The Pregnant Man ~Chapter 9-{Are You Kidding Me?}


The Pregnant Man

10649783_523976901079505_8311178734409661069_n

Story belongs to Umu Humairo Cho

Kuroko no Basuke

Belongs to Fujimaki Tadatoshi

Pairing :

AkaKuro! MidoTaka! AoKise! MuraHimu!

Rating : T

Length : 9 of ?

Romance, Fluffy, Humor-maybe?-

Yaoi, Boys Love, Shonen-ai content.

OOCness! MPreg!

Kalimat/kata-kata non-baku di saat tertentu.

DLDR, yo~ Enjoy dan tinggalkan jejak ya:)

.

.

.

A Kuroko no Basuke Fanfiction

The Pregnant Man chapter 9

Are You Kidding Me?

Story by Umu Humairo Cho

.

.

.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Padahal, rasanya baru kemarin mereka disuruh ini-itu untuk memindahkan barang yang berakhir tertidur kelelahan di ruang tengah mansion Akashi tersebut. Namun juga menimbulkan efek yang menguntungkan mereka. Paginya, mereka dapat sarapan kesukaan dan jangan lupakan morning kiss yang lebih dari biasanya.

Tapi jika dihitung, sudah hampir dua bulan kejadian itu berlalu. Masing-masing dari ke empat cowok kece itu menghabiskan waktu mereka dengan sedikit santai. Jujur saja, acara mengidam para uke sudah benar-benar berkurang walau terkadang mereka masih meminta yang aneh-aneh. Namun walau begitu, apapun yang para uke minta, para seme kece itu tidak punya pilihan lain selain menurutinya.

 

Pamali kan, kalau tidak dituruti? Lagipula kata ibu dan ibu mertua mereka, jadikanlah istrimu yang hamil sebagai ratu di rumah. Yah, sekali-kali mereka jadi pembantulah. Selama ini, para istri kan yang melayani mereka? Di saat masa kehamilan, gantian para uke imut itu yang dilayani.

Eh, ini dilayani maksudnya dituruti ini-itu kemauan mereka ya? Bukan nganu-nganu. Tapi kalaupun mereka minta nganu, pasti keempat cowok kece itu dengan senang hati memberikan. Iya kan?

 

Oke lupakan.

.

.

.

Pagi yang normal lagi.

 

Terima kasih, Tuhan.

 

Aomine Daiki berjalan menuju ruangan kantornya di pusat kepolisian Jepang. Ia sedikit bersyukur karena pagi ini sikap Ryouta-nya tetap normal seperti hari-hari sebelumnya. Seingatnya, terakhir kali Ryouta meminta hal yang zuper aneh bangeeeets sama dia, itu tiga minggu setelah ia jadi kuli di rumah Akashi saat Ryouta memaksa menginap. Sehabis itu, tak ada lagi permintaan aneh yang sangat Daiki syukuri.

 

Yah, walau belakangan ini istrinya manja minta dipegang-pegang sih~ Pegang perut maksudnya, elus-elus cabang baby gitu. Padahal mah, kalau minta pegang bagian lain Daiki mau banget. Sayang, Ryouta selalu bilang, “Aku lagi hamil, kang mas! Kakanda ga lihat perutku melendung gini gara-gara semprotan benihmu itu? Jatah gundulmu! Sana bobo di sofa! Aku ikhlas dimadu sama dia!” Ryouta mendadak salah gaul saat itu. Hal tersebut berhasil membuat Daiki hampir jatuh dari tempatnya duduk, niatnya untuk merape Ryouta setelah pulang dari rumah mantan bayangannya selalu gagal dengan dirinya tidur di ruang tengah, di atas sofa yang selalu jomblo selama benda itu ada di apartemennya.

 

Yah~ memang, ia maklum sih. Ryouta kan moodnya suka naik-turun macem pompaan yang lagi dipakai. Jadi, ia bisa memaklumi tabiat istrinya itu. Lagipula, dari semua istri teman-temannya juga dia, dia masih menobatkan sang mantan bayangan, Kuroko Tetsuya, yang sekarang namanya Akashi Tetsuya, istrinya Akashi Seijuurou, sebagai uke hamil paling nistah sejagad raya (pastikan orangnya atau suaminya tak tahu apa yang ia nobatkan, okay?). Soalnya, masih sangat ingat dia ketika Akashi Tetsuya berfoto bersama benda nista zuper tajem itu lalu di posted di facebooknya.

 

Suer. Aomine Daiki yang saat itu dalam kondisi prima mendadak sakit perut berkepanjangan. Ditambah sang istri benar-benar membawa pulang satu pedang.

 

Dosaku apa sih? Memang jadi mesum itu dosa banget apa? Syediiiiih~ kokoro ini ga kuaaaat~ ga, ga, ga kuaaat. Ga, ga, ga kuaaaaat~ Daiki ga kuat sama kenyataan~

 

Loh, kok jadi gini?

 

Mengabaikan keabsurd-an ganguro hitam itu, kita beralih ke arah partner kerja Daiki yang ternyata sudah ada di dalam ruangan kerja itu sebisa mungkin menjauh ketika pria berambut biru dongker menginjakkan kaki di dalam ruangan kantor tersebut. Yah, paling jauh dengan radius 10 meter dari manusia bernama Aomine Daiki itu lah. Tapi walaupun begitu, ia tetap partner yang baik. Disapalah rekan kerjanya itu dari tempatnya berpijak sekarang.

 

Ohayou, Aomine-san.”

 

“Ha? Oh, ohayou, Tanaka-san.”

