The Right Hand of God ~Chapter 3


The Right Hand of God

This story belongs to me

KyuMin, SiBum, HanChul, and others

Are belongs to God, Themselves, and Their Couple

Genre :

A little bit of Romance, Hurt/Comfort, Fail!Family, Angst

Rating : T

Length : Chaptered

Summary :

Kau percaya Tuhan ‘kan?

Kau percaya bahwa Tuhan ada ‘kan?

Kalau kau percaya, maukah kau mengatakan apa saja harapanmu pada Tuhan?

Maukah kau jujur padaku apa yang kau rasakan?

Dan apakah kau percaya bahwa Tuhan memiliki tangan kanan?

Seseorang yang menjadi kepercayaannya?

Aku tidak tahu aku ini apa?

Aku bukan malaikat, iblis, jin, peri, dewi atau dewa.

Aku hanyalah seseorang yang di utus Tuhan untuk membuatmu bahagia.

Apakah kau percaya itu?

Warning :

Yaoi, BL, BoyXBoy, Shonen-ai, OOC! AU! Cold!Kyu, Innocent!Min.

A/N :

Don’t like? Don’t read please.

Want to bashing? Do that to this story. Not to main character^^

Wanna RnR? Just do that.

And I’ll give my thanks just for you~

Happy reading^^

.

.

Umu Humairo Cho

.

~Proudly Presented~

.

A KyuMin Fanfiction

.

The Right Hand of God

.

Chapter Three

.

.

Chapter Sebelumnya—

.

“Hiks…jangan benci hyung Kyu. Hyung mohon, jangan benci hyung, hiks.”

Dan tanpa Kibum sadari, Sungmin, sedari tadi melihat kejadian ini. Ia bisa merasakan perasaan Kyuhyun yang sangat kacau juga Kibum yang sangat terluka. Air itu kembali mengalir saat mengetahui Kyuhyun meninggalkan tempat itu sambil mengeluarkan air dari matanya juga.

Sungmin tersenyum miris, kemudian berdoa menghadap langit. “Tuhan, bantu aku. Permudah jalanku membuat Kyuhyunnie bahagia. Aaamin.”

Dan daun-daun musim gugur itu pun menjadi penghantar doa Sungmin kepada Tuhan untuk menjalani apa yang Tuhan percayakan padanya.

.

.

Chapter Three – Finding the Truth

.

.

Sungmin berjalan pelan di koridor sekolah. Otaknya mulai berputar ke kejadian kemarin. Ia mulai memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk membuat Kyuhyun dan Kibum berbaikan. Ia tidak tahu apa lagi yang bisa membuat Kyuhyun percaya dan meresponnya.

Kenapa…rasanya Kyuhyun itu sulit sekali?

Ia sendiri juga bingung, untuk apa Tuhan mengutusnya? Tiba-tiba menyuruhnya membahagiakan Kyuhyun. Ini benar-benar membingungkan.

Mengabaikan sebentar, matanya menangkap siluet sosok Kyuhyun. Cepat-cepat, Sungmin berlari kecil menghampiri Kyuhyun lalu mengait lengan namja itu. “Pagi Kyuhyunnie~”

Kyuhyun di sampingnya menghela napas. Oh ayolah, kapankah namja ini berhenti mengganggunya?

“Kyuhyunnie?” tidak ada respon. Sungmin mendelik sebal selalu di acuhkan oleh namja tampan ini. Dengan cepat, Sungmin menghentikan langkah mereka, berdiri di depan Kyuhyun lalu menangkup pipi namja yang lebih tinggi darinya. Membuat Kyuhyun melotot kesal.

“Ya! Apa yang…”

‘Chu~’

“Grr…” amarah Kyuhyun tertahan ketika namja di depannya dengan santai menariknya ke kelas mereka. Apakah orang ini tidak sadar apa yang sudah di lakukannya? Kyuhyun mendecih kesal saat menyadari Sungmin kembali mencuri ciumannya tadi. Bahkan di bibir. Oh Tuhan!

