Connected


Connected

Story by Umu Humairo Cho, 2014

Naruto character belongs to Masashi Kishimoto

Ai Sagara, Fujimoto Yumi

Are belong to God and themselves

GaaraXAi fanfic

Be easy on me! Dedicated to Teta Dea Kkw.

.

.

.

Gadis berambut hitam itu menatap heran barisan gadis-gadis yang selalu mengerubungi laki-laki di samping bangkunya. Menggeleng tak mengerti dan akhirnya memutuskan menatap ke arah luar jendela. Bahkan tidak memedulikan ocehan sahabat di depannya yang tengah bercerita. Tidak menyadari ada tatapan lain yang selalu mengarah ke dirinya itu.

 

Tanpa sadar, lelaki itu terkekeh, membuat para gadis di sekitarnya memekik kencang, tak ayal juga berhasil mengalihkan pandangan gadis yang awalnya menatap langit itu.

 

 

“Kau lihat tadi? Gaara-kun tersenyum, kyaaaaaa~”

 

 

Lelaki bernama Gaara itu menghela napas. Saat akan berkata, satu temannya sudah mewakili hatinya. “Yosh yosh! Istirahat akan segera berakhir. Ada baiknya kalian kembali ke kelas kan? Lagipula Gaara sedang ada urusan sekarang. Terima kasih~”

 

 

Dalam hati lelaki berambut merah itu sedikit bersyukur, memiliki Naruto sebagai salah satu temannya. Mendengar ucapan Naruto, para gadispun mendesah kecewa dan berhamburan keluar. Namun tidak lupa meninggalkan sepatah dua kata semangat untuk Gaara.

 

 

“Kau berhutang budi padaku, Gaara~” ucap Naruto pada Gaara. Gaara hanya menghela napas lalu tanpa sadar mengalihkan pandangannya ke arah gadis samping bangkunya itu.

 

Menangkap bahwa arah pandangan gadis itu sedari tadi memerhatikan mereka. “Terserah kau saja,” balasnya kemudian menatap ke depan. Tersenyum kecil tanpa sadar.

.

.

.

“Aku bilang tunggu sebentar, Temari. Aku sudah di parkiran.”

 

‘Kalau kau masih lama, aku telpon Shikamaru saja untuk menjemputku, okay?’

 

“Jangan bercanda. Aku pastikan dia mati di tanganku saat itu juga.”

 

 

Gaara masih berdebat dengan kakaknya di telpon, berjalan masuk ke lobby mall ternama Konoha dengan terus mendengus mendengar ocehan kakaknya. Namun pandangannya berhenti ketika ia melihat seorang gadis yang sepertinya kesulitan dengan barang belanjaannya yang jatuh berserakan karena ditabrak orang lain. Untuk hal ini, sifat peduli seorang Gaara memang tidak bisa dibantah.

 

 

“Tunggu aku 10 menit lagi.”

 

‘Eeh? Heeei, Gaara!

 

 

Lelaki itu bahkan langsung mematikan sambungan telpon dan mendekat ke arah gadis itu. Berjongkok membantu gadis yang bahkan tidak dikenalnya membereskan barang-barangnya.

 

 

“Aaa—t-tidak usah. Aku bisa melakukannya sendiri, kok~” ujar gadis itu ketika melihat tangan lain yang membantunya. Ia mendongak pelan melihat siapa yang menolongnya, namun karena Gaara masih merunduk, gadis itu menghela napas membiarkan tangan itu ikut membereskan barang belanjaannya.

 

A-arigatou~” cicitnya ketika barang terakhir yang jatuh sudah kembali rapi. Gaara berdiri membuat gadis itu sontak ikut bangun. “A-ano—a-aku benar-benar berterima kas—ih—uhm…?” ucapan gadis itu terhenti ketika Gaara mendongakkan wajahnya.

 

 

Sontak Gaara juga sedikit merasa terkejut, seakan ia familiar dengan wajah di depannya ini. Apa mungkin…?

 

 

“Aaa…Sabaku-san? Aku benar-benar berterima kasih karena kau sudah membantuku,” kata gadis itu lagi membuat Gaara memerhatikan dengan seksama dan berusaha mengingat siapa gadis di depannya ini. “Sepertinya kau lupa siapa aku. Hm~ biar kuingatkan. Kau ingat gadis yang duduk di samping mejamu saat kelas dua di SMP Konoha?”

 

“Gadis yang—“

 

“Sagara?”

 

“Eh? Kau ingat namaku? Hehe aku tersanjung sekali!” gadis bernama Sagara itu tersenyum membuat Gaara sontak semakin mematung. “Sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Ternyata Sabaku-san tidak berubah ya sejak dulu. Masih peduli kepada sekitar walaupun ditutupi oleh sikap dingin Sabaku-san.”

 

“Hn. Sama-sama. Kalau begitu aku pamit.”

 

“Eh? H-hai! Arigatou, ne?”

 

“Hn,” dan Gaara benar-benar meninggalkan gadis itu berjalan masuk ke dalam mall. Mengepalkan tangannya kuat, seakan ada sesuatu yang berusaha diingatnya.

.

.

.

“Terima kasih atas bantuan kalian selama ini, terima kasih juga sudah bersedia menjadi temanku. Aku minta maaf jika pernah membuat kesalahan. Jaa, ne. Sayonara, minna-san,” gadis berambut hitam yang dipanggil Ai oleh teman-temannya itu membungkuk. Gaara bisa melihat kilatan kesedihan di mata gadis itu.

 

“Hati-hati, ya, Ai jelek di sana,” dan ucapan seorang teman sekelasnya bernama Yumi itu berhasil membuat Gaara kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.

 

 

Pindah, ya? Lagipula mereka tidak begitu dekat, dan Gaara merasa ia tidak terlalu perlu untuk mengucapkan selamat tinggal, bukan?

.

.

.

“Aku benar-benar akan menelpon Shikamaru jika dia belum datang dalam hitungan kesepuluh,” gerutu Temari pada temannya yang ada di depannya ketika menunggu Gaara. Sakura –teman satu klub Temari waktu sekolah dulu juga tengah menunggu kekasihnya. Jadi, tidak ada salahnya jika mereka saling mengisi kekosongan, kan?

 

“Mungkin dia lagi ke toilet dulu, Tem.”

 

“Dia bilang sudah ada di parkiran, Ra. Gaara memangnya ada urusan apa, sih?”

 

“Sakura,” suara seseorang membuat keduanya menoleh. Terlihatlah lelaki berambut raven yang menghampiri mereka. Sakura hanya tersenyum kemudian lelaki itu kembali berucap. “Hn. Temari, kau menunggu Gaara?”

 

Temari mengangguk menjawab pertanyaan kekasih temannya yang merupakan sahabat adiknya juga. “Iya. Kau melihatnya?”

 

 

Lelaki bernama Sasuke itu mengangguk. “Sifat pedulinya selalu muncul. Dia sedang menolong seorang gadis tadi.”

 

Mata Temari membulat. “Serius? Cantik tidak?”

