It’s About Time ~Part A


You can’t start the next chapter of your life.

If you keep re-reading the last one.

.

.

.

It’s About Time

tumblr_mq5lfkr0ZC1r7din5o1_400

This story belongs to Umu Humairo Cho

Kim Kibum, Choi Siwon, Shim Changmin etc

Are belong to God and themselves

BoysLove, Shonen-ai content.

So, if you don’t like just unread.

I don’t take any profit by publishing this story.

Sorry for the bad plot. I’m dying in my otaku’s world.

And I just could bring this simple story.

But, I’m really happy if you wanna read and give me some review^^

So, enjoy reading. Don’t bash character, ‘kay?

And sure you can give me a criticism.

.

.

.

A SiBum Fanfiction

It’s About Time

by Umu Humairo Cho

.

.

.

Terkadang, mengingat masa lalu itu sangat menyenangkan—tetapi dalam waktu yang sama akan sangat menyesakkan. Dan hal tersebut hanya akan membuatmu tertahan—di tempat yang ingin sekali kau tinggalkan.

 

Musim semi yang sama. Musim semi yang berlalu dengan begitu cepat lagi-lagi menyadarkan namja seputih salju itu dari lamunan masa lalunya. Matanya mengerjap bingung, seolah ia baru saja kembali entah dari mana.

 

Setelahnya ia melirik sekeliling ruangan. Menyadari jika ia berada di kamar hangatnya tanpa tahu harus melakukan apalagi.

Sudahlah, pikirnya. Acap kali ia berpikir demikian, tapi yang dilakukan otaknya selalu berkebalikan. Entah sudah berapa kali namja manis itu menyuruh dirinya untuk lupa dan pergi dari ‘tempat’ itu. Entah sudah berapa kali namja bernama Kibum itu memerintah dirinya untuk bangkit. Bangkit dari rasa sakit yang selama hampir setengah tahun ini dirasakannya.

 

Memang bukan kehendaknya, maksud hati ingin mengabaikan segala sesuatu yang mengingatkannya pada kejadian enam bulan yang lalu itu tak kunjung berhasil dilaluinya.

 

Hatinya terlalu sakit. Terlalu sakit untuk bisa membuka lagi menerima orang lain di dalam kehidupannya. Untuk mencintai ataupun dicintainya.

 

Ia terlalu enggan. Sampai akhirnya pun tak pernah peduli akan keadaan yang berkembang di sekitar.

 

“Yo, Kibummie!” sapaan seseorang membuat ia lagi-lagi tersadar. Dirinya yang sejak tadi memandang lukisan alam yang tampak dari jendela kamarnya, kini berbalik menghadap sosok yang memanggilnya.

 

Alisnya bertaut ketika mendapati orang asing yang tak dikenalnya berdiri di samping sahabat berbagi apartemennya. Dan sang sobat yang menyadari kebingungan Kibum pun tersenyum kecil, pun yang kemudian ia mengenalkan sosok yang dibawanya itu pada namja manis di depannya.

 

“Kibummie, ini Siwon. Mulai hari ini, dia jadi tetangga kita. Dia juga temannya Kyunnie. Nah, Siwon, dia itu Kibummie, sahabatku yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri,” ujar namja berparas cantik –sahabat Kibum- yang dipanggil oleh orang-orang dengan nama Sungmin.

 

Sosok yang baru dikenalkan kepada Kibum tersenyum. Lalu menyapanya ramah. “Salam kenal, Kibum-ah. Semoga kita bisa berteman baik,” kata Siwon yang hanya dibalas anggukan oleh Kibum.

 

Sungmin yang melihat itu hanya menggeleng maklum akan kebiasaan Kibum. Walau sebenarnya tahu jikalau sosok yang dianggapnya adik itu lebih merasa pilih-pilih setelah gagal pada cinta pertamanya.

 

“Ya sudah, kalian ngobrol saja dulu. Aku mau ke da—“

 

“Ah, Sungmin hyung, aku ingin pergi ke perpustakaan kota. Aku akan kembali sebelum makan malam,” sela Kibum ketika Sungmin akan berlalu meninggalkannya bersama dengan tetangganya itu.

 

Sungmin menghela napas pasrah. Walau bagaimanapun, keputusan Kibum untuk menghindari orang lain itu salah menurutnya. Ia hanya akan mendapat cemoohan kalau terus bersikap seperti itu.

 

“Kibummie, dengarkan aku—“

 

“Sampai jum—“

 

Ne, bagaimana jika aku ikut denganmu, Kibum-ah?”

 

“EH??” refleks Sungmin maupun Kibum berteriak. Sedangkan Siwon memasang wajah senyum malaikatnya.

 

“Err—maaf, Siwon-ssi. Aku bukannya bermaksud menolakmu untuk ikut. Tapi sebaiknya kau juga jangan terlalu berharap untuk akrab denganku. Jadi, aku akan pergi sendiri sekarang. Annyeong.”

 

Dan jawaban Kibum sukses membuat Sungmin jumpalitan.

 

“Kibummieeeeeeee!”

 

Meninggalkan Siwon yang terus terheran. Kenapa…namja itu seolah menghindari semua orang asing ataupun yang baru dikenalnya?

.

.

.