Mereka sampai di bangku mereka. Sungmin duduk lebih dulu di ikuti Kyuhyun. Namja bermata kelinci itu masih bertahan dengan senyum polosnya. Kyuhyun menggeleng-geleng jengah.

Dan…lagi-lagi sarafnya mengejang ketika mendapati tangan seseorang melingkupi pinggangnya dari samping. Matanya melirik ke bawah, menyadari tangan seseorang di sana. Kemudian ia menoleh ke samping menemui Sungmin menyadarkan kepalanya di bahu Kyuhyun. Bisa-bisanya ada orang seperti ini?

“Ehem!” Kyuhyun berdeham. Sengaja agar Sungmin sadar. Tetapi apa? Ternyata namja itu masih betah memeluk Kyuhyun dan menyandarkan kepalanya. Kyuhyun hampir menjambak rambut frustasi. Kenapa Tuhan selalu memberikan hal memuakkan ke dalam hidupnya? Berawal dari keluarganya lalu namja ini? Aish, yang benar saja.

“Kyu hangat,” gumam Sungmin menggesek-gesekkan pipinya pada lengan Kyuhyun. Kyuhyun berusaha membuat pelukan itu terlepas. Berucap dingin pada namja kelinci itu. “Sungmin lepas.”

“Ehm~ Kyunnie sangat hangat~” gumam Sungmin lagi. Kyuhyun menghela napas. Percuma juga berusaha menghindari terus. Namja ini akan tetap mengikutinya. Kyuhyun menyerah.

.

.

Musim semi terasa sejuk. Walau dingin, tetapi keindahan yang ada membuat musim semi banyak di sukai. Sungmin terduduk di bangku taman sekolah. Matanya mendongak, mencoba mencari senyuman Tuhan untuk jadi penguat dirinya melakukan semua yang Tuhan percayakan padanya.

Tetapi…rasa sakit yang selalu datang ketika Kyuhyun menolaknya…membuatnya ingin berhenti. Bisakah semua ini berakhir lebih cepat? Ia ingin…berhenti sampai sini saja.

Tanpa sengaja, matanya berkeliling sampai akhirnya ia menemukan Kibum dengan sang kekasih. Kibum sedang menangis di pelukan Siwon. Bisa terlihat namja itu begitu terluka. Dengan segera, Sungmin melangkahkan kakinya ke kelas. Berniat menemui Kyuhyun.

.

.

“Kyuhyunnie~”

Siku simpang empat muncul di dahi Kyuhyun. Baru saja ia membuka buku kimianya. Karena setelah ini kelas mereka akan ada ulangan. Tetapi…namja ini mengganggunya lagi. Kyuhyun diam tak merespon. Membiarkan Sungmin duduk di depannya dengan mata yang terus mengerjap polos. Kemudian sebuah ucapan terlempar lagi dari mulutnya. “Kyunnie masih belum berbaikan dengan Kibummie?”

Kali ini Kyuhyun berdecak sebal. Apa yang sebenarnya Sungmin inginkan darinya sih?

Kyuhyun tak menjawab. Merasa pertanyaan itu tidak perlu ia jawab karena Sungmin bukan siapa-siapa. Tetapi…nyatanya namja di depannya belum menyerah. “Bukankah Kyunnie sudah mengetahui alasan kenapa Kibummie tidak membawa Kyunnie pergi waktu itu? Seharusnya Kyunnie…”

“Berhentilah mencampuri urusanku Lee Sungmin. Kau bukan siapa-siapa.”

Sungmin tersenyum mendengar jawaban Kyuhyun. Ia memamerkan gigi kelincinya membuat namja di depannya menghela napas. “Pergilah. Jangan ganggu aku.”

“Tidak mau! Sekarang…Kyunnie harus ikut Minnie. Ayo temukan kebenaran!” ajak Sungmin menyeret paksa Kyuhyun membuat namja itu menghela napas. Ingin menolak tapi takut membuat Sungmin menangis lagi. Akhirnya…ia memilih ikut dan diam pada posisinya.

.

.

Mereka sampai di taman belakang sekolah. Sungmin terus menarik tangan Kyuhyun sampai akhirnya mereka bisa melihat dua orang yang duduk membelakangi mereka. Kyuhyun tahu siapa dua orang itu. Tapi ia lebih memilih tidak peduli.

