Love is Sweet-{Sweet Love Tears}


Bukan bagaimana ketika aku melihat dedaunan autumn terjatuh.

Tetapi ketika bagaimana aku melihat air mata gadis musim semiku.

Hatiku…begitu kaku.

Sakura…ku mohon jangan menangis lagi karenaku.

.

.

.

Love is Sweet

Sweet Love Tears

sasusaku-gomen

I own nothing except the Story

SasuSaku Fanfic.

Drabble/Ficlet Series dengan latar 4 musim.

Diawali dengan musim gugur.

Enjoy~

.

.

.

Semuanya sudah terlewat. Entah sejak kapan aku berani mengakuinya sebagai milikku. Gadis musim semi itu. Teman satu tim tujuhku. Haruno Sakura.

Aku tidak tahu mengapa akhirnya aku memutuskan memihak pada Konoha, kembali ke tanah kelahiranku yang beberapa tahun ini ku tinggalkan. Bahkan untuk sekedar meliriknya saja aku tak kepikiran.

Namun sekarang…ia milikku. Ya, milikku untuk membangun klan Uchiha.

Hn. Sudahlah. Membicarakannya hanya akan membuatku—

“Sasuke-kun? Kau sakit? Wajahmu merah.”

—memerah…hanya karena mengingat namanya. Menyebalkan memang.

“Hn,” aku menjawab sambil memalingkan wajahku. Ini benar-benar menyebalkan ketika orang yang kau cintai mendapatimu merona karena memikirkan orang itu.

Tangannya masih menangkup wajahku. Aku yakin wajahku sangat memalukan sekarang.

“Sasuke-kun ayolah~ kalau kau merasakan ada yang sakit katakan padaku~ aku khawatir tahu,” suaranya kembali terdengar membuatku menghela napas. Aku balik menatapnya, menatap mata emerald itu.

“Hn. Aku baik-baik saja,” balasku. Namun sepertinya ia masih ingin aku mengatakan yang lain.

“Sasuke-kun~”

“Aku baik-baik saja, Sakura. Jangan berlebihan,” kataku lagi membuat ia cemberut dan melepaskan tangannya.

Ah. Aku merasa kehilangan kehangatanku.

“Ya sudah. Aku mau pulang saja. Lebih baik melihat dedaunan autumn. Setidaknya lebih indah dan menyenangkan daripada tidak melakukan apapun di rumahmu,” katanya panjang lebar membuatku semakin menghela napas.

Tidak bisakah kau mengurangi kecerewetanmu itu, Calon Nyonya Uchiha?

“Berisik, Sakura.”

Kataku seraya berjalan ke arah sofa yang ada di rumahku. Ku lihat Sakura mendelik kemudian berbalik kasar. Menghentakkan kakinya. Hei, sejak kapan gadis yang merupakan murid didikan hokage kelima yang terkenal menyeramkan itu suka merajuk? Ck. Menyebalkan.

Namun yang mengalihkan perhatianku adalah…bahunya yang bergetar. Tidak. Jangan katakan lagi jika ia menangis? Demi Kami-sama, Sakura. Jangan menangis karenaku lagi.

“Sasuke-kun menyebalkan! Hiks,” teriaknya kemudian berlari meninggalkan rumahku.

Kami-sama. Kenapa seorang Sakura jadi semerepotkan ini? Hah.

‘PUFF’

.

.

.

Kenapa larinya cepat sekali? Grrr.

Mataku terus memicing mencari keberadaannya di bawah langit musim gugur ini. Ayolah Sakura, jangan seperti anak kecil. Jangan katakan kalau kau sedang bermain dengan daun-daun jatuh itu? Hah. Sebenarnya apa salah—

“UCHIHA MENYEBALKAAAAAAAAN!”

—ku sampai kau marah?

Berteriak sekeras itu di jalanan? Sakura, mereka akan mengatakan bahwa kekasihku adalah orang gila dan aku tidak mau.

“Ha-ru-no Sa-ku-ra,” aku sengaja memanggilnya begitu. Lihat. Ia bahkan berhenti memakiku dan berbalik.

‘DEG’

Dia…menangis?

“Huh,” ia memalingkan wajahnya, menghapus kasar air mata itu. Demi apapun, kenapa dia menangis lagi?

“Sakura…”

“Apa? Mau apa kau?” balasnya ketus membuat dahiku mengernyit. Ck. Sebenarnya ada apa dengan gadis ini?