 

Sasuke menautkan alis, membenarkan duduknya seraya melihat kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja. “Kau bisa tanya Gaara nanti.”

 

“Kamu kenal orangnya, Sasuke-kun?” suara Sakura membuat Sasuke menoleh.

 

“Hn, tidak begitu yakin. Sepertinya kita mengenalnya.”

 

 

Ketiganya justru terdiam, tak lama, sebuah suara yang sangat ketiganya kenal membuat mereka menoleh.

 

 

“Temari, ayo pulang.”

 

Temari mendengus. “Kau lama, Gaara. Menolong seorang gadis dulu, eh?” sindir Temari membuat Gaara menautkan alisnya.

 

“Berisik. Ayo pulang,” balasnya melihat ke arah Sasuke dan sedikit mengernyit. Lelaki berambut merah bata itu berpikir pasti Sasuke yang memberitahukannya.

 

“Iya iya. Lain kali aku minta jemput Shikamaru saja.”

 

“Dalam mimpimu.”

 

“Ish! Dasar sister-complex. Yo, Sasuke, Sakura, duluan yaaa!”

 

“Yo, Temari. Hati-hati ya.”

 

 

Keduanya hanya mengangguk kemudian meninggalkan pasangan SasuSaku yang masih menaruh perhatian kepada mereka. Lalu menggeleng pelan sebelum akhirnya beranjak berniat melakukan apa yang sudah mereka rencanakan.

.

.

.

Gaara menyandarkan tubuhnya di bangku kelasnya. Sesekali tangannya menulis di kertas kosong yang sejak tadi terbuka, atau sesekali melihat ke arah langit cerah yang nampak. Tidak menyadari bahwa kini kelas telah ramai, juga tidak peduli pada satu sahabatnya yang sedari tadi mencoba mengalihkan pandangan Gaara.

 

Sampai sebuah suara membuat alisnya mengernyit. “Yoroshiku onegaishimasu~”

 

“Oi, Gaara!”

 

 

‘Pluk’

 

Lemparan kertas itu berhasil membuat Gaara melihat ke arah Naruto, temannya yang duduk di barisan nomor dua dari depan baris ke empat dari pintu. Ia menatap tidak mengerti temannya yang terus menyuruhnya melihat ke depan kelas. Apalagi fokusnya benar-benar pecah ketika suara sensei menyebut namanya.

 

 

“Kau bisa duduk di depan Sabaku Gaara, Sagara-san. Gaara, angkat tanganmu!”

 

“Hm?” Gaara masih benar-benar tidak fokus, sampai akhirnya ia mendongakkan kepalanya ke arah depan dan melihat gadis yang kemarin ditolongnya berada di depan kelasnya. Ia yang baru mengerti beberapa saat lalu namanya dipanggil pun segera mengangkat tangannya.

 

“Nah, Sagara-san. Kau bisa ke tempat dudukmu sekarang. Semoga kau betah, ya?”

 

Arigatou, sensei.”

 

 

Gadis bermata coklat itu berjalan ke arah di mana Gaara duduk. Tepatnya meja di depan bangkunya. Gaara hanya menghela napas ketika gadis itu tersenyum ke arahnya.

 

 

“Kita bertemu lagi, Sabaku-san!”

 

“Hn,” balas Gaara sekenanya membuat gadis itu terkekeh kecil dan menghadap ke depan, kemudian mengobrol ringan dengan seorang teman sekelas Gaara, yang ia ingat merupakan teman SMP mereka juga.

.

.

.

Lelaki berambut merah bata itu terus saja mencibir dalam hati, sesekali ia menangkap tatapan mengejek kedua sahabatnya –lebih tepatnya satu di antara keduanya yang lebih kentara, seolah siap untuk menyindir dirinya.

 

Gaara menghela napas, beberapa saat lalu bel berbunyi menandakan waktu istirahat telah dimulai. Lelaki bertato Ai itu menoleh ke arah jendela dan memerhatikan langit yang tampak cerah, sampai Naruto menuju ke arahnya dan mengajaknya pergi ke kantin.

 

 

“Yo, Gaara! Ayo ke kantin!” teriak sahabatnya itu sesekali melirik ke arah gadis yang duduk di depan Gaara. Gaara hanya mendengus kemudian bangkit dari duduknya. Tapi gerakannya terhenti ketika mendengar suara gadis itu.

 

“Yumiii~ ayo ke kantin~” suara itu jelas terdengar di telinga Gaara. Lelaki berambut merah bata itu hanya melirik sekilas dengan matanya.

 

Kemudian menatap dua sahabatnya yang sudah menunggu. “A—“

 

“Ai-chan~ ke kantin bareng kita saja, yuk? Nanti Hinata-chan sama Sakura-chan juga bergabung, kok~” seruan Naruto membuat Gaara merapatkan kembali bibirnya. Lagi-lagi ia hanya bisa mendengus.

 

Gadis bermata coklat itu terlihat senang, tersenyum pada pria kuning kemudian beralih kepada teman di depan mejanya, Yumi. “Yumi~ aku duluan ke kantin ya sama mereka?”

 

Gadis bermata biru safir itu mengangguk, mengacungkan jempolnya lalu menepuk sekilas bahu sahabatnya yang baru saja datang dari luar negeri sejak kepindahannya itu. “Yosh! Kalau begitu aku titip beli jus mangga, ya! Naruto dkk, titip Ai jelek, ya!” ucap Yumi kemudian di akhiri permintaan kepada ketiga pria yang sedari tadi diam itu –lebih tepatnya Gaara dan Sasuke yang diam.

 

Naruto mengangguk-angguk. “Yosh! Serahkan saja pada Gaara!” ucapnya semangat membuat Gaara yang terdiam menahan diri untuk tidak memukul kepala kuning itu. Seakan merasakan hawa tidak enak dari sahabatnya, Naruto tersenyum bodoh seraya menggaruk belakang kepalanya. “Err—maksudku serahkan saja pada kami, hehe~ Lagipula nanti ada Hinata-chan dan Sakura-chan, kok.”

 

Yumi mengangguk-angguk. “Oke deh. Aku ke ruang guru dulu, ya! Biasa ada urusan sama sensei yang suka tersesat di kehidupannya sendiri. Jaa ne~”

 

 

Naruto dan Ai mengangguk, sedangkan Sasuke dan Gaara hanya diam. Lalu kedua lelaki yang terkenal agak dingin itu berjalan lebih dulu meninggalkan Naruto dan siswi pindahan itu menuju kantin.

.

.

.

Di perjalanan ke kantin, keempatnya bertemu dengan Hinata, Hinata terkejut melihat Ai –temannya sejak SD- ada di sekolah yang sama dengannya. Ai Sagara hanya tersenyum, kemudian kembali berjalan ke arah cafeteria bersama ketiga lelaki tadi. Sesekali Naruto di depan mereka menjelaskan tentang seluk-beluk sekolah itu. Ai hanya mengangguk-angguk, dan menikmati pemandangan yang tersuguh di depannya.

