A Little Gift of Father


A Little Gift of  Father

This story belongs to me

KyuMin, Henry, and Siwon

Are belongs to God, Themselves, and to their couple

Genre :

Family, a little bit of Angst, Fluffy

Rating : Teen

Length : Ficlet

Summary :

Sebuah kado, akan menjadi sangat berarti jika yang memberikannya adalah orang tersayang.

Tetapi, jika orang itu tidak memiliki uang? Bagaimana mungkin bisa hadiah itu sampai di tanganmu?

Kau akan tetap menagih janjinya? Atau memberikannya pengertian?

Jika kau anak yang baik, pasti kau tahu apa yang harus kau pilih. Bukan kah itu benar?

.

Umma, appa bilang ia janji ingin memberikan Henli hadiah. Henli ‘kan sedang ulang tahun sekarang.”

Warning :

Yaoi, BL, BoyXBoy, Shonen-ai, Genderswitch for Henry, OOC! AU! Bad story T__T

A/N :

Terinspirasi dari cuplikan iklan yang gue liat. Ngga tahu kenapa mau nangis ngeliatnya.

Ya sudahlah, Don’t like don’t read!

Not plagiat! Enjoyed it. I’ll for your feedback!

Thank you~

.

.

A Little Gift of Father

.

Presented by Umu Humairo Cho

.

.

Henry’s POV

.

Musim gugur. Inilah musim kesukaanku selain musim semi. Aku selalu menyukai musim yang indah ini. Selain karena teduhnya musim gugur, aku bisa melihat senyum umma dan appa yang selalu mereka berikan.

Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Cho Henry. Aku anak dari Cho Kyuhyun dan Cho Sungmin. Mungkin orang tua ku termasuk berbeda dengan yang lainnya. Karena ibuku adalah seorang namja. Tetapi…aku tidak mempersalahkannya. Selama masih ada yang mau menerimaku, aku tidak peduli pada mereka yang bilang kalau keluargaku itu abnormal. Aku tidak peduli.

Aku sangat menyayangi mereka berdua. Appa dan umma. Dua orang yang sangat berarti dalam hidupku. Orang tua ku bukan seorang direktur di perusahaan besar, bukan artis yang sedang tenar, politikus dunia, sutradara, atau apalah itu. Mereka hanya orang biasa. Ya, kami hanya orang biasa yang hidup berkecukupan.

Aku sangat senang dengan keadaan seperti ini. Umma dan appa sangat menyayangiku. Amat sangat menyayangiku. Dan itulah yang sangat aku suka.

.

.

Matahari telah meninggi. Aku harus cepat bergegas pulang ke rumah untuk membantu umma. Sedangkan, appa pasti sedang bekerja asal. Yah, yang penting, appa bisa membelikan kami makanan, itu sih kata appa. Berpikir soal keadaan ekonomi kami, aku bertekad untuk giat belajar lalu membawa umma dan appa bangkit dari garis kemiskinan ini. Karena itu, aku akan memanfaatkan beasiswa ku dengan sebaik-baiknya. Hem, okay deh.

Aku melangkah menyusuri jalan setapak menuju rumahku. Sedikit lagi, aku akan sampai. Ah, hari ini memang musim gugur  yang dingin. Dan, tanggal berapa sekarang? Hem, hari ini tanggal sebelas ‘kan? Eh? Oh? Sebelas? Berarti hari ini hari ulang tahunku dong? Omooo~ kenapa aku bisa lupa? Apakah umma dan appa juga lupa? Hem, tapi…aku tidak boleh berburuk sangka.

Dan…aku ingat, appa pernah bilang akan memberiku hadiah. Apakah hadiahnya itu sudah ada di rumah ya? Sebaiknya aku bergegas. Aku sudah tidak sabar!

.

.

Umma~~ Henli pulang~” teriakku di depan pintu. Umma keluar dari dapur kecil kami dan menyambutku. “Ah ne, anak umma sudah pulang? Bagaimana sekolahnya?” tanya umma padaku. Aku memeluknya, erat sekali. “Menyenangkan tapi melelahkan. Menjadi anak kelas sebelas itu susah ya umma? Tapi Henli tidak akan menyerah!”

Ne chagiya. Sekarang kau ganti baju dulu, ne?”

Ne umma!”

.

.

Aku mendekati umma yang sedang melipat pakaian. Aku duduk di sampingnya dan membantu. Ragu sebenarnya. Tetapi…aku ingin menagih janji appa. Kali saja, appa menitipkannya pada umma.

