The Pregnant Man ~Chapter 7-{Unpredictable Moment}


The Pregnant Man

10649783_523976901079505_8311178734409661069_n

Story belongs to Umu Humairo Cho

Kuroko no Basuke

Belongs to Fujimaki Tadatoshi

Pairing :

AkaKuro! MidoTaka! AoKise! MuraHimu!

Rating : T

Length : 7 of ?

Romance, Fluffy, Humor-maybe?- Parody._.

Yaoi, Boys Love, Shonen-ai content.

OOCness! MPreg!

Bleach, Snk, Naruto, SAO, Sailor Moon, Fairy Tail jelas bukan punya saya.

DLDR, yo~ Enjoy dan tinggalkan jejak ya:)

.

.

.

A Kuroko no Basuke Fanfiction

The Pregnant Man chapter 7

Unpredictable Moment

Story by Umu Humairo Cho

.

.

.

Ke empat pemuda beda warna rambut duduk dalam diam. Sejujurnya, tiga dari empat orang itu mulai memikirkan apa yang sebenarnya membuat mantan kapten mereka terlihat sangat tersiksa. Bukankah awalnya pemuda berambut merah itu sangat senang karena akan memiliki anak kembar? Lalu kenapa sekarang terlihat seperti ingin mati?

 

“Oi, Akas—“

 

“Aku ingin meledak.”

 

“Hah?” sontak ketiga temannya membeo bersamaan. Akashi mengacak rambut merahnya frustasi membuat Aomine, Murasakibara dan Midorima makin bertanya dalam hati.

“Apa sih? Kenapa? Kau terlihat seperti ingin—“

 

“Pokoknya gawat.”

 

“Jelaskan coba, Akashi. Kami tidak mengerti, nanodayo,” kata Midorima pada temannya itu.

 

Akashi diam sebentar sebelum menunjuk ruangan di mana Ryouta dan Tatsuya menghilang. “Ruangan itu berbahaya.”

 

“…”

 

“…”

 

“Kenapa memangnya, Aka-chin?” Murasakibara bersuara. Midorima dan Aomine terdiam menunggu jawaban Akashi.

 

“Ruangan itu tempat Tetsuya menyimpan seluruh pakaian cosplay dan segala antek-anteknya.”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“OOOOOHHHH~ APA?!”

 

Telat. Akashi makin memijat dahinya melihat respon teman-temannya. “Yah, kita lihat saja apa yang akan terjadi setelah ini. Mungkin istri-istri kalian akan berpakaian ala Sailor Moon versi jumbo dengan perut menggelembung atau memakai pakaian Disney? Atau SAO, SnK, Kurobas, Naruto, Fairy Tail, Bleach? Dan entah apa yang jelas—“

 

“Oke stop, Akashi. Biarkan kami membayangkannya dulu!” pinta Aomine sambil berusaha membayangkan sang istri memakai—

 

“—hanya kau yang ingin membayangkannya, Ahomine,” potong Midorima yang langsung dibalaskan deathglare ala Aomine yang pastinya tidak mempan.

 

“Tapi, Mido-chin, aku juga ingin membayangkan Tat-chin memakai baju Sailor Moon. Jadi, tunggu sebentar, ne~”

 

“…”

 

Akashi hanya melihat sambil mendengar. Menghela napas lelah, memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Semoga. Semoga mereka hanya mengobrol ala uke di dalam sana tanpa berbuat keanehan.

 

Namun yang membuat anak tunggal keluarga Akashi itu khawatir adalah—kenyataan bahwa pedang-pedang yang dibeli Tetsuya juga berada di dalam sana.

 

Kami-sama…masih baik-baik sajakah mereka?

 

Oke, lebay. Mari kita lihat para uke di ruangan pribadi Tetsuya.

.

.

.

Dua uke yang sejak awal memang sudah pindah ke ruangan itu setelah dari kamar Tetsuya masih asik melihat-melihat berbagai pakaian cosplay koleksi sang nyonya rumah. Kazunari berdecak kagum. Wajar kalau Tetsuya bisa mendapatkan semua ini. Kalau dirinya punya rumah sendiri juga ia akan meminta hal yang sama pada Midorima.

 

Kegiatan memutari ruangan itu terhenti ketika pintu kamar tersebut terbuka lebar, menampakkan dua sosok uke lainnya yang mereka tunggu.

