Addicted to You ~Chapter 2


Dan nyatanya, kini kau bukan milikku.

Lalu kau kemana ‘kan semua harapanku?

Harapan yang selalu ku simpan dan ku titipkan pada bintang di langit itu.

 

Dengan mudah kau menghancurkannya.

Dengan mudah kau meninggalkanku.

Lalu salahkah bayi yang kini tumbuh di dalam rahimku?

 

Menurutmu, haruskah ku hapus benih cinta kita?

Yang perlahan membuatku sesak dan tersiksa.

Mengapa? Harus secepat ini kau mengakhirinya?

 

Sudah bosankah kau padaku?

Lalu yang dengan mudahnya kau cari penggantiku?

Sasuke-kun, tahukah kau aku terluka di sini karenamu?

 

Menahan kesakitan yang perlahan mengakar di hatiku.

Karena mu—orang yang sangat ku cintai.

.

.

.

Addicted to You

386145_321803441177409_100000432686447_1161656_1156088591_n

This story belongs to me

SasuSaku and other

Belongs to Masashi Kishimoto

Genre :

Romance, Drama, SMUT

Rating : M or MA?

Length : 2 of ?

Summary :

Selamanya—hari-hariku hanya ada pada dirimu, Sasuke-kun..

Warning :

ADULT CONTENT, LEMON, LIME, PWP! OOC! AU!

A/N :

Heyo~ long time no see~ huehehe😄

Maaf baru apdet lanjutannya😦

Baru ada waktu dan ide. Gomen ne.

Yasudahlah, don’t like don’t read!

Not Plagiat! Just enjoyed it.

I’ll wait your Review^^

Thank you~

.

.

.

Addicted to You

Part II

Present by Umu Humairo Cho

.

.

.

Chapter Sebelumnya

.

.

“Kenapa kau tak bilang bahwa Sakura hamil, Ino?” tanya orang itu.

 

Alis Ino bertaut, “Enak saja! Aku sudah memberitahumu lewat sms, tapi aku pikir kau tidak membacanya dan kau malah memperkosanya! Sasuke kau bejat!” kata Ino emosi.

 

“A-aku tidak tahu Ino makanya aku—melakukannya!” bela Sasuke.

 

Ino gemas mendengarnya, “Makanya kau itu kendalikan nafsumu bodoh! Arrgghhh!! Bagaimana kau bisa menjadi ayah yang baik untuk anakmu nanti, ckckck! Sudahlah, kau pergi sana sebelum Sakura tahu semuanya!”

 

Sasuke hanya mengangguk dan meninggalkan Ino yang berdiri didepan pintu Sakura. Sebelumnya ia menoleh.  “Ino,” panggilnya.

 

Ino menatapnya, “Apa?” balasnya malas, Sasuke tersenyum, “Jaga dia dan anakku, ya? Tolong :)” ucap Sasuke dan pergi meninggalkan Ino yang terpaku.

 

‘Heh? Dia bisa senyum?’ batin Ino lalu masuk kedalam ruangan Sakura. Menatap sahabatnya yang tengah berbaring tak sadarkan diri.

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

Sudah beberapa hari semenjak Sakura di rawat di rumah sakit. Dan beberapa hari itu—Ino lah yang menemaninya. Sesekali Sakura tersenyum—namun sesekali ia terlihat sedih. Entahlah, Ino bahkan juga bingung apa yang sebenarnya di pikirkan oleh sahabatnya. Sampai akhirnya Ino tahu—bahwa Sakura ingin Sasuke ada di sampingnya. Mengelus perutnya yang di dalam sana ada sebuah kehidupan baru.

 

Kehidupan yang di nantikan oleh pasangan suami-istri. Tapi dirinya? Memiliki ikatan pernikahan dengan Sasuke saja belum. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

 

 

“Saki…”

 

“Eum? Ino…aku mau teh ocha. Maukah kau membelikannya?” balas Sakura menjawab cepat panggilan Ino. Ino menatap Sakura dengan alis bertaut, kemudian mengangguk dan beranjak bangun meninggalkan gadis merah muda itu.

 

“Kau jangan ke mana-mana, okay? Tunggu aku kembali,” pesan Ino.

 

Sakura mengangguk. “Aku mengerti Ino. Arigatou, ne?”

 

“Hm…jangan sungkan.”

