The Pregnant Man ~Chapter 2-{Kunjungan Mendadak Para Uke}


The Pregnant Man

10649783_523976901079505_8311178734409661069_n

Story belongs to Umu Humairo Cho

Kuroko no Basuke

Is belong to Fujimaki Tadatoshi

Pairing :

AkaKuro! MidoTaka! AoKise! MuraHimu!

Rating : T+++ – M

Length : 2 of ?

Romance, Fluffy, Humor-maybe?- Parody._.

Yaoi, Boys Love, Shonen-ai content. MPreg!

DLDR, yo~ Enjoy dan tinggalkan jejak ya:)

.

.

.

A Kuroko no Basuke Fanfiction

The Pregnant Man chapter 2

Kunjungan Mendadak Para Uke

by Umu Humairo Cho

.

.

.

Masih ingat tentang kegiatan pagi super aneh bagi para seme? Oh, mari kita lupakan yang itu. Hal tersebut baru awal dari kesialan mereka, kok. Tenang. Uke yang baik akan membuat seme mereka merasa wow setiap kali mereka mengidam. Oke, author gila, maafkan, ya.

 

Hari ini, sebut saja hari senin. Jadwal masuk kerja bagi para suami untuk mencari uang. Karena dengan begitu, mereka bisa mempersiapkan segala keperluan pra dan pasca kelahiran anak mereka, kan? Dan juga hitung-hitung siap kantong ketika para uke mereka mengidam hal yang di luar batas kenormalan.

 

Tapi apa jadinya jika tiba-tiba para uke mengadakan kunjungan mendadak ke tempat kerja para seme? Ya, paling mereka hanya mau meminta sesuatu yang luar binasa eh luar biasa kali ya. Bener ga?

.

.

.

Aomine Ryouta berjalan cepat untuk menggapai pintu kantor kepolisian di mana suaminya bekerja. Ketika ia berhasil masuk, ia langsung melesat ke ruangan yang suaminya tempati. Daiki yang tidak menyadari kehadirannya, membuat Ryouta berjinjit pelan kemudian memeluk Daiki dari belakang. Sontak saja, Ace dari Kiseki no Sedai itu berjengit kaget dan langsung berbalik melihat siapa yang memeluknya.

 

“Ryouta? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Aomine Daiki ketika mendapati istrinya berada di kantornya.

 

Ryouta tersenyum lebar lalu kembali mendekatkan dirinya pada lelaki berkulit tan itu. “Daikicchi~ aku kangen-ssu~”

 

Daiki hanya bisa tersenyum kemudian mengelus rambut pirang Ryouta. Ia ikut merangkul istrinya. “Kau kan bisa menungguku pulang. Sejak kapan kau jadi semanja ini, Ryouta?”

 

“Daikicchi tidak suka? Aku juga mau makan siang bersama Daikicchissu~”

 

“Kau bisa memintaku untuk menjemputmu, kan?”

 

“Tapi aku mau kasih kejutan ke Daikicchissu~”

 

Wakatta. Sekarang kau mau makan apa dan di mana? Jam istirahat sebentar lagi habis soalnya. Kita harus cepat.”

 

Ryouta mengangguk-angguk kemudian mengoceh panjang lebar sampai membuat Daiki pusing. Dia hanya bisa menangkap menu makanan dan tempat yang disebutkan Ryouta. “…aku mau makan nasi kuning dilumuri dengan susu vanilla lalu dikasih topping ayam rica-rica. Terus aku mau makannya di dalam sel-ssu~…”

 

“…”

 

“Daikicchi?”

 

“…”

 

“Kok diam-ssu?”

 

“…”

 

“…”

 

“Tadi kau mau makan di mana, Ryouta?”

 

“Uhm? Di dalam sel-ssu. Di sini ada sel, kan, Daikicchi?”

 

“…”

 

 

Ingatkan Aomine Daiki untuk mengurung diri di dalam sel tahanan setelah jam makan siang nanti.

.

.

.

Pemuda berambut langit yang sekarang namanya menjadi Akashi Tetsuya berjalan santai memasuki lobby perusahaan suami tercintanya, Akashi Seijuurou. Pemuda yang sekarang tengah hamil 4 minggu itu sama sekali tidak memedulikan pandangan heran orang-orang di sekitarnya. Pun ia mengabaikan tatapan penuh was-was orang-orang ketika melihat dirinya membawa sebuah benda yang katanya sih bernama kapak di tangan kirinya.

