The Pregnant Man ~Chapter 8-{Sleep Over}


The Pregnant Man

10649783_523976901079505_8311178734409661069_n

Story belongs to Umu Humairo Cho

Kuroko no Basuke

Belongs to Fujimaki Tadatoshi

Pairing :

AkaKuro! MidoTaka! AoKise! MuraHimu!

Rating : T

Length : 8 of ?

Romance, Fluffy, Humor-maybe?- Parody._.

Yaoi, Boys Love, Shonen-ai content.

OOCness! MPreg!

DLDR, yo~ Enjoy dan tinggalkan jejak ya:)

.

.

.

A Kuroko no Basuke Fanfiction

The Pregnant Man chapter 8

Sleep Over

Story by Umu Humairo Cho

.

.

.

Semua ini berawal di kediaman mewah Akashi. Saat ketiga cowok kece yang tadinya kembali pingsan hanya karena melihat serentetan pedang yang berdiri kokoh di sudut ruangan. Ketika ketiganya sudah terbangun dan mendapati wajah khawatir para istri. Ketika tiba-tiba Akashi Tetsuya bergumam ‘Aku mau makan lagi’ yang dibalaskan tatapan tak percaya sang suami. Ketika akhirnya kedelapan cowok –empat kece, empatnya lagi imut- duduk di ruang makan mansion sang raja (neraka) menikmati makanan yang dibuat koki andalan keluarga tersebut.

 

Dan juga ketika tiba-tiba Tetsuya kembali menyeletuk. “Ne, Midorima-kun, Aomine-kun, Murasakibara-kun, katanya Kazu-kun, Ryouta-kun, dan Tatsuya-kun mau menginap di sini., boleh kan mereka menginap? Seijuurou-kun, daijoubu, ne?”

Para uke tiba-tiba berbinar, diam-diam mengiyakan apa yang dikatakan Tetsuya dan membantu Tetsuya menatap para seme. Sedangkan yang ditatap tiba-tiba merasa diintimidasi oleh para uke hamil, yang tanpa sadar duduk mereka menjadi lebih tegap.

 

Murasakibara Tatsuya menatap penuh keinginan pada sang suami. Hal tersebut membuat Murasakibara Atsushi merasa dilemma, antara mengiyakan atau menolak. Sampai suara sang istri menyapa pendengerannya. “Atsushi~ Tetsuya benar~ aku mau menginap di sini~ boleh, ya, ya, ya?” pintanya dengan tatapan andalan yang menurutnya sangat berhasil untuk membuat sang suami mengiyakan keinginannya.

 

Atsushi melirik ke arah mantan kaptennya yang sekarang tengah membalas tatapan Tetsuya. Lalu melirik lagi ke arah sang istri. “Hm~ tapi nanti kita merepotkan di sini, Tat-chin~ kita pulang saja, ne~? Lagipula terlalu menda—“

 

“Atsushi tidak sayang padaku? Tidak sayang pada bayi kita? Aku mengidam tahu, Atsushi. Atsushi kok jahat?”

 

“T-tapi Tat-chin~”

 

“Atsu—“

 

“Murasakibara benar, Himuro. Ini terlalu mendadak dan kita akan merepotkan Akashi dan Kuroko, nanodayo. Itu juga berlaku untukmu-nodayo, Kazunari,.” Midorima Shintarou menyela kalimat yang akan keluar dari istri sahabat ungunya, lalu beralih ke arah sang istri yang masih menatapnya.

 

Midorima Kazunari yang diberi jawaban demikian protes. “Tapi, Shin-chan~ ini kemauan bayi kita loh~ Tetsu-chan ada benarnya. Memangnya salah jika kami menginap? Kami tidak akan merepotkan Akashi kok~”

 

“Kazunari tolong dengarkan—“

 

“Kalau begitu kalian juga menginap saja-ssu! Jadinya kami tidak akan merepotkan Akashicchi! Benarkan-ssu?” potong Aomine Ryouta lalu menoleh meminta persetujuan dari para sahabatnya.

 

Detik berikutnya Aomine Daiki bersuara. “Ryouta, itu justru akan lebih merepotkan. Kalian jangan tiba-tiba mau menginap berjamaah begini kenapa?!”