Kibum berjalan dalam diam. Tatapan matanya entah mengapa mengabut tanpa sebab. Yang seiring detik berlalu, pandangannya kini teralih ke arah bawah, memerhatikan sepasang kakinya yang menapaki tanah.

 

‘Terlalu sakit…’ lirihnya dalam hati, membiarkan tetes demi tetes air matanya jatuh. Hilang sudah image dingin kebanggaannya. Pikirannya semakin rumit, memikirkan bagaimana bisa ia selalu menjadi orang lain ketika mengingat masa lalunya. Terlalu takut untuk pergi, yang akhirnya selama enam bulan ini ia tertahan dalam keadaan yang justru semakin menyakitinya.

 

‘…atau aku yang terlalu bodoh? Dia sudah tidak mencintaiku lagi, kan?’

 

Lambat laun, langkahnya semakin pelan. Wajahnya semakin tersembunyi, kepalanya semakin menunduk. Kibum berusaha menutupi air mata yang semakin deras mengalir.

 

‘Kenapa aku jadi cengeng? Ini…bukan diriku…’

 

“Berjalan tanpa melihat ke arah depan hanya akan membuatmu menabrak orang lain, Kibummie,” dan kalimat seseorang membuat Kibum refleks berhenti.

 

‘Jangan…kenapa…?’

 

“Sudah enam bulan, bukankah seharusnya Kibummie bisa berubah? Seperti bukan—“

 

“Maaf. Tapi bisakah kau meninggalkanku sendiri…Changmin-ah?”

 

Sosok yang diketahui bernama Changmin itu tersenyum—miris. Ia melirik sekali lagi mantan kekasihnya itu. “Aku…memang akan pergi. Aku ada janji dengan seseorang soalnya. Nah, sampai ketemu lagi.”

 

Sebelum ia benar-benar menghilang, sosok tinggi itu mengacak pelan surai halus milik namja manis tersebut.

 

‘Tidak mau…kenapa harus berharap bertemu lagi? Aku akan semakin sulit untuk melupakanmu…’

 

Jauh. Jauh dari tempat itu, ada sepasang mata yang memerhatikan mereka. Sosok itu semakin mengerti penjelasan dari tetangga barunya itu. Dan mengerti akan sikap sosok yang kini masih berdiam diri di tengah trotoar sana.

 

Ia menghela napas, kemudian berbalik menjauh meninggalkan Kibum yang masih terpekur tanpa tahu harus melakukan apa.

 

“Kau…ternyata serapuh itu, ya, Kibum-ah?”

.

.

.

Mata Kibum mengerjap pelan. Tatapannya menyayu. Ah, tidak terasa hari sudah pagi. Kibum bangkit dari ranjangnya dan merenggangkan otot-otot tangannya. Detik berikutnya, ia berjalan ke balkon, menghirup udara pagi yang bisa menenangkannya.

 

Sekilas, ia bisa merasakan ketenangan. Namun kemudian, pikirannya kembali terisi dengan pertemuannya dengan sang mantan.

 

“Kenapa kau tahu aku belum bisa rela? Kenapa…kau yang paling mengerti aku?” gumamnya sendirian. Tapi, seiring angin berhembus, nyanyian kecil burung-burung mengalun menemani paginya.

 

Juga jangan lupakan keberadaan tetangga barunya yang tiba-tiba muncul di samping balkon kamarnya. “Yo, pagi, tetangga,” sapanya ramah sambil melempar senyum yang tentu saja tak digubrisnya.

 

Siwon hanya tersenyum maklum. Well, ia rasa ia akan mudah beradaptasi dengan sikap dingin tetangganya ini. Akibat pengalamannya memiliki teman yang juga hampir sama dinginnya seperti Kibum.

 

Well, tidak ada kel—“

 

Mian, aku masuk duluan.”

 

“—as pagi. Ah, baiklah,” dan sekali lagi, disela sebelum selesai, lalu ditinggalkan. Siwon kembali melemparkan senyum lumrah. “Ya, ya, ya. Kim Kibum itu memang menarik, ya?” gumamnya tanpa sadar jika sang pemilik nama masih bisa mendengar celotehan pelannya itu.

 

“Aku tidak menarik. Jadi tarik kembali pendapatmu itu, Siwon-ssi.”

 

“Huh? Masih mendengar ternyata. Arraseo~ orang yang sedang banyak masalah memang sensitif, ya? Baiklah, aku minta maaf, ‘kay? Sampai jumpa lagi, tetangga,” balas Siwon lalu berbalik memasuki kamar apartemennya, meninggalkan Kibum yang tersentak di depan pintu balkon, berusaha mengusir rasa penasaran akibat ucapan Siwon tadi.

 

“Bagaimana…bisa? Apakah Sungmin hyung?”

.

.

.

Mata Kibum memanas. Apa yang dilihatnya terlalu menyakitkan baginya. Kenapa harus dirinya melihat pemandangan yang buatnya itu merusak mata? Melihat seseorang yang –mungkin- masih kau cintai berjalan beriringan dengan seorang yeoja di depanmu? Ah, salah jika biasa saja sekalipun kalian sudah putus.

 

Rasanya sangat menyakitkan. Seperti menggarami luka yang pada kenyataannya belum pernah diobati. Semakin sakit, kan?

