Hot Summer


Hot Summer

 Summer-Wallpaper

This story belongs to Umu Humairo Cho, 2013

Kim Myungsoo, Lee Sungyeol

Are belong to each other

Infinite member

Are belong to God and themselves

Genre : Romance, Fluffy

Rating : M

Length : Ficlet – Series

Summary :

Orang bilang summer itu menyebalkan. And yeah, this is a little annoying summer.

But, do you know that, may be everyone know that summer is hot.

Yeah you’re right! This is a hot summer for me. –Sungyeol

And in this summer, let me take you to be my whole life. Do you? –Myungsoo

Warning :

Yaoi, BoysLove, BoyXBoy, Shonen-ai, OOC! A lil bit Mature Content.

A/N :

Dan ini adalah series terakhir dengan latar musim panas.

Hope you like it. Don’t read if you unlike, okay?

Leave the feedback after reading, ne? Don’t be a silent reader.

Thank you and enjoy reading^^

.

.

.

A MyungYeol Fanfiction

Hot Summer

By Umu Humairo Cho

.

.

.

Summer. Musim itu sudah datang. Musim yang bagi orang-orang musim yang menyebalkan karena panasnya benar-benar sampai ke kulit. Tapi bukankah di musim panas ini kita bisa sedikit bersantai?

Huh? Musim libur di musim panas. Bukankah itu menyenangkan?

“Kita akan benar-benar berlibur ke Jeju, hyung?” tanya Sungjong pada Sunggyu yang hanya dibalaskan anggukan. Magnae Infinite itu segera memasuki kamarnya dan berberes. Diikuti yang lainnya dengan melakukan hal yang sama.

Sungyeol memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper. Tak jarang, ia juga ikut membantu Myungsoo memasukkan baju namja itu. Baju namja penyuka hitam itu benar-benar membuatnya matanya jengah. Hei! Apa yang menarik dengan warna hitam?

Sungyeol mendengus ketika lagi-lagi warna baju itu hitam. Ia ingin sekali membuang semua baju kekasihnya yang berhubungan dengan hitam lalu membelikannya dengan sedikit variasi warna, kalau saja Myungsoo tidak langsung menerjangnya, Sungyeol pasti akan dengan sangat senang hati melakukan itu.

“Sebegitu kesalnya pada warna hitam, hyung?” ujar Myungsoo membuat Sungyeol melirik sekilas kekasihnya. Sungyeol mendengus dan memasukkan sedikit kasar t-shirt hitam milik namja tampan itu.

“Beli baju tuh ya warna lain. Apa yang menarik dengan hitam, huh?” balas Sungyeol sedikit memajukan bibirnya membuat Myungsoo terkekeh.

“Hitam itu netral, Yeol. Jika kau mengenakan pakaian dengan warna apapun, warna hitamku akan selalu menyatu dengan warna baju yang kau kenakan. Got it?” jawab Myungsoo membuat aktifitas Sungyeol terhenti selama beberapa detik.

Wajahnya memerah sempurna kemudian dengan cepat memasukkan baju kekasihnya ke dalam tas. “Berhenti merayuku! Kau sudah seperti Woohyun hyung tahu!” omel Sungyeol yang hanya Myungsoo balaskan dengan kekehan.

Tangannya terangkat dan mengelus rambut lembut kesukaannya. “Just for you, hyung.”

Dan yeah, lagi-lagi itu sukses membuat Sungyeol merona merah yang kemudian langsung memeluk Myungsoo, menyembunyikan wajahnya dari namja itu. “Idiot.”

“I know.”

“But I love you.”

“I do more than you know.”

“Aish…” dan Sungyeol semakin menyembunyikan wajahnya di sana. Dengan kehangatan yang Myungsoo salurkan melalui lengannya yang memeluk tumbuh Sungyeol erat.

.

.

.

Infinite sampai di Jeju Island. Mereka begitu senang karena bisa mendapatkan liburan dan berkesempatan berada di Jeju untuk menghabiskan waktu luang mereka.

Woohyun dan Dongwoo sudah berbaur dengan laut setelah meletakkan koper mereka di hotel. Yang lainnya pun melakukan hal yang sama. Myungsoo dan Sungyeol di belakang yang lainnya hanya tersenyum seraya bergandengan tangan. Yeah, tidak peduli jika ada kamera yang menangkap mereka.

“Mereka sangat senang, Myung!” seru Sungyeol kepada kekasihnya. Myungsoo mengangguk sekilas dan tersenyum kecil.

