[SiBum Vers] Life or Love? ~Chapter A


Life or Love

This story belongs to me

SiBum and others

Are belongs to God, Themselves, and their couple

Genre :

A little bit of Romance, Hurt/Comfort, Friendship, Angst

Rating : T to Semi M

Length : Twoshoot

Summary :

Hidup itu bagai roda, yang terus berputar tanpa henti.

Yang dapat membuatmu menjadi apapun untuk bertahan hidup.

Tapi cinta, cinta itu adalah sesuatu tak bernyawa.

Yang pasti hadir dan mengganggu mu.

Membuatmu risih namun terkadang membuatmu gila.

Karena cinta adalah sebuah perasaan saat di mana kau akan di permainkan, oleh hidup itu sendiri.

.

“Kencan pertama, belajar bersama.

Kencan kedua, pergi ke taman bermain.

Kencan ketiga, tidur dengannya. Oh! Shit! Ini gila!” batinku kesal.

Warning :

Yaoi, BL, BoyXBoy, Shonen-ai, OOC! AU!

A/N :

Dedicated for Choi Siwon’s birthday!

Happy birthday Om kuda, semoga langgeng sama Bibi salju😀

SiBum is REAL!

Don’t like don’t read! If you don’t like just don’t read!

Not plagiat! Enjoyed it. I’ll wait you RnR🙂

Thank you~

.

.

Life or Love

.

Present by Umu Humairo Cho

.

.

“Heyo! Apa yang kau lihat, Siwon? Lebih baik kau fokus ke pertandingan!” ucapan sang sahabat menyadarkannya. Siwon –namja yang kini tengah terpaku di tengah lapangan basket itu tak mengindahkan suara teman satu tim nya. Sampai akhirnya, sebuah bola menghampirinya membuat ia harus kembali bermain dan mengabaikan apa yang baru saja ia lihat.

Siwon membawa bola itu masuk ke dalam ring. Dan dua point di terima oleh tim mereka. Kemudian, pandangannya kembali beralih pada sesosok namja yang tengah tenang di bangku penonton dengan sebuah buku di tangannya. Tak menghiraukan teriakkan orang-orang yang begitu bising. Dia tetap terpaku pada bukunya. Siwon berdecak kagum. Heyo~ siapa namja itu?

Peluit akhir pertandingan pun berbunyi. Tim Siwon memenangkan pertandingan basket ini dengan perbedaan skor yang sangat jauh. Semua temannya memeluknya, namun masih, pandangan Siwon seakan terkunci, sampai akhirnya, satu di antara temannya berkata. “Jatuh cinta, eh? Kim Kibum ya? Menurutku sih, lebih cantik yang di sampingnya.”

Seorang lain di antara mereka memukul kepala namja yang baru saja berucap seperti itu. Kemudian menyambung. “Terang saja Cho Kyuhyun babo! Itu ‘kan Lee Sungmin, kekasihmu,” penuh penekanan, namja yang lebih pendek dari Kyuhyun berucap. Lalu menatap ke arah bangku penonton dan melihat ke arah namja di samping namja yang di taksir oleh Siwon. “Mending yang itu. Manis sih.”

“Aish sudahlah! Berhenti membicarakan kekasih kalian. Aku pusing mendengarnya,” dan hei~ akhirnya objek yang sedang di ganggu pun bersuara. Siwon berjalan pelan ke arah bangku penonton dan berjongkok tepat di depan namja itu. Membuat namja yang mampu merebut perhatian Siwon itu terkaget. “A-ada apa?” tanyanya sedikit gugup.

Siwon tersenyum lalu mengambil tangan namja itu—mengecup punggung tangannya dan berucap, “Aku Choi Siwon, kalau boleh tahu, siapa namamu?”

‘DEG’

“Ciieeee~~” bisa terdengar suara semua orang yang menonton mereka. Merasa risih, dengan segera namja itu melepaskan tangan Siwon dan menjawab cepat. “Kim Kibum,” balasnya lalu pergi, meninggalkan teman-temannya yang terpaku melihat aksi Siwon.

Di tengah lapangan, ke empat teman Siwon berseru. “Kim Kibum, Won! Anak kelas 11 IPA 2, hahaha.”

Dan seketika, Siwon menatap mereka, memberikan deathglare terbaik milik keluarga Choi, membuat empat orang itu memelet juga beranjak ke pacar masing-masing, mengabaikan tatapan Siwon. Siwon pun hanya mendecih. “Ck dasar. Mereka selalu berisik.”

Namun kemudian, seulas senyum tampak di bibirnya, dengan lesung pipi yang menghiasi wajahnya. “Kim Kibum, ya?”

.

.

Bel istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Terlihat empat orang namja sedang duduk di satu meja sambil sesekali, namja yang paling muda kembali menggoda Siwon. “Ciiee Siwon hyung lagi jatuh cinta, kekeke,” godanya membuat Siwon menatapnya. “Diamlah, Kyu! Kau ini berisik sekali.”

Suara Siwon yang terdengar beda, membuat teman-temannya terkekeh. “Haha biasalah Kyu! Yang baru jatuh cinta jadi galau gitu mukanya, wkwk,” ucap Donghae, satu dari tiga teman Siwon. Membuat Siwon menatapnya kesal. “Aish sudah-sudah, kalian ini senang sekali menggoda Siwon,” dan satu namja tertua di antara mereka menengahi, membuat Kyuhyun dan Donghae terdiam. Siwon terkekeh dan mengucapkan terimakasih pada Yesung.