Ia ingin pergi, namun Sungmin menahannya. “Ayo dengarkan dulu Kyunnie~”

Kyuhyun diam di tempat. Sungmin benar-benar menghabiskan kesabarannya. Tapi ia masih berusaha menahan amarahnya.
“Sudah tiga tahun aku hidup bersama Wonnie. Tinggal di rumah Wonnie yang masih mau membantuku. Senang sekali umma Wonnie mau menerimaku. Saat itu aku berharap umma memintaku berhenti untuk mencegahku tapi nyatanya, ia membiarkan aku pergi berpikir aku akan lebih bahagia. Tapi umma memohon agar aku tak membawa Kyuhyun dan bodohnya…aku mulai berpikir…”

Napas Kyuhyun terasa tercekat. Tanpa sadar tangannya mengepal.

Kibum melanjutkan ceritanya pada Siwon. “…berpikir Kyuhyun akan baik-baik saja. Berpikir umma akan memberikan kehidupan yang lebih baik dari waktu itu tapi nyatanya. Aku menyakitinya Wonnie. Aku menyakitinya. Dia membenciku. Sangat membenciku. Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin Kyuhyun tahu aku sangat menyayanginya. Hiks…apa yang harus ku lakukan Wonnie?”

Mata Kyuhyun terpejam erat mendengarnya. Tetap saja…hatinya masih merintih perih akan luka yang menganga suram di dalamnya. Saking eratnya mengepalkan tangan, tanpa sadar buku-buku jari Kyuhyun melukai dirinya sendiri. Tapi Kyuhyun tak peduli.

“Kyunnie…”

‘Sret’

Kyuhyun menampik tangan Sungmin yang menyentuhnya. Ia memandang namja itu tajam. Dan meninggalkan Sungmin di tempat itu. Sekali lagi…Sungmin kembali menitikkan air dari matanya. Merasakan bahwa hatinya begitu sakit saat lagi-lagi Kyuhyun menolaknya.

Langit selalu berdiam diri di tempatnya. Menjadi saksi atas apa saja yang terjadi di dunia. Seperti saat ini, mungkinkah langit sedang berusah memberikan kekuatan kala cuacu hari ini begitu berbeda? Suasana yang tercipta begitu terasa.

Sungmin memejamkan matanya. Rasa sakit itu datang lagi. Dan untuk kesekian kalinya. Sosok Kyuhyun…menolak keberadaannya. Sekarang…apa lagi yang harus ia lakukan?

Berdoa lagi. Agar Tuhan mempermudah semuanya. Ia ingin menjadi dirinya. Kembali ke tempat di mana ia seharusnya. Tapi…apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia kerjakan agar kepercayaan ini bukan kepercayaan semu yang tidak bisa ia jaga. Bagaimana ia bisa membuat Kyuhyun bahagia?

Apa yang…harus ia lakukan?

.

.

Kyuhyun duduk terdiam di dalam kamarnya. Pikirannya melayang ke kejadian di taman belakang sekolahnya. Dan…mengingat bagaimana dulu, Lee Sungmin, bertanya dengan gila apakah ia percaya tentang adanya seorang utusan Tuhan untuk membuatnya bahagia?

Ck! Apa-apaan itu?

Bahkan Sungmin menyebut dirinya lah utusan Tuhan untuk membuat Kyuhyun bahagia. Kyuhyun berpikir bahwa Sungmin sudah tidak waras. Mana ada…yang seperti itu di dunia ini? Benar-benar pertanyaan dan pernyataan bodoh.

Kyuhyun mengusap wajah frustasi. Lagi-lagi, apa yang hari ini terjadi membuatnya merasa bodoh. Ia sudah mengetahui semua yang ingin dia ketahui dari Kibum, sang hyung. Dan itu…juga ada campur tangan Sungmin. Tetapi ia masih tidak mau mengakui. Apa yang Sungmin lakukan untuknya sedikit merubah arah pandang Kyuhyun yang semakin membuat dirinya tak mengerti.