 

Aomine Daiki menjawab tanpa melihat orangnya yang berada jauuuuuuuuuuh sekali dari tempatnya sekarang. Partner Aomine yang diketahui bernama Tanaka itu hanya mengangguk lalu melakukan pekerjaannya. Ia sedikit meringis karena harus kembali lagi ke meja kerjanya padahal ia merasa aman berada di tempatnya berdiri tadi, kan jadi tidak kena virus gilanya mantan Ace Kiseki no Sedai itu.

 

Tapi mengabaikan rasa sedihnya, duduklah ia di samping Aomine. Diliriknya sang rekan yang sedang menekuni sebuah berkas kasus. Sangat serius sampai-sampai dalam hati bertanya, siapakah orang di sampingnya ini? Secara Aomine kan jarang serius orangnya.

 

Baru sedetik ia berpaling ke dunianya, ketika ia kembali melihat temannya itu, bisa ia melihat bahwa sosok rekannya itu  sedang tersenyum tidak jelas yang menimbulkan tanda tanya besar. Tapi biasanya, itu akan terjadi karena satu orang. Yaitu Aomine Ryouta.

 

“Seperti sedang senang Aomine-san?” tanya Tanaka pelan sambil menunggu respon rekannya.

 

Aomine mengangguk-angguk bagaikan sedang mendengar lagu rock-metal. Ia menyengir lima jari memperlihatkan giginya yang kini sudah putih cemerlang –berterima kasihlah pada Aomine Ryouta yang selalu menyuruhnya gosok gigi 10 kali sehari memakai abu yang biasa dipakai Ryouta untuk mencuci perabotan kotor di rumah mereka- dan menjawab pertanyaan teman kerjanya itu. “Ryouta makin hari makin cantik, Tanaka. Heran aku.”

 

“Hah?” Tanaka menelengkan kepalanya tak mengerti.

 

“Udah gitu makin seksi juga lagi. Yaoloh mak, ga nyesel aku sering jadi babunya semenjak dia hamil. Ckckck. Makin cinta aku sama dia huahahaha!”

 

“…” Tanaka tambah diam. Lalu menjawab sekenanya. “Gitu ya?”

 

“Iya! Ckck, udah kalau ngasih servis paling mantep. Istri idaman emang.”

 

“…”

 

 

“Nanti kalau kaucari istri, cari yang seperti istriku. Yah, walau palingan udah ga ada lagi yang kayak dia, setidaknya yang agak miriplah sifatnya. Sayang sama suami, hebat dalam memberikan kepuasan pelanggan. Pokoknya the bestlah istriku itu.”

 

“…”

 

“Kudoakan kau cepat nyusul ya? Btw kok tiba-tiba kantor sepi sih? Masih pagi loh ini? Tanaka-san? Kenapa ya—? LOH TANAKA-SAN KAU KENAPA?”

 

Aomine menemukan temannya sedang jongkok sambil menutupi kedua telinganya. Lalu ia melihat sekeliling, dan banyak rekan kerjanya yang lain sedang membentur-benturkan kepalanya di meja. “Kalian pada kenapa sih?”

 

Hening.

 

Sampai suara seseorang menjawab pertanyaan Aomine. “Gapapa. Cuma berasa dikasih ‘energi’ aja pagi-pagi dikasih cerita dengan kalimat begitu, Aomine-san. Hahaha. Hebat dalam memberikan kepuasan pelanggan ya? Hahaha. Oke deh,” lalu orang itu pergi. Meninggalkan Aomine yang hanya mengangkat bahu tak peduli.

 

Diliriknya lagi teman samping mejanya yang sepertinya sudah duduk santai di kursinya. Lalu suara dering telpon menyadarkan dirinya untuk tak mempedulikan suasana sekitarnya.

 

Tanaka hanya mengusap dahi lelah. Apa yang barusan itu efek dibabuin istri yang lagi hamil? Ga terang-terangan tapi kok gimana ya? Apa mesumnya ga bisa hilang? Tanaka melirik lagi partner kerjanya itu.

 

Sekilas ia melihat senyuman di wajah Aomine, namun sedetik kemudian senyuman itu menghilang jadi ringisan.

 

Kembali pagi itu, menjadi pagi zuper abnormal yang seolah datang lagi menghampiri seorang Aomine Daiki.

 

“DEMI AFA KAU ANAKKUUUUUUUUUUUUUUUUUU?!”

 

Juga teriakannya yang semakin menimbulkan 10000000000000000000 pertanyaan dari seluruh penghuni kantor tempatnya bekerja –yang saat itu masih mengumpulkan nyawa atas ‘curhatan’ tak langsung sang Aomine Daiki.

.

.

.

Midorima Shintarou memijat dahinya lelah. Baru saja sampai di lobby rumah sakit, seorang suster sudah menghadangnya dan memasang senyuman sejuta umat yang membuatnya mengernyit tidak suka.

 

Sensei, satu jam lagi Anda membantu Hayama-sensei melakukan operasi,” kata suster itu dan sukses membuat pagi Midorima mendadak gelap.

 

Midorima mau tak mau hanya mengangguk kemudian berlalu, sebelumnya berpesan pada suster itu. “Saya akan ke ruangan saya dulu.”

 

“Baik, dok.”

 

Setelah mendapat balasan dari bawahannya itu, Midorima Shintarou berjalan pelan. Namun tak bisa dipungkiri bahwa kini pikirannya melayang, pikirannya penuh dengan sang istri dan sang jabang bayi. Tanpa sadar, dirinya tersenyum selama perjalanan menuju ruang pribadinya, meninggalkan beberapa perawat yang berlalu-lalang dengan pertanyaan yang berkecamuk di kepala mereka.