 

Tapi coba lihat dulu penampilannya. Katakanlah kalian boleh menatapnya sambil menganga kuadrat karena pakaian yang ia pakai tidak ada cocok-cocoknya dengan benda yang ia bawa sekarang. Oh, Akashi Tetsuya, sebenarnya dirimu mengidam apa, nak? Kok jadi begini sih?

 

Pemuda biru langit itu memakai kostum maid yang pada bagian dadanya terdapat pita, degan panjang roknya 5cm di atas lutut. Sebenarnya lumayan kawaii, tetapi rasanya jadi nano-nano jika digabungkan dengan wajah datarnya. Sungguh penampilan yang wow. Tapi tetap saja, bagi para mata yang bisa melihat kekawaiian istri Yang Mulia Kaisar Akashi Seijuurou ini, Akashi Tetsuya tetaplah manis, imut, kawaii, cantik, dan apapun itu.

 

Tetsuya tetap berjalan tanpa mengindahkan orang-orang. Kemudian dengan seenaknya ia mendobrak pintu ruangan suaminya karena ia tahu tak seorangpun berani menghentikannya. Seijuurou yang saat itu sedang fokus membaca laporan langsung terlonjak dan menoleh ke arah pintu. Dan saat itulah seorang Akashi Seijuurou kembali speechless.

 

Kami-sama? Apa sebegitu banyaknya kah dosaku? Kenapa acara mengidamnya Tetsuya sampai harus cosplay setiap hari? Kawaii sih, tapi kenapa harus bawa-bawa senjata tajam? Kemarin-kemarin gerjaji besi, terus gunting rumput, belum lagi setruman, dan sekarang kapak? Besok apalagi?, batin Seijuurou nelangsa.

 

 

“Sei-kun~”

 

 

Nah! Sejak kapan suaranya bisa semerdu itu saat merajuk? Eh tapi, tadi Tetsuya pakai sedikit ekspresi, kan? SERIUUUUS?

 

Tsk. Sadar, oi, Akashi.

 

 

“Seijuurou-kun?”

 

“Ah? Ne, Tetsuya? Kenapa kau tiba-tiba datang, hm?” Seijuurou bertanya sambil mendekati istrinya yang masih berdiri di depan pintu ruangannya. Lalu ia menarik lembut istrinya untuk masuk dan menutup pintu di belakang mereka. “Kok tidak bilang-bilang mau ke sini?”

 

Tetsuya memandang Seijuurou dengan mata birunya yang berbinar. Man, kali ini Seijuurou merasa siaga satu. Jangan-jangan Tetsuya mengidam lagi? “A-ano…Sei-kun?”

 

“Ya, dear?”

 

“Aku datang ke sini karena mau makan siang bersama Seijuurou-kun~”

 

“Eh? Hontou ka?” kagetnya karena Tetsuya sampai susah-susah datang ke kantornya. Padahal dirinya bisa menelpon Seijuurou untuk pulang, kan?

 

“Iya, Sei-kun. Tapi sebelum berangkat ke restoran—“ Tetsuya mendekatkan tubuhnya pada dada bidang Seijuurou. Sontak hal itu membuat pemuda berambut merah itu menahan napas.

 

“Sebelum itu apa, Tetsuya?”

 

“—uhm…” Tetsuya menggesek-gesekkan wajahnya di dada suaminya itu. Kemudian tangannya yang tadi mencengkram jas Seijuurou bergerak berputar di dada bidang anak tunggal keluarga Akashi itu. “—aku mau minta cium, Sei-kun~”

 

K-kawaiiiiiii~’ teriak batin Seijuurou ketika melihat ekspresi yang dibuat istrinya. “Jaa~ k-kalau begitu kenapa kau tidak taruh dulu kapaknya, Tetsuya?” tanya Seijuurou sambil mengusap pipi istrinya.

 

 

Tetsuya yang mendapat perlakuan seperti itu perlahan mendongak dan menatap Seijuurou dengan mata biru langitnya. Wajah Seijuurou mendadak blank ketika ia melihat ada rona merah di sekitar pipi istrinya. Kami-sama…istriku kawaii sekaliiii, batin Seijuurou OOC.