 

“Ish! Daikicchi hidoissu! Memangnya siapa yang tahu kami akan ngidam bersamaan-ssu?” Ryouta cemberut, kemudian melipat tangan di dada diikuti oleh ketiga uke hamil lainnya. Merajuk bersamaan kepada suami mereka.

 

“Bukannya begi—“

 

“Tetsuya dengar…” ucapan Aomine terpotong saat Akashi tiba-tiba juga berbicara. Dan ia memilih diam daripada terkena amukan gunting mantan kaptennya itu. “…mereka boleh menginap tapi tidak sekarang. Mengerti?” lanjut Akashi menatap mutlak Tetsuya.

 

Yang ditatap justru semakin berani balas menatap. Ia sedikit mengangkat dagunya lalu menjawab perkataan suaminya. “Memang kenapa? Karena kamar tamu belum dibersihkan? Tinggal minta tolong Tadashi-san kok. Tapi, aku tidak ingin mereka tidur di kamar tamu. Kami mau tidur bareng sambil cerita-cerita. Ish! Seijuurou-kun tidak peka, ish. Kami kan juga mau melakukan pajama party!” ujar panjang lebar Tetsuya yang diiyakan oleh yang lainnya.

 

“Tetsuya~ kalau begitu alasannya aku akan semakin tidak memperbolehkan—“

 

“Sei-kun tidak sayang padaku? Tidak sayang pada bayi kita? Ya sudah kalau Sei-kun tidak mengizinkan. Aku mau pulang ke rumah tousan dan kaasan saja?!”

 

‘Jleb’

 

Kalimat telak yang membuat Akashi Seijuurou mematung. Lalu memasang wajah melas meminta pengertian Tetsuya.

 

Naa, Tetsuya, dengarkan aku dulu, ne~?”

 

“Jawab boleh atau tidak saja!”

 

“Tetsuya—“

 

“Hiks, boleh atau tidak…hiks.”

 

‘Glek’

 

Akashi meneguk paksa salivanya kembali. Ditatapnya sang istri yang kini menatapnya dengan mata berair. Terus merengek sampai ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Akashi terdiam, berusaha tenang memikirkan apakah yang harus ia jawab kali ini?

 

Apa yang harus ia lakukan kalau ia mengiyakan permintaan aneh istrinya itu? Tunggu, sebenarnya tidak aneh sih. Tapi…tidur tanpa Tetsuya di sampingnya rasanya benar-benar berbeda nanti. Bagaimana dengan teman-teman(budak)nya? Mungkin mereka berpikiran yang sama?

 

Diliriknya ketiga cowok tersisa di ruang makan tersebut, dan yang menyambutnya hanyalah anggukan kepala menyerah dari para suami di sana.

 

Akashi menatap mereka tajam, tapi tatapannya langsung berpindah ketika ketiga uke selain istrinya di sana ikut membujuknya.

 

“Akashi~ biarkan kami menginap, ne~? Sebagai gantinya kau boleh melakukan apapun terhadap Shin-chan~”

 

‘Crack!’ kacamata Midorima Shintarou retak.

 

Ne~ Akashicchi~ Akashicchi juga boleh langsung melaksanakan imbas dari komentarku yang waktu itu pada Daikicchi sekarang kok-ssu~”

 

“Haaa?” Aomine Daiki membeo.

 

Ne, kau juga boleh menyuruh para koki di sini untuk tidak memberikan makanan pada Atsushi. Jadi izinkan kami menginap, okay?”

 

‘Heeeeeeeeeeeeeeeee?’ Murasakibara Atsushi menjerit dalam hati.

 

Akashi Tetsuya menghapus airmata yang mengalir di pipinya. Lalu kembali bicara pada suaminya. “Tuh, Sei-kun sudah dengar, kan? Jadi nanti malam Sei-kun ga bobo sendirian. Boleh, ya, hiks, Sei-kun~?”

 

Mendengarnya perkataan Tetsuya tersebut, membuat Akashi kembali menghela napas lelah. Kalau sudah seperti ini, ia hanya bisa menuruti kemauan sang istri. Tanpa menjawab sang uke, Akashi berteriak memanggil kepala pelayan di mansionnya. “Tadashi! Cepat ke sini dalam lima detik!”

 

“Ha?” suara Aomine membeo. Sebenarnya yang diharuskan menjawab siapa? Tadashi atau Aomine? Ah, Aomine hanya kaget saja dengan perkataan temannya itu. Sehebat apa kepala pelayan keluarga tersebut sehingga bisa melesat dari entah mana sampai di depan Akashi dalam lima detik?

