The Pregnant Man ~Chapter 6-{Mendadak Sial, Mendadak Reuni}


.

.

.

The Pregnant Man

10649783_523976901079505_8311178734409661069_n

Story belongs to Umu Humairo Cho

Kuroko no Basuke

Belongs to Fujimaki Tadatoshi

Pairing :

AkaKuro! MidoTaka! AoKise! MuraHimu!

Rating : T

Length : 6 of ?

Romance, Fluffy, Humor-maybe?- Parody._.

Yaoi, Boys Love, Shonen-ai content.

OOCness! MPreg!

DLDR, yo~ Enjoy dan tinggalkan jejak ya:)

.

.

.

A Kuroko no Basuke Fanfiction

The Pregnant Man chapter 6

Suddenly Unlucky, Suddenly Reunion

Story by Umu Humairo Cho

.

.

.

Akashi Seijuurou mengusap dahi lelah. Terlalu lelah untuk bersikap ramah pada siapa saja ataupun menjawab pertanyaan supirnya.

 

Ia lelah. Lelah lahir dan batin akibat acara ngidam dan kegalauan sang istri mengenai gunting rumput baru dan perutnya yang lebih besar dari orang hamil empat bulan lainnya.

 

Iya. Kalau dipikir-pikir, kenapa perut Tetsuya sebesar itu? Apa keseimbangan gizi dan nutrisi anaknya terganggu? Apa anaknya akan lahir cacat? Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa ini semua gara-gara—oke cukup, Akashi. Pemikiranmu jauh sekali.

Kegalauan Tetsuya menular. Serius. Serius tidak pernah bohong Akashi Seijuurou mah. Sekarang ia merasa harus benar-benar secepatnya sampai di rumah lalu berbicara dengan Tetsuyanya. Entah akan jadi apa dia saat bertemu nyonya Akashi itu nanti. Yakinlah dirinya akan jadi menu makan malam karena acara ngaretnya dari pembicaraan awal di media sosial facebook dengan mengatakan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan pulang. Nyatanya mah Akashi lagi enak-enaknya mengoreksi laporan keuangan bulanan.

 

Dan ketika ia selesai, ia baru sadar sudah lebih dari dua jam ia mengetik komenan itu.

 

Man, sanggupkah Akashi jadi korban sang istri malam ini menggunakan gunting rumput yang baru dibelinya?

 

“Akashi-sama, sepertinya sedang ada kecelakaan di depan. Kita hanya bisa bergerak sedikit demi sedikit.” Ujar Fujiwara yang membuat Akashi sontak membuka mata.

 

“Hhh~ aku tidak mau tahu. Kita harus segera sampai rumah dalam limabelas menit.”

 

“T-tapi Akashi-sama—“

 

“AKU TIDAK MAU TAHU, FUJIWARA! AKU BELUM MAU JADI SEIJUUROU PANGGANG! PEHLIS DEH! NURUT DIKIT APA SAMA MAJIKAN!”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

Jleb—Fujiwara kicep mendengar teriakan mutlak nan nelangsa Akashi. Ia baru sadar, semenjak nyonya mudanya—Akashi Tetsuya—hamil, sosok tuan mudanya ini jadi sedikit out of character (Dikit? Otak lu miring Fujiwara? Akashi super out of—oke pis, Akashi back to story). Seperti bukan dirinya. Itukah keajaiban cinta? Hanya sosok nyonya muda itu yang berani memerintah dan mengancam seorang Akashi Seijuurou?

 

“B-baik, Akashi-sama.”

 

Tapi daripada memikirkan itu, ia lebih baik memikirkan bagaimana caranya menyingkirkan sederetan mobil di depan mobil yang dikendarainya.

.

.

.

Tiga jam. Tiga jam sudah Tetsuya menunggu kepulangan sang suami tercinta. Tangannya sedari tadi memutar-mutar pisau dapur siap melemparkannya kepada Seijuurou jika pemuda berambut merah itu memunculkan batang hidungnya.

 

Apanya yang di perjalanan pulang?

 

Palingan saat ia bilang seperti itu tadi, dirinya masih disibukkan dengan berbagai laporan bulanan yang datang. Tetsuya yakin itu.

 

Bahkan ketika dirinya sudah selesai menelpon toko pakaian cosplay langganannya dan menyebutkan beberapa baju cosplay ukuran jumbo untuk orang hamil yang akan dibelinya sudah siap disediakan dan segera diantar, sosok sang suami tak kunjung datang.

 

Mengingat itu, pikiran Tetsuya ke mana-mana. Melanglang buana dengan nistanya.

 

Sebenarnya ke mana dirimu pulang, abang Sei? Adakah orang lain di luar sana yang membuatmu tak ingat jika diriku sedang hamil sebesar bola basket di rumah sedang menunggumu?

 

Apakah dirimu sudah bosan dengan diriku yang semakin lama semakin membengkak layaknya Tadoko*o dari anime sebelah yang pastinya membuat diriku tak lagi sebohai nan seseksi Kuroko Tetsuya saat di Teikou dulu?

 

Apakah—stop!

 

Duh, kok jadi alay sih, nak Tetsuya?

 

Akashi Tetsuya menjambak rambut, hampir-hampir pisau dapur itu mengenai kepalanya. Kalau saja kepala pelayan di sana tidak berteriak seriosa mengingatkan jika dirinya sedang memegang benda tajam, dirinya pasti sudah jadi incaran neraka milik majikannya.

 

Tetsuya mendelik sebagai jawaban, lalu beralih mengusap perut besar bak ban mobilnya dengan tangannya yang bebas tak memegang apa-apa. Para maid dan butler meringis. Terlalu takut—terlalu takut jika sang nyonya tergores sedikiiiiiit saja, hidup mereka sudah pasti diambang kehancuran. Sang raja (neraka) pasti akan langsung membuang mereka ke sumur belakang rumah besar yang katanya banyak kodoknya itu. Ckckck.

 

Cklek!

 

Tadaima~” suara bunyi pintu dan suara seseorang yang sangat Tetsuya kenal membuat sosok hamil itu refleks berlari pelan membuat semua yang ada di sana mengaduh ditambah lagi terlalu speechless saat sang nyonya rumah siap melemparkan pisau yang dipegangnya tapi tertahan melihat keadaan bak gembel suaminya.

 

Anjrit.

