Tell Me ~Chapter 4


Tell Me

 SONY DSC

This story belongs to me

Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Super Junior

Are belongs to God and themselves

Genre :

A little bit of Romance, Hurt/Comfort, Angst, A little bit of Fluffy

Rating : Teen

Length : 4 of ?

Summary :

Aku tidak tahu ada apa. Aku tidak tahu mengapa.

Tapi satu hal yang aku ingin, beritahu aku apa salahku?

Mengapa kau sangat membenciku? Bisakah kau ceritakan kepadaku?

Bisakah?

Warning :

Yaoi, BL, BoyXBoys, Shonen-ai. OOC! AU!

A/N :

If you don’t like, just don’t read.

Just click back if you don’t wanna read it.

I’ve warn you before you take an action.

But, if you read this, leave the feedback, please?

Thank you and enJOY to reading^^

.

.

.

A KyuMin Fanfiction

Tell Me

By Umu Humairo Cho

.

.

.

Chapter sebelumnya—

.

.

‘Kriiiiing’

Suara email masuk itu membuatku langsung melihatnya. Ah, semoga aku bisa lebih ten—ang!

Tunggu! Ini siapa? Aku…seperti pernah mendengarnya?

.

.

.

Threebearsfriend at gmail dot com

 

 

Sungmin-ah, sudahkah kau mencoba mengingat siapa dia dan dirimu? Jangan menyiksa dirimu jika kau tidak sanggup. Terkadang orang itu memang menyebalkan dan sesukanya. Padahal, ia berjanji untuk menjagamu apapun yang terjadi.

 

Jika ingat dulu, kami berdua begitu menginginkanmu, tapi mengetahui kau hanya menginginkannya, maka aku mundur dan memilih bersama seseorang yang sekarang ada di sampingku.

 

Dia begitu mencintaimu makanya dia begitu membencimu ketika kau tidak mengenalnya dan melupakan satu janji yang kau ucapkan sebelum pergi. Kau akan menemuinya jika kembali. Tapi ketika kau kembali, kau justru menjadi orang lain. Kau melupakannya dan mulai menyukainya sebagai orang baru.

 

Aku tidak tahu bagaimana tapi aku bingung harus menghadapinya. Kalian berdua adalah sahabatku. Lalu siapakah yang harus aku bantu? Kau? Atau dia?

 

Dirimu yang begitu membutuhkan ingatan atau dia yang seharusnya membuang egonya?

 

Ku mohon teruslah berusaha jika kau bisa. Aku yakin, semuanya akan baik pada akhirnya. Tetaplah semangat, Lee Sungmin. Aku, dan kekasihku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan dirinya.

 

Fighting, Minnie-ya!

 

 

Your handsome bears.

CS

.

.

.

Dan tanda tanya di kepalaku semakin besar. Tuhan…siapa lagi…?

.

.

.

Chapter 4

.

.

.

Author’s POV

.

.

Sungmin membawa dirinya berbaring di ranjang pink miliknya. Matanya menatap langit-langit penuh tanya. Setelah membaca email itu, ia semakin tidak mengerti. Three bears friend? Handsome bear? Heyo~ siapakah dia? Bahkan Sungmin merasa aneh. Sejujurnya ia pun bingung.

Ia merasa tahu siapa orang itu. Tapi ia tidak bisa mengingat dengan jelas siapa. CS? Mungkinkah—Choi Siwon? Tapi apa mungkin?

Sungmin mengusap frustasi wajahnya. Ia menggeram sambil menjambak rambutnya.

“Ingat, Sungmin, ingaaaaat!! Kau hanya perlu mengingatnyaaa!!! Aish!!” Sungmin mengumpat dirinya sendiri. Mengapa sulit sekali mengingat masa lalu yang berhubungan dengan Kyuhyun? Apa yang salah di sini?

“Haaah! Tuhan! Aku pusiiiiing!!” lagi-lagi Sungmin meneriakkan keresahannya. Ia melirik figura foto di meja di samping tempat tidurnya. Tersenyum. “Setidaknya, ada potret dirimu yang masih ku miliki, Kyu.”

.

.

.

Angin semilir berhembus dami. Helai rambut dan dedaunan pun tersapu udara sejuk itu. Ranting-ranting pohon bergesekan, matanya terpejam erat menikmati cuaca hari ini. Di telinganya terpasang earphone yang melantunkan lagu-lagu kesayangan. Kyuhyun, ia menutup matanya ketika sesuatu tiba-tiba datang dari ingatannya.

.

.

Ne, Kyuuu~ coba lihat kupu-kupunyaaa~ hihihi lucu sekali, ‘kan?” suara itu berceloteh riang ke arahnya. Ia sendiri hanya tersenyum menanggapi.

“Kkkk~ Kyunnieeee~ coba lihat, coba lihaaaat! Kepompongnya juga sudah akan berubah menjadi kupu-kupu yang indaaah!!” lagi. Dan ia hanya tersenyum.