 

“TADASHI!”

 

“I-iya Akashi-sama? Ada yang bisa saya lakukan?” kepala pelayan tersebut datang dengan tergopoh.

 

Akashi menghembuskan napas sebagai jawaban. Ia kemudian menatap lagi kepala pelayan itu. Sang istri sedang bisik-bisik dengan tiga uke lainnya. “Tolong bersihkan kamar tamu lalu pindahkan ranjang di kamar kosong ke kamar tamu itu. Sekarang! Selesai dalam 15 menit!”

 

Terlihat, Tadashi sedikit membelalakkan matanya, namun kemudian mengangguk lalu membungkuk, turut serta berpamitan kepada sang tuan rumah. “Baik Akashi-sama. Kalau begitu saya permi—“

 

“T-tunggu sebentaaaar?!” suara sang nyonya rumah menggema lagi. Matanya berbinar terang yang tanpa sadar membuat Akashi Seijuurou tersenyum. Akashi Tetsuya mendekati sang suami lalu memeluknya. “Sei-kun arigatou~ kau memang suami terbaik~ cup~” katanya disertai kecupan di pipi sang suami. Detik berikutnya Tetsuya menatap sang kepala pelayan. “Tadashi-san bersihkan kamar tamunya saja, biar urusan memindahkan ranjang nanti biar Sei-kun dan yang lainnya saja yang memindahkan, ne? Jaa~ mohon kerja samanya, Tadashi-san~”

 

A-ano, apa tidak apa-apa, Tetsuya-sama?” tanya Tadashi ragu.

 

Tetsuya mengangguk semangat. Sepertinya para seme belum menyadari ucapannya. Sampai ia menjawab lagi. “Tenang saja~ mereka akan melakukan apapun untuk bayi mereka kok~ ya kan?” ditatapnya para seme itu yang masih belum masuk fase memahami maksud dari ucapan Tetsuya.

 

“Iya!” mereka menjawab mantap. Masih belum benar-benar sadar.

 

1 detik.

 

5 detik.

 

10 detik.

 

30 detik.

 

1 menit.

 

3 menit.

 

5 men—

 

“APAAAAAAAAAAAA?” ah, sepertinya setelah ini akan ada yang jadi kuli dadakan deh ya.

.

.

.

Keempat uke hamil itu menatap para seme mereka dengan melipat tangan di dada. Seijuurou, Shintarou, Daiki dan Atsushi menatap balik para uke mereka yang berdiri tegak nan sombong itu.

 

Ketika Tetsuya menoleh dan mendapati kepala pelayan keluarga suaminya itu datang dan memberitahu bahwa kamar tamu sudah dibersihkan, sontak keempatnya menatap balik keempat seme kece yang raganya masih melayang akibat keinginan aneh lainnya dari istri mereka.

 

“Jadi kalian bisa…” ujar Tetsuya memulai perintah untuk para seme.

 

“…mulai memindahkan…” dilanjut oleh Kazunari.

 

“…ranjang dari kamar kosong…” lalu disusul Ryouta.

 

“…ke kamar tamu…” kemudian Tatsuya.

 

Detik berikutnya keempatnya saling pandang lalu menatap lagi para suami. “SE-KA-RANG!” tambah mereka penuh penekanan.

 

Keempat seme itu secara refleks langsung melesat ke kamar yang dimaksud dan mulai memindahkan ranjang yang ada ke kamar tamu.

 

Dan ketika mereka sampai di kamar tamu untuk meletakkan benda yang dimaksud, Tetsuya melihat sang suami hanya menyuruh ketiga temannya. Uke berambut biru langit itu pun sontak berteriak. “SEI-KUN~ BANTUIN MEREKA JUGA DONG~”

 

“Eh?” Seijuurou menatap sang istri yang dibalaskan deathglare andalan Tetsuya.

 

“BAN-TU ME-RE-KA!”

 

“Iya-iya~” dan Seijuurou pun membantu ketiga teman(budak)nya.

 

Menit-menit selanjutnya, teriakan dari para uke menggema di mansion keluarga Akashi tersebut.

 

“DAIKICCHI, MURASAKICCHI, COBA PUTER RANJANGNYA 19°-SSU!”

