[KyuMin Vers] Life or Love? ~Chapter A


Life or Love?

Kyumin Version.

This story belongs to me

KyuMin, KyuBum!Brothership, SiBum, HaeHyuk, and others

Are belongs to God, Themselves, and their couple

Genre :

A little bit of Romance, Friendship, Hurt/Comfort, Family, Fluffy, Angst

Rating : T

Length : Twoshoot

Summary :

Hidup itu, bukan hanya sebuah kesenangan yang akan kau ambil.

Tetapi, ketika kau akan menangis, tertawa dan merasa sakit, semuanya akan kau rasakan.

Ya, itulah hidup.

Sekalipun penyakit menyerangmu, dan membuatmu lemah,

Namun, ketahuilah, masih ada cinta yang dapat membuatmu bangkit kembali dan melihat dunia.

Karena cinta itu, menerima apa adanya, menerima apapun keadaan mu dan dia.

Warning :

Yaoi, BL, BoyXBoy, Shonen-ai, OOC! AU!

A/N :

Don’t like don’t read!

If you don’t like, just go out.

Just tell me about your beautifully fanfic if you want to flame this fic.

Think again before you do that.

Thank you~

Italic = Kyuhyun’s Diary

Enjoyed it, and please give me feedback~

And thank you again^^

.

.

Life or Love?

.

KyuMin Version

.

Present by Umu Humairo Cho

.

.

Detik jam terus berjalan, seorang namja berusia sekitar sembilan belas tahun kini terlihat duduk di depan meja belajarnya, sambil memandang langit dari tempatnya. Menghadap jendela. Menatap bintang, berucap dalam hati, kala ia merindukan segala ruang untuk bergerak bebas dan bernapas. Bukan hanya duduk di dalam kamar dengan keadaan mengenaskan –em- mungkin memprihatinkan.

Matanya berkilat sedih, entah sudah berapa waktu yang ia lewati hanya dengan terbaring di atas kasur atau terduduk di atas kursi meja belajar yang ada di kamarnya  atau di teras rumahnya. Hatinya miris, kenapa Tuhan membiarkan ia menjadi selemah ini? Meninggalkan semua kehidupan dengan bersembunyi dari semua orang? Kenapa dia harus—menjadi namja lemah yang hanya dapat hidup dengan bantuan zat kimia yang terkandung dalam obatnya? Juga alat-alat rumah sakit dengan pengobatan rutin yang ia jalani?

Bisakah keadaan kembali seperti semula? Saat di mana ia masih bisa berdiri tegak dengan sebuah seringaian yang menghiasi sudut bibirnya? Dengan banyak canda tawa yang hadir kala ia berhasil menggoda sang hyung? Oh Tuhan, kau pemilik segalanya! Biarkan aku menikmati hidup ini sebentar saja, batin namja itu.

“Kyu?” dan panggilan lembut itu menyapa pendengarannya. Namja bernama Kyuhyun itu menoleh dan tersenyum, semanis yang dia bisa. “Ah, Kibum hyung? Kau sudah pulang?” sapanya balik pada sang hyung tersayang. Kibum mendekati sang dongsaeng dan mengangguk, mengusap kepala Kyuhyun lalu mengecupnya. “Ne. Ah, kau sudah minum obat belum?” jawab serta tanyanya yang Kyuhyun jawab dengan gelengan kepala. Mendapat balasan seperti itu, Kibum tersenyum kemudian mulai beralih untuk mengambil tongkat yang akan Kyuhyun pakai berjalan, memberikannya pada sang adik. “Ne, kau harus minum obat dulu, hem?”

Dan respon Kyuhyun hanya menganggukkan kepala juga tersenyum.

.

.

Seoul, 18 Maret  20xx

Musim Semi

 

Bukan! Bukan karena aku lemah dan tak berdaya. Bukan juga karena Tuhan marah padaku. Bukan karena aku tak bisa berdiri itu berarti aku lumpuh. Bukan! Bukan itu!

