The Pregnant Man ~Chapter 3-{Selca Bareng—Ah, Sudahlah}


Masih ingat seorang Akashi Tetsuya yang cosplay jadi maid membawa kapak? Aomine Ryouta yang ngidam makan di dalam sel tahanan? Midorima Kazunari yang pakai baju suster dan membawakan bento enak? Atau kue buatan Murasakibara Tatsuya yang meninggalkan ekstraknya di lidah para pelayan?

 

Yah, itu hanya sekelebat cerita tentang para uke yang ngidam. Digabungkan dengan respon dan ekspresi yang dikeluarkan oleh para seme. Namun apa daya jika tidak dibiarkan? Apa mau jika nanti anak mereka ileran?

 

Sungguh, saat hal itu terjadi, ke empat cowok kece yang dulunya ada dalam sebuah nama klub basket terkenal bernama Kiseki no Sedai itu frustasi. Mereka merasa bahwa satu bulan itu masih terlalu awal untuk para uke mereka menunjukkan ngidam yang super menguras energi, dan masih ada delapan bulan ke depan yang entah jadi apa jika tidak mereka hadapi.

 

Nah untuk sekarang, ketika beberapa minggu berlalu, kandungan para uke mereka semakin tumbuh, kelakuan aneh yang dikeluarkan entah mengapa semakin berkurang. Berucap syukur? Bahkan seorang Akashi Seijuurou sampai sujud syukur melihat betapa normalnya Tetsuyanya belakangan ini. Aomine Daiki sampai membebaskan salah satu tahanan kelas kakap sebagai gantinya. Midorima Shintarou tidaklah lagi tsundere pada siapapun dan di mana pun. Juga sekarang Murasakibara Atsushi yang mau membagi snacknya pada orang lain yang tidak dikenalnya.

 

Tapi senang tetaplah senang. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di hari berikutnya jika tidak kita hadapi dengan sendirinya, ya kan?

.

.

.

The Pregnant Man

10649783_523976901079505_8311178734409661069_n

Story belongs to Umu Humairo Cho

Kuroko no Basuke

Is belong to Fujimaki Tadatoshi

Pairing :

AkaKuro! MidoTaka! AoKise! MuraHimu!

Rating : T+++ – M

Length : 3 of ?

Romance, Fluffy, Humor-maybe?- Parody._.

Yaoi, Boys Love, Shonen-ai content.

OOCness! MPreg!

DLDR, yo~ Enjoy dan tinggalkan jejak ya:)

.

.

.

A Kuroko no Basuke Fanfiction

The Pregnant Man chapter 3

Selca Bareng—Ah, Sudahlah!

Story by Umu Humairo Cho

.

.

.

Midorima Shintarou membuka mata, menatap langit-langit kamarnya. Diliriknya sosok yang sangat dicintainya itu –tapi jarang mau mengakui- yang kini terlihat sangat lelap dalam tidurnya. Bibirnya yang tadinya tak menampakkan lengkungan apapun tiba-tiba tertarik ke atas membuat Shintarou berpikir jika istrinya kini sedang bermimpi indah.

 

Dihadapkannya seluruh tubuhnya kini ke arah sosok yang sedang mengandung anak mereka itu. Tangan kanannya mengusap sayang pipi Kazunari berusaha untuk tidak membangunkan sosok sang istri. Selama masa kehamilan, Kazunari sudah banyak berbuat aneh yang kadang sangat menyita energi uke hamil ini.

 

Entah apa, belakangan ini Shintarou bersyukur karena Kazunari tidak lagi aneh-aneh dengan menyuruhnya mandi air dingin di pagi hari atau mandi air panas ketika cuaca benar-benar menyengat. Atau mungkin memakan habis masakan eksperimennya yang ia sendiri tidak tahu rasanya bagaimana.

 

Shintarou bahkan sangat tahu jika sosok istrinya ini pintar memasak. Tetapi mungkin karena bawaan hamil, sosok pemuda berambut hitam legam itu lebih banyak masak yang aneh-aneh sampai-sampai meminta kedua orang tuanya juga adiknya ikut mencicipi makanan rasa nano-nano itu.