 

“Yah Ryouta, kayaknya ga bagus, deh. Aomine, Atsushi, coba diputar balik seperti awal?”

 

“SHIN-CHAN~ AKASHI~ COBA TOLONG PINDAHKAN MEJA RIAS INI KE SUDUT SANA!”

 

“Kazunari-kun, sepertinya tidak bagus. Sei-kun, Midorima-kun, coba pindahin ke sudut yang satunya.”

 

NE~ DAIKICCHI~ TOLONG GANTIKAN SEPRAINYA-SSU~”

 

“Atsushi, bisa kau pindahkan lemari pakaian itu ke menghadap ke pintu? Midorima tolong bantu, ne?”

 

“Sei-kun~ bisa tidak bathupnya diubah juga? Putar 85°, ne?”

 

“SHIN-CHAN~ BANTUINNYA YANG BENER DONG~”

 

“Sei-kun, putar lagi deh. Ga cocok keliatannya. Diputar kayak semula saja, ne?”

 

“Atsushi~ ternyata keliatannya jelek. Lemarinya diputar seperti semula saja, ne?”

 

“SHIN-CHAN BANTU LAGI GIH~”

 

“DAIKICCHI, SARUNG BANTAL SAMA GULINGNYA JUGA DIGANTI DONG~ BED COVERNYA JUGA~”

 

Dan teriakan-teriakan selanjutnya terus menggema di kamar tamu itu. Para maid dan butler keluarga tersebut hanya geleng-geleng kasihan pada empat seme yang sekarang sedang jadi kuli dadakan itu.

.

.

.

Dammit, capek banget,” keluh Aomine saat sudah berada di ruang santai rumah Akashi. Ia merebahkan dirinya di atas karpet di depan sofa yang di atasnya berbaringlah sang mantan kapten. Keadaannya sebelas duabelas sama Aomine dan yang lainnya.

 

“Kazunari, awas saja-nodayo. Sampai rumah kukurung di kamar biar tahu rasa, nanodayo.”

 

“Mau ngapain Midorima? Nganu seharian?” Aomine menyahut.

 

HENTAI-NODAYO, AHOMINE!”

 

“KAN KALI! BIASA AJA DONG!”

 

“HOI!”

 

‘Ckris ckris’

‘Siiing~’

 

Setelah keheningan yang diciptakan Akashi, suara Murasakibara menggema.

 

“Tat-chin pinggangku pegel ini~ harusnya tanggung jawab dipijatin dulu~”

 

Akashi Seijuurou diam.

 

“Oi Akashi—“

 

“Diam, Daiki. Nikmati saja kesempatan istirahat yang kita dapatkan ini.”

 

“Betul juga, nanodayo.”

 

“Aku lapar~”

 

“Ck. Kebiasaan kau Murasakibara.”

 

“Tapi kan capek, Mine-chin~ suruh muter-muter lemari sama ranjang~ udah gitu ternyata letaknya kayak semula. Mereka mau ngerjain kita apa gimana ya~?”

 

“Apapun itu aku lelah, nanodayo.”

 

“…”

 

Dan seiring detik berjalan, keempatnya tanpa sadar memejamkan mata, jatuh tertidur akibat kelelahan yang mendera.

.

.

.

Sedangkan para uke, kini sedang duduk melingker seperti uler di atas pager muter-muter sambil cekikikan tidak jelas. Mereka saling bercerita apa saja. Mengenai masa ngidam mereka yang baru awal-awal, mengenai keadaan kandungan mereka sekarang, tentang hal yang sering mereka lakukan dan lain-lain.

 

“Iya-ssu, waktu itu aku pernah minta ke Daikicchi untuk selca bareng tahanan botak yang lagi hamil juga loh-ssu!”

 

“Terus Aomine nurutin kemauan kamu?”

 

“Iya dong-ssu, Kazucchi!”

 

“Itu dapat dari mana tahanan hamil berkepala botaknya, Ryouta?” suara Tatsuya terdengar.

 

“Aku tidak tahu-ssu, yang penting ngidamku terpenuhi-ssu.”

 

“Iya juga sih.”

 

“Kalau Tatsuyacchi ngidamnya gimana-ssu?”

 

“Aku juga pernah ngidam minta selca sama Taiga dan the beatles.”

