[SiBum Vers] Life or Love? ~Chapter B


Life or Love

This story belongs to me

SiBum and others

Are belongs to God, Themselves, and their couple

Genre :

A little bit of Romance, Hurt/Comfort, Friendship, Angst

Rating : T to Semi M

Length : Twoshoot

Summary :

Hidup itu bagai roda, yang terus berputar tanpa henti.

Yang dapat membuatmu menjadi apapun untuk bertahan hidup.

Tapi cinta, cinta itu adalah sesuatu tak bernyawa.

Yang pasti hadir dan mengganggu mu.

Membuatmu risih namun terkadang membuatmu gila.

Karena cinta adalah sebuah perasaan saat di mana kau akan di permainkan, oleh hidup itu sendiri.

.

“Kencan pertama, belajar bersama.

Kencan kedua, pergi ke taman bermain.

Kencan ketiga, tidur dengannya. Oh! Shit! Ini gila!” batinku kesal.

Warning :

Yaoi, BL, BoyXBoy, Shonen-ai, OOC! AU!

A/N :

Dedicated for Choi Siwon’s birthday!

Happy birthday  Om kuda, semoga langgeng sama Bibi salju😀

SiBum is REAL!

Don’t like don’t read! If you don’t like just don’t read!

Not plagiat! Enjoyed it. I’ll wait you RnR🙂

Thank you~

.

.

Life or Love

.

Present by Umu Humairo Cho

.

.

Hari-hari terus berjalan. Kibum mulai menjalani kembali rutinitas yang biasa ia lakukan. Berkumpul bersama ketiga hyungnya atau terkadang bersama dengan empat orang namja yang tiga di antaranya adalah kekasih dari sahabat-sahabatnya.

Tetapi, ekspresi Kibum tidak pernah berubah terhadap Siwon. Sinis, datar, kadang raut wajah kesal masih suka tampak ketika Siwon mendekatinya atau mengganggunya. Siwon yang mendekat kepadanya membuat ia mengingat perkataan sang appa tiri. Yang mau tak mau membuatnya muak.

Hari ini, Kibum sedang duduk di bangku di kelasnya. Fokus membaca buku sampai akhirnya Eunhyuk menyapanya—mengajaknya ke perpustakaan. “Kibummie, kau mau ikut ke perpustakaan tidak?” tanya Eunyuk pada Kibum. Kibum berpikir sebentar kemudian mengangguk. “Ne hyung. Kajja.”

.

.

Kibum duduk di sudut perpustakaan. Menghindari hiruk-pikuk orang-orang yang mengunjungi tempat yang terdapat banyak buku ini. Ia ingin menyendiri. Ia ingin membaca dan menghayati buku yang kini berada dalam genggamannya. Setidaknya melupakan dahulu bagaimana kerasnya kehidupan yang ia hadapi.

Walau ia selalu percaya bahwa Tuhan mengasihi orang-orang seperti Kibum. Bekerja dengan menjual waktu bukanlah pekerjaan hina, ‘kan? Oh ayolah. Setidaknya Kim Kibum tidak menjual waktu dan tubuhnya. Ia hanya menjual waktunya untuk berkencan menemani para yeoja kesepian, bukan?

Jika saja keluarganya lebih mapan. Jika saja sebelum meninggal sang appa menitipkan satu buah perusahaan saja. Mungkin Kibum akan dengan sangat hati-hati untuk mengurus perusahaan itu. Tidak akan membiarkan umma nya menikah lagi yang berpikir bahwa hal itu akan memperbaiki ekonomi mereka yang nyatanya malah menjadi bumerang kehidupan.

Tapi apakah ini semua salah appa nya? Ah, tentu saja tidak. Ini hanya masalah waktu yang sedang menguji betapa sabarnya Kibum beserta sang umma. Hanya perlu bekerja keras dan berdoa, yakinlah bahwa Tuhan selalu mendengar kita, bukan?

‘Ya, Tuhan selalu mendengarku.’

“Kim-Kibum?” suara seseorang mengganggu acara baca juga melamunnya Kibum. Kibum mendongak dan lagi-lagi yang ia lihat adalah wajah Choi Siwon. ‘Oh ayolah Tuhan. Jangan wajah orang ini terus yang aku lihaaat~?’ batin Kibum berseru. Setelahnya, ia kembali fokus pada bacaan di tangannya dan bertanya datar. “Ada apa?”

Kibum tak mendengar suara lagi. Yang ia tahu kini namja itu duduk di sampingnya. “Tadi aku melihat Eunhyuk di sana. Tapi kok kau di sini?” ucap serta tanya Siwon tanpa menjawab pertanyaan Kibum. Kibum yang mendengar hanya mengangkat bahu tak peduli dan berusaha mengabaikan namja di sampingnya.

Sampai akhirnya ia merasa risih, ketika ia merasa ada sepasang mata yang menatapnya intens. Kibum menoleh dan mendapati Siwon yang tengah menatapnya serius. “Apa?” tanyanya. Namun Siwon tak bergeming. Namja itu lebih memilih untuk menelusuri setiap lekuk dari wajah namja manis di depannya. Sampai akhirnya ia bersuara. “Kenapa sulit sekali untuk mendapatkanmu, Kim Kibum?”

‘DEG’

“A-apa maksudmu?” tanya Kibum tak mengerti. Siwon tersenyum. Senyuman yang lagi-lagi menurut Kibum membuatnya menghangat. “Iya. Kau sulit sekali untuk di genggam. Bagai belut yang licinnya benar-benar membuat semua orang yang memegangnya kewalahan. Oh, tapi aku bukan bermaksud menyamakanmu dengan belut, yah?”

Kibum terdiam. Ia—sulit di genggam?