 

Hanya saja, Tuhan belum mengizinkan aku lagi untuk berdiri tegak di samping appa dan umma, juga Kibum hyung. Hanya saja, Tuhan belum mengizinkan aku lagi untuk kembali melihat dunia luar sana. Bukan karena aku orang yang penyakitan, bukan karena aku komplikasi. Hanya saja, Tuhan sedang mengujiku, karena Tuhan menyayangiku.

 

Ya. Itulah yang aku percayai. Tuhan menyayangiku karena Ia tahu bahwa aku sangat menyayangi-Nya.

.

.

“Kyu? Ayo cepat masuk, udara di luar sangatlah dingin, chagi,” suara seseorang menyadarkan lamunan Kyuhyun yang sejak tadi terpusat pada bukunya. Ia menutup buku itu dan menatap sang umma. “Ah, umma. Ne, sebentar lagi. Pemandangan musim semi bukankah selalu indah umma? Kyu ingin melihatnya sebentar lagi,” jawab Kyuhyun saat sang umma tepat berada di sampingnya.

Heechul –umma Kyuhyun mengusap surai hitam milik sang anak. Menumpahkan kasih sayang yang ia miliki. Kemudian mengecupnya pelan dan berucap lirih. “Cepatlah sembuh, Kyunnie.”

Dan gumaman itu bagaikan bumerang yang siap menghantam dirinya. Kyuhyun tersenyum miris, lalu hanya mengangguk mengiyakan.

.

.

“Kibum!” seru seseorang pada Kibum di koridor universitas mereka. Kibum menoleh dan mendapati Donghae yang kini berlari di belakangnya, di ikuti Eunhyuk. “Ah Hae? Ada apa?” tanyanya. Donghae sampai di depannya dengan terengah-engah, lalu mengambil napas kemudian menghembuskannya. “Ah ne, bagaimana keadaan Kyuhyun? Apakah dia semakin baik?”

Sebuah senyum tipis terukir di bibir Kibum, menampakkan killer smile kebanggaannya. Kemudian ia mengangguk. “Ne Hae. Akhir-akhir ini Kyuhyun baik-baik saja. Sebenarnya sih ia kekeh mau masuk kampus, tapi aku, umma dan appa melarangnya. Waeyo?” jawab serta tanya Kibum. Donghae hanya tersenyum lalu mengait lengan Eunhyuk –kekasihnya. “Aniyo, haha. Yasudah, titip salam untuknya, ne?”

Kibum pun hanya mengangguk, dan Donghae berlari meninggalkannya dengan menarik tangan Eunhyuk. Namja berkulit seputih salju itu tersenyum dan bergumam, “Pasti Hae. Gomawo sudah mengkhawatirkan Kyuhyunku,” sebelum suara dan sentuhan seseorang menyapa pendengaran juga kulitnya. “Kibummie?”

Dan hatinya menghangat ketika melihat, bahwa Siwon –sang kekasih kini ada di depannya. “Ah ne Wonnie? Sejak kapan kau di sini?” tanyanya mengait lengan Siwon. Siwon hanya mengacak-acak rambut Kibum. “Sejak kau tersenyum dan bergumam, haha.”

Kemudian mereka kembali berlalu menyusuri koridor kampus itu.

.

.

Senja kembali datang, Kyuhyun kembali terduduk di kursi di depan meja belajarnya, yang menghadap ke jendela dan langit sewarna jingga. Matanya kembali meneliti setiap pelosok cakrawala, lalu tersenyum. Kyuhyun selalu tersenyum apapun keadaannya. Karena, yang selalu ia percayai, Tuhan menyayanginya. Karena itulah Tuhan menguji dirinya dengan satu penyakit yang kini di deritanya. Ya, Kyuhyun selalu percaya itu.

.

.

Seoul, 22 Maret 20xx

Musim Semi

 

Tuhan, ini masih musim semi, dan musim semi memang selalu indah. Senja pun kembali datang dan aku tetap melihat senyum Mu di langit sana. Apakah Kau sedang tersenyum padaku sekarang ini? Ah, ku harap Kau tersenyum karena ingin memberikanku hidup yang lebih baik—walau bagiku, hidup ku yang sekarang adalah yang terbaik.