 

“Ah, Ryouta-kun, Tatsuya-kun, doumo.”

 

“TETSUYACCHIIIIII~” Ryouta berlari pelan berusaha memeluk sosok itu.

 

“Hallo, Tetsuya, Kazunari,” sahut Tatsuya yang ikut memasuki ruangan itu.

 

“Oi, Ryouta, kau sudah berlari tadi dan sekarang kau memeluk Tetsuya begitu. Tidak lihat perut kalian saling beradu?” ujar Kazunari yang langsung membuat Ryouta melepas pelukan maut –hati-hati-nya pada Tetsuya.

 

Mou, Kazucchi, kau hanya cemburu, kan-ssu?”

 

“Buat apa? Daripada itu, mending kita lihat koleksi pedangnya Tetsuya. Kita di sini untuk itu, kan?”

 

Tatsuya, Ryouta dan Tetsuya mengangguk serentak. “Iyaaaa!”

 

Ne, ayo ke sini. Biar kutunjukkan pada kalian bertiga.”

 

Ajakan Tetsuya membuat ketiganya sontak bergerak, mendekati sebuah pintu yang mereka yakini adalah tempat pedang-pedang itu. Oke, ruangan ini lebih besar lagi ternyata. Kazunari kira itu kamar mandi. Tidak tahunya—

 

“Ini dia koleksi pedangku, minna.”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

Jreng-jreng~!

 

“Whoaaaa, sugoiiiii~” koor ketiganya ketika melihat deretan pedang dari dinding satu ke dinding lainnya. Berjejer rapi seolah diberi lem sehingga menempel pada dinding.

 

“Kyaaaa~ ini kereeeeeen! Coba Levi-heichou itu nyata! Kyaaaa~” seru Kazunari tiba-tiba membuat dua temannya yang masih memasang tampang priceless pun tersadar. Ketiganya berjalan mendekat ke arah pedang-pedang itu. Tetsuya hanya tersenyum tipis memerhatikan.

 

Ne, Kazunari-kun. Aku juga ada pedang yang mirip pedang di SnK itu. Mau lihat?” ujar Tetsuya pada temannya itu.

 

Kazunari langsung menoleh, tak beda dengan Ryouta dan Tatsuya yang antusias melihat pedang di mana-mana. “Seriuuuusssss? MAUUUUUU!!”

 

“Aku juga mauuuu-ssu! Yang seperti di Bleach ada ga, Tetsuyacchi-ssu?” balas Ryouta.

 

“Kalau yang di SAO itu ada ga, Tetsuya?” kata Tatsuya juga.

 

Tetsuya hanya terkekeh pelan mendengar ketiga sahabatnya begitu semangat. “Tenang, minna. Semuanya ada di sini, kok.”

 

“KYAAAAAAAAAAAAAAAA~”

 

Teriakan penuh euforia ketiga uke itu berhasil membuat keempat seme di ruang tamu memandang serentak ke arah pintu. Berharap bahwa keempat uke imut ini tidak melakukan hal yang aneh yang membahayakan diri mereka dan para jabang bayi.

.

.

.

OMG OMG OMGGGGG!!!” Kazunari greget sendiri melihat dua pedang yang saling bersilangan pada dinding di depannya. Matanya berbinar-binar. Ia menatap pedang itu dan Tetsuya bergantian. “Tetsu-chaaaan, boleh kupegang, tidak?”

 

Tetsuya hanya terkekeh lalu mengangguk membuat Kazunari hampir lompat.

 

“Jangan lompat, Kazucchi, nanti kasihan bayinya-ssu!”

 

“Ohiya, lupa. Hehe~”

 

Tatsuya hanya tersenyum maklum melihat ketiga sahabat barunya itu. Ia melihat sekeliling lagi. Tapi tetap sabar menunggu Tetsuya yang membawanya ke tempat pedang yang ingin ia lihat. Kini, ia, Tetsuya dan Ryouta tengah menyaksikan bagaimana Kazunari memainkan pedang itu, menggerakkannya seolah menebas sesuatu di langit-langit.

 

Sesekali Ryouta mengingatkan mengenai kandungan istri Midorima Shintarou tersebut agar tidak terlalu excited terhadap pedang di tangannya.