“Padahal—aku serius loh suka sama kamu. Aku serius saat aku bilang aku mau kamu jadi pacarku. Tapi yah, seperti yang kamu bilang, aku ini aneh dan lagi –mungkin kamu memang namja normal,” ujar Siwon kemudian membuat Kibum mempererat genggamannya pada buku di tangannya. Dan Siwon bertanya lagi, “Kau tahu kenapa aku jatuh cinta padamu?”

‘DEG DEG DEG’

‘Jantung sialan! Mana bisa kau berdetak sekeras itu, heh!’ maki Kibum pada jantungnya sendiri. Mengabaikan Siwon yang menanti jawabannya. Melihat Kibum yang tak merespon, membuat Siwon tersenyum miris. “Ah, mungkin ini bukan percakapan penting. Kalau begitu, maaf ya sudah mengganggu—“

“Kenapa?” tanya Kibum yang akhirnya buka suara, sesaat setelah Siwon akan bangkit dari duduknya. Siwon terpaku, melihat wajah Kibum yang kini menatapanya berbeda dari biasanya. Ia bisa melihat rasa penasaran yang tertera di mata teduh Kibum. Siwon tersenyum dan kembali menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya.

Namja tampan itu menghela napas. “Awal aku melihatku, ketika aku berada di tengah lapangan. Melawan sekolah lain dalam sebuah pertandingan. Bukannya fokus, mataku terpaku pada seseorang yang sedang tenang di bangkunya dengan sebuah buku di tangannya. Padahal..” Siwon menjeda kalimatnya sebentar. Menoleh menatap Kibum yang juga sedang menatapnya. “..padahal, suasana di sana sangat ramai. Berbagai teriakkan keluar bermaksud menyemangati kami yang berjuang untuk mencapai kemenangan..”

“..tapi kau berbeda. Kau diam di tempatmu mengabaikan mereka. Kau asik dalam dunia mu menghiraukan semua yang ada. Aku..merasa kau begitu menarik. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa sebegitu fokusnya membaca buku di tengah keramaian,” cerita Siwon. Kibum masih mendengarkan, tanpa berkedip memandang mata obsidian di depannya. Dan setelahnya, Kibum pun buka suara. “Hanya..karena itu?”

Cepat-cepat Siwon menggeleng. “Tentu saja bukan hanya itu.”

“Lalu?”

“Lalu? Saat aku datang menghampirimu, kau tahu? Ekspresimu saat itu sangat menggemaskan. Dan aku semakin tertarik ketika mendengar suara mu yang begitu lembut sewaktu kau memberitahu aku siapa namamu..” Siwon diam sebentar, mengangkat tangannya untuk menyingkirkan poni yang menghalangi pandangan namja manis di depannya. “..dan ketika di koridor sekolah. Untuk pertama kalinya aku di hadapkan pada sepasang mata coklat yang teduh, indah dan sejuk. Tapi..yang aku lihat justru berbeda. Mata itu begitu tenang namun seakan sepi juga tak terang. Aku—semakin ingin memilikimu.”

‘DEG DEG DEG’

“Dan saat aku menciummu yang langsung kau dorong saat itu juga, membuatku semakin membutuhkanmu. Entah sejak kapan Kim Kibum menjadi candu tersendiri untuk Choi Siwon, haha, aku juga bingung.”

‘DEG DEG’

Kibum terdiam. Entah mengapa namja ini membuatnya tak bisa berkata apa-apa. Lidahnya kelu. Mulutnya seakan terkunci. Oh ayolah Tuhan, bantu akuuu, jerit Kibum dalam hati.

‘DEG’

Lagi-lagi jantungnya berdetak di luar batas kenormalan ketika ia merasa ada tangan yang menggenggam tangannya erat dan—hangat.

Kibum melihat tangan namja itu, lalu mendongak menatap sang pemiliki tangan. Yang akhirnya ia terpaku pada sepasang bola mata yang menatapnya lembut dan nyaman. Wajah Siwon mendekat, entah refleks atau apa Kibum menutup matanya. Napas hangat menyapa wajahnya. Siwon berbisik. “Aku mencintaimu. Berkencanlah sekali lagi denganku. Tanpa uang, hanya ada perasaan yang akan kita temui di sana..”

‘DEG DEG’

“..aku ingin membuatmu percaya. Bahwa—setiap manusia di dunia ini pasti memiliki cinta. Tak terkecuali kamu. Kamu pasti memiliki hati yang di dalamnya ada orang yang kamu cintai. Tapi kamu tak mau mengakuinya..” Siwon menarik napas, lalu menghembuskannya membuat Kibum tanpa sadar meremas tangan Siwon yang menggenggam tangannya. “..maka dari itu, izinkan aku membuat kamu jatuh cinta. Dan merasakan bahwa jatuh cinta itu adalah hal terindah. Maukah? Sekali saja berkencan denganku, tanpa ada apa-apa yang terdapat di dalamnya kecuali hati dan perasaan?”

Kibum membuka matanya, dan di hadapkan oleh manik coklat milik Siwon yang memandangnya lembut. Tidak. Ia harus tetap meminta bayaran. Dengan cepat ia menggeleng. “Tidak bisa. Aku..harus tetap mendapatkan bayaranku,” dan setelah berucap seperti itu, Kibum beranjak berdiri, meninggalkan Siwon yang terpaku.

“Jadi—benar-benar tidak ada cinta, ya?”

.

.

Dan ketika Tuhan menyapamu untuk membuatmu mengaku bahwa kau mencintai dia, maukah kau mengakuinya?

Oh ayolah Kim Kibum. Mengatakan bahwa kau mencintai seorang Choi Siwon bukan sesuatu yang sulit kau lakukan, bukan?

Apalagi kau merasa kesal ketika kau melihat namja itu tengah mengobrol akrab dengan seorang yeoja. Apakah hatimu terasa sakit? Sesak? Dan suasana di sekitarmu seakan berubah?

Hanya cukup katakan kau mau berkencan dengannya tanpa uang, mudah bukan?

Apakah kau merasa begitu sulit ketika di hadapakan oleh pilihan, Uang atau Cinta? Begitu?