 

“EH?” sontak Tetsuya, Kazunari dan Ryouta membeo bersamaan. “Tapi kan…”

 

“Iya aku tahu. Akhirnya Atsushi membujukku untuk selca sama Taiga saja. Nyebelin sih~ tapi karena Atsushi selalu menuruti yang kumau, jadi ya kuturuti dia saja.”

 

“Kalau aku mau selca sama Rivaille-heichou!”

 

“Tuh, Kazunari-kun juga aneh ngidamnya.”

 

“Memang, tapi tidak seaneh dirimu, Tetsu-chan/Tetsuya/Tetsuyacchi!”

 

Dan Tetsuya hanya terkekeh membalasnya.

 

“Terus gimana? Apa yang Midorima lakukan?”

 

“Dia malah nyuruh aku selfie, katanya aku sedikit mirip Rivaille-heichou kok~”

 

“Hm~ iya sih-ssu. Kazucchi agak mirip. Yang ngebedain cuma tingginya aja. Kazucchi tinggi, kalau Rivaille-heichou boncel, pendek, kerdil alias cebol nan kuntet gitu.”

 

(Rivaille : HATCHIM! /Eren langsung kasih napas buatan(?)/)

 

“Nah kalau Tetsu-chan—“

 

“Aku sudah tahu ngidamnya Tetsuya :’)” kata Tatsuya sambil memasang wajah sedih. “Karena Tetsuya berhasil membuat titan ungu super gantengku jadi titan gembel tujuh turunan.”

 

“Ehehehe~ gomen Tatsuya-kun~ habis Sei-kun gabisa bawa titan sungguhan sih~”

 

“UAPAAA?” Ryouta dan Kazunari membeo.

 

“Tuh kan, Tetsuyacchi, ngidamnya ajaib lagi~”

 

“Unik banget ya Tetsu-chan~”

 

“Kan biar ga mainsetrum eh mainstream maksudnya.”

 

“Hahaha iya juga sih, hoam~ by the way sudah ngantuk nih. Kita tidur saja yuk?” ajak Kazunari.

 

“Yuk Kazucchi~ aku deketan sama Tetsuyacchi yoohoo~”

 

“Berisik Ryouta. Lagian aku juga dekat Tetsu-chan kok.”

 

“Iyalah, kalian berdua kan di tengah, sedangkan aku dan Ryouta di pinggir.”

 

“Sstt~ jangan pada sirik gitu atuh.”

 

“Ya sudah. Oyasumi minna.”

 

Oyasumi Tetsuyacchi/Tetsu-chan/Tetsuya~”

 

Detik setelahnya, mereka tertidur dengan damai.

.

.

.

Mari kita lihat para seme.

 

Akashi tiba-tiba terbangun dari istirahat sejenaknya, ketika secara gaib ia bisa mendengar suara Tetsuyanya yang seolah mengatakan; ‘Oyasumi Sei-kun~ ayo ketemu di dalam mimpi. Love you muah muah’. Ia sontak melihat ke arah pintu kamar tamu yang tertutup. Kemudian beralih ke arah teman-teman(budak)nya yang masih tertidur di karpet ruang santai itu.

 

Ia bangun dari tidurannya lalu duduk sebentar mengumpulkan nyawa. Seijuurou kemudian bangkit dan berjalan ke arah kamar tamu yang menjadi tempat para uke tidur sekarang. Dibukanya pelan pintu kamar itu, walaupun gelap, lampu kecil di samping tempat tidur bisa membuatnya menemukan wajah sang istri yang tengah tertidur damai di sana.

 

Seijuurou tersenyum kecil, berdiri menyandar pada daun pintu. Memperhatikan wajah damai sang istri tercinta. Tanpa sadar ia berucap, “Bahkan kau bisa tertidur sedamai itu tanpa memberikanku ciuman selamat tidur, Tetsuya,” bisiknya tak menyadari jika Midorima Shintarou, Aomine Daiki dan Murasakibara Atsushi ikut mengintip seperti yang Akashi lakukan.

 

Dan kemudian keempatnya kembali ke ruang santai tadi, lalu masing-masing merebahkan diri di atas karpet secara asal entah siapa yang menyuruh. Detik berikutnya mereka memasuki alam mimpi yang indah di mana di mimpi mereka diisi oleh para istri tercinta.

.

.

.