 

Tapi setidaknya, ia tidak pernah lupa untuk melayani Shintarou dan keluarganya walau dengan segala keabsurdan yang ia tampakkan.

 

Tangan kanannya yang sedari tadi mengelus pipi Kazunari sontak berhenti bergerak ketika mendengar istrinya mengigau pelan. Ia tidak bisa tidak tersenyum mendapati ekspresi menggemaskan yang padahal dulu sangat membuatnya jengah.

 

Dikecupnya pelan dahi pemuda itu kemudian berniat bangun untuk mengisi tenggorokannya yang kering, namun satu tarikan ia dapatkan di ujung piyama tidurnya.

 

“Shin-chan~?”

 

“Hm?” Shintarou menoleh dan melihat wajah mengantuk Kazunari yang menatapnya penuh tanda tanya. Seketika tatapannya melembut. Bergantikan segaris tipis yang menyandangi ujung bibirnya. “Ada apa, Kazunari?” tanya pemuda berambut hijau itu yang bahkan melupakan aksen khasnya saat berbicara.

 

Sosok itu sedikit cemburut. Alis Midorima Shintarou justru bertaut. Sepertinya belakangan ini wajah itu tidak pernah menunjukkan ekspresi yang demikian. Jangan-jangan…?

 

“Mau ke mana? Kok tidak tidur?” tanyanya sembari duduk lalu sedikit mendongak melihat wajah tanpa kacamata suaminya.

 

Shintarou membatalkan niatnya dan ikut duduk di hadapan Kazunari. Tangannya mengelus lembut pipi yang agak tembam itu, lalu ibu jarinya mengusap pinggiran bibir istrinya. “Aku hanya mau mengambil air.”

 

“Uhm…tapi bukannya tadi sudah tidur? Kenapa terbangun?”

 

Ah, entah. Shintarou tidak tahu sudah berapa lama ia hidup bersama anak sulung dari keluarga Takao tersebut. Rasanya nada yang ia keluarkan selalu menunjukkan bahwa sosok itu begitu khawatir padanya.

 

“Tidak apa-apa, Kazunari. Kau tidurlah lagi. Aku akan segera kembali setelah mengambil air di dapur.”

 

“Tapi Shin-chan…” tangannya mengelus perutnya yang kini agak membesar. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ketiga. Shintarou juga ikut menatap ke arah perut itu. Bertanya-tanya mungkinkah istrinya lapar sehingga terbangun? “…aku mau sesuatu…”

 

Deg!—tanpa sadar jantung Midorima Shintarou berdetak kencang. Man, setelah melewati beberapa minggu tanpa keanehan ngidam istrinya, kenapa sekarang tiba-tiba harus timbul lagi. Ajaib sekali.

 

“K-kau mau sesuatu? Apa? Katakan saja padaku, Kazunari,” balas Shintarou setenang mungkin. Walau dalam hati menebak-nebak kali ini apa yang diinginkan oleh pemuda berambut hitam itu.

 

“Uhm…”

 

“…” Midorima Shintarou menunggu.

 

“A-aku mau—“

 

“…”

 

“A-aku mau f-foto—“

 

“Oh, foto—“

 

Syukurla—

 

“—Selca bareng Rivaille-heichou dari anime Shingeki no Kyojin.”

 

“…”

 

“B-bolehkan, Shin-chan?”

 

“…”

 

“S-shin-chan?”

 

“…APA?”

 

Ah, lupakan respon telatnya Midorima Shintarou, yang terdengar keluar kamarnya sehingga membuat kedua orang tuanya juga sang adik sukses menggedor-gedor pintu kamarnya dari luar.

 

Memangnya ada yang salah jika istrimu minta berfoto bersama sosok yang agak mirip dengannya itu, Shintarou?

 

JELAS SALAH, AUTHOR SARAP!

 

Ah, sudahlah.

.

.

.

Murasakibara Tatsuya terjaga dari tidurnya yang nyenyak. Ia melirik ke arah samping kanannya berharap sosok suaminya ada di sana. Namun nihil—sosok Murasakibara Atsushi itu sudah raib dimakan titan. Ga, salah banget. Titan makan titan entar kayak anime yang itu lagi. Lupakan.

