LDR ~Chapter 3


I won’t let the distance win.

.

.

.

LDR

1010680_284050965052727_1379790173_n

I own nothing except the story

KyuMin belongs to each other

Super Junior is belong to God and themselves

Genderswicth fanfiction. Bahasa non-baku di saat tertentu.

Be easy on me^^

DLDR okay? Give me concrit after reading~

EnJOY~

.

.

.

Kyuhyun membuka matanya. Tubuhnya agak lelah, kepalanya juga sedikit pusing. Namun kemudian ia bangkit dari tidurannya dan mengambil ponsel yang terletak di meja nakas di samping tempat tidurnya.

 

Sebelumnya ia melirik ke arah jam dinding. Pukul 10 malam. Tanpa sadar ia tertidur setelah menerima panggilan dari ibunya yang berujung—ia menangis.

 

 

“Hah,” Kyuhyun menghela napas kemudian mengecek ponselnya.

 

 

‘DEG’

 

Ia tidak bisa menahan rasa sesak itu sampai Kyuhyun harus menggenggam erat alat elektronik miliknya ketika melihat banyak panggilan serta sms dari sang kekasih –Sungmin.

 

 

“Minnie…maaf aku ga denger panggilan dari kamu…” bisik Kyuhyun merasa bersalah. Ia kemudian bangun dari kasurnya menuju meja belajar, membuka laptopnya dan membuka facebook. Sebelumnya, ia mengirim pesan kepada Sungmin agar kekasihnya itu juga ikut online di akun facebook miliknya.

 

 

To : My dearest

Subject : Miss you too:*

Kamu ada guru? Kalau ga ada on facebook ya, sayang. Kita video chat, okay?

Miss you too:*

.

.

.

Sungmin menghela napas menatap Mr. Jang dengan pandangan malas. Ia merasa pelajaran ini sungguh sangat membosankan. Sungmin merenung, pikiriannya melayang pada Kyuhyun yang sampai sekarang masih belum membalas pesan atau menelponnya balik.

 

Mungkin…Kyuhyun sangat sibuk sekarang sehingga belum sempat menghubunginya. Lagipula, di tempat Kyuhyun sekarang itu hampir tengah malam, wajar kan kalau Kyuhyun mungkin juga tertidur?

 

Sungmin menopang malas dagunya kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela. Mengabaikan penjelasan Mr. Jang mengenai segala hal tentang sejarah Negaranya, walau itu penting diketahui, namun perlu ditekankan bahwa kini Sungmin dilanda kebosanan.

 

Benar kan?

 

 

Drrtt—drrtt…

 

 

Suara getaran membuat Sungmin melongok ke arah laci mejanya. iPhonenya bergetar, menandakan ada email masuk. Akankah itu email balasan dari Kyuhyun?

 

Sungmin yang merasa senang mengabaikan fakta bahwa kini dirinya tengah berada di dalam kelas, mengikuti pelajaran sejarah dengan guru killer dan siap menghukummu—itu langsung mengambil ponselnya dan membuka email itu.

 

Senyuman hadir di bibirnya, tidak menyadari bahwa sahabatnya, Hyukjae, sudah berulang kali memanggilnya, berusaha memberi sinyal bahwa kini Mr. Jang tengah berjalan ke arahnya. Yang memang sedari tadi namja paruh baya itu sudah memperhatikan Sungmin yang terus melamun selama pelajarannya. Sampai akhirnya, suara yang sangat Sungmin kenali menyapa pendengarnnya.

 

 

“Lee Sungmin, pulang sekolah temui saya di ruang guru,” ujar Mr. Jang tegas kemudian mengambil ponsel yang ada di tangan Sungmin.

 

Gadis bermata foxy coklat itu membulat sedikit. Ia belum sempat membaca email masuk dari kekasihnya itu dan akhirnya nyalinya menyicit ketika mendapati Mr. Jang tengah memelototinya. Dengan lirih, akhirnya ia hanya bisa mengiyakan. “B-baik, Mr. Jang.”

 

 

Dan setelah itu, dalam hati ia menyesal karena lebih memilih egonya daripada kenyataan yang ada di depan matanya.