 

“Yo! Tak baik jika berdiam diri sambil menunduk ter—“

 

“Jangan sentuh aku,” ah. Kenapa setiap ucapannya selalu bisa disela oleh namja bernama Kibum ini? Siwon lagi-lagi tersenyum maklum lalu melihat beberapa meter ke arah depan. Yang tanpa sadar setelah Siwon hampir menepuk pundak namja manis di sampingnya, tatapan mata namja itu terus tertuju pada punggung tegak di depan sana.

 

Well, bungkam terus tidak akan menyelesaikan masalah, kan?”

 

“Kau tahu apa, Siwon-ssi? Jangan bersikap seolah kau mengenalku lama.”

 

“Ups, maaf, Kibum-ssi. Tapi kalau kau terus begini mana bisa kau move on dari—“

 

“Berisik.”

 

“Huh? ‘Kay aku diam. Tapi kuberitahu ya, jalan berdampingan bukan berarti kekasih, loh. Itu saja,” ujar Siwon sebelum berlalu dari samping tetangganya itu. Meninggalkan Kibum yang semakin mengernyit.

 

Tahu apa? Tahu apa seorang Choi Siwon tentang Kim Kibum?

.

.

.

Banyak yang bilang untuk bisa move on, kita harus jatuh cinta lagi. Benarkah? Tapi bagaimana jika Kibum tidak mau mengambil jalan itu?

 

Terlalu sulit untuknya. Mencintai seseorang, bagi Kibum tidak semudah itu. Kalau pun ia mau, sudah sejak lama ia melakukannya. Melupakan segala sesuatu yang terus menghantui dirinya. Cinta sepihak ini. Benarkah? Benarkah jika selama ini hanya Kibum yang mencintainya? Tidak, tentu saja.

 

Dulu mereka saling mencintai. Pasangan yang paling membuat semua orang iri. Tapi mana tahu jika kenyataannya mereka memang tidak ditakdirkan sekarang. Alasan sosok itu memutuskannya saja…Kibum masih belum mengerti.

 

Terlalu membingungkan.

 

Siang ini Kibum kembali melihat sosok itu berjalan berdampingan dengan yeoja yang sama. Dan hatinya kembali mencelos. Kenapa rasa sesak itu tidak mau pergi? Sebegitu cintanyakah dirinya pada sosok bernama Shim Changmin itu? Sungguh?

 

Ia bahkan tadi meninggalkan Sungmin yang ingin pulang bersama. Kibum berlari tanpa mau menoleh lagi.

 

Ia berlari kembali menghindari kenyataan yang semakin terlihat memojokkannya. Atau itu hanya perasaannya saja? Bukankah Kim Kibum yang tidak mau lupa dan beranjak dari ruang hampa penuh kenangan itu? Bukankah dirinya yang tidak mau berhenti untuk mencintai sosok yang sudah hampir enam tahun itu menemaninya?

 

Bukankah…Kibum sendiri yang egois untuk tetap menyimpan rasa itu?

 

Iya kan?

 

“Aish, Kibummie! Kau meninggalkanku lagi~ Huweeee~ untung Kyunnie bisa menjemputku tadi. Menyebalkan, ah!” dan lamunannya kembali buyar ketika Sungmin memasuki kamarnya, lalu menyemprotnya habis-habisan.

 

Yah, malam itu ia lagi-lagi ditemani, oleh ocehan panjang Sungmin yang seolah jengah akan tingkahnya.

.

.

.

Entah sudah berapa kali Kibum berada di situasi yang sama. Entah sudah berapa kali ia mencoba berlari ketika iris matanya seolah menangkap sosok tetangga barunya itu tak jauh dari tempatnya berada. Yang kemudian ia berlari, sejauh mungkin agar tak melihat wajah bahagia mantan kekasihnya dengan sosok yeoja itu.

 

Entah sudah berapa kali juga Siwon memergoki ekspresi pedih Kibum saat melihat pemandangan yang sama. Dan ketika akhirnya dirinya mendapati sosok tetangganya yang berlari menjauh dari tempat itu.

 

Siwon menghela napas. Bolehkah ia katakan jika dirinya khawatir? Tapi siapa dirinya? Dia hanya sosok tetangga yang –mungkin- tidak dianggap Kibum kan?

 

‘Keras kepala sekali.’

.

.

.

Kibum berusaha lupa. Sungguh. Setiap detik, setiap kesempatan, ia akan menyibukkan dirinya dengan apapun. Tugas-tugas kuliah yang menumpuk satu persatu ia selesaikan. Kini dirinya berada di perpustakan universitasnya.

 

Ia sandarkan tubuhnya pada bangku yang ia duduki. Sesekali ia mainkan pensil di tangannya berusaha untuk mengerjakan tugas dari dosennya. Ekspresi wajahnya yang kadang berubah tanpa disadarinya diperhatikan oleh dua pasang mata yang berbeda.

 

Apalagi ketika dirinya menatap sekeliling, lalu menangkap spot yang biasanya –dulu- menjadi tempat ia menghabiskan waktunya dengan sang kekasih, kemudian menunduk menutupi perubahan ekspresinya, dua pasang mata itu tak berpaling, sedikitpun.

 

Satu pasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Satunya lagi seolah mengerti jika sosok itu kembali mengingat masa di mana sosok itu sangat bahagia dengan orang terkasihnya.

 

Satu dari kedua pemilik mata itu menghela napas maklum. Lalu dirinya berlalu pergi dari perpustakan sesaat retinanya menangkap sosok yang pernah beberapa kali dilihatnya. Ah, mungkin salah lihat. Tidak mungkin itu mantan kekasih Kibum, kan?