 

Ia duduk perlahan lalu bersandar di kepala ranjang. Tangannya mengusap-usap halus perutnya yang agak membesar. Kemudian manik hitamnya melirik ke arah jam dinding yang saat itu menunjukkan pukul satu pagi.

 

Ah, sebenarnya ke mana suaminya pergi sedini ini?

 

Dapur? Apa sosok titan tukang makan yang dicintainya itu merasa lapar?

 

Tatsuya mengabaikan semua tebakannya dan bangkit untuk mencari suaminya. Ia membuka pelan pintu kamarnya yang seketika kegelapan menyambutnya. Tatsuya berjalan pelan menuruni anak tangga kemudian sedikit melihat bahwa lampu dapur menyala. Segera saja, sosok pemuda berambut hitam itu berjalan ke arah tempat yang sudah sangat ia yakini ia bisa menemukan sang suami.

 

Dan di sanalah—di kursi meja makan ia bisa melihat Murasakibara Atsushi yang menyesap darah titan—bukan—menyesap teh juga memakan beberapa cemilan yang ada di atas meja.

 

Murasakibara Atsushi yang tadi sesekali membaca ulang resep baru buatannya, sedikit tersentak melihat istrinya berada di ujung pintu dapur, menatapnya penuh tanda tanya seolah berkata apa-yang-kau-lakukan-Atsushi?

 

Atsushi tersenyum kemudian menyiratkan istrinya untuk mendekat. Tatsuya menurut lalu duduk di samping suaminya. Lalu bertanya lembut. “Kau lapar malam-malam terjaga?”

 

Atsushi mengangkat kertas resep ke hadapan Tatsuya. Istrinya mengangguk mengerti lalu mengambil cangkir milik suaminya dan menyesap isinya. Ia melirik sekilas bungkus snack yang tercecer di meja, juga piring kecil yang isinya sudah raib. “Atsushi mencoba resep baru lagi?”

 

Sosok titan tukang makan itu mengangguk singkat, lalu mengelus puncak kepala Tatsuya. Gantian kini ia yang bertanya. “Tat-chin kenapa bangun? Tat-chin lapar?” tanyanya lembut sembari mengelus-elus surai hitam lembut itu.

 

Tanpa sadar Tatsuya larut dalam elusan tangan besar Atsushi. Dan dengan tiba-tiba pula ia ikut mengelus perutnya yang agak membesar itu. Tangan besar Atsushi yang bebas pun turut ikut dengan menaruhnya di atas tangan istrinya.

 

Seketika Tatsuya tersenyum. Ia merasa sempurna sekalipun terkadang harus menerima kenyataan bahwa tak semua orang menerima hubungan mereka.

 

Atsushi pun senang melihat istrinya itu tenang. Ia tahu dulu ia hanya remaja yang gemar makan. Bahkan saat mengenal sosok Tatsuya pun kebiasaan makan di luar batas itu tetap berjalan. Namun semua itu rasanya berkurang ketika teman satu timnya dulu –Midorima Shintarou- mengatakan bahwa Tatsuyanya tengah mengandung. Rasanya ia berpikir untuk mengurangi kebiasaannya itu. Entah karena apa.

 

Atsushi yang larut dalam pemikirannya, tidak menyadari jika sedari tadi Tatsuya memerhatikannya penuh kelembutan. Walau sebenarnya saat ini entah mengapa ia sangat menginginkan sesuatu. Ia sadar belakangan ini ia tidak lagi ngidam yang aneh-aneh. Tapi entah kenapa sekarang ia ingin sekali melakukan hal itu.

 

 

Ne, Atsushi?”

 

“Eh? Ne, Tat-chin, nande~?”

 

“Uhm…tiba-tiba, aku ingin sesuatu, Atsushi.”

 

“Eh?”

 

Atsushi siaga satu.

 

“Iya. Kau tahu kan sudah lama aku tidak bertemu Taiga?”

 

“Hm, ne, ne~ lalu kenapa Tat-chin?”

 

Ne, aku ingin bertemu dengannya, Atsushi. Lalu—“

 

“Ya sudah ketemu sa—“

 

“—foto selca bareng the beatles bersamanya.”

 

“…”

 

“…”

 

“APA?”