 

“INI KEREEEEEN~! Kau punya banyak kan, Tetsu-chaaaaan? Yang ini buatku yaaaaa? Pleeeaaasssseeee?” ungkap Kazunari yang hanya dibalaskan anggukan. “SERIUUUSSSSS? AAAAHHHH~ TETSU-CHAN MEMANG THE BEEEST! ARIGATOUUUU~”

 

Kazunari berputar seperti anak kecil, lalu hampir memeluk Tetsuya kalau saja Tatsuya dan Ryouta tidak mengingatkannya akan dua bilah pedang yang dipegangnya.

 

“Nah, Ryouta-kun, sekarang giliranmu.”

 

Ryouta hanya mengangguk senang. Ia mengikuti Tetsuya berpindah tempat diikuti oleh Tatsuya dan Kazunari yang masih menyebarkan bunga-bunga kebahagiaan akibat mendapatkan pedang impiannya, gratis.

 

“Ini, Ryouta-kun. Sepertinya ini yang dipakai karakter utama Bleach.”

 

“…”

 

“Hei, Ryouta—“

 

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAA~ INI KEREN-SSU!! KYAAAAA, TETSUYACCHI AKU BOLEH MEMEGANGNYA JUGA, KAN-SSU?”

 

Tetsuya, Tatsuya dan Kazunari sampai harus menutup telinga mereka mendengar teriakan annoying ala Aomine Ryouta yang sangat memekakkan itu.

 

Tetsuya mengangguk kemudian mengambil pedang itu dan memberikannya kepada Ryouta.

 

“U-ugh…berat-ssu.”

 

“Pelan-pelan, Ryouta-kun/Ryouta,” ujar yang lainnya mengingatkan. Ryouta mencoba berteman dengan pedang itu. Beberapa menit memegangnya, ia merasa sudah bisa mengimbangi beban sang pedang. Dirinya berusaha mengayunkan benda itu ke udara yang dihadiahi ringisan ketiga sahabatnya.

 

“Hati-hati, Ryouta-kun. Perutmu bisa kenapa-kenapa kalau kau memikul beban seberat itu, apalagi berusaha mengayunkan pedangnya ke udara.”

 

“Benar kata, Tetsuya. Jangan dipaksa, Ryouta.”

 

“I-iya-ssu.”

 

Walau begitu, Ryouta tetap merasa gembira. Ia juga menatap Tetsuya dengan tatapan yang sama dengan yang dilakukan Kazunari.

 

“Ambil saja, Ryouta-kun. Aku tidak keberatan, kok.”

 

“T-tetsuyacchi memang yang terbaik-ssu!!!”

 

Tetsuya membalasnya dengan tersenyum lalu beralih ke arah Tatsuya yang juga memberikan senyuman kalem melihat kedua sahabatnya begitu bahagia.

 

Jaa, giliran Tatsuya-kun.”

 

“Ah, ne. Jadiii, di mana pedangnya?” Tatsuya memarekan senyum lima jari kali ini. Cowok kalem itu sungguh tidak sabar sebenarnya, namun ia tahan karena mengingat perut melendungnya tersebut.

 

“Ada tepat di belakangmu, Tatsuya-kun,” ujar Tetsuya yang seketika membuat Ryouta, Kazunari dan Tatsuya langsung melihat ke tempat tersebut.

 

Di permukaan dinding itu ada dua pedang yang juga saling bersilangan. Satu berwarna hitam dan satunya putih-hijau.

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

Tatsuya langsung menghampiri benda itu dan memasang wajah berbinar-binar. Tak dapat menyembunyikan kesenangannya melihat dua pedang yang menurutnya keren.

 

Tatsuya mengambil keduanya perlahan, berusaha merasakan berat dua benda itu.

 

“Ugh…”

 

“Hati-hati, Tatsuya-kun.”

 

“I-ini yang hitam agak berat. Apa memang didesain seperti di animenya?” balas Tatsuya membuat yang lainnya saling pandang.

 

“Mungkin Tatsuyacchi. Milikku jugaaa-ssu.”

 

“T-tapi…itu kereeeeeeeen!” Kazunari berteriak lagi. Membuat ketiganya ikut merasa senang.

 

Tetsuya juga mengambil pedang yang dipakai oleh salah satu karakter di anime Fairy Tail. Dan euforia mereka kembali berlanjut. Berteriak-teriak tidak jelas, mengayunkan pedang-pedang itu secara bersamaan seolah sudah berteman baik dengan sang benda.