Tak selang dari itu, suara seseorang menyadarkan mereka. “Kyuhyunnie, chukkaeyo~” suara yang lembut menyadarkan Kyuhyun lalu melihat bahwa kekasih bunny nya kini ada di belakangnya. Kyuhyun bangkit kemudian memberikan kecupan di bibir Sungmin –kekasih Kyuhyun- membuat Sungmin merona. “Gomawo chagi,” balasnya dan mencium Sungmin lagi.

Bersamaan dengan itu, Donghae juga mengucapkan terimakasih juga kecupan untuk sang kekasih –Eunhyuk. Sama halnya, Yesung pun melakukan hal yang sama. Yang akhirnya meninggalkan Siwon juga satu orang tersisa dengan wajah malas. Menyadarinya, Siwon berucap kesal sehingga menghancurkan moment kedua hyung dan satu dongsaengnya. “Oh ayolah, ini kantin, bisakah kalian tidak bermesraan di sini?”

Dan seketika, semaunya melepas ciuman mereka masing-masing kemudian menatap Siwon sengit.

.

.

“Bilang saja kau sirik! Soalnya namja itu ‘kan—eh? Kibum kau sejak kapan ada di sini?” ucapan Donghae berubah saat melihat Kibum –namja yang di maksud ada di depannya. Kibum hanya memasang tampang datar lalu menatap para hyungnya. Sesaat kemudian, Sungmin pun tersadar. “Ah ne, berhubung hanya Siwon yang tidak mengenal Kibummie, kenalkan Siwonnie, ini Kibummie, teman kami.”

“Kim Kibum, salam kenal.” Ucap Kibum cepat dan sedikit membungkuk. Siwon membalasnya dengan membungkuk juga. Lalu tangan mungil Ryeowook mengambil tangan Kibum dan menyuruhnya duduk di samping Siwon. Seketika, tubuh Kibum menegang, namun ia langsung mengatasinya dengan memasang wajah sedatar mungkin. Lalu Siwon? Tentu saja sangat senang.

Seketika suasana hening. Semuanya larut dengan makan yang entah sejak kapan tersaji di depan mereka. Sampai akhirnya suara Ryeowook menyadarkan mereka ke dunia nyata. “Chukkae ya untuk kemenangan kalian,” kata Ryeowook. Siwon, Yesung, Kyuhyun dan Donghae hanya mengangguk. “Gomawo Wookie.”

.

.

‘BRAK’

“Anak sialan! Lalu bisa mu apa, hah? Memberi uang tidak bisa? Menjual tubuh tidak mau? KAU BISANYA APA? KIM KIBUM SIALAN?” maki seorang namja paruh baya pada Kibum. Kibum pun hanya diam mendapat caci dan makian dari namja yang berstatus ayahnya itu.

Tak jauh dari Kibum terlempar dengan terhempas menabrak dinding, sang ibu terduduk dengan darah yang terus mengalir dari pelipisnya. Kibum meringis melihat darah yang tak henti-hentinya keluar. Mengabaikan tatapan murka sang ayah, Kibum menghampiri sang ibu, lalu membawanya masuk ke kamar kecil milik Kibum.

“YA KIM KIBUM SIALAN? MAU KEMANA KAU, HAH?”

“Aku akan memberikan appa uang nanti. Hari ini aku belum pergi dengan siapapun!” balasnya cepat dan membawa masuk sang ibu. Terdengar dobrakan pintu yang membuat ia mendengus lalu memandang sang umma. “Dia ngapain umma lagi?” tanya Kibum setelah mendudukan ummanya di kasur miliknya.

Kemudian beranjak mengambil kotak P3K di lemari kecil yang sudah ia siapkan. Sang umma diam, Kibum sangat mengerti jika sang ibu sudah diam. Perlahan, Kibum mengobati luka di pelipis yeoja berusia tigapuluh tahunan itu. “Lain kali, umma harus melawan, ne? Jangan tunduk begitu saja. lagipula, umma tahu ‘kan bahwa dia itu appa tiriku. Aku pikir dengan umma menikah dengannya, hidup kita akan lebih baik,” titah Kibum. Sang umma menunduk tetapi sentuhan di pipinya membuatnya melihat sang anak. “Gwenchana, lain kali, kita lawan sama-sama, ne?”

Mendengarnya, sang umma tersenyum, mengangguk dan mengelus halus pipi putih Kibum lalu berucap lirih. “Gomawo Kibummie, mianhe.”

.

.

Oppa ayo kita ke sana,” ajak seorang yeoja pada namja di sebelahnya. Namja itu hanya mengikuti  yeoja itu malas. Haish, kenapa dia harus bekerja seperti ini sih? Menemani para yeoja berkencan seharian. Membuatnya muak saja.

Tak jauh dari itu, seorang namja lain yang tengah pergi dengan sang adik, melihat sekilas sekelilingnya dan matanya menangkap siluet seseorang yang sangat ia kenal. Yup, siluet Kim Kibum. Namja yang sudah berhasil mengambil alih pikirannya.

Ia mulai berpikir, siapakah yeoja yang ada di sampingnya itu? Apakah pacarnya? Atau adiknya? Atau sepupunya? Atau? Aish, memikirkannya saja membuat dia gila.

‘Aku harus tahu siapa kau, Kibummie? Atau kalau perlu besok aku akan menembakmu,’ batin Siwon dan berlalu karena tangannya di tarik oleh sang adik.

.

.