 

 

Eh? Kenapa responnya selalu lambat ya?

 

Ne, author, sini-sini, aku hancurkan kamu!

 

Ah, sudahlah.

 

Dan Murasakibara pun terpaku di tempatnya dengan otak yang terus mencerna maksud dari perkataan sang istri.

 

Apa katanya tadi? The beatles?

 

Oh, Kami-sama

.

.

.

Aomine Daiki berkutat dengan berkas-berkas kasus yang tercecer di meja ruang tamu. Kepalanya terasa linu membaca banyak deret kalimat yang ingin sekali ia bakar agar menjadi debu. Sesekali ia melihat ke arah pintu kamarnya takut-takut jika istrinya terbangun dan mencari dirinya yang tidak ada di ranjang mereka.

 

Daiki menghela napas lagi. Entah kenapa akhir-akhir ini banyak kasus yang datang ke kantornya. Mau tak mau, kadang ia harus lembur dan meninggalkan Ryouta seorang diri di rumah. Kadang ia meminta Satsuki untuk menemani istrinya sampai ia pulang. Tapi ia tetap tidak enak pada sahabat sejak kecilnya itu.

 

Juga terkadang ia ingin meminta Tetsu menemai Ryouta, namun lagi-lagi membatalkan niatnya takut-takut Akashi akan melemparkan gunting rumput kepadanya.

 

Hah. Rasanya ia tidak tega terus pulang larut belakangan ini.

 

Yang tanpa ia sadari, semua gerakannya sedari tadi diperhatikan oleh Ryouta yang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangannya yang memeluk bantal. Dengan langkah pelan, sosok pemuda berambut pirang itu berjalan menghampiri suaminya.

 

“Daikicchi~? Sedang apa-ssu?” Ryouta bertanya sambil cemberut. Daiki melihat lipatan bibir itu kemudian tertawa kecil.

 

“Apa-apaan ekspresimu itu, Ryouta?”

 

“Memang kenapa-ssu? Habis Daikicchi sudah pulangnya larut terus sekarang bukannya menemaniku tidur malah berkutat sama kertas kusam begini-ssu,” balasnya lagi lalu menyembunyikan sebagian wajahnya pada bantal yang ia bawa.

 

Tangan besar Aomine Daiki itu seketika mengusap surai pirang kesukaannya. “Maaf, Ryouta. Aku juga tidak mau begini, tapi—“

 

“Tidak ada tapi, Daikicchi. Sekarang kau harus tidur, ne?”

 

“Ryouta—“

 

“Tidur, Daikicchi.”

 

“Hah. Iya iya. Kau ini makin cerewet saja.”

 

“Biarkan-ssu.”

 

Dan tanpa bantahan lagi. Daiki bangkit dari duduknya kemudian membopong sang istri ala bridal style ke dalam kamar mereka. Lalu mereka ehem-ehem. Eh, engga ding. Aomine melempar –salah- menaruh Ryouta di atas kasur mereka. Setelahnya ia ikut masih ke dalam selimut memastikan Ryouta bahwa kini dirinya ada di sampingnya.

 

“Nah, sekarang kau tidur.”

 

Ryouta mengangguk. Tapi tiba-tiba ada hasrat dadakan untuk mengatakan sesuatu kepada suaminya. “Ne, Daikicchi.”

 

“Hm?”

 

“Boleh aku minta sesuatu-ssu?”

 

Deg!—nak, kalau ngidam jangan jam segini apa?, batin Daiki sambil menatap istrinya.

 

“Apa, Ryouta?”

 

“Besok aku ikut ke kantor Daikicchi, ya-ssu? Soalnya aku ma—”

 

“Mau apa?”

 

“—mau selca bareng tahanan di sana-ssu. Pasti ada deh tahanan yang sedang hamil juga tapi kepalanya botak. Ada kan, Daikicchissu?”

 

“…”

 

“Daikicchi?”

 

Kenapa setelah beberapa minggu tidak ngidam kini kembali mulai? Dan dari sekian banyak keinginan kenapa harus ngidam begitu?

 

DAN DARIMANA DAIKI MENDAPATKAN ORANG HAMIL DENGAN KEPALA BOTAK?

 

AARRGGHHHH!!!