 

Tanpa sadar, pandangannya berhenti pada punggung tegap lelaki bertato Ai yang dulu ia kenal sebagai orang yang dingin, namun sangat peduli pada orang yang kesusahan. Dulu, lelaki bernama Gaara itu selalu saja dikerubungi gadis-gadis, entah senior atau junior. Apakah sekarang ini hal yang sama masih berlaku?

 

Siapapun tahu dan akan setuju jika ada yang bilang Gaara itu tampan –walau dia tidak memiliki alis- tapi semua orang tahu, betapa lelaki itu selalu menjadi incaran para gadis.

 

Lamunan Ai terhenti ketika sepasang kaki berhenti di depannya. Dengan cepat ia mendongak dan melihat seseorang bertolak pinggang, Sakura, senpainya waktu di SD maupun SMP dan walaupun mereka seumur, yang merupakan kekasih Sasuke juga.

 

 

“Aiiiiiiiiii~ long time no see~” seru Sakura kemudian memeluk teman lamanya itu. Ketiga lelaki tadi, hanya melirik sekilas kemudian berjalan duluan ke arah kantin.

 

Sebelumnya, Sasuke berbalik berbicara pada kekasihnya. “Sakura, aku duluan.”

 

“Eh?” Sakura buru-buru melihat ke arah kekasihnya kemudian tersenyum, mengangguk juga. “Eum, ne, Sasuke-kun. Nanti aku dan mereka menyusul.”

 

“Hn.”

 

 

Setelahnya, ketiga lelaki itu menghilang di tikungan koridor, menyisakan ketiga gadis yang memulai bernostalgia.

.

.

.

Beberapa menit setelah Sasuke, Gaara dan Naruto sampai, ketiga gadis itu pun memasuki kantin. Gaara yang awalnya belum membeli apapun, bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk membeli jus. Setelah pesanannya selesai, siswi baru itupun mulai memesan. Gaara kembali ke bangkunya, tapi tak lama ia mengernyit mendengar suara gadis itu.

 

 

“Eh? Jus jeruknya habis? Uhm…begitu ya…?”

 

“Iya, nona. Bagaimana jika yang lain?”

 

“Uhm…” Ai berpikir, sambil melihat-lihat buah yang terpajang di dalam etalase kaca di tempat itu. Gaara memerhatikannya dalam diam. Kedua sahabatnya pun melakukan hal yang sama, Sakura dan Hinata yang sedang membeli makanan pun menoleh.

 

 

Setelah beberapa lama berperang batin entah tentang apa, Gaara pun bangkit dari duduknya –lagi- dan menghampiri gadis itu.

 

 

“Ini,” ujarnya seraya menyodorkan jus jeruk yang baru ia beli tadi, belum ia minum sama sekali.

 

 

Gadis bernama lengkap Ai Sagara itu hanya menatap jus yang disodorkan kepadanya dan Gaara bergantian, seolah tidak mengerti apa yang barusan saja diucapkan teman sejak SDnya (walau jarang sekelas dan hanya sekedar kenal) itu. Sedangkan Naruto dan Sasuke hanya diam-diam memerhatikan, namun tatapan mengejek Naruto tampak sangat kentara, seraya sesekali menyenggol lengan Sasuke.

 

 

Teme, aku benar kan? Sebenarnya Gaara itu ada rasa sama Ai-chan,” bisik Naruto yang hanya dibalas tatapan oleh Sasuke yang masih melihat sahabatnya di depan tukang jus di kantin sekolah mereka.

 

Tangan Gaara masih menyodorkan segelas jus itu kepada Ai. “Ambillah. Kau ingin ini, kan?”

 

“E-eh? A-ano…d-daijoubu?” tanya Ai lagi. Namun beberapa saat kemudian ia menggeleng. “Ah, t-tidak usah deh, Sabaku-san. Aku pesan yang—“

 

“Ambil saja—“ kata Gaara seraya meletakkan jus itu di tangan Ai yang tak memegang apa-apa. Kemudian lelaki yang cukup popular di Konoha High School itu beralih, berbicara pada pedagang jus yang sedari tadi memerhatikan mereka. “—aku pesan jus wortel saja. Ini sekalian bayar untuk pesanan gadis ini,” ucap Gaara seraya menyerahkan beberapa lembar uang kepada pedagang itu.

 

Ha’i, Gaara-kun. Bibi akan segera membuatkannya.”

 

“Terima kasih, bibi Kira,” balas Gaara kemudian menunggu wanita paruh baya itu membuatkan jus pesanannya –dan mungkin juga untuk gadis itu.

 

 

Gaara melirik ke arah Ai yang masih terdiam. Ia bisa melihat bahwa tangan itu sedikit bergetar.

 

 

G-gomen…” Gaara sedikit mengernyit ketika mendengar suara gadis itu setelah beberapa saat berlalu.

 

Gaara menoleh tidak mengerti. Ia bisa melihat wajah gadis itu mengeras. “Aku—rasanya sudah merepotkanmu dua kali.”

 

 

Mendengarnya, tanpa sadar Gaara terkekeh kecil membuat Ai mengerjap. Gadis itu mendongakkan kepalanya, melihat bagaimana lelaki itu berdiri dengan kedua tangan di saku celananya. Terlihat keren.

 

Ia juga bisa melihat wajah yang biasanya memasang tampang datar itu terkekeh akibat ucapannya. Sungguh suatu hal yang langka.

 

 

“Kau terlalu serius, Sagara.”

 

“Eh?” Ai Sagara mengerjap, tidak mengerti maksud dari ucapan teman sekelasnya barusan.

 

“Sudahlah lupakan saja. Itu jus pesanan temanmu sudah jadi,” balas Gaara kemudian berbalik, berjalan duluan menuju bangku tadi meninggalkan Ai yang masih terpaku.

 

 

Kenapa dia begitu baik padaku?’

.

.

.

Beberapa waktu berlalu. Ai mulai terbiasa berada di sekolah barunya ini. Terasa menyenangkan bisa bertemu dan sekelas lagi dengan teman-temannya sewaktu di SMP dulu. Ia bahkan tidak menyangka bahwa ia sedikit bisa lebih dekat dengan seorang Sabaku Gaara.

 

Namun dari semua yang terjadi, ia senang bisa kembali bersama dengan teman-temannya itu. Juga bicara soal pendapatnya dulu mengenai cinta? Mungkinkah sekarang sudah berubah? Apa ada yang bisa membuat ketertarikannya tentang segala hal yang berhubungan dengan cinta itu berganti?

 

 

“Ugh,” Ai mengerang tertahan karena harus membawa beberapa buku ke perpustakaan. Ia di minta oleh guru bahasa untuk meletakkan beberapa buku itu ke tempatnya semula. Ai sedikit sulit berjalan karena pandangannya terhalang.

 

 

Mau tak mau ia jalan dengan pelan sambil sesekali mengaduh dalam hati. Ah, andai ada seseorang yang membantunya sekarang.