“Aish aku telat lagi. Dasar namja sialan. Gara-gara dia aku jadi terlambat,” terlihat seorang namja berkulit seputih salju tengah berlari sambil mengumpat. Kibum, namja itu terus saja berusaha mencapai kelasnya yang terasa jauh. Ini sudah jam tujuh lewat delapan menit. Yang tentu saja ia sudah terlambat delapan menit lamanya.

‘Sial, sial, sial! Dia benar-benar pembawa sial!’ umpat Kibum dalam hati, entah mengapa kelasnya terasa begitu jauh. Kibum terus berlari, namun ternyata, sebuah kejadian menimpanya. Seseorang lain yang berlari dari belakang Kibum menabrak bahunya sehingga Kibum harus berhenti untuk melihat siapa yang mengganggu acara lari-paginya-menuju-ruang-kelas itu. “Kau—“

“Maaf—ah, Kim Kibum. Mianhe, aku tidak sengaja,” ucap orang itu yang ternyata Siwon. Kibum mendatarkan kembali ekspresinya setelah mengetahui orang yang menabraknya adalah Siwon. Melihat Kibum yang berubah datar padahal tadi Siwon tahu Kibum ingin marah pun menyapa Kibum lagi. “Tidak jadi marah, Kibum-ssi?”

Kibum mendelik lalu meninggalkan Siwon begitu saja. tetapi, Siwon menang cepat. Dengan segera ia menarik tangan Kibum dan menghimpitnya pada dinding di koridor yang kini menjadi tempat mereka berada. Memojokkan Kibum juga memenjarakannya dengan kedua tangannya. Terkejut, namun Kibum segera memasang wajah datar nan dinginnya. Kemudian berucap. “Apa yang kau lakukan Siwon-ssi?”

Pertanyaan yang Kibum lemparkan membuat ia berpikir. ‘Iya ya untuk apa aku memenjarakannya di kedua lenganku? Ah! Aku ingat! Menyatakan cinta, kekeke,’ batin Siwon kemudian kembali menatap mata Kibum.

Indah. Sejuk. Namun terasa sepi. Itulah yang Siwon tangkap dari kedua bola mata Kibum. Tanpa sadar, satu dari tangan Siwon yang memenjarakan Kibum terangkat dan mengelus pipi Kibum, lalu membenarkan poni milik namja cantik itu. Membuat Kibum terlonjak kaget juga menatap Siwon heran. “S-siwon-ssi—“

“Jadilah kekasihku, Kim Kibum,”

‘DEG’

Satu kalimat telak yang membuat jantungnya berhenti. Seseorang yang baru ia kenal? Menembaknya? Yang awalnya mencium punggung tangannya hanya untuk mengetahui siapakah namanya? Aish! Ini sudah gila, batin Kibum.

“Maaf—“

“Ku katakan sekali lagi, jadilah kekasihku, Kim Kibum,”

‘Sret—‘

‘BRAK’

“Ah!” rintih Kibum sesaat ia ingin melepaskan diri. Namun dengan sigap, Siwon kembali mendorongnya. “Ya! Kau sudah gila!” seru Kibum kesal dan heran. Tetapi bukannya marah, namja tinggi tampan itu malah terkekeh lalu mencium pipi Kibum gemas. Terang saja Kibum melotot dan siap menyemprotnya. “Kau—“

“Kau akan lebih terlihat cantik kalau marah, loh,” ujar Siwon lebih cepat sehingga ucapan Kibum terpotong. Kibum bingung, sebenarnya orang ini kenapa? Mereka sudah telat masuk kelas. Dan namja ini malah menahannya di sini dengan keadaan yang sangat memalukan juga alasan yang tidak masuk akal.

Seorang namja? Menyatakan cinta kepada seorang namja juga? Hei! Kibum masih nor—

‘CHU’

‘Astaga!’ batinnya berseru. Dengan segera Kibum mendorong tubuh namja di depannya. Sehingga namja itu terdorong ke belakang. Lalu menyemprotnya. “Kau gila Choi Siwon! Aku masih normal!” teriak Kibum seraya mengusap bibirnya. Melihat Kibum yang marah, justru membuat Siwon tersenyum. Kibum yang melihatnya jengkel, mengumpat dalam hati. ‘Dasar gila! Manusia sialan! Aku sudah telat begini masih saja di hadapkan dengan kejadian abnormal! Sial! Sial! Sial!’

Setelah mengumpat dalam hati, Kibum meninggalkan Siwon yang terus saja menatapnya dengan senyum yang menghiasi wajah berlesung pipinya.

.

.

“Aish! Sialan!” umpat Kibum untuk yang kesekian kali. Melihat dongsaengnya terus seperti itu semenjak mereka dari kelas menuju ke kantin, sampai akhirnya mereka memesan makan, membuat Sungmin yang merupakan hyung tertua di antara mereka pun bertanya. “Waeyo Kibummie? Daritadi kau mengumpat terus sih? Dan lagi, tadi pagi kau telat sampai setengah jam lebih. Wae Bummie-ah?” tanya Sungmin pada Kibum.

Kibum memandangnya lalu berucap pelan. “Rutinitas pagi hyung, hehe,” balasnya sambil terkekeh pelan membuat semua hyung nya menatapnya. “Kim ahjushi ngapain kamu lagi memangnya?” pertanyaan Ryeowook membuat Kibum mengingat kejadian tadi pagi. Saat di mana, seorang namja paruh baya itu memukulinya, meminta uang kepadanya karena pada saat Kibum pulang semalam, namja itu sudah tertidur lelap. Mengingatnya membuat Kibum tersenyum miris. Dan lagi kejadian di koridor sekolah.

