LDR ~Chapter 2


I’m jealous of people who get to see you everyday.

.

.

.

LDR

 LDR-long-distance-relationships-32911371-500-300

I own nothing except the story

KyuMin belongs to each other

Super Junior is belong to God and themselves

Genderswicth fanfiction. Bahasa non-baku di saat tertentu.

Be easy on me^^

DLDR okay? Give me concrit after reading~

EnJOY~

.

.

.

Ketika hati memutuskan pelabuhan akhirnya adalah dia. Maka seberapa besar atau jauh jeda yang ada di antara mereka, tidak ada alasan untuk menyesal bukan?

Ya. Itulah apa yang Sungmin tekadkan.

.

.

.

Ini seperti hari-hari biasa yang ia lewati bersama sahabatnya, Hyukjae. Memandang malas celah-celah gedung tempatnya menimba ilmu. Sungmin menopang dagunya dengan telapak tangannya, menatap kosong apapun di depannya.

Hyukjae berdecak kemudian menepuk kepala sahabat sejak kecilnya itu.

“Min! kasian tuh makanan kamu ga dimakan. Nanti mereka nangis, loh!” seru Hyukjae membuat Sungmin berjengit. Yeoja bermata foxy dan berambut panjang sepunggung itu melirik makanannya yang belum ia sentuh sedikitpun, kemudian menatap Hyukjae di sampingnya.

Yeoja dengan rambut berwarna coklat muda itu menelengkan kepalanya bingung. “Memangnya nasi bisa menangis ya, Hyukkie?”

“Hah?” Hyukjae membeo. Ia menepuk dahinya mendengar respon polos sahabatnya. “Udahlah, Minnie. Kamu jangan mikirin Kyuhyun terus. Nanti dia juga balik, kok. Percaya deh sama Hyukkie!”

“Ish! Kalau itu sih Minnie juga percaya, Hyukkieeee~ Tapi sekarang dia lagi apa, ya? Udah makan belum, ya?”

“Hhh…udah mungkin. Secara pelajar pertukaran, masa dia ga makan? Ga punya tenaga untuk beraktivitas, dong!”

“Apa hubungannya, coba? Dasar Hyukkie jelek!”

Hyukjae memicingkan matanya berpura-pura tersinggung akan perkataan sahabatnya. “Eh, eh~ mentang-mentang cantik gitu ya sama aku?”

“Hehehe~ piss Hyukkieee~ becanda ah! Jangan ngambek, plisss?” Sungmin menangkupkan kedua tangannya memohon. Hyukjae hanya terkekeh kemudian mengusap rambut coklat Sungmin.

“Ck! Mana bisa marah sama anak kelinci?”

“Ya! Dasar! Siapa yang kau sebut anak kelinci, huh? Kkk~ Makasih Hyukkieeee~”

“Kaulah. Ckck. Iya-iya.”

Yah, setidaknya Sungmin tahu, sebetapa ia berharap yang ada di sampingnya adalah Kyuhyun, namun dengan adanya Hyukjae itu semua sudah cukup. Karena ia akan selalu menunggu kapan waktu ketika Kyuhyun akan kembali ke sisinya.

.

.

.

Kyuhyun membuka ponselnya setelah pelajaran usai, kemudian ia mengetik sebuah email dan mengirimkannya kepada sang kekasih. Ah, betapa ia merindukan Sungminnya itu. Dan ia berharap, waktu akan cepat terkikis sehingga ia bisa bertemu dengan kekasih tercintanya.

“Jangan gila, plis, Kyuhyun.”

Kyuhyun hanya mendengus mendengar Siwon –di depan bangkunya berucap begitu. Setelah memerika bahwa emailnya terkirim, ia pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dan membalas perkataan Siwon barusan.

“Ga bakal ada orang yang ga gila kalau udah ada sangkut pautnya sama orang yang dia sayang, Won. Percaya deh,” Kyuhyun berucap santai sambil menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki.