Umma…”

“Hem? Waeyo sayang?”

“Hari ini Henli ulang tahun, dan appa pernah berjanji akan memberikan Henli hadiah. Apa hadiah itu sudah ada di umma?”

‘DEG’

Ku lihat pekerjaan umma berhenti. Aku…tidak tahu mengapa seperti melihat kesedihan di matanya.

.

Henry’s POV End

.

.

Kyuhyun’s POV

.

Aku berjalan memasuki pekarangan rumah kecilku bersama malaikat dan istri ku. Hari melelahkan. Tetapi…aku merasa ada yang kurang. Aku hampir memasuki pintu rumah, tetapi…suara malaikatku menahanku.

“Hari ini Henli ulang tahun, dan appa pernah berjanji akan memberikan Henli hadiah. Apa hadiah itu sudah ada di umma?”

‘DEG’

Jantungku berdetak lebih cepat. Benar…hari ini Henli ulang tahun dan aku pernah berjanji untuk memberikannya hadiah. Aku kalut. Aku kembali meninggalkan rumah kecilku itu dan berjalan entah kemana. Hari ini…aku hanya mendapatkan uang yang sangat sedikit. Bekerja serabutan tak menentu. Bagaimana aku bisa membelikan Henli hadiah.

Aish! Appa macam apa aku ini?

Aku terus berjalan, tak mempedulikan matahari yang semakin membakar kulit. Aku tidak tahu kenapa di musim gugur ini, matahari masih muncul. Aku harus bisa mendapatkan uang lebih. Untuk membeli makanan dan hadiah. Tapi aku harus bagaimana Tuhan?

Bagimana aku bisa mendapatkannya?

Tanpa sadar aku sampai di depan toko mainan. Henli memang bukan anak kecil lagi. Hari ini ia berusia tujuh belas tahun. Harusnya, ini adalah hari terspecial untuknya. Tetapi…apa gunaku sebagai appa? Tidak ada. Karena aku miskin.

Seandainya aku punya banyak uang…henli tidak akan sesedih ini ‘kan?

Mataku bergerak ke arah lain dan retina ku menangkap seorang penjual emas. Aish! Tidak boleh. Henli akan marah jika aku membelikannya hadiah dari uang hasil curian. Aku berjalan meninggalkan tempat itu. Tanpa arah yang pasti aku berkelana. Aku merasa…benar-benar tak berguna.

Aku semakin menyalahkan diriku yang memaksa menikahi Minnie sebelum mendapatkan pekerjaan tetap. Dan hasilnya? Seperti ini. Aku membuat orang yang sangat aku cintai menderita dalam kemiskinan. Di tambah dengan malaikat kecilku itu.

.

.

Matahari sedang panas-panasnya padahal ini musim gugur. Aku berjalan tak menentu. Lagi-lagi ini yang aku lakukan. Mataku bergerak sampai akhirnya kembali menangkap sesuatu. Ada seseorang yang kesusahan ‘kah? Aku mendekatinya yang sedang menggeram frustasi pada kap mobil. Apakah terjadi kesalahan pada mobilnya itu?

Walau ragu, aku menyapanya. “Ah, maaf pak. Apakah saya bisa membantu Anda?” orang itu menoleh. Sosok berwibawa yang kelihatan jelas dari wajahnya. “Maaf Anda…siapa?”

Ah, aku pikir dia takut aku ini penjahat ‘kah? Cepat-cepat aku membalas. “Jangan takut. Saya bukan penjahat. Kalau boleh, saya ingin membantu. Apa ada masalah dengan mobil Anda?” tanyaku lagi.

Orang itu terlihat ragu, namun akhirnya menghela napas lalu menjawab. “Aku tidak tahu kenapa dengan mobil ini. Tapi tiba-tiba saja mogok. Padahal aku harus menjemput istriku. Aish! Pasti istriku marah kalau aku telat,” curhatnya. Aku mengangguk dan meminta izin untuk membantunya. Ia mempersilahkan aku.

Menunda sedikit petualangan untuk mencari pekerjaan dengan menolong orang itu baik ‘kan?

.

.

“Nah ini sudah selesai pak. Semuanya sudah beres. Tadi hanya ada kerusakan kecil,” kataku setelah menutup kap mobil miliknya. Orang itu mengangguk dan mengulurkan tangannya kepadaku. Tapi melihat tanganku yang kotor, aku enggan menjabatnya. Bagaimana kalau tangannya ikut kotor juga. “Ah, maaf pak. Tangan saya kotor.”