Dengan wajah datar, Kibum menoleh dan tersenyum paksa. “Hehe sudahlah hyung. Lebih baik kita kembali ke kelas,” ajak Kibum pada ketiga hyung nya. Kibum berjalan duluan mengabaikan tiga orang tersisa yang menatapnya miris. ‘Kibummie, kenapa kau tertutup sekali sih pada kami sekarang?’ batin mereka sedih. Dan selanjutnya, mereka mengikuti langkah Kibum yang semakin menghilang di balik koridor.

.

.

Senja datang menghampiri, Kibum kini tengah termenung di dekat jendela kamarnya. Ia mulai berpikir, ia tidak bisa seperti ini terus. Pergi berkencan seharian dengan para yeoja lalu mereka membayar Kibum. Membayar waktunya dan jasa Kibum yang menemani mereka. Tetapi, jika tidak seperti itu, Kibum bisa dapat uang dari mana? Sedangkan sang appa, terus mencaci-makinya meminta uang. Mengatakan bahwa dirinya tidak berguna. Heyo~ siapa yang mau di maki seperti itu?

Lamunannya terhenti ketika ia mendapati ponselnya yang bergetar. Ia mengambilnya dan dahinya mengernyit melihat nomor tak di kenal singgah di ponselnya. ‘Ck! Nomor siapa coba?’ pikirnya kemudian membaca pesan singkat itu. Ia mulai berpikir lagi kalau itu yeoja yang ingin mengajaknya berkencan. Mungkin.

Tapi alisnya semakin bertaut setelah membaca pesan singkat itu.

.

.

From : 08205135xxxx

Heyo, aku ingin menyewa waktu mu. Besok siang pulang sekolah kita berkencan. Titik, dan aku tidak mau ada penolakan.

C.S

.

.

Otaknya mulai bekerja. C.S? siapa dia? Apakah mungkin—Choi—Siwon?

Bukan! Pasti orang lain. aish! Kenapa tiba-tiba aku memikirnya manusia abnormal itu, sih!, maki Kibum pada dirinya sendiri.

Kemudian ia bangun dari duduknya dan berjalan menuju tempat tidur, lalu merebahkan tubuhnya yang di landa rasa lelah. Dan detik setelahnya, ia larut menuju mimpi.

.

.

“Pagi Kibummie,” sapa setiap orang yang bertemu dengannya. Kibum hanya membalasnya dengan senyum, alu mempercepat langkahnya agar sampai di kelas. Kibum sudah muak jika harus berbaik hati kepada semua orang.

Dan ingatannya kembali pada pesan singkat yang ia terima tadi malam. Ia mulai berpikir. Siapakah C.S itu? Ia juga penasaran. Orang ini anak mana? Aish!

“Pagi Kibummie!” seru tiga orang yang berhasil membuat Kibum terkaget. Ia menatap tajam ketiga orang itu yang di balas dengan cengiran tak bersalah. Kemudian Kibum menghela napas. “Berhenti berteriak seperti itu kenapa sih hyungdeul. Telinga ku berdengung jadinya,” ucap Kibum. Yang ia lihat di balaskan anggukan oleh ketiga orang itu yang ternyata ada Sungmin, Eunhyuk dan Ryeowook.

.

.

“Kim Kibum,”

‘Aish tolong jangan sekarang dan jangan lagi, Choi Siwon yang aneh! Ayolah, aku malas bertatap muka dengan—“

‘SRET’

‘BRAK’

“Ah!”

‘—dan hell, kenapa dia suka sekali membuat punggungku sakit, sih?’ batin Kibum mengumpat setelah ia merintih tadi. Kemudian di tatapnya namja yang beberapa waktu lalu mengajaknya berpacaran. Kibum menatapnya kesal. “Apa mau mu sih?”

“Kau dapat sms itu, ‘kan? Berarti ayo kita berkencan!”

MWO? Jadi itu kau?” tanya Kibum terbelalak. Siwon di depannya mengangguk. “Ne. Waeyo? Kau mau menolak? Oh, tidak bisa Kim Kibum,” balas Siwon cepat. Kemudian, Kibum mengubah ekspresinya. “Aku ada test besok,” jawab Kibum sambil mendorong Siwon menyingkir dari hadapannya. “Baiklah. Kalau begitu. Kajja!”

Kibum melotot saat tangannya di tarik oleh Siwon, kemudian berseru. “Hei!” dan seruan itu hanya di anggap angin lalu oleh namja tampan itu.

.

.

“Nah, ayo masuk,” suruh Siwon mempersilahkan Kibum. Terlihat, para pelayan rumah Siwon menyambut mereka dengan membungkukkan badan mereka. Siwon hanya membalas sekenanya lalu menarik Kibum.

Kibum yang tak siap hampir saja jatuh jika saja Siwon tidak menahannya. Dan beberapa detik kemudian, menyadari langkah Kibum yang lelet, Siwon pun membawa Kibum ala bridal style ke kamarnya. Yang tentu saja Kibum hadiahi dengan berontakan, tetapi Siwon tak peduli.

.

.

Suasana kini hening. Keduanya sedang berada di kamar megah Siwon. Kibum bingung, ini orang ngajak kencan? Tapi kenapa ke kamarnya? Jangan-jangan—oh ayolah berhenti berpikiran bodoh, author sarap  -__-, batin Kibum kesal.