 

Midorima jadi ingat insiden pagi tadi. Di mana saat ia terbangun, sang istri sedang tersenyum ke arahnya. Midorima Shintarou mau tak mau jadi ikut tersenyum lagi sekarang.

 

Lalu ia mendapatkan morning kiss yang tak biasa. Kemudian mandi air hangat, lalu sarapan yang normal.

 

Yaoloh kalau tiap hari begini mah Shintarou bisa melayang-layang saking senengnya. Ia meneruskan berkhayal kegiatan-paginya-tadi tak mempedulikan sekitar. Sampai ada tangan yang menepuk pundaknya.

 

“Selamat pagi, Midorima-sensei.”

 

Sontak, Midorima langsung melihat ke arah orang itu. “Ah, pagi-nodayo, Saga-sensei.”

 

Sosok seniornya itu tersenyum sekilas padanya lalu bertanya. “Ada apa? Pagi ini kau terlihat begitu bersinar?”

 

Midorima tersenyum sekilas. “Tidak apa-apa. Hanya sedang merasa senang, nanodayo.”

 

“Hooo, dapat kejutan pagi hari dari istri tercinta?”

 

“Begitulah, hahaha.”

 

Saga mengernyit. Barusan ia mendengar Midorima Shintarou tertawa, kan? Serius ini? “…begitu. Aku turut senang, Midorima.”

 

“Terima kasih-nodayo, senpai.”

 

“Ngomong-ngomong apa kabar calon bayimu?”

 

“Calon bayiku? Sangat sehat, super sehat dan pastinya akan lahir ganteng seperti ayahnya, nanodayo.”

 

Narsis gelaaa. Saga menghela napas maklum. “…begitu ya? Sudah memikirkan nama?”

 

“Eh?” Loh kok kaget?

 

Saga mengernyit melihat reaksi kouhainya waktu kuliah itu. “Iya, nama, Shintarou, nama. Sudah tahu gender bayi kalian?”

 

Shintarou facepalm “Errr … belum-nodayo, senpai.”

 

“Hoo, kalau begitu siapkan dua nama saja. Satu untuk nama perempuan, satunya laki-laki.”

 

“Begitu ya, senpai?”

 

“Yaiyalah. Gimana sih kau, Midorima.”

 

“Iya deh. Nanti kupikirkan.”

 

“Ckck, baiklah. Aku duluan.”

 

Hai, senpai.”

 

Hening. Midorima tiba-tiba berhenti berjalan.

 

Satu detik.

 

Dua detik.

 

Tiga detik.

 

Empat det—

 

“KOK SAYA BISA LUPA MIKIRIN NAMA? KOK BISA-NODAYO?”

 

Selesia berteriak, Midorima langsung ngebut ke ruangannya  mempersiapkan diri untuk operasi yang akan dilakukan beberapa menit lagi.

 

Saat operasi dimulai, Midorima Shintarou menjalaninya dengan sebaik mungkin. Menyingkirkan dulu bayangan sang istri, jabang bayi dan nama apa yang bagus dari pikirannya. Walau sejujurnya ia merasa sulit, namun waktu yang berlalu itu ia habiskan dengan menderita batin karena bayangan orang tersayangnya tak mau hilang.

 

Juga kenyataan ia belum memiliki nama untuk calon anaknya.

 

Syedih. Ayah macam apa kau, Midorima?

 

Tapi untungnya, operasi tersebut berhasil dilakukan. Tepat ketika Shintarou menginjakkan kaki di luar ruang operasi, ia mengeluarkan ponselnya dan menatapi layar benda elektronik itu. Selang beberapa menit, nama sang istri muncul di layar tersebut.

 

Waktu terasa berhenti, Shintarou bagai ada di surga. Dokter yang sebentar lagi menjadi ayah itu begitu terlena mendengar suara sang istri setelah ia berkeluh kesah kepada ukenya itu mengenai lima jam penuh neraka yang ia jalani. Tawa Midorima Kazunari bagaikan penawar atas penderitaannya (padahal pekerjaan dokter sangat ia sukai, tapi kalau dibandingkan dengan Kazunari, Shintarou rela membenci ataupun menjelek-jelekkan segala-segalanya. Tapi ingat, dalam hati doang, Shintarou kan tsundere sejati) dan sekilas membuatnya lupa soal nama apa yang bagus untuk bayinya.

 

Tapi baru sedetik ia bahagia dengan latar para perawat yang menjauh karena merasa takut akan aura sang dokter, suara sang istri kini berubah bagai ancaman yang kembali muncul.

 

Kenafa?

 

“KENAFA KAMU BERULAH LAGI, NAAAK? KENAFAAAAA?”

 

Dan teriakan itu sukses membuat semua orang yang ada di sekitar Shintarou mulai bertanya pada diri mereka sendiri.

 

Shintarou itu dokter umum yang mengidap sakit jiwa?

 

Atau dokter kejiwaan yang juga sebenarnya gila dan menyamar jadi dokter umum?

 

Entahlah. Hanya Shintarou dan Kami-sama yang tahu.

.

.

.

Siang yang terik. Horay. Murasakibara Atsushi berteriak kegirangan (dalam hati) karena istri tercintah sudah tidak mengidam belakangan ini.

 

What a miracle, right? Atsushi mengangguk mengiyakan author yang sebenarnya hanya kasihan pada kepolosan (atau kebodohan) seorang Murasakibara Atsushi.

 

Oleh karena itu, moodnya sekarang ini lebih baik. Rasa-rasanya Atsushi ingin sekali memberikan diskon kepada siapapun yang mampir untuk makan di restorannya itu. Sungguh. Seorang Murasakibara Atsushi mah tidak pernah bohong.