Sosok itu berlari ke sana dan ke sini dengan gembira. Lalu ia? Hanya bisa memperingatkan seseorang yang sangat ia cintai itu sesekali.

Ne, Ming~ nanti kau terjatuh kalau berlarian begitu~ Pelan-pelan, eoh?”

Ne, ne, neee! Kyunnie~”

.

.

“…Kyunnie? Kyuhyunnie?”

Reflek Kyuhyun membuka matanya, dan di depannya seorang lain tengah membungkuk dengan posisi wajah yang sejajar persis di depan mukanya. Langsung saja Kyuhyun membuang muka ke arah samping sambil berucap sinis. “Apa? Mengapa pula kau ada di sini?”

Sungmin hanya tersenyum, lalu mengambil tempat beberapa meter di depan Kyuhyun. Terduduk bersila dengan senyuman yang masih mengembang.

Ne, Kyu~ Minnie bawa makanan, loh~ Mau tidak?” Sungmin berucap sambil mengeluarkan kotak bekal dari tasnya. Mengambil satu yang ada di dalamnya lalu menyodorkannya ke arah Kyuhyun. “Cha! Makanlah, Kyunnie.”

“Aku tidak lapar. Aku pergi!” Kyuhyun beranjak dari tempatnya. Namun suara Sungmin menahannya.

“Tunggu! Ku mohon berikan aku sekali saja waktu bersamamu. Pleaseeee? (˘ʃƪ˘)“ Sungmin mengatupkan tangannya memohon. Dan hal tersebut membuat Kyuhyun menahan nafas. Seolah tercekat.

“Aku banyak urusan.”

“Aku serius, Kyunnie~ aku sudah menemukan beberapa hal dari masa laluku. J-jadi…aku harap dengan bersamamu barang sebentar saja bisa membuatku mengingat semuanya. Ne?”

“Tidak.”

Pleeeaaasseeeeee? (˘ʃƪ˘)”

“Jangan pasang tampang seperti itu.”

Eoh? Mwo? Waeyo?

“Sudah turuti saja.”

“Tapi Kyunnie akan tinggal di sini sementara kan? Untuk membantu Minnie?”

“Hm.”

Ambigu memang. Namun Sungmin mengerti. Itu artinya namja yang dicintainya ini bersedia untuk berada di sini lebih lama. Sungmin tidak henti-hentinya tersenyum. Ia mengambil tempat lebih dekat dengan Kyuhyun. Dan ia berharap semuanya akan berjalan dengan baik.

.

.

.

Wajah itu memang menunjukkan raut kesal. Namun entah mengapa Sungmin merasa bahwa namja yang ia cintai kini memancarkan aura bahagia. Geer? Sungmin tahu itu. Tapi kenyataannya, perasaannya seolah disambut baik oleh Kyuhyun.

Kyuhyun masih bersandar di batang pohon ek dengan earphone di kedua telinganya. Mengabaikan Sungmin yang tengah memperhatikannya sejak tadi. Ia tidak terlalu peduli soal itu. Yang penting ia tenang. Itu saja.

Bersama Sungmin saat ini entah mengapa mengingatkan dia pada masa lalu di mana dirinya dengan namja di depannya ini masih bersama. Namun apa daya? Memaksa namja itu mengingatnya, membencinya hanya karena hal ini?

Sejujurnya itu bukanlah kemauan hatinya.

Tapi rasa sakit dan kecewa itulah yang membuat dirinya egois. Ia tahu itu. Dan ia sangat yakin.

“Kyu?” panggil suara itu. Kyuhyun masih mengabaikannya. Walau ia memakai earphone, ia masih bisa mendengar suara itu.

“Kyunnie~” panggil suara itu lagi. Dengan kesal Kyuhyun membuka matanya dan memasang tampang tajam namun, hal itu tidak berlangsung lama ketika namja di depannya menunjukkan sesuatu yang pernah menghubungan mereka di masa lalu.

“Lihat ini! Minnie menemukannya di kotak yang di dalamnya terdapat semua barang pemberian Kyunnie. Minnie yakin itu.”

“Hm.”

Kyuhyun membuang muka. Jantungnya berdetak tidak karuan. Keegoisan masih menghinggapi hatinya.

Kyuhyun memilih tidak menjawab. Ia memilih untuk berpaling dari raut wajah senang itu. Ia tahu ini salah. Tapi hatinya…tidak mau peduli akan hal itu.

“Kyu? Dulu hubungan kita pasti sangat indah. Minnie berusaha mengingatnya semalam setelah mendapat email dari seseorang. Tapi, ketika mau mencobanya, Minnie merasa pusing. Dan tidak bisa mengingat apapun. Mianhe~”

Sungmin berucap dengan begitu tenang. Tapi Kyuhyun? Berusaha untuk menutup mata, telinga dan hatinya untuk mendengar kata-kata itu.