“Nah, silahkan duduk, Kibummie,” titah Siwon setelah melemparkan tasnya ke atas kasur. Kibum menatapnya meminta penjelasan. “Kenapa? Kau bilang besok kau ada test, ‘kan? Jadi kita kencan di sini saja. Besok aku juga ada test kok,” mata Kibum melotot mendengarnya. Apa-apaan sih nih orang?

Kibum diam sampai akhirnya Siwon menariknya duduk namun dengan tidak elitnya Kibum jatuh di pangkuan Siwon. Lama mereka berpandangan tetapi Kibum tersadar dan dengan cepat beranjak dan duduk di samping namja itu. Duduk diam tak mengerti.

.

.

“Kalau yang ini bagaimana?” alis Kibum semakin bertaut. Siwon anak kelas 11 IPA 1, ‘kan? Kenapa ini orang nanya terus sih? Seharusnya ‘kan anak IPA 1 itu pintar. Aish! Apa-apaan sih.

Kibum meliriknya, “Kau ‘kan anak IPA 1, kalau masuk kelas itu ‘kan seharusnya kau pintar, Choi-ssi,” balas Kibum ketus. Siwon tertawa, “Aku ‘kan hanya mencoba membuat sesuatu yang bisa di bicarakan. Kau ini tidak bisa di ajak kompromi, yah?”

Kibum memutar bola matanya malas. “Terserah. Kerjakan saja sendiri. Jangan ganggu aku,” kata Kibum kemudian kembali larut pada soal-soal di hadapannya.

.

.

Cahaya matahari yang sedari tadi masuk melalui celah jendela mulai menghilang. Di gantikan oleh bias cahaya rembulan yang mulai menyapa sang umat. Siwon masih betah memandangi Kibum yang sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Sampai akhirnya namja berkulit seputih salju itu menyadarinya.

Ia berkata dengan nada yang begitu datar. “Ada yang salah dengan wajahku?” katanya tanpa melirik Siwon. Siwon tersentak kemudian pura-pura berkutik dengan bukunya. Kibum mendengus, “Dasar bodoh.”

Siwon bisa mendengar itu. Tetapi ia diam sampai akhirnya ia mendengar Kibum yang menghela napas. Siwon melirik dan memberanikan diri bertanya. “Ada apa?” tanya Siwon membuat Kibum menoleh. “Tidak apa-apa. Lagipula memangnya helaan napasku mengganggu mu?”

‘Aish! Bisa tidak sih dia ramah padaku? Dia sedang kencan denganku dan aku akan membayarnya, ‘kan?’ batin Siwon kesal. Siwon diam, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Kibum.

.

.

Waktu terus berjalan, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Siwon menguap lalu melirik Kibum di sampingnya. Dan betapa kagetnya saat ia melihat bahwa namja itu tertidur. Siwon tersenyum, wajah Kibum terlihat begitu polos saat tertidur seperti ini. Tanpa sadar, tangannya bergerak lalu menyingkirkan poni yang menutupi mata Kibum. “Cantik,” gumam Siwon tanpa sadar. “Saranghae Kim Kibum. Andai saja kau mengetahui perasaanku.”

Siwon berucap sambil terus mengusap-usap rambut Kibum, sampai akhirnya sang empunya menggeliat membuat Siwon menjauhkan tangannya dan pura-pura tertidur juga.

Kibum membuka matanya, dan di hadapkan dengan wajah seseorang yang kini sedang memejamkan matanya erat. Tertidur. Ah, dirinya juga tertidur, sama seperti namja menyebalkan yang ada di depannya sekarang.

Kibum terus memandang wajah namja itu, tanda sadar bahwa kini ia tersenyum. “Cinta ya? Kau-jatuh-cinta-padaku? Jangan bercanda Choi Siwon,” ujarnya sendiri sambil terus memperhatikan wajah namja itu. Tanpa sadar tangannya terulur dan menyingkirkan poni yang menutupi wajah Siwon. “Tampan yah? Aku saja baru mengenalmu.”

Terus, dia terus berucap sendiri. “Dan lagi? Apa? Kau mau aku jadi kekasihmu? Haha, jangan bercanda Choi Siwon. Tidak ada cinta di dalam hidupku,” kata Kibum lagi namun suaranya terdengar parau. Kemudian ia melihat ke arah pintu, lalu Siwon. Dan setelahnya ia memutuskan untuk beranjak. Ini sudah malam. “Baiklah, Choi Siwon yang aneh. Aku pulang dulu yah? Terimakasih karena sudah menyita waktuku.”

Dan kemudian Kibum melangkah keluar dengan wajah datar namun hatinya kesal dengan Siwon yang kini membuka matanya. Bergumam pelan, “Tidak ada cinta? Maksudnya apa?”

.

.

Ruangan itu gelap gulita. Sangat terlihat sepi karena ia yakin appa dan umma nya sudah larut ke alam mimpi. Tapi—oh, ternyata kau salah Kim Kibum. Tiba-tiba lampu menyala dan terlihatlah, namja paruh baya dengan muka merah karena marah. Ia mendekati Kibum lalu menjambak rambutnya.

“Ah! Appa sakit!” rintih Kibum berusaha melepaskan tangan sang appa. Namun, namja tua itu malah menariknya semakin kencang. “Appa appo!” jeritnya.

‘BRAK’

‘PRANG’

“Ah!” lagi-lagi Kibum merintih saat sang appa menghempaskannya sehingga ia menabrak meja buffet yang di atasnya terdapat vas. Mendapat guncangan, vas itu jatuh di samping Kibum dan mengenai tangannya. Tangan Kibum berdarah. Namja paruh baya itu menyeringai. “Rasakan itu Kim Kibum sialan! Sekarang mana uangnya, hah?”

