The Pregnant Man ~Chapter 10-{Baby Clothes Shopping}


The Pregnant Man

10649783_523976901079505_8311178734409661069_n

© Umu Humairo Cho, 2015

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Pairing :

AkaKuro! MidoTaka! AoKise! MuraHimu!

Rating : T

Length : 10 of ?

Romance, Fluffy, Humor-maybe?-

Yaoi, Boys Love, Shonen-ai content.

OOCness! MPreg!

Kalimat/kata-kata non-baku di saat tertentu.

DLDR, yo~ Enjoy dan tinggalkan jejak ya:)

.

.

.

A Kuroko no Basuke Fanfiction

The Pregnant Man chapter 10

Baby Clothes Shopping

Story by Umu Humairo Cho

.

.

.

Keempat cowok kece itu masih terdiam di tempat mereka berdiri ketika suara para uke mengatakan ‘ayo mulai sekarang main basketnya’ dengan tampang imut yang membuat para suami itu ingin merape istri masing-masing.

 

Murasakibara Atsushi dengan baju casualnya menatap Tatsuya dari atas sampai bawah. Aomine Daiki dengan seragam polisi membuka-tutup mulutnya sambil menatapi manik kuning Ryouta. Midorima Shintarou –masih dengan jas dokternya hampir saja mematahkan stetoskop yang ada di kantung jas tersebut seraya menatap lurus Kazunarinya di sana. Dan Akashi Seijuurou dengan jas kerjanya yang membuatnya super ganteng tapi nista itu, pijit-pijit kepala sesekali melirik istri tercinta, Tetsuya, yang masih memandangnya penuh harap dan asa.

 

Ini bagaimana jadinyaaa? Mereka mau main basket bagaimana, hoooooooi?

 

Ne, Tetsuya, dengarkan aku—“

 

“Ah! Kita pesan tas kursi saja!” seru Tetsuya memotong kalimat sang suami. Hal tersebut sontak membuat nyonya Akashi itu ditatap semua pasang mata. “Kemarin aku lihat gitu deh. Modalnya kayak backpack –eh tidak deh. Yang jelas ada tali backpacknya, terus badannya itu ya kursi. Jadi kita bisa duduk deh!”

 

Akashi-Midorima-Aomine-Murasakibara mangap. Kazunari, Ryouta dan Tatsuya justru antusias.

 

“Ayo pesan sekaraaaaaang-ssu!” teriak Ryouta kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia menekan tombol angka sesekali melihat nomor yang ditunjukkan Tetsuya. Detik setelahnya ketika panggilan itu dijawab, Ryouta pun memesan sebanyak empat buah.

 

(Jangan bayangin bendanya beneran ada ya.)

 

Kazunari dan Tatsuya terlihat puas. Dilihatnya para seme kece yang masih tergugu itu.

 

“Nah, nah, Shin-chan. Sudah ada solusinya, kan!” Kazunari berucap dengan santainya sambil sesekali menepuk-nepuk bahu sang suami.

 

“Eum! Kaupasti bisa mengangkatku, kan, Atsushi?” lalu suara Tatsuya menyusul.

 

Selama beberapa puluh menit menunggu barang yang dimaksud datang, para uke kembali berulah.

 

“Nah, sambil menunggu, kalian ganti baju dengan jersey ini, gih. Kangen kan kalian sama jersey Teiko?” ujar Tetsuya sambil memberikan empat jersey dengan nomor punggung 4-5-6-7 itu kepada empat cowok kece yang masih belum bisa bersuara.

 

“Kalian pasti akan tambah keren-ssu!”

 

“Betuuuul!”

 

“Setuju.”

 

Dan ketika mereka meninggalkan gym Teiko untuk berganti baju, barang nista dan tak berperikecalonbapakan itu pun datang. Tepat ketika mereka kembali menginjakkan kaki di dalam tempat mereka dulu latihan basket, Seijuurou, Shintarou, Daiki dan Atsushi kembali jawdrop.

 

“SEKARANG AYO KITA MULAAAAAAAI!” teriak keempat uke yang sudah bersiap nyangsang di kursi yang dibisa di gendong itu.

 

“T-tunggu dulu…” Akashi berusaha menyuarakan suara hatinya. Tapi sahutan Tetsuya setelahnya membuat kalimatnya terhenti.

 

“Sei-kun mau anak-anak kita ileran?”

 

“B-bukan begitu. Ano, Tetsuya…”

 

“Daikicchi buruan dong-ssu! Babynya mau terbang tinggi nih-ssu!”

 

“…” Daiki terlalu speechless.

 

“Atsushi~ hayakuuu~ baby-chin yang minta loh~”

 

Murasakibara Atsushi merasa mau muntah pelangi.

 

“Shin-chaaaaan, yang ganteng dan baik hati, ayo dong Shin-chan, pleeeeaaaaseeee?”