Ia sadar. Ia sangat mencintai Sungmin. Namun semua yang terjadi sekarang, benar-benar membuatnya sakit. Sangat sakit.

“Minnie tidak tahu mengapa umma dan appa tidak suka kalau Minnie suka sama Kyunnie. Minnie tidak mengerti.”

“Karena dari awal mereka memang tidak menyukaiku.”

Refleks! Kyuhyun membungkam mulutnya rapat-rapat selesai mengucapkannya. Ia menggeram dan mengumpat dalam hati. Bagaimana mungkin bisa ia mengatakan hal itu? Terang saja itu sangat membuktikan bahwa memang dulu ia ada hubungan dengan Sungmin.

Ia tidak mau mengakuinya di depan namja ini. Namun kenyataann yang ia miliki adalah…dulu ia dan Sungmin merupakan sepasang kekasih. Itulah kenyataan yang berusaha Kyuhyun hindari.

“Maaf…” Sungmin berucap pelan setelah mendengar kalimat Kyuhyun. Entah kenapa ia ingin meminta maaf kepada namja ini.

“Untuk apa minta maaf?”

“Karena…Minnie yakin semua yang terjadi sebelumnya bahkan sampai sekarang pun ada sangkut pautnya dengan appa dan umma.”

“Kau seyakin itu?” balas Kyuhyun dengan mata menyipit. Sungmin mengangguk pelan.

“Minnie yakin, Kyu~ Minnie ingat kok waktu tinggal di Jepang, appa selalu saja mengajak Minnie jalan-jalan, seolah mengalihkan pikiran Minnie untuk tidak memikirkan seseorang. Sampai pada suatu hari, sampai sekarang Minnie benar-benar tidak mengingat siapapun,” jelas Sungmin.

Kyuhyun tertegun. Entah kenapa firasatnya bahwa Sungmin korban cuci otak itu semakin menjadi ketika mendengar namja di depannya bercerita. Dia harus merespon apa? Untuk berkata saja lidahnya sekelu ini.

“Kyu?”

“Hm?” Kyuhyun membalas seperlunya. Apa hanya dia yang harus menyadari ini?

“Kalau dengar cerita Minnie tadi menurut Kyu bagaimana?”

“Otakmu di cuci,” Kyuhyun berucap sambil terus berpikir. Ia bahkan tidak sadar yang ia ucapkan barusan.

Eoh?”

“Aish!” Kyuhyun mengutuk dirinya yang lagi-lagi kelepasan. Dia berusaha menghindari kontak mata yang Sungmin ciptakan. Walau ia tahu, namja itu akan tetap bertanya padanya.

“Maksud Kyunnie dicuci otaknya?”

‘Aish, semoga dia orang yang polos seperti sebelumnya,’ doa Kyuhyun dalam hati.

“Aaa…itu maksudku…”

“Ah! Maksud Kyunnie dicuci pakai detergen, begitu? Mana mungkin Kyunnie~ otak Minnie ga bisa dicuci begitu~” ucap Sungmin memotong perkataan Kyuhyun.

‘Ah. Ternyata tetap sa—‘

“Atau jangan-jangan seperti yang di film-film itu? Dicuci otaknya supaya lupa sama orang-orang yang berharga gitu? Kok appa jahat sama Minnie TT”

‘Gezzz, kenapa tebakannya tepat sekali, sih?’ rutuk Kyuhyun dalam hati. Ia masih diam. Membiarkan Sungmin larut dalam dunianya.

Berpikir sebentar, kemudian Kyuhyun bangun dari duduknya membuat Sungmin menatapnya.

“Sudahlah jangan dipikirkan. Lebih baik kau pulang. Aku juga akan pergi. Bye,” Kyuhyun bersiap meninggalkan Sungmin, namun Sungmin menahan tangannya.

“Besok kita…bisa bertemu lagi kan, Kyunnie?” Sungmin bertanya takut. Kyuhyun menahan napas, lalu menghempaskannya.

Sambil menutup mata ia menjawab pelan. “Ne…”

Dan bagaikan diterpa angin yang lewat, hati Sungmin bergemuruh. Jantungnya berdegup dengan kencang, darahnya mengalir deras. Sebuah senyum terpatri indah di sudut bibirnya. Tangannya yang menahan tangan Kyuhyun terlepas, membiarkan namja yang dicintainya berlalu.

Sekarang biarlah hanya dia yang berusaha mengingat masa lalu. Berdiri, berpijak pada tanah bukit kecintaannya. Berpikir untuk menebak apa yang akan ia temukan esok hari bersama sang pujaan tercinta.

Berlebihan? Tapi itulah yang dilakukan seseorang yang tengah jatuh cinta, kan?

.

.

.