“Tidak apa-apa,” ia memaksaku menjabat tangannya. “Terimakasih ya pak. Saya terbantu sekali. Nah, saya Choi Siwon. Boleh saya tahu siapa nama Anda?”

Aku mengangguk. “Saya Cho Kyuhyun dan sama-sama pak,” balasku. Ia mengangguk dan tiba-tiba mengeluarkan dompet. Alisku bertaut. Orang ini mau apa. Dan aku terkejut ketika dia mengeluarkan sejumlah uang lalu menyodorkannya kepadaku.

“Ini,” ucapnya. Aku menggeleng dan menolak. “Terimakasih pak. Saya menolong dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan.”

Orang itu diam lalu menatapku. “Lalu, untuk apa Anda berjalan di tengah matahari yang panas ini?” dan seketika, aku ingat tujuanku. “Ah, iya. Saya harus mencari uang untuk membelikan hadiah untuk anak saya. Terimakasih sudah mengingatkan pak. Kalau begitu saya permisi.”

Namun sebelum sempat melangkah. Suara orang itu menahanku. “Ah tunggu pak. Kalau begitu ambil ini. Anggap saja sebagai bayaran kalau saya memperbaiki mobil saya di montir. Bagaimana? Ayolah, Anda juga membutuhkannya ‘kan? Saya ikhlas kok,” ucapnya.

Aku benar-benar ragu. Tapi kata-kata Henli terngiang di telingaku. ‘Kalau appa membantu orang dan orang itu memberikan uang, appa tolak saja. Karena, kita menolong tanpa megharapkan imbalan ‘kan? Jangan terlihat bahwa kita menyusahkan mereka,’ itu yang selalu aku ingat.

Cepat-cepat, aku menggeleng lagi. “Tidak usah pak.”

“Tidak. Saya mau Anda menerimanya,”

“Tapi, pak…” pak Siwon memasukkan uang ke saku bajuku. Aku ingin menolaknya lagi tapi dia cepat-cepat memberikan sesuatu yang lain. “Ini kartu nama saya. Kalau Anda butuh kerjaan, datanglah. Kebetulan, saya sedang membutuhkan pegawai baru. Nah, pak Kyuhyun, saya permisi, saya harus menjemput istri saya. Terimakasih ya pak. Dan semoga sukses.”

Aku terpaku. Bagaimana mungkin bisa Tuhan memberikan kemudahan di saat kesulitan benar-benar datang. Uang dan kartu nama ini bagai emas yang jatuh dari langit. Tuhan, terimakasih. Terimakasih. Aku harap, ini berkah dariMU.

.

.

Aku keluar meninggalkan toko kado itu setelah membelikan Henli hadiah. Hanya sebuah hadiah kecil untuknya. Di dalam kotak ini berisi benda yang tidak terlalu special. Tapi aku harap Henli suka.

Aku melangkah menyusuri jalanan yang mulai sepi. Ini sudah malam. Tiba-tiba beberapa orang menghadangku dan memintaku menyerahkan uang, juga kado yang aku bawa. Aku bersikeras mempertahankannya.

Tiba-tiba mereka memukulku. Aish. Sakit sekali. Apa aku harus menjadi berandal lagi seperti waktu SMA?

‘BUGH’

“Ah!” kado itu terlepas. Aku terjatuh. Henli, appa…akan mempertahankan kado itu. Kau tenang saja.

.

Kyuhyun’s POV End

.

.

Sungmin’s POV

.

Kenapa Kyuhyun belum pulang? Ini sudah sangat malam. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?

Aku masih bisa menahan rasa lapar ini. Tetapi Henli, ia sudah merengek bahwa dia lapar lagi. Ya Tuhan, selamatkan suamiku. Ku mohon Tuhan. Hanya dia dan Henli yang aku punya di dunia ini. Setelah menikah dengan Kyuhyun, keluargaku tak menganggapku. Karena itu, jangan kau biarkan dia meninggalkan aku juga malaikat kami. Aku mohon Tuhan.

Aku mohon padaMU. Karena Kau juga tahu, ‘kan, Tuhan? Aku sangat mencintainya, amat sangat mencintainya.

.

Sungmin’s POV End

.

.

Henry’s POV

.