 

 

‘Buk’

 

 

“Eh?” Ai berhenti dalam sekejap ketika menabrak tubuh lain. Ia hanya bisa melihat sepatunya, karena agak sulit untuknya mendongak. Namun ketika beberapa buku pindah ke tangan lain, ia bisa melihat wajah yang berdiri di depannya. “Sabaku-san?”

 

 

Gaara hanya menatap gadis itu kemudian berbalik seraya membawa hampir tiga perempat dari buku yang dibawa oleh Ai. Melihat itu, Ai dengan cepat mengikuti langkah lelaki tampan berambut merah yang merupakan teman sekelasnya.

 

 

A-ano…aku—“

 

“Ke perpus, kan?”

 

“Eh? I-iya. A-ano…Sabaku-san…aku merepotkanmu lagi. Arigatou, ne?” ujar Ai tulus, ia merasa tidak enak karena selalu merepotkan Gaara.

 

Daijoubu.”

 

 

Dan keduanya pun berjalan pelan menuju perpustakaan. Mengabaikan beberapa tatapan serta bisik-bisik para siswa – siswi di sekolah itu.

.

.

.

Ai pikir, Gaara hanya akan membantunya membawakan buku sampai perpustakaan. Namun kenyataannya, kini lelaki bertato Ai itu justru juga menolongnya meletakkan buku-buku itu pada tempatnya. Sontak, gadis berambut hitam itu dibuat kaget. Segera saja ia langsung menahan Gaara untuk melakukan itu.

 

 

Ano, biar aku saja, Sabaku-san. Kau sudah membantuku membawakannya ke sini. Masa aku merepotkanmu lagi untuk meletakkan—“

 

“Tempatnya tinggi semua. Kau bisa?”

 

“Eh?” Ai tersentak ketika Gaara menunjuk beberapa tempat asli untuk buku yang mereka bawa. Ia sempat tercengang karena ternyata benda-benda kotak itu terletak di tempat yang tinggi. Ai menunduk, hanya bisa memerhatikan Gaara dalam diam menaruh buku itu pada tempatnya.

 

 

G-gomen…lagi-lagi aku merepotkanmu, Sabaku-san,” lirih Ai pada Gaara yang naik ke sebuah tangga dari kayu untuk meletakkan beberapa buku.

 

“Hn. Lupakan saja,” balas Gaara.

 

Ai mengernyit, lelaki itu selalu saja bilang hal yang sama ketika Ai mengucapkan maaf kepadanya. “Mana bisa kulupakan. Kau sudah menolongku terus.”

 

“Hn.”

 

 

‘Brak’

 

 

“Aduh! Pelan-pelan jangan pakai dorong dong! Untung tidak ada buku yang ja—“ suara teriakan itu terhenti ketika melihat justru buku di perpustakan itu bergerak ke belakang, menandakan akan jatuh ke arah yang berlawanan dari tempat di mana sang penabrak berdiri.

 

 

Gaara yang menyadari hal itu langsung turun ketika ada beberapa buku yang sudah meluncur jatuh hampir mengenai kepala Ai. Ia menarik gadis itu agar Ai tidak terkena benda kotak tersebut.

 

Karena sangat terkejut, Ai sampai tidak bisa mencerna apa yang terjadi. Ia tertarik begitu saja ketika tangan Gaara mengambil tangannya dan membawanya jatuh ke depan. Sampai akhirnya ia sadar kalau sekarang di depannya matanya adalah dada bidang lelaki itu.

 

 

Keduanya terdiam, tidak tahu harus bagaimana. Namun akhirnya, sebuah suara membuat keduanya tersadar. “Ah, maaf. Apa kalian terluka? Aku tidak sengaja menabrak rak ini. Gomenasai,” ucap orang itu sambil membungkuk membuat keduanya sadar dan melepas diri.

 

Ai menunduk kemudian menggeleng. “Aaa…tidak apa-apa kok.”

 

“Lain kali hati-hati,” tambah Gaara lalu kembali menyelesaikan pekerjaan tadi ketika mendengar kata ‘iya’ dari orang itu.

 

 

Ai sendiri hanya diam, kembali memerhatikan punggung tegap seseorang yang belakangan ini selalu menolongnya. Dan membuatnya nyaman sekaligus tak enak.

 

 

Arigatou…’

.

.

.

Ai Sagara berjalan pelan dengan jari-jari yang bertaut, saling berkaitan. Pikirannya melayang ke beberapa kejadian yang selalu membawanya berada bersama Gaara, teman SMPnya. Ia tidak tahu kenapa, pasti ada saja sesuatu hal yang seolah menghubungan dirinya dengan lelaki itu.

 

Ia tidak mengerti. Kenapa juga lelaki itu begitu baik padanya? Memang, dia tahu jika Gaara adalah seseorang yang sangat baik, suka menolong walaupun sikapnya begitu dingin. Tapi ia masih tidak mengerti…kenapa…lelaki itu mau repot-repot terus membantunya? Walau mungkin itu memang takdir Kami-sama?

 

Argh! Memikirkannya membuatku gila, pikir Ai, mengacak pelan rambutnya kemudian melihat lurus ke depan, mendapati sahabatnya sejak kecil –Yumi yang berjalan ke arahnya.

 

 

“Yo, nona jelek! Ke kantin, yuk! Kau habis dari perpustakaan, kan?” ajak serta tanya Yumi padanya. Ai hanya mendengus setiap kali Yumi memanggil jelek. Walau sebenarnya ia tahu, ia merupakan cara lain Yumi menyampaikan rasa sayangnya.

 

Ha’i, ha’i. Omong-omong, boleh aku curhat?” balas Ai membuat langkah sahabatnya itu berhenti sejenak.

 

“Hn? Curhat? Tentang siapa? Cowok yaaa?”

 

“Tsk. Iya tapi bukan dalam artian yang kau pikirkan itu.”

 

“Lalu?”

 

Ai menghela napas sejenak. Kemudian melanjutkan pembicaraan mereka. “Ini tentang Sabaku-san…” Tidak menyadari di belakang mereka ada dua orang sahabat Gaara yang mungkin saja bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, kan?

 

“Hah?” Yumi membeo, tetapi berusaha menjadi teman yang baik untuk sahabatnya ini.

 

“Beberapa waktu berlalu, dan aku merasa sudah sering merepotkannya,” mulai Ai bercerita, sambil mereka berjalan ke arah Kantin. Barusan, mendengar marga Gaara disebut, Naruto dan Sasuke tanpa sadar menajamkan pendengarannya.

 

“Kau tahu? Dia selalu saja menolongku. Rasanya tidak enak sekali. Pertama, dia membantuku membereskan barang belanjaanku yang terjatuh di mall, itu juga pertama kali kami bertemu lagi setelah hampir tiga tahun. Kau tahu kami tidak begitu dekat, bukan?”

 

Yumi mengangguk, kemudian menjawab pelan. “Benar juga. Lalu?”

 

“Yang kedua, dia memberikan jus jeruknya dan membayarkan jus itu juga jus pesananmu.”

 

“Eh? Jadi itu—Gaara yang membelikannya?”