.

.

.

Kibum termenung di balkon kamarnya. Entah siapa yang menyuruh dirinya terduduk di bawah taburan cahaya bulan dan bintang malam itu. Entah siapa yang menyuruhnya terus menunduk, menatap objek di tangannya yang terbuka. Yang tidak siapapun tahu jika di dalamnya banyak hal tentang kenangan manis miliknya dan sosok itu.

 

Dan juga ketika Siwon tanpa sadar keluar untuk menghirup udara segar, ia dikagetkan akan keberadaan tetangganya itu. Apalagi melihat posisi yang benar-benar seperti orang galau.

 

Siwon tanpa sadar menghela napas lelah. Sebenarnya bukan kali pertama Siwon melihat Kibum seperti ini. Sejujurnya ia sudah sering melihat Kibum seolah terlena lagi hanya karena suatu kenangan berupa benda yang masih dimilikinya yang mengingatkannya akan sosok mantannya itu.

 

Yang Siwon lihat saat itu, perubahan ekspresi yang kentara. Ekspresi sakit dan putus asa. Rasanya Siwon ingin membuat pemuda manis itu merasa lebih baik. Tapi pada kenyataannya Kibum menolak kehadirannya, kan? Kibum tidak ingin dekat-dekat dengan orang asing, yang padahal dirinya sudah lumayan lama menjadi tetangganya.

 

Tanpa sadar Siwon menumpukan tangannya pada pinggiran pagar balkon. Lalu melirik sekilas ke arah sosok yang masih khusyu’ terlarut pada benda di tangannya.

 

Mengoceh entah pada siapa, walaupun khusus ditujukan oleh orang di samping balkonnya. “You can’t start the next chapter of your life, if you keep re-reading the last one.

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“Huh? Kau sedang menasihatiku?” kaget sebenarnya Kibum saat mendengar suara seseorang ketika dirinya larut melihat buku kenangan tentang ‘mereka’.

 

Siwon juga sama kagetnya ketika sosok itu meresponnya. Ia menoleh dan melemparkan senyum ramah. “Mianhe, tapi aku bukannya ingin menasihatimu. Tapi jika memang kau ingin ‘pergi’ dari tempat hampa penuh kenanganmu itu, kau harus punya niat kuat dari dalam hati. Bukan hanya pemikiran saja yang bekerja.”

 

“…”

 

“…”

 

“Sungmin hyung pasti menceritakan banyak padamu.”

 

“Huh? Well, tidak juga. Dia hanya memberitahukanku alasan kau menghindari orang asing atau yang baru kau kenal. Selebihnya aku melihat langsung karena kita satu universitas. Mian, ne, aku tidak bermaksud ikut campur, kok.”

 

“Bicaramu banyak sekali.”

 

“Ha? Ahahaha, aku memang begini. Maklum saja.”

 

“…”

 

“…”

 

“Tapi kupikir kau orang yang tidak suka ikut campur masalah orang lain.”

 

“Hm? Begitukah? Maaf saja, Kibum-ah. Aku memang tidak bermaksud ikut campur, kok. Hanya saja sering melihatmu sengaja menghindar dengan berlari, menunduk untuk menyembunyikan ekspresi ketika dihadapkan olehnya itu sungguh mengganggu. Kupikir dia juga berpikiran hal yang sama denganku.”

 

Mwo? Kau—“

 

“Dan lagi, seseorang pasti memiliki alasan kenapa dia ingin kalian ‘putus’. Dan setelah semua itu berlalu, kurasa dia ingin kau ‘berubah’. Benar, bukan? Lagipula, menurutku, putus bukan akhir dari kehidupan.”

 

“Sudah cukup—“

 

“Tapi memang move on itu perlu waktu. Aku tidak menyalahkanmu. Namun jika bisa jangan sampai membuat orang lain khawatir, ya.”

 

Kali ini, Siwonlah yang terus menyela kalimat Kibum. Ia tersenyum diam-diam saat melirik wajah Kibum yang menunjukkan kekesalan karena kalimatnya tak pernah selesai. Lalu namja tampan bersenyum malaikat itu menghadap sebentar ke arah lawan bicaranya yang ternyata sudah berdiri di atas balkonnya.

 

“Kau membuat semua orang khawatir, Kibum-ah. Sungmin, orang tuamu, Kyuhyun, orang itu dan—tetanggamu ini. Cepat sembuh, ya!” ucap Siwon lalu mengacak sekilas rambut Kibum kemudian berlalu.

 

Meninggalkan Kibum yang terpekur sehingga mampu membuatnya melepaskan benda di tangannya. Kembali mencerna—seraya berpikir dan merasakan tangan yang barusan mengacak rambutnya.

 

‘Lebih…besar…’

 

‘Kenapa dia harus ikut khawatir? Menyebalkan.’

.

.

.

Pagi berikutnya. Kibum membuka kedua kelopak matanya perlahan. Tangannya terangkat berusaha menghalau sinar matahari yang seolah memintanya untuk bangun. Ia bangkit lalu bersandar di kepala ranjang. Ingatannya kembali melayang memikirkan perkataan tetangga barunya itu.