 

Kacamata Midorima kembali hancur, entah sudah keberapa.

 

“Begini, Tetsuya dan yang lainnya—“

 

“Sei-kun! Nurut dikit kenapa sih!” kalimatnya terpotong lagi.

 

“Bukan begitu. Tapi itu baha—“ dan lagi.

 

“Jadi mau nurutin atau engga nih, Shin-chan?”

 

“K-kazunari, aku rasa Akashi benar—“ kalimat Shintarou pun tak selesai.

 

“Daikicchi ga sayang sama baby hiks-ssu~”

 

“Ryouta—“ begitu pula si ganguro hitam.

 

“Atsushi sudah siap kelaparan ya?”

 

“T-tapi Tat-chin—“ apalagi Murasakibara?

 

“CUKUP!”

 

‘Jleb’

 

Akashi akhirnya berteriak. Membuat semua pasang mata terfokus padanya. “Dengarkan aku, dan jangan ada yang memotong.”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

Keempat uke itu diam, ketiga seme tersisa sudah angkat tangan kalau Akashi sudah teriak.

 

“Dengarkan aku baik-baik. Kalian mau kami memakainya dan menggendong kalian lalu main basket? Memangnya ada yang bisa menjamin kalau bayi dalam kandungan kalian akan baik-baik saja? Jika kami berlari, perut kalian akan tergoncang dan yang kutahu itu bahaya. Shintarou, jelaskan sesuatu.”

 

“Hah? O-oh, iya. Guncangan sekecil apapun pada kandungan yang usianya tua –walau kalian baru enam bulan, itu tetap saja membahayakan, nanodayo. Hal tersebut bisa mengakibatkan kecacatan pada janin ketika lahir, kemungkinannya seperti itu. Orang hamil kan tidak boleh lelah, apalagi kalau kalian sampai dibawa lari, itu sangat berbahaya, nanodayo. Makanya juga, orang hamil kan tidak boleh naik pesawat atau melakukan perjalanan jauh, bisa-bisa berakibat ke janin itu sendiri, nanodayo,” jelas Shintarou semakin membuat Tetsuya, Kazunari, Ryouta dan Tatsuya speechless.

 

“I-iya, dengarkan apa kata dokter dong, Ryouta, Tetsu, Kazunari dan Tatsuya. Kalian boleh minta apapun, tapi kalau yang ini gabisa. Bahaya,” sahut  Daiki menatap berganti empat kepala dengan tiga warna itu.

 

Ne~ kalian gamau baby-chin kenapa-napa, kan~?” kemudian Atsushi ikut berkomentar.

 

Tak ada yang menjawab sama sekali. Tetsuya, Kazunari, Ryouta dan Tatsuya sontak melepaskan pegangannya pada benda itu. Para suami mendekati mereka dan menepuk juga mengusap sayang surai milik orang tercinta mereka.

 

“Tetsuya, apapun. Apapun akan kuberikan, sekalipun kaumemaksa meminta lautan akan kuusahakan. Tapi yang ini, tunggu setelah bayi kembar kita lahir, okay? Kita akan main basket lagi. Hm?” tangan Seijuurou mengusap sayang pipi Tetsuya yang agak tembam.

 

Pemuda biru langit itu melihat langsung ke dalam mata scarlet sang suami. “Maafkan aku, Sei-kun. Tapi—“

 

“Tetsuya, sudah berapa banyak keingian mereka yang sudah kita penuhi, hm? Tidak mungkin mereka akan ileran. Trust me, okay?”

 

Sekali lagi, ditatapnya wajah serta mata merah suaminya. Lalu mengangguk dan memberikan kecupan di bibir Seijuurou. “Aku mengerti Seijuurou-kun.”

 

Dan Seijuurou tambah merangkul mesra Tetsuya tercinta.

 

Midorima Shintarou mengusap sayang pucuk kepala sang istri. “Kazunari dengarkan aku. Kau tidak ingin—“

 

“Aku mengerti, Shin-chan~ gomenne selalu menyusahkan. Apalagi permintaan tadi?” Kazunari mendongak menatap wajah tampan Shintarou. Pemuda berambut hijau itu balas tersenyum mendapati ekspresi bersalah istrinya, lalu mengecup sayang dahi terbuka sang istri.

 

“Wajar, kan lagi ngidam.”

 

“Hehe, aku cinta Shin-chan.”

 

“Aku tahu itu.”

 

Sekali lagi, Shintarou mendaratkan kecupan sayang di dahi Kazunari.

 

“Kau tidak mau kalau sampai anak kita cacat kan, Ryouta?” pertanyaan Daiki membuat Ryouta sukses hampir melompat, untung saja kepala polisi itu menahannya.