“Arrgghh!! Sial! Bisakah orang di luar sana berhenti bertengkar?” teriaknya frustasi karena mendengar kedua orang tuanya kembali bertengkar. Dan di saat hatinya yang sedang kacau juga. “Bisakah kalian berhenti sekaliii saja. Jangan bertengkar terus saat bertemu…”

“Ku mohon…sekali saja,” dan tanpa sadar. Setetes air mata mengalir menganak sungai di kedua pipinya.

.

.

Hari ini hari sabtu. Sungmin berjalan di bawah sejuknya musim gugur dengan banyak daun berjatuhan. Kali ini ia berniat menuju gereja. Berdoa di sana. Mungkin saja Tuhan agar segera mengabulkan doanya. Tapi…retina matanya menangkap siluet seseorang di sebuah taman. Kyuhyun.

Sungmin menunda langkahnya pergi ke gereja dan menghampiri Kyuhyun. Kyuhyun membelakangi Sungmin membuat Sungmin langsung memeluknya dari belakang.

Kyuhyun yang tengah memandang danau tersentak dengan adanya tangan yang melingkupi perutnya dari belakang. Sarafnya menegang saat suara orang itu menyapa pendengarannya. “Kyunnie, selamat pagi.”

Sapaan lembut itu terngiang di telinga Kyuhyun. Seakan pernah mendengar sebelumnya. Kyuhyun melepaskan pelukan Sungmin dan menatap namja kelinci itu. Terlihat, Sungmin tersenyum padanya. Memperlihatkan gigi kelinci miliknya.

Otak Kyuhyun bertanya bagaimana mungkin orang ini bisa berada di sini? Apa yang dia lakukan? Tak bisakah barang sehari saja Sungmin tak menganggunya? Ia bosan di hadapkan pada Sungmin terus. Ia ingin bebas untuk sekali saja.

“Kyunnie?”

“Hn…” balasan ambigu Kyuhyun luncurkan. Berharap Sungmin jengah tapi nyatanya namja imut itu tetap mengganggunya. “Kyunnie sedang apa? Masih sedih ya karena semalam?”

Alis Kyuhyun bertaut mendengar pertanyaan itu. Apa-apaan ini? Darimana…Sungmin tahu bahwa semalam Kyuhyun lagi-lagi mendengarkan teriakkan menyebalkan yang berasal dari kedua orang tuanya dan tentu saja ia sangat sedih, tersiksa mengapa hidupnya harus seperti ini?

Ia selalu bertanya…apakah Tuhan membencinya? Memberikan orang tua yang egois yang bertengkar hanya karena kesalahpahaman yang tak pernah selesai setelah hampir empat tahun? Bukankah itu gila?

“Kyu?”

“Berisik. Lagipula itu bukan urusanmu, Sungmin,” balas Kyuhyun dingin dan berniat meninggalkan Sungmin. Tapi tangannya di tahan oleh namja imut itu. Kyuhyun kesal. Sudah berapa kali ia menahan amarahnya untuk berbuat kasar. Tapi kali ini…ia tak tahan lagi.

Di tepisnya kasar tangan Sungmin membuat namja itu tersentak. Tapi Sungmin tak menyerah sampai situ saja. Ia bersiap memeluk Kyuhyun tapi apa? Kyuhyun mendorongnya hingga tersungkur ke tanah. Tangan Kyuhyun mengepal erat. Napasnya memburu. “Bisakah kau berhenti menggangguku, Lee Sungmin? Aku muak denganmu! MENJAUH DARIKU!” ujar Kyuhyun yang berakhir dengan teriakan.

Sungmin menunduk di tempatnya. Tangannya meremas tanah berumput yang menjadi alasnya. Hatinya…terasa sakit lagi. Tapi perlahan, ia mendongak, sekedar berniat melihat wajah Kyuhyun dan…ketika di hadapkan…wajah itu penuh amarah. Apakah Kyuhyun…benar-benar membencinya?