 

Kemudian Tetsuya pun yang mendapati perlakuan lembut dari suami tercinta, dengan tanpa dosa langsung melempar kapak yang di pegang ke belakang, dan saat itu juga pintu terbuka menampilkan sekretaris Seijuurou yang nyaris terkena lemparan kapak itu.

 

Oh, ingatkan Seijuurou bahwa ini bukan kali pertama sekretarisnya hampir mati di depan mata kepalanya sendiri. Ckckck.

 

 

“Aa…g-gomen, Akashi-sama. S-saya tidak tahu jika Anda s-sedang—“

 

“Ada apa, Haruka? Ahya, kau hebat sekali bisa menghindari lemparan kapak dari Tetsuya. Belajar dari mana?” tanya Seijuurou pada sekretarisnya itu. Sedangkan Tetsuya sendiri tetap menatap datar walau sebenarnya agak kesal karena acara ciuman mereka jadi tertunda.

 

Iie…saya hanya refleks. Kalau begitu saya permisi, Akashi-sama. Nanti saya akan kembali.”

 

“Hm.”

 

Detik selanjutnya Seijuurou pun kembali menatap istri di dalam pelukannya. “Nah? Sampai di mana kita tadi?” tanyanya seraya mengangkat dagu Tetsuya. Tetsuya memandangnya dengan datar –lagi.

 

“Sei-kun cepat cium aku.”

 

“Hei, nyonya Akashi, kau seharusnya tahu untuk tidak menggodaku sekarang.”

 

“Aku tidak menggoda Seijuurou-kun, kok.”

 

Wakatta~” Seijuurou langsung mencium bibir Tetsuya dengan lembut. Kedua tangannya berpindah ke pinggang ramping sang istri kemudian menariknya untuk memperdalam ciuman mereka.

 

 

Tetsuya sendiri melingkarkan tangannya di leher Seijuurou seraya sesekali mendesah dalam kecupan itu, menikmati sensasi yang timbul dari ciuman mereka. Pemuda bersurai biru langit itu sesekali menaik-turunkan tubuhnya sehingga bagian bawah mereka bergesekkan. Hal itu membuat Seijuurou menggeram pelan lalu mulai membawa Tetsuya ke arah sofa yang ada di ruangan itu.

 

Suhu semakin panas, otak author semakin mesum, tangan pemuda berambut merah itu hampir menaikkan bagian bawah rok Tetsuya kalau saja dobrakan pintu tidak menggangu kegiatan mereka.

 

 

“Oi, Seijuurou. Tou-san ada per—ah. Gomen, gomen. Kalau mau ‘itu’ ya kunci pintunya dulu, dong,“ ucap serta komentar Akashi Seichirou, ayah dari Akashi Seijuurou dan mertua Akashi Tetsuya.

 

Tetsuya yang dipergoki oleh ayah mertuanya langsung mendorong Seijuurou sehingga pemuda yang sekarang menduduki jabatan presdir di perusahaan keluarga Akashi di Tokyo itu pun mengaduh, bokongnya jatuh tepat di lantai dengan sangat keras. Tetsuya langsung berdiri dan merapikan pakaiannya, lalu membungkuk pada ayah mertuanya. “Doumo, otou-sama.”

 

“Hallo, Tetsuya. Maaf ya tou-san tiba-tiba masuk.”

 

Daijoubu, otou-sama. Sei-kun saja yang tidak tahu tempat.”

 

 

WHAT? Coba direka ulang kejadian tadi? Bukankah Tetsuya yang minta dicium? Bukankah Tetsuya duluan yang mendesah? Bukankah Tetsuya duluan yang menaik-turunkan tubuhnya dengan sensual? Ya ampun, orang hamil memang serba seenaknya. Biarkan sajalah. Toh yang dikandung itu anakmu, kan? Seijuurou-sama?

 

 

“Oooh. Tidak apa-apa kok kalau mau diteruskan. Urusan tou-san mah gampang. Ayo kalian teruskan saja.”