.

.

.

Kyuhyun terus memandang layar laptopnya, mengecek lagi chat-list kali saja ada nama kekasihnya, Lee Sungmin di dalam sana. Namun kekecewaan harus ia dapatkan karena nama gadis cantik yang sudah berhasil mengambil hatinya dari dulu itu tak kunjung muncul.

 

Kyuhyun melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11:30pm. Ia menghela napas berat, berharap Sungmin tidak apa-apa. Atau mungkin saja kekasihnya sedang ada pelajaran sehingga belum bisa membaca emailnya. Mungkin saja kan?

 

Sambil menunggu kekasihnya online, akhirnya Kyuhyun memilih berkutik dengan beberapa tugas yang belum ia selesaikan. Hitung-hitung membunuh waktu, kan?

.

.

.

Sungmin berjalan lemas keluar dari ruang guru. Hyukjae yang melihat itu langsung menghampiri sahabatnya kemudian merangkulnya.

 

 

“Minnie, gwenchana? Apa kata Mr. Jang?” tanya Hyukjae kemudian membuat Sungmin cemberut.

 

“Ponselku disita sampai hari Jum’at nanti~” lirih Sungmin seraya berjalan lebih dulu, meninggalkan Hyukjae di belakang yang terpaku.

 

‘Hhh~ dasar Mr. Jang sadis. Gatau apa kalau anak muridnya itu lagi ngejalanin LDR? Kalau ga ada ponsel gimana mereka bisa saling ngehubungin? Hhh~’ batin Eunhyuk kemudian menyusul Sungmin yang sudah agak jauh darinya.

 

Ia langsung merangkul sahabatnya. “Minnie ke café es krim, yuk?” ajak Hyukjae semangat.

 

Sungmin menoleh malas. “Ga mau ah, Hyukkie. Aku mau pulang aja.” Balas Sungmin.

 

“Ayolah Minnieeee~ Aku yang terakhir deh, mau yaaa?” Hyukjae memohon, biasanya Sungmin tidak bisa menolaknya.

 

“Iya deh,” ujar Sungmin pasrah. Pasalnya ia memang tidak akan bisa menolak Hyukjae yang sudah memohon.

 

“Kalau begitu kajjaaaa!”

 

“Hhhh~” dan Sungmin hanya bisa mengikuti langkah kaki sahabatnya itu menuju café langganan mereka. Mengabaikan bahwa hatinya ini tengah gelisah. Apakah pesan yang Kyuhyun kirimkan kepadanya? Ia benar-benar penasaran. Kenapa dia tidak menunggu sampai pelajaran Mr. Jang selesai baru membuka email itu?

 

 

Benar juga. Seharusnya ia bisa bersabar, kan?

 

 

‘Aish. Sudahlah. Ini sudah terjadi juga. Huweee umma T_T’ batin Sungmin menjerit. Ia hanya bisa berharap Mr. Jang berbaik hati dengan mengembalikan ponselnya secepatnya.

.

.

.

Hyukjae memperhatikan sahabatnya dalam diam seraya sesekali menyantap es krim strawberry di depannya. Sungmin terlihat gelisah sekali. Hyukjae berpikir apakah sebelum ponsel Sungmin diambil oleh Mr. Jang, Sungmin mendapat pesan dari Kyuhyun namun ia belum sempat membacanya?

 

Apa mungkin karena itu?

 

Hyukjae melirik jam tangannya, sekarang sudah menunjukkan pukul empat lewat seperempat sore. Senja semakin terlihat. Sekali lagi, Hyukjae melihat ke arah sahabatnya yang terus menghela napas berat, hanya mengaduk-aduk es krimnya tanpa dimakan.

 

Akhirnya, Hyukjae mengambil ponselnya, mencari kontak seseorang kemudian menekan tombol call. Setelah mendengar nada sambung, Hyukjae menyerahkan ponsel itu ke arah sahabatnya.

 

 

“Ini,” ujarnya sambil tersenyum tulus membuat Sungmin mengernyitkan alisnya.

 

Gadis bermata foxy itu menelengkan kepala tidak mengerti. Sampai mendengar suara yang sangat dikenalinya. Ia pun menggumam lirih. “H-hyukkie…”

.