 

Tuhan, apakah Kau tahu bahwa aku ingin sekali menjerit ketika umma meminta ku agar cepat sembuh? Ya, aku ingin menjerit, Tuhan! Aku ingin menjerit bahwa ini bukanlah penyakit biasa yang bisa di sembuhkan. Bahwa ini bukanlah penyakit flu, atau demam. Tapi ini—penyakit yang—belum ada obatnya. Kau sendiri tahu itu, ‘kan, Tuhan?

 

Dan apakah Kau tahu? Aku hanya tersenyum miris mendengarnya, lalu aku hanya mengangguk mengiyakan perkataan umma karena aku tidak ingin menyakitinya. Aku menyayangi umma. Aku juga menyayangiMu, Tuhan. Karena itu, izinkanlah aku tetap di sini bersama umma, appa dan Kibum hyung. Aku harap Kau mendengarku. Aamin, aamin ya Tuhan.

.

.

Annyeong, Kyu,” seketika Kyuhyun menoleh ketika mendengar suara seseorang menyapanya. Senyum pun mengembang di bibirnya ketika ia melihat dua orang namja yang ia kenali sebagai hyung dan juga kekasih dari hyungnya kini ada di depannya. Kemudian Kyuhyun pun menjawab. “Ah. Ne, hyung. Apa kabar?”

Keduanya duduk di ranjang Kyuhyun, lalu satu di antaranya menjawab pertanyaan namja itu. “Kabarku baik, kok. Kau sendiri bagaimana, he? Masih merepotkan Kibummie-ku, hem?—Ah! Kibummie sakit tahu,” ucap serta rintihnya ketika namja di sebelahnya mencubitnya. “Jangan di dengarkan Kyu. Kuda ini, ‘kan, suka mengada-ada.”

Kyuhyun tertawa lalu mengangguk. “Aku baik hyung, haha. Akhir-akhir ini aku memakai tongkat bukan kursi roda, haha,” jawab Kyuhyun sambil tertawa sesekali. Miris, Kibum ingin menangis melihatnya, tapi ia tahan. Mengingat Kyuhyun tidak suka jika melihat dirinya menangis. Karena itu, ia hanya tersenyum. Tersenyum miris.

‘Tuhan, kali ini saja. Sembuhkan adikku. Ku mohon, Tuhan. Jangan kau kunci semua gerakan tubuhnya, jangan kau kunci suara merdunya. Ku mohon, kali ini saja, Tuhan,’ doa Kibum dalam hati. Tidak menyadari kini dua namja tersisa sedang menatapnya dan menertawakannya. Kemudian keduanya berseru. “Hyung!”

“Ah! Ada apa?” seketika ia terkaget dan menatap keduanya. Sedangnya yang di tatap hanya tertawa sambil sesekali menjulurkan lidah mereka. “Aish kalian ini. menyebalkan sekali, sih!” dan keduanya masih tertawa, mengabaikan Kibum yang memandang mereka kesal. “Aish, sudahlah. Aku menemui temanku di bawah dulu,” pamitnya kemudian keluar kamar setelah ia mendapat pesan singkat dari sahabatnya.

.

.

Hyung, aku mau tanya boleh?” ujar Kyuhyun membuka pembicaraan sesaat setelah Kibum keluar dari kamarnya. Siwon menoleh lalu menjawab. “Mau tanya apa, Kyu?”

Kyuhyun terlihat ragu, namun sedetik kemudian ia kembali berucap. “Apa—Kibum hyung masih sering menangis?”

‘DEG’

Jantung Siwon berdetak lebih cepat. Apa yang harus ia katakan. Ia sudah pernah berjanji pada Kibum untuk diam. Ketika Siwon mengetahui bahwa Kibum masih sering menangis jika itu berhubungan dengan Kyuhyun. Dengan dirinya.