 

 

Dan gadis musim semi itu hanya bisa memberikan senyum termanis yang dia bisa.

 

Sekalipun hatinya menjerit kesakitan. Sekalipun batinnya menangis meraung-raung. Ia hanya bisa tersenyum di depan sahabatnya. Tidak mau membuat gadis cantik itu khawatir akan dirinya. Dan ketika Ino menghilang di balik pintu ruang rawatnya, air mata Sakura kembali mengalir. Mengingat apa yang terjadi padanya malam itu.

 

Sakura memeluk dirinya sendiri. Ia sesenggukan. Ia merasa tidak bisa menjaga diri selama Sasuke pergi. Ia merasa telah mengkhianati kekasih hatinya itu. Ia merasa bukan lagi seorang Sakura milik Sasuke. Ia merasa…ia tidak pantas lagi untuk lelaki tampan itu.

 

 

“Hiks…maafkan aku Sasuke-kun…aku mohon maafkan aku…hiks…”

 

Yang tanpa ia sadari, Ino kini telah berdiri di depan pintu kamarnya. Dengan tangan yang mencengkram erat gagang pintu, menatapnya sendu. Ia pun merasa bersalah. “Maafkan aku Saki…maafkan aku karena ikut terlibat dalam hal ini…”

.

.

.

Berada satu minggu di rumah sakit membuat Sakura merindukan ranjang mereka. Ya mereka. Miliknya dan Sasuke. Mau tak mau, ia memaksa Ino dan Sai –kekasih Ino- untuk cepat mengantarkannya ke apartemen milik Sasuke. Walaupun Sakura selalu berpikir, apakah masih pantas ia tinggal di apartemen milik kekasihnya jika Sasuke saja sudah memiliki wanita lain di hidupnya?

 

Rasanya begitu sakit jika mengingat itu. Ia ingin sekali pergi dari kenyataan yang kini menimpanya. Namun keadaannya kini tidak memungkinkan dia untuk lari. Lalu ke manakah tempat yang tepat untuknya berdiam diri?

 

Sakura menghapus kasar air mata yang mengalir dari matanya. Tidak menyadari bahwa setiap gerak-geriknya tengah dipantau oleh seseorang di luar sana. Ia bahkan hanya melakukan apa yang hatinya kehendaki. Sesakit apapun itu, asal semua yang berada di sekitarnya bahagia, itu sudah cukup untuk Sakura.

 

 

“Saki?”

 

“Ah, ya? Ino ada apa?” seketika Sakura memasang senyum terbaiknya. Seraya tangannya terus mengelus jabang bayi di dalam perutnya.

 

“Kau istirahatlah. Aku dan Sai akan menjagamu di sini.”

 

“Terima kasih, Ino. Tapi kau dan Sai bisa pu—“

 

I’ll stay here, Sakura!”

 

“Oke, oke. Calm down, girl. Aku…masuk ke kamar dulu kalau begitu.”

 

“Biar ku antar.”

 

“Tapi Ino…”

 

No, Saki. Aku akan mengantarmu. Titik.” Kekeh Ino yang hanya Sakura balas gelengan kepala.

 

“Oke oke, nona cerewet.”

 

Dan kini Sakura benar-benar tersenyum. ‘Kami-sama. Terima kasih karena memberikanku sahabat yang begitu baik. Arigatou…’

.

.

.

Mata Sakura terpejam erat. Buku-buku jarinya menggenggam seprai tempat tidur seakan tak mau lepas. Peluh membasahi dahinya, Sakura bergerak gelisah di dalam tidurnya. Ia memaksa untuk bangun, dan seketika semuanya mengabur. Pandangannya tak jelas. Air mata menggenang dengan seenaknya di pelupuk matanya.

 

 

“Hiks…”

 

 

Sakura memeluk dirinya lagi. Kenapa ia harus mengalami mimpi seperti ini? Kenapa ia harus merasa terbuang seperti ini? Apa yang salah dengannya? Kenapa Sasuke begitu jahat meninggalkannya sendirian di saat Sakura tengah mengandung anaknya. Apa salahnya?