 

Kata mama kan, Atsushi ga boleh bohong apalagi ingkar janji. Soalnya kalau Atsushi bohong, nanti semua mauibo di muka bumi berhenti produksi. Mau nyemil apa dia sehari-hari? Masa nyemilin bibir istrinya. Eh, kok mesum? Oke, abaikan yang tadi. Itu ketikan author, bukan Atsushi.

 

Kata mama lagi, mesum itu dilarang. Setidaknya jangan terang-terangan, nanti bisa dicap jelek. Walaupun mesumnya terhadap istri sendiri. Ya tetap saja, kalau tiba-tiba istrimu tak mau mengakuimu sebagai suami gimana? Kan repot. Ya kan, benar kan? Loh kok jadi ngelantur. Udahlah, abaikan saja kegajean ini.

 

“Hayo pagi-pagi sudah bengong,” suara seseorang membuat Atsushi berhenti berjalan.

 

Are? Nii-chin~?” sapa Atsushi pada kakaknya.

 

Sang kakak mengangguk lalu berjalan di samping adik kelas titan dua meternya. “Mana Tatsuya? Tidak ikut?”

 

Atsushi menelengkan kepala lalu menggeleng pelan sambil terus berjalan. Lalu sang kakak menawari permen lollipop yang langsung diterima dan dilahapnya. “Tapi dia baik-baik saja, kan?”

 

Atsushi mengangguk-angguk menjawabnya. “Nii-chin kok ada di sini?”

 

“Hm? Lagi refreshing, Atsu-chan. Kau kok tumben jalan kaki?”

 

“Lagi malas bawa mobil~”

 

“Begitu, yah. Hidupmu mah serba malas, apa sih yang rajin? Paling makan doang sama Tatsuya deh.”

 

Nii-chin jangan sirik gitu, dong~ Atsushi sudah banyak berubah kok. Tanya aja Tat-chin.”

 

“Percaya kok percaya. Yaudah sana gih ke restoran. Nanti telat kan ga enak sama para karyawan. Masa bos datang telat.”

 

“Bodo ah.”

 

“Lah? Sudah sana cepet.”

 

“Ini juga lagi jalan kok~”

 

“Jalannya jangan lelet dong, Atsu-chan.”

 

“Ini udah cepet kok~”

 

“Mana? Lelet gitu.”

 

“Ya gimana ga lelet kalau nii-chin memegangi tanganku?”

 

“Eh? Ohya, maaf deh. Dah, sana.” Sang kakak mendorong pelan badan adiknya, lalu menghilang bagai ditelan badai.

 

Murasakibara Atsushi bersikap acuh lalu kembali berjalan menuju restoran. Ketika sampai, ia langsung memasuki restorannya dengan segaris senyum tipis saat para karyawannya menyambutnya. Ia langsung berniat pergi ke ruangannya ketika dering ponselnya terdengar. Dalam hati berpikir siapa yang menelponnya? Ah, palingan juga istrinya. Tapi mau apa, ya?

 

Diangkatnya panggilan telepon itu, dan suara sang istri langsung menyapa pendengarannya. Sedetik Atsushi merasa damai, tapi detik-detik berikutnya gumaman yang sangat jelas keluar dari mulutnya.

 

Baby-chin maunya apa sih? Ga bisa diem aja gitu gausah minta yang aneh-aneh lagi? Papa kan lagi kerja, baby-chin. Diem dulu sampe lahir kenapa? Apa susahnya sih? Jangan nyusahin papa terus, baby-chin. Blablablablablablabla………Hiks, kenapa baby-chin jahat banget sama papa? Kenapa, baby-chin, KENAPAAA? KENAPA BABY-CHIN GA KASIHAN SAMA PAPAAAAA?”

 

Yang tentu, gumaman berakhir teriakan nelangsa itu didengar oleh seluruh karyawannya.

.

.

.

Pagi yang cukup cerah. Cahaya matahari pagi masuk melalui celah jendela di ruangan besar berpapan nama ‘Presiden Direktur – Akashi Seijuurou’. Di dalam ruangan itu, lebih tepatnya di atas kursi pemimpin perusahaan Akashi group di Tokyo tersebut, sang pemuda berambut merah terang yang sebentar lagi akan menjadi ayah –sedang duduk melamun menatap bingkai foto di mana di dalamnya terdapat potret dirinya dengan sang istri.

 

Cicit burung yang menghiasi tak ia pedulikan, ia membiarkan para burung itu bercicit seolah-olah menjadi backsound suasana hatinya. Hembusan udara yang ada memberikan efek pada rambut merahnya yang tersapu angin sejuk membuat ia terlihat semakin tampan.

 

Mantan kapten tim basket Teiko yang jarang tersenyum itu tanpa sadar kini melengkungkan senyuman tipis ketika mengingat istrinya pagi tadi. Tangan kanannya menumpu dagunya, pikirannya jalan-jalan entah ke mana. Yang jelas, sekarang seorang Akashi Seijuurou sedang tersenyum seperti orang gila.

 

Detik setelahnya, gumaman tak jelas keluar dari mulutnya.

 

“Anak kembar ya? Yaoloh mak, Sei tidak menyangka akan dapet dua loh?! Ini keajaiban!”

 

Diam sedetik. Lalu mulai lagi.

 

“Nanti mirip siapa ya? Kalau bisa mirip Tetsuya aja deh. Baby Tetsuya kan imuts ngedh. Sei yakin bakal tahan sama yang begitu sekalipun ada dua. Hiks. Jadi terharu deh,” sekilas, Seijuurou menghapus air mata imajinernya.