Siwon menggaruk belakang lehernya gugup, kemudian menjawabnya. “A-ani Kyu. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Tapi aku tahu kau bohong, ‘kan, hyung?” balas Kyuhyun cepat. Suasana tiba-tiba berubah tegang. Kyuhyun menatap Siwon meminta jawaban. Siwon, yang memang tak pernah bisa berbohong pun hanya mengangguk. Ia—merasa bersalah.

“Kenapa..kau membiarkan Kibum hyung menangis, hyung?” Tanya Kyuhyun lagi yang membuat Siwon menatapnya. Di mata itu..di mata Kyuhyun, ada sirat kesedihan juga rasa bersalah. Siwon diam ketika di Tanya seperti itu. Siwon sendiri sudah beratus-ratus kali mengatakan pada Kibum agar jangan menangis lagi. Karena jika Kyuhyun tahu, Kyuhyun  akan sedih. Tetapi namja itu..selalu mengabaikan perkataannya. Karena Kibum—sangat mencintai Kyuhyun, sang adik.

Hyung?” panggil Kyuhyun saat melihat Siwon justru terdiam. Siwon menggaruk belakang lehernya gugup. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. “A-aku..mian Kyu. Hanya saja..aku sudah mengatakan hal yang sama agar Kibum tidak menangis lagi tapi—semuanya di abaikan. Dia sangat menyayangimu.”

‘DEG’

Jantung Kyuhyun secara reflex berdetak lebih cepat. Ah, entah mengapa perasaan bersalah kembali menyeruak masuk ketika membayangkan wajah sang kakak yang bersimbah air mata.

“Aa..begitu,”

Hening. Sampai akhirnya objek yang mereka bicarakan kembali memasuki ruangan yang tadinya hanya ada Kyuhyun dan Siwon. Kibum yang baru masuk menatap bingung keduanya saat melihat wajah mereka yang seakan tegang dan..ah, entahlah. Yang jelas, itu membuat Kibum mengernyit heran. “Ige mwoya?”

Diam. Keduanya diam tak ada yang berniat menjawab sampai akhirnya Kyuhyun lah yang buka suara. “Aniyo, hehe. Hyung habis apa? Menemui teman? Kok ngga di kenalin ke aku?”

Eeh? Apa tadi katanya?

“Ha? Dasar kau. Mau ganjen-ganjen sama temanku, eh? Enak saja. Dasar playboy tengil kau Cho Kyuhyun jelek,” sahut Kibum setelah beberapa saat terdiam. Kyuhyun yang mendengar jawaban itu cemberut kesal. “Aku bukan playboy, oh Snow White hyung! Aku ini ‘kan belum pernah pacaran, wek!” kata Kyuhyun tidak terima di bilang playboy. Kibum yang melihat hanya tertawa lalu duduk di samping Siwon. “Hn..iya-iya. Terserah kamu saja, haha.”

Tertawa. Ah, dan apakah kau tahu? Terkadang, tawa itu membuatmu merasa nyaman. Apalagi—yang tertawa adalah..kakak yang paling kau sayang.

‘Ya, hidup ini tidak terlalu buruk. Karena dengan melihat senyum Kibum hyung saja, aku merasa hidup ku hari ini lebih baik dari hari sebelumnya. Gomawo, hyung-ah.’

.

.

Senja, musim semi, dan teras rumah. Itu adalah waktu dan tempat yang paling Kyuhyun suka. Apalagi jika di sana ada sang kakak. Tapi kini, Kibum belum kembali dari kegiatan kampusnya. Kyuhyun sendiri duduk di teras rumah dengan sebuah buku dan pena. Buku diary yang selalu menemaninya.

Ya, karena bagi dia, hanya diary lah yang bisa mendengarnya selain Tuhan.

Dan Kyuhyun sangat suka saat di mana ia mulai menggoreskan tinta hitam itu. Yang akhirnya membuat ia mengingat kembali tahun-tahun bahkan musim-musim sebelumnya. Tentang bagaimana dulu ia yang masih bisa berdiri tegak. Musim semi di Seoul, ya, saat  itulah, seorang Cho Kyuhyun jatuh untuk yang pertama kalinya.