“Hn,” aku membalasnya kemudian menarik tangannya, membawanya pergi.

Suara cempreng itu kembali terdengar membuatku ingin sekali menyumpal bibir itu. Ck. Diamlah, Sakura!

.

.

.

“Ish! Lepas Sasuke-kun!” Sakura memberontak ketika aku mendorongnya untuk masuk ke dalam rumahku. Demi Kami-sama, tidak bisakah gadis ini diam?

“Diamlah, Sakura.”

“NGGA! LEPASIIIIN!!!” teriaknya membuatku menarik tengkuknya dan menyumpal mulutnya dengan bibirku.

Aku melumat bibir ranum itu, membuat Sakura terdiam. Memukul-pukul dadaku agar menjauh, namun aku tidak peduli. Tanganku menarik pinggangnya, seraya merasakan hawa musim gugur yang berhembus, meresapi rasa bibir Sakura yang benar-benar manis.

“Mmpphh!!” Sakura menggumam dalam ciumanku. Aku tidak peduli dan terus memperdalam kecupan itu. Sampai akhirnya Sakura mengarahkan seluruh kekuatannya untuk membuatku menjauh.

Tatapanku menajam menatap emeraldnya. Sakura yang biasanya akan takut kini justru balas menantangku, membalas tatapanku. Alisku mengernyit, ekspresi Sakura mengeras. Sebenarnya…ada apa dengan gadis ini?

“Aku benci Sasuke-kun! Hiks…” ck. Menangis lagi? Tidak bisakah kau tidak menangis Sakura?

“Aku benciiii! Sasuke-kun jahat! Dari dulu selalu mengabaikanku. Bahkan sampai sekarang, saat aku sudah menjadi kekasih Sasuke-kun, Sasuke-kun tetap tidak peduli padaku! Sasuke-kun no baka! Aku benci Sasuke-kun! Hiksss?!” serunya membuat tubuhku menenang.

Tidak Sakura…maafkan aku. Aku hanya tidak terbiasa untuk…melakukan hal-hal yang tidak penting. Seperti keinginanmu itu. Untuk menonton drama, berjalan di bawah guyuran daun musim gugur, atau melakukan apapun yang katamu dilakukan oleh para pasangan. Demi Kami-sama itu terdengar tidak menarik—menurutku.

“Lalu kalau akhirnya Sasuke-kun tetap mengabaikanku, kenapa Sasuke-kun mengklaimku? Hiks…kenapa?”

Dia masih menangis. Gadisku…dan lagi-lagi karena aku.

Hah.

Aku berjalan mendekatinya dan menariknya lembut ke dalam dekapanku, menyadarkan kepala bersurai merah muda di dadaku. Maafkan aku, Sakura.

“Kenapa…? Hiks…apa Sasuke-kun tidak pernah bahagia bersamaku? Apa aku membosankan?”

Tsk! Kenapa jadi dramatis seperti ini?

Aku memeluknya semakin erat. Menyembunyikan wajahku di lehernya. Menghirup aroma yang membuatku mabuk dan selalu ketagihan akan kehadirannya.

“Jangan bodoh, Sakura. Hanya kau yang ku inginkan,” balasku tenang.

Ia berusaha melepas pelukanku. Tapi aku mengeratkannya dan terus menariknya mendekat.

“Lalu kenapa selalu mengabaikanku?”

“Hn. Kau yang bilang begitu.”

“Tapi kenyataannya Sasuke-kun memang selalu mengabaikanku!” serunya lagi seraya mendorong tubuhku.

Aku tetap menariknya dan meletakkan kepalaku di atas kepalanya. “Hn, tidak. Percaya diri sekali.”

“L-lalu…kenapa? Hiks…tidak pernah mau—“

“Hn. Itu bukan hal menarik yang bisa kita lakukan, Sakura.”

‘Sret’

Sakura melepas paksa pelukanku. Aku menatapnya tajam lagi.

“Kau ini kenapa, sih?” aku kesal. Sungguh. Gadis ini benar-benar.

Sakura memalingkan wajahnya dan melipat tangannya di dada. “S-sasuke-kun menghina keinginanku.”

Alisku bertaut. Tsk. Sakura, tidak bisakah kau berpikir lebih lagi? “Hn. Tidak.”

“Iya! Buktinya tadi Sasuke-kun bilang itu tidak menarik!”