Sungmin memasukkan semua hal yang berhubungan dengan Kyuhyun ke dalam tasnya. Hari ini dia memang akan pergi ke kampus terlebih dahulu, tapi setelahnya, ia akan kembali menemui Kyuhyun di bukit itu.

Cuaca kota London sedang cerah, secerah hati Sungmin saat ini. Setidaknya, ini seperti sebuah keajaiban yang Tuhan berikan kepadanya.

Kyuhyun mau bertemu dengannya lagi. Tatapan kebencian itu perlahan pudar. Walau terkadang namja itu masih suka kesal kepadanya, tapi setidaknya, namja itu mau menerimanya. Namja itu mau membantunya melihat masa lalunya kembali.

Namja yang begitu dicintai olehnya. Namja bernama Cho Kyuhyun.

Namja yang membuatnya seperti orang gila.

Kriiiing~

Suara email masuk terdengar membuat Sungmin menengok ke arah komputernya. Ia segera menghampiri benda berlayar datar itu dan membukanya.

.

.

.

Threebearsfriend at gmail dot com

 

 

Tuhan memang begitu menyayangi hamba-Nya kan, Lee Sungminnie? Jika kita mau mencoba, maka Tuhan memberikan sedikit kemudahan di setiap kesulitan. Aku yakin, kau dan dia akan segera kembali seperti dulu.

 

Semangat Lee Sungminnie~ Cho Kyuhyun hanya perlu disentuh sedikit maka ia akan lunak lagi, tidak sekeras sebelumnya kau mengenalnya.

 

Ah, kau bertanya bagaimana aku tahu? Dan seharusnya kau tahu sesuatu bahwa…Ah! Aku baru ingat jika itu rahasia. Baiklah. Semangat untuk hari ini.

 

Tuhan selalu bersamamu^^

 

 

Your handsome bears.

CS

.

.

.

Mwo?” Sungmin berseru selesai membacanya. Hei? Sebenarnya siapa itu Handsome bears? Mengapa ia mengetahui tentang dirinya dan Kyuhyun?

Aish, kira-kira siapa, ya?, batin Sungmin.

Ia tidak membalas email itu, dan lebih memilih menulis email kepada Hyukjae, sahabatnya yang jauh di Korea sana.

.

.

.

To : Hyukjaelee at gmail dot com

Subject : Hyung bingung T^T

 

 

Hyukkie~~~ kau tahu? Hyung mau curhat padamu. Aish, jinjjayo~~!! Hyung bingung sekali.

Kau kenal tidak siapa itu handsome bears? Siapa ya dia? Sudah dua kali ia mengirimi hyung email dan dia tahu tentang hyung dan Kyuhyun.

 

Aish, Hyukkie~ mengapa dia bisa tahu? Apa dia suruhan appa dan umma? Tapi…mengapa seolah-olah dia mendukung hubungan hyung dan Kyuhyun? Hah~ hyung bingung kau tahu?

 

Cepat balas, ne?

 

 

Your hyung,

Sungmin.

.

.

.

Sungmin mengklik tulisan kirim lalu bersandar di kursinya. Menunggu beberapa menit bahkan sampai tigapuluh menitan tapi belum ada balasan sama sekali. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi kuliah.

Sungmin beranjak dari kursinya dan mengambil tasnya, berlari kecil menuju pintu keluar. Berjalan pelan kemudian untuk pergi ke kampusnya.

.

.

.

Hari sudah sore. Sungmin sudah selesai akan jadwal kuliahnya. Dan tujuan ia selanjutnya adalah bukit itu. Bertemu dengan Kyuhyun, tentu saja.

Sungmin berjalan cepat dengan sebelumnya ia mampir ke supermarket untuk membeli snack dan minuman. Yang tentu saja untuk dirinya dan Kyuhyun.

Sungmin semakin mempercepat larinya, berharap Kyuhyun sudah ada di sana. Duduk bersandar di bawah pohon ek yang juga selalu menjadi tempat Sungmin berteduh di kala apapun suasana hatinya.

Memasang earphone di kedua telinganya dengan tertutup. Dengan wajah damai yang terlihat bak seorang pangeran yang tengah menunggu puterinya. Terlihat begitu menawan dan bisa membuat siapa saja meleleh.

Sungmin terus membayangkannya. Sampai akhirnya ia sampai di bukit itu. Ia berlari ke arah danau, dan berusaha melihat dari kejauhan apakah Kyuhyun sudah ada di sana. Ia berjinjit untuk bisa melihat apakah namja itu ada? Namun karena tidak begitu kelihatan, Sungmin berlari mendekati pohon ek kesayangannya dan…

…betapa terkejutnya ketika ia tak mendapati siapapun di sana. Sungmin hampir menjatuhkan kantung belanjaannya kalau saja ia tidak langsung berpikir bahwa, pasti ada urusan lain yang sangat penting sehingga Kyuhyun belum sampai.