 

You can’t start the next chapter of your life, if you keep re-reading the last one…

 

…tapi jika memang kau ingin ‘pergi’ dari tempat hampa penuh kenanganmu itu, kau harus punya niat kuat dari dalam hati. Bukan hanya pemikiran saja yang bekerja…

 

…aku memang tidak bermaksud ikut campur, kok. Hanya saja sering melihatmu sengaja menghindar dengan berlari, menunduk untuk menyembunyikan ekspresi ketika dihadapkan olehnya itu sungguh mengganggu. Kupikir dia juga berpikiran hal yang sama denganku…

 

…seseorang pasti memiliki alasan kenapa dia ingin kalian ‘putus’. Dan setelah semua itu berlalu, kurasa dia ingin kau ‘berubah…

 

…menurutku putus bukanlah akhir dari kehidupan…’

 

…tapi memang move on itu perlu waktu. Aku tidak menyalahkanmu. Namun jika bisa jangan sampai membuat orang lain khawatir, ya…

 

…Kau membuat semua orang khawatir, Kibum-ah. Sungmin, orang tuamu, Kyuhyun, orang itu dan—tetanggamu ini juga. Jadi, cepat sembuh, ya!

 

‘Apa benar selama ini hanya pemikiranku saja yang menyuruhku bangkit tapi hatiku tidak? Apa benar ia merasa terganggu dengan sikapku? Apa ia benar-benar berharap aku berhenti mencintainya dan memiliki yang lain? Apa aku benar-benar membuat semua orang khawatir? Tapi…untuk apa juga orang baru itu khawatir padaku? Dan apa-apaan? Memangnya aku sakit apa disuruh cepat sembuh? Ah! Menyebalkan sekali,’ batin Kibum terus bertanya entah pada siapa.

 

Detik setelahnya mengabaikan hal itu, Kibum bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dan lagi-lagi…banyak pertanyaan yang muncul.

 

Satu dari sekian banyak pertanyaan itu adalah—kenapa tetangga barunya harus seolah peduli padanya…?

.

.

.

Kibum keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan. Langkahnya berhenti ketika mendapati seseorang yang sepertinya tidak asing di matanya. Alisnya semakin bertaut. Hei, apa yang dilakukannya di sini?

 

“Ah, Kibummie, kau sudah bangun. Ayo sarapan. Aku membuat sarapan ekstra, jadi aku ajak Siwon saja sekalian sarapan di sini. Palli, palli. Aku juga memasakkan makanan kesukaanmu,” ujar Sungmin ketika melihat sosok sahabat merangkap adik untuknya itu.

 

Kibum mendelik tidak suka, lalu duduk di kursi samping Sungmin. “Kalau memang membuat sarapan ekstra, antar saja ke sebelah, kenapa harus orangnya yang ke sini?”

 

“Nah, nah. Kibummie, mengajak tetangga sarapan bersama bukan hal kriminal, kan? Lagipula nanti Kyunnie juga ikut sarapan dengan kita—“

 

TING TONG!

 

“—nah itu dia Kyuhyunnie. Aku bukakan pintu untuknya dulu, ya? Kalian mengobrollah dulu,” setelah berucap demikian, Sungmin meninggalkan Kibum berdua dengan tetangganya itu.

 

Hening menyelimuti selama beberapa menit, sampai akhirnya Siwon berinisiatif membuka percakapan lebih dulu. “Jadi, selamat pagi tetangga. Dan—Sungmin lebih bisa bertetangga daripada kau, ya?”

 

“Dan, kau ada masalah dengan hal itu?” balas Kibum sambil memakan sarapannya.

 

Siwon tersenyum kecil. “Tidak. Hanya saja aku membayangkan jika kau yang berada di posisi Sungmin. Pasti kau terlihat manis,” ujar Siwon sambil menjulurkan lidahnya.

 

“Kau tidak mengenalku, Siwon-ssi.”

 

“Oke-oke. Jadi saran dariku semalam bagaimana? Bagus, kan?”

 

“Aku tidak ingat kau memberikanku saran.”

 

“Oh, how mean, Kibum-ah.”

 

“Diamlah dan makan sarapanmu.”

 

Siwon hanya mengangkat bahu dan memakan sarapannya. Sampai suara seseorang kembali menghiasi ruang makan itu. “So, kalian sudah sedekat ini?”

 

“Begitulah, Cho.”

 

“Kami tidak dekat, Kyu.”

 

Well, respon yang sangat tepat dan bersamaan.”

 

Kyuhyun duduk di kursi samping Kibum dan Siwon berhadapan dengan Sungmin. Kemudian membiarkan kekasihnya mengambil sarapan untuknya.

 

Ne, Bum. Aku dapat undangan reuni SMP kita. Kau datang, ya?” ujar Kyuhyun setelah keheningan beberapa menit.

 

Kibum melirik malas namja berevil smirk itu. “Tidak tertarik.”

 

Kyuhyun menghela napas. “Tapi aku memaksa. Kau bisa mengajak Siwon sebagai pasangan.”

 

“Ha?” Kibum membeo. Lalu melirik namja itu kemudian tetangganya. “Aku bilang tidak tertarik. Itu berarti aku tidak mau datang. Dan—kalaupun aku datang kenapa harus bersama Siwon-ssi?”

 

“Pesta itu mengharuskan membawa pasangan. Jadi—karena kau tidak punya pacar –oke, belum punya lagi maksudku, ada baiknya Siwon menjadi pasanganmu, kan?”