Kibum meringis dan menatap sang appa. “M-mianhe appa. Aku belum memintanya. M-mungkin besok.”

‘PRANG’

Lagi. Namja itu melempar remote tv yang akhirnya mengenai vas-vas yang masih bertengger diam di atas buffet. Vas-vas itu pecah dan pecahan kaca itu menyebar, bahkan mengenai wajah Kibum. Dan yang bisa Kibum lakukan hanya meringis. “Dasar sialan! Bagaimana bisa kau lupa, hah? Dia mengambil waktumu, sialan! Tentu saja kau harus minta bayarannya! Dasar anak bodoh!” maki namja itu.

Kibum diam. Tidak menjawab. Ia masih terus meringis karena tangannya secara tak sengaja menekan pecahan kaca. Ia mengumpat dalam hati dan matanya menangkap sang umma yang mengintipnya dari balik pintu kamar bercat coklat itu.

“Cih! Sudahlah! Masuk sana! Dan jangan lupa, BESOK KAU HARUS MEMINTA UANG ITU DAN BERIKAN PADAKU! Kau mengerti, ‘kan?” ucap serta bentak sang appa. Kibum hanya mengangguk tak jelas. “Ck! Benar-benar tak berguna!”

‘DEG’

Jantung Kibum refleks berdetak semakin cepat. Seumur-umur, appa kandungnya tidak pernah mengatakan bahwa dirinya tidak berguna. Tapi namja ini?

‘Andai saja appa masih hidup.’ Batin Kibum sedih lalu menatap tangannya yang sudah bersimbah darah. Namja itu meninggalkan Kibum ke kamarnya. Lalu tak lama, sang umma keluar dari balik pintu kamarnya yang terpisah dengan sang appa. Menghampiri Kibum kemudian membawanya ke kamar Kibum.

Yeoja paruh baya itu mendudukkan Kibum lalu beranjak mengambil kotak P3K. Ia duduk di hadapan Kibum dan mulai mengobati luka-luka sang anak. Kibum hanya diam. Diam memperhatikan wajah sang umma yang basah air mata.

Hati Kibum terasa sakit. Jantungnya berdenyut menjerit. Napasnya sesak seakan tertahan. Mengapa semua ini terjadi padanya?

Kibum tersadar saat merasakan sebuah tangan menyentuh pipinya. Ia melihat sang umma yang tengah menghapus noda darah lalu mengobati luka yang terpahat di pipinya itu. “Gwenchana chagi?” benar. Suara ini amat sangat ia nanti. Kibum mengangguk dan tersenyum. “Nan gwenchana umma. Umma bagaimana, hem?”

Mata yeoja itu terpejam kala Kibum mengusap pipinya. Ia menangis, terisak di depan Kibum. Menciumi tangan sang anak. Berucap lirih. “Mianhe Bummie. Mianhe. Maafkan umma, hiks, maaf..maaf..maaf.”

‘Cukup umma! Jangan minta maaf lagi!’ jerit hati Kibum. Ia tidak tega melihat umma nya terus menerus berucap maaf padanya.

Perlahan, Kibum mengusap pipi sang umma yang basah air mata. “Aniyo umma. Umma jangan minta maaf, please. Ini bukan salah umma, ne?” balas Kibum dan memeluk ummanya. Kibum merasa yeoja itu mengangguk dalam pelukannya. Lalu Kibum semakin mengeratkan pelukan yang ia ciptakan. ‘Mianhe umma. Seharusnya aku yang minta maaf.’

.

.

Semilir angin menyentuh wajahnya. Mata Kibum terpejam dengan earphone terpasang di telinganya. Menikmati apa yang alam berikan selama ini. Terduduk di halaman belakang sekolah. Sesekali membolos sampai istirahat pertama bermaksud menghindari pertanyaan beruntun dari ketiga hyung cerewetnya.

Sampai suara seseorang mengganggunya. Suara seseorang yang seharian kemarin menyita waktunya.

“Kenapa kau suka sekali kabur, Kim Kibum?” tanya orang itu. Kibum tak peduli dan tetap memilih memejamkan mata sampai akhirnya sentuhan di pipinya memaksanya menampakkan bola mata coklatnya. “Dan kenapa kau suka sekali mengganggu ku, Choi-ssi?”

Mendapat pertanyaan balik dari Kibum, namja yang ternyata Siwon itu tertawa. Namun kemudian tawanya berhenti saat melihat plester dan perban yang menghiasi wajah juga tangan namja yang telah memikat hatinya. Cepat-cepat ia mengambil tangan namja itu dan menyentuh plester yang ada di pipi kanan Kibum. “Gwenchana Kibummie? Kenapa bisa seperti ini?”

‘Oh, hell. Kenapa orang ini seperti Sungmin hyung, Eunhyuk hyung dan Ryeowook sih? Aish!’ seru Kibum dalam hati kesal.

Dengan cepat Kibum menyingkirkan tangan namja itu lalu menarik tangannya sehingga terlepas. “Jangan sok peduli padaku. Lagipula aku siapa mu?” jawab Kibum ketus membuat Siwon terdiam. Kemudian terkekeh, “Aku ya? Tentu saja sebentar lagi kau akan jadi kekasihku, Kibummie.”

Jika saja ini komik, mungkin sudah hadir empat siku di dahi Kibum. Kenapa namja ini percaya diri sekali, sih? Cih! Dasar.