Mengabaikan rasa kecewa itu, Sungmin mendekati batang pohon ek dan bersandar di sana. Tersenyum walau sebenarnya hatinya menjerit sedih. Bolehkah?

Sungmin memejamkan matanya, berharap ketika ia membuka mata, sosok itu sudah ada di depannya. Ya, setidaknya begitu.

.

.

.

Hari sudah menjelang malam, Sungmin masih terduduk di sana. Sesekali memainkan iPad atau ponselnya. Mendengarkan musik mengusir rasa bosan yang menderanya ketika menunggu namja itu datang. Namun, sudah hampir tiga jam ia menunggu, namja itu tak kunjung datang.

Apakah gerangan urusan itu sehingga Kyuhyun tidak mau pergi menemuinya?

Berbagai pikiran buruk menghantui Sungmin. Padahal kemarin, mereka bisa sedekat itu. Bukankah itu hal yang membahagiakan?

“Mungkin dia masih ada urusan. Ya, mungkin saja,” gumam Sungmin sambil tersenyum miris. Ia melirik tas kecil yang di dalamnya berisi barang-barang pemberian Kyuhyun dulu –ia sangat yakin itu dari Kyuhyun-

“Aku akan menunggunya sebentar lagi,” putus Sungmin kemudian memilih memejamkan matanya lagi.

.

.

.

Namja itu melirik jam yang bertengger di tangannya. Pukul tujuh. Akankah Sungmin ada di sana? Aish! Aku berpikiran apa sih?, pikirnya.

Namja bernama Kyuhyun itu mengetuk-ketukkan jari telunjuknya di meja café tempat ia berada sekarang. Sahabatnya –Changmin- kini sedang memesan minuman untuk mereka. Cukup lama menunggu, akhirnya sang sobat pun datang membawa sebuah nampan berisi pesanan mereka.

Sorry lama, Marcus. Biasalah pelayannya minta tanda tangan,” ujar Changmin setengah bercanda. Kyuhyun hanya memutar bola mata, bosan mendengar hal itu.

“Sudahlah. Cepat duduk. Lagipula berhenti memanggilku Marcus kenapa sih?” respon Kyuhyun.

Changmin duduk di depan sahabatnya kemudian langsung menyeruput cappucinonya. “Ya suka-suka aku lah haha. Lagipula mengapa kau tidak suka sih? Itu kan nama bagus?”

“Berisik. Sudah langsung to the point saja. Kau mau cerita apa?”

“Sebenarnya bukan cerita sih. Lebih tepatnya aku mau menanyakan sesuatu padamu.”

Alis Kyuhyun bertaut. “Penting? Kau menahanku tiga jam untuk menemanimu main game, main catur, makan sampai ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang aku tidak tahu penting atau tidak?”

Changmin terkekeh mendengar pernyataan sahabatnya. “Aku heran saja. Untuk apa kau capek-capek datang ke London bukan untuk melanjutkan kuliahmu dan justru kau menganggur selama di sini. Ikut ke universitasku waktu itu hanya untuk lihat-lihat kan katamu? Dan…waktu bertemu Sungmin-ssi, kau seperti sudah lama kenal dengannya. Apa jangan-jangan Sungmin-ssi itu Ming-mu yang sering kau ceritakan padaku lewat email?”

Tepat sasaran. Kyuhyun diam. Namun ia mendecak. “Ck. Sejak kapan kau peduli, he, Max?”

“Hm? Sejak kapan yah? Entahlah. Tapi yang selalu membuatku penasaran adalah…beberapa waktu lalu kau terlihat sangat membenci Sungmin-ssi. Apa kau ke sini hanya untuk…menguntitnya?”

YA! Aku bukan penguntit.”

“Lalu?” Changmin menopangkan dagunya menatap sahabatnya. “Kau memang menyukainya kan? Dan dia memang Ming-mu yang selalu kau ceritakan itu kan?”

Kyuhyun mati kutu. Ia diam tidak tahu harus menjawab apa tentang pertanyaan sahabatnya. Kyuhyun melirik Changmin yang justru memasang seringaian seolah ia memberikan tanda bahwa Changmin memang tepat sasaran.

“Aish sudahlah. Aku harus pergi jadi—“

“Aku tidak mengizinkanmu sebelum kau cerita padaku.”

“Tapi aku harus pergi menemui—“

“Siapa? Sungmin-ssi? Nah! Aku benar kan kalau dia itu memang orang yang sering kau ceritakan?”

“Aish terserahmu! Sekarang biarkan aku—“

“Tidak!”

“Shim Changmin!”

“Aku tidak dengar!”

“Haiiish!!!” Kyuhyun menggeram frutasi ketika Changmin langsung berpindah duduk dan menahannya berdiri. Membuatnya terduduk lagi.

Kyuhyun tidak punya pilihan selain bercerita pada sahabatnya itu, kan?