 

Well, aku tidak benar-benar memikirkan itu. Dan keputusanku untuk tidak datang sudah mutlak,” balas Kibum sesaat Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya.

 

Kyuhyun menghela napas. Lalu Sungmin ikut bicara. “Kibummie, sekali-kali menghadiri pesta seperti itu tidak apa-apa, kan?”

 

“Hm.”

 

“Dan saran Kyunnie bagus juga, kok. Aku yakin Siwon mau membantu.”

 

“Dan aku tidak pernah meminta bantuan.”

 

“Aish! Mau sampai kapan kau begini? Enam bulan sudah berlalu dan kau masih belum beranjak? Jangan membuatku tambah merasa bersalah, Kim Kibum,” Kyuhyun berucap kesal. Sesungguhnya perasaan bersalah memang menghantuinya.

 

“Kenapa kau harus merasa bersalah? Dia yang memutuskan—“

 

“Aku yang mengenalkannya padamu, okay? Dan aku yang sengaja menyomblangkan kalian. Kau puas? Bagaimana mungkin aku tidak merasa bersalah? Coba pikirkan itu? Aku sepupumu Kibum, dan aku tidak mau menyakitimu.”

 

“…”

 

Kibum diam mendengarnya. Begitu juga dengan Sungmin dan Siwon. Keduanya melirik Kyuhyun maupun Kibum bergantian. Mereka bisa mendengar Kibum menghela napas lelah.

 

“Cobalah untuk membuka hati lagi. Setidaknya biarkan aku membantumu.”

 

“…kau tidak perlu merasa bersalah. Yang menjalani itu aku dan—“

 

“Kibum, dengar…” Kyuhyun mengambil napas sebentar sebelum menghembuskannya. “…orang tuamu sangat khawatir. Kau harus tahu itu. Aku juga tidak bisa diam saja melihatmu begini. Kau berarti untukku, kau sepupu kesayanganku. Dan—suatu saat kau akan tahu kenapa Changmin meminta putus darimu.”

 

“Apa?” Kibum langsung merespon ketika mendengar kalimat terakhir. “Apa alasannya? Dia sudah tidak mencintaiku karena dia—“

 

“Kau tidak akan mengerti sekarang, Kibummie. Kau akan mengerti ketika kau bisa keluar dari ruang kenanganmu itu dan bisa mencintai lagi.”

 

“Kenapa? Kenapa aku tidak bisa mengetahuinya sekarang? Apa bedanya dengan…nanti?”

 

“Kau akan mengerti nanti,” Kyuhyun tersenyum sedih ketika melihat ekspresi sepupunya. Sungmin di depannya ikut melirik dan mengusap punggung Kibum menguatkan.

 

Siwon yang tidak mau ikut terlarut dalam suasana kegalauan itu pun menyeletuk. “Jadi kapan pesta reuninya? Mungkin aku bisa membantu.”

 

Kibum langsung mendongak dan menatap tajam ke arah tetangganya itu. Sungmin hanya meringis mendapati tatapan Kibum dengan Kyuhyun yang hanya tersenyum kecil. “Minggu depan. Kuharap kau memang bisa membantu, Won.”

 

’Kay, bukan masalah besar buatku. Ya kan, Kibum-ah?” Siwon mengedipkan sebelah matanya pada namja di depannya membuat Kibum melotot kesal. Ia hampir melemparkan serbet makannya kalau saja Sungmin tidak menghentikannya.

 

Jaa, aku sudah selesai. Terima kasih sarapannya, Sungmin. Aku ada urusan sebelum ke kampus. Jadi, aku duluan. Bye, Kyu. dan—“

 

Siwon sedikit mencondongkan tubuhnya lalu mengacak rambut Kibum lagi seperti tadi malam. “—mohon bantuannya untuk minggu depan, okay, Kibum-ssi?”

 

Dan pergi meninggalkan Kibum begitu saja yang kembali tersentak saat merasakan tangan itu mengacak rambutnya.

 

Pabo…apa maumu, sih? Kenapa tanganmu sehangat itu?’

.

.

.

Kibum menatap sebal jajaran tuxedo ketika Sungmin memaksanya untuk belanja persiapan reuni beberapa hari yang akan datang. Matanya melihat sekeliling, dan dirinya semakin bosan saat mendapati tetangganya yang akan menjadi pasangannya ke pesta itu ada di sana juga.

 

Apalagi ketika Siwon menghampirnya dan menumpukkan tangannya pada rak baju di depan Kibum. “Jadi? Sudah memutuskan untuk mengambil tuxedo yang mana, Kibummie?”

 

Kibum mendelik. “Aku akan memilih gaun. Kau puas?”

 

“Ah, I would like it, Kibummie. Well, kau pasti seperti princess dan aku pangerannya.”

 

“Berhenti berkhayal, Siwon-ssi.”

 

“Ahahaha, baiklah, baiklah. Sepertinya kau memang membenciku. Tapi, kau harus tahu jika aku tulus membantumu, okay? Bye, sampai nanti,” balasnya lalu lagi-lagi mengacak rambut Kibum kemudian pergi.

 

Kembali meninggalkan Kibum yang terdiam, tanpa sadar tangannya terangkat memegang rambutnya. Masih terasa tangannya yang halus dan hangat itu. Kenapa mereka berdua bisa memiliki kebiasaan yang sama?