Diam-diam Siwon mengiyakan. Kemudian, pikirannya beralih pada percakapannya dengan Kibum kemarin. Dengan segera saja ia mengajukan pertanyaan pada Kyuhyun, sedikit kagum pada hubungan Kyuhyun bersama kekasihnya di Korea sana. “Kok…lo bisa sih setenang ini ngejalanin LDR, Kyu?”

Kyuhyun yang tadinya tengah membayangkan wajah cantik Sungminnya tersentak ketika Siwon bertanya seperti itu, segera saja ia menyunggingkan senyum yang membuat Siwon tidak mengerti.

“Kata siapa…gue setenang itu?” balas Kyuhyun pelan, tidak mengurangi rasa entah apa yang bersarang di dadanya setiap kali ada topik yang mengharuskan ada dirinya maupun Sungmin. “Lo…hanya ga tau apa aja yang berusaha gue dan Sungmin yakinin,” lanjutnya. Berhasil membuat Siwon benar-benar memutar arah duduknya.

“Lo…mau ga berbagi sama gue, Kyu? Gue ga tau harus gimana lagi ngeyakinin Kibum,” tanya serta ucap Siwon pada temannya.

Kyuhyun hanya tersenyum kecil seolah berkata itu semua tidak semudah yang Siwon pikirkan. “Awalnya…semua sama aja, Won. Kekeraskepalaan Sungmin…keegoisan gue…tangisan Sungmin…kebodohan gue…semuanya bikin gue nyesel main-main sama tes itu.”

Siwon diam mendengarkan. Mendengarkan apa yang akan Kyuhyun ucapkan berikutnya.

“Lo ga tau kalau Sungmin pernah nolak untuk ketemu sama gue. Alasannya ya karena dia bilang gue pengen ninggalin dia. Padahal ini semua di luar kehendak gue. Gue berusaha keras untuk ngeyakinin Sungmin, sampe gue harus mohon sama dia. Gue pengen batalin, tapi akibatnya ga baik buat sekolah kita. Alhasil gue minta bantuan nyokap gue dan nyokap Sungmin, barulah Sungmin mau ngomong sama gue—“

“—ga mudah untuk ngebujuk cewek, Won. Gue bahkan untuk pertama kalinya nangis –minus nangis karena nyokap- hanya untuk dapet restu dia buat pergi. Kalau aja…dia tipe cewek egois yang ga mau mikirin pasangannya, gue ga mungkin ada di sini. Tapi Sungmin beda, sebisa mungkin dia ngertiin gue. Karena dia bilang gue selalu ngertiin dia, makanya dia mau nyerah dan ngelepas gue pergi—“

Siwon benar-benar diam. Salahnya yang terlambat memberitahu Kibum, alhasil…hubungan mereka jadi serba salah sekarang.

“—dan sebelum pergi kami punya komitmen, apapun yang terjadi, gue bilang kami adalah satu. Satu dalam artian kami sama-sama sayang dan percaya, ga peduli seberapa banyak orang bakal mencela hubungan kami, gue hanya menanamkan satu hal, gue minta dia untuk tangguh dan ga peduli. Gue minta dia untuk tutup telinga dan kuatin hati. Karena kami masih di bawah langit yang sama di manapun kami berada. Gue bilang dia punya Hyukjae yang bakal ada buat dia. Dan saat itu…gue bikin dia nangis lagi—“

Kyuhyun menunduk mencengkeram kuat celana bagian pahanya, ia tidak menyangka jika membicarakan hubungannya dan Sungmin akan membuatnya selemah ini.

“—Lo ga tau seberapa rapuh hati gue saat itu. Rasanya gue mau teriak kepada dunia dan bilang gue mau bawa Sungmin ikut sama gue. Tapi percuma…ga ada yang dengar. Alhasil gue hanya bisa memupuk kepercayaan, toh gue pikir…ga peduli selama apapun gue ada di sini, kelak gue akan kembali, dan saat itu gue ga akan pernah ninggalin Sungmin lagi apapun alasannya. Setiap kali gue ragu, gue hanya bisa bilang sama dia tentang komitmen kami; di manapun kami, kami akan selalu ada di bawah langit yang sama. Udah itu aja. Jadi intinya, lo masih harus ekstra bicara sama Kibum nanti,” Kyuhyun mengakhiri ceritanya dengan sedikit parau. Rasa sesak datang tiba-tiba ke relung hatinya.