 

Lalu ia senyam-senyum lagi.

 

“Kira-kira gendernya apa ya? Cowok-cewek? Cowok-cowok? Cewek-cewek? Ah sabodo amat yang menting mereka anak gue, huahahaha!!!” Akashi Seijuurou semakin tidak jelas. Tertawa sendirian pagi-pagi di meja kerjanya mengabaikan setumpuk dokumen yang menunggu, apalagi ia tidak menyadari jika sejak tadi pintu ruangannya diketuk dari luar sampai orang itu sudah memasuki kandang –ups maksudnya ruang kantornya- dan mendapati dirinya sedang tertawa bak orang gila.

 

“Err … Akashi-sama…?”

 

Diabaikan sosok yang ternyata sekretarisnya itu. Seijuurou mengoceh sendirian lagi. “Duh, nyiapin berapa nama nih? Huks, seharusnya daku mengajak Tetsuya USG! Kan biar bisa tahu gendernya apa? Gimans dongs?”

 

Sekarang, Akashi Seijuurou berdiri dari duduknya dan mondar-mandir di depan mejanya, masih belum menyadari ada orang lain di ruangan itu.

 

“Akashi-sama?”

 

“Kalau cowok-cewek … namanya enaknya apa yak? Duh nyari nama aja kok susah sih? Akashi Seijuurou yang hebat dalam hal apapun masa ga bisa mikirin satu nama pun? Secara gue kan super ganteng, kaya, pinter, bisa segalanya. Duh. Ayo mikir, Seijuurou! Harus bisa—”

 

“Akashi-sama…?”

 

“—dapat nama yang bagus. Biar my lovely Tetsuya tambah cinta. Huahahahaha—“

 

“Akashi-sama? Anda baik-baik saja?”

 

“—kan kalau my lovely Tetsuya tambah cinta—hah? Apa? Yaiyalah gue baik-baik aja. Apa si? Eh? Siapa yang nanya?”

 

Akashi Seijuurou diam sebentar. Tunggu tadi siapa yang bertanya padanya?

 

Berarti ada orang lain di ruangan ini dong?

 

“Akashi-sama?”

 

Akashi langsung nengok.

 

“EEEH?”

 

Sekretarisnya langsung diam melihat reaksi atasannya.

 

“KAU KAPAN MASUK, HARUKA? SIAPA YANG MENYURUHMU MASUK, HAH, SIAPA?”

 

Selanjutnya sosok wanita bermarga Haruka itu kicep. Mampusss, kena marah lagiii, batinnya miris.

 

A-ano … s-saya sudah d-di sini s-sejak tadi, A-akashi-sama…”

 

“HAAA?”

 

“M-maafkan s-saya Akashi-sama…”

 

Akashi diam. Hancur sudah imagenya.

 

“Ya sudah. Ada apa ke ruangan saya? Ehem. Maaf tadi saya sedang refreshing sebentar.”

 

‘Refreshing apaan? Mencoba gila iya kali, Akashi-sama,’ batin Haruka. Wanita itu pura-pura mengangguk memaklumi, padahal mah batinnya menjerit kesian punya atasan ga waras. “Ano, saya ke sini ingin memberikan laporan bagian pemasaran. Sekalian ingin menanyakan tentang berkas kerja sama yang waktu itu diajukan oleh Mitarashi group apakah sudah Anda setujui atau belum?”

 

“Eh?” Akashi mengerjap sebentar. Ah, mampus. Gara-gara mikirin istri tercinta dia jadi melupakan pekerjaan kantornya. “Itu, saya belum benar-benar membaca berkasnya. Setelah ini akan langsung saya lihat. Besok sudah bisa kauambil.”

 

“Ah, begitu. Baik, Akashi-sama. Sekedar mengingatkan jika Mitarashi-san bilang—“

 

‘Drrtt drrttt’

 

“Sebentar,” Akashi memotong ucapan sekretarisnya dan mengecek ponselnya. Saat nama sang istri tertera, ia langsung nyengir tak jelas kemudian mengusir sekretarisnya dari ruangan itu. “Keluarlah dulu, ada telepon penting yang harus saya angkat.”

 

“Eh? B-baik, Akashi-sama. Jika Anda butuh apa-apa—“

 

“Iya udah sana cepet keluar. Urgent nih, kasihan my baby Tetsuya kalau kelamaan nunggu.”

 

Ucapan Akashi langsung membuat Haruka memasang tampang ‘demi-apa-lo-Akashi-sama-bisa-ngucap-begitu?’ Sudah ditebak sih dari senyuman di wajah atasannya itu.

 

“Kalau begitu saya permi—“

 

“IYA UDAH SANA KELUAR! SAOLOH LAMA NGEDH DEH DISURUH KELUAR AJA!”

 

‘Jleb’

 

Haruka langsung ngibrit sebelum ia kembali merasakan berada di pinggir jurang kematian.

 

Setelah kepergian Haruka, Akashi langsung mengangkat panggilan dari istrinya. “Iya, Tetsuya sayang~ ada apa menel—“

 

Perkataannya terputus ketika suara Tetsuya terdengar jelas di telinganya, serta serentetan kalimat yang membuat roh Akashi lepas selama beberapa menit. Yang akhirnya ketika ia sadar, hanya teriakan –nelangsa- yang bisa ia berikan.