 

 

Ai mengangguk pelan. Entah bagaimana, dalam beberapa puluh hari ia kembali menjadi warga Jepang, seolah waktu terus mendekatkannya dengan lelaki itu. Bahkan, mereka duduk berdekatan, kan?

 

 

“Kemudian…dia membantuku membawakan beberapa buku ke perpustakaan. Aku pikir, dia hanya akan membantu membawakannya. Tetapi, dia justru membantuku menaruhnya di tempat buku itu seharusnya ada.”

 

 

Yumi tanpa sadar berpikir keras. Sejak dulu, ia memang tahu Gaara adalah tipikal seseorang yang selalu mengulurkan tangannya. Bukan secara gamblang, tetapi atas kemauannya sendiri. Tapi…kasus sahabatnya ini…kenapa ia merasa ada hal yang aneh? Namun pemikiran itu segera kabur ketika ia mendengar suara Ai lagi. Sedangkan dua orang di belakang mereka hanya mencuri dengar yang tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyum yang hanya mereka yang mengerti.

 

 

“Dan yang terakhir, dia menyelamatkanku dari buku yang terjatuh akibat ditabrak oleh siswa lain. Ketika aku meminta maaf selalu merepotkannya, ia hanya bilang agar aku melupakannya. Ah~ Yumi-chan~ aku harus bagaimana? Aku benar-benar tidak enak selalu membuatnya susah jika di dekatku,” ceritanya kemudian bertanya. Yumi terlihat serius berpikir.

 

Lalu ia merangkul sahabatnya itu. Sedikit menyeringai entah apa yang dipikirkannya. “Hm~ tentu saja dia bilang agar kau melupakannya. Kau meminta maaf terus tanpa mengucapkan terima kasih. Oleh karena itu, bagaimana jika kau mentraktirnya? Pulang sekolah nanti ajaklah dia dan teraktir dia. Apapun.”

 

“Eh?” Ai hanya berusaha untuk mencerna apa yang barusan diucapkan sahabatnya. Dengan di belakang mereka, Naruto maupun Sasuke terlihat menyeringai lalu berhigh five seolah mereka memikirkan hal yang sama.

.

.

.

Ai menunggu dalam diam, ia duduk di atas mejanya sambil sesekali melihat ke arah lapangan di mana orang yang ia tunggu ada di sana. Sabaku Gaara, seseorang yang selalu menolongnya itu kini tengah bermain bola bersama teman-teman serta sahabathya.

 

Ai melirik ke arah meja lelaki itu, di sana masih terdapat tas sekolah milik Gaara. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menunggu Gaara di sini, di kelas mereka.

 

Menunggu dalam kelas yang sudah sangat sepi, dengan cahaya matahari yang perlahan menghilang, Ai hanya bisa menghela napas bosan. Namun kebosanannya itu terbayarkan ketika mendengar suara pintu yang dibuka.

 

 

“Ah, Sabaku-san?” seru Ai senang karena ia tidak sia-sia menunggu lelaki itu. Gaara yang baru masuk ke kelasnya sedikit terkejut mendapati teman depan mejanya masih berada di ruangan itu.

 

“Sagara? Kau masih di sini?” tanya Gaara kemudian, seraya mendekati mejanya yang akhirnya membuat keduanya juga berdekatan.

 

Ai mengangguk, lalu beralih menatap lelaki itu. “Aku ingin mengucapkan terima kasih,” kata gadis itu tulus membuat Gaara langsung menoleh ke arahnya.

 

“Terima kasih? Untuk?” Gaara memicingkan matanya sedikit, tidak mengerti kenapa tiba-tiba gadis ini berterima kasih padanya.

 

Ai mengangguk. “Uhm! Kau selalu menolongku dan mau untuk kurepotkan. Jadi, aku berterima kasih karena itu.” Jelasnya membuat Gaara tersenyum, lalu terkekeh pelan. “Ne? Ada apa?”

 

Gaara kembali tersenyum. “Bukankah sudah kubilang lupakan saja?”

 

Ne? Mana bisa, Sabaku-san! Aku sudah sangat merepotkanmu. Jadi, aku berterima kasih. Ah! Bagaimana kalau kau kutraktir es krim? Hehe~”

 

Gaara tersentak, wajahnya melembut mendengar penuturan gadis itu. “Jaa. Ini sudah sore. Lebih baik kau pulang.”

 

“Eh? Demo—“

 

Jaa, kuantar kau pulang.”

 

“Eh?”

.

.

.

Senja semakin terlihat, matahari hampir terbenam. Keduanya berjalan di bawah langit sore yang tenang. Gaara berjalan di depan gadis itu beberapa meter, sedangkan Ai di belakangnya. Seraya sesekali memerhatikan punggung tegap lelaki itu.

 

Hei, mana tahu jika niatmu yang ingin mentraktirnya sebagai bentuk ucapan terima kasih justru membuatmu berada di jalan pulang dengan dia yang mengantarmu? Sesuatu hal yang di luar pemikiranmu, kan?

 

 

Ne, Sabaku-san? Memangnya rumah kita searah, ya?” tanya Ai setelah sekian lama dalam keheningan. Ia melihat Gaara tidak berniat menjawab sama sekali, membuat bibirnya tanpa sadar mengerucut. Tetapi sedetik kemudian, lelaki itu membuat mata Ai membulat sempurna.

 

“Tidak. Rumahku ada di belokkan awal tadi.”

 

“Eh? Lalu kenapa kau mengantarkanku pulang? Aish! Lebih baik kau—“ ucapan gadis itu terhenti ketika tanpa sadar matanya menangkap sebuah toko es krim yang membuat Ai justru menarik tangan Gaara ke sana. “—temani aku membeli es krim, ya? Ayo~”

 

 

Ai berucap dengan semangat tanpa menyadari ada perubahan pada wajah Gaara. Lelaki itu hanya tidak bisa berpikir apa yang sedang dilakukannya sekarang. Mengantarkan seorang gadis ke rumahnya, dan di tengah jalan ia ditarik ke sebuah kedai es krim yang masih buka.

 

Sungguh hari yang mengejutkan.

 

 

Baachan, es krim strawberrynya satu ya. Sabaku-san kau mau rasa apa?” pesan Ai sekaligus bertanya pada Gaara.

 

“Hn. Capuccino.”

 

Ne, sama capuccinonya satu, ya, baachan.”

 

Ha’i. Tunggu sebentar, ya?”

 

Ne!” setelahnya wanita paruh baya itu membuatkan pesanan keduanya. Seraya menunggu, Gaara mengalihkan pandangannya melihat sekelilingnya, yang tanpa sadar hal itu membuat ia tersenyum.

 

Tak lama, pesanan mereka pun jadi. Ai membayar dua es krim itu. Sambil berkata pada Gaara. “Eits, kau tidak bisa menolak. Ini sebagai tanda terima kasih, oke?”

 

 

Dan untuk pertama kalinya, Gaara merasa gadis itu benar-benar unik.

.

.

.

Dalam diam keduanya berjalan kembali menuju rumah Ai dengan es krim di masing-masing tangan mereka. Ai sesekali berceloteh entah tentang apa saja membuat Gaara lagi-lagi tersenyum. Yang sepertinya senyum itu sudah sangat biasa untuk bisa dilihat oleh Ai.