.

.

Kyuhyun menatap aneh ke arah ponselnya. Baru saja ia mengangkat panggilan dari sahabat Sungmin –Hyukjae yang merupakan sahabatnya juga. Ia berpikir apakah Hyukjae sedang mengerjainya?

 

 

Ya, Eunhyuk-ah. Ada apa?” ujar Kyuhyun lagi namun tetap tidak ada jawaban. Sampai akhirnya, suara yang begitu ia kenali dan ia rindukan terdengar.

 

‘K-kyunnie…?’

 

 

‘DEG’

 

Seketika, jantung Kyuhyun berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya.

 

 

“M-minnie…?”

.

.

.

Sungmin hampir menangis mendengar suara itu. Namun cepat-cepat ia menghapusnya, menggelengkan kepalanya dan menatap Hyukjae penuh rasa terima kasih.

 

 

“K-kyunnie…apa kabar?” lirihnya berusaha ceria. Walaupun ia begiu sesak karena merasa begitu merindukan kekasih tampannya di negeri sana. Walau mereka kadang berteleponan, bukan berarti mereka tidak terus saling merindukan, kan?

 

Sungmin bisa mendengar suara itu terdengar begitu berat. Dan juga lembut. ‘Hei, aku baik. Bagaimana denganmu? Sudah makan, kan?’

 

Sungmin tersenyum, Hyukjae di depannya hanya memperhatikan sahabatnya, tak ayal lengkungan tipis di bibirnya juga terlihat. “Minnie…kangen banget sama Kyunnie. Hihi~ tadi sudah makan, kok. Ini sedang makan es krim bersama Hyukkie.”

 

Jinjja? Ne, Ming…email Kyunnie tadi—‘

 

“Ah, ne. Mianhe, ne, Kyu. Minnie belum sempat baca. Tadi ketahuan Mr. Jang jadi ponsel Minnie diambil, deh. Hehehe,” adu Sungmin pada Kyuhyun membuat namja tampan di negeri sana tersentak.

 

Seharusnya kalau sedang belajar, jangan pedulikan. Kyu bisa nunggu, kok. Lalu…apa sekarang Minnie bisa online facebook? Kita video chat, mau? Kyu…juga sangat merindukan Minnie~’ tawar Kyuhyun kemudian, dan berhasil membuat wajah Sungmin memerah.

 

“Eum…etto~ Minnie masih di café, nanti kalau sudah sampai rumah Minnie langsung online, deh. Tidak apa-apa, kan?” balas Sungmin pelan. Dan ia bisa mendengar suara kekehan Kyuhyun.

 

‘Tentu saja tidak apa-apa. By the way, Kyu minta maaf karena tidak membalas sms atau mengangkat telepon Minnie sebelumnya. Kyu ketiduran.’

 

Tanpa sadar Sungmin menggeleng. “A-anni. Seharusnya Kyu juga tidur saja sekarang. Bukankah di sana masih dini hari?”

 

Gwenchana. Kyu…hanya tidak ingin membiarkan jarak menang di antara kita dan menghalangi kerinduan kita,’ balas Kyuhyun lagi. Berhasil membuat Sungmin berdebar keras.

 

“Uhm…K-kyunnie g-gombal…” cicit Sungmin memerah, Hyukjae di depannya sudah tertawa. “…aaa—kalau begitu Minnie tutup, ya? Nanti k-kita sambung lewat video chat?”

 

‘Hm, arraseo. Kyu tunggu ya cantik. Selamat bersenang-senang dulu. Love youuu~ miss you too~’ ujar Kyuhyun kemudian diiringi suara kecupan membuat Sungmin lagi-lagi memerah.

 

“I-iya. S-sampai nanti,” balasnya kemudian menutup sambungan. Lalu Sungmin pun berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdebar tidak karuan. Ia pun mengembalikan ponsel itu ke Hyukjae yang duduk di depannya.

 

Gomawo, ne, Hyukkie~” ucap Sungmin tulus.

 

Hyukjae hanya tersenyum tipis dan mengangkat bahunya. “Sahabat itu mengerti apa yang tidak diucapkan, memahami apa yang tidak ditunjukkan.”