Aku melihat umma duduk gelisah di ruangan kecil yang ada di rumah kami. Apa umma sedang memikirkan appa? Benar juga. Lagipula appa tidak pernah pulang sampai selarut ini. Apa terjadi sesuatu pada appa?

Semoga saja tidak.

Aish, perut ini berisik sekali. Menyebalkan tahu. Aku harus bisa menahan rasa lapar ini. Demi umma juga appa. Karena aku sangat menyayangi mereka.

Telingaku menangkap suara derap langkah kaki. Apakah itu appa?

Cepat-cepat aku menuju ke depan rumah dan mataku terbelalak. Wajah appa…lebam biru dengan darah di sudut bibirnya. Umma, yang tiba-tiba ada di sampingku berlari menuju appa dan memapahnya. Ku lihat appa tersenyum pada umma dan memberikan sebuah kantong yang aku tidak tahu apa isinya. Tapi…ada lagi yang menarik perhatianku. Tangan appa yang satu, menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya.

Kami masuk ke dalam rumah. Duduk di sebuah kursi kecil yang dapat menampung kami bertiga. Tetapi aku lebih memilih berdiri. Umma di samping appa membersihkan luka appa. Appa meringis, umma hampir menangis. Sedangkan aku…sudah tak bisa lagi menahan tangisku. Tangisku pecah melihat keadaannya sekarang.

Tiba-tiba dia mengisyaratkan padaku untuk duduk di pangkuannya. Aku menurutinya lalu tangannya yang bebas menghapus air mataku. Appa menatapku tersenyum, mau tak mau membuatku tersenyum juga. Appa, aku mencintaimu.

Tiba-tiba, tangannya yang bersembunyi itu menunjukkan sesuatu dan…air mataku kembali jatuh. Aku sesenggukan kemudian langsung memeluknya. Menyembunyikan tangis yang menusuk hatiku. Appa, apakah luka yang kau dapat akibat dari apa yang kau lakukan untuk mendapatkan hadiah ini?

Appa maafkan aku. Ku mohon maafkan aku.

Appa mengadakan jarak di antara kami. Tadi bisa aku rasakan umma juga memelukku, mengusap rambutku. Lalu setelah aku dapat melihat wajah appa dan juga umma, air mata kembali jatuh tak terkendali. Tapi appa menghapusnya. Kemudian, appa mengisyaratkan umma untuk berucap sesuatu yang membuatku semakin menjerit. “Saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnida, saranghaneun uri Henli, saengil chukka hamnida. Saranghaeyo uri Henry Cho.”

Mereka menyanyikan lagu itu bersama. Tak kuasa tangisku pecah lalu memeluk mereka. Aku menjerit menahan sakit yang menghinggapi hatiku. Aku jahat sekali memaksa appa memenuhi janjinya. “Hiks…hiks…huwaaa…hiks,” isakku keras. Appa dan umma semakin memelukku.

“Ssttt…sayang, masa ulang tahun nangis sih,” ucap appa berusaha membuatku diam. Aku masih menangis. Ku rasakan tangan umma mengusap halus rambutku. Kemudian menyahut. “Ne sayang. Ayo dong jangan nangis, hem? Tuh, malaikat cantik umma udah ngga cantik lagi kalau nangis,” ucap umma membuatku semakin menangis.

“Loh, loh, kok makin nangis?” ucap mereka heran. Aku memeluk mereka lagi. Walau sudah tujuh belas tahun, sikap manjaku ini pada mereka tidak akan pernah bisa hilang. Karena aku suka mereka yang memanjakanku. Tentu saja…aku masih tahu diri.

Setelah puas menangis, aku menatap appa juga umma. Walau masih sesenggukan aku berusaha berbicara. “Hiks…terima…kasih appa, umma…aku…hiks, sayang kalian…huwaaaa,” tak kuas lagi aku menahan tangisku ini. Melihat keadaan appa membuatku semakin ingin menangis. Mereka memelukku. Memberikan rasa nyaman yang selalu ku dapatkan.

Umma, appa…terimakasih karena sudah menjadi orang tua terbaikku. Aku…bangga menjadi anak kalian.

.

.

Kami duduk di karpet di ruangan kecil kami. Di depanku terdapat hadiah dari appa. Umma tak henti-hentinya tersenyum dan memanjatkan doa. Walau sebentar lagi hari akan berganti, aku tetap senang akan ulang tahun kali ini. Ini adalah ulang tahun terindah untukku.