Siwon sendiri semakin diam, ia bingung harus merespon apa, sampai akhirnya—ia memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang sejak tadi menyarang di otaknya. “Apa lo…pernah ngerasa bodoh dengan cemburu sama orang-orang yang bisa ngeliat Sungmin setiap harinya?”

‘DEG’

Jantung Kyuhyun berdetak lebih cepat. Ia terpaku. Rasa sesak itu semakin terasa, ia mengalihkan wajahnya menatap ke arah luar jendela. Masa bodoh dengan air mata yang sudah ke luar sejak tadi. Tidak peduli kalau setelah ini Siwon akan meledeknya.

“Gue emang cowok paling bodoh. Lo ga tau bahkan gue hampir frustasi mikirin kenyataan dari pertanyaan lo itu setiap hari, Won.”

‘DEG’

Kali ini Siwonlah yang tergugu dengan jantungnya yang berdebar keras. Ternyata…bukan hanya dirinya yang merasa bodoh karena merasa cemburu pada keadaan yang bahkan ia buat sendiri. Bahkan sampai sekarang ia masih belum bisa menyakinkan Kibum untuk percaya padanya. Mungkin Kyuhyun benar, ia harus segera berbicara pada Kibum setelah ini.

Siwon mengepalkan tangannya erat, menghapus kasar air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. “Gue…ngerti sekarang. Makasih, Kyu.”

Kyuhyun yang sudah bisa menenangkan diri hanya mengangguk sekilas, sambil bergumam dalam hati. ‘Aku kangen sama kamu, Minnie…’

.

.

.

‘Aku kangen sama kamu, Minnie…’

‘Plok’

“Eh?” Sungmin tersadar dari lamunannya ketika sebuah daun musim gugur menyapa dahinya, dengan suara bisikan yang sangat ia yakini berasal dari kekasihnya di bagian dunia sana. Ia tersenyum semanis yang ia bisa, mengambil daun itu kemudian memainkannya sedemikian rupa.

Kemudian berucap pelan, pelan sekali hampir seperti bisikan. “Aku juga kangen kamu, Kyunnie…”

Detik selanjutnya ia berlalu dari daun jendela menuju ranjangnya…mengambil ponselnya dan mengetikkan sebuah email balasan kepada seseorang di luar sana yang begitu ia rindukan.

.

.

.

From : Kyuhyun

Subject : Miss you :*

I didn’t know what makes me feel this way, but I miss you so badly, Ming…

 

To : Kyuhyun

Subject : –

You dunno how much I miss you too. And please, Kyunnie~ stop whispering the wind about your feeling about me :p Kau seharusnya malu karena angin selalu menjadi saksi kerinduan kita, tau! Dasar!

 

I love you!

.

.

.

Sungmin terkekeh sebentar membaca emailnya kepada Kyuhyun, namun dengan perlahan menutup matanya damai berharap hari esok akan lebih indah dari hari ini. Sebelumnya ia mengetweet kata-kata yang pernah diucapkan Kyuhyun kepadanya di akun twitter pribadinya.

.

.

.

Sungmin @imSMl  59s

The thought of being with you tomorrow gives me the strength to go on today. Thanks for everything, Kyunnie~ @GaemGyu keep your spirit, ‘kay? Remember that I love you so much…more than you know! Hehe:*

Expand

.

.

.

Kyuhyun membuka email yang masuk ke ponselnya dan sedikit tersenyum membalasnya. Hilang sudah semua perasaan rindunya, terbayarkan dengan kalimat Sungmin yang membuatnya merasa hidup kembali. Apalagi setelah membawa mention dari gadis berambut coklat terangnya itu.

Jaljayo, Minnie~ mimpiin aku, ya~” lirihnya sepelan mungkin, berharap Siwon di depannya tidak mendengar apa yang ia ucapkan.

.

.

.