 

 

“Hiks…Sasuke-kun…apa salahku…hiks…”

 

 

Sakura semakin menangis. Ia menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Menyembunyikan tangis memilukan yang membuat siapapun yang mendengarnya pasti merasa iba. Sakura tidak ingin Ino mendengar tangisnya. Ia ingin sahabatnya tidak merasa khawatir. Karena itulah ia akan diam, diam jika di sana ada Ino. Diam ketika Ino berada di dekatnya. Karena ia takut, ia takut akan kembali mengecewakan Ino dengan keadaannya.

 

Ia hanya…tidak ingin lebih merepotkan Ino dengan perasaannya. Hanya itu.

 

 

“Saki…kau baik-baik saja?” suara Ino terdengar menyapa pendengarannya. Sakura mengangkat kepalanya. Ia merasa tangisannya tidak keras sehingga bisa membangunkan Ino. Tetapi kenapa…?

 

“Sakura…?”

 

“Aku…baik-baik saja, Ino…” balas Sakura pelan. Berusaha meyakinkan sahabatnya.

 

 

Ino di luar kamar Sakura mengernyit. Sebenarnya ia merasa khawatir pada Sakura setelah mendapat pesan dari Sasuke kalau Sakura sedang terlihat tidak baik, memeluk lututnya di atas tempat tidur.

 

Yeah, laki-laki itu tinggal di sebrang apartemen yang di tempati Sakura sehingga ia dengan mudah mengawasi kekasihnya itu.

 

 

“Saki, kau benar baik-baik saja, bukan?” Ino meyakinkan Sakura sekali lagi.

 

“Ya Ino…tidurlah. Ini sudah malam, bukan?”

 

“Hm…kau ingin sesuatu?” tanya Ino lagi.

 

Iie…aku akan segera tidur setelah ini.”

 

“Baiklah. Panggil aku jika kau ingin sesuatu, okay?” ujar Ino lagi.

 

Di dalam kamarnya Sakura hanya tersenyum kemudian menjawab pelan. “Ya, Ino. Arigatou…”

 

 

Dan setetes air mata kembali mengalir di kedua pipinya. Tangannya mengusap lembut bayi di dalam perutnya.

 

 

Kami-sama…kuatkan aku…ku mohon…’

.

.

.

Sasuke berdiri di depan jendela yang menghadap ke arah jendela kamar apartemennya yang di tempati Sakura sekarang. Ia ingin sekali memeluk tubuh ringkih yang bergetar itu dengan lengan hangatnya penuh cinta.

 

Andai saja apa yang sudah dia rencanakan untuk menikahi Sakura tidak membuatnya berbuat begini. Seharusnya ia langsung menikahi gadis merah muda tercintanya itu tanpa menyakiti sang kekasih. Sasuke mengepalkan tangannya kuat, ia menggeram. Rasa rindunya sudah di ubun-ubun. Tapi masih panjang waktu yang harus dia lewati untuk bersandiwara.

 

 

Kami-sama…jika kau tidak menghendaki…aku rela…aku juga tidak sanggup…tapi…hah…kuatkan aku.’

.

.

.

Matahari pagi bersinar terang, Sakura membuka matanya perlahan, lalu duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengelus perutnya. Kemudian ia melirik ke arah meja nakas di samping tempat tidurnya, di sana sudah ada segelas susu. Sakura mengernyit, siapa yang membuatkannya?

 

Namun mengabaikan itu, Sakura meraih gelas susu itu kemudian meminumnya sampai habis. Detik selanjutnya, Sakura memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah sekitar empatpuluh menit berada di dalamnya, Sakura keluar kamar dan melihat Ino tengah menyiapkan sarapan di meja makan dengan Sai yang sudah duduk tenang.

 

 

“Ah, selamat pagi, Saki. Jaa, kita sarapan dulu, okay?” ujar Ino menghampiri Sakura dan mendudukkan sahabatnya di salah satu kursi yang ada. Sakura hanya menuruti tanpa berniat melawan.

 

 

Hei…dia memiliki sahabat yang benar-benar baik, bukan?

 

 

“Ehem Sakura-sama. Tidak bisakah Anda tidak melamun di pagi hari?” Sakura tersentak ketika Ino menyebut namanya. Ia langsung menatap ke arah sahabat baiknya kemudian tersenyum kecil.

 

“Gomenna. Aku hanya merasa kau seperti seorang ibu, dan Sai adalah ayahnya. Lalu aku adalah anak kalian, hoho…” balas Sakura berhasil membuat Ino merona. Sai sendiri hanya tersenyum kemudian membiarkan Ino mengambilkan sarapannya.