“Terserah kau saja. Omong-omong, mana bayaranku?” ucap Kibum membuat Siwon menatapnya. Menatap mata namja cantik di depannya. Teduh namun kesepian. Benarkah tidak ada cinta di dalam hidupnya?

Siwon tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat kemudian memberikannya pada Kibum. Saat Kibum ingin mengambil, dengan sigap Siwon menjauhinya, dan berbisik. “Hari sabtu minggu ini, aku menyewa mu lagi untuk kencan denganku. Tidak ada penolakan. Titik.”

Dan setelah berucap seperti itu, Siwon meletakkan sejumlah uang itu di tangan Kibum. Kemudian meninggalkan Kibum yang kini terpaku. “Lagi? Haruskah aku berkencan dengan dia lagi? Aish!” seru Kibum frustasi.

.

.

“Kibummie~~~ kau kemana saja?” seru ketiga hyungnya saat Kibum menampakkan diri di kelas. Kibum hanya diam dan berjalan duduk ke tempatnya. Setelah ini akan ada ulangan, jadi sebaiknya ia membuka buku lalu belajar. Pura-pura tidak dengar apa yang mereka tanyakan, deh!

Merasa di abaikan, Sungmin yang notabene nya paling tua di antara mereka berseru. “Ya! Kim Kibum! Jawab kami. Dan lagi, wajah terus tanganmu kenapa? Gwenchana chagi-ah?” seru serta tanya Sungmin khawatir. Kibum memutar bola matanya lalu menjawab. “Gwenchana hyung. Jangan khawatirkan aku, ne?”

Sungmin ingin menjawab, namun Kibum kembali sibuk dengan bukunya. Terpaksa, ia hanya mengangguk dan mengisyaratkan agar Eunhyuk dan Ryewook duduk di tempat mereka.

.

.

Hari terus berjalan, dan hari sabtu mulai menghampiri Kibum. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Kibum masih enggan memejamkan matanya. Takut jika tiba-tiba Siwon datang lagi ke mimpinya. Entahlah, ia sendiri bingung dengan mimpinya itu.

Kibum memejamkan matanya erat. Bukan berniat untuk tidur, tetapi berniat untuk mengusir perasaan aneh ketika ia memimpikan Siwon. Aish! Ayolah! Kibum itu masih normal, hey!

Dan saat ia sudah bisa menguasai dirinya, ponselnya bergetar. Kibum meliriknya tanpa ada niat untuk melihatnya. Tetapi, instingnya bilang ia harus membaca pesan singkat yang baru saja masuk itu.

.

.

From : Choi-ssi

Jangan lupa besok. Jam 10 aku jemput di depan rumahmu. Dandan yang cantik, ne?

.

.

Matanya melotot. “Kau pikir aku yeoja apa! Dasar Choi Siwon gila!” maki Kibum dengan suara pelan. Takut membangunkan appa dan umma nya yang pasti sudah tidur.

Kibum memijat pelipisnya. “Aish! Kenapa aku harus bertemu orang seperti dia sih? Menyusahkan!” ucap Kibum lagi dan lebih pelan dari yang tadi.

.

.

“Aish! Pelan-pelan jalannya Choi Siwon bodoh! Seperti anak kecil saja yang begitu senang hanya karena pergi ke Lotte World! Ck!” ucap Kibum kesal karena sedari tadi Siwon menariknya. Kibum yang sedikit kesusahan karena langkah Siwon yang besar lagi-lagi hampir membuatnya terjatuh.

Siwon berhenti lalu menatap Kibum. “Arraseo. Mianhe ne. Ah, bagaimana kalau kita lihat stand buku itu, lalu baru naik wahana?” ucap serta ajak Siwon. Kibum menatap namja di depannya. Namja yang lagi-lagi semalaman berada di dalam mimpinya. “Hn. Terserah kau saja.”

Siwon tersenyum, lalu menarik Kibum ikut bersamanya. Kibum menatap tangannya yang di genggam oleh Siwon. Hatinya—menghangat.

Dan, oh, ayolah. Berhenti membuat statement bahwa aku menyukai namja Choi ini, author-ssi, jerit hati Kibum yang tentu saja membuat author tertawa.

.

.

Senja telah datang, kini Kibum terduduk di bangku kosong yang ada di sekitar Lotte World. Menunggu Siwon yang sedang membeli minuman.

Mata Kibum menerawang. Mencoba mencari apa arti dari perasaan yang selalu menganggunya. Semenjak ia bertemu dengan Siwon? Kibum yakin itu hanya perasaan nyaman sebagai teman saja. bukan perasaan yang sering ketiga hyungnya serukan itu. Ia yakin, bahwa ia hanya suka cara bagaimana Siwon menggenggam erat tangannya dan bagaimana namja itu menatap matanya.

Menatap mata Kibum dengan pandangan yang menurut Kibum amat sangat lembut dan tulus. Lalu benarkah semua ini? Aish, sudahlah!

“Ini pesananmu,” kata seseorang menyodorkan segelas cappucino di depan wajah Kibum yang sedang merenung. Kibum mengangkat wajahnya dan menemukan wajah Siwon yang sedang tersenyum melihatnya. Kemudian ia mengambil segelas minuman itu lalu meminumnya.

Siwon terkekeh lalu mengacak-acak rambut Kibum. “Kau ini, selalu saja dingin padaku. Seharusnya ‘kan kau berakting sama seperti ketika kau pergi dengan yeoja-yeoja itu.”

‘Benar sekali. Kenapa aku tidak bisa berakting sama dengan sebelumnya?’ tanya Kibum pada dirinya sendiri.