 

Tetsuya langsung saja melempar pisau itu ke sembarang arah dan tepat mengenai satu dari banyak orang di sana, lalu mendekati Akashi Seijuurou –suaminya. “Sei-kun kenapa dengan bajumu? Fujiwara-san mana? Kok kamu sendirian pulangnya?”

 

Akashi diam sebentar. Berusaha mengingat kejadian mengenaskan seumur hidupnya. Kejadian yang merenggut harga dirinya. Yang tanpa sadar membuat dirinya memasang wajah paling ngenes seantero orang menderita di Tokyo sana.

 

“Hm? Oh, tadi aku lari dari kemacetan akibat kecelakaan laknat yang membuatku tak bisa pulang lebih cepat. Lalu di tengah pelarianku, aku terpeleset bungkusan snack dan mencium aspal berlumpur. Lalu ketika ingin bangkit aku dikeroyok karena dituduh ingin melakukan kejahatan karena gunting rumputku hampir mengenai wajah seseorang. Yah, hasilnya jadi begini. Sedih kan, Tetsuya?”

 

Tetsuya diam. Para maid dan butler pun diam. Antara mau teriak dan bingung ingin pegangan. Ini pasti ada sekrup kepala Akashi Seijuurou yang lepas. Sudah berbicara panjang lebar, menceritakan kejadian dengan lengkap, pasang tampang orang ngenes pulak.

 

Pehlis. Tetsuya mau jungkir balik melihatnya.

 

Galau lagi antara mau ngamuk atau membantu sang suami membersihkan diri.

 

Tapi karena Tetsuya istri yang baik, ia pun menyuruh suaminya untuk membersihkan dan merapikan penampilan gembelnya. Sekalian merebut gunting rumput pesanannya.

 

“Sei-kun mandi dulu sana. Tahu tidak sih? Tampangmu mirip banget sama bandot yang kecebur got gara-gara diseruduk tikus. Hush hush. Lagian kok tumben Sei-kun ceroboh,” kata Tetsuya sambil mengelus-elus sayang gunting rumput baru di tangannya.

 

Lalu Seijuurou? Diam tak bernyawa mendengar perkataan Tetsuya sambil berpikir apakah salahnya.

 

Mah, Sei mau nangis, mah. Kok Tetsuya sejahat itu ngatain Sei mirip sama bandot, mah? SALAH SEI APA, MAH? SALAH SEI APA, MAMAAAAAAAAAAAAAAAH? HIIIIIIIKKSSSSSSS T_T

 

Batin Seijuurou sudah menangis kejer, namun sang tersangka yang membuat seorang Akashi Seijuurou menangis (dalam hati) tak kunjung sadar jika perkataannya menimbulkan lubang hitam di dada suaminya.

 

Mengabaikan hal itu, Seijuurou berjalan layaknya zombie, menoleh sesekali berharap Tetsuya mau menemaninya membersihkan diri. Sekalian mau modus pegang-pegang tubuh bengkak itu tidak apa-apa kan? Kali saja bisa dapet seronde di kamar mandi. Lumayan buat isi energi.

 

“Sei-kun!”

 

Ah~ doanya dikabulkan. Tetsuya memanggilnya pasti karena mau menemaninya man—

 

“Nanti kita telepon Midorima-kun saja ke sini ya untuk memeriksa kandunganku yang super besar ini. Aku sudah tidak sabar mau tahu kenapa perutku kayak balon baru diisi.”

 

Ah, Midorima sialan. Kenapa tiba-tiba namamu diucapkan mulut seksi nan bohai istriku?!, batin Seijuurou menjerit karena harapannya tak sesuai kenyataan.

 

“Iya, Tetsuya. Sesukamulah, nak.”

 

Serius. Seijuurou mau nangis.

 

Dan para maid juga butler keluarganya? Nahan muntah melihat tampang absurd sang tuan rumah.

.

.

.

Midorima Shintarou berharap waktu kan cepat berlalu. Layaknya daun-daun yang kan beterbangan diterpa angin. Pasir pantai yang disapu ombak. Atau—cukup. Kok ga nyambung sih, nak Shintarou?

 

Yang jelas, Shintarou ingin cepat-cepat sampai di rumah. Melihat wajah menyebalkan-namun-membuat-Shintarou-rindu-setengah-mampus-tapi-malas-mengakuinya milik sang istri. Dan juga hasratnya ingin mengelus-elus perut yang di dalamnya tumbuh anak mereka.

 

Ah, memikirkannya saja membuat Shintarou merasa damai nan tentram. Tidak tahu jika sang istri di rumah sedang bereksperimen bersama dengan adik perempuannya.

 

Shintarou menghela napas. Ia berharap bisa sampai sebelum makan malam. Serindu-rindunya dia pada masakan Kazunari, ada kalanya juga ia berharap ibunya yang memasak malam ini. Habis semenjak ngidam aneh sang istri mulai kembali, setiap makanan yang dimasak Kazunari harus membuatmu berpikir seribu kali untuk memakannya.

 

Tapi karena tidak mau mengecewekan, dengan tampang hampir mau mati, Shintarou pun menghabiskan makanan penuh rasa itu. Ada asam, manis, pahit, asin layaknya permen yang sering diiklankan di tipi itu.

 

Ah, memikirkannya saja membuat Shintarou tidak sadar jika dia sudah sam—eh? Kok masih di jalan? Perasaan tadi sudah di depan rumah, deh.

 

“Ck, aku pakai ngayal segala, nanodayo.”

 

Shintarou yang kesal dengan dirinya pun mulai melajukan kendaraan roda empatnya itu. Namun baru beberapa meter jalan dari tempat tadi, mobil itu justru mendadak berhenti. Pehlis, ini mobil kenapa sih? Kan belinya sudah mahal, masa pake mogok segala? Tidak tahu dirinya rindu sang istri tercinta?

 

“Sial bensinnya pakai habis segala. Salah apa aku hari ini, nanodayo,” gumam Shintarou dan melihat sekitar. Pom bensin masih terlalu jauh dari sini. Apa dia tinggal saja mobilnya dan suruh supir keluarganya untuk mengambil nanti? Ah, iya benar. Kau memang pintar Midorima Shintarou.