Oh ayolah, kau bukan orang bodoh yang berpikiran pendek seperti itu, ‘kan?

“Kibummie, kau melamun,” ucap Sungmin tiba-tiba yang kini duduk di samping Kibum, di bangku taman belakang sekolah. Kibum tak bergeming sampai akhirnya tangan Sungmin menghapus keringat yang mengalir di dahi Kibum. “Waeyo? Kenapa kau suka sekali melamun, sih? Jadi seperti bukan kamu saja,” kata Sungmin lagi yang akhirnya bisa menarik perhatian Kibum. Kibum menatap Sungmin heran. “Maksud hyung?”

“Kau jatuh cinta yah?”

HA? Apa-apaan pertanyaan itu?

Hyung apa sih maksudnya?” tanya Kibum tak mengerti. Sungmin menghela napas. “Iya Kibummie~ kau jatuh cinta, ‘kan? Sama Siwon?”

‘DEG DEG DEG’

Kibum salah tingkah, lalu menjawab pertanyaan Sungmin. “Kenapa hyung berpikiran seperti itu?”

“Karena sejak tadi kau ngeliatin Siwon sama Yoona terus,” balas Sungmin polos. Kibum menghela napas frustasi. “Memangnya itu berarti aku jatuh cinta sama dia? Yang benar saja hyung!” seru Kibum. Sungmin memandangnya lalu mengelus pipi Kibum. “Kau semakin pandai membohongi kami, Kibum-ah! Dan kau semakin jauh.”

Dan Kibum terdiam. Benarkah seperti itu?

“Apakah kau masih berkencan menemani para yeoja ngga jelas di luar sana?” sesaat, Kibum terdiam. Akhir-akhir ini, ia—jarang pergi berkencan. Oh hei! Ada apa dengannya? Saat ada yang mengajaknya, Kibum selalu bilang bahwa ia sibuk. Kibum juga merasa sedikit tenang karena sang appa sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah.

Cepat-cepat Kibum menggeleng menjawab pertanyaan Sungmin, dan bertanya balik. “Memang kenapa hyung?”

Sungmin menghela napas. “Dan maukah kau berhenti selamanya?”

“Ha? Memang kenapa sih hyung? Kalau bukan dari sana, dari mana aku dapat u—“

“Kita cari pekerjaan yang lebih..em..ya pokoknya jangan yang seperti itu. Ayolah Bummie~” ucap serta pinta Sungmin. Kibum terdiam lalu menggeleng. “Mianhe hyung. Aku..harus tetap seperti i—“

Wae? Untuk apa kau melakukannya jika hanya akan membuat kesehatan dan prestasi menurun? Ingat Kibum, kenaikan kelas tiga itu sangat ketat. Jangan seperti ini. Dan lagi, sampai sekarang kau belum punya pacar yang bisa menjagamu. Kau tahu? Aku, Eunhyuk dan Ryeowook sangat khawatir kalau kau kenapa-kenapa? Kami khawatir, hiks,” ujar Sungmin cepat memotong kalimat Kibum.

Kibum menatap Sungmin tak percaya. Ia, merasa bersalah. “Hyung—“

“Ku mohon kembalikan Kibum kami, hiks, kau kemanakan Kim Kibum kami, hiks..hiks.”

Sakit, hati Kibum berdenyut sakit. Apakah ia benar-benar menyakiti sahabat-sahabat yang merangkap hyungs-nya itu?

Hyung—“

“Aku harap kau memikirkannya lagi Kibummie. Dan—kembalikan Kim Kibum ku!”

Dan setelah berseru seperti itu, Sungmin meninggalkan Kibum yang menunduk. Memegang dadanya yang berdenyut sakit. Kibum ingin berteriak saat rasa sesak menyerangnya. Namun yang bisa ia lakukan hanyalah bergumam lirih. “Mianhe hyungie.”

.

.

Malam itu bintang bertebaran. Angin laut menyapa siapa saja yang berada di pinggiran pantai. Berpijak pada pasir yang perlahan tersapu ombak. Tak terkecuali Kim Kibum.

Ia ke sini tak sendirian. Melainkan dengan orang lain. Orang lain yang akhir-akhir ini selalu bahkan sering menganggunya. Ya, orang itu Choi Siwon.

Tangannya di genggam erat sepanjang langkah mereka yang terus meninggalkan jejak kaki mereka di pasir. Siwon tersenyum, dan Kibum menunduk. Entah harus bagaimana ia bersikap. Namun ia berusaha untuk bersikap baik layaknya ketika ia berkencan dengan para yeoja yang pergi dengannya.

Matahari sudah tak terlihat. Tentu saja karena kini sang bulanlah yang menemani mereka. Oh, dan kenapa? Malam ini langit begitu indah? Membuat Kim Kibum ingin berteriak juga berseru. Tetapi tidak jadi karena ada Siwon di sampingnya.

Mereka terduduk di hamparan pasir yang tak tersapu ombak. Dengan tangan yang masih saling bertautan satu sama lain, memberi kehangatan di cuaca malam yang begitu dingin. Merasa genggaman Kibum mengerat, membuat Siwon terkekeh lalu melepas sebentar tangan mereka.

Kemudian ia melepas jaket yang semenjak tadi ia pakai, hanya pada satu sisi. Ia mengeluarkan tangan kanannya dan menarik Kibum mendekat. Memaksa Kibum memasukkan tangan kanannya pada bagian jaket yang kosong itu. Sehingga kini tubuh mereka sangat dekat. Namun Kibum bisa merasakan kehangatan yang mengalir masuk melalui moment seperti ini.

Lagi-lagi tangan mereka bertaut. Siwon yang memulainya. Mengabaikan Kibum yang sepertinya ingin protes tapi tak jadi. Kibum menatap tangannya yang ada dalam genggaman Siwon dan tangan Siwon yang satunya bergerak melingkupi pinggang Kibum. Jika ada yang melihat mereka, akankah orang-orang itu mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih? Oh tentu saja.