Aku menghela napas, lalu menangkup kedua pipinya. “Memang. Tapi kita bisa mencari kegiatan lain selain itu.”

Alis terangkat, entah kenapa aku malah berpikir yang aneh-aneh. Tsk. Ini bicara soal cinta kan? Masa bodoh. Aku menyeringai menatapnya. Apalagi ketika mendengar pertanyaannya.

“Contohnya?”

Aku semakin menyeringai, kemudian mendekatkan bibirku ke arah telinganya. “Bercinta.”

‘Brak’

“SAKURA!”

.

.

.

“Sasuke-kun maafkan aku~” cicitnya masih sambil mengobatiku. Hah. Ini salahmu, Haruno. Kau memukulku dan membuatku seperti ini. Reaksimu berlebihan.

“Hn.”

“Sasuke-kun~”

“Berisik, Sakura. Dan sakit.”

“Eh? G-gomen. Aku terlalu keras ya?”

“Iya.”

“Hiks…maaf…”

Kami-sama. Kenapa dia malah menangis lagi?

“Tolong jangan menangis, Sakura. Aku tidak apa-apa,” balasku dan menariknya ke dalam pelukanku. Seburuk apapun gadis ini, dia ada pilihanku. Walau harus mendapatkan memar hanya karena menggodanya. Itu memang salahku juga. Tsk. Menyebalkan.

“Tapi Sasuke-kun marah padaku~”

“Hn. Tidak. Sudahlah jangan menangis.”

“Hiks…i-iya.”

Aku memeluknya semakin erat di sofa rumahku. Tangisnya sudah berhenti, dan tidak ada percakapan sedikitpun di antara kami. Bagus. Tenang itu lebih baik, Sakura.

“S-sasuke-kun?”

Aku memutar bola mata malas, membalas panggilannya dengan malas juga. “Hn?”

“Benar kan tidak marah?”

“Hn.”

“Sasuke-kun~”

“Dengar, Sakura. Bagaimana jika kita menikah nanti dan kau memukulku seperti tadi hanya karena itu? Tsk. Kau ini benar-benar menyebalkan,” kataku membuat Sakura terdiam. Ia melepas pelukanku dan duduk menghadap ke arahku.

Tangannya dimainkan sedemikian rupa. Wajahnya merona merah. Hhh…manis sekali.

“Itu…tidak akan t-terjadi kok…”

Aku menautkan alis menatapnya. Tingkahnya seperti ini seperti anak kucing yang membutuhkan kasih sayang majikannya.

“Hn.”

“Jadi tadi Sasuke-kun melamarku?”

Aku tersentak. Cepat-cepat melihatnya yang menunduk malu, kemudian menyeringai. Mengambil tengkuknya mendekat ke arahku, dan membuatnya duduk di pangkuanku. Sepertinya setelah ini aku tidak perlu melamarnya lagi, kan?

“Hn…bisa dibilang begitu,” kataku dan mencium bibirnya. Bukankah masalah cincin itu mudah? Kalian sendiri tahu kalau seorang Uchiha tidak mau melakukan hal yang menjatuhkan harga dirinya, kan?

“Ummhh…” gezzz! Berhenti mendesah atau kau akan berakhir di ranjang, Sakura.

Aku melepas ciumanku, dan menatapnya yang tengah menatapku. Dengan air mata lagi. Tapi kini aku yakin itu air mata kebahagian. Aku mempertemukan dahi kami, berbisik padanya. Mungkin untuk pertama kalinya—”Aishiteru, Sakura.”

Dan senyuman yang begitu manis ku dapatkan. Hhh…aku…memang tidak salah memilih. “Watashi mo, Sasuke-kun. Aishiteru yo~”

Dan aku menutup hari ini dengan mendaratkan kecupan lagi di bibir manisnya. Yah, ku akui, secerewet apapun gadisku ini…hanya dialah yang ku pilih.

.

.

.

OWARI

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

 

Note : Yo! Ketemu lagi dengan saya. Sebelumnya saya terima kasih untuk yang sudah review fic saya yang berjudul ‘Just to Asking You’ dan sekuelnya ‘Gezzz!’

Nah terus saya bawa fic series ini. Menurut kalian gimana? Mau di keep atau delete?

Review yo~ Sankyu~

 

Signed,

Fujimoto Yumi

One thought on “Love is Sweet-{Sweet Love Tears}

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s