.

.

.

Changmin masih setia mendengarkan Kyuhyun bercerita. Walau terkadang ia menunjukkan emosinya itu, ia tetap diam, menunggu Kyuhyun selesai bercerita. Sampai akhirnya, namja itu mengakhiri ceritanya.

“…ya, kau benar. Dialah Ming-ku yang sering ku ceritakan.”

Alis Changmin semakin bertaut. “Kau ini bodoh sekali. Sudah tahu orang tuanya mencuci otaknya begitu. Seharusnya kau membantunya mengingatmu lagi. Bukan malah membencinya.”

“Kau tidak membantu, sama saja seperti Siwon. Lagipula kau harus tahu, orang yang dicuci otaknya itu bukan seperti orang amnesi bodoh. Sulit untuk mengembalikan ingatan lamanya.”

“Iya juga sih,” Changmin berpikir.

“Aish, sudahlah. Aku harus pergi!” Kyuhyun beranjak diikuti Changmin di belakangnya. Mereka keluar dari café itu bersamaan.

“Memangnya kau mau bertemu siapa sih?” Changmin bertanya.

“Bertemu Sungmin, babo!”

Mwo? Kalau begitu cepat,” Changmin langsung menarik Kyuhyun ketika mendengar Kyuhyun akan bertemu Sungmin. Changmin memasukkan Kyuhyun ke dalam mobilnya dan menyetir mobilnya dengan kecepatan maksimal.

“Pelan-pelan bodoh. Aku belum mau mati. Lagipula salahmu menahanku.”

“Kau tidak bilang mau bertemu dengannya. Sudah berapa lama ia menunggumu?”

“Hm…” Kyuhyun melirik jamnya. “…sekarang sudah jam 9, berarti sudah 5 jam dia menungguku.”

“MWO? YAK! HAIIIISH!” mendengarnya pun, Changmin langsung mempercepat mobilnya.

“YAK! SHIM CHANGMIN PELAN-PELAN!”

Dan teriakan Kyuhyun hanya angin lalu bagi Changmin.

.

.

.

‘Ckiiiiiiiiiiiiiiittttt’

Mobil itu berhenti tepat di depan jalan setapak yang merupakan jalan menuju bukit itu. Kyuhyun masih mengatur jantungnya yang hampir mau lepas karena Changmin mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan.

“Untung aku selamat, hah! Dasar Changmin bodoh.”

Changmin pun yang hakikatnya menyetir mobil itu juga sedang berusaha mengatur napasnya. “Heh! Sudah sana cepat. Keburu dia pergi.”

“Salahmu bodoh.”

Kyuhyun keluar dari mobil itu dan berlari ke arah bukit. Berharap Sungmin belum pergi. Walau bagaimana pun, ia merasa bersalah. Ia bilang, mereka boleh bertemu lagi kan? Lalu? Mengapa tidak?

Lagipula alasan dia berada di London adalah…

‘Aish! Sudahlah. Lebih baik aku cepat,’ batin Kyuhyun.

.

.

.

Kyuhyun berhenti di depan danau yang di seberangnya pohon ek itu berdiri. Ia menopangkan tangannya pada lututnya. Berusaha mengatur napasnya yang memburu. Kyuhyun berusaha melihat adakah siluet seseorang di sana.

Dan gotcha. Sosok itu masih ada di sana. Ia berjalan pelan sambil terkekeh. Menyadari betapa bodohnya Sungmin yang masih menunggunya untuk datang.

“Ck. Dasar namja itu.”

.

.

.

Sungmin menggenggam erat rumput di bawahnya. Sudah pukul 10 dan Kyuhyun belum datang juga. Hatinya terasa perih. Matanya memanas. Ia mulai berpikir bahwa ucapan Kyuhyun kemarin adalah bohong. Namun ia berusaha percaya, Kyuhyun pasti…akan datang.

Ya. Ia yakin itu.

Sampai akhirnya ia membuka matanya. Mengerjap ketika ia melihat siluet seseorang berjalan mendekatinya. Walau ia merasa takut, takut jikalau itu adalah orang jahat. Tapi juga berharap itu adalah Kyuhyun.

Sungmin memejamkan mata lagi, kemudian membukanya. Mengerjap-kerjapkan sesekali sampai akhirnya siluet itu terlihat jelas di depan matanya. Berdiri bertolak pinggang sambil menggelengkan kepalanya.

Sungmin tersenyum, berdiri kemudian berhambur memeluk orang itu. “Kyuhyunnie! Akhirnya kau datang! Hiks.”

Kyuhyun yang terkejut, refleks membalas pelukan Sungmin. Ia berdecak betapa keras kepalanya orang ini.

“Hei. Sudahlah,” Kyuhyun melepaskan pelukan Sungmin dan duduk bersandar di pohon ek. Menutup matanya, mengusir rasa lelah akibat berlari. Dan berucap pelan. “Maaf.”