 

Jadi gadis itu bisa bersikap biasa ketika melihat Gaara tersenyum.

 

Gaara sendiri kemudian hanya memerhatikan bagaimana gadis itu bergerak. Ketika Ai mencoba untuk menaiki sebuah pinggiran yang melingkari pohon. Membuat Gaara segera menolong saat melihat Ai hampir jatuh.

 

Gaara terkekeh ketika Ai sangat menikmati apa yang dilakukannya. Tidak menyadari bahwa hari sudah hampir malam. Keduanya seolah menikmati penutup hari ini. Yah, setidaknya dengan ini, keduanya bisa lebih dekat bukan hanya sekedar mengenal lagi, kan?

 

Dan tanpa sadar, keduanya sudah sampai di depan kediaman Sagara. Ai berhenti lebih dulu kemudian membungkuk dalam. Mengucapkan terima kasih berulang kali karena lelaki itu mau mengantarnya selamat sampai ke rumah.

 

 

“Hn, sama-sama. Dan terima kasih juga untuk es krimnya,” balas Gaara kemudian berbalik. Menuju ke arah tadi untuk kembali ke rumahnya. “Jaa ne. Konbanwa.”

 

Ai mengangguk dalam diam. Lalu berbisik pelan. Entah mengapa ia merasa hatinya menghangat sekarang. “Jaa ne, Sabaku-san.”

.

.

.

Hari demi hari terus berlalu. Musimpun berganti. Siswi baru itu semakin berteman baik dengan yang lainnya. Juga semakin dekat dengan seorang Sabaku Gaara. Bukan hanya sekedar kenal, tetapi tak jarang percakapan terjadi di antara keduanya.

 

Hari itu hari rabu, dan saat itu adalah pelajaran fisika. Ai memandang tak mengerti ke arah papan tulis sambil sesekali menggigiti penanya. Tidak menyadari lelaki di belakang dia kini sesekali terkekeh melihat atau mendengar keluhan frustasi yang keluar dari mulutnya. Dan Gaarapun tidak menyadari jika kedua sahabatnya melakukan hal yang sama, namun yang diperhatikan adalah dirinya. Bukan Ai Sagara.

 

Ai yang sedang berusaha memahami rumus-rumus di papan tulis itu, dikagetkan dengan suara yang tiba-tiba datang dari depan bangkunya. Ia mendengus kesal ketika sahabatnya, Yumi malah mengomentari poninya yang semakin memanjang.

 

 

“Hei, nona. Ponimu yang sudah agak panjang membuatmu tambah jelek tahu.”

 

“Berisik, Yumi. Lihat ke depan sana.”

 

“Hei, bagaimana dengan saranku yang waktu itu? Kau sudah mentraktirnya, kan?”

 

“Hn, sudah. Aish, lihat ke depan, Yumi.”

 

“Iya-iya.”

 

“Dasar cerewet.”

 

“Siapa yang cerewet, Sagara-san?”

 

“Eh?” Ai langsung tersadar ketika Ibiki sensei berdiri di depan seraya berkacak pinggang, sambil menatapnya tajam. Ia mendengus dalam hati, ingin sekali memukul Yumi saat ini. Ia semakin menghela napas ketika Ibiki sensei menyuruhnya maju dan menyelesaikan soal-soal yang tertulis di sana. Seolah-olah, soal-soal itu memanggil dirinya untuk segera diselesaikan.

 

‘Aku bersumpah akan menendangmu nanti, Yumiiiii,’ batinnya berteriak. Segera saja ia maju ke depan sebelum Ibiki sensei kembali memarahinya.

 

 

Ai menatap frustasi soal-soal itu. Bukannya ia bodoh, tapi ia belum begitu menguasainya. Namun ia tidak mau menyerah, ia mengerjakan apa yang sudah ia bisa. Sambil sesekali berkacak pinggang satu tangan, berpikir dengan menelengkan kepalanya.

 

 

“Uhm…” ia menggumam tanpa sadar. Sampai akhirnya terdengar suara kursi yang digeser. Juga suara seseorang.

 

Sensei, biarkan saya membantunya.”

 

“Huh?” lelaki paruh baya itu menghela napas sebelum akhirnya memberikan izin pada Gaara untuk membantu gadis di depan kelas itu mengerjakan soal fisika dengan isyarat gerakan kepala.

 

 

Gaara mengambil sebuah kapur lagi lalu berdiri di belakang Ai. Ia menaruh tangan kirinya di sisi kiri wajah Ai kemudian mendekat untuk mengerjakan soal yang berada di sebelah kanan tangan gadis itu. Gadis bermata coklat itu terkejut ketika mendapati orang lain di dekatnya, dan lagi orang itu kini tengah membantunya mengerjakan soal yang seharusnya ia selesaikan.

 

Ai memutar kepalanya ke samping dengan perlahan, betapa terkejutnya ia ketika dihadapkan pada seseorang yang belakang ini selalu membuatnya merasa hangat atas semua perilakunya. Ai menggenggam erat kapur di tangan kanannya, kemudian melirik sekilas tangan kiri Gaara yang bertopang di papan tulis. Posisi ini…benar-benar berhasil membuat Ai berdebar.

 

 

Ai menoleh lagi ke arah lelaki itu, ketika Gaara sedikit menunduk untuk menyelesaikan satu soal. Ia berbisik pelan. Sangat pelan hampri seperti bisikan. “Arigatou…”

 

Gaara yang mendengar suara dari teman sekelasnya itu menatap tak percaya Ai yang justru bergetar pelan. Lalu tersenyum kecil membuat gadis itu semakin menengang. Lelaki itupun tak menjawab ucapan terima kasihnya. Sampai semua soal sudah dikerjakan, Ai hanya bisa terpaku tanpa berucap apapun.

 

Ia…merasa kini dunianya diputar balik. Entah apa…tapi jantungnya benar-benar berdetak sangat cepat. Apalagi ketika melihat Gaara tersenyum.

 

Sungguh sangat mendebarkan hati.

.

.

.

Bel istirahat berbunyi, Ai masih duduk di bangkunya seraya menyalin catatan fisika tadi. Ia mengutuki dirinya yang begitu lalai. Sampai tidak bisa menahan emosinya dan berucap agak kencang ketika menyebut sahabatnya cerewet. Di akhiri ia yang mengerjakan soal dan kembali dibantu oleh Gaara.

 

Ketika Yumi mengajaknya ke kantin, Ai meminta Yumi untuk duluan karena ia harus menyalin catatan itu. Kelas juga agak sepi karena semuanya keluar. Meninggalkan dia yang masih terfokus pada bukunya. Dan ketika selesai, ia justru kembali mengingat perkataan Yumi mengenai poninya. Segera saja gadis berambut hitam panjang itu mengeluarkan kaca dan melihat wajahnya dengan poninya yang hampir menutupi mata itu.