 

“O EM GEE APALAGI INI APAAA? KAGAK BISA APA GUE NAPAS TENANG SEHARI AJA? HUWA MAMAAAAAH? MAU JADI BAPAK AJA SUSAHNYA SETENGAH MAMPUS. HIKS, SEI SALAH APA MAH? MY CHILDREN, KENAPA KALIAN LAKUKAN INI PADA PAPA NAK, KENAPAAA?”

 

Dan Haruka di meja kerjanya bersin-bersin mendengar teriakan nista atasannya. Kemudian bergumam. “Tetsuya-sama emang the best deh. Baru kali ini gue ngeliat betapa nistanya Akashi-sama selama gue kerja sama dia. Ckckck. Etapi anaknya mereka kenapa tuh? Ah bodoh ah. Bukan urusan gue jugaaa. Mending gue kerja la—“

 

‘BRAK’

 

“Eh copot-copot.”

 

Haruka melompat kejang dari duduknya.

 

“Batalkan semua jadwal hari ini, Haruka. Ada hal penting yang harus saya lakukan.”

 

“Eh? T-tapi Akashi-sama…”

 

“DENGER GA TADI SAYA BILANG APA?!”

 

Haruka mengkeret di tempatnya. “S-saya mengerti.”

 

“Bagus. Dan lagi—”

 

“Ya, Akashi-sama?”

 

“—Berhenti berpikir betapa nistanya saya jika berhubungan dengan Tetsuya. Kalau sampai seluruh karyawan tahu, kau dipecat.”

 

Dan Akashi Seijuurou pun berlalu. Meninggalkan Haruka yang—

 

“EH?”—bertanya dalam hati dari mana atasannya itu tahu? Mampus deh.

.

.

.

Pagi itu benar-benar cerah. Akashi Tetsuya, Midorima Kazunari, Aomine Ryouta dan Murasakibara Atsushi berdiri di sebuah ruangan yang sebenarnya membuat dua di antara mereka nostalgia.

 

Akashi Tetsuya dan Aomine Ryouta  hampir guling-guling ketika menginjakkan kaki mereka lagi di tempat itu.

 

Namun untung saja, Kazunari dan Tatsuya berhasil menghentikan mereka. Setelah keempatnya menelpon para suami, para uke hamil yang usia kandungannya sudah masuk bulan keenam itu berkumpul disatu tempat yang sama, membereskan barang-barang dan membangun tenda kemah.

 

Ah, adakah yang bisa menebak mereka mau apa?

 

Tetsuya memanggil kepala pelayan keluarganya sebentar untuk membantu membuatkan tenda mereka, ketika semua itu sudah selesai, Tetsuya menyuruh Tadashi-san untuk kembali ke rumah. Dan yang harus keempat cowok imut lakukan sekarang adalah … ganti baju lalu menyambut suami mereka!

.

.

.

Setelah mendapat telpon dari istrinya, Ryouta, Daiki langsung berlari kilat menuju tempat kejadian. Pikirannya kalut membayangkan banyak hal. Tapi sepertinya istrinya baik-baik saja, namun tetap saja ia merasa takut.

 

Tak ia pedulikan bosnya yang berteriak padanya, walau sedetik kemudian ia balas berteriak, “Istriku mau melahirkan, pak! Sampai nanti!” lalu menghilang bagai ditelan bumi.

 

Aomine Daiki segera memasuki mobilnya dan ngebut ke tempat di mana Ryouta berada.

.

.

.

Midorima Shintarou mengutuk dalam hati. Ia jadi berpikir sebenarnya apa yang salah dengan dirinya dan Kazunari sewaktu memutuskan untuk membuat anak? Rasanya tidak ada yang aneh. Tapi kenapa sekarang ini malah terjadi?

 

Oh, Kami-sama, lindungilah istri dan calon bayikuuu. Hiks, Shintarou janji setelah ini akan memikirkan nama yang bagus untuknya.

 

Shintarou janjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!

 

Midorima Shintarou ketika memasuki mobilnya –yang sudah ada bensinya- langsung tarik gas secepat mungkin untuk menuju tempat yang dikatakan Kazunarinya.

.

.

.

Murasakibara Atsushi mengoceh selama perjalanannya sambil mengemut permen. Sebelumnya ia berpesan pada kepala pelayan di restorannya kalau hari ini dia akan menghilang sepenuhnya.

 

“Taka-chin, hari ini aku akan menghilang seharian ya? Jangan tunggu aku, nanti langsung tutup saja restorannya. Soalnya—“

 

“Murasakibara-sama? Apa ada yang terjadi pada istri Anda? Apa itu mengkhawatirkan? Apa itu gawat? Apa beliau sudah akan melahirkan? Kenapa Anda akan menghilang seharian? Siapa yang akan mencicipi hidangan sebelum disajikan? Apa ada ya—“

 

“—Tat-chin baik-baik saja dan jangan mengkhawatirkan aku juga Tat-chin, ne~? Untuk apa di restoran ini ada koki jika bukan dia yang mencicipinya? Sudah ya Taka-chin~ jaa ne~”

 

Hal tersebut berhasil membuat Atsushi semakin mengoceh banyak hari ini.

 

“Gausah sok mengkhawatirkanku bisa kali, ya? Memangnya aku ini anak Taka-chin? Lagian kenapa baby-chin pagi menjelang siang begini udah beraksi sih? Papa kan lagi cari uang buat lahiran baby-chin~ baby-chin emangnya mau lahiran di mobil atau di taksi atau di dapur atau di atas kasur atau blablablablablablabla ga mau, kan? Makanya jangan berulah yang aneh-aneh baby-chin~ kasihanilah papa-chinmu ini~”

 

Entah ocehannya itu didengarkan oleh siapa. Yang jelas, setelah mencuri(memakai) mobil milik Takashi, Murasakibara yang tanpa bilang-bilang pada pemiliknya melesat pergi ke tempat tujuan yang dikatakan istrinya.