 

Shut up, Sakura. Cukup makan sarapanmu.”

 

Yes, ma’am. Sepertinya enak sekali sarapanku. Yummy~” Sakura berucap seraya mengangkat tangannya yang sudah memegang sendok. Kemudian ia mulai menyendokkan makanan buatan Ino. “Na-ah! Ini sangat enak, mama!”

 

Seruan Sakura berhasil membuat Ino memukul pelan kepala sahabatnya dan hanya dibalaskan ringisan oleh Sakura. “Sakit, ma~ papa~ help me, please?” rintih Sakura lalu mengadu pada Sai yang sudah terkekeh melihat kelakuan dua sahabat ini.

 

“Ck. Siapa yang mau punya anak sepertimu, he? Suka membuat cerita yang membuat pembacanya mengkhayal tidak jelas. Untung aku bukan seperti mereka yang terlalu larut sampai-sampai fanatik,” balas Ino.

 

Sakura cemberut kemudian menyendokkan makanan lagi ke mulutnya. “Yare. Aku hanya menulis apa yang ada di dalam otakku kok. Kalau jelek ya, maaf saja, Nona Shimura!”

 

“Ghhh—siapa yang kau panggil Shimura, huh?” Ino menatap tajam sahabatnya, walau jelas itu hanya candaan.

 

“Kau, mama. Kan papaku seorang Sai Shimura. Benar, kan?”

 

“Ckckck. Berhenti bercanda, Calon Nyonya Uchiha.”

 

 

‘DEG’

 

 

Kegiatan Sakura berhenti. Tangannya tak bergerak lagi menyuapkan makanan ke mulutnya. Ino yang melihat itu langsung menahan napas. Salah. Salah ia bilang begitu. Seharusnya ia tak mengungkit-ungkit tentang Sasuke terlebih dahulu.

 

Salah. Ini memang salahnya.

 

 

“S-sakura…”

 

“Aku bahkan belum menikah dengannya, Ino-pig.” Balas Sakura tersenyum lemah lalu kembali makan. Ino yang melihat itu hanya menghela napas kemudian menyingkirkan rambut wanita berambut merah muda yang menutupi pandangannya itu.

 

“Dengar, Sakura. Apapun yang terjadi…percaya padaku bahwa Tuhan memiliki segala hal yang tak pernah terduga. Mengerti?” ujar Ino sambil mengusap rambut Sakura, seperti seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya.

 

Kemudian, Sai pun menambahkan. “Kadang kala di setiap hubungan harus ada yang berkorban. Sesakit apapun itu, semua pasti ada hikmah yang indah. Kau harus mengingat bahwa kau punya kami—jadi jangan ragu untuk bercerita, okay?”

 

Sederhana. Namun berhasil membuat luka hatinya kembali menganga. Bukan…bukannya ia tidak percaya. Tetapi ia terlalu takut. Walau ia yakin kedua sahabatnya ini pasti juga pernah melakukan apa yang sering dilakukannya dengan Sasuke.

 

Tapi bagaimana jika Sakura bilang…mereka sudah terlalu jauh. Tentu saja dengan kenyataan bahwa Sakura hamil sekarang—namun…intensitas mereka melakukannya itu sangat parah. Wajar? Tidak. Mereka seperti seorang penggila seks, kalian tahu?

 

Apalagi beberapa hari lalu—jauh dari hari ini Sasuke menghilang dan mengatakan bahwa lelaki itu sudah memiliki pengganti dirinya. Pasti…Ino dan Sai akan menertawakannya. Benar kan?

 

 

“Sakura…?”

 

“Nah. Aku sudah selesai. Uhm…kira-kira apa yang bisa aku lakukan ya? Apa aku boleh pergi jalan-ja—“

 

“Tidak. Tetaplah di rumah sampai keadaanmu benar-benar fit, Saki.”

 

“Inoooooo~ aku sudah baikan, kok. Jadi aku bisa—“

 

“Sekali tidak tetap tidak. Aku akan tetap di sini, dan Sai akan berangkat kerja. Jadi—apapun yang kau inginkan cukup katakan padaku. Okay?”