 

“Uhm…?” Sungmin terkesiap. Namun kemudian tersenyum. “…gomawo~ sudah menjadi sahabat terbaik Minnie selama ini.”

 

Who knows tentang kita akan jadi apa lima tahun ke depan. Ya kan?”

 

“Uhm! Tapi kuharap, Hyukkie tetap jadi sahabat Minnie!”

 

“Ckckck. Itu sudah pasti, Minnie sayang~”

 

“Hehehe~ jaa~ bagaimana kalau setelah ini kita pulang?” ajak Sungmin kemudian. Hyukjae mengangguk mengiyakan, lalu membayar tagihan es krim mereka.

 

“Nah! Waktunya pulang. By the way,  aku boleh main, kan?” balas Hyukjae membuat Sungmin menatapnya. “Kenapa? Tidak boleh karena aku mau bervideo chat ria dengan Kyuhyun?”

 

Mendengar ucapan sahabatnya, dengan cepat Sungmin menggeleng. “Anniyo~ bukan itu. Tapi apa tidak apa-apa? Aku kan—“

 

Hyukjae menepuk bahu Sungmin pelan, menatapnya serius. “Tenang saja. Kita ini sahabat, kan?”

 

Dan seketika—segala kekhawatiran Sungmin pun memudar. Ia begitu menyukai takdir yang memberikannya seorang sahabat seperti Hyukjae. “Uhm…kita sahabat!”

 

 

Detik setelahnya, dua sahabat itu berjalan di bawah langit senja. Bersamaan dengan hembusan angin kebahagiaan yang menyapa mereka.

 

 

‘Hah~ semoga semua hari cepat berakhir, Minnie. Supaya kamu sama Kyuhyun bisa selalu bersama…’

.

.

.

Sungmin berjalan di belakang Hyukjae menuju kamarnya dengan senampan cemilan dan minuman untuk mereka. Setelah sampai, Sungmin menaruh nampan itu di atas meja di dekat meja riasnya, kemudian ia berlalu meletakkan tasnya, mengganti bajunya dan berlalu ke kamar mandi untuk sekedar membasuh muka.

 

Hyukjae hanya duduk tenang di atas ranjang Sungmin dengan beberapa buah novel yang sudah siap ia baca. Ia melihat sahabatnya sudah bersiap duduk di depan laptop untuk melakukan video chat dengan kekasihnya yang merupakan sahabatnya juga.

 

Hyukjae terkekeh pelan. Yah, setidaknya jika Sungmin senang, ia juga senang. Dan untuk sekarang ini, ia hanya bisa memperhatikan sambil menunggu sahabatnya itu selesai.

.

.

.

Welcome to Facebook

 

Email              : sungminlee@hotmail.com

Password        : ****************

 

 

Home

 

Update Status – News Feed – Top News – Most Recent

What’s on your mind

 

 

Setelah masuk ke dalam akunnya, Sungmin langsung membuka chat-list dan mencari nama Kyuhyun. Ketika menemukannya, segara saja ia mengechat kekasihnya itu.

 

 

Sungmin Lee              : Kyunnie~

 

Kyuhyun Cho            : Hei, manis~

 

 

Sungmin hanya tersenyum, lalu mengklik gambar video di kotak chat. Tak lama, muncul kotak yang yang di sudut kanan bawahnya ada gambar dirinya, setelah itu, munculnya wajah Kyuhyun di layar laptopnya.

 

Sontak Sungmin memerah melihat wajah Kyuhyun yang sedang tersenyum. Ia mengambil apa saja yang ada di meja belajarnya untuk menutup wajahnya yang merona. Bisa ia dengar kekehan suara Kyuhyun di seberang sana, membuat Sungmin tanpa sadar cemberut dibalik sesuatu yang ia pegang.

 

 

Ya! Jangan tertawa, Kyu~” parau Sungmin. Ia memandang malu-malu ke arah laptopnya.

 

Kyuhyun menghentikan tawanya dan tersenyum lembut. Arra. Aku sudah diam, kan? Hei~ singkirkan buku itu dari wajahmu,” Sungmin bisa mendengar Kyuhyun menyuruhnya begitu.