 

“Tidak mau-ssu! Huhu maafin aku, Daikicchi! Lupakan ngidamku yang tadi-ssu, hiks!”

 

Daiki terkekeh pelan kemudian memeluk hati-hati pemuda kuning itu. “Tidak apa-apa. Tunggu sampai dia lahir, okay?”

 

“Iya, Daikicchi.”

 

Ryouta pun, menyamankan diri di dalam pelukan sang suami.

 

“Tat-chin mending masak kue yang banyak daripada ngidam begini~” ucap Murasakibara Atsushi yang langsung dibalas kekehan Tatsuya.

 

Tangan putih Tatsuya mengusap pipi titan tukang makannya itu. “Pikiranmu hanya makanan, hm?”

 

“Hmm~? Tapi nanti pasti baby-chin kepengen juga kok~”

 

“Aku mengerti, Atsushi. Kalau sudah pulang baby clothes shopping nanti kita langsung buat kue yang banyak bagaimana?”

 

“Setuju Tat-chin~”

 

Dibalas kecupan bibir, Murasakibara Atsushi memeluk sayang Tat-chin tercintanya.

 

Tapi ucapan Tatsuya barusan, berhasil menghidupkan kembali semangat ketiga uke lainnya. Bersamaan mereka berteriak, “BELI BAJU BAYIIIIII~”

 

Yang dibalaskan helaan napas zupeeeeeeeeer panjang para suami. Lalu mengikuti langkah kaki para uke itu. Sebelumnya Akashi menelpon supir beserta kepala pelayan keluarganya untuk menyelesaikan kekacauan yang dibuat empat uke imut itu, sekaligus meminta maaf pada pihak sekolah juga.

 

Ah, benar-benar merepotkan, ya?

.

.

.

Keempat pasangan super unik itu pun terpaksa meninggalkan mobil mereka ketika keempat uke yang kini berjalan jauh di depan para seme memaksa naik bus untuk sampai di distrik pertokoan di kota Tokyo.

 

Keempatnya saling berjalan berdampingan meninggalkan para suami yang hanya bisa melihat dari belakang sambil menghela napas lelah. Semoga disaat begini tak ada kemacam-macaman mereka lagi.

 

Surai biru langit, kuning dan hitam itu berbelok memasuki sebuah toko yang Akashi, Aomine, Midorima dan Murasakibara yakini adalah toko perlengkapan bayi. Mereka menyusul beberapa menit kemudian, dan terlihatnya istri mereka yang sedang teriak-teriak gaje sambil memegang beberapa setel pakaian bayi.

 

“Yang ini lucuuuuuu,” Akashi Tetsuya memegang sepasang baju yang terlihat sangat imut, tapi mungkin untuk ukuran bayi berusia tiga bulan. Model baju kodok dengan dipadukan kaus warna putih. Motif bagian celananya kotak-kotak. Kebetulan warna motif yang Tetsuya pegang sekarang biru dan merah. Juga dasi kupu-kupu yang ikut menghiasi baju imut itu.

 

Ah!

 

“Ada yang kecil ga yaaa~? Etapi beli semua ukurann aja ah~” Tetsuya berlalu, ditonton oleh suami yang bersidekap pilu meratapi nasib kantongnya –lagi.

 

Lalu suara Ryouta menggema setelahnya. “Tetsuyacchi, Kazucchi, Tatsuyacchi! Sini deh sini-ssu! Beli baju ini kembaran yuuuuk!” Ryouta mengangkat setelan baju bayi seperti bahan sweater dengan kerah, dan celana bahan. Sederhana tapi manis.

 

Ketiga uke itu langsung mendekat dan mengangguk-angguk tak jelas. “Kita beli yang untuk usia satu tahun saja!” kata Kazunari mengisi keheningan. Kemudian ia juga menunjukkan sebuah baju model vest uniform versi balita. “Gimana kalau yang ini juga? Pasti lucu kan baby-baby kita pakai baju yang sama?”

 

“Setujuuuu. Ini juga ada model Korean gitu. Atasan kaus biasa tapi bergambar dan celana selutut. Ada scraftnya lagi.”

 

Yang lainnya mengangguk-angguk. Dan Tetsuyapun ikut menunjukkan baju yang tadi menarik perhatiannya. “Kalau begitu yang ini juga?”

 

Selama beberapa detik ketiga pasang mata itu menatap baju mungil yang dipegang Tetsuya, kemudian mengangguk bersamaan. “Yang itu jugaaaaaaaaaaaaaaa!”

 

Kejadian itu terlihat dengan jelas, meninggalkan para suami yang mematung di dekat pintu. Meringis dalam hati sambil menangis pilu, ‘Cari uang lagi yang banyak. Sekaya apapun dirimu. Cari uang Sei/Shintarou/Daiki/Atsushi!’