 

Otou-san. Sebenarnya ada apa ke sini?” tanya Seijuurou yang masih duduk sambil mengaduh, meraparti nasib bokongnya yang mencium lantai. Tetsuya yang melihat suaminya itu segera mendekati pemuda bersurai merah itu dan duduk di pangkuannya. Tangannya membingkai wajah sang presdir Akashi group.

 

Wajah yang yang datar, namun terlihat sedikit gurat kekhawatiran, bertanya lembut sambil mengusap pipi suaminya. “Sei-kun daijoubu? Mana yang sakit?”

 

 

Wajah Seijuurou sontak memerah. Ayahnya yang melihat hal itu hanya bersiul kemudian duduk di atas sofa. Yah, hitung-hitung lumayan menonton anak dan menantunya, kan?

 

 

Iie, Tetsuya, aku baik-baik saja. N-nah, berhubung ada tou-san di sini juga, bagaimana kalau kita makan siang bersama dengannya?” kata Seijuurou sambil menahan diri. Ya ya, dia harus bisa mengontrol dirinya. Setidaknya tidak di depan ayahnya kan?

 

“Uhmm…benar juga sih…” Tetsuya bergerak tak bisa diam di atas pangkuan anak tunggal Seichirou itu. Kedua tangannya yang tadi membingkai wajah Seijuurou berpindah menjadi merangkul lehernya. “Ne…Sei-kun…”

 

 

‘Gawaaaat.’

 

‘Hup’

 

Seijuurou yang masih sadar pun akhirnya memutuskan untuk mengangkat Tetsuya sebelum istrinya itu membuat ia lupa daratan. Dirinya masih ingat jika ia ada di kantor. Setidaknya ia bisa menundanya saat sampai di rumah nanti.

 

 

“Sei-kun turunkan aku~” pinta Tetsuya yang langsung dituruti. Seijuurou pun menurunkan Tetsuya lalu melirik ayahnya.

 

Tou-san, ayo makan siang bersama kami.”

 

Akashi Seichirou pun hanya mengangguk lalu berjalan ke arah pintu, namun langkahnya terhenti ketika melihat menantunya mengambil kapak yang tergeletak di samping pintu ruangan anaknya. Dengan was-was pun ia bertanya. “Tetsuya, kenapa kau membawa—err—kapak? Tou-san masih maklum kalau kau cosplay, tapi kapak—“

 

“Ini?”

 

 

‘Wush’

 

Akashi Seichirou mundur selangkah saat muka kapak itu hampir menyapa wajahnya. Ayah kandung Seijuurou itu mengangguk pelan sambil berdoa supaya hidupnya tidak mati di tangan menantunya.

 

 

“Aku hanya mau membawanya kok, otou-sama. Kalau aku Midorima-kun, mungkin ini bisa disebut sebagai lucky item hari ini,” balasnya datar lalu berjalan keluar pintu. Meninggalkan sepasang ayah-anak itu yang larit dalam pikiran mereka dan hanya bisa berharap tidak akan ada korban akibat kelakuan aneh Tetsuya selama hamil.

 

Ketika keduaya larut berpikir, teriakan Tetsuya pun menyadarkan mereka. “Otou-sama, Sei-kun, hayakuuu!! Nanti aku mau makan nasi goreng pecel dicampur saus blueberry ya?!”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“Nak, aku tidak tahu apa yang kau masukkan ke dalam sarimu ketika membuat anak yang ada di dalam kandungan Tetsuya sekarang.”

 

“…”

 

 

Dan Akashi Seijuurou hanya bisa merenung. Seberapa banyak dosa yang sudah ia perbuat sampai harus menghadapi Tetsuyanya yang super wow ini?

.

.

.

Midorima Shintarou berulang kali membaca data pasien yang diberikan suster kepadanya. Jam makan siang sudah tiba, namun rasanya ia agak berat meninggalkan mejanya karena terlarut menganalisa data pasien yang mengidap penyakit kanker yang ia tangani.

 

Matanya melirik ke arah jam di atas meja kerjanya, kemudian beralih ke arah figura yang di dalamnya terdapat potret dirinya dengan istrinya, Midorima Kazunari. Tanpa sadar Shintarou tersenyum. Untuk kali ini ia mengakui, sosok pemuda berambut hitam belah tengah itu begitu menarik. Tak puas memandangi foto itu, Shintarou tanpa sadar mengambil ponselnya dan mendial nomor handphoe sang istri.