 

“Hm.”

 

Dan balasan singkat itu membuat Ryouta sontak memejamkan mata.

 

Ia bahagia.

 

Berbeda dengan Daiki yang mencak-mencak dalam hati maki-maki author yang kini sedang anteng mengetik scene AkaKuro.

 

Ah, sudahlah.

.

.

.

Seijuurou sekali lagi menghela napas. Diliriknya Tetsuya yang masih nyenyak dalam mimpi indahnya. Dirinya disibukkan dengan berbagai kertas dan laporan di atas meja kerja miliknya.

 

Menghela napas. Akashi Seijuurou merasa sekarang dirinya seperti kakek-kakek dalam wujud orang dewasa yang sebentar lagi akan menjadi ayah. Walau akhir-akhir ini kegiatan paginya kembali normal, ia tetaplah merasa lelah.

 

Pekerjaan yang datang dari ayahnya semakin banyak. Dan hal itu semakin membuat Seijuurou kesal. Seharusnya dengan sikap Tetsuya yang sudah agak normal, ia bisa menghabiskan waktu luangnya bermesraan dengan sang istri, bukannya berkutat dengan kertas yang isinya hanya berupa perjanjian, penawaran, tender bla bla bla.

 

Dilirik lagi sang istri yang masih tertidur lelap.

 

Kemudian kembali membaca kertas yang ia pegang.

 

Beralih lagi ke Tetsuya.

 

Lalu kertas di tangannya.

 

Tetsuya masih nyaman dalam mimpi indahnya.

 

Kertas di tangannya sudah rusak karena digenggam.

 

Tetsuya masih bisa tersenyum dalam tidurnya.

 

Lalu matanya ke arah kertas lagi.

 

Tetsuya—

 

—kertas.

 

Matanya masih tertutup.

 

Kertas tender.

 

Tetsuya—

 

Kertas kerja sama.

 

Tetsu—

 

 

“WHOAAA!!” Seijuurou sontak hampir terjatuh ketika lirikan matanya dihadapkan pada sepasang mata berwarna biru langit. Tetsuya yang masih berbaring dengan pandangan menatap intens suaminya itu hanya mengernyit. Kenapa Seijuurou harus seheboh itu? “Ah, Tetsuya. Kau sudah bangun?”

 

Pemuda biru langit itu mengangguk lalu mengusap perutnya. Lalu matanya melirik ke arah kertas di tangan Seijuurou kemudian ke arah mata merah itu. “Sei-kun sedang apa? Kenapa tidak tidur?”

 

“Ah, ini—“ Seijuurou melirik sekilas kertas di tangannya. “—besok ada rapat mengenai proyek baru. Aku harus memelajarinya. Naa, kenapa kau terbangun, Tetsuya?”

 

Tetsuya menunduk sebentar, entah kenapa. Namun dari tempatnya duduk Seijuurou bisa melihat segaris warna merah tipis di pipi sang istri. Alisnya mengernyit. Kenapa Tetsuya merona?

 

“Aku terbangun karena merasa ada yang terus mengawasiku. Padahal tadi aku sedang bermimpi bertatap-tatapan dengan Sei-kun.”

 

“Eh? Ehem—” Seijuurou berdeham sekilas, lalu tersenyum ke arah istrinya. “—Ah, ne. Aku memang mengawasimu daritadi. Naa, gomen, Tetsuya. Sekarang kau bisa tidur lagi, kan?”

 

Tetsuya mengangguk, lalu menunduk lagi. Detik setelahnya ia menatap Seijuurou dengan mata berbinar. “Ne, Seijuurou-kun~”

 

Deg!—suara itu, batin Seijuurou. Takut-takut ia menatap langsung ke dalam manik biru nan berbinar yang menatapnya.

 

“Kenapa, Tetsuya?”

 

“Kemari, ne~? Aku ingin tidur sambil memeluk Sei-kun~” pinta Tetsuya sembari menepuk sisi ranjang di sampingnya. Melihat itu, Seijuurou hanya tersenyum lalu beranjak dari tempatnya. Ah, masa bodoh dengan kertas-kertas di atas meja kerjanya itu.