 

Shintarou keluar dari mobil mogoknya, mengambil tas dan juga jas dokter miliknya lalu mulai berjalan di sepanjang trotoar Tokyo itu. Sesekali ia melirik ke jalanan –lebih tepatnya mobilnya- kali-kali baru saja ia tinggalkan sudah hilang dicuri misalnya. Tapi mana mungkin. Paling hanya dipipisin an—

 

Anjrit!

 

Kenapa bodi mobilnya beneran dipipisin anjing sih? ARRGGHHHHHH!!!

 

Shintarou menjambak rambut frustasi. Ia harus cepat-cepat menemukan taksi dan menumpahkan segala kesialannya hari ini di dalam kamar mandi. Padahal lucky itemnya hari ini sudah ia miliki, tetapi kenapa dirinya tetap sesial ini?

 

“Asdfghjkl,” saking kesalnya, ucapannya tak ada seorangpun yang mengerti.

.

.

.

‘Itu dia taksi!’ jerit batin Midorima yang langsung menyetop taksi yang lewat. Ia jadi makin jengkel karena saat itu seolah-olah jalanan mempermainkannya. Masa sejak ia memutuskan meninggalkan mobil mogoknya yang habis dipipisin anjing tak ada satupun taksi yang lewat. Baru sekarang ini. Baru. Sekarang. Ini.

 

Mengambil kesempatan untuk sampai rumah lebih cepat setelah tadi sempat dikejar-kejar kucing yang menarik-narik celananya sampai sobek, Midorima masuk ke dalam taksi itu dan menyebutkan tujuannya. Sang supir hanya mengangguk mengerti dan mulai menjalankan mobilnya.

 

Shintarou bersyukur. Serius. Rasanya ia mau sujud syukur saking bahagianya dapat taksi yang bisa membawanya pulang ke rumah. Melihat dirinya yang sudah persis gembel jalanan. Lari sana-sini hanya untuk menghindari kucing dengan hasil celana bagian bawahnya sobek.

 

Sungguh hari yang luuuuuaaaaaaarrr biasaaaaaaaaaaaaa.

 

Bbrrmm—bbrrmmm!

 

Eh? Sejak kapan sang supir berusaha untuk menyalakan mobilnya lagi? Bukankah tadi Shintarou sudah dibawa jalan oleh taksi ini? Terus kenapa tiba-tiba berhenti? Sejak kapan? Kenapa dirinya tidak tahu? Jangan bilang—

 

“Maaf, tuan. Tapi sepertinya taksi saya mogok. Jika Anda berkenan, mohon tunggu sebentar.”

 

“…”

 

“…”

 

AARRRRGGGGGHHHHHHHHHHHHH!!! SHINTAROU MAU NANGIS KEJER, MAMAAAAAAH!!

 

KENAPA MAU PULANG SAJA SESUSAH INI? APA SALAH SHINTAROU, MAH? APAAAA?? APAAAAAAAAAAAAAAAA?? HIIIIKKKSSSSSSSSSSSSSS T_T

 

Ah, cukup ingatkan Shintarou untuk selalu mengecek bensin sebelum ke mana-mana. Tapi jangan pernah ingatkan dia tentang betapa menderita dirinya akibat kehabisan bahan bakar mobilnya itu.

.

.

.

Cklek!

 

Tadaima~” bunyi suara pintu terbuka dan suara lesu yang amat dikenalnya membuat Kazunari tanpa sadar langsung berlari ke arah sumber suara. Dirinya memasang wajah super manis untuk menyambut kepulangan sang suami yang sudah dinantikannya itu.

 

Kazunari hampir akan melemparkan dirinya ke pelukan Shintarou kalau saja ia tidak langsung mengerem lajunya ketika melihat penampilan Shintarou saat memasuki rumah itu.

 

Tolong. Tadi pagi ia rasa suaminya super ganteng, deh. Tapi kenapa pas pulang macem pengungsi yang diusir lalu disuruh melepas baju di depan banyak orang? Tapi lebih kenapa seperti sang suami habis menjalani latihan neraka bersama mantan kapten suaminya itu.

 

Kenapa?

 

“S-shin-chan?”

 

“Hm?” Shintarou langsung mendongak mendengar suara yang sangat dirindukannya itu. Refleks ia hampir mengambil Kazunari untuk dipeluk tapi gerakan tangan itu langsung tertahan ketika Kazunari menyuruhnya berhenti.

 

Matteeeee! Shin-chan kenapa persis gembel gini? Akashi tidak tiba-tiba muncul terus memberikan latihan ala neraka miliknya, kan? Atau Shin-chan ga habis main belakang sama para suster di rumah sakit, kan? Awas saja kalau Shin-chan berani main belakang, jatah nganu—“

 

Stop, nanodayo, Kazunari. Berhenti mengucakan tentang jatah dan bawa-bawa kata nganu di sini. Dan lagi mana mungkin aku selingkuh, nanodayo. T-tapi bukan berarti aku sangat mencintaimu-nodayo.”

 

Plis. Biarkan Kazunari melemparkan panci ke arah sang mantan shooter itu.

 

“Terus kenapa Shin-chan berpenampilan begini? Bau keringat lagi.”

 

Sejenak, Kazunari bisa melihat wajah nelangsa sang suami dibalik kacamatanya.

 

“Mobilku mogok saat akan pulang karena bensinnya habis, nanodayo. Sudah gitu dipipisin sama anjing pula. Lalu saat sedang menunggu taksi, ada kucing jalanan yang mengejarku sehingga celana bagian bawahku sobek-nodayo. Terus ketika aku sudah mendapatkan taksi, taksinya kembali mogok dan menyuruhku untuk menunggu. Karena tidak sabar, aku turun saja dan lari untuk sampai ke rumah, nanodayo. Tapi lagi-lagi diperjalanan, aku dikejar-kejar kucing. Aku tersandung dan jatuh ke genangan air. Beginilah hasilnya, nanodayo.”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

Tolong. Izinkan Kazunari gegulingan sekarang juga. Ia bingung antara mau ketawa atau nangis mendengar cerita lengkap sang suami. Kazunari menutup mulutnya, ia refleks memajukan badannya untuk memberikan ciuman selamat datang pada Shintarou –maksud hati supaya mood suaminya kembali normal. Lalu mengambil tas kerja milik dokter itu.