Pagi yang cerah sudah datang. Dari keempat uke imut yang tertidur pulas itu, Tetsuya dan Tatsuyalah yang pertama kali terbangun. Keduanya saling melempar senyum lalu mulai membangunkan dua makhluk lain di atas ranjang itu.

 

Ketika dua orang yang lain sudah bangun, Tetsuya beranjak pelan-pelan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi diikuti Tatsuya. Ketika keduanya selesai, gantian Kazunari dan Ryouta yang ambil bagian.

 

Tetsuya dan Tatsuya keluar duluan dari kamar itu dan—JRENG! Disuguhi pemandangan yang membuat mereka langsung menatap perut buncit mereka. Disusul dua uke lain yang muncul dan berdiri di samping dua orang lainnya. Menatap sosok-sosok suami mereka yang masih tertidur di atas karpet dengan tak beraturan.

 

Mereka jadi berpikir kalau kemarin itu mereka agak kelewatan. Tapi…yang namanya ngidam, mau diapakan?

 

Setelah puas memandangi onggokan manusia tak berdaya itu, Tetsuya buka suara. “Minna, bagaimana kalau sebagai gantinya kita buatkan sarapan kesukaan mereka pagi ini, yuk?”

 

“Setuju Tetsu-chan/Tetsuya/Tetsuyacchi!”

.

.

.

Matahari semakin terang memasuki celah jendela yang terbuka. Akashi orang pertama yang terganggu dengan cahaya itu lalu terbangun dan pindah ke atas sofa, kembali tiduran mengumpulkan nyawa.

 

Pikirannya masih melayang-layang. Detik berikutnya Midorima memasuki alam sadarnya. Namun masih tiduran di atas karpet itu. Detik berikutnya lagi Aomine yang terbangun, lalu Murasakibara.

 

Akashi orang pertama yang tiba-tiba bersuara. “Jam berapa ini? Hah, telat ke kantor tidak apa-apa kali, ya.”

 

Midorima yang mendengar gumaman Akashi melihat ke arah jam dinding dan seketika ia terbelalak. “Ha? Jam 9-nodayo? Ck, apa Kazunari belum bangun, nanodayo?”

 

“He? Sudahlah, rasanya masuk telat ngantor sekali-kali atau tidak masuk sehari tidak apa-apa lah,” balas Aomine.

 

Murasakibara masih mengucek-ucek matanya yang belum terbuka sepenuhnya. Lalu langsung terbuka sepenuhnya saat mendengar pertanyaan Akashi. “Kau Atsushi? Tidak ke restoran?”

 

“Heee? Restorannya baru akan bukan sejam lagi, kok. Dan sudah ada yang akan membukanya. Jadi tidak masalah jika aku datang siang~ hoam~”

 

Di tengah pembicaraan mereka itu, tiba-tiba Kazunari dan Ryouta datang. Berlari kecil namun gesit mendekati suami mereka. Yang langsung dibalaskan dengan ringisan oleh suami dua uke tersebut.

 

“Shin-chan~ ohayou~ sudah bangun, ya~?” jerit Kazunari pelan yang langsung membuat Shintarou menutup telinga. Tunggu? Pelan? Itu sih dahsyat abis kalau sampai memekakkan telinga. Uke berambut belah tengah hitam itu langsung memberikan ciuman selamat pagi kepada sang suami mengabaikan orang-orang yang ada di sana. “Ugh~ Shin-chan bahkan tetap tampan walau habis bangun tidur~ kyaaaa~”

 

Shintarou hanya memasang wajah facepalm. Padahal mah dalam hati ia ingin sekali mendorong Kazunari ke lantai lalu mengapa-apakannya dan menahannya lebih lama jikalau sekarang ini hanya ada mereka berdua. Tapi lihat di ruangan itu ada siapa saja? Larut dalam pemikirannya sendiri, suara Ryouta yang kini menggema.

 

“DAIKICCHI OHAYOU-SSU~ KYAAA~ DAIKICCHI SEKSI SEKALI-SSU PAS BANGUN TIDUR! SINI KUKASIH CIUMAN-SSU!” Ryouta dengan pedenya berteriak tak peduli dengan yang lainnya. Ia melayangkan ciuman selamat pagi kepada suaminya selama beberapa saat, dan ketika kedua uke itu selesai, Kazunari dan Ryouta menatap dua orang tersisa.