“Yeah. Persis anak kecil.”

“Aish! Kau juga masih bocah!” balas Sungyeol membuat Myungsoo terkekeh.

“Yeah. Tapi setidaknya aku tak seidiot Woohyun hyung.”

“Jika dia dengar maka akan berisik. Dasar.”

“Biarkan saja.”

“Haish! Lebih baik kita ikut bergabung! Kajjaaaaa!” sorak Sungyeol menarik tangan Myungsoo yang mau tak mau, namja itu pun mengikuti langkah kekasihnya. Bermain dengan pasir pantai dan angin laut yang memabukkan.

.

.

.

Sungyeol bermain sendiri dengan pasir. Tidak berniat bergabung dengan yang lainnya. Myungsoo sendiri di tempatnya hanya sesekali memotret kekasihnya. Lalu ketika Sungyeol berbalik, ia mendapati semua teman segrupnya, termasuk sang kekasih duduk di sebuah kursi pantai yang menghadap ke laut.

Sungyeol cemberut, ia menghitung kursi itu hanya berjumlah enam. Alisnya bertaut, kemudian ia berdiri di antara teman-temannya. Lalu berseru. “Yaaa! Kenapa curang sekali?! Aku bahkan tidak mendapatkan kursi!”

Member lain hanya memeletkan lidah. Sampai akhirnya Dongwoo menyahuti. “Yeah. Minta pangku L saja, tuh,” katanya melirik Myungsoo di sampingnya dengan kamera di tangannya. Sungyeol mengernyit, sebenarnya wajahnya hampir memerah namun segera ia atasi.

Myungsoo yang mengerti itu segera bangkit dari kursinya dan menatapnya Sungyeol. “Duduklah, hyung.”

“Huh? Lalu bagaimana denganmu?”

“No prob. Bukan masalah besar. Aku ingin keliling mengambil gambar.”

“Aku ikut.”

“No. Cukup nikmati saja berjemurnya.”

“Aish! Pelit sekali.”

“Yeah. Jangan ke mana-mana dan diam di situ.”

Dan Sungyeol hanya cemberut menuruti kekasihnya. Ia duduk di bangku pantai yang tadi ditempati Myungsoo. Memandang punggung sang kekasih yang semakin menjauh sambil sesekali mengambil potret di pantai Jeju itu.

.

.

.

“Yaaaa! Cepat lempar bolanyaaaaa!” teriak Sungyeol ketika mereka bermain bola pantai. Myungsoo yang sudah kembali berkeliling memotret keindahan Jeju itu hanya mengawasi kekasihnya sambil sesekali memotret kegiatan itu.

Sampai sebuah suara membuatnya menatap orang itu. “Jangan hanya memotret Sungyeol. Potret yang lainnya juga, dong!” ujar Dongwoo yang Myungsoo balas dengan leletan.

“Terserah aku dong, hyung.”

“Aish! Pelit sekali kau, L. Aku tahu, di kameramu itu lebih banyak foto Sungyeol dibanding yang lain.”

“Yeah. You know it well,” balas Myungsoo sekilas kemudian kembali memotret Sungyeol, yang bahkan kini tengah berjalan ke arah mereka.

“Myung, pinjam kameranya!” seru Sungyeol ketika sampai di depan kekasihnya sambil mengulurkan tangannya. Myungsoo hanya mengernyitkan alisnya lalu menggeleng.

“Yaaa! Jangan pelit! Aku hanya pinjam sebentar.”

“Tidak.”

“Aish! Myungsoo-yaaaaaaa~”

“Tidak.”

“Pelit. Menyebalkan. Aish! Kalau begitu~ Dongwoo hyung! Tolong fotokan kami, ne?” ucap Sungyeol pada Myungsoo kemudian beralih pada Dongwoo.

Dongwoo hanya menautkan alis kemudian melihat Sungyeol yang mengambil paksa kamera Myungsoo dan memberikannya kepada Dongwoo.

“Ambilkan foto kami berdua, ya, hyung!”

“Okay…” Dongwoo mendekatkan matanya ke arah view finder di kamera itu. Tersenyum kecil ketika melihat Sungyeol mengait lengan Myungsoo yang hanya menunjukkan seringaian kecil. “Okay…satu…dua…tiga…”

‘Cup’

‘Jepret’

Suara kamera itu berbunyi diiringi kecupan Sungyeol pada pipi Myungsoo membuat namja tampan itu menoleh dan menatap kekasihnya dengan alis bertaut. Sungyeol hanya memeletkan lidah kemudian kembali menatap kamera.