 

“Shin-chan mandi dulu, gih, sana. Aku tidak mau dipeluk sama gembel yang kayak abis kecebur di empang. Udah gitu bau lagi. Hush hush,” ucap Kazunari yang langsung menohok hati sang mantan shooter Kiseki no Sedai itu. Sama saja kali, Kazunari. Dirimu habis ngasih madu, eh disusul ngasih empedu. Iya aja deh.

 

Shintarou mau nangis. Apalagi saat Kazunari bilang—

 

“Sepertinya genangan air itu bau pipis kucing, deh. Shin-chan jadi tambah bau, kan~”

 

Anjrit. Biarkan Shintarou akrobat sekarang.

 

Dengan tampang nelangsanya, Shintarou berjalan ke arah kamarnya. Sekali lagi memikirkan hari ini. Hari yang dicapnya sebagai hari paling mengenaskan dalam hidupnya.

.

.

.

Setelah mandi, kebetulan Kazunari juga memanggilnya jika makam malam sudah siap. Dirinya pun turun ke ruang makan, dilihatnya kedua orang tua dan adik perempuannya sudah duduk tenang di balik meja.

 

Shintarou menyapa mereka dengan senyuman lemah yang justru membuat ketiganya terkekeh. Lalu membiarkan Kazunari mengambil nasi beserta lauk untuknya. Sedikit bersyukur dengan menu makam malam yang lumayan normal kali ini.

 

Mereka makam dalam diam. Iya diam. Shintarou tidak tahu harus ngapain saat Kazunari kembali menceritakan apa yang tadi ia katakan pada istrinya itu. Ditambah kedua orang tua dan adik perempuannya yang menertawai dirinya. Sampai suara tawa mereka disela oleh suara dering ponsel milik sang istri.

 

Ne, Tetsu-chan? Ada apa?”

 

Tetsu-chan? Sejak kapan panggilan mereka berubah?

 

[Doumo, Kazunari-kun. Maaf mengganggumu. Tapi bisakah jika Midorima-kun ke rumah kami sekarang untuk mengecek kehamilanku?”]

 

“Eeeh? Tentu saja Tetsu-chan. Setelah ini aku dan Shin-chan akan ke rumahmu, ne?”

 

Ha? Jangan langsung memutuskan, istriku sayang~ suamimu ini masih lelah~

 

[“Ah, terima kasih, Kazunari-kun. Kalau begitu kutunggu, ne?”]

 

Okay~ aku sekalian mau ambil pedang yang tadi kau janjikan, ya?”

 

Krak!—suara retakan entah apa itu berhasil membuat suasana menjadi tegang. Serius sumpah demi apa tadi Kazunari bilang pedang kan?

 

“O-oi, Kazunari. Kau tidak benar-benar mau membawa pulang pedang Kuro—“

 

“Beneran dong, Shin-chan. Habisnya pedangnya terlihat kawaii!!”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“Tapi Kazu-kun—“

 

Daijobou, kaa-san. Hanya untuk pajangan, kok.”

 

“Ah, souka.”

 

“Tapi kalau bisa buat bunuh-membunuh sih tidak apa-apa, hehehe~”

 

Anjrit. Sejak kapan Kazunari punya sisi yandere?

 

Shintarou memasang wajah facepalm. Tahu banget tatapan kedua orang tua beserta adik perempuannya itu.

 

Serius, Shintarou saja baru tahu kalau Kazunari punya sisi gelap begitu, mah, pah, dek.

 

“Nah! Ayo kita langsung berangkat, Shin-chan!” ucap Kazunari bangkit dari duduknya lalu menarik sang suami yang belum menyelesaikan makannya.

 

“Oi, aku belum selesai—“

 

“Ayoooo!!”

 

“—makan.”

 

Biarkanlah. Biarkanlah hidup ini penuh kengenesan demi anakku tercintah. Untukmu, nak. Hanya untukmu papa begini~, batin Shintarou kembali menangis.

.

.

.

Daiki menggaruk kepalanya yang diragukan kebersihannya. Entah sok-sokan garuk kepala atau memang ada kutunya. Ia lupa, serius. Ia baru ingat jika mobil dinasnya dipinjam partnernya karena tiba-tiba tadi istrinya mau melahirkan.

 

Jadi sekarang ia pulang naik apa? Jalan kaki? Hell no. Seberapa jauh jarak rumahnya dengan kantornya itu. Sekalinya mau pun, tidak saat malam begini, kan?

 

Daiki mau teriak. Kenapa ia tidak ingat jika ia harus pulang cepat akhir-akhir ini? Mengingat Ryouta yang selalu protes akan jam pulang kerjanya yang selalu lewat dari jam yang seharusnya. Lalu sekarang Daiki mau ngapain? Entah. Serahkan saja pada mantan Ace Kisedai itu.

 

“Kupret. Pakai lupa segala kalau Ryouta akhir-akhir suka ngambek. Argh! Pulang naik apa, nih? Taksi? Yaelah, mahal bingit, tjoy!” gumamnya sendirian lalu menengok ke kanan dan ke kiri.

 

Naik bus?, Daiki berpikir lagi. Lumayan kan lebih murah ke mana-mana daripada naik taksi. Lagipula, dengan begitu ia bisa mengirit uang untuk kelahiran anaknya dan Ryouta. Iya kan?

 

Ah, daripada itu, lebih baik menunggu busnya sekarang. Kalau tidak, ia bisa ketinggalan.

.

.

.

Daiki duduk dalam diam. Sesekali matanya melirik ke arah jam tangan di tangannya. Ah, masih sempat makan malam bersama sepertinya. Lalu ia melihat ke sekeliling bus. Lumayan sepi. Tapi ada beberapa keluarga yang sepertinya sehabis pergi jalan-jalan.

 

Daiki tersenyum melihatnya. Ia jadi membayangkan jikalau anaknya dan Ryouta lahir nanti, mungkin mereka akan seperti keluarga itu.

 

Anak kecil di keluarga kecil yang Daiki perhatikan sejak tadi balik menatapnya. Seramah yang ia bisa, Daiki tersenyum kepada anak kecil nan imut itu. Anak kecil laki-laki itu membalas senyuman Daiki dengan senyum lima jarinya lalu berbicara sebentar kepada kedua orang tuanya dan mulai berjalan ke arah kepala polisi itu.