.

.

.

Akashi Seijuurou merasa dirinya harus bergegas. Ini darurat. Nanti kalau istri dan bayi kembarnya kenapa-napa bagaimana?

 

Aaa, yaoloh, mak. Kenapa cobaan ini tidak ada habisnya? Bagai badai yang terus menerjang, membuat akang Seijuurou merasa lelah akan kelakukan menstrim istrinya. Tidak bisakah Tetsuya ngidam yang biasa-biasa sajaaaaa? Pehlissss, Seijuurou mohon mamaaah, bicaralah pada bayi kembar Sei yang akan lahir ini supaya mendengarkan kata-kata daddynya inih. Hiksu.

 

Seijuurou meringis dalam hati, memohon entah pada siapa tak ada yang peduli. Tujuannya sekarang adalah Tetsuyanya. Nyonya Akashi yang sedang mengandung anak kembarnya.

 

Dan tempat tujuannya kali ini adalah …

.

.

.

“FINALLY GUE SAMPE JUGA DI TEIKO, MAMAAAAAH!!!”

 

Tanpa sadar, keempat cowok kece yang berada di mobil masing-masing teriak stress ketika menginjakkan kaki mereka di tanah SMP Teiko tersebut. Hal tersebut berhasil membuat adik kelas mereka (yang masih imut, karena mereka udah amit-amit tapi ganteng) jawdrop berjamaah melihat kelakuan kakak kelas mereka yang sudah lama lulus itu.

 

Keempatnya langsung berlari ke arah gymnasium dan saat itu juga keempatnya berpapasan. Apalagi setelah itu mereka dulu-duluan siapa yang harus sampai di gym pertama kali.

 

“Che, minggir Murasakibara, Midorima, Akashi. Aku harus ketemu Ryouta!” suara Aomine Daiki terdengar.

 

Urusai-nodayo, Ahomine. Aku juga harus melihat Kazunari!” dilanjut oleh suara sang mantan Shooter nomor satu Kiseki no Sedai, Midorima Shintarou.

 

“Heee~ tapi Mine-chin, Mido-chin, aku juga harus menemui Tat-chin sekarang~” dan suara bak anak kecilnya Murasakibara Atsushi.

 

“Kalian…“ dan suara yang mulai mengintimidasi milik Akashi Seijuurou.

 

Rasa-rasanya tidak ada yang mendengar suara Akashi tuh.

 

“Pokoknya aku duluan yang lewat!” ucap Aomine lagi tanpa mengindahkan aura setan yang mulai muncul.

 

No! Biar aku duluan yang lewat, nanodayo.” Midorima Shintarou dengan santai ingin menyingkirkan si ganguro hitam.

 

Urusai na~ biarkan aku saja kalau begitu, ne~” Murasakibara bersiap membentangkan tangannya membuka jalan.

 

“Oi, kalian…” Akashi mulai bersuara lagi, tapi terpotong oleh teriakan si Hijau dan si Biru Tua.

 

“GA! AKU YANG HARUS DULUAN!” Akashi mulai kesal, muncul kedutan di pelipisnya.

 

“IH! MINE-CHIN SAMA MIDO-CHIN JANGAN PELIT BEGITU DONG! POKOKNYA AKU!”

 

“BERISIK MURASAKIBARA! POKOKNYA AKU!”

 

Rasa-rasanya Akashi Seijuurou sudah tidak tahan lagi. Diakhirilah kehebohan yang dibuat ketiga temannya itu dengan—

 

“DAIKI, SHINTAROU, ATSUSHI, MINGGIR! BIARKAN AKU YANG LEWAT DULUAN! JIKA DALAM 3 DETIK KALIAN TIDAK MENYINGKIR DARI JALANKU, MATILAH KALIAN SEMUA!”—teriakan maha dahsyat yang bahkan membuat burung-burung yang tadinya berkicau kini tersedak.

 

Serentak, tiga kepala Hijau, Biru Tua dan Ungu itu menyingkir. Memberikan jalan untuk sang raja (neraka), Yang Mulia Akashi Seijuurou yang langsung melesat tak mempedulikan mereka yang mengkeret ketakutan.

 

5 menit berusaha mendapatkan kembali nyawa yang melayang bebas, Aomine, Midorima dan Murasakibara langsung menyusul sang mantan kapten mereka secepat kilat.

.

.

.

‘BRAK’

 

“TETSUYA?!”

 

“KAZUNARI?!”

 

“RYOUTA?!”

 

“TAT-CHIN~”

 

Teriakan beruntun Akashi-Midorima-Aomine-Murasakibara itu sukses menghentikan kegiatan yang dilakukan empat uke imut yang sedang meloncat-loncat girang merasa senang akan pakaian yang mereka pakai.

 

Keempat uke imut itu langsung menoleh dan memberikan senyum sebaik yang mereka bisa, kemudian menyambut suami-suami mereka. “Okaerinasai, prince-sama~”

 

Loh kok jadi prince-sama? Ah sabodo lah. Kapan lagi dipanggil pangeran? Muehehe, batin keempat seme yang berdiri di pintu masuk gym Teiko itu.

 

Hening. Mereka berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi di sini. Tenda? Cek. Keranjang piknik? Cek. Bola basket? Cek. Barang-barang pribadi? Cek. Kayu bakar? Cek. Ayo berpikir. Ini sebenarnya mau piknik atau kemah sih? Tapi kenapa ada bola basket segala?