Tanpa sadar, Kibum menyandarkan kepalanya di bahu Siwon. Menyamankan diri membuat Siwon tersenyum dan semakin memeluk pinggang Kibum. Kibum melihat ke atas langit, ia melihat ada senyum sang appa di sana. Ah, Tuhan. Apakah ini yang di namakan cinta? Begitu nyaman berada dalam dekapannya?

“Hangat?” tanya Siwon tiba-tiba membuat Kibum tersadar. Refleks Kibum menjauhkan tubuhnya yang akhirnya ia semakin mendekat pada Siwon. Hidung mereka bersentuhan. Mata mereka beradu saling menatap. Kemudian Kibum mengangguk kecil masih dengan jarak wajah mereka yang begitu dekat. Sampai akhirnya Siwon memiringkan kepalanya membuat Kibum sontak mengikutinya. Dan ciuman itu pun tercipta.

Bunyi deru ombak menghiasi kala dua insan yang saling menautkan bibir mereka itu. Kehangatan menyeruak. Napas mereka memburu berusaha mengisi satu sama lain. Kepala mereka bergerak ke kiri dan ke kanan seakan menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Dan ketika oksigen benar-benar di butuhkan, keduanya melepas pagutan sayang itu.

Memerah. Wajah Kibum memerah ketika di hadapan dengan wajah Siwon yang kini menatapnya lembut. Tangan Siwon yang tadi berada di pinggang Kibum mulai naik ke atas dan menarik tengkuk Kibum pelan. Menciptakan ciuman kedua di antara mereka.

Dan keduanya terus berciuman, sampai Kibum tak sadar bahwa kini Siwon melepas jaket bagian kirinya dan memakaikannya ke tubuh Kibum kemudian menggendong namja itu di depannya. Masih sambil berciuman, Siwon membawa Kibum ke penginapan yang ada di sekitar. Berpikir bahwa ini sudah malam dan berniat untuk menginap.

.

.

‘BRUK’

Siwon beserta Kibum jatuh di atas kasur dengan keadaan Siwon yang menindih namja manis itu. Masih saling berciuman, semakin intim tak menyadari bahwa hawa yang tercipta semakin berbeda. Berbeda ketika Siwon mulai menurunkan ciumannya ke leher Kibum, membuat Kibum mendesah.

Dan semuanya berlanjut begitu saja. maka dari itu, biarkanlah hanya mereka juga Tuhan yang tahu apa yang terjadi selanjutnya.

.

.

Ujian kenaikan kelas semakin cepat menghadang mereka. Kibum berusaha keras untuk kembali menaikkan prestasinya. Tetapi, pikirannya melayang ke malam itu. Malam di mana ia benar-benar tidur dengan Choi Siwon. Yang keesokan paginya ketika Siwon mengantarnya pulang ke rumah, Kibum menagih uang bayarannya.

Yang tentu saja Siwon sadar apa yang sudah ia lakukan. Sebenarnya ia tidak ingin memberikan uang itu. Mengingat bahwa ia dan Kibum sudah tidur bersama. Ia berniat menemui appa Kibum kemudian melamar anaknya. Bolehkah? Maka karena itu, Siwon bilang bahwa nanti ia akan memberikannya langsung ke appa Kibum.

Kibum ingin menolak, tetapi sang appa yang membuka pintu rumah membuatnya pasrah dengan apa yang ingin Siwon lakukan. Namja paruh baya itu mengajak Siwon bicara dua mata, tak mengizinkan Kibum tahu semuanya. Dan Kibum hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kini, ia ingin fokus belajar. Ia ingin naik ke kelas 12 IPA 1. Ya, setidaknya ia ingin masuk kelas unggulan yang jumlah siswa-siswi nya lebih sedikit daripada IPA 2. Ah, mudah-mudahan ia bisa.

.

.

Kibum terus tersenyum di dalam mobil Siwon saat perjalanan menuju rumahnya. Entah mengapa ia merasa senang sekali ketika mendapatkan nilai sempurna pada pelajaran fisika. Memang sih bukan hal yang sulit. Tapi entah kenapa, ini juga berhubungan dengan niatnya yang ingin berhenti bekerja menjual waktunya itu.

Tapi rasa senangnya berganti menjadi rasa terkejut ketika ia turun dari mobil itu dan melihat sang umma yang terduduk di depan pintu rumah mereka. Dengan banyak koper yang berada di luar. Kibum buru-buru mendekati yeoja paruh baya itu dan memeluknya. “Umma waeyo? Kenapa umma ada di luar? dan—kenapa banyak koper seperti ini?” tanya Kibum.

Siwon yang tadi keluar bersamaan dengan Kibum pun menatap umma Kibum khawatir. “Ahjuma gwenchana?” tanya Siwon setelahnya. Umma Kibum menangis membuat Kibum mengeratkan pelukannya. “Hiks..appa mu..menjual rumah ini Kibummie..hiks.”

‘DEG DEG DEG’

Kibum ingin berteriak. Kibum ingin murka. Ia—ingin membunuh namja itu. Kenapa namja itu senang sekali membuat dirinya dan sang umma kesusahan? Apa salah dia? Apa?

Umma..aku..”

“Kibummie gwenchana. Kamu dan umma mu bisa tinggal di rumahku. Dan..ada yang ingin aku bicarakan. Ini menyangkut kejadian hari ini,” ujar Siwon membuat Kibum melotot. Ia merasa..ada yang tidak enak di sini. Dengan cepat, Kibum mengangguk dan membiarkan Siwon memasukkan kopernya ke bagasi. Kemudian mereka perlahan meninggalkan rumah itu menuju rumah Siwon.

.

.