Kyuhyun berjalan cepat ke arah apartemennya, kemudian dengan terburu membuka pintu tempat yang ia tinggali dengan tidak berperikekuncian. Setelah sampai, ia langsung mendudukkan dirinya di atas sofa lalu memijat kepalanya yang sedikit pusing. Hari ini…benar-benar melelahkan.

Harus berada di sekolah sampai pukul empat sore dengan segala pengetahuan baru di negeri yang ia tinggali ini berhasil membuat tubuhnya pegal. Hah. Ia berpikir jika tidur akan membuatnya enakan setelah ini.

Drrtt…drrttt…

Ponselnya bergetar membuat Kyuhyun segera melihat siapa yang menghubunginya. ID sang umma terpampang jelas di ponselnya. Pukul lima? Berarti di Seoul pukul tujuh? Entahlah. Segera saja ia mengangkat panggilan ibunya itu.

Hallo, umma?”

‘Ah, baby Kyunnie~ akhirnya umma mendengar suaramu lagi, sayang~’ sapa sang ibu di ujung sana membuat Kyuhyun memutar bola mata.

“Ada apa umma menelponku pagi-pagi begini?” tanya Kyuhyun.

‘Pagi? Umma kira di sana masih senja~’

“Di sini memang senja, maksud Kyu di Seoul kan masih pagi.”

‘Memangnya ada larangan seorang ibu untuk merindukan anaknya?’

“Terserah deh. Ada apa sih?”

‘Kamu ga ada liburan, sayang?’

“Aku kan juga sekolah di sini umma, liburan ya ada tapi ga tau deh panjang atau pendek. Emang kenapa?”

‘Kamu liburan ke sini, dong~’ mohon sang umma membuat Kyuhyun tiba-tiba menegang.

“Ga bisa…” cicitnya membuat ibu Kyuhyun memekik heran.

‘Kenapa siiiiih? Masalah tiket gampang kok! Liburan ya liburaaaaaaan~’

“Ga…bisa…umma…”

‘Kyunnieeeeeee~’

Please~ jangan paksa aku, umma. Aku ga sanggup,” balas Kyuhyun lirih. Ia memejamkan matanya erat menghalau air mata yang akan keluar lagi. Kenapa…sekarang jadi ia yang lemah?

‘K-kyuhyunnie…anak tampan umma baik-baik aja, kan?’ suara sang ibu terdengar khawatir.

Dengan cepat, Kyuhyun membalas. “Kyu…baik-baik aja. Tapi Kyu ga  bisa nurutin permintaan umma yang tadi. Seharusnya umma tau dan takut kalau itu benar-benar terjadi…Kyu bakalan jadi orang yang ga bertanggung jawab. Umma ngerti kan maksud Kyu? Kyu mohon…”

Ibu Kyuhyun di tempatnya mematung, dia tidak percaya bahwa Kyuhyun akan serapuh ini jika itu berhubungan dengan Sungmin. ‘Maaf sayang…maaf karena umma tidak memikirkanmu. Maaf karena umma belum bisa mengerti keadaan kamu. Sebagaimana kamu berusaha untuk kuat menjalani apa yang sudah kamu buat, dan mencoba menghadapi keadaan yang kamu buat sendiri juga. Maaf…umma tidak tahu kalau…’

“Ga…ini bukan salah umma. Aku  hanya ga mau nanti ga bisa ngelepas Minnie lagi aja kalau ketemu. Maaf…Kyu jadi anak pembangkang yang ga mau nurutin permintaan ibunya. Maaf umma…”

‘Kyunnie! Bicara apa sih! Umma yang salah tau! Pokoknya umma yang minta maaf dan Kyunnie harus maafin umma! Arrachi!?’ balas sang ibu dengan suara paraunya membuat Kyuhyun sedikit tersenyum, sedih.

Kemudian ia membalas pelan perkataan sang ibu, dengan sebuah pertanyaan. “Umma…ga salah kan…kalau Kyunnie cemburu pada umma atau orang-orang yang bisa melihat atau bertemu Minnie setiap hari?”

.

.

.