 

Ne, Akashicchi sama Murasakicchi, kalian ditunggu Tetsuyacchi dan Tatsuyacchi di ruang makan-ssu!”

 

“Iya, sarapan untuk kalian semua sudah siap, loh! Yuk kita sarapan sama-sama.”

 

Dua orang seme beda warna rambut –yang satu merah dan satu lagi ungu- hanya mengangguk dan ikut beranjak menuju dapur. Kali saja dapat ciuman selamat pagi juga, kan? Ah, ngarep sekali ya, Seijuurou? Atsushi?

 

‘Syut~’

 

Author tewas di tempat.

 

Abaikan.

.

.

.

Keenamnya memasuki ruang makan di mansion Akashi tersebut. Akashi Seijuurou adalah orang pertama yang menginjakkan kakinya di tempat itu, dan langsung disambut oleh senyuman maut sang istri.

 

Ohayou, Sei-kun~ apa tidurmu nyenyak?” Tetsuya menyapanya seraya mendekatinya dan merapikan rambut Seijuurou yang sedikit berantakan. Uke biru muda itu lalu melingkarkan tangannya di leher sang suami yang langsung Akashi Seijuurou balas dengan menaruh tangannya di pinggang istri tercinta, namun tetap memerhatikan keadaan perut Tetsuya.

 

Ohayou, Tetsuya. Tidurku? Jangan tanya, aku semalam memimpikanmu.”

 

Yokatta~ aku minta maaf soal tadi malam, ne? Sebagai gantinya makanan kesukaan Sei-kun sudah kusiapkan~” balas Tetsuya seraya memberikan kecupan di bibir Seijuurou. Pemuda berambut merah itu membalas kecupan sang istri mengabaikan teman-teman(budaknya) di ruangan tersebut.

 

Ketika Tatsuya juga mendapati sosok sang suami, segera saja ia melemparkan dirinya ke dalam dekapan hangat titan ungu kesayangannya. “Ohayou Atsushi~” sapanya kemudian juga memberikan ciuman selamat pagi pada sang suami yang langsung Murasakibara Atsushi balas dengan senang hati.

 

Selagi kedua couple itu asik dengan dunianya, Shintarou-Kazunari dan Daiki-Ryouta memilih duduk menunggu teman mereka selesai melakukan rutinitas pagi itu.

 

Tetsuya menurunkan ciumannya, ia menciumi rahang kokoh sang suami membuat Seijuurou harus menahan diri untuk tidak menyerang istrinya sekarang. Perutnya sudah bernyanyi minta diisi, dan sangat tidak lucu memberikan pertunjukan live di depan kepala warna-warni lainnya di ruangan itu.

 

Naa, Tetsuya, bagaimana kalau kita sarapan dulu, hm?”

 

Tetsuya tersenyum. “Hehe~ gomen na, Sei-kun~ aku hanya sedang bersemangat saja. Habis Sei-kun semalam sudah menjadi suami dan calon ayah yang baik~”

 

Akashi Seijuurou hanya balas tersenyum lalu menuntun istrinya ke tempat duduk mereka. Di ikuti oleh pasangan Atsushi-Tatsuya yang di mana uke kalem itu mengucapkan hal yang sama pada titan tercintanya. Juga sebagaimana Ryouta kepada Daiki dan Kazunari kepada Shintarou.

 

Yah, walau mereka tahu mereka agak keterlaluan semalam, setidaknya mereka sudah meminta maaf dan pastinya, mereka harap kalau suami mereka mengerti, jikalau hal tersebut adalah keinginan anak mereka, bukan keegoisan mereka semata.

 

Oleh karena itu, dengan demikian, mereka sudah membuktikan setidaknya mereka sudah cukup siap untuk menjadi seorang ayah. Dan mereka sudah menunjukkan kesungguhan mereka terhadap jabang bayi dalam tubuh para istri yang mereka cintai.

 

‘Terima kasih sudah menjadi suami dan ayah yang baik, ne, otousan~’

 

‘Karena kami hanya terlalu menyayangi kalian berdua. Okaasan, anak(anak)ku.’

.

.

.

—Tbc—

.

.

.

Note : Hola, sorry baru update. Ada beberapa hal yang bikin saya stuck. Maaf untuk chapter ini jika banyak kekurangan.

 

Sampai jumpa di next chapter.

 

Signed,

Umu Humairo Cho

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s