Tetapi, walaupun begitu, ia tetap—mencintai musim semi.

.

.

Seoul, 25 Maret 20xx

Musim Semi

 

 

Ah, masih musim semi, ya? Hem, Tuhan. Kau tahu? Sekitar tiga hari lalu aku tahu sesuatu tentang Kibum hyung. Ya, benar. Ia masih suka menangis jika menyangkut sesuatu tentang aku. Kau tahu Tuhan? Hatiku sakit mendengarnya. Apa Kibum hyung—benar-benar sangat sedih sampai-sampai ia harus terus menangis padahal aku selalu memintanya untuk tersenyum?

 

Dan hei, tahukah Kau Tuhan? Ucapan kekasihnya saja ia abaikan? Ucapanku. Ucapan umma. Appa. Lalu, siapa yang bisa membuatnya mengerti arti dari setiap permintaan orang-orang yang menyayanginya? Termasuk aku?

 

Aku ingin Kibum hyung tetap tersenyum. Aku ingin Kibum hyung tidak menangis. Aku ingin dia bahagia. Karena aku selalu ingin melihat senyumnya. Kau tahu Tuhan? Melihat senyumnya, umma juga appa, membuat hidupku lebih baik. Ya, Kau pasti tahu itu.

 

Karena itu Tuhan, izinkan aku untuk tetap melihatnya, sampai mereka yang lebih dulu pergi dariku. Aku masih ingin melindungi mereka. Aku masih ingin membuat mereka tersenyum. Ku mohon. Aku tahu Kau mendengarku. Terimakasih. Terimakasih. Dan aku harap—kali ini kau benar-benar mendengarku, Tuhan. Aamin :’)

.

.

Kyuhyun masih suka menggoreskan ujung pena kesayangannya, sampai akhirnya, sebuah pelukan juga kecupan ia dapatkan dari seseorang. Cho Kibum. Ya, orang itulah yang memberikan Kyuhyun kehangatan saat ini.

Kyuhyun sangat suka saat sang hyung memeluknya, memanjakannya. Karena di saat itulah Kyuhyun bisa menjadi sosok Kyuhyun yang dulu. Manja, dan tentunya nakal walau tersirat.

Kibum pun sangat menyukai ketika Kyuhyun bermanja-manja dengannya. Karena baginya, melihat Kyuhyun yang seperti itu, ia seperti melihat Kyuhyun di masa lalu. Melihat Kyuhyun yang masih bisa..berdiri tegak di sampingnya kemudian menjahilinya. Tapi kini—

Hyung bagaimana kegiatannya hari ini? Melelahkan?” suaranya yang merdu jika menyanyi dan memanggil namanya. Ingin sekali Kibum terus mendengarnya sampai ia menutup mata. Tetapi—

Hyung! Ya! Jangan melamun,” seketika Kibum tersadar dan tersenyum pada sang adik. Kyuhyun membalasnya dengan mengusap pipi Kibum. Kemudian kembali bertanya. “Wae hyung? Melamunkan apa, eoh? Melamunkan Siwon hyung, hem?”

He? Alis Kibum bertaut, dan sekarang Kyuhyun mulai menggodanya.

“Siapa yang memikirkan kuda jelek itu? Diam kau Kyu! Aku malas bertengkar denganmu,” balas Kibum cepat. Kyuhyun yang melihatnya hanya tertawa. Lalu mengacak-acak rambut Kibum. “Dasar Snow White hyung, haha.”

“Sudahlah, ayo masuk, di sini mulai dingin, eoh?” ajak Kibum dan Kyuhyun hanya mengangguk. Kyuhyun mengambil tongkat yang ia taruh di samping kursi teras yang ia duduki. Di sampingnya Kibum membantu kemudian mereka memasuki rumah. Meninggalkan senja di musim semi yang mulai menghilang berganti malam.

.

.

Semilir angin berhembus. Menyapa dedaunan pada pohon-pohon rindang di universitas ternama Seoul. Di bawahnya, terdapat sebuah bangku taman dengan seseorang yang menduduki bangku itu. Menerawang memandang langit, sesekali terisak lalu air mata pun terjatuh. Memegang dadanya yang semakin sesak. Kenapa..semua ini harus terjadi pada orang yang sangat ia sayangi?