 

Ia ikut masuk ke dalam selimut hangat yang membungkus mereka. Menarik sosok yang dicintainya itu ke dalam dekapan hangatnya di malam yang dingin. Bergumam penuh cinta tidak menyadari sudut bibir Tetsuya yang bergerak naik.

 

Di mana dalam hati ia berbisik, ‘Besok aku mau minta sesuatu pada Seijuurou-kun, ah~’ dan kemudian ikut memejamkan mata. Larut dalam kehangatan yang selalu membuainya.

.

.

.

Pagi yang cerah. Anak tunggal keluarga Akashi itu sedikit mengernyit. Sapaan cahaya mentari yang masuk ke dalam kamarnya membuat tidurnya terganggu. Seijuurou sengaja tidak langsung membuka mata. Alih-alih mengabaikan tirai kamar yang terbuka, dirinya justru semakin membenamkan diri dalam selimut.

 

Sosok yang membuka tirai itu cemberut. Sontak saja ia mendekati suaminya, menepuk pelan pipi sang calon ayah. Tak mendapat respon apapun, sosok yang membuka tirai yang tak lain adalah Tetsuya pun mengelus pipi Seijuurou. Membuat tidur sang direktur muda itu tampak lebih nyaman.

 

Bibir merahnya maju untuk mengecup pipi Seijuurou seakan memintanya bangun. Tetap tak mendapat respon, Tetsuya pun memanggil nama suaminya. “Ne, Seijuurou-kun, bangun~” bisiknya tepat di telinga sang suami.

 

Seijuurou menggeliat sedikit, perlahan membuka kelopak matanya dan langsung dihadapkan pada sepasang manik biru langit yang selalu menenggelamkannya. Segaris tipis muncul di sudut bibirnya membuat Tetsuya mau tak mau membalas senyuman pagi itu.

 

Badannya sedikit maju untuk memberikan kecupan selamat pagi. Tidak menyadari apa yang dipakai oleh Tetsuyanya, Seijuurou membalas kecupan itu dengan menarik tengkuk sang istri. Namun masih mempertimbangkan keadaan perut Tetsuya yang agak membesar agar tak tertekan. Keduanya larut dalam pagutan lembut sampai akhirnya pemuda biru langit itu menarik diri.

 

Menjawil pelan hidung suami tercinta. “Mandi sana, Sei-kun. Kau tidak tahu ini sudah jam berapa, huh?”

 

Seijuurou hanya terkekeh membalasnya. Mau tak mau membuat Tetsuya tersenyum. “Iya iya, kaa-chan. Tou-chan bangun, nih,” katanya sambil tersenyum. Bangun dari tidurannya dan terduduk sebentar. Tetsuya masih setia ada di dekatnya. Sampai akhirnya Seijuurou meneliti apa yang dipakai istrinya.

 

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

 

Ia masih diam. Atas-bawah, atas-bawah.

 

Empat detik. Lima de—

 

WHAT?! I-ini…?

 

Matanya membola saat sadar. Tetsuya—dirimu…ngidam lagi, sayang?

 

“Tetsuya…?”

 

Hai, Sei-kun?”

 

“Kenapa…kau…pakai…baju…seperti ini…?” tanyanya pelan sambil melihat dari atas sampai bawah tubuh istrinya. “KAU COSPLAY HATSUNE MIKU?”

 

Tetsuya hanya mengangguk sambil mengernyitkan dahi. Heran akan reaksi suaminya. “Kenapa, Sei-kun? Tidak pantas, ya? Ah, harusnya tadi aku pakai wignya jugaaa~”

 

Glek! Seijuurou menelan ludah. Ia kembali melemparkan pandangannya pada Tetsuya. Rambut normal. Dari leher sampai paha, baju ala hatsune miku. Roknya terlalu pendek, nak. Lalu kaus kaki yang panjang dari atas lutut sampai bawah. Ke atas lagi sampai melihat ke arah samping pahanya. Oh, 3D manuevaer toh. Bagus ba—

 

“APA? Dapat dari mana 3D manuevaer itu, Tetsuya sayang~?” Akashi Seijuurou teriak kalap. Kaget akan apa yang dipakai sang istri di samping tubuhnya.