 

Daiki hanya memerhatikan anak kecil itu sampai sosok cilik itu duduk di sampingnya. Sebenarnya dari jauh Daiki sudah seperti melihat apakah yang dipegang anak itu. Namun saat mendekat, siapa sangka yang dipegangnya adalah—

 

“Om, om. Kenalan yuk sama Keroppi,” kata anak itu mengambil satu dari empat kaki katak dan menyodorkannya kepada Daiki. Mendapati hal itu, Daiki mendadak beku.

 

Pehlis. Kenapa harus kodok, katak, frog dan apalah itu yang dibawa anak kecil kawaii ini? Kenapaaaa?

 

“Err—“

 

“Om tidak mau kenalan sama Keroppi?” ekspresi anak itu sedih seketika. Daiki melirik kedua orang tua anak tersebut dan mendapati tatapan memohon agar Daiki mau menuruti kemauan anak mereka.

 

Iya mau. Tapi kalau binatangnya bukan kodok. Lah ini?

 

“Om? Katanya Keroppi mau tahu nama om, loh~”

 

Glek!—Daiki galau tujuh turunan. Antara mau nangis kejer sambil lari atau menyenangkan anak orang ini?

 

Sabar Daiki. Hitung-hitung latihan buat menghadapi anakmu nanti kan?

 

“Ah, i-iya. Nama om Daiki, K-keroppi,” katanya pelan sambil perlahan-lahan mengangkat tangannya untuk bersentuhan dengan satu kaki katak yang disodorkan oleh anak laki-laki itu.

 

“Salam kenal om Daiki. Namaku Keroppi~ kalau nama temanku itu Yuuta~” kata anak itu seolah dirinya lah kodoknya, dan diri aslinya dikenalkan oleh kodok itu.

 

Grok!~

 

Deg!

 

Daiki mau nangis. Serius dia mau nangis ketika tiba-tiba kedua sisi bagian wajah kodok itu membesar lalu mengecil(?). Apalagi ketika lidah panjangnya terjulur. Ingin sekali. Ingin sekali Daiki lari sambil nangis terus salto. Siapapun, selamatkan Daiki dari anak kecil berkodok ini!!!

 

“Om?”

 

“Ha? Oh, ya, ada apa, nak?”

 

“Om mau gendong Keroppi ga?”

 

“Hm? Gendong ya? Boleh kok—HA?” telat akibat lemot saking kepengen lari dari tempat ia duduk itu, Daiki tak menyimak pertanyaan sang anak kecil.

 

Ia melirik anak kecil itu yang tersenyum cerah. Kemudian berdiri di tempat duduknya lalu menaruh sang kodok di atas kepala Daiki.

 

“Sudah~”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“………………………………………………….” Daiki makin speechless saat merasakan lidah panjang sang kodok menjelajahi apa saja di mukanya.

 

Satu detik.

 

Dua detik.

 

Tiga detik.

 

Lima det—

 

“HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!” teriak Daiki kemudian setelah sadar sehingga membuat kodok di atas kepalanya justru memasuki bajunya.

 

“HYAAAAAA~~ SINGKIRKAN KODOKNYA! SINGKIRKAN DARIKUUUUUUU~” serunya sambil berputar-putar di dalam bus.

 

Daiki nahan nangis. Nahan muntah. Nahan pup. Nahan segala-galanya.

 

Setelah kodok itu keluar dari bajunya, dan bus itu berhenti di sebuah halte. Tanpa pikir panjang Daiki turun dan berlari secepat yang ia bisa.

 

Namun suara anak bernama Yuuta itu menahannya.

 

“Om, om tunggu, om!”

 

“Apasih? Cepetan ngomongnya?”

 

“Itu om—“

 

“Iya apa cepet?” Daiki makin kesal, tidak sadar jika ada sosok melompat-lompat dan nemplok di tasnya.

 

“Om takut sama kodok, ya?”

 

Siiiing~

 

Daiki membatu. Antara mau bohong atau jujur itu beda tipis banget nyalinya. Takut ditertawakan atau dikasihani. Tapi masa bodohlah. Yang penting dia ju—

 

“Saking takutnya om ga sadar kalau ada kodok nemplok di tas om?”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“Muka om bego banget hahaha!” Yuuta tertawa sambil bertepuk tangan. Kodoknya selain Keroppi masih betah menyambangi tas milik Daiki. “Oi, om. Sadar dong om. Nanti dimakan ko—“

 

“HUWAAAAAAAAAAAAA!!! AMBIL KODOK ITU DARIKUUUU!!!” teriaknya telat sambil berusaha menyingkirkan kodok di tasnya. Diiringi tertawaan dari penumpang lainnya. Ketika kodok itu terlepas, Daiki langsung lepas landas. Berlari sekencang yang ia bisa. Berharap dengan berlari sampai lelah dirinya melupakan kejadian-sedikit-bermesraan-dengan-kodok-dari-anak-bernama-Yuuta-itu.

.

.

.

Daiki jalan terseok-seok. Terlalu lelah untuk kembali berlari. Apalagi sedari tadi suara katak menghantuinya.

 

Daiki galau. Antara mau nangis atau tertawa. Terlalu galau sehingga tidak sadar jika sejak tadi ada kodok yang mengikutinya.

 

“Hah~ Ryouta~ kau harus tahu pengorbananku untuk sampai ke rumah, ne—“

 

Grok!

 

Glek!

 

Daiki nengok patah-patah. Dan dalam sekejap—

 

“HUWAAAAAAA!! KODOK LAGIIII!!!” dirinya pun langsung lari marathon menuju rumahnya.

.

.

.

Kazunari memerhatikan dengan khusyu’ kegiatan sang suami yang sedang memeriksa satu dari ketiga sahabatnya itu. Matanya berbinar-binar menunggu penjelasan dari mantan shooter tercintanya.

 

Tidak ada bedanya dengan Tetsuya dan Seijuurou yang berharap-harap cemas.

 

Shintarou menghela napas setelah melepaskan stetoskop dari kedua telinganya setelah memeriksa sang nyonya Akashi. Ia kemudian berbalik dan menatap ke arah sang tuan rumah kemudian mereka berlalu meninggalkan dua uke yang diliputi rasa penasaran.

 

Tapi sebelum menghilang dibalik pintu kamar pasangan sang raja (neraka) dengan permaisurinya itu, Shintarou berbalik dan berbicara pada Tetsuya. “Kau tidak perlu khawatir lagi akan kandunganmu-nodayo, Kuroko. Detailnya akan kusampaikan pada Akashi, nanodayo.”