Ketika Dongwoo sudah akan mengambil gambar mereka, Sungyeol beralih ke arah Myungsoo kemudian mengambil wajah itu untuk menatapnya, lalu menarik leher Myungsoo membuat kedua bibir mereka bertemu.

‘Jepret’

Dan suara kamera kembali berbunyi. Myungsoo kaget bukan main. Ia menatap Sungyeol dengan alis yang semakin bertaut. Namun Sungyeol hanya membalasnya dengan senyuman, kemudian namja cantik itu berlari meninggalkan keduanya membuat Myungsoo mengernyit. Ada apa dengan kekasihnya itu?

“Nih…” Dongwoo memberikan kamera Myungsoo kembali yang langsung namja tampan itu terima. Kemudian Myungsoo melihat hasil jepretan Dongwoo, dan seketika senyuman hadir di bibirnya.

Ia kembali mendekatkan matanya pada view finder untuk menangkap aktifitas sang kekasih. Kemudian kembali mencuri gambar namja yang lebih tua satu tahun di atasnya. Sudah banyak gambar dari namja itu yang Myungsoo dapat. Ia hanya tersenyum lalu membuka lagi foto-foto hasil jepretannya.

“Myungie! Lihat dong yang tadi!” seru Sungyeol yang tiba-tiba ada di depan Myungsoo. Namja bermata tajam itu hanya melirik sekilas kekasihnya lalu mendengus membuat Sungyeol menggeram.

“Aku hanya mau lihat hasilnya, pabo! Pelit sekali sih.”

“Biar nanti aku yang cetakkan. Tidak usah dilihat.”

“Aish! Tidak perlu dicetak. Aku hanya ingin melihatnya, Myungsoo jelek.”

“Hn…”

“Ya!” Sungyeol berseru ketika Myungsoo siap meninggalkannya. Kemudian namja cantik itu mengambil paksa kamera Myungsoo membuat namja tampan itu melotot. Ia bersiap akan mengejar Sungyeol kalau saja manager mereka tidak memanggilnya.

“Myungsoo cepat!”

“Aish tapi hyung—“

“Hanya sebentar!”

“Aish!” dan mau tak mau Myungsoo langsung menghampiri sang manager, dengan sesekali melihat ke arah Sungyeol yang sudah mengutak-atik kamera miliknya. Dan Dongwoo yang sedaritadi memperhatikan mereka hanya tertawa.

Yah, setidaknya ia tahu sedikit apa isi kamera si visual Infinite itu.

.

.

.

Sungyeol langsung menerjang Myungsoo dan melemparkan kamera kekasihnya ke arah Dongwoo yang langsung namja itu tangkap. Mata Sungyeol berkaca-kaca. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Myungsoo. Myungsoo yang tidak tahu apa-apa hanya memeluk balik sang kekasih.

“Hiks…pabo…” lirihnya mengeratkan pelukannya pada tubuh namja tampan itu. Myungsoo mengusapkan tangannya pada punggung Sungyeol.

“What happened?” tanya Myungsoo lembut membuat Sungyeol melepas pelukannya dan memeluk pelan dada namja itu membuat Myungsoo mengernyit.

“Siapa yang mengajarimu mencuri gambar seseorang, eoh? Akan lebih baik jika aku menatap ke kamera daripada diambil diam-diam begitu? Hiks…kau menyebalkan sekali, sih!” omel Sungyeol yang hanya Myungsoo tanggapi dengan senyuman.

“Aku tidak mengizinkanmu mengambil gambarku diam-diam lagi!”

“Foro candit itu lebih bagus daripada kau melihat ke arah kamera.”

“Ya! Kau mau bilang aku jelek jika aku melihat ke arah kameramu?”

“Bukan begitu.”

“Pokoknya kau tidak ku bolehkan mengambil gambarku diam-diam lagi. Awas saja kalau aku sampai tahu!”

“Hn…”

“Ya!”

“Kau objekku dan sampai kapanpun aku tidak akan menemukan objek lain yang lebih menarik darimu. Jadi diam saja dan jangan protes.”

“Tapi…”

“You better silent now, Yeol. Or I’ll keep your words with my French kiss here, huh?” ujar Myungsoo menatap penuh arti Sungyeol yang langsung namja itu balas dengan pukulan di kepala Myungsoo.

Myungsoo hanya terkekeh kemudian mengecup pelan bibir Sungyeol. “I love you. And I can never look at anyone else though it has on my camera lens.”