Suasana seakan tegang saat Siwon berhadapan dengan Kibum. Ia..ingin mengatakan yang sebenarnya. “Aku..sebenarnya sewaktu aku berbicara dengan appa mu, aku berniat melamarmu.”

Mata Kibum melotot. “Apa maksudmu sih?”

Siwon menghela napas. “Aku ingin memberikan uang bayaran itu. Tapi aku pikir jika hanya uang tidak sebanding dengan apa yang sudah aku lakukan, Kim Kibum. Maka dari itu—aku ingin menikahimu.”

“Kau gila Siwon! Aku—“

“Tetapi appa mu bilang, hanya cukup berikan dia uang maka dia akan merestui ku. Maka dari itu, aku memberinya check dengan nominal sebanyak yang ia mau. Tapi ketika dia bilang, “Anggap saja kita barter. Kau boleh memiliki Kibum, dan aku memiliki uang ini,” dan setelah itu aku berpikir bahwa appa mu men—“

“Menjaulku. Dan kenapa kau melakukannya?” wajah Kibum yang tadinya kesal berubah datar. Hatinya menangis sakit mendengar penjelasan namja yang tanpa sadar ia cintai, tetapi namja itu tidak mengetahuinya. “A-aku tidak tahu, Kibummie. Aku pikir itu hanya sebagai syarat!”

“Dan nyatanya itu berarti kau membeliku Choi Siwon! Kau pikir aku ini  barang apa? Yang seenaknya kau beli lalu kau miliki? Hanya karena aku tak pernah membalas perasaan mu kau melakukan ini padaku?”

“Bukan begitu! Kau berpikir aku menyamakanmu dengan barang? Kau salah Kim Kibum! Aku tulus mencintaimu!”

“Dan mendengarnya membuatku semakin ragu bahwa tidak ada cinta di dunia ini, Choi Siwon sialan!” bentak Kibum dan berjalan meninggalkan Siwon. Menuju umma nya lalu berniat membawanya pergi dari rumah itu.

“Kau tidak akan kemana-mana, Kibummie! Kau tetap di sini!”

“Kau bukan siapa-siapaku, Choi-ssi!”

“Tapi aku harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi!”

“Maksudmu bertanggung jawab karena aku ini barang milikmu begitu?”

“Kim Kibum!”

“Tidak terimakasih. Aku pergi saja!” mendengar jawaban Kibum, membuat Siwon harus menyuruh para pelayannya untuk mencegah agar Kibum tak pergi. “Dan hei kalian, cegah Kibum dan Kim ahjuma!” teriak Siwon yang tentu saja langsung di laksanakan.

Para pelayan Siwon langsung mengambil koper-koper itu dan membawanya ke ruangan yang sebelumnya memang sudah tersedia. Umma Kibum di kamar tamu dan Kibum—di kamar Siwon.

Kibum menatap Siwon marah. Membawa sang umma untuk duduk di sofa lalu Kibum berjalan mendekati Siwon.

‘PLAK’

Kibum menampar Siwon membuat Siwon memegang bekas tamparan itu. Wajah Kibum memerah menahan tangis. Ia merasa hina sekarang ini.

“Kau pikir kau siapa? Hiks, kau pikir kau itu bisa seenaknya membeliku, ha? Kau bilang, apa? Kau mencintaiku? Itu-hanya-omong-kosong, Siwon sialan! Kau tidak mencintaiku!” teriak Kibum frustasi di depan Siwon membuat Siwon memeluknya.

“Sstt..mianhe. bukan begitu maksudku, Kibummie,” ucap Siwon berusaha menenangkan Kibum. “I-itu sama saja bodoh. Karena kau tak bisa mendapatkanku, kau mengambil cara dengan membeliku, ‘kan? Membeli semua waktuku? Wae? Kau—“

‘CHU’

“Mmph!” dan Siwon mengunci bibir Kibum membuat Kibum melotot dan semakin menangis. Setelah lama, Siwon melepasnya lalu menghapus air mata Kibum. “Aku akan bertanggung jawab. Percaya padaku, ku mohon,” pinta Siwon yang tetap Kibum abaikan.

.

.

Kibum merenung menatap langit-langit kamar Siwon. Ia mulai berpikir bahwa kini hidupnya sudah berantakan. Ia bingung kenapa ini bisa terjadi?

‘Kencan pertama, belajar bersama. Kencan kedua, ke taman bermain. Kencan ketiga, tidur dengannya. Oh! Shit! Ini gila,’ batin Kibum kesal. Entah kenapa ia bisa sampai seperti ini. Dan sekarang? Ia benar-benar milik namja itu. Ya, namja yang perlahan ia cintai.

‘CKLEK’

“Kibummie?” suara itu membuat Kibum melihat ke arah pintu. Dan di sanalah sosok seorang Choi Siwon tengah berdiri dengan nampan yang ia yakini berisi piring makanan juga segelas cairan berwarna putih. Siwon mendekati dirinya yang tentu saja ia abaikan. Ia tak peduli walaupun namja itu memaksanya. “Kau belum makan daritadi siang, Bummie. Makanlah dulu agar kau tak sakit,” pinta Siwon. Kibum kini menatapnya, yang tentu saja dengan sorot kebencian. “Mati pun aku rela, Choi-ssi.”

‘DEG’

Siwon menyentuh dadanya yang berdenyut sakit ketika Kibum berucap seperti itu. Hei, tidak tahukah Kibum bahwa Siwon benar-benar jatuh padanya?

Siwon menyerah ketika Kibum tak bergeming. Ia meletakkan nampan itu di atas meja lalu merebahkan dirinya di samping Kibum yang tentu saja mendapatkan protes dari namja itu. “Ya! Kenapa kau tidur di sini?” alis Siwon bertaut mendengar pertanyaan Kibum. ‘Kenapa? Tentu saja karena ini kamarku, ‘kan?’ pikir Siwon.