 

“Ino…”

 

Jaa…Ino-chan, Sakura. Aku pergi dulu. Sampai nanti,” Sai bangun dari duduk setelah memperhatikan sepasang sahabat itu. Ia menghampiri Ino dan mengecup bibirnya kemudian berlalu.

 

Namun sebelumnya, Sai berhenti di pintu dan menolah. “Hei, Sakura. Aku yakin semuanya akan indah seperti harapanmu. Walau sedikit bumbu sakit, sih. Jadi semangat, ya!”

 

Dan setelah itu, lelaki berkulit pucat itu meninggalkan Sakura yang berkedip tidak mengerti. Ino hanya tersenyum kecil kemudian membereskan piring yang tadi dipakai kekasihnya saat makan. Lalu wanita berkuncir pony tail itu menepuk kepala Sakura pelan. “Hoi, sana nonton tivi atau baca novel kek. Atau tidur saja lagi.”

 

Sakura hanya cemberut dan menepuk bokong Ino sebagai balasannya yang membuat sang sahabat memekik pelan. “Jangan mulai tidak normal, ya, Sakura!!”

 

“Hahahaha! I love you, mama!!” balas Sakura kemudian kembali ke kamarnya. Mendudukkan dirinya seraya memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.

 

Kami-sama…aku tahu Kau sangat mencintaiku…jadi tolong…jangan siksa aku lebih jauh…’

 

 

Yang tanpa ia sadari, lelaki itu masih menatapnya penuh rasa bersalah. Kemudian ia menghela napas dan mengambil ponselnya, menghubungi seseorang di luar sana.

.

.

.

Sakura memaksa Ino untuk berjalan-jalan. Mau tak mau Ino pun menuruti keinginan wanita hamil satu ini. Mungkin-mungkin sahabatnya sedang ngidam, kan?

 

 

“Inooooo ayo kita ke toko buku! Aku mau beli komik saja, deh.”

 

“Tidak lucu. Sudah duapuluh enam tahun masih baca komik.”

 

“Biarkan saja. Toh yang penting menghibur. Eh tapi kita nonton dulu, yuk. Ajak Sai saja sana. Cepat!” kata Sakura kemudian memerintah Ino yang langsung wanita itu lakukan.

 

 

Selagi Ino menelpon kekasihnya, Sakura mengedarkan pandangannya melihat-lihat. Sampai…matanya pun terpaku pada dua orang yang tengah mengobrol akrab. Seorang lelaki berambut raven dan…seorang wanita berambut merah…tidak mungkin itu…Sasuke, kan?

 

 

“Nah, Sakura. Aku sudah menelpon Sai jadi—“ ucapan Ino terhenti ketika melihat Sakura diam seraya menatap sesuatu dengan seksama. Langsung saja ia mengikuti arah pandang sahabatnya itu.

 

Dan amarahnya langsung sampai ke ubun-ubun. “Brengsek. Ayo pergi, Sakura. Tidak penting melihat dia.”

 

Sakura tersadar saat tarikan di tangannya ia dapati. Ia agak melawan pada Ino. “T-tunggu, Ino biarkan aku berkenalan dengan—“
“Kita pergi, Sakura.”

 

“I-ino…” Sakura berucap lirih seiring tatapan lelaki itu mengarah padanya. Awalnya terkejut namun kemudian mendingin…ingat, bukankah ia harus bersandiwara?

 

“Sakura…”

.

.

.

“Sakura…”

 

“Ah, jadi itu Sakuramu, Sasuke?” wanita di depannya membuat Sasuke tersadar. Kemudian arah pandang lelaki itu kembali melihat sepupu sahabatnya ini.

 

“Aa…” balas Sasuke singkat membuat orang itu mengerti.

 

“Cantik juga,” balas wanita itu lagi.

 

Sasuke tersenyum, seolah mengiyakan sebelum akhirnya berkata lagi. “Seperti yang kubilang, Karin. Sakuraku lah yang tercantik. Dan lagi—ia tengah mengandung darahku.”

 

“Ya ya ya. Terserahmu lah.”

 

 

Kemudian, Sasuke kembali melihat ke arah mana saja. Seolah mencari sosok yang begitu dirindukannya selama ini.

 

 

Missing you so badly, darl…’

.

.

.