 

Menunggu. Sampai nada dering ketiga, dan berikutnya tapi tak ada jawaban. Shintarou jadi berpikir, semenjak istrinya hamil, dirinya jarang dibawakan bekal lagi. Karena setiap pagi, Midorima Kazunari itu akan bertingkah aneh-aneh dan juga menyiapkan sarapan yang aneh. Hal tersebut sampai membuat kedua orang taunya juga adiknya cengo kuadrat.

 

Tak menyadari jika ada yang masuk ke dalam ruangannya, Shintarou tetap menunggu sosok di seberang sana menjawab panggilannya. Namun apa daya ketika suara operator menyadarkannya jika nomor itu tengah tidak aktif.

 

Ada apa? Kenapa Shintarou merasa khawatir sekarang?

 

 

“Pak dokter~ aku membawa laporan~”

 

 

‘DEG’

 

Pemuda bersurai hijau lumut itu langsung diam di tempat. Suara itu sangat mirip dengan suara Kazunari. Berusaha mengusir rasa kaget, Shintarou memutar kepalanya ke kiri dan—bingo! Ia mendapati istrinya berada di depannya dengan papan jalan di tangannya.

 

Uh-oh! Tolong bersihkan kacamata Shintarou jika yang ia lihat sekarang adalah sosok Midorima Kazunari yang memakai seragam suster. Tolong. Dia pasti sedang sakit sampai berkhayal.

 

 

“Shin-chan~?”

 

“K-kazunari, kenapa dengan pakaianmu-nodayo?” sontak, pemuda dengan kemampuan hawk eyes itu langsung menatap tubuhnya yang terbalut seragam suster.

 

“Ada yang salah dengan bajuku, Shin-chan?” tanya Kazunari polos.

 

Shintarou menghela napas lalu membenarkan kacamatanya. “Tentu saja. Untuk apa kau berpakaian seperti itu ke sini-nodayo?”

 

Kazunari yang mendengar komentar suaminya langsung menunduk, tangannya memainkan ujung bajunya. “Shin-chan tidak suka, ya~? Apa aku terlihat jelek?”

 

 

‘Deg’

 

‘Sejak kapan dia bisa merajuk?’, batin dokter muda itu. Shintarou pun mendekati istrinya kemudian menariknya untuk duduk di kursi yang ada. “Bukan begitu, Kazunari. Hanya saja—p-pakaian itu terlalu pendek. Dan lagi, kenapa kau tidak mengangkat telponku-nodayo?”

 

“Shin-chan khawatir?” balas Kazunari sambil mendongak, memasang ekspresi super kawaii yang membuat anak sulung keluarga Midorima itu memerah.

 

“B-bukannya begitu, nanodayo. K-kau kan sedang hamil, kalau kau memakai p-pakaian suster wanita dengan roknya yang berukuran 5cm di atas lutut begini bisa-bisa kau diapa-apakan di luar sana-nodayo.”

 

“Shin-chan kok masih tsundere sih? Padahal kita sudah menikah, loh~”

 

Urusai-nodayo, Kazunari. Sekarang cepat ganti bajumu.”

 

“Tidak mau~ Aku kan mau jadi susternya Shin-chan~”

 

“Kazunari—“

 

“Aku juga mau makan siang bareng Shin-chan. Shin-chan belum makan siang, kan? Ne, ne! Aku sudah bawakan makanan yang enak, loh~” ujar Kazunari memotong kalimat Shintarou. Dan ketika mendengar kata makanan, pemuda berambut hijau itu langsung terkesiap. Kami-sama…masih selamatkah aku kali ini?

 

 

Shintarou bisa melihat Kazunari yang membuka kotak bento yang ia bawa. Dan kacamatanya langsung retak ketika melihat isinya.

 

 

“Nah! Ayo di makan, Shin-chan~”

 

“…”

 

“Menu makan siang kali ini, telur dadar setengah matang dipadukan dengan bubur ayam. Enak, loh~ dimakan ya, Shin-chan~”

 

“…”

 

“Kalau tidak mau makan ini—a-apa Shin-chan maunya m-memakanku saja~?”