 

Sedangkan Gaara sendiri sudah akan menuju kantin, namun tersadar jika ada yang tertinggal, maka ia menyuruh sahabatnya untuk pergi ke sana lebih dulu. Karena dia ingin mengambil barang yang tertinggal itu. Sampai di pintu kelas, ia sedikit terkejut saat melihat gadis yang ditolongnya tadi sangat sibuk dengan kaca dan poninya.

 

Gaara terkekeh kecil melihat bagaimana gadis itu sesekali menampilkan sebuah ekspresi yang lucu. Dan Ai sendiri di dalam kelas tidak menyadari jika sedari tadi kelakukannya diperhatikan oleh lelaki yang mungkin diam-diam mulai dia sukai, namun ia belum yakin. Sampai akhirnya Gaara membuka pintu kelas membuat Ai tersentak, dan segera bangun dari duduknya.

 

 

“Ah, Sabaku-san?” Ai berdiri gugup entah mengapa. Ia membayangkan jika lelaki itu melihat kelakuannya barusan sampai menyenggol pensilnya hingga terjatuh.

 

Gaara yang melihat itu tersenyum lalu berjalan ke arah Ai, memungut pensil milik Gadis itu dan meletakannya di meja Ai. “Ada apa dengan ponimu? Sepertinya sedari tadi kau bermasalah dengan itu?”

 

Napas Ai seolah berhenti. Ia merutuki dirinya sendiri. Dengan cepat ia menggeleng. “Ah, t-tidak kok. Hehe,” Ai merasa begitu gugup sekarang.

 

Gaara memerhatikan tingkah gadis itu, dan kembali tersenyum melihat wajah gugup Ai. Setelah mengambil barang miliknya, ia kembali menuju pintu. Sedangkan Ai hanya diam di tempatnya. Sampai akhirnya Gaara berhenti berjalan dan berbalik ke arahnya. “Kau tidak ke kantin?”

 

“Eh? A-aku—“

 

“Ayo,” ajak Gaara dengan gerakan kepala. Membuat Ai sontak terkejut kemudian segera membereskan mejanya dan berjalan mendekati teman sekelasnya itu. Mengikuti langkah besar itu pelan dari belakang.

 

 

Dan menyadari bagaimana lelaki itu selalu bisa mengambil alih atensinya dari segala hal di dunia. Untuk pertama kalinya…ia merasa hal tentang rasa suka itu begitu menarik. Entahlah. Ia bahkan tidak mengerti lagi. Apa…yang kini dirasakannya.

.

.

.

Waktu berjalan begitu cepat. Ujian kenaikan kelas sudah berada di depan mata. Yumi melihat sahabatnya yang akhir-akhir ini sangat berbeda. Yah, apalagi Gaara teman sekelas mereka sejak SMP itu juga agak aneh. Menurutnya, sih.

 

Tapi ia tidak tahu bahwa Ai dan Gaara bisa sedekat itu. Mereka bahkan lebih sering mengobrol. Oh, bukannya bagaimana. Sebenarnya Yumi sangat senang, dan ia sempat berprasangka jika sahabatnya itu menyukai Gaara. Yeah, dari cara bagaimana Ai selalu bercerita tentang classmate mereka itu sudah sangat membuat Yumi yakin, gadis yang dikenalnya sejak TK itu memang menaruh hati pada seorang Sabaku Gaara.

 

Gadis bernama lengkap Fujimoto Yumi itu bersyukur, ada seseorang yang bisa membuat seorang Ai Sagara tertarik tentang hal mengenai cinta. Yeah, walau orang itu adalah Gaara, seseorang yang dikenal sebagai pribadi dingin namun memilik tangan yang selalu terulur untuk siapa saja.

 

 

“Oi, Yumi-chan,” Yumi tersadar ketika mendengar suara Naruto. Ia mengernyitkan alis seolah bertanya ada apa. Namun kemudian lelaki itu hanya menarik tangannya meninggalkan Gaara dan Ai tanpa ada siapapun lagi di sana. Saat itu ujian hari kedua sudah selesai, jadi mereka bebas melakukan apa saja setelahnya.

 

“Aneh,” gumam Gaara kemudian mengambil tasnya, berniat meninggalkan kelas namun sebelumnya berbalik, bertanya pada Ai. “Kau tidak pulang?”

 

“Ah? Ne, aku akan segera pulang.”

 

“Hn. Kalau begitu aku duluan.”

 

Ha’i.”

.

.

.

Entah darimana datangnya sebuah rumor yang mengatakan jika Naruto menyukai seorang Ai Sagara. Semua orang tahu jika lelaki berambut kuning itu adalah kekasih Hinata Hyuuga dari kelas sebelah. Gaara hanya mengernyit tidak percaya kalau akhirnya—hubungan keduanya harus berakhir hanya karena Naruto menyukai orang lain.

 

Tunggu? Kenapa ia harus repot-repot memikirkan hal ini? Tapi…ia tidak bisa membohongi perasaannya yang entah mengapa terasa gelisah. Hei, bukankah Naruto selalu saja mengira dirinyalah yang menyukai Sagara? Namun kenapa sekarang…?

 

 

“Tsk,” decihnya tidak percaya pada apa yang ia khawatirkan dalam hati. Ia bahkan tidak mengerti kenapa hatinya benar-benar gelisah. Tapi bukankah seorang Gaara sangat tahu jika Naruto hanya menyukai Hinata? Lalu apa yang sekarang ia pikirkan?

 

 

Beberapa bulan berada sangat dekat dengan gadis itu membuatnya menyadari sesuatu. Entah perasaan itu sudah ada sejak dulu atau memang Gaara baru merasakannya akhir-akhir ini. Gadis unik yang selalu berhasil membuatnya menjadi orang lain. Oh, rasanya Gaara tidak rela jika Naruto yang akhirnya memenangkan gadis itu. Benarkah?

 

Entah karena gossip itu atau apa. Sekarang Gaara seolah menghindari Ai, bahkan sahabatnya, Naruto. Ia juga tidak mengerti mengapa setiap kali ia melihat keduanya ia merasa marah. Ada sesuatu di dalam dirinya yang membuat ia bertindak seperti itu. Ah. Tolong siapapun jelaskan pada Gaara bahwa bukankah itu artinya dia cemburu?

 

Tapi sikap Gaara yang seperti ini membuat Naruto tersenyum puas, Sasuke juga menyeringai. Sepertinya mereka berhasil membuat sahabat tersayang mereka menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.

 

Ai mendengar sendiri tentang rumor itu. Tapi ia tidak percaya. Ia yakin Naruto tidak mungkin menyukainya. Ia sangat yakin bahwa itu hanya rumor aneh yang tiba-tiba menyebar. Dan Ai yang belakangan ini didiamkan oleh Gaara merasa tidak terima. Apa salahnya? Kenapa Gaara selalu berusaha untuk menghindarinya? Apa dia berbuat sesuatu yang membuat lelaki itu marah?