 

Namun di luar jalanan distrik pertokoan kota Tokyo, ada seorang gadis berambut pink yang kebetulan lewat, dan saat retinanya menangkap empat sosok pemuda dengan perut menggelembung, hal itu mengingatnya pada teman-temannya saat SMP dan juga kenalan teman SMPnya.

 

Gadis bernama Momoi Satsuki itu pun langsung menerjang masuk dan berseru, tak mengindahkan empat kepala warna-warni lain di ruangan itu.

 

“Tetsu-kun! Ryou-chan! Kazu-chan! Tatsu-kun!”

 

“Momoi-san?”

 

“Momocchiiii~?”

 

“Momoi-chan?”

 

Dan gadis berambut pink itu pun langsung menghampiri keempatnya. “Heee~ kalian lagi belanja baju bayi? Kawaii ne melihatnya. Sudah selesai?”

 

“Belum Momocchi~ Momocchi lagi apa? Mau beli baju juga? HUWAAA MOMOCCHI LAGI HAMIL JUGA?”

 

“EEEH?”

 

“He? Bukaaaaan Ryou-chan~ tadi kebetulan aku melihat kalian dan langsung masuk. Ohya, kalian jadi keliatan kayak teletubbies deh dengan perut begitu,” ungkap Momoi entah kerasukan apa.

 

Tetsuya, Ryouta, Kazunari dan Tatsuya langsung saling pandang. Kemudian tersenyum manis.

 

“Tinky Winky~” Tatsuya menggoyangkan sedikit badannya, dengan aura ungu milik suaminya.

 

“Dipsy~” disusul Kazunari yang melompat kecil, dihiasi aura hijau Midorima.

 

“Laa laa~” juga genitnya Ryouta, bersamaan aura kuning yang mendominasi. Kok dia beda sendiri?

 

Dan—“Po~” Tetsuya yang sedikit menekuk kakinya sehingga perutnya maju ke depan dengan latar aura merah imut-imut.

 

Tuh kan.

 

Selanjutnya hening.

 

Momoi pun tak berkedip, para pegawai di toko itu pun tak ada yang bersuara. Bahkan keempat seme kece itu pun diam.

 

Sampai—

 

“EH MASYAOLOH SUMFAH IMUT BANGET! ULANG COBA TETSU-KUN, RYOU-CHAN, KAZU-CHAN DAN TATSU-KUN!” Momoi kalap. Begitu juga dengan Seijuurou, Daiki, Shintarou dan Atsushi yang mimisan.

 

Hari itu, dihabiskanlah hari luar biasa entah keberapa yang dihiasi teriakan-teriakan absurd dan keringnya kantong para suami. Dan juga mereka yang anemia mendadak akibat kelakukan para istri.

 

“SEI-KUN JANGAN LUPA BELI POPOK, PERALATAN MAKAN BAYI, RANJANG, KURSI TINGGI, MAINAN—“

 

“—SEKALIAN KAIN BEDONGAN JUGA YA SHIN-CHAN JANGAN LUPA DUH. DENGERIN DONG SHIN-CHAAAAN~”

 

“—DAIKICCHI CARINYA YANG BENER-SSU! ITU MINYAK BAYI-BEDAK BAYI DAN SEGALA-SEGALANYA JANGAN LUPAAA~”

 

“—ATSUSHI APA KITA HARUS BELI HIASAN JUGA? IYA BELI AJA DEH! KALAU BISA BELI SEMUA YANG ADA DI SINI!”

 

Iya. Teriakan beruntun itu, yang kebetulan sengaja tak disebutkan jenis bendanya apa saja, hanya saja semuanya bermotif untuk bayi laki-laki. Seijuurou, Daiki, Shintarou dan Atsushi jadi berpikir, ini kenapa mereka yakin banget bayinya laki-laki sih?

 

“Intuisi orang hamil biasanya tepat, Akashi-kun, Dai-chan, Midorin, Mukkun. Jadi percaya saja. Pasti ga bakal kebuang percuma koook.”

 

Dan keempatnya langsung diam lagi.

 

Semoga benar ya? Amin.

.

.

.

—Tbc—

.

.

.

Note : Pendek beneeeeeer, dan ga ada humornya sama sekali yak? Mangaaaap. Ini saya lagi semangat nulis aja, hehe. Maaf ya kalau garing :3

 

Anyway, review?

 

See ya again, guys!

One thought on “The Pregnant Man ~Chapter 10-{Baby Clothes Shopping}

  1. Anneyoung ,senpai ..
    Aku udah baca semua the pragnant man series nya ,hehehe .kawaii .
    Baca berkali2 juga gak bosen .
    Tapi2 yaa ,baru kali ini coment karna aku baru bikin email di wordpress ,hehehe . Gomen senpai ..
    Pokoknya ini keren banget dehh-ssu .. hehehe

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s