 

 

Walau berat karena masih berusaha menutupi rona merah di pipinya, Sungmin tetap melakukan permintaan Kyuhyun. Dan selanjutnya, suara kekehan kembali ia dengar.

 

 

“Minnie~ kamu kayak ngeliat siapa aja sampai merona begitu.”

 

“Ish! Siapa suruh senyum-senyum, begitu?” balas Sungmin merajuk.

 

 

Kyuhyun di negeri sana hanya menatap layarnya dengan pandangan lembut luar biasa yang membuat Sungmin di tempatnya seraya melayang.

 

 

“Minnie~ aku senyum karena senang bisa ngelihat wajah cantik kamu sekarang.”

 

“Berhenti, Kyu. Jangan ngegombal.”

 

“Tidak juga. Karena aku memang sangat merindukanmu.”

 

“Ugh…dasar. Nado…nado bogoshipda, Kyu~” lirih Sungmin dengan mata berkaca-kaca. Melihat itu, berhasil membuat Kyuhyun mengacak rambutnya.

 

“Hei, hei. Jangan menangis, cantik,” ucapnya terdengar begitu lembut di telinga Sungmin, bahkan Hyukjae bisa mendengar suara itu begitu tulus.

 

“Aku tidak menangis.”

 

“Kalau begitu tersenyum untukku?” pinta Kyuhyun seraya terus memperhatikan wajah cantik kekasihnya.

 

 

Mau tidak mau, Sungmin tersenyum manis membuat Kyuhyun seraya meleleh. Mata foxy Sungmin bisa melihat Kyuhyun memandangnya penuh binar cahaya.

 

 

“Kamu…memang bidadari paling cantik, Ming…” gumam Kyuhyun yang masih bisa didengar oleh Sungmin. Wajah Sungmin benar-benar merona sempurna.

 

“Gombal…” cicit Sungmin seraya menangkupkan wajahnya di atas meja belajarnya. Ia mendengar kekehan Kyuhyun.

 

“Kamu memang cantik. Aku tidak salah memilihmu, kan?”

 

“Huh? Kau mengklaimku bukan memilihku, Kyu.”

 

“Tapi kamu senang, kan?”

 

“Ish. Menyebalkan sekali.”

 

“Hahaha…”

 

 

Dan selanjutnya, banyak kalimat yang terlontar, banyak cerita yang disampaikan. Hyukjae sedari tadi memang tenang di atas tempat tidur Sungmin. Tidak peduli sampai jam berapa ia di sini. Toh, ia bisa menginap, kemudian meminjam seragam Sungmin. Atau ia bisa pulang ke rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari rumah sahabatnya.

 

Ia hanya bisa mendengarnya ketika bagaimana pasangan itu melepas rindu satu sama lain. Tidak mempedulikan jarak yang ada di antara mereka. Mereka tetap seberusaha untuk menghapusnya. Mereka tidak membiarkan jarak menang dan membiarkan kerinduan menyiksa mereka.

 

Hyukjae juga melihat bagaimana mereka saling merentangkan tangan, seolah saling memeluk. Rasanya Hyukjae ingin memaki entah siapa atas apa yang terjadi pada kedua sahabatnya. Kenapa mereka berdua harus menjalani hubungan seperti ini?

 

Yang sudah jelas dan sangat pasti, orang lain tidak akan bisa melakukan hal yang mereka lakukan, bersikap seperti mereka yang menganggap hubungan ini sama seperti hubungan yang lainnya.

 

Dan kalau itu adalah dia, Hyukjae bisa memastikan, dia bukanlah tipikal orang yang mau menunggu seperti itu. Tetapi sahabatnya, Sungmin maupun Kyuhyun—mereka adalah satu kesatuan yang tidak bisa ditebak. Sulit dipisahkan. Yah karena memang kenyataannya, mereka memiliki apa yang orang lain tidak miliki.

 

Juga ketika suara burung hantu terdengar, Hyukjae bisa mendengar mereka saling mengucapkan kata cinta. Satu hal yang membuat Hyukjae sekali lagi merasa bangga mengenal mereka berdua.