 

Ah, bukan. Tapi…

 

‘Enyahkan pikiran itu, Kim Kibum.’

.

.

.

Malam yang cerah. Kibum kembali berdiri di balkon kamarnya. Tangannya menggenggam erat sesuatu. Ya, kenangan mereka. Sampai sekarang namja seputih salju itu masih menyimpannya. Menyimpan segala sesuatu tentang mantan kekasihnya.

 

Memang benar. Hatinya belum mau, namun pikirannya sudah terus menyuruhnya pergi. Apa yang harus Kibum lakukan?

 

Ditatap lagi foto itu. Foto mereka. Foto Kibum dan Changmin. Membuat sekelebat bayangan menghampiri otaknya. Namun ketika ada tangan lain yang tiba-tiba mengambil foto itu, Kibum sontak mengikuti arah benda itu pergi.

 

“Foto yang manis,” komentarnya tanpa melihat ke arah pemiliknya yang sudah hampir meledak, namun ditahannya.

 

Sang tersangka, Siwon masih setia memandangi foto itu. Atau mungkin hanya memandangi namja manis yang tersenyum di samping namja tinggi dan tampan di kertas tersebut? “Objek fotonya juga manis.”

 

“Berisik. Kembalikan fotoku, Siwon-ssi.”

 

“Sebentar, aku masih mau melihatnya,” balas Siwon tanpa melihat wajah merajuk Kibum yang tak pernah dilihatnya. “Jadi, kau dan dia satu SMP juga, kan?”

 

“…”

 

Hanya angin yang berhembus. Kibum tak menjawab pertanyaan tersebut. Ia justru memandang langit penuh bintang saat itu.

 

“Berarti kau akan bertemu dengannya besok.”

 

“Lalu kenapa?” kali ini Kibum menyahut. Menatap sebal sosok tetangga yang masih betah memandangi potret dirinya dengan sang mantan.

 

“Tidak apa-apa. Kuharap besok kau bisa berakting dengan baik.”

 

“Kalau aku tidak bisa bagaimana? Apa aku akan membuatmu malu? Itu pesta reuni SMPku jadi kupikir aku yang akan mempermalukan—“

 

“Wowowow, santai, Kibum-ah. Sekarang siapa yang cerewet?” Siwon kembali berhasil menyela namja manis itu. Lalu menghadap ke arah samping kirinya dan menumpukan tangannya pada pagar balkon. “Lihat siapa yang sekarang berbicara banyak?”

 

“…”

 

Namja tampan itu tersenyum mendapati ekspresi kesal Kibum. Lalu mengangkat tangan kanannya dan menggoyangkan foto tadi dengan jari tengah dan telunjuknya. “Foto ini buatku, ya?”

 

Mwo?”

 

“Hitung-hitung membantumu melenyapkan kenangan kalian.”

 

“Hei!”

 

“Baiklah, sampai besok malam, Kibummie. Nice dream,” Siwon mengabaikan protesan Kibum yang masih berusaha mengambil fotonya, lalu mulai berbalik sebelum kembali menghadap Kibum dan mengacak rambutnya dengan tangannya yang bebas. Kemudian masuk ke dalam kamarnya.

 

Kibum mendengus, namun lagi-lagi tangannya tanpa sadar memegang rambutnya yang berantakan. Mencibir entah pada siapa lalu ikut berlalu masuk ke dalam kamar hangatnya.

 

Meninggalkan Siwon yang sebenarnya masih bersandar pada pintu kaca itu. Sambil kembali memandangi wajah dalam potret tersebut, melipat kertas tersebut menjadi dua bagian dan berjalan ke arah papan di atas meja belajarnya lalu menempelkan foto yang hanya menampilkan wajah tersenyum Kibum.

 

Well, aku merasa…terlalu peduli padamu sekarang.”

 

Siwon bergumam sendirian, lalu melepas bajunya dan melemparkan dirinya ke atas ranjang, menikmati angin yang masuk melalui celah jendela. Memejamkan mata, berusaha menghalau wajah tersenyum Kibum yang sejak tadi dilihatnya—dalam potret itu.

 

Well, apa-apaan ini. Tidak mungkin aku menyukainya, kan? Ck. Bodoh sekali.”

.

.

.

Kibum sekali lagi melirik tangannya yang melingkar di lengan Siwon. Beberapa menit yang lalu, namja tampan itu memaksa tangannya melingkari lengan kekar itu. Tentu saja hal tersebut membuat Kibum mengernyit kesal. Untuk apa? Mereka kan bukan pasangan sungguhan. Buat apa pula bersikap seperti ini?

 

Kibum merengut, ia bisa melihat teman-teman lamanya bersama pasangan mereka. Dan saat matanya berkeliling melihat ruangan, retinanya menangkap sosok itu, berdiri berdampingan bersama gadis yang sama.

 

Kibum menutup matanya berusaha menghapus sosok itu. Ia mengeratkan kaitan tangannya pada lengan Siwon dan menunduk. Hal tersebut berhasil mengambil perhatian Siwon. Sontak namja tampan itu melihat sekelilingnya dan menemukan sosok yang sama, sosok yang selalu dihindari Kibum belakangan ini.

 

Siwon tersenyum. Lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Kibum. “Hei, mau berdansa?”