Ia diam. Diam sampai akhirnya ia menyadari ada yang menggenggam tangannya. Kibum melihat wajah namja itu. Tulus dan lembut. Tatapan mata namja itu membuatnya begitu nyaman. Yang tanpa sadar keduanya mendekat menghapus jarak. Sampai akhirnya napas mereka terasa satu sama lain.

Dan ketika bibir mereka bersatu, matahari pun bersembunyi, membiarkan dua insan ini berciuman di bawa redupnya cahaya mentari. Menikmati apa yang tersalurkan melalui bersatunya dua bibir itu. Saling meresapi apa yang tersaji di dalamnya. Sampai akhirnya Kibum menyadari ini kemudian mendorong namja di depannya. Menyentuh bibirnya seakan menghapus noda yang ada. Kibum menatap Siwon sengit. “Apa yang kau lakukan?”

Heran. Sebenarnya itulah yang Siwon rasakan. Kenapa namja itu baru marah ketika sebelumnya ia merasa Kibum membalas ciuman mereka? Hey, Kim Kibum itu kenapa sih?

Siwon tersenyum lalu mengelus pipi Kibum. “Mianhe. Aku kelepasan. Baiklah, sudah sore. Ayo aku antar pulang,” ucap serta ajak Siwon. Kibum terdiam. Seketika kehangatan datang menyeruak masuk saat Siwon mengelus pipinya. Oh ayolah jangan seperti ini?!

“Kibummie?”

“Ah iya. Kajja kita pulang.”

‘Tidak. Seharusnya aku tidak jatuh cinta pada Siwon. Ini salah. Pasti aku hanya merasa nyaman. Bukan. Aku-tidak-mencintai-Siwon. Titik. Kau jangan gila Kim Kibum. Kau-namja-normal!’ ucap Kibum dalam hati dan membiarkan tangannya di tarik oleh Siwon.

“Ya, aku tidak jatuh cinta,” gumamnya pelan berharap tak ada yang dengar. Tetapi—Siwon bisa mendengarnya. “kau mengucapkan sesuatu tadi?” tanya Siwon yang dengan cepat Kibum balas dengan gelengan kepala. ‘Bodoh,’ umpat Kibum dalam hati pada dirinya sendiri.

.

.

“Nah sudah sampai. Oh ya, ini bayarannya,” ucap Siwon lalu menyerahkan uang kepada Kibum. Kibum menerimanya dan tersenyum. “Gomawo,” kata Kibum kemudian membungkukkan badan.

Siwon hanya terkekeh melihatnya. “Aniyo Kibum-ah. Santai saja. Ah ne, sampai ketemu besok ne, Cup,” ujar Siwon dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Kibum yang membuat Kibum terpaku. Tanpa sadar ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. “Aa..sampai—besok,” balas Kibum pelan saat Siwon sudah menghilang di balik pagar rumahnya.

Ia kembali mendengus. Betapa bodohnya ia yang menerima kecupan itu? Aish!

‘PROK PROK PROK’

Suara tepukan tangan seseorang menggema ketika Kibum membuka pintu rumah. Terlihat sang appa yang memandangnya dengan senyum meremehkan.

“Bagus sekali. Apakah dia kekasihmu?” tanya sang appa sambil merampas uang yang Kibum pegang. Kibum mengumpat dalam hati ketika namja tua itu menatapnya sinis. “Baguslah jika kau punya pacar yang mau membayar waktumu. Kalau bisa kau tidur saja dengannya agar ia membayarmu dengan lebih mahal, Kim Kibum.”

‘DEG’

Hati Kibum meringis. Apakah namja di depannya ini hanya menganggapnya mesin uang? Ia ingin berontak. Tapi—mengingat umma nya pernah bilang bahwa dia mencintai namja ini membuatnya terdiam. Kibum bingung harus bagaimana.

“Kau mengerti ‘kan anak bodoh? Cukup lakukan maka kau akan mendapatkan banyak uang,” katanya lagi yang tentu saja Kibum abaikan. “Jika kau tidak mau—umma mu akan menderita Kim Kibum.”

‘DEG’

Mata Kibum melotot takut. Tidak, namja ini tidak boleh menyakiti umma, batin Kibum berteriak.

“Kalau kau berani menyakiti umma, ku bunuh kau!”

‘SRET’

“Ah! A-appo,” rintih Kibum yang di balaskan seringaian. “Siapa suruh kau berani mengancamku, hah? Awas saja kau!”

‘BRAK’

“Ugh!” sekali lagi. Perut Kibum membentur pinggiran sofa yang tentu saja sangat sakit. Sebelum ia bangkit berniat menuju kamar, Kibum bisa mendengar namja itu berteriak. “Jangan lupa, Kim Kibum!”

“Dan terkutuklah kau, namja tua tidak tahu diri!,” dengus Kibum kesal.

.

.

T

B

C

.

.

Note : Wanna Review?

5 thoughts on “[SiBum Vers] Life or Love? ~Chapter A

  1. huwwaaaaaa mbum kasian bgt ieh aku gemes ma bapa nya mbum.
    udah sih lawan ajah umma nya cinta ma laki2 kaya gtoh?ga ksian ma mbum.?huasa gemes.
    seru Author.figthinggg nde.
    dari nama authornya aku kenal deh di fb tp kok aku ga tau yah klo umu author sibum?yg aku tau autor Kyumin sih.hehehe
    figthingg Nde.♥♥♥♡♡♡

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s