Eoh?” Sungmin tersadar. Kemudian duduk di depan Kyuhyun. “Maaf untuk apa Kyuhyunnie?”

“Membuatmu menunggu selama itu,” balasnya.

Sungmin hanya tersenyum kemudian menggeleng. “Gwenchana, Kyu. Asal Kyu datang, itu sudah cukup.”

“Tapi apa jadinya jika aku tidak datang?” Kyuhyun menatap Sungmin tajam. Hal itu membuat Sungmin menunduk.

“Maaf. M-minnie hanya takut jika nanti Minnie pulang, Kyunnie datang. Jadi…”

“Jangan ulangi lagi. Pulanglah jika dalam 1 jam aku tidak datang.”

M-mwo? T-tapi Kyunnie…”

“Hanya menurutiku, Min.”

‘DEG’

Jantung Sungmin berdetak cepat ketika mendengar Kyuhyun memanggil nama kecilnya. Sungmin tersenyum lembut, kemudian mengangguk.

Ne, Kyunnie.”

Dan angin pun berhembus, seolah menerbangkan berjuta-juta rasa yang ada saat itu. Changmin di mobilnya pun hanya bisa berharap, kelak sahabatnya akan merasa bahagia.

.

.

.

Kyuhyun melirik ke arah tas yang sedari tadi menarik perhatiannya. Sungmin di depannya sedang membuka snack untuk mereka makan.

Karena penasaran, akhirnya Kyuhyun bertanya. “Apa isi tas itu?” tangannya menunjuk ke arah tas kecil Sungmin.

Ne?” Sungmin mengalihkan pandangannya kemudian berseru. “Neee! Itu tas yang isinya semua barang pemberian Kyunnie!”

Sungmin mengambil tas itu dan membukanya. Mengeluarkan satu persatu barang yang ia yakini pernah Kyuhyun berikan.

‘I-itu…’ ucap Kyuhyun dalam hati. Barang pemberian Kyuhyun kepada Sungmin yang pertama kali. Sebuah gantungan kelinci sederhana. Yang tertulis nama Sungmin di sana.

Ne, Kyunnie. Di kartu ucapan ini, tertulis bahwa ini pemberian pertama Kyunnie. Inisialnya, CKH. Kkk~” Sungmin terkekeh sendiri sambil terus mengeluarkan semuanya.

Kyuhyun hanya menontonnya tidak percaya. Bagaimana mungkin bisa namja di depannya ini menyembunyikan semua barang-barang itu sehingga tidak raib di tangan kedua orang tua Sungmin yang jelas-jelas tidak menyetujui hubungan mereka? Bagaimana bisa?

“Bagaimana bisa kau…menyembunyikannya dari orang tuamu?” Kyuhyun bertanya heran.

“Entahlah. Minnie punya banyak kotak rahasia yang tidak seorang pun tahu.”

“Ah, begitu.” Kyuhyun diam lagi. Ia hanya melirik Sungmin sesekali. Melihat bagaimana namja itu bisa membuatnya berdebar hanya dengan melihat kembali semua barang-barang pemberiannya.

‘Hah, bodoh sekali.’

“Kyu?”

“Ah, ne? Waeyo?”

Gomawo, ne?”

Alis Kyuhyun bertaut. “Terima kasih untuk?”

“Tidak memandang Minnie penuh kebencian lagi, mau bertemu Minnie dan…berusaha untuk tetap datang ke sini.”

Kyuhyun tersentak. Kemudian tersenyum. “Ck, dasar. Arraseo. Mianhae, ne? Dan sama-sama, Sungmin-ah.”

“Eum.”

Dan malam itu dihabiskan oleh keduanya bersama bulan dan bintang yang ada di langit. Menemani kedua insan yang sejujurnya tengah dimabuk cinta. Lalu biarkanlah hati itu kan bicara pada waktu yang akan di tentukan.

Lalu kapankah itu? Tanyalah waktu yang perlahan kan menghapus keraguan yang ada.

.

.

.

Pagi yang cerah.

Sungmin menggeliat di kasurnya kemudian bangun untuk sekedar duduk bersandar di kepala tempat tidurnya. Melirik ke arah meja nakas di samping tempat tidurnya. Ia juga melirik komputernya yang sepertinya ada pemberitahuan baru. Mungkin email dari Hyukkie?, pikir Sungmin.

Sungmin langsung mendekati komputernya dan membuka email itu.

.

.

.

Threebearsfriend at gmail dot com

 

 

Hai Sungmin^^

Kau sudah bangun, bukan? Senang sekali rasanya mendengar bahwa kau dan Kyuhyun sudah berbaikan. Semoga kalian tetap langgeng ya, dan…semoga cepat balikan lagi.

 

Aku dan kekasihku di sini mendoakanmu. Ah, jangan lupa bilang pada Hyukjae tentang berita ini.