 

“Apa?” Kibum sontak berteriak, namun untung saja suara musik mengalahkan suaranya. “Kau gila?” Kibum berujar kesal. Namun gerakan Siwon yang mengait pinggannya dan mengambil satu tangannya membuat dirinya seakan bergerak sendiri. “Hei, Choi Siwon—“

 

“Diam dan ikuti saja. Kau harus terlihat bahagia, Kibummie,” Siwon kembali berbisik, meninggalkan Kibum yang masih berusaha mengikuti alur. Dan tanpa sadar mengikuti langkah kaki Siwon yang bergerak menuntunnya. Membuatnya sedikit lupa—jika barusan retinanya menangkap senyuman sang mantan bersama gadis itu.

 

Dan jauh dari lantai dansa itu, sosok bernama Changmin itu hanya bisa tersenyum. Senang bisa melihat sosok yang dicintainya telah menemukan pengganti dirinya yang lebih baik. Tanpa tahu apa-apa lagi. Selain kebahagiaan yang perlahan terpancar di mata Kibum, sosok yang masih dicintainya hingga kini.

.

.

.

Musik jazz mulai mengalun. Siwon melepaskan tangan satunya dan membiarkannya bergabung dengan tangan kirinya. Kini kedua tangannya memeluk pinggang ramping namja manis dalam dekapannya ini. Kibum menaruh kedua tangannya di depan dada Siwon, menjaga agar jarak mereka tak terhapus.

 

Bibir Siwon tepat berada di sebelah kanan pelipis Kibum. Ia kemudian berbisik kepada namja itu. “Dia tersenyum, Kibum-ah.”

 

“Huh?”

 

“Dia tersenyum sambil melihat ke arah kita.”

 

“Apa maksudmu, sih?” Kibum yang tak mengerti mendorong sedikit dada Siwon dan mendongak. Memasang ekspresi bertanya pada namja tampan itu, yang malah membuat mereka terlihat sangat serasi.

 

Siwon menunduk dan menempelkan keningnya pada kening Kibum. “Aku bilang, dia ikut bahagia karena kau bahagia.”

 

“Dia—?”

 

Kibum siap menengok tapi suara Siwon menahannya. “Jangan lihat. Itu langkah yang harus kau ambil jika ingin move on darinya.”

 

“Apa?”

 

Siwon mengabaikannya. Menikmati posisi yang ia miliki dengan tetangga dinginnya itu. Entah kenapa ia merasa senang melakukan ini. Tubuh kecil Kibum terasa pas dalam pelukannya. Dan Siwon semakin menarik namja itu ke dalam dekapannya membuat jarak yang sedari tadi Kibum jaga terhapus.

 

Kibum tersentak. Apalagi ketika Siwon menyembunyikan wajahnya pada leher putihnya. Napasnya begitu terasa membuat Kibum sedikit terlena. Pelukan erat yang hampir membuatnya sesak napas namun sangat hangat. Tanpa sadar Kibum menyamankan diri dalam dekapan itu. Yang berhasil membuat Siwon semakin mengeratkan tangannya.

 

Dan berucap tanpa sadar. “I think I love you, Kim Kibum.”

 

DEG!

 

Pun hal tersebut berhasil membuat Kibum sadar dan menjauhkan dirinya dari Siwon namun masih bisa namja tampan itu tahan. Ekspresi Kibum tak terbaca, sama halnya dengan Siwon tapi masih bisa sadar akan apa yang tadi diucapkannya.

 

Sudah terlanjur, kan? Ditolakpun Siwon bisa memakluminya.

 

“Lepaskan aku,” ucap Kibum sengit, berusaha lepas dari pelukan erat itu.

 

Siwon tersenyum sedih tanpa sadar. “Maafkan aku.”

 

“Kubilang lepaskan aku, Siwon-ssi.”

 

“…”

 

“Sekarang. Lepaskan aku sekarang.”

 

Dan Siwon hanya bisa menuruti. Dirinya melepaskan kedua tangannya yang tadi melingkar erat di pinggang ramping Kibum. Menatap sang pemilik dengan tatapan yang sulit diartikan.

 

Apalagi ketika Kibum berlalu, bersamaan dengan suara Kyuhyun maupun Sungmin yang berusaha menahannya. Siwon melirik ke arah Kibum keluar lalu melirik ke arah di mana Changmin berdiri. Bisa ia lihat tatapan penuh tanda tanya. Siwon tersenyum miris.

 

Dia tidak menyangka dirinya akan jatuh cinta pada tetangganya itu.

 

Ketika dia berniat menolong sosok itu untuk bangkit dari masa lalunya.

.

.

.

Tbc

.

.

.

Note : Alohaaa~ bertemu lagi dengan saya~ /plak/ Sebenernya mau buat Oneshot tapi ini bakalan jadi Twoshot sepertinya. Maafkan atas cerita yang gaje. But, mind to give me your opinion?

 

So?

 

Review?

 

Signed,

Umu Humairo Cho

2 thoughts on “It’s About Time ~Part A

  1. KANGEN SIBUM……!!!!

    T.T

    Ck! kibum patah hati eoh?! *seretsiwon

    mdh2n siwon bsa menyambung kembali patahan hati kibum dan menyembuhkannya..hiks….brasa gloomy sunday mah..

    hh…dah lma gk mampir kesini..T.T

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s