 

Setelah berucap demikian, Shintarou meninggalkan ruangan bersamaan dengan Akashi yang mengikutinya. Diiringi dengan cemberutnya kedua uke yang masih menantikan jawaban.

 

“Ih, Shin-chan baka. Padahal aku mau tahunya sekarang. Nyebelin ah,” umpat Kazunari yang langsung disahuti Tetsuya.

 

“Harusnya aku yang bilang seperti itu, Kazunari-kun. Tapi tidak apa-apa, deh. Sekarang bagaimana jika kau lihat-lihat koleksi pedangku itu?” ucap serta tanyanya dengan mata berbinar.

 

Dibalas oleh Kazunari dengan tatapan yang sama. “Ayooo, Tetsu-chan!”

 

Okaaaay!”

.

.

.

Cklek!

 

Tadaima~” suara yang sudah sangat dikenal Ryouta tiba-tiba menggema ketika dirinya selesai berteleponan dengan teman satu timnya dulu yang suka ia peluk –Tetsuya. Ia berlari kecil menyambut kedatangan sang ganguro tercinta dan melemparkan satu ciuman selamat datang. Tidak menyadari penampilan buruk rupa sang suami.

 

Ryouta langsung menarik Daiki bersiap keluar apartemen. Tapi tangan sang mantan Ace Kisedai itu menghentikan langkah pemuda pirang hamil tersebut.

 

“Kau mau menarikku ke mana, Ryouta? Aku baru pulang. Mau mandi dulu, capek.”

 

Ryouta langsung cemberut membalasnya. “Aku mau ke rumah Tetsuyacchi-ssu, Daikicchi. Daikicchi tidak mau menemaniku?”

 

“Haa? Bukannya tidak mau. Setidaknya izinkan aku mandi dan mengganti baju basah ini.”

 

“Eh?”

 

Ryouta langsung mengerjap. Melihat dari atas ke bawah penampilan sang suami.

 

Ih kok kotor banget sih, bang?

 

“Eeeh? Daikicchi habis main di mana sampai kayak gembel begini-ssu? Daikicchi jorok, ih-ssu. Mandi sana, Daikicchi. Aku tunggu di ruang tamu, ya~”

 

“…”

 

“Tapi aku belum siapin air hangatnya-ssu. Jadi mandi pakai air yang ada saja, ne, Daikicchi-ssu?”

 

“…”

 

“Atau mau pakai air sirup-ssu?”

 

“…”

 

“…”

 

“Sesukamulah, nak.”

 

Ingatkan Daiki untuk merape pemuda pirang itu setelah acara ngidam Ryouta untuk pergi ke rumah Tetsu.

.

.

.

Murasakibara Atsushi berjalan dalam diam menuju rumahnya. Mumpung sang istri tidak ada, ia kembali mengencani snack sembari menghabiskannya di perjalanan. Kenapa dirinya tidak naik mobil saja?

 

Oh, ingatkan dia untuk memasukkan mobilnya itu ke bengkel untuk menyervisnya.

 

Akhirnya memilih jalan kaki untuk menikmati waktu yang tidak pernah ia lewatkan lagi semenjak kehamilan Tatsuya, Atsushi kembali menikmati waktu sorenya dengan sang cemilan.

 

Wajah malasnya yang kentara, masih betah menyandangi mantan Center Kiseki no Sedai itu.

 

Walau seolah tak peduli sekitar, Atsushi sesekali melihat sekelilingnya yang dipenuhi manusia yang mungkin saat itu tengah dalam perjalanan pulang sepertinya. Ia masih betah memakan snacknya, tidak menyadari jika dari arah berlawanan ada seorang anak yang tengah bermain skateboard. Terus melaju ke arahnya tanpa mau mengurangi sedikitpun kecepatannya.

 

Atau mungkin anak itu memang sengaja karena ingin mengincar lollipop di tangan Atsushi?

 

“Om awaaaaaaas~!”

 

“Hee?”

 

Brak!

 

Bruk!

 

Dua bunyi berbeda arti. Satu tabrakan yang membuahkan hasil jatuhnya snack-snack Atsushi dan juga anak itu.

 

Ittai~” anak itu mengaduh. Murasakibara Atsushi menatap perlahan kudapannya yang berjatuhan. Ia mau nangis, tapi ditahan. Apalagi ketika orang yang berlalu lalang ada yang menginjak-injak snack-snacknya itu.

 

Atsushi makin cemberut.

 

Snack-chin T_T” anak yang masih terjatuh itu menatap Atsushi tak mengerti. Ia bisa melihat pria berbadan besar itu semakin cemberut.

 

“Maaf ya, om. Aku tidak sengaja, walau maksud hati mau minta satu permen lollipopnya punya om, sih~” katanya jujur yang langsung dibalas tatapan menusuk dari Atsushi.

 

Anak itu kicep. Namun raut wajah Atsushi yang makin mau nangis membuat anak itu justru rileks.

 

“Om jangan nangis, dong. Kan harusnya aku yang nangis tidak jadi dapat lollipop. Cupcup, om besar jangan nangis, ya! Makanya kalau punya makanan itu bagi-bagi, om!”

 

“…”

 

Atsushi diam. Ini anak siapa yang berani menceramahinya? Kenal juga tidak main semprot aja.

 

“Sudah ya, om. Lain kali kalau kita ketemu lagi aku beneran bakal minta lollipop punya om yang super bersih. Tidak kayak sekarang yang sudah jadi makanan kucing dan juga anjing. Eh, ditambah burung-burung juga deng.” Ucapnya polos sambil berlalu.

 

Atsushi makin speechless ketika anak itu ikut menginjak snack-snacknya di jalanan itu.

 

Mamaaaaaaah~?

 

Dan sosok titan tukang makan itu makin hampir menjerit nangis saat benar-benar melihat cemilannya hampir raib dimakan anjing, kucing dan burung-burung yang mampir dalam sekejab.

 

“Hiks, gukguk-chin, meow-chin sama burung-chin jahat. Masa aku tidak disisakan sama sekali~? Huhu~”

 

Oke. Ooc sekali kau, nak?

.

.

.

Cklek!