‘DEG’

Lagi lagi Heechul –umma Kyuhyun dibuat diam oleh perkataan anaknya. Ia sudah menutup mulutnya menggunakan satu tangannya yang terbebas, sang suami memeluknya dari belakang. Menenangkannya. Tanpa sadar, Heechul menggelengkan kepalanya, sambil berusaha menahan tangis.

“Tidak sayang…kau…tidak salah. Itu manusiawi. Itu wajar…tidak…hiks…anak umma yang tampan tidak salah sama sekali…tidak…hiks…” Heechul tidak sanggup berkata-kata lagi. Ia menjatuhkan begitu saja ponselnya sehingga Hangeng –sang suami langsung mengambil alihnya.

“Kyu…?” panggil Hangeng pada anaknya di sambungan telpon itu.

‘Ya appa?’ lelaki paruh baya itu bisa mendengar Kyuhyun menjawab pelan sapaannya.

Appa yakin kau anak yang kuat. Terima kasih karena kau konsisten pada keputusanmu. Appa tahu bagaimana hatimu sekarang. Tapi appa akui kau sangat hebat dan appa bangga padamu. Kau…tidak pernah membuat appa sebangga ini sebelumnya,” ucap Hangeng membuat Kyuhyun sedikit terkekeh di luar sana.

‘Aku hanya berusaha mengingat perkataan appa, bahwa; dibalik lelaki hebat, ada wanita yang hebat pula. Dan yang membuatku hebat adalah Sungminku. Appa tahu itu, bukan?’

Hangeng tersenyum mendengar jawaban anaknya. “Ya…kau…memang anak appa. Appa dan umma sangat mencintaimu, Kyu.”

Me too appa. Katakan pada umma jangan menangis lagi. Dia hanya akan membuatku frustasi nanti.’

“Kkkk, baiklah. Istirahatlah yang banyak dan jangan terlalu memforsir tubuhmu, arraseo?”

Ayayay, captain!’

Jaa, ne. Appa tutup, okay?”

‘Hm, salam untuk umma.’

“Salam juga untuk dirimu sendiri, Kyuhyun-ah.”

Dan percakapan itu benar-benar terputus. Menyisahkan Hangeng yang terus berusaha menenangkan sang istri, menyakinkan bahwa putra semata wayang mereka adalah lelaki yang kuat nan tangguh. Yang kelak akan menjadi orang yang sangat membanggakan bagi siapa saja.

.

.

.

“Bodoh! Aku bukan hanya merindukan Minnie…tapi juga umma. Umma…aku sangat merindukanmu…” dan sekarang Kyuhyun benar-benar membiarkan lelehan air mata mengalir di pipinya.

Seumur hidup, hanya untuk dua wanita itulah ia menangis. Sang ibu…dan sang kekasih.

Hanya mereka.

.

.

.

Cho Kyuhyun @GaemGyu  1m

@imSMl Hei, do you know that, Mingah? I’m jealous of people who get to see you everyday. Really, I can’t control this feeling. But…I believe that I’ll be the one who always see you everyday in the morning…in our bed…in our future life. Until then…remember that…I love you, darl~

Expand

.

.

.

To be Continued

.

.

.

Note : Heyo~ chap duanya hadir. Saya tidak bilang kemarin The End loh~ hahaha😄

Jaa~ yang minta dilanjut, ini lanjutannya. Maaf kalau pendek dan aneh. Silahkan dibaca dan direview ya~ terima kasih🙂

 

Signed,

Umu Humairo Cho

3 thoughts on “LDR ~Chapter 2

  1. yes akhirnyaaa chap 2 .. meskipun telat bacanya..paling suka bagian pas kyumin nulis tweet beneran kerasa real bgt .. semangat ya thor ngelanjutinnya🙂

  2. yeey.. updatee
    wlwpun telat baca hehe
    jujur ajja ya thor,, pas bacaa bgian kyumin tweet’an ntuh aku rada males baca, cz b.inggris.. aq gak mahir b.inggris tpii aq cuma bisa nangkep sdikit” maksud nyah.. maka’a kadang” suka aq lewatin baca nyah.. hehe.. miian yaaa.. #bow

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s