 

Keempatnya masih loading, keempat uke juga hanya diam memasang senyum gigi cemerlang. Sampai suara Midorima menggema di gymnasium itu.

 

“Wow, ngidam yang mainstrum lagi, nanodayo.”

 

“Ha? Mainan strum? APA? Kalian baik-baik saja?” Daiki muter-muter di tempat.

 

“Hee? Makan eskrim? Mau dong~”

 

“Tetsuya, bisa jelaskan ini semua? DAN KENAPA KALIAN MEMAKAI JERSEY BASKET KALIAN, HA, KENAPAAA?”

 

Sontak, Midorima, Aomine dan Murasakibara menatap intens istri-istri mereka. “OH EM GEEEEEEEE~ PERUT BALON KALIAN KE MANAAAAAAH?”

 

“Diam.”

 

‘Jleb’

 

Okay.”

 

“Jadi, Tetsuya? Ryouta? Kazunari dan Tatsuya? Tolong jelaskan semua ini. Kalian ga berencana untuk piknik sekaligus kemah di gymnasium ini kan? KALIAN GA BERMAKSUD BERMAIN BASKET JUGA KAN, ENGGA KAN? DUH JANGAN DONG SAOLOOOH!”

 

“Sei-kun, lebay,” balas Tetsuya padat, singkat dan sangat jelas sehingga menciptakan panah imajiner yang menusuk hati sang suami.

 

“Ya terus ini apa, Tetsuya? Dan kenapa kau memakai jersey basket Teiko? Tunggu kau dapat dari mana? Bukannya yang lama sudah kekecilan? Kok sekarang bisa muat? Astaga apa kabar bayi kembarku, Kami-sama? Tetsuya sekarang lepaskan jersey itu, kasihan bayi kita, yaoloh Tetsuya, yaoloooooooh!!!”

 

‘Plak’

 

Tetsuya memukul kepala suaminya saat sampai di depan pemuda berambut merah terang itu. “Sei-kun berisik. Bisa tenang dulu, ga? Lihat tuh, Midorima-kun, Aomine-kun dan Murasakibara-kun masih belum sadar.”

 

“Shin-chaaaan~ daijoubuuu?”

 

“Daikicchi sadar-ssu! Daikicchiiiii~”

 

“Atsushi kau baik-baik saja? Tenang saja Atsushi, ini jersey ukuran jumbo yang sudah kami pesan kok~ baby-chin baik-baik saja~”

 

Kok rasa-rasanya kata ‘diam’ dari Seijuurou saja berefek begini?

 

“Tuh dengar Sei-kun. Jadi jangan seperti paman tua yang kebakaran jenggot deh.”

 

“Terus kenapa kalian manggil kami ke sini, nanodayo?” Midorima Shintarou yang sudah memasuki kesadarannya langsung bertanya dan menatap intens istrinya. “Jangan ngidam yang aneh-aneh terus dong, Kazunari.”

 

Kazunari terkekeh. Ia kemudian menangkup pipi suaminya itu. “Mungkin ini yang terakhir, Shin-chan.”

 

“Serius?”

 

“Mungkin~”

 

“Ryouta…”

 

Ne, Daikicchi? Apa yang sebenarnya kau inginkan?”

 

“Hehehehe itu…”

 

Daiki langsung memfokuskan pendengarannya kepada sang istri. Namun sang istri justru menjauh dan berdiri di samping uke lainnya yang kini berbaris rapih di depan para seme.

 

“Ehem, begini…” Tatsuya memulai pembicaran. “…kami menginginkan beberapa hal.”

 

“Yup!” Tetsuya menyahut kemudian melanjutkan. “Pertama, kami memang mau piknik serta kemah di sini.”

 

“Kedua, habis pulang dari acara piknik+kemah mendadak kita ini, kita mau shopping baby clothesssu!”

 

“Yup-yup! Tapi sebelum mengawali itu semua. Kami mau kalian…” Kazunari menambahkan lalu mengambil satu bola basket yang tergeletak tak tersentuh. “…bermain basket…”

 

“Oh—“

 

“…dengan kami digendongan kalian.”

 

1 detik.

 

5 detik.

 

1 menit.

 

5 menit.

 

“HAH? BECANDA? GIMANA CARANYAAA?” Aomine menyuarakan permintaan gila keempat cowok imut itu.

 

Akashi hampir melemparkan gunting ke mana saja. Kacamata Midorima hancur. Murasakibara merasa mual.

 

“Justru itu kami tidak tahu~ karena kami tidak boleh main basket lagi, kalian pasti bisa mewakili kemauan kami, kan? Makanya gendong kami terus kalian main basket, okaaay~?” suara merajuk Akashi Tetsuya bagaikan tiupan terompet akhir kehidupan.

 

“Jadiiiii … ayo kita mulai sekarang!”

 

Ah. Neraka kembali datang. Author hanya berdoa ini neraka terakhir untuk mereka.

 

Tapi ada yang bisa bayangkan bagaimana cara mereka bermain? Author serahkan keimajinasi kalian.

.

.

.

—tbc—

.

.

.

Note : Hai, long time no see. Maaf kalau fiksi ini makin garing. Saya harap bisa bikin chap depan atau depannya lagi jadi chapter terakhir –mungkin. Tapi kayaknya ga bisa. Maybe cerita ini bakalan panjang, dan mungkin lagi humornya makin bakal berkurang. Maaaaaf banget kalau chap ini humornya ga berasa😦

 

Thanks a lot yang udah review di chapter sebelumnya. Makasih udah ngikutin cerita ini. Lav ya so muuuuch, guys~

 

Anyway, review?

 

And see ya!

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s