Sakura kembali duduk merenung di sofa apartemen yang ia tempati. Ino yang sedang membuatkan susu cepat-cepat menyelesaikannya karena khawatir pada sahabat pinknya. Ia merutuki Sasuke yang tidak mengabari tentang gadis itu. Hampir saja ia akan menghampiri lelaki itu kalau saja ia tidak ingat apa yang pernah ia bicarakan dengan kekasih sahabatnya ini.

 

 

“Hei Saki…”

 

 

‘DEG’

 

‘S-sial…Sakura nangis lagi…ghhh…ku bunuh kau nanti, Uchiha!’ batin Ino kemudian berlari kecil, menaruh gelas di atas meja dan langsung memeluk Sakura.

 

 

“Sstt…ssttt…tenang, Saki…Yang tadi itu pasti hanya rekan kerjanya. Ku mohon…jangan menangis lagi. Ku mohon…” lirih Ino seraya mendekap erat sahabatnya. Ia tidak tega melihat Sakura yang begitu rapuh. Ia benar-benar merasa seperti sahabat yang sangat jahat.

 

 

Ia ikut andil dalam hal ini. Berarti…ia juga menyakiti Sakura kan?

 

 

“Ino…hiks…a-aku…w-wanita tadi s-sangat hiks…cantik, ya?” tanya Sakura lirih sambil tersenyum kecil. Berhasil membuat hati Ino hancur berkeping-keping. Temannya ini…benar-benar berusaha tegar walau rasa sakit yang menimpanya begitu berat.

 

“Ssttt…tidak Saki. Kaulah yang lebih cantik menurutku. Tolong jangan menangis lagi. Bukankah kau selalu bilang kalau kau percaya pada Sasuke? Jadi…ku mohon. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Ku mohon…” pinta Ino seraya menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah menahan tangis itu di bahu sahabatnya.

 

Sakura balas memeluk Ino erat. Kemudian mendesah lirih, berucap pelan yang membuat Ino semakin sakit. “Aku selalu percaya. Tapi mana tahu…jika dia memang sudah bosan padaku. Aku…apa salahku, Ino? Apa aku sudah tidak menarik lagi?”

 

Ino menggeleng pelan. Ia semakin memeluk sahabatnya, ikut menangis. “Tidak Sakura. Kau masih sangat cantik. Kau masih sangat menarik. Kau memiliki segalanya yang orang lain tidak punya. Kau sempurna untuk Uchiha brengsek itu. Uchiha tidak tahu diri itu saja yang seenaknya. Kau tidak salah, Saki. Percaya padaku…”

 

Sakura semakin menangis lagi. Lamat-lamat ia akhirnya memilih diam dalam pelukan Ino. Namun pada akhirnya runtuh juga pertahanannya. “Dia pernah bilang kalau ia sudah menemukan penggantiku, Ino. Aku…aku harus bagaimana?”

 

‘Tidak, Sakura. Dia bohong. Kau masih yang pertama!’ ingin sekali Ino berteriak begitu. Namun ia tidak bisa, ia sudah terlanjur janji pada Sasuke.

 

“Ssttt…tidak, Saki. Dia pasti hanya mengerjaimu. Aku akan memotong ‘miliknya’ jika dia berani melakukannya kepadamu,” balas Ino membuat Sakura sedikit tergelak.

 

Sontak, Ino langsung melepas pelukannya dan menatap sahabatnya. “Sakura…?”

 

“Kkkk~ ingin memotong apanya? Memangnya bisa? Pffttt…”

 

Lega. Entah mengapa Ino lebih lega sekarang. Sakura tengah menahan tawa, walau air mata itu masih ada. Wanita berambut pirang itu menghapus air mata sahabatnya. “Tertawa sepuasmu. Aku benar-benar akan melakukannya kalau kau mau.”

 

“Jangan! Kasihan nanti bayiku punya ayah cacat, hehe.”

 

“Ck. Dasar. Terserahmu. Pokoknya…tolong jangan menangis lagi. Kasihan bayimu juga, huh?”

 

“Iya iya, mama. Maaf sudah membuat mama khawatir, ya?”

 

“Berisik. Aku tidak mau menjadi mamamu.”

 

“Harus mau!”

 

“Enak saja. Mana mau!” balas Ino kesal. Namun ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena Sakura sudah bisa agak tenang sekarang.

 

“Mau atau aku menangis lagi?”