 

Tadaima~”

 

Murasakibara Tatsuya yang tadinya sedang bersiap, begitu mendengar suara pintu dan suara sang suami, ia langsung saja meninggalkan kegiatan memakai bajunya itu. Pemuda kalem yang tengah hamil empat bulan ini langsung memberikan pelukan dan ciuman selamat datang kepada titan tercintanya.

 

“Atsushi sudah pulang? Mau mandi dulu atau makan dulu? Terus kok bau keringat? Ohiya, aku kok juga tidak mendengar suara mobil Atsushi? Atsushi pulang sama siapa? Naik apa? Tidak merepotkan orang lain kan? Eh tapi kok mukanya juga kusut begitu? Ada masalah di restoran? Ayo cerita saja padaku, Atsushi. Hm~ ohya, boleh kan aku minta Atsushi menemaniku ke rumah Tetsuya? Kalau begitu Atsushi mandi saja dulu~ Eeeh? Kok Atsushi hanya diam saja? Aku kebanyakan bertanya ya? Gomenne, Atsu—“

 

Cup!

 

Stop dulu, Tat-chin~” kata Murasakibara Atsushi setelah mencium sekilas sang istri. Kepalanya makin pening saat mendengar rentetan panjang pertanyaan Tatsuya yang tumben sekali menanyainya secara beruntun.

 

Gomenne, Atsushi. Sekarang mau menjawab perlahan-lahan?”

 

Atsushi mengangguk sebagai jawaban. “Ne, Tat-chin, aku sudah pulang. Kalau belum mana mungkin aku berada di depan Tat-chin dan mencium Tat-chin tadi~ Setelah ini aku mau mandi dulu~ soalnya badanku lengket. Aku bau keringat karena tadi habis lari sore gara-gara mengusir anjing dan kucing yang memakani snackku. Mobilnya kutinggal karena sepertinya harus diservis, Tat-chin~ jadi aku pulang sendiri jalan kaki walau akhirnya berlari sih~ Di restoran tidak ada masalah kok~ jadi jangan khawatir. Iya nanti aku temani Tat-chin ke rumah Kuro-chin, ne~ Nah, sekarang aku mau mandi dulu, ne~ tunggu saja sambil santai-santai di ruang tamu. Dan lain kali kalau sedang pakai baju selesaikan dulu. Tuh lihat tidak terpasang sempurna, kan~” ujar Atsushi panjang lebar lalu merapikan baju hamil yang dipakai Tatsuya di mana beberapa kancingnya belum terpasang dengan sempurna.

 

Tatsuya mengerjap imut. Itu tadi yang bicara padanya sosok Murasakibara Atsushi yang dulu dikenalnya hanya mempedulikan makanan dan butuh ingatan ekstra kalau-kalau ada yang menanyainya sebanyak itu? Bahkan walau hanya satu pertanyaan, dirinya masih harus mengulangi pertanyaan yang sama. Tapi kok ini…?

 

“Tat-chin, kenapa~?”

 

“Eh? Ini Atsushi, kaaan?”

 

Atsushi mengangguk mengiyakan. “Memang kenapa, Tat-chin? Aku tadi cuma jatuh sekali kok~ dan masuk kolam ikan di pekarangan rumah tetangga. Jadi maklum sedikit bau amis~”

 

“Soalnya Atsushi bisa menjawab pertanyaanku dalam satu kali. Itu kereeeeen!”

 

“Heee? Iyakah? Hmm, ya sudah. Aku mau mandi dulu, ne~”

 

Gantian kini Tatsuya yang mengangguk. “Aku tunggu di ruang tamu, okay?”

 

Ne, Tat-chin~”

 

Ah, ternyata Murasakira Atsushi bisa mendadak nyambung jika itu berhubungan dengan Murasakibara Tatsuya, ya~

.

.

.

“Jadi?” Akashi melayangkan pertanyaan kepada Midorima yang kini duduk di sebrangnya. Midorima membenarkan letak kacamatanya.

 

“Jangan khawatir-nodayo. Justru aku ingin mengucapkan selamat kepadamu dan Kuroko, nanodayo.”

 

“Huh?”

 

“Perutnya yang lebih besar daripada orang hamil seusianya itu karena sepertinya Kuroko mengandung anak kembar, nanodayo. Untuk menguatkan kesimpulanku, aku mau besok atau kapanpun kalian tidak sibuk, datanglah ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan ulang-nodayo. Saat memeriksanya tadi, aku seperti mendengar dua detak jantung yang berbeda, nanodayo.”

 

“…”

 

“Dan biasanya jika memang Kuroko hamil anak kembar, maka sifatnya akan cepat berubah, nanodayo. Nafsu makannya, ukuran tubuhnya juga akan mengalami pembengkakan pada bagian tertentu. Jadi tugasmu sebagai suaminya adalah—“

 

“Benarkah Tetsuya hamil anak kembar, Shintarou?”

 

“—meyakinkan dia jikalau dia khawatir akan perubahan tubuhnya—hah?”

 

“…”

 

“Jadi kau tidak mendengarkan penjelasanku-nodayo, Akashi?”

 

“Aku dengar, Shintarou. Jadi—itu benar? Aku akan punya anak kembar?”

 

Midorima Shintarou menghela napas sambil kembali membenarkan kacamatanya. Sedetik kemudian ia mengangguk mengiyakan pertanyaan mantan kaptennya itu. “Iya, Akashi. Kau dan Kuroko akan punya anak kembar, nanoda—“

 

“AAAAAAAH~  SENANGNYAAAAAA~ KIRA-KIRA MEREKA AKAN MIRIP SIAPA, YAAA? SEMOGA MEREKA DUPLIKAT AKU DAN TETSUYA DEH~” teriak Akashi tiba-tiba membuat Shintarou sweatdrop.

 

Sigh, kalau mirip Kuroko sih tidak apa-apa. Lah kalau mirip Akashi?

 

“Senang bisa berpikir jika mirip denganku adalah kesalahan, Shintarou?”

 

“Eh?”

 

Glek!—Midorima Shintarou sekali lagi dalam hidupnya setelah sekian lama terbebas dari acara lempar gunting sang mantan kapten, kembali dihadapkan pada momen yang paling dihindarinya. Momen di mana Akashi Seijuurou ngamuk.

 

“T-tidak, nanodayo. Maaf Akashi—“

 

“MATI SAJA KAU, SHINTAROU!”

 

“HUWAAAA—“

 

Ting tong!

 

“Eh?”

 

Masihkah dirinya selamat?