“Pabo…” bisik Sungyeol mengalungkan tangannya pada leher Myungsoo dan mencium bibir namja bermata tajam itu sekilas. “…I love you too.”

Dan yeah, keduanya kembali menautkan bibir mereka di depan hamparan air laut yang berlomba untuk sampai ke darat. Dengan member Infinite lainnya yang hanya terkekeh melihat mereka. Ciuman di antara mereka pun semakin panas dengan cuaca yang panas juga. Sampai akhirnya Dongwoo menyeletuk membuat ciuman di antara MyungYeol couple itu terlepas.

“Lebih baik kalian cari tempat yang lebih aman, deh!”

“Shut up, hyung!”

“Hahaha…”

“Aish!”

“Sukses buat kalian, ya!”

“Mwoya! Awas kau Jang Dongwoo!”

“Hahahahaha I’m kidding, Yeol.”

“Aish.”

“Sudahlah ayo,” dan ucapan serta tarikan tangan Myungsoo membuat Sungyeol beralih pada namja tampan itu. “We better go to hotel now.”

“W-what? Y-you mean…”

“Yeah. This is so hot summer, huh? And we need to do a hot activity too in our bed,” balas Myungsoo dengan suara beratnya membuat mata Sungyeol membulat lucu.

“E-eoh?”

.

.

.

Mata Sungyeol seolah berkunang ketika namja di atasnya terus menekan titik kenikmatannya membuat genggamannya pada seprai mengerat. Myungsoo melakukannya dengan lembut membuat Sungyeol seolah terbang ke langit ke tujuh.

Bibir namja tampan itu bermain di sekitar dada Sungyeol membuat banyak lenguhan lolos dari bibir namja choding Infinite yang terus saja meneriakkan nama Myungsoo, membuat Myungsoo begitu bersemangat mendorong kuat little Kimnya.

“Ugh…M-myungie…” desah Sungyeol kemudian menaruh tangannya di leher Myungsoo, mengambil leher namja itu agar mendekat dan untuk menyatukan bibir mereka. Sungyeol berusaha mengalihkan sedikit rasa sakit yang ia rasakan walau sepenuhnya dikuasai oleh kenikmatan yang tiada terkira.

“Ah! Eumhh! No…you get…faster than…before…ugh! Ah?!” desahan Sungyeol lagi-lagi terdengar, ia berbicara di antara desahannya yang membuat Myungsoo tersenyum kemudian mengecup kening sang kekasih.

Myungsoo mempercepat gerakannya membuat Sungyeol mengejang. “Aah! Eungh…M-myungie…pleasehhh…aahhh…” Sungyeol tidak bisa menahannya. Ia benar-benar serasa melayang. Permainan Myungsoo yang begitu lembut sangat memabukkannya.

Dan kemudian, perkataan Myungsoo membuat ia terkaget lucu seraya sedikit mendesah. “Marry me, hyung?

“Aaah…w-what…do youhhh—Oh! Don’t teasehh meeh, Myungieh…ah!” Sungyeol masih tidak bisa berpikir jernih. Ia hanya bisa merasakan bahwa Myungsoo masih saja menekan titik kenikmatannya. Sampai, gerakan Myungsoo pun melambat.

“Marry me, hyung…”

“Ugh…are you…eungh!”

“I’m serious. Marry me, Yeol?”

“Ugh…I’m gonna marry you but…pleasehh don’t tease, me, Myunghhh…” jawab Sungyeol menggerakkan tubuhnya membuat Myungsoo kembali melanjutkan pekerjaan dengan tempo yang sama. Membuat cairan kenikmatan Sungyeol pun melesak keluar.

“Ah…M-myung…”

“Saranghae, Yeol…”

“N-nadohh…oh! Ah!”

.

.

.

Sungyeol merentangkan tangannya merasakan cahaya mentari yang seolah mengetuk kelopak matanya agar terbuka. Ia memeluk erat seprai lembut yang begitu membuatnya nyaman. Sampai akhirnya ia terpaksa membuka matanya memperlihat obsidian yang bagi Myungsoo sangat indah.

Dan hari ini…ia terbangun di musim panas sebagai seorang…istri. Benarkah?

Mata melirik ke arah sampingnya yang terdapat Myungsoo –sang suami yang masih bergelut mesra dengan selimut mereka. Sungyeol menumpukkan tangannya pada dada bidang Myungsoo dan menyusuri wajah tampan itu dengan jarinya.