 

“APA? Ancamanmu jelek sekali, sih.”

 

“Biarkan! Bagaimana?”

 

“Ghhhh—terserahmu lah.”

 

“Yuhuuuu! Terima kasih, mama!” balas Sakura kemudian memeluk Ino lagi seraya tertawa, mengabaikan sebentar rasa sakitnya.

 

 

Yah, ia tahu dirinya aneh. Tapi…bagaimanapun, sudah cukup ia membuat Ino khawatir kan?

.

.

.

Beberapa jam setelah kejadian itu Sakura kini tengah membuka laptopnya, berniat melanjutkan cerita yang sempat tertunda karena saat itu—Sasuke menyerangnya.

 

Matanya hampir memanas, namun kemudian menggelengkan kepalanya lagi. “Aku harus kuat!” bisiknya mengabaikan Ino yang sudah mencibir dirinya di atas sofa. Sakura hanya membalas memeletkan lidah lalu kembali fokus ke arah laptopnya.

 

Pinky aneh.”

 

“Diam, Ino. Kau membuat moodku berantakan, tahu.”

 

“Haha, bagus dong.”

 

“Ghhh—ku bunuh kau kalau bayiku sudah lahir!”

 

“Kasihan dong bayimu kalau ibunya masuk penjara?”

 

“Bodo, ah!”

 

“Hahaha aku menang!” seru Ino senang kemudian kembali terfokus kepada acara televisi yang ia tonton tadi, dengan Sakura yang kembali fokus ke laptopnya.

 

 

Namun suara bel membuat keduanya menengok ke arah pintu bersamaan. Ino bangun berniat membukakan. Ia bergumam dan menyangka mungkin itu Sai. Tetapi ketika di buka…

 

 

“Oh, hai, Nona.” Sapa orang itu kemudian berjalan masuk ke dalam. Berhasil membuat Sakura mengalihkan pandangannya dari benda berbentuk persegi panjang itu.

 

“Ino, siapa yang dat—“ dan ucapannya terhenti ketika wanita itu berdiri tegap di depannya. Dengan sebuah koper yang ia bawa.

 

Gadis berambut merah. Berkacamata. Gadis yang ia lihat bersama Sasuke tadi siang. Gadis—gadis yang mungkin sudah merebut hati Sasuke kini. Gadis itu—ada di hadapannya.

 

Kami-sama…tolong jangan permainkan aku.

 

 

“Oh, hei, Nona. Kenapa kau bengong, sih? Omong-omong, ini apartemen Sasuke-kun, kan?”

 

 

Tidak ada yang merespon. Sakura pun terdiam. Ino masih berusaha mencerna, kemudian ia menghilang sebentar untuk menelpon di brengsek Uchiha. Apalagi rencananya kali ini?

 

Dan jantungnya semakin bertalu ketika mendengar wanita yang baru datang itu berucap—

 

 

—“Huh, sudahlah. Lagipula mulai sekarang aku akan tinggal di sini. Jadi…salam kenal, ya, Haruno-san.”

 

 

‘DEG’

 

Hancur sudah. Hatinya benar-benar hancur ketika mendengar wanita itu berkata akan tinggal di sini. Lalu ke manakah ia harus pergi? Ke manakah ia harus pulang?

 

Jadi…?

 

Apa yang harus dilakukannya sekarang?

.

.

.

TBC

.

.

.

Note : Hallo~ longtime no see ya. Saya sangat minta maaf karena baru bisa lanjutin fic ini. Masih tbc lagi-_- baru bener-bener bisa dapetin feelnya lagi. Sebisa mungkin, seberusaha mungkin saya lanjutin. Huweeee maafkan saya, ya? Saya gatau chapter ini gimana. Mungkin cerita ini hanya sekitar 3 atau 4 chapter. Jadi…ada yang menanti ini dan masih mau membaca?

 

Boleh minta masukkannya?

 

Makasiiiiih^^

 

Signed,

Umu Humairo Cho

4 thoughts on “Addicted to You ~Chapter 2

  1. Heh pantat ayam ,mau sampai kapan kamu pura2 cuekin sakura-chan huh?? Pokoknya awas yahh kalo sampe sakura -chan nya kenapa2 . Kamu orang pertama yg aku cari ..
    Hahahahaha ..

    #ketawanista

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s