 

“!!!” Shintarou langsung memandang Kazunari dengan kacamatanya yang sudah hancur.

 

 

Kami-sama…semenyebalkannya sosok Kazunari saat mereka masih sekolah dulu, kenapa sosoknya yang sedang hamil sekarang semakin membuatnya ingin terjun dari lantai atas rumah sakit ini?

 

Tolong…daku tak kuaaaaat~

.

.

.

Matahari sedang tinggi-tingginya, tetapi pemuda manis berambut hitam yang menutupi mata kirinya dengan surainya tak gentar untuk tetap berjalan menuju sebuah restoran ternama di Tokyo. Restoran milik keluarga Murasakibara. Ya, restoran milik suaminya.

 

Pemuda bernama Murasakibara Tatsuya itu berjalan santai dengan menggeret anak kucing di sampingnya. Siapapun tolong tegur uke kalem ini. Kasihan kan kucingnya? Oke lupakan.

 

Tatsuya terus tersenyum tipis dan membiarkan orang-orang jatuh pingsan karena pesonanya. Ya, memang sudah rahasia umum kalau orang yang sedang hamil auranya akan keluar. Eh? Tapi ga secepat ini juga kan?

 

Tatsuya tak peduli berapa banyak yang pingsan. Tujuannya sekarang hanyalah restoran milik suaminya. Ia ingin makan siang di sana bersama dengan titan tukang makan itu. Ia bisa meminjam dapur sebentar untuk membuat menu makan siang.

 

 

Ketika kakinya menginjak ubin pertama restoran itu, semua pelayan yang menganggur langsung berbaris dan menyambutnya. Jangan lupakan ekspresi kaget mereka karena mendapati istri dari boss mereka ada di sini. “K-konnichiwa, Murasakibara-sama.”

 

Tatsuya tersenyum mendapat sambutan itu. Lalu matanya berkeliling mencari sosok suaminya. Sampai salah seorang kepala pelayan di restoran itu mengakhiri pencariannya. “Jika Anda mencari suami Anda, beliau sedang ada di dapur, Murasakibara-sama.”

 

Tatsuya mengangguk. “Arigatou, Takashi-san,” tersenyum sekilas, Tatsuya langsung berlalu menuju dapur. Ia pun mendobrak pintu tak berdosa itu membuat orang-orang di dalamnya melompat saking kagetnya.

 

Murasakibara Atsushi yang melihat istrinya langsung berdiri tegak, yang tadinya sedang mencicipi kue. “Are~? Tat-chin sedang apa di sini~?” tanya lalu mengambil segelas air, berjalan ke arah Tatsuya dan memberikannya.

 

Tatsuya meminum air itu lalu berterima kasih kepada suaminya dengan mengecup pelan bibir sang titan berambut ungu itu. “Atsushi, aku mau makan siang di sini. Biarkan aku meminjam dapur untuk membuat makanan untukmu, ne?”

 

 

‘Siiing~’

 

Hening. Pemilik restoran itu langsung terdiam mendengar permintaan istrinya. Kenapa begitu mendadak, nak? Kenapa tidak bilang mau datang agar koki handal restoran ini bisa menyiapkan makan siang yang enak? Eh, bukan berarti masakan Tatsuya tidak enak. Hanya saja semenjak Tatsuya hamil, Atsushi menjadi semakin waspada akan makanan yang dibuat dan disuguhkan kepadanya.

 

 

“Atsushi? Boleh, kan?”

 

“Hmm~? Ne, ne, boleh, kok. Kalian semua boleh istirahat, ne~? Fuji-chin tolong tetap di sini, ne~ Bantu Tat-chin jika dia membutuhkan sesuatu.”

 

Hai, Murasakibara-sama.”

 

 

Dapur restoran itu pun kosong, meninggalkan Nyonya Murasakibara dan koki kepercayaan pemilik restoran terkenal di Tokyo itu, Fujioka-san.

 

Selama menunggu, Atsushi bisa mendengar suara ribut akibat benda yang jatuh, dan suara koki kepercayaannya itu dari luar. Center dari Kiseki no Sedai itu hanya bisa tersenyum tipis dengan mata segaris kepada para pegawainya.