Namja tampan itu menatap Kibum lalu menjawab dengan enteng. “Kenapa? Tentu saja karena ini kamarku Kibummie~ memangnya aku tidur di mana lagi, hem?” ucap serta tanya Siwon yang membuat Kibum melotot. “Ha? Jadi aku sekamar denganmu? Begitu? Oh, terimakasih. Aku tidur dengan umma ku saja.”

Setelah berucap begitu, Kibum bangkit dan berniat menuju kamar ummanya. Tetapi, dengan sigap Siwon menahan tangannya lalu menariknya pelan sehingga kini Kibum kembali terjatuh ke atas kasur—lebih tepatnya di atas tubuh Siwon. Melihat kesempatan ini, Siwon melingkarkan tangannya di pinggang Kibum, memeluknya erat kemudian melesakkan wajahnya ke leher Kibum. Membuat Kibum melenguh pelan.

“L-lepaskan aku, Siwon,”

“Tidak!”

“Siwon!”

“Hem?”

“Aish!”

Diam. Keduanya terdiam sampai akhirnya Siwon merubah posisi mereka. Ia di atas dan Kibum di bawah. Matanya menatap mata teduh Kibum. Siwon tersenyum. Entah kenapa ia sangat suka dengan manik coklat itu. “Aku mencintaimu,” ucap Siwon pelan lalu mencium kening Kibum. “Saranghae,” kemudian ke kedua mata Kibum. Berlanjut ke pipi—hidung sampai akhirnya bibir. Kibum pun bingung. Kenapa ia..diam?

Lama keduanya berciuman sampai akhirnya Kibum mendorong Siwon dan menatap tajam namja di atasnya yang di balaskan cengiran tak bersalah. Kibum ingin menyingkirkan Siwon, tetapi setelah pindah dari atas tubuhnya, namja itu justru memeluknya dari samping. Kibum kesal yang akhirnya ia memilih diam. Membiarkan namja itu melesakkan tangannya ke bawah leher Kibum lalu tangan satunya melingkari pinggang Kibum.

Siwon memainkan jarinya di rambut Kibum. Mengelusnya dan mengusapnya dengan begitu lembut. Kibum hanya mampu terdiam. Ia tak bereaksi apa-apa. Mata mereka sama-sama menerawang ke langit-langit kamar.

“Mungkin akan sangat indah kalau kita itu suami-istri Kibummie,”

‘Ha? Becanda kau Siwon gila?,’ balas Kibum dalam hati.

“Aku benar-benar mencintaimu. Menikahlah denganku,”

“Dalam mimpimu!”

“Aku ingin bertanggung ja—“

“Aku bukan yeoja yang hanya karena di tiduri satu malam langsung hamil!” bantah Kibum cepat. Ia tidak ingin begini. Hatinya saja masih ragu apakah benar ia mencintai Siwon?

“Aku tahu kau mencintaiku juga,” seketika mata Kibum melotot. Dari mana namja ini dapat persepsi seperti itu? Kibum mendengus. “Percaya diri sekali kau!”

Siwon tertawa. “Terlihat dari caramu membalas setiap ciumanku dan di saat kau merespon sentuhanku.”

‘DEG’

Jantung Kibum berdetak. Ia yakini wajahnya juga memerah sekarang.

“Ha? Benar-benar seorang pemimpi kau, Choi Siwon!”

“Aku punya bukti lain,”

“Apa?”

“Saat ini jantungmu berdetak keras sekali,”

“Ha?” Kibum salah tingkah. Aish, baik. Kali ini jantungnya memang sedang berdetak lebih kencang dari biasanya. Namun cepat-cepat ia membalas. “Memang itu artinya aku jatuh cinta padamu? Sekali lagi Choi Siwon, dalam mimpimu sana.”

Siwon tak menjawab. Ia justru mempererat pelukannya. Lalu berbisik kemudian. “Kau mencintaiku. Kita lihat saja besok apa jawabanmu ketika di hadapkan oleh Tuhan dan pastor.”

‘DEG’

‘A-apa maksudnya?’

“Tidurlah. Sudah malam,” kata Siwon lagi. Kibum tak menjawab. Ia diam dan membiarkan Siwon yang kini sesekali menciumi lehernya. “Aku benar-benar mencintaimu. Saranghae,” bisik Siwon lagi, lalu membawa Kibum menghadapnya, memeluknya protektif dan tertidur. Membiarkan Kibum yang kini sibuk bergelut dengan pikirannya. ‘Apa? Tuhan? Pastor? Aish! Pasti Siwon sudah gila!’

Dan Kibum menatap Siwon di depannya, mengusap pipi namja itu pelan, berharap agar namja itu tak terganggu. ‘Kau memang sudah gila! Karena kau berhasil membuatku jatuh padamu.’

.

.

Sinar cahaya matahari mulai menyapa. Bias-bias itu masuk melalui celah jendela. Siwon membuka matanya terlebih dahulu ketika bias sinar itu mengetuk pelan kedua kelopak matanya. Memperlihatkan manik coklat yang akhirnya bisa ia gunakan untuk melihat bidadari cantik dalam dekapannya. Siwon tersenyum. Tersenyum sambil terus memperhatikan namja cantik itu.

Sampai akhirnya namja itu menggeliat, membuat Siwon semakin melebarkan senyumannya. Dan ketika namja itu menampakkan kedua bola matanya, Siwon mengecup bibir namja cantik yang memiliki nama Kibum itu dengan lembut. Sontak, mata Kibum terbuka sempurna.

Mata cantik nan teduhnya membulat kala melihat Siwon tepat berada di depannya. Dengan cepat, ia mendorong namja itu menjauh dan mengusap bibirnya yang terkena kecuapan Siwon. Kemudian ia mulai bersuara. “Kenapa kau suka sekali menciumku sih?”

Mendengarnya, Siwon menyeringai, lalu mendekatkan tubuh dan wajahnya ke Kibum. “Tentu saja karena aku mencintaimu.”