Ia rela menggantikannya. Ia rela berada di posisi itu. Asal sang adik bisa bahagia. Asal sosok itu bisa tersenyum.

Pikirannya melambung ke kejadian kemarin malam. Ketika sang adik..tidak bisa menggerakkan tangannya. Di depannya. Air mata kembali mengalir. Menganak sungai tanpa ia suruh. Hatinya sakit mengingat hal itu.

.

.

~Flashback~

“Kyunnie~ Bummie~ Ayo cepat turun chagiya~ Sudah waktunya makan malam loh~ Appa sudah menunggu kalian,” teriak umma mereka –Cho Heechul dari bawah tangga. Kemudian ia kembali beralih menuju meja makan bersama sang suami menunggu kedatangan kedua buah hatinya.

Tak lama, Kibum dan Kyuhyun duduk di hadapannya. Hangeng tersenyum kepada kedua anaknya. “Bagaimana hari ini?” tanyanya di sertai dengan sang istri yang mengambilkannya makanan. Kibum juga, ia mengambilkan makanan untuk Kyuhyun juga dirinya. Kibum hanya bergumam bahwa hari ini biasa saja. Tetapi berbeda dengan Kyuhyun. “Hari ini ya, appa? Hem, menyenangkan kok. Lebih sempurna dari hari kemarin, hehe.”

Tersenyum. Hangeng tersenyum melihat semangat Kyuhyun yang tidak pernah luntur. Ia..sangat menyayangi anak bungsunya itu.

Mereka semua siap untuk menyantap makanan yang di masak sang umma. Tetapi, raut wajah Kyuhyun yang berubah membuat mereka menatap Kyuhyun secara serentak. Kyuhyun yang mendapat tatapan seperti itu hanya menyengir. “Hehe waeyo umma, appa, hyung?”

Kibum menggeleng mendengarnya. “Harusnya kami yang bertanya bodoh. Waeyo Kyu?”

Kyuhyun terlihat ragu untuk bilang, tetapi kemudian ia tersenyum dan memintanya dengan nada manja. “Umma~ mau suapin Kyunnie tidak?”

‘DEG DEG DEG’

Jantung ketiganya berdetak di luar batas normal. Heechul menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya. Menangis. Ia bangkit dari kursinya dan beranjak memasuki kamar. Meninggalkan Kyuhyun yang termangu dengan Hangeng juga Kibum yang tersenyum miris. Tapi Kibum..ia sudah menangis.

Kibum menahan isakannya dengan mengambil sesendok nasi beserta lauk kemudian menyuapinya ke mulut Kyuhyun yang langsung namja itu terima. Kibum ingin menangis, tapi tidak di depan Kyuhyun.

“Em..appa, ngga nyusul umma? Lagian umma kenapa sih? Aku ‘kan Cuma minta suapin-__- malah langsung kabur,” ucap Kyuhyun setelah menelan makanan yang ada di mulutnya. Ia melihat sang appa yang tersenyum –paksa- baginya. “Aniyo. Umma mu ‘kan sering begitu Kyu. Ya sudah, kamu makan saja, ne? Appa susul umma dulu.”

Kyuhyun mengangguk kemudian mendapat suapan kedua dari Kibum. Kyuhyun menatap Kibum dan melihat mata sang hyung berkaca-kaca. Cepat-cepat Kyuhyun kembali menelan makanannya. “Hayo~ mau nangis ya? Udah ah jangan nangis. Jelek tahu hyung, wek!”

“Hiks,”

“Eh?” Kyuhyun bingung. Kenapa—Kibum malah menangis?

Kibum bangkit dari duduknya dan lari ke kamar. Meninggalkan Kyuhyun sendirian di meja makan. Kyuhyun tersenyum, tersenyum miris melihat keadaannya. “Aku..memang tidak berguna. Mianhe umma, appa, hyung. Mianhe karena membuat kