Love is Sweet-{Warm Winter}


Dia memang dingin. Sedingin musim salju.

Namun sedingin apapun sikapnya…

…dia tetaplah Sasuke-kun-ku…

.

.

.

Love is Sweet

Warm Winter

sasusaku-gomen

I own nothing except the story

SasuSaku series – Winter theme

Sakura’s POV

Enjoy~

.

.

.

Aku menatap lagi wajahnya yang agak memerah sehabis meminta jatah ciumannya hari ini. Lucu sekali melihat seorang Uchiha Sasuke merona. Jarang-jarang aku bisa melihat emosi dan ekspresinya seperti ini. Setiap hari selalu membuatku berdebar setiap saat.

 

Dan aku ingat bagaimana ia dengan ‘tidak sengaja’ melamarku di musim gugur lalu. Ugh…tidak romantis sama sekali. Tapi…itu memang Sasuke-kun sekali. Hihi.

 

Lalu dengan wajahnya yang agak merona sekarang, ingin sekali aku mencubit pipinya. Menciumnya. Kalau bisa juga memakannya. Atau terus menyusuri rahangnya ke bawah? Eh? Apa yang aku pikirkan sih?

 

Tapi Sasuke-kun sekarang terlihat sangat lucu. Tapi mana mungkin? Bagaimana jika dia marah? Ugh…tapi…aku ingin sekali melakukannya. Dan hei, Sakura, kenapa kau seperti wanita hamil yang mengidam untuk mencubit suamimu sendiri?

 

Eh?

 

Suami?

 

 

‘Blush’

 

 

Wajahku terasa panas mengingat sendiri apa yang aku pikirkan. Ugh…aku bahkan tidak percaya kalau aku sudah menjadi seorang Uchiha. Hyaaa ini benar-benar mendebarkan.

 

 

“Sakura…”

 

“Eh?” aku mengerjap ketika mendengar suaranya yang tiba-tiba menyapa pendengaranku. Menoleh menatapnya yang tengah memperhatikanku. Wajahku semakin memerah ketika alisnya bertaut, seolah bertanya apa yang sedang aku pikirkan.

 

 

Dan cuaca dingin di luar sana membuatku semakin gemetar. Kalau tau begini, lebih baik aku menuruti kata shisou untuk menangani beberapa shinobi yang terluka sehabis misi. Dibanding harus menghadapi tatapan Sasuke-kun kini.

 

 

“Sa-ku-ra…”

 

“Eh? A-ano…ada apa, S-sasuke-kun?” balas serta tanyaku. Ku lihat Sasuke-kun mengernyitkan alisnya.

 

Kemudian menjawab sesuai dengan trademarknya. “Hn.”

 

 

Tuh kan! Apa kubilang!

 

 

“Eum…”

 

“Apa yang kau pikirkan?” deg! Sasuke-kun memotong ucapanku. Sontak aku menatapnya sambil meremas bantalan sofa yang aku duduki. Tanganku ku letakkan di antara kedua kakiku yang melebar. Menggigit bibirku merasa gugup. Kemudian menggeleng pelan sebagai jawaban.

 

“Hn. Jangan bohong, Sakura. Wajahmu memerah,” katanya lagi membuatku menatapnya. Dan semakin menggigit bibir bawahku.

 

 

Mataku bergerak gelisah. Mana mungkin aku bilang karena memikirkan Sasuke-kun? Pasti dia akan menggodaku.

 

 

“U-chi-ha Sa-ku-ra…”

 

Nani? Apa nama itu kurang cocok untukku~?” tanyaku sambil memonyongkan bibirku.

 

Dan—‘Cup!’

 

Sebuah kecupan singkat malah ku dapatkan.

 

 

“Hn. Nama yang sangat cocok. Siapa yang bilang tidak cocok?”

 

“Eh? Tidak ada sih~ hanya saja Sasuke-kun kadang memanggilku begitu sih!” balasku lalu menggigit pelan dagunya yang ada beberapa meter di depan mataku.