Kalimat itu lagi. Kalimat yang membuat Kibum semakin egois. Ia ingin jujur. Tetapi, bagian dirinya yang lain menyuruhnya diam. Kibum menatap Siwon, tapi kemudian ia melihat ke arah lain ketika Siwon juga menatap balik matanya. Mengabaikan orang itu, tanpa sadar Siwon menggendongnya a la tuan puteri yang lagi-lagi membuat Kibum memberontak. “Ya! Lepaskan aku!”

“Tidak! Cepat kau mandi! 15 menit dari sekarang,” kata Siwon setelah menurunkan Kibum di depan pintu kamar mandi. Kibum menatap namja itu. Dan namja itu tersenyum lalu mendorong Kibum pelan ke dalam kamar mandi. “15 menit dari sekarang Kibummie.”

Dan—‘BLAM’

Pintu itu tertutup rapat, meninggalkan Choi Siwon yang tersenyum. “Setelah ini, kau akan mengakui perasaanmu, Bummie.”

.

.

“Ya! Untuk apa kau membawaku ke gereja? Choi Siwon!” ronta Kibum ketika Siwon terus membawanya masuk ke gereja. Dan saat sampai, Kibum terpaku. Di altar sana sudah berdiri seorang pastor lalu di bangku-bangku gereja, kini ada sang umma juga beberapa orang yang ia tidak tahu siapa tetapi di sana juga ada para hyungnya. Bahkan teman pacar para sahabat-sahabatnya yang merangkap sahabat Siwon pun ada.

Kibum terdiam. Apa? Maksud? Semua? Ini?

Kajja,” ajak Siwon menuju altar dan saat sampai. Ia melepaskan genggaman tangannya kemudian menatap ke arah pastor itu. Mengisyaratkan untuk memulainya.

“Baiklah! Pemberkatan akan segera di mulai,”

Mwo?”

“Ada apa? Kenapa kau berteriak begitu?” tanya sang pastor.

Kibum tidak mengerti dan bertanya dengan polos. “Memang siapa yang akan menikah?”

Ah, kenapa pertanyaan sepolos itu bisa muncul dari bibir merah Kibum?

Terlihat, sang pastor mengernyit heran. Lalu menjawab. “Ya tentu saja kalian berdua. Masa aku ingin menikahkan putraku dengan dirimu.”

“Eh? Aku? Sama—Ya! Choi Siwon! Apa maksudmu sih?” ucap serta kaget Kibum. Ah, Kibum kau telat.

Siwon tersenyum, lalu mengusap pipi Kibum lembut. “Ne, kita akan menikah sekarang, Kibummie.”

MWO? Aish! Seenaknya saja kau!”

Umma mu sudah setuju,”

“Hah?”

“Kau akan segera menjadi istriku,”

“Sekali lagi dalam mim—“

“Ini kenyataan Choi Kibum! Kita sedang di gereja dan kau tidak bisa berbohong. Apa susahnya mengatakan kalau kau mencintaiku?” ujar Siwon memotong ucapan Kibum. Kibum terdiam. Ah, rumah Tuhan, yah?

Kibum lagi-lagi terdiam. Lalu memandang Siwon. “Kenapa kau memaksaku?”

“Karena aku ingin kau jujur Kibummie. Kau mencintaiku tetapi kau mengabaikan perasaan itu,”

“Hanya karena aku membalas ciuman—“

“Bukan hanya itu! Matamu juga tidak bisa berbohong. Degup jantungmu, wajahmu yang memerah. Ayolah Bummie, kau mencintaiku,”

“Kau memaksa Choi Siwon!”

“Itu karena aku benar Choi Kibum!”

“Ya! Namaku Kim—“

“Setelah ini kau akan jadi Choi, Kibum.”

Hening. Tak ada lagi yang bersuara. Sampai akhirnya, umma Kibum berkata. “Langsung mulai saja pemberkatannya pastor. Atau kalau perlu langsung tukar cincin saja.”

‘DEG’

Umma,” gumam Kibum lirih. Tak menyangka sang umma akan bilang seperti itu.

“Baiklah. Dengan ini aku nyatakan kalian sebagai pasangan suami-istri. Silahkan menukar cincin dan setelah itu kalian boleh mencium pasangan kalian,” ucap pastor itu. Siwon membalikkan badannya menghadap Kibum, lalu mengambil tangan Kibum setelah ia mengambil satu dari dua cincin yang ada. Siwon menyematkan cincin itu sambil terus tersenyum dan kemudian ia mengecup punggung tangan Kibum yang setelahnya, Kibum lah yang menyematkan cincin di jari manis Siwon.

Selesai sesi pertukaran cincin. Siwon mendekatkan tubuhnya berniat untuk mencium Kibum. Siwon memulainya dengan begitu lembut yang mau tak mau membuat Kibum menikmatinya. Kibum menutup matanya membiarkan Siwon mendominasi bibirnya. Ah, sekarang ia sudah menjadi Choi Kibum. Ia bingung, harus senang? Atau sedih.

.

.

Malam ini tak kalah indah dengan malam-malam sebelumnya. Banyak bintang yang bermunculan menemani para umat. Kibum berdiri di beranda menghadap langit. Ia berniat menghirup udara luar. daripada di dalam ia harus berhadapan dengan Siwon, ‘kan?

Tapi ah, jangan lupakan statusmu Kim—ups, Choi Kibum maksud author.

“Kibummie,” bersamaan dengan panggilan itu, sepasang tangan melingkar indah di pinggang Kibum membuat namja itu sedikit tersentak. Namun kemudian ia kembali menatap langit. Membiarkan seseorang di belakangnya menjelajahi lehernya dengan bibir milik namja di belakangnya. Namja bernama Siwon itu kembali bersuara. “Di sini dingin kau tahu?”

Kibum tetap diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa?