 

Jangan lupa makan, ya, Aegyo bears. Kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan Kyuhyun^^

 

 

Your handsome bears.

CS

.

.

.

“Aish! Dia lagi. Sebenarnya siapa sih handsome bears itu? Hyukkie juga ke mana lagi? Emailku belum dibalas,” gerutu Sungmin.

Namun tak lama ia menggerutu. Terdengar deringan email baru yang masuk. Segera saja, Sungmin membukanya.

.

.

.

Hyukjaelee at gmail dot com

 

 

Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~ hyung maafkan aku baru membalas emailmuuu~ Sungguuuuh! Bunuh aku sekarang juga yang hampir kelelep sama tugasnya Jung sonsaengnim TT

 

Ne, hyung? Handsome bears? Siapa dia? Aku bahkan tidak kenal u,u

 

Tapi bagus dong hyung kalau dia itu mendukungmu dengan Kyuhyun. Kau punya pendukung untuk melawan ahjussi nanti! Ya kan?? Hehehe~ jangan bingung hyung~ Hyukkie menyayangimu. Mumumu :*

 

Jangan lupa sarapan! Hyukkie mau siap-siap pergi karena sebentar lagi Donghae akan menjemput. Oke hyung?

 

Love youuuuuuuuu~

 

 

Your handsome dongsaeng.

Hyukkie

.

.

.

Sungmin geleng-geleng membacanya. Walau ia tahu Hyukjae tidak akan langsung membalas emailnya, ia tetap membalas email itu.

Ia mengetiknya seraya tersenyum.

.

.

.

To : Hyukjaelee at gmail dot com

Subject : Hyung senaaaaaaaaaaaaang \(^o^)/

 

 

Hyukkieeeeeeeeeeeee~ aish dasar! Walau kau tidak membantu. Tapi terima kasih semangatnya!!!

Omong-omong Hyukkie! Hyung ada berita gembira dong~

 

Ne, neeeee~ kau tahu Hyukkie? Hyung dan Kyuhyun semakin dekat sekarang. Kyaaaa~ senang sekali. Hehehe kemarin kami menghabiskan malam berdua di bawah bulan dan bintang. Kyaaaa romantis kan?

 

Aish! Saking senangnya hyung lupa berapa lama hyung menunggunya. Walau begitu lama, semuanya tergantikan ketika ia datang. Hyukkie~ hyung senang sekaliiii!

 

Apalagi ketika dia mengkhawatirkan hyung. Ohmyyy~~! Rasanya hyung ingin bersorak. Aish! Hyung seperti seorang yeoja yang jatuh cinta saja! Kkkk~

 

Ya sudah Hyukkie. Semangat ya? Hyung juga akan bersiap. Sampai ketemu nanti!

 

 

Your hyung.

Sungminnie

.

.

.

“Jadi kau masih bertemu dengannya? Oh. Jadi Cho Kyuhyun itu ada di sini?”

‘Deg’

Sungmin terpaku di tempatnya ketika mendengar suara itu. Suara sang ayah. Sungmin berbalik dan melihatnya ayahnya tengah menatapnya marah. Sungmin menunduk. Tidak berani menatap sang ayah.

“Lee Sungmin. Jawab appa!”

A-appa …a-aku…”

“Jawab appa!”

“I-iya, M-minnie masih bertemu d-dengannya!”

“Kau! Besok kita akan pindah ke Jepang.”

Mwo?”

Dan terkadang, keterkejutan itu datang tiba-tiba yang tentu saja dihasilkan oleh orang terdekat kita. Apalagi ketika sang ayah bilang tidak, maka selamanya hanya ada kata tidak.

.

.

.

To be Continue

.

.

.

Author’s Note : Hyaaaaaaaa~ akhirnya bisa apdet jugaaaaaa!

Maaf yang udah nunggu lama u,u Ff ini makin ga jelas kan yak? Maafkan sayaaaa TT

Lalu bagaimana dengan chapter ini? Mohon kritik dan sarannya ya, man teman🙂

Insyaallah di chapter depan udah End. Doakan saja😄

 

So, thank you for review😀

 

Signed,

Umu Humairo Cho

7 thoughts on “Tell Me ~Chapter 4

  1. kya, udah lamaaa baget ni ff ga di update.tapi aku masih inget ceritanya ko. hehe
    itu kenapa appanya ming jahat banget ya? emang kyumin salah apa sampe segitu sebelnya.. –‘
    hwa onnie, aku tunggu moment kyumin yg lebih greget lagi dan so sweet pastinya. haha😀
    next onnie, aku nunggu next chap nya ^^

  2. Kapan update next chapnya??😥
    aku baca di FFn, dan di wp mu jga blm lanjut.. Plizzzzzzzz author ><
    penasaran bgt ama FF mu yg ini..
    Ayo semangat nulisnya^^

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s