Appa berseru agar aku membuka kotak itu. Kotak berwarna biru muda dengan pita putih yang melingkarinya juga terdapat sebuah gembok bulat dan sesuatu berbentuk hati. Sangat indah. Aku suka dengan bentuk kado ini.

Aku menatap appa yang tersenyum padaku. Juga umma yang sebelumnya membuatkan kami makanan dari appa yang appa bawa tadi. Walau dalam hati bertanya, dari mana appa mendapatkan uang ini. Tetapi aku yakin, appa mendapatkan dengan cara halal.

Perlahan aku membuka pita itu. Membuka simpulnya dengan hati-hati takut merusaknya. Setidaknya aku akan menyimpan kotak hadiah pertama appa ini. Setelah berhati-hati membukanya, di dalamnya terdapat sebuah kotak kecil. Aku mengambilnya dan membukanya di depan appa juga umma.

Mataku melotot tak percaya dengan apa yang ada di dalamnya. Sebuah kalung berbentuk hati. Yang bisa di buka. Aku membukanya dan di dalamnya terdapat fotoku sendiri, lalu foto kami bertiga. Aku menatap tak percaya. Appa…hadiah ini…sangat indah.

Cepat-cepat aku memeluk appa. Membenamkan wajahku di sana. Aku menangis lagi. Ku rasakan tangan umma mengelus rambutku seperti biasa. Appa melepas pelukanku dan mengambil kalung itu. Memakaikannya. Kemudian appa berdecak kagum. “Hem, cantik ‘kan? Anak appa ini memang sangat cantik.”

Tanpa bisa di control. Air mata itu jatuh lagi. Appa menghapusnya, kemudian memelukku juga menarik umma ke dalam pelukannya.

Berucap pelan kepada kami membuat aku semakin menangis. “Aku cinta kalian. Sangat-sangat mencintai kalian. Terimakasih sudah menjadi semangat di dalam hidupku. Terimakasih.”

Aku semakin menangis lagi. Tetapi bukan hanya aku, umma juga menangis. Aku bisa melihat appa mencium pucuk kepala umma, lalu melumat bibirnya sebentar sebelum mengecup pucuk kepalaku. Tuhan, kau berikan appa yang terhebat untukku.

Ku dengar, appa berucap lagi. “Jagalah hadiah kecil appa itu, Henli. Appa percaya padamu. Suatu saat kalau appa sudah berhasil, appa akan memberikanmu pesta ulang tahun, ne?” ucap appa padaku. Aku menggeleng. “Aniyo appa. Aku tidak butuh pesta. Dengan adanya appa dan umma sudah cukup. Aku cinta kalian. Terimakasih karena sudah memberikan aku hidup yang sempurna. Gomawo, appa, umma. Aku sayang kalian.”

Aku menangis lagi. Bisa ku dengar mereka membalasku. Mengucapkan kata yang sama denganku. Dan hadiah indah ini akan aku jaga seumur hidupku. Appa bilang ini hadiah kecil, tapi bagiku ini hadiah besar yang sangat berharga.

Ne, hadiah kecil dari appa, selamanya akan menjadi hadiah terindah di ulang tahun kali ini. Di usiaku yang ketujuh belas. Appa juga umma memberikan sesuatu yang terindah. Yaitu kasih sayang.

Gomawo umma, appa. Aku sangat mencintai kalian. Sangat-sangat mencintai kalian.

Gomawo, saranghaeyo😀

.

Henry’s POV End

.

.

The End

.

.

Note : Aaaaah~ akhirnya selesai juga.

Terinspirasi dari iklan di tv. Hehe, jadinya gimana?

Menurut kalian gimana? Bagus atau ngga?

Minta komennya boleh yaa?

Makasih😀

With Love,

Umu Humairo Cho

7 thoughts on “A Little Gift of Father

  1. Authorrrr ini angst nyaa dalem banget lohhh T_T
    Yaampun sebegitu menderitnya kah keluarga cho itu hueeeeee
    Angstnya bikin aku gak berenti nangis ini T_T

  2. Aku nangis baca fict ini. Sumpah ini ingetin aku sama papiku :’)
    Papiku bahkan kecelakaan demi kasih aku kado ulang tahun, cerita hampir mirip, tp beda kondisi. Ya Tuhan, fict ini semacam refleksi dari aku :”)
    Kekeluargaannya berasa banget kak, bener-bener nyentuh :’)
    Aku suka fict dengan genre seperti ini🙂

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s