan paling tak terlupakan bagi otou-san,” Seijuurou masih ingat bagaimana Tetsuya mengambil kapak yang tergeletak lalu mengayunkannya begitu saja dan hampir mengenai muka Akashi Seichirou –ayah mertua Tetsuya.

 

Mendengarnya, tanpa sadar Tetsuya terkekeh karena ikut teringat akan peristiwa itu. “Oh, kami-sama. Berapa banyak dosa yang kuperbuat selama masa mengidam yang tak biasa itu? Katakan padaku, Sei-kun.”

 

“Kurasa tak seorangpun bisa menghitungnya, Tetsuya,” Akashi Seijuurou menjawab santai, melirik dalam sang istri tercinta.

 

“Maaf…” Tetsuya menangkup kedua pipi suaminya lalu memberikan kecupan tak singkat di bibir Seijuurou. “…kuharap tak terlalu berpengaruh pada sifat anak-anak kita nanti.”

 

Seijuurou tersenyum, menggenggam kedua tangan Tetsuya di pipinya dan mengelus punggung tangan tersebut dengan ibu jarinya. “Mereka akan jadi anak yang hebat.”

 

“Baiklah jika Sei-kun bilang begitu,” Tetsuya tersenyum balik dan keduanya hanya saling pandang. Sampai Fujiwara menarik perhatian mereka.

 

“Akashi-sama, Tetsuya-sama, Seichirou-sama dan orang tua Tetsuya-sama sudah tiba,” Fujiwara berucap masih sambil membungkuk.. “Mereka menunggu di ruang tamu.”

 

Seijuurou melihat ke arah supir pribadinya itu. “Bawa mereka ke sini, Fujiwara.”

 

Fujiwara sekali lagi membungkuk. “Baik, Akashi-sama,” dan menghilang dalam hitungan detik. Kemudian kembali lagi mengantarkan tiga orang dewasa ke hadapan Seijuurou dan Tetsuya yang sudah berdiri, lalu pria paruh baya itu membungkuk sekilas dan pergi lagi.

 

Okaa-san, otou-san, otou-sama, lama tidak bertemu,” sapa Tetsuya ketika mendekat dan langsung tenggelam dalam pelukan ibunya.

 

“Lama tidak bertemu, Tetsuya-kun. Bagaimana kabarmu?” ibu Tetsuya melepas pelukannya dan mengusap pipi Tetsuya yang agak tembam. “Bagaimana dengan kandunganmu?” kemudian wanita itu juga beralih ke Seijuurou. “Seijuurou-kun juga apa kabar? Sudah lama sekali kaa-san tidak melihatmu.”

 

Seijuurou dan Tetsuya hanya saling tukar senyum dan membawa orang tua mereka untuk duduk di sofa ruang keluarga itu.

 

“Aku baik-baik saja dan kandunganku juga baik. Dan seperti yang kaa-san lihat Seijuurou-kun juga sangat baik,” Tetsuya menjawab semua pertanyaan ibunya itu.

 

Ketiga orang tua itu tersenyum hangat. Lalu mulai mengobrol lagi. Tak lama dua orang maid datang membawa minuman dan cemilan untuk mereka. Keluarga itu menikmatinya dengan suka cita.

 

“Bagaimana dengan perusahaan, Seijuurou? Kau masih ke kantor?” ayah Seijuurou bertanya pada anak tunggalnya.

 

Seijuurou melihat ayahnya setelah menyesap teh buatan maid keluarga tersebut. “Aku lebih sering mengecek kantor dari rumah. Sesekali tetap pergi, otou-san.”

 

“Begitu. Tapi semuanya baik-baik saja, kan?” kali ini ayah mertuanya yang menyahut.

 

“Semua baik-baik saja, tou-san. Tidak ada masalah sedikitpun.”

 

“Begitu. Sebaiknya memang demikian. Tou-san rasa Tetsuya lebih membutuhkanmu sekarang. Usia kandungannya sudah tua, suami siaga sangat dibutuhkan dalam masa itu,” sahut ayahnya lagi sambil menatap bergantian putra tunggalnya dan menantu satu-satunya.

 

Seijuurou melirik Tetsuya. “Aku tahu, tou-san. Aku juga tidak berani meninggalkannya sendiri. Sekalipun banyak maid dan butler di sini, tetap saja aku belum tenang kalau bukan aku sendiri yang ada di sampingnya,” lalu Seijuurou menyesap lagi tehnya. “Kalian mungkin tahu ngidam yang seperti apa yang Tetsuya lalui.”

 

Mendengar kalimat Seijuurou, wanita satu-satunya di sana tertawa kecil. “Kaa-san tidak menyangka kalau Tetsuya-kun bisa seaneh itu waktu mengidam,” wanita yang masih kelihatan cantik itu mengusap rambut biru langit Tetsuya yang duduh di sampingnya. Seijuurou ada di sofa berbeda dengan ayah mertuanya dan Akashi Seichirou di sofa tunggal yang ada di sana.

 

Tetsuya hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya itu. Tangannya pun mengelus cabang bayi dalam dirinya. “Mereka yang meminta kok, kaa-san.”

 

“Oh, sedang membela diri rupanya,” sekali lagi ibu Tetsuya membalas sambil terkekeh bersamaan dengan yang lainnya. Tetsuya semakin tersenyum menanggapi itu. Lama mereka terus mengobrol sampai Tetsuya dan ibunya menyadari jika waktu makan malam hampir tiba.

 

Mereka pun pamit ke dapur untuk membuat hidangan, dengan sebelumnya Seijuurou yang memaksa agar koki keluarga yang mengatur segalanya. Tapi lagi-lagi, Tetsuya hanya menggeleng kemudian berlalu setelah memberikan kecupan singkat di bibir pemuda yang sangat dicintainya itu.

.

.

.

To be Continue

.

.

.

Note : Halo. Long time no see. Maaf saya baru nongol T_T Maaf cerita ini makin ngaco. A few more chapter to end, I think. Genre ff ini juga udah saya rubah, jadi maaf kalau humornya bener-bener missed T_T

 

Btw masih ada yang berkenan untuk RnR?

 

Signed,

Umu Humairo Cho

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s