 

Naruto meyakinkan Ai untuk tidak percaya dengan rumor itu. Ai pun mempercayakan hal itu kepada Naruto. Dan yang harus ia selesaikan sekarang adalah masalah dengan Gaara, mereka tidak bisa berdiam diri terus seperti ini. Tanpa ada kejelasan sama sekali.

 

Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi. Naruto dan Sasuke keluar lebih dulu setelah mengucapkan salam kepala Ai maupun Gaara, dengan cirinya khas mereka. Yumi, sahabat Ai pun sudah keluar sejak tadi. Dan sekarang hanya tinggal mereka berdua.

 

Ai berdiri dari duduknya dan melihat Gaara yang hampir beranjak keluar melalui pintu belakang, namun ia segera menahan lengan itu agar Gaara tidak pergi.

 

 

“Sabaku-san—“

 

 

‘Sret’

 

Tanpa sadar Gaara menepis lengan itu. Namun Ai segera kembali menangkapnya.

 

 

“Sabaku-san.”

 

 

Gaara tersadar, langkahnya terhenti. Ia baru menyadari bahwa barusan ia pasti sudah menyakiti gadis itu atas penolakan yang ia lakukan. Gaara berbalik sedikit, melihat pemilik tangan yang gemetar memegang lengannya. Gaara menatap heran karena gadis berambut hitam itu terus menunduk.

 

 

“Sagara—“

 

G-gomenasai,” lirih Ai membuat wajah Gaara menegang. Entah mengapa hatinya kalut. Ia menerka-nerka mengapa Ai meminta maaf padanya. Apa karena ia juga mau mengakui bahwa ia menyukai Naruto? “Gomenasai…a-aku…”

 

“Untuk apa?” tanyanya terdengar sangat datar dan dingin di telinga Ai. Ai hampir menangis namun ia menahannya.

 

“Apa aku punya salah padamu? K-kenapa…kau terkesan menghindariku?”

 

“…” Mata Gaara membulat. Ia tidak tahu jika Ai menyadari sikapnya yang berubah. Ia menghela napas kemudian menatap langit senja yang perlahan menjadi jingga. “Maaf jika itu menyakitimu.”

 

“Tapi…kenapa?”

 

“Entahlah,” balas Gaara singkat tanpa melihat ke arah Ai.

 

“Sabaku-san. A-aku…” Ai menelan ludahnya berat, merasa ia harus segera menyelesaikan ini. “…aku tidak pernah menyukai Naruto dan juga Naruto—“

 

Ucapan Ai terhenti ketika Gaara tiba-tiba terkekeh pelan. “Dia sudah sering memberitahuku. Lalu?”

 

Mata Ai membulat tanpa sadar. Namun kemudian kembali redup. Ai memejamkan matanya erat. “W-watashi…”

 

 

Gaara menunggu gadis itu berbicara. Ia tidak tahu apa yang akan gadis itu katakan. Ia bahkan tidak pernah berpikir untuk menjelaskan tentang perasaannya sejak mengenal gadis itu dulu di bangku SMP (atau sejak SD). Ia benar-benar tidak mengerti. Ia…tidak paham tentang rasa seperti ini.

 

 

“—anata ga…d-daisuki…”

 

 

‘DEG’

 

 

Lamunan Gaara langsung buyar ketika mendengar kalimat gadis itu. Ia langsung menatap ke arah Ai yang masih menunduk. Namun kemudian melihat ke arah matanya hazelnya. Gadis ini…

 

 

“Hiks…s-suki desu…”

 

 

Mata Gaara semakin membulat. Tanpa sadar tangannya bergerak, melepas genggaman erat kedua tangan Ai dan menarik gadis itu ke pelukannya. Memeluknya erat seolah gadis itu akan hilang jika ia melepasnya.

 

Gaara tersenyum dalam rengkuhannya. Menghirup wangi yang menguar dari gadis itu. “Ore mou…anata ga daisuki, Sagara.”

 

 

Dan sekarang Gaara semakin tersadar, jika tubuh dalam pelukannya itu semakin bergetar. Namun sosok gadis bernama Ai itu semakin melesakkan dirinya di dalam rengkuhan hangat Gaara.

 

 

Daisuki…kumohon jangan menghindariku lagi…”

 

“…maaf.”

 

“Hiks…”

 

 

Beberapa menit berlalu sampai akhirnya Ai melepas pelukan itu. Ia menaruh kedua tangannya di kedua sisi dahinya. Tersenyum sambil menangis, membuat Gaara terpaku…namun ia juga tersenyum lembut.

 

 

“Ai…”

 

Ai seolah tersenyum bahagia. “A-aku…sangat senang. A-arigatou…”

 

 

Dan kekehanpun tak lepas dari mulut Gaara membuat senyum Ai semakin melebar. Yah siapa yang tahu jika sebenarnya dalam diam mereka bisa terhubung. Ketidaktertarikan justru membawa kita pada sesuatu yang membuat kita mengagumi hal itu.

 

Siapa sangka juga mereka tidak menyadari jika di luar pintu kelas beberapa teman mereka berhigh five karena rencana mereka berhasil. Yumi sempat memekik saat mengetahui sebenarnya dua sahabat Gaara itu tahu jika keduanya saling suka. Tapi yah, akhirnya mereka bisa bersama. Mau bagaimana lagi?

 

Cinta itu tidak bisa ditebak kan?

 

Karena cinta memiliki cara sendiri untuk muncul ke permukaan.

.

.

.

Omake

.

.

.

“Aku tidak mau tau, pokoknya aku minta peje, okay, Ai jelek?”

 

“Berisik, Yumi.”

 

“Biarkan saja.”

 

“Ya kan, Gaara? Kantin menanti kami, loh~” bisik Yumi agak kencang ke arah belakang Ai, sahabatnya.

 

 

Gaara hanya mendengus kemudian mengalihkan pandangannya. Namun siapa sangka justru wajah Narutolah yang juga menghantuinya. Sampai tanpa sadar ia bergumam kencang.

 

 

“Berisik.”

 

 

Dan juga diikuti bisikan anak sekelas mereka tentang kabar bahwa Gaara juga Ai sudah jadian. Sensei di kelas itupun menghela napas. Ia menggeram berbalik ke arah anak muridnya. Menggebrak meja, siap menyemprot mereka semua di kelas itu.

 

 

“Kalian semua! Jika masih berisik akan kuhukum!” omel Kakashi sensei pada semua anak kelas. Namun—“By the way, selamat ya, Sabaku, Sagara.”

 

 

‘Buk’

 

Oh! Gaara maupun Ai merasa ada puluhan ribu buku dengan berat berpuluh-puluh ton menghantam kepada keduanya. Yeah, ingatkan mereka untuk segera menenggelamkan diri ke lubang terdekat di sana.

.

.

.

Owari

.

.

.

Note : Huahahaha utang gue lunas, ye? Gimana menurut lu, kak?

Gue baik banget kan bikin lu sama Gaara jadian? Oh iya dong pastinya. Wkwk

Btw komen yak?

 

Signed,

Istrinya Changmin

One thought on “Connected

  1. Ping-balik: Teasing and Dating ~Extra Story of Connected | My Life, My Sorrow

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s