 

 

“Semoga kalian selalu berbahagia,” gumam Hyukjae membuat Sungmin menoleh ke arahnya. Juga dengan Kyuhyun yang ikut menatapnya.

 

“Kau mengatakan sesuatu, Hyukkie?”

 

“Kau mengatakan sesuatu Eunhyuk-ah?”

 

 

Ah, Hyukjae bahkan bisa mendengar pasangan itu bertanya bersamaan. Dengan pelan ia hanya menggeleng dan tersenyum, kemudian berjalan mendekati Sungmin, memutar arah pandang Sungmin untuk melihat Kyuhyun dan memeluknya dari belakang. Lalu menjawab pelan.

 

 

“Aku hanya berharap, jarak di antara kalian akan semakin dan terus terhapus sampai akhirnya kalian bertemu lagi. Aku juga berharap kalian selalu berbahagia,” ujar Hyukjae tulus membuat keduanya terdiam. Namun tidak meninggalkan senyuman di bibir Kyuhyun maupun Sungmin.

 

“Kau tahu, Eunhyuk-ah? Aku—“

 

“Ya, ya. You won’t let the distance win, right? Aku tahu, Kyu. Dan kalian membuktikannya sekarang. Terima kasih untuk setia pada sahabatku.” Potong Hyukjae membuat Kyuhyun tertawa kecil.

 

Well, terima kasih juga sudah membantuku menjaganya dan menjadi sandarannya ketika ia butuh.”

 

Are you stupid, Cho? Aku sahabat kalian, aku sahabat Minnie. Tentu saja aku akan menjaga dan menjadi sandarannya walaupun kau ada di samping kami.”

 

Arraseo. Kalau begitu, aku percaya padamu.”

 

Well yah. Aku juga percaya padamu, jadi jangan sampai kau mengkhianati kepercayaanku ataupun Sungminku.”

 

Excuse, me? Your Sungmin? Aren’t you forget that she’s MY Sungmin, are you?”

 

“Hahaha pabo! Tentu saja aku ingat. Sudah tidur sana. Memang besok kau tidak ada kegiatan?”

 

Hyukjae maupun Sungmin bisa melihat Kyuhyun melihat ke arah sesuatu, kemudian menghela napas. “Jangan tanya. Tapi kau benar juga. Aku bisa tidur sebentar sih. Nah, Minnie~ kamu juga harus segera tidur, hm?”

 

 

Kyuhyun mengalihkan pandangannya terfokus ke wajah kekasihnya lagi, walau sebenarnya sedari tadi ia terus menatap ke arah kekasihnya itu walaupun ia berbicara dengan Hyukjae. Gadis itu tidak menyadari bahwa dirinya ia perhatikan.

 

 

“Uhm, nanti setelah menemani Hyukkie aku akan langsung tidur. Kyunnie juga, ne?”

 

“Aku mengerti, cantik. Sampai nanti~ I love you.”

 

“Uhm. Sampai nanti juga, Kyu. I love you too.”

 

 

Dan setelahnya, keduanya menutup tab video itu. Hyukjae bahkan bisa melihat dengan jelas tadi. Dan ia cukup bersyukur, setidaknya Tuhan benar-benar menjaga juga menyayangi keduanya.

 

 

“Kau beruntung, Minnie~” bisik gadis berambut hitam itu semakin memeluk sahabatnya.

 

 

Kali ini Sungmin juga bersyukur, karena ia memiliki sahabat yang begitu menyayanginya, juga mempedulikannya. Kali ini juga…ia benar-benar berterima kasih kepada Tuhan yang begitu mencintainya.

 

 

“Tuhan…Kau memang yang terbaik.”

.

.

.

TBC

.

.

.

Note : No-edit. Maap kalau ada typo._.

Wanna RnR?

 

Signed,

Umu Humairo Cho

5 thoughts on “LDR ~Chapter 3

  1. Kapan nih si kyu balik, gak tega nih liat hub jauh mereka. Tp liat mereka yg bisa saling menjaga hatinya masing2 utk pasangannya…ohhh so sweet. Keep fighting kyumin and also for the author…..

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s