“Kibummie—“

“Kau sadar bahwa kita masih sekolah ‘kan Siwon? Kenapa kau memaksa untuk menikahi—“

“Mu? Berapa kali harus aku katakan padamu, Bummie. Aku mencin—“

“Aku tahu! Tapi aku—“

“Jangan memaksakan diri untuk mengatakannya kalau kau memang belum mampu.”

Diam. Seorang Kibum memang suka diam seperti ini. Tapi entah mengapa ia jadi lebih pendiam seperti ini.

“Sebaiknya kita tidur, Kibummie,”

‘Aku tahu aku mencintai Siwon. Tapi kenapa aku—‘

“Ini sudah malam. Kajja,”

‘..Aku merasa ragu untuk mengatakannya. Dan apakah kami akan melakukan ritual malam pertama bagi pengantin baru?’

‘HUP’

“Ah! Apa yang kau lakukan Siwon?” tanya Kibum saat Siwon menggendongnya masuk. “Tentu saja menggendongmu. Habis kau melamun terus. Kajja, di sini sangat dingin,” jawab serta ajak Siwon. Kibum hanya menuruti karena ia tidak bisa bergerak dengan dirinya berada dalam dekapan tangan Siwon.

Siwon meletakkan Kibum di kasur mereka. Namja tampan itu menindih Kibum berusaha untuk melihat rupa sang istri. Siwon merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya berniat untuk mencium Kibum, namun tangan namja cantik itu menahannya. “Apakah kau akan mengulangi kejadian malam itu?”

Siwon tersenyum. “Jika kau mau tentu aku akan melakukannya.”

“Dan apakah kau bisa membuatku membuktikan bahwa aku mencintaimu melalui malam ini?”

Alis Siwon bertaut mendengarnya. Namun ia menyanggupi. Siwon mulai mencium bibir Kibum. Melumatnya bagai ia tengah memakai sesuatu. Dan saat Kibum melepasnya paksa, Kibum berbisik. “Buat aku mendesah menyebut namamu. Dan bukankah waktu itu aku hanya diam? Jika kau bisa, berarti di saat itulah aku menunjukkan bahwa aku mencintaimu.”

Dan Siwon pun hanya tersenyum.

.

.

Siwon menyatukan tubuh mereka dengan lembut. Ia menghentakkan miliknya jauh ke dalam diri Kibum. Dan lihat, Kibum mendesah di buatnya. “A-aahh, W-wonnieh, ugh!”

Siwon tersenyum. Apakah ini berarti namja itu mengakui perasannya? Namun ia belum puas sebelum mendengar Kibum mengucapkannya.

“Ah! Ah! Ah! Wonnieh! Ooh! Di-di sanaah~ engh! Fas~faster oooh~” erangan Kibum terdengar indah di telinga Siwon. Berulang kali, Siwon melakukannya. Menusukkannya di tempat yang sama. Membuat Kibum seakan melayang ke udara. “Aaannh~ Wonnieh~ sarang—haeehhh~~ Oooh.”

Gotcha! Kau mengatakannya Kim Kibum.

Siwon berhenti, membuat Kibum protes. “Kau bilang apa tadi?” tanyanya menggoda Kibum. Kibum mendelik kesal saat kenikmatan mulai pergi. Ia menatap tajam Siwon. “Ya! A-aku—“

“Aku akan meneruskannya jika kau mengatakan seperti tadi sekali lagi,” ucap Siwon membuat Kibum mengalihkan wajahnya. Namun kini ia memberanikan diri untuk menarik tengkuk Siwon, sehingga muka mereka begitu dekat. Dan Kibum mengecup bibir Siwon berkali-kali. “Saranghae, saranghae, saranghae. Mianhe Wonnie. Aku—membohongi perasaanku.”

Namja itu tersenyum, lalu mengecup kening Kibum dan memulai kembali pekerjaannya. Memaju-mundurkan kembali miliknya. Siwon pun membalas. “Nado Bummie. Nado saranghae, ugh!”

Kibum lega, ia tetap mengalungkan tangannya di leher Siwon sambil mendesah dan bergumam lirih. “Sarang—hae~ ah, W-wonnieeh.”

Dan seterusnya, hanya ada mereka juga Tuhan yang tahu apa yang terjadi selanjutnya.

.

.

Dan tak selamanya, memilih untuk hidup tanpa cinta itu adalah suatu kebahagian. Karena kebahagiaan, terkadang datang dari cinta yang perlahan muncul ke permukaan hidupmu.

Bukan karena kamu harus mencari uang dengan cara menjual waktumu. Tetapi bagaimana kamu bisa mengerti, apa arti dari semua yang kamu lakukan.

Tak selamanya, memilih kehidupan adalah tujuan terakhir. Karena, ingatlah. Masih ada cinta yang bisa membuatmu bahagia selama hidup ini dunia ini. Karena kamu hanya bisa menemukan cinta itu di kehidupan—yang kamu miliki.

.

.

THE END

.

.

Note : Ah, begitulah endingnya. Maaf untuk yang pada minta NC. Saya hanya bisa memberikan itu.

Ne? Bagaimana menurut kalian? Saya minta mendapatnya, ya?

Gomawo~

.

Signed,

Umu Humairo Cho

6 thoughts on “[SiBum Vers] Life or Love? ~Chapter B

  1. gyaaaa!!!! cucok bener daahh ini appa dan eommaku u,u
    endingnya bener2 dpt feelnya aku eon!😀
    berharap dpt dibuatkan yg versi haehyuk.. kekekeke gomawo ^^

  2. cerita nya seru…
    tapi thor…ak pengen donk ff sibum yg dijodohkan…terus mereka selalu brantem…dan akhirnya saling mencintai deh…ok thor???
    heheheh
    gomawo…

  3. kyaaaaa endingnya bikin gemes.
    huaaaa mbum akhirnya.
    siwon ok banget masa langsung ke altar.
    aku maulah lgsg di ajak ke KUA ma sibum.#lol

    keren.semangaaaat ne.suka suka suka.

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s