“Hiks,” satu isakan lolos begitu saja membuat Kyuhyun tersadar. Ia telah membuat Sungmin menangis lagi. Tapi rasa gerahnya, kesalnya karena Sungmin begitu menyebalkan membuat Kyuhyun diam saja. Ia memperhatikan Sungmin yang masih menangis. “Hiks mianhe…aku…aku hanya ingin melakukan apa yang Tuhan percayakan padaku, hiks.”

“Apa?” kali ini Kyuhyun merespon pelan. Merasa penasaran dengan apa yang terjadi selama ini. “Apa yang Tuhan percayakan padamu? Apa yang Tuhan katakan padamu? TUHAN INGIN AKU BAHAGIA? NYATANYA MANA? DIA JUSTRU MEMBERIKANKAN AKU KELUARGA YANG HANCUR!” kata Kyuhyun kemudian berubah menjadi bentakan. Sungmin tersentak. Ia kembali menunduk.

“Mana? Kau sama pembohongnya dengan mereka semua! Kau pikir aku percaya tentang hal seperti itu? OMONG KOSONG LEE SUNGMIN! TIDAK ADA YANG NAMANYA TANGAN KANAN TUHAN! DASAR PEMBUAL! KAU MEMBUATKU BERTAMBAH MUAK! Pergilah dan katakan pada Tuhan bahwa aku tak membutuhkanmu! Pergi!”

Sudah cukup! Sungmin merasa beribu ton batu menghantamnya dari atas. Sungmin bangkit. Berlari menjauh dari taman itu. Berlari tanpa arah. Berusaha mencapai pintu untuk kembali. Ia sudah tidak tahan. Kyuhyun tak pernah menginginkan dirinya.

Kyuhyun tidak pernah ingin…membiarkan Sungmin memberikan hidupnya kebahagiaan. Sungmin menyerah. Ia ingin meminta Tuhan mengembalikan dirinya ke Sungmin yang dulu. Ia sudah lelah. Baru beberapa waktu di sini…hatinya sudah sakit. Ia…sudah tidak sanggup lagi.

Ia…ingin pergi. Menjauh…dari hidup Kyuhyun.

.

.

‘Tap tap tap’

Sungmin masih berlari. Berlari tanpa arah. Berusaha menggapai rumah Tuhan yang terasa jauh. Apa yang harus ia lakukan? Air mata masih menganak sungai. Apa yang harus…ia katakan.

‘Tap tap tap’

‘Brak’

‘Tap tap tap’

‘Bruk’

“Hah…hah…hah…” napasnya berderu. Mulut Sungmin terbuka berusaha mengambil udara sebanyak-banyaknya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Hatinya berdenyut sakit. Penolakan Kyuhyun kali ini…benar-benar menyakitkan. Ia…ingin mengakhiri semuanya.

Tangan Sungmin berada pada sebuah kayu yang berdiri tepat di depan Tuhan. Sungmin setengah berlutut. Masih menangis. Memejamkan mata, mulai berdoa. Ia ingin…Tuhan mengembalikan semuanya. Seperti semula. Ia ingin itu.

“Hiks…Tuhan…aku sudah tidak sanggup lagi. Baru beberapa hari. Semuanya sudah seperti ini. Ku mohon kembalikan aku ke kehidupanku. Aku tidak sanggup. Ku mohon maafkan aku. Hiks…umma Minnie harus bagaimana? Rasanya sakit sekali. Umma…Minnie mohon…bantu Minnie kembali…Minnie ingin pulang,” suara itu terdengar parau. Masih dengan air mata yang terus mengalir.

Sungmin berucap lagi. “Tuhan ku mohon…kembalikan aku ke masa lalu. Biarkan aku menjalani hidupku seperti dulu. Aku tidak sanggup di sini…ku mohon Tuhan…ku mohon…hiks…ku mohon,” pinta Sungmin di depan Tuhan.

Matanya terpejam. Kelelahan menangis menumpahkan rasa sakit. Tanpa sadar ada seberkas cahaya yang datang. Berdiri di depannya. Mengusap rambut hitam Sungmin tersenyum lembut. Bergumam pelan. “Minnie harus kuat…bukankah ini keinginan Minnie. Minnie ingin mengenal dunia bukan? Minnie ingin memberikan dia kebahagiaan dan tidak menginginkan dia seperti Minnie? Minnie harus bisa. Umma percaya pada Minnie.”