 

Meninggalkan berbagai pertanyaan dibenak para seme di ruang tamu yang terus menatap ke arah pintu ruangan pribadi Tetsuya.

 

Dan teriak-teriakan absurd berikutnya sukses membuat Seijuurou, Shintarou, Daiki dan Atsushi menggedor-gedor pintu ruangan yang –pastinya- diabaikan oleh keempat uke di dalamnya.

.

.

.

“KYAAAAA~ KOSTUMNYA JUGA KEREN-SSU!!”

 

“KYAAAAA~ TATSUYA KAU COCOK BANGET PAKAI BAJUNYA ASUNA!”

 

“Kau juga, Kazunari. Seragam Prajurit itu cocok untukmu.”

 

“AAAAAAA~ TETSUYACCHI SEKSI BANGET-SSU!!! KAZUCCHI, TATSUYACCHI, LIHAT-LIHAT!!! BAJUNYA ERZA COCOK BANGET SAMA TETSUYACCHI, KAN-SSU?”

 

“YA AMPUN, TETSU-CHAN KAWAII~~”

 

“Ryouta juga bagus kok, bajunya Kurosaki cocok banget dipakai olehmu.”

 

“Setuju sama Tatsuya-kun, kalian semua cocok dengan kostum kalian.”

 

“AAAAAA~ TIDAK SABAR MAU NUNJUKKIN KE SHIN-CHAAAN~”

 

“SAMA-SSU! KIRA-KIRA DAIKICCHI SUKA TIDAK YAAA-SSU~?”

.

.

.

Keempat seme di depan pintu kamar tersebut—

 

“Erza Fairy Tail? Perutmu gimana nasibnya, Tetsuya?”

 

“Seragam prajurit? Please, pasti berhubungan sama SnK deh, nanodayo.”

 

“Apalah tampangnya Ryouta berbaju Kurosaki?”

 

“Tat-chin pasti tetap cantik~”

 

Terus dan terus bergumam. Jadi membayangkan akan seperti apa ketika keempat uke itu muncul keluar. Apa yang akan terjadi, Seijuurou, Shintarou, Daiki dan Atsushi benar-benar tidak tahu.

 

Tapi lama mereka menunggu di depan pintu, keempat pemuda manis itu pun tak kunjung keluar. Masih asik berteriak-teriak tidak jelas di dalam sana –walau hanya Ryouta dan Kazunari yang teriak- membuat keempat seme itu tak sabar.

 

Seijuurou hampir saja akan mendobrak pintu ruangan tersebut, namun sudah dibuka terlebih dahulu oleh seseorang dari dalam. Menampakkan sosok istri dari Midorima yang memakai seragam prajurit dan jubah hijau berlambang sayap kebebasan. Jangan lupakan segala peralatan di sisi tubuhnya.

 

Seijuurou mundur beberapa langkah, begitu juga dengan yang lainnya sampai mereka kembali duduk di sofa ruang tengah mansion Akashi tersebut.

 

Setelah Kazunari keluar dengan percaya dirinya, diikuti oleh Tatsuya dalam balutan baju yang dipakai karakter wanita dalam serial anime SAO dengan perut besarnya yang menyembul. Lalu disusul Ryouta dan terakhir Tetsuya yang—sukses—semakin membuat keempat seme speechless melihat mereka.

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“Loooh~ kok diam si-ssu? Bagaimana? Kami cantik kan-ssu?” suara Ryouta menggema diiringi suara jangkrik di luar sana. Daiki sampai membuka-tutup mulutnya karena tak tahu harus berkata apa, seolah lidahnya sangat kelu.

 

Seijuurou masih cengo melihat Tetsuya dari atas sampai bawah. Plis. Darimana pulak ia mendapatkan pakaian yang dipakai karakter anime tersebut? Baju yang seolah seperti kristal dengan sayap buatan di belakangnya. Perutnya tentu terbebas dan rok yang lumayan panjang. Akashi benar-benar diam.

 

Diikuti Shintarou yang menatap malas sang istri. Itu apa kabarnya perutnyaaa? Bagaimana kalau tertekan? Kazunari tidak kasihan apa sama anak mereka?, Shintarou sampai membatin. Tapi sekali lagi ia teliti, melihat bahwa baju yang dikenakan istrinya adalah baju ukuran jumbo.