 

Tetsuya hanya cemberut. Kemudian memutar badan. “Aku menyuruh Fujiwara-san untuk membelinya, eh, atau mungkin meminta langsung kepada para prajurit di Scouting Legion di jaman 800an. Hmmm, menurut Sei-kun yang mana?”

 

Seijuurou hanya speechless. Kami-sama, kenapa istriku begini lagi? Kenapaaaaaa?

 

Nyawa Seijuurou melayang. Mulutnya berbusa. Matanya terpejam. Dan ia mati.

 

Ah, engga ding. Mana mungkin, kasihan nanti pas anaknya lahir.

 

“Sei-kun?”

 

“Ah, ne, Tetsuya. Iya, mungkin bisa keduanya. Terserah bagaimana Fujiwara mendapatkannya. Sekarang aku mau mandi.”

 

Tetsuya mengangguk. Menyengir lalu memberikan handuk pada suaminya. “Aku sudah siapkan air dingin, Sei-kun.”

 

Ctak!—ponsel yang sedang digenggamnya terbelah jadi dua. Shintarou, apa yang istrimu ajarkan pada Tetsuyaaa?

 

Na, Tetsuya—“

 

Ne, Sei-kun. Boleh aku minta sesuatu?” Tetsuya menyela. Membuat Seijuurou menatapnya. Melihat bagaimana cara Tetsuya bersikap, juga berdiri layaknya anak remaja dengan tangan di belakang. Satu kaki sedikit tertekuk dengan lutut yang menyentuh lutut satunya.

 

Kami-samaaa, jangan-jangan Tetsuya ngidam lagi?

 

“A-apa, Tetsuya?”

 

Ne, Sei-kun. Aku boleh kan minta foto selca bareng—?”

 

“Hah?”

 

“—Iya, foto selca. Self camera gitu. Boleh, ya?”

 

“Err—iya, boleh. Mau sama sia—“

 

“—aku mau foto selca bareng titan, Sei-kun. Jadi nanti Seijuurou-kun sama Fujiwara-san tolong bawa satu titan ke rumah kita, ya? Nanti aku juga mau manfaatin 3D manuevaernya supaya dapat hasil yang bagus. Okay?”

 

Tetsuya menyela lagi. Seijuurou terdiam. Berusaha mencerna kalimat barusan.

 

Minta foto selca bareng titan. Sosok makhluk raksasa yang bahkan tidak punya pencernaan.

 

Minta foto selca bareng titan. Mana ada makhluk seperti itu di jaman sekarang?

 

Minta foto selca bareng titan.

 

Foto selca bareng titan.

 

Selca bareng titan.

 

Bareng titan.

 

 

Tita—

 

“APA?”

 

Respon yang sungguh sangat telat. Seijuurou melihat ke arah Tetsuya yang memasang senyum sejuta umat. Ga, maksudnya senyum sejuta watt. Membuatnya terpesona, sekaligus merasa tersiksa.

 

Selca bareng tita—

 

Bruk!

 

Dan Seijuurou pun pingsan dengan tidak elitnya di hadapan Tetsuya.

 

Satu detik.

 

Dua detik.

 

Tiga detik.

 

Empat detik.

 

10 detik.

 

15 det—

 

“LOH? SEI-KUN?!”

 

Ah, ternyata responmu juga sungguh telat, nak.

 

Author berlalu.

 

Ah, sudahlah.

.

.

.

Tbc

.

.

.

Note : GARING BANGET EUUUUY T___T Gatau apa yang saya tulis T_T Maaf lama apdet. Akhir-akhir ini saya terbuai. Saya tersesat dan tak tau arah jalan pulang. Saya tanpa—stop. Abaikan kegajean saya #terbang

 

Ini kok saya malah makin serius ya ceritanya? Padahal mau dibikin humor tapi ga bica T_T Gatau lagi harus cuap-cuap kek apa. Huuuuks T_T #tenggelemdalampelukanRivaille #gajebangetsaya

 

Daripada saya banyak bacot, mending saya diem. Tapi mohon masukannya, ya~? Next buat jaga-jaga Tetsuya mau cosplay apalagi? Sebutin chara dan animenya, yaw:3 #gantungdiri

 

Dadah~

 

Signed,

Umu Humairo Cho

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s