Sesosok cahaya itu menyanyikan lullaby untuk Sungmin. Mengusap-usap rambut sang anak. Benar. Sungmin adalah makhluk masa lalu. Yang entah mengapa Tuhan mengambilnya. Mempermuda umurnya membuat Sungmin serasa masih baru berada di dunia ini.

Kepolosannya seakan membuktikan seakan-akan Sungmin masihlah seorang bayi yang tidak tahu apa-apa. Yang ia tahu hanyalah…Tuhan, gereja, umma, Kyuhyun dan kelinci. Selebihnya…seakan ia masih mempelajarinya. Apa yang terjadi? Apakah Tuhan sedang berusaha memberikan kehidupan yang lebih layak?

Mengingat di masa lalu…Sungmin hanyalah seorang anak yang hidup di sebuah bangunan. Hanya di bangunan itu ia berinteraksi. Tanpa ada orang lain. Dan beginikah hasilnya? Kepolosan yang ada? Dan hatinya yang gampang terluka?

Sosok itu masih menyanyikan lullaby untuk Sungmin…mengusap rambutnya dengan lembut. Sampai…langkah seseorang menginterupsinya.

Matanya mengikuti suara itu. Dan bertemu dengan sepasang sepatu yang perlahan membuat ia ingin melihatnya. Di depannya…sosok itu menatap tak percaya apa yang terlihat. Matanya melotot sempurna. Lee Sungmin…dengan siapa? Bahkan orang itu tidak terlihat seperti manusia.

Apa…yang terjadi di sini?

Sosok cahaya umma Sungmin tersenyum. Memberikan seseorang yang baru masuk itu sengatan yang membuatnya terasa hangat. Kemudian…suara itu membuatnya membatu di tempatnya. “Selamat datang di rumah Tuhan. Aku…ibu Sungmin dan…ini putraku, Lee Sungmin. Seseorang yang di utus Tuhan untuk membahagiakanmu…”

Dan seketika…dunia seakan berhenti berputar, haruskah…orang itu mempercayainya? Haruskah…

“…dan ku harap kau bisa menerimanya…Kyuhyun-ah.”

.

.

To be Continued

.

.

Note : Hai, saya apdet chap 3 nya🙂

Menurut kalian gimana?

Makasih yang sudah review di chap sebelumnya.

Bersedia review lagi ‘kah?

Terima kasih ^^

With Love,

Umu Humairo Cho

16 thoughts on “The Right Hand of God ~Chapter 3

  1. g ngerti, du du du *frustasi
    jd umin dr masa lalu? hah? atau apa? dia biasa tinggak dsurga? dia anak malaikat?
    next

  2. sungmin ga mau kyu sama kaya dia ? emang ming kenapah ? u,u
    kyu udah denger semua kan alasan kenapa kibum ninggalin dia~ geez buat percaya aja susah bgt /dzing -__-
    dan ooh~ gimna ekspresi kyu ketika dia liat ming sama ibunya ?
    next hehehehee

  3. Aahhhh sedihhh!! Ah jinja kyuhyun kenapa sejahaat itu!! Sendih bgt eonn waktu si sungmin lari2 dan bilang kalau dia udh ga kuat😥

  4. Aduh kasian minnieku yg manis, jangan bentak2 ming kayak gitu Kyu*jitak pala Kyuhyun, ming harus sabar ngadepin Kyuhyun, buat Kyu bahagia ya🙂. Siapa Sungmin sebenarnya???

  5. masa lalu?
    berarti minnie udah gak ada sebenarnya..tapi, diberi kehidupan sekali lagi?
    truz, kalo minnie berhasil membuat kyu bahagia, maka minnie akan menghilang ? hiks~ ato malah sebaliknya?
    penasaranakut

  6. jadi ming itu orang dr masa lalu yg udah mati,gitu? aduh jadi bingung kan
    kyunnie kok jahat sih bentak” ming gitu,kan kasian /hug ming/

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s