 

 

Ia menggeram pelan lalu menatap tajam ke arahku. Tatapan mengintimidasi itu membuatku memutar otak lagi. Lebih baik aku kabur daripada harus jujur soal tadi.

 

 

Perlahan aku bangun dari dudukku seraya berbicara pada Sasuke-kun. Dia menatapku tajam. Aku hanya berkata sambil menyengir tidak jelas. “Eum…Sasuke-kun, aku baru ingat kalau aku—“

 

 

‘Sret’

 

Namun sayangnya ucapanku terhenti ketika tangannya menarikku, sehingga aku malah jatuh ke pangkuannya. Ugh. Selalu seperti ini. Menyebalkan. Wajahku pasti benar-benar merah sekarang.

 

 

“Hn. Kau tidak bisa kabur,” katanya tenang dan memeluk pinggangku erat. Aku menahan jarak di antara kami yang semakin terhapus dengan mendorong pelan bahunya menggunakan kedua lenganku.

 

“S-sasuke-kun…” cicitku melihat matanya yang terus menatapku tajam. Walau sebenarnya di sana terdapat banyak rasa sayang dan cinta untukku. Aku yakin itu.

 

 

Dan salju-salju di luar sana justru membuatku merasa musim ini menjadi musim dingin yang hangat. Berada di pelukan Sasuke-kun seperti ini benar-benar membuatku nyaman. Mengingat musim dingin juga membuatku ingin terus bermanja padanya.

 

Ah!

 

 

“Sakura…”

 

Ne, Sasuke-kun. Kira-kira apa yang bisa kita lakukan di musim dingin begini ya?”

 

 

Alis Sasuke-kun bertaut mendengar pertanyaanku. Dan jantungku semakin berdebar ketika melihat seringaiannya. Ugh…jangan bilang ia memikirkan hal mengenai…klan?

 

 

“Hn.”

 

 

Eh? Hanya itu?

 

Aku menelengkan kepalaku tidak mengerti. Sasuke-kun hanya menatapku, kemudian tatapannya melembut seraya menyingkirkan poni rambut yang menutupi penglihatanku. Di saat kami hanya berdua, mantan missing-nin ini memang bisa begitu hangat. Dan aku amat sangat menyukainya.

 

 

“Sudahlah,” katanya lalu menempatkan kecupan di sekitar daguku. Sampai ke dekat telinga membuatku sedikit melenguh.

 

 

Tanganku sendiri sudah bergerak meremas pelan baju rumahnya. Ketika merasakan ciumannya telah sampai di sekitar leherku. Memberikan gigitan di sana. Menghisapnya dan meninggalkan kissmark. Aku tidak tahu jika Sasuke-kun suka sekali melakukan ini. Hihi. Padahal baru beberapa menit yang lalu kami melakukannya, dengan hasil wajah memerahnya dan juga pikiran liarku yang membuat Sasuke-kun menginterogasiku.

 

Aish! Uchiha ini benar-benar!

 

 

“Umhh…” aku mendesah pelan ketika tangannya mengusap pahaku. Tanganku yang tadinya meremas sisi bahunya langsung menyampirkannya di leher Sasuke-kun erat. Ini benar-benar menggelikan. Rasanya ada banyak kupu-kupu yang beterbangan di perutku.

 

“A-ahh…ummhh…S-sasuke-kunhh…” desahanku semakin terdengar ketika beberapa jarinya yang bebas menyapa kewanitaanku. Dengan tangannya yang satu lagi masuk ke dalam kaosku. Ugh. Suamiku ini memang benar-benar.

 

“Hn. Sudah mau menjawab?”

 

 

Eh? M-menjawab? Menjawab apa?

 

 

“Apa kau yang pikirkan sampai wajahmu memerah tadi?” tanya Sasuke-kun lagi seolah-olah tahu apa yang aku pikirkan.

 

 

Aku memajukan bibirku lalu semakin menyembunyikan wajahku di lehernya. Haruskah aku jujur? Ish! Dasar Uchiha.