Wajahnya mendekat dan mengecup sekilas bibir namja tampan itu. Kemudian berbisik lembut bermaksud untuk membangunkan seseorang yang sudah dua minggu ini menjadi suaminya.

“Myung…cepat bangun. Ini sudah sangat siang,” ucap Sungyeol pada Myungsoo yang tidak dibalas apapun. Bergerak pun tidak. Alis Sungyeol bertaut kesal, kemudian ia menjawil hidung namja tampan itu dan tetap tidak mendapat balasan.

“Ya! Cepat bangun atau jatah makanmu ku kurangi!”

“…”

“Aish!” Sungyeol menyingkap sedikit selimut yang menutup bagian atas Myungsoo membuat pipinya sedikit memerah. “Ugh…kalau kau tidak bangun jangan harap bisa menyentuhku selama seminggu.”

“What?” dan Myungsoo langsung mengerang ketika mendengar Sungyeol berbicara seperti itu. Apa dia tidak salah dengan barusan? Tidak boleh menyentuh Sungyeol yang notabene-nya adalah istri sahnya selama seminggu?

Sungyeol pasti sudah gila, pikir Myungsoo.

Myungsoo menghalau cahaya mentari yang seolah menyentuh wajahnya, kemudian bergumam membuat Sungyeol memukulnya dengan bantal.

“Cepat bangun! Aku tidak mau punya suami pemalas!” katanya kemudian siap bangkit dari tempatnya, namun langkahnya terhenti ketika Myungsoo menariknya. “Apa?”

“My morning kiss?”

“Mwo? Aish!” Sungyeol mendengus kemudian mengecup sekilas bibir Myungsoo. “Sudah kan?”

“Apa itu?” balas Myungsoo membuat mata Sungyeol melotot.

“Ya! Itu tadi…”

“Yang namanya morning kiss itu seperti ini…” kata Myungsoo kemudian menarik leher Sungyeol membuat bibir mereka saling bertabrakan. Saling melumat satu sama lain sampai akhirnya tangan Myungsoo ikut menjalar mengusap pinggang Sungyeol membuat namja cantik itu melenguh.

Sungyeol melepas ciuman di antara mereka. “Stop it, Myung. Ini masih terlalu pagi untuk…”

“Apa salahnya kita melakukan morning sex, huh?” Myungsoo sedikit menurunkan volume suaranya membuat Sungyeol memerah.

“J-jangan mesum pagi-pagi! Dasar. Lebih baik kau mandi karena kita…”

“No. You know that we are a new pride, huh? And we better do this till we get the result, aren’t we?”

“Eoh? Ya! Kim Myungsoo ini musim panas dan kau…”

“Yeah. Setidaknya hot summer ini semakin panas dengan kegiatan kita.”

“T-tapi…ya! Kim Myungsoo! Ugh…”

And yeah, biar saja mereka melewat summer selanjutnya ini sebagai suami istri yang sah. Tidak peduli dengan suara yang akan mereka timbulkan di pagi itu. Dan member Infinite di meja makan hanya bisa menggeleng sambil tersenyum kecil mendengar percakapan kotor sepasang suami istri itu.

“Mesum. Tapi mereka manis,” komentar Sunggyu sambil mengaduk serealnya.

“Yeah. Bahkan non shipper pun berpikir begitu.”

“Mereka berbeda. And yeah, no one can be like them. Even though we do too…”

“Setuju hyung.”

“Yeah. Sekalipun kalian tidak bisa seperti MyungYeol hyung, but, kalian punya hal berbeda yang membuat kalian terlihat manis juga kok. Be yourself, hyungdeul,” ujar Sungjong kemudian membuat para hyungnya hanya tersenyum.

“Yeah, you’re right, magnae.”

“Hm…”

.

.

.

Orang bilang summer itu menyebalkan. And yeah, this is a little annoying summer.

But, do you know that, may be everyone know that summer is hot.

Yeah you’re right! This is a hot summer for me. –Sungyeol

 

And in this summer, let me take you to be my whole life. Do you? –Myungsoo

.

.

.

THE END

.

.

.

Note : And yes! It was a last series. The summer! Hope you like it.

Wanna given me comment? Thank you J

 

Loved,

Umu Humairo Cho

One thought on “Hot Summer

  1. Aduh ini ff lucu banget /? Kok aku ngerasa manis banget ya malah bukan Hot wkakaak duh banyakan ff myungyeol atau Infinite yang lainnya yakk wkwkwk xD authoauthor jjang!! 👍👍

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s