 

Midorima membuka matanya lalu melirik ke arah Akashi yang menatap marah pintu masuk. Shintarou menelan ludah gugup. Siapapun itu yang datang, semoga kalian sela—

 

“Bukakan pintunya, Shintarou. Itupun jika kau MASIH ingin hidup,” titah sang tuan rumah membuat Midorima Shintarou langsung melesat kilat membukakan pintu masuk mansion Akashi itu.

 

“Siapa, nanoda—“

 

“Midorimacchi?

 

“Midorima?

 

“Mido-chin~”

 

“Midorima-san?”

 

“Hah? Kalian?”

.

.

.

 

Ryouta bersorak senang dalam mobilnya yang membawa dirinya dan sang suami ke arah mansion Akashi. Apalagi ketika mobilnya memasuki pekarangan rumah sahabatnya itu. Ia hampir menjerit jika Aomine tidak langsung menutup mulutnya dengan tangannya yang bebas.

 

“Jangan teriak, Ryouta. Kau seperti anak kecil yang tiba di taman bermain saja.”

 

“Biarin-ssu, Daikicchi. Aku senang bisa ketemu Tetsuyacchi secara langsung lagi-ssu. Kyaaaa rasanya mau memeluknya erat saja~” jawab Ryouta membuat Daiki memutar bola mata lelah.

 

“Kalau kau diapa-apakan Akashi aku tidak tanggung, ya.”

 

“Eeeeh? Daikicchi jahat sekali-ssu. Aku kan istri Daikicchi-ssu, jadi kalau aku diapa-apakan Akashicchi, Daikicchi harus membelaku-ssu~”

 

‘Masalahnya komenanmu yang itu juga masih jadi ancaman buatku, tau,’ batin Daiki meringis. Ia jadi membayangkan bagaimana jika ia bertemu Akashi nanti.

 

“Yeaaay sudah sampai-ssu~” teriak Ryouta tak peduli pada sang suami. Tak menyadari jika ada mobil lain yang memasuki pekarangan rumah keluarga Akashi.

.

.

.

Entah sejak kapan seorang Murasakibara Tatsuya senang bersenandung. Yang jelas, dalam perjalanannya ke rumah ex-tim suaminya ini terasa sangat menyenangkan. Rasanya sebagai sesama uke, mereka ingin saling berbagi pengalaman.

 

Tentang apa? Tentang apa saja bisa kan?

 

Atsushi hanya tersenyum maklum, pasalnya, hubungan Tatsuya dengan teman-temannya setelah mereka menikah menjadi semakin akrab seperti sudah masuk dalam persahabatan baru dengan masing-masing yang berposisi sama dengannya dalam sebuah rumah tangga.

 

Tangan besar Atsushi mengusap sayang rambut hitam yang menutup sebelah matanya. Tatsuya balas tersenyum cantik membuat Atsushi sedikit terlena.

 

“Atsushi, apa Atsushi merindukan teman-teman Atsushi?”

 

Neee? Hm~ aku merindukan kue buatan koki keluarganya Aka-chin, Tat-chin~”

 

“Yang kutanya kan bukan itu, Atsushi~”

 

“Hehe~”

 

Sedikit percakapan itu tanpa sadar membawa mereka memasuki pekarangan rumah yang menjadi tujuan mereka.

 

Atsushi turun terlebih dahulu lalu berjalan memutar untuk membuka pintu sang istri. Tatsuya menyambut perlakukan itu dengan kecupan di bibir sang titan tukang makannya.

 

Saat akan beranjak ke pintu utama rumah pasangan Seijuurou dan Tetsuya, suara cempreng nan annoying milik ex-tim Murasakibara pun mengalun memecahkan gendang telinga.

 

“MURASAKICCHI~ TATSUYACCHI~”

 

“Eh? Ryouta?”

 

Are~ Kise-chin~ Mine-chin~”

.

.

.

“Waaa~ kenapa Midorimacchi ada di sini juga-ssu?” heboh Ryouta melihat ex-timnya ada di depannya, yang membukakan pintu rumah keluarga Akashi.

 

“Aku dipanggil untuk memeriksa kehamilan Kuroko, nanodayo.”

 

“Oooh~” koor tamu yang baru datang itu.

 

“Kalau begitu permisi~ biarkan aku dan Tatsuyacchi lewat-ssu~”

 

“Hah? Oi, Kise, Himuro. Tunggu dulu, nanodayo—”

 

Jaa ne~”

 

“OI!”

 

Tanpa mengindahkan panggilan Shintarou yang seperti nada peringatan itu, dua uke itu pun terus berlalu memasuki kediaman keluarga Akashi, mencari keberadaan dua uke lainnya di mansion itu.

 

Dan ketika keduanya melewati Seijuurou di ruang tengah, dengan santai Ryouta bertanya. “Ne, Akashicchi, Tetsuyacchi di mana-ssu?”

 

“Ha? Oh di ka—“

 

“Okeee, arigatou, ne, Akashicchi! Ayo Tatsuyacchi!”

 

“Iya, Ryouta.”

 

Dan sekali lagi pergi begitu saja mengabaikan tatapan iblis milik tuan rumah, Ryouta dan Tatsuya menghilang dibalik pintu kamar Seijuurou dan Tetsuya.

 

Eh?  Yakin itu pintu kamarnya? Sepertinya…bukan deh.

 

Sesaat setelah Akashi sadar bahwa dua sahabat istrinya menghilang di balik pintu ruangan baru milik Tetsuya, Seijuurou memijat dahinya, terlalu pusing memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya.

 

“Oi Akashi, mana Ryouta?”

 

Are~ Tat-chin ke mana Aka-chin?”

 

“Ah, sebaiknya aku mengajak Kazunari pulang, nanoda—“

 

“Duduk kalian semua.”

 

Jleb!—bukannya menjawab pertanyaan mereka, nada intimidasi dari sang raja (neraka) membuat ketiga cowok kece itu terdiam. Yang hanya bisa menuruti, mereka duduk di sofa ruang tamu keluarga Akashi berharap agar tak ada gunting terbang yang menghiasi.

.

.

.

—Tbc—

.

.

.

Note : Cuma bisa bilang maaf kalo humornya gagal (lagi) tapi masukan apapun diterima. But no bash, ya. Makasih~

 

Signed,

Umu Humairo Cho

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s