 

 

“Sakura…”

 

“Aku hanya memikirkan Sasuke-kun tadi. Serius.”

 

“Apa yang kau pikirkan tentang aku sampai memerah begitu?”

 

“Ugh! Itu juga karena tadi Sasuke-kun sangat lucu saat merona dan aku ingin sekali menggigit pipi Sasuke-kun. Itu saja,” balasku lagi. Aku tahu pasti ia sedang menyeringai.

 

“Hn. Bohong.”

 

“Ish! Seriuuuuusss~”

 

“Kau tidak akan merona hebat seperti itu hanya karena alasan yang tadi kau sampaikan.”

 

“Sasuke-kun~” aku merajuk padanya. Melepas pelukannya dan menatap mata onyx yang selalu saja memenjarakanku.

 

“Hn. Pasti ada fantasi lain lagi, kan? Seperti…kegiatan ranjang kita?”

 

“Ugh…” aku memalingkan wajahku mendapati tatapan nakal nan menggoda Sasuke-kun. Aku mengepalkan tanganku yang masih melingkar di lehernya.

 

“Sakura…”

 

“Ish! Sedikit! H-ha-hanya ingin mencium Sasuke-kun saja kok! Sungguh!”

 

“Hn.”

 

“Ugh! Kau harus percaya!”

 

“Hn.”

 

“Sasuke-kuuuunnnn~”

 

“Hn.”

 

“Kata—MMPHH!”

 

 

Ugh. Bukannya mendapatkan jawaban malah mendapatkan ciuman. Sasuke-kun mesum!

 

 

“Ummhh~ S-sasuke-kun~” aku berusaha melepas ciumannya. Namun apa mau dikata, tenaganya cukup besar, dan tidak mungkin aku melawannya walau bisa saja. Tapi dia adalah suamiku. Aku tidak ingin mengulang kejadian di waktu musim gugur lalu. Kasihan kan Sasuke-kun.

 

 

Intensitas ciuman Sasuke-kun semakin meningkat. Ia bahkan sampai menidurkan dan menindihku di atas sofa yang kami duduki. Dengan tangannya yang terus bergerilya menjelajahi tubuhku. Memasukkannya ke dalam kaosku. Menyapa payudaraku yang membuat pelukanku semakin mengerat.

 

Uh! Kenapa laki-laki ini benar-benar membuatku gila?

 

Dan aku tersentak ketika tangannya bersiap melepas celana yang ku pakai. Merasa tak bisa melakukan apapun, aku hanya bisa mendesah saat ia melakukannya. Apalagi ketika jarinya siap menyapa bibir kewanitaanku yang sudah basah.

 

 

“T-tunggu S-sasuke-kun~ a-aku…”

 

“Hn…”

 

“S-sasuke-kun aku—“

 

 

‘BRAK’

 

 

TEME!”

 

 

Ucapanku terhenti ketika mendengar pintu rumah kami yang dibuka kasar juga teriakan khas you-know-who. Aku memandang Sasuke-kun dengan tatapan bertanya, sama sepertinya. Namun wajahnya berubah menjadi kesal karena merasa kesenangannya terganggu. Dengan cepat aku memakai celana yang tergeletak di dekat sofa ruangan yang kami tempati.

 

Segera saja Sasuke-kun menemui Naruto yang mungkin sudah memasang tampang bodoh andalannya.

 

 

“Oh, hai tem—“

 

 

‘BUGH’

 

‘BRAK’

 

‘PRAK!’

 

 

“OI TEME! APA SALAHKU SIH?”

 

 

Aku meringis ketika dengan semangatnya Sasuke-kun melayangkan pukulan ke muka Naruto yang tadinya sedang menyengir seperti biasa. Jatuh menabrak dekat pot bunga pekarangan Uchiha dan berhasil memecahkannya juga.

 

Dan suara bantingan pintu membuatku menatap Sasuke-kun, juga dengan teriakkan khas Naruto disertai gebrakan pintu darinya.