 

Dan Atsushilah yang pertama kali bersuara. “Tat-chin tetep cantiiiik~” katanya masih sambil memandangi sang istri dari atas ke bawah. Sepertinya keempat cowok warna-warni ini belum sadar dengan benda di tangan para uke saking kagetnya.

 

Sampai, suara Atsushi kembali menggema. “Demooo~ apa Tat-chin tidak keberatan menggendong dua pedang seperti itu? Sini~ Atsushi bantu, ne~?”

 

DEG!

 

Seijuurou, Shintarou dan Daiki langsung tersadar. Dengan cepat, mereka kembali menatap istri mereka yang langsung memberikan cengiran lima jari.

 

“Daikicchi juga tidak mau membantuku-ssu?”

 

“Shin-chan tidak usah bantu~ ini tidak berat kok~”

 

Ne, Sei-kun duduk diam saja. Pedangnya lumayan ringan kok.”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

Mendengar ucapan ketiganya, bukannya tenang dan lega, ketiga seme selain Murasakibara malah semakin memasang tampang speechless. Dan berikutnya—

 

BRUK!—pingsan membuat para istri mereka menjerit seriosa.

.

.

.

Tetsuya, Kazunari dan Ryouta duduk di sisi suami-suami mereka. Menunggu kapankah ketiga cowok kece itu akan bangun dari tidurnya setelah melepas pakaian cosplay yang tadi dikenakan tiga pemuda manis itu.

 

Pedang yang mereka bawa pun diletakkan barang sebentar di sisi ruangan. Saat ini mereka benar-benar khawatir, mereka tidak menyangka jika reaksi suami-suami mereka akan seperti ini. Lagipula Murasakibara justru terlihat senang akan penampilan Tatsuya. Tapi kenapa Seijuurou, Shintarou dan Daiki malah pingsan?

 

‘Sei-kun/Shin-chan/Daikicchi aneh!’ mereka membatin bersamaan.

 

Selang beberapa menit kemudian, setelah menunggu hampir setengah jam, ketiga cowok beda warna rambut itu sadar dari pingsannya. Mengerjap sebentar sebelum berusaha mengenali dan mengerti keadaan.

 

Seijuurou, Shintarou dan Daiki serentak menengok ke arah samping kanan mereka dan mendapati wajah khawatir istri mereka. Tangan mereka sontak bergerak mengelus pipi tembam para uke.

 

“Sei-kun~?”

 

“Shin-chan~?”

 

“Daikicchi~?”

 

Suara ketiga uke itu membuat ketiga seme yang habis pingsan terbuai. Mereka berusaha mendudukkan diri untuk bisa lebih leluasa melakukan sesuatu kepada istri mereka. Mengelus pipi dan menciumi rambut halus para uke mengabaikan MuraHimu couple yang menonton pertunjukkan live mereka.

 

“Aku di mana?” tanya ketiganya bersamaan.

 

Para uke mengernyit, namun mengabaikan hal itu dan menjawab bersamaan –lagi. “Di rumah –Akashi/Akashicchissu.”

 

“Ooooh~” balas mereka membeo. Suasana hati dan keadaan sudah tenang. Mereka semakin memeluk uke masing-masing. Tapi ketika mata mereka kembali menjelalah ke seluruh ruangan dan berhenti pada beberapa bilah pedang yang terabaikan, sontak mereka kembali mengingat apa yang terjadi dan—

 

BRUK!—pingsan lagi untuk yang kedua kali.

 

Dan hal tersebut lagi-lagi menghasilkan teriakan nyaring ala penyanyi seriosa di mansion besar Akashi.

.

.

.

—Tbc—

.

.

.

Note : Ini sebenernya apa banget? Maafkan saya hiks. Kalo boleh jujur, saya jadi inget alasan utama saya buat ff ini. Udah melenceng jauuuuuh banget. Tapi kalo balik ke sana, ini ff bakal jadi Hurt/Comfort. Kuat ga ya saya ngetiknya? /curhat/ kita lihat saja nanti~

 

Tapiiiii—mari lupakan. Maafkan baru apdet dan lama beeeeet~ semoga ini bisa menghibur._.

Last but not least~

 

Review?

 

Signed,

Umu Humairo Cho

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s