 

 

Sedangkan dalam hati ia berdoa dan meminta maaf. ‘Maafkan keributan kecil ini, ne? Semoga kalian dan Fuji-chin selamat kalau-kalau Tat-chin meminta kalian memakan masakannya.’

 

 

Setelah sekitar satu jam menunggu, Murasakibara Tatsuya pun keluar dengan sebuah piring yang ditutupi tutup saji kaleng. Para pelayan sudah menyiapkan meja untuk mereka, dengan beberapa pelayan yang tinggal kalau-kalau boss mereka ini membutuhkan sesuatu. Fujioka-san dengan tampang speechlessnya pun berada di sana.

 

Pemuda yang sekarang usia kehamilannya satu bulan itu pun tersenyum lebar. Membawa piring berisi sesuatu itu ke atas meja di depan suaminya. Dengan semangat ia pun membuka tutup saji yang ada.

 

“…”

 

“Aku mendadak mau makan kue, Atsushi. Jadi makan siang kita kali ini, menunya kue, ne?”

 

“…”

 

 

Atsushi masih diam. Tampilan kue itu tidak lebih dari blackforest. Tapi yang membuatnya diam adalah…kenapa toppingnya itu ada potongan mauibo? Kenapa krim yang mengelilinginya seperti oli, hitam pekat warnanya? Para pelayan yang ada di sekitar mereka tak kalah speechless ketika Tatsuya meminta Fujioka-san yang memasang wajah aku-tahu-aku-membantu-membuatnya untuk memotong kue itu.

 

Fujioka-san pun melakukan permintaan istri dari bossnya itu. Ketika kue terpotong dan menampilkan isi di dalamnya, para penonton alias para pelayan dan Atsushi tambah speechless.

 

  1. Man…kenapa ada potongan timun dan terong di dalamnya? Kenapaaa?

 

 

Fujioka-san pun meletakkan potongan kue itu di atas piring Murasakibara Atsushi dan istrinya. Tatsuya memandang ceria sang suami dan memintanya memakan kue itu dengan gembira. “Na, Atsushi, ayo dimakan kuenya. Enak, loh. Tapi maaf kalau kurang manis, ne?”

 

“…”

 

“Atsushi?”

 

“Eh? Ne, Tat-chin, aku makan, ne~?” balas Murasakibara yang langsung sadar jika ekspresi Tatsuya agak berubah.

 

“Uhm!”

 

 

Dan para penonton hanya bisa terdiam menyaksikan pertunjukkan spektakuler tersebut. Ketika Atsushi sudah menghabiskan kuenya, Tatsuya pun memintanya untuk menambah. Seketika itu juga Atsushi langsung memasang wajah Kami-sama-aku-tak-kuat yang diartikan oleh Tatsuya sebagai kuenya-kurang-manis-Tat-chin. Hal itu sontak membuat Tatsuya agak sedih. Tapi ia juga senang, suaminya mau menghabiskan satu potong yang tadi diberikan.

 

Pemuda berambut hitam legam itu kemudian tersenyum menatap sekitar. Giginya tampak membuat yang ditatap berjengit ngeri.

 

 

Kami-sama jangan bilang—‘

 

Ne, daripada kalian hanya melihat, bagaimana jika kalian yang menghabiskan kuenya? Anda juga, ne, Fujioka-san.”

 

 

‘Siiiiing’

 

 

Ne?”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“Tunggu apalagi? Hayaku!”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

 

Para pelayan dan koki kepercayaan Murasakibara seketika merasa dunianya terancam. Yang sabar ya! Semangat menghabiskan kue rasa nano-nano ituuu!

 

 

‘Maafkan aku, ne~ Kuenya enak kok, tapi rasa nano-nanonya mengecoh. Selamat berjuang menghabiskan kuenya, ne~’ batin Murasakibara berdoa.

 

 

Kini, kue buatan Murasakibara Tatsuya ada ekstraknya di lidah para pelayan dan koki kepercayaan suaminya.

.

.

.

Tbc

.

.

.

Note : Haiiii~ saya kembali. Apdet kilat ya? Hehe tidak menyangka dapat respon baik:) Jadinya saya semangat deh. Nah, ini lanjutannya. Mohon maaf kalau humornya gagal –lagi.

Ah, jadi mohon masukannya, ne?

 

Signed,

Umu Humairo Cho

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s