 

 

“OI TEMEEE! BUKA PINTUNYAAA!”

 

“BERISIK! PERGI SANA! DOBE SIALAN!”

 

 

Dan teriakan Sasuke-kun berhasil membuatku menciut. Ugh…garang sekali.

.

.

.

Musim dingin malam ini terasa semakin dingin! Aku yang baru saja melangkahkan satu kakiku di depan rumah sakit Konoha langsung disapa hawa itu. Walau begitu, dengan adanya Sasuke-kun di dekatku, itu semua sudah mengurangi segala rasa menusuk yang terus berusaha menyergap masuk ke persendianku.

 

Aku melihatnya yang tengah melipat tangan di dada sambil bersandar pada pohon yang sudah gundul diterpa musim dingin. Berjalan mendekat ke arahnya kemudian mengambil wajahnya untuk memberikan ciuman di bibirnya. Setidaknya menyalurkan sedikit kehangatan kepadanya tidak apa-apa, kan?

 

Setelahnya Sasuke-kun berjalan lebih dulu di depanku. Aku berjalan di belakangnya persis mengikuti langkahnya. Kemarin, ia baru saja pulang dari misinya. Seharusnya ia beristirahat sekarang kan?

 

 

Ne, Sasuke-kun?” panggilku.

 

“Hn,” balasnya seperti biasa. Aku menyamakan langkahku dengannya. Mengambil satu lengannya untuk dilampirkan melingkari leher sampai ke bahuku. Ugh. Rasa hangat langsung menyergapku.

 

 

Lalu aku sedikit memutar tubuhku untuk memeluknya dari samping. Refleks Sasuke-kun berhenti berjalan merasakan pelukanku. Aku mendongak menatapnya sambil tersenyum.

 

 

“Seharusnya kau istirahat saja, tidak usah menjemputku~” kataku yang hanya dibalaskan tatapan lembutnya. Juga tangannya yang mengusap dahiku.

 

“Hn. Sudah malam, wajar aku menjemputmu.”

 

“Tapi Sasuke-kun pasti masih lelah karena misi kemarin.”

 

“Hn. Tidak,” balasnya lagi segara melingkupi tanganku yang melingkari pinggangnya. Setelahnya aku merasa melayang ketika ia menggendongku ala bridal. Tanganku refleks melingkari lehernya. “Kita pulang. Kau sudah sangat dingin, Saki.”

 

 

Katanya yang hanya bisa membuatku tersenyum. Sasuke-kun…kau…benar-benar hangat.

.

.

.

Yah, siapapun tahu Sasuke-kun orang yang dingin. Namun hanya ketika bersamaku lah ia bisa menjadi pribadi yang hangat dan apa adanya.

 

Tapi itu cukup membuatku bahagia. Asal dia bahagia, aku sebagai istrinya juga bahagia. Terima kasih, Sasuke-kun.

 

 

“Ugh…S-sasuke-kun…ah~”

 

“Ghh…aku…mencintaimu, Sakurahh…”

 

“Ah…ahh…a-akuh…j-juga…ah~” dan desahanku semakin mengeras ketika miliknya terus menghujam titik kenikmatanku. Musim dingin ini memang sudah terasa hangat dengan adanya dia.

 

Dan juga…ditambah dengan kegiatan kami kali ini.

 

“Ugh…umhh…ahh~”

 

 

Yah, sedingin-dingin sikapnya dan dirinya. Dia tetaplah Sasuke-kun-ku. Suamiku tercinta. Dan aku sangat mencintainya.

.

.

.

END

.

.

.

Naruto©Masashi Kishimoto

 

Note : Yo! I’m here! Makasih untuk yang review di seri autumn kemarin.

Nah ini saya bawain yang seri winter. Maaf kalau OOC! Semoga suka🙂

 

Signed,

Fujimoto Yumi

One thought on “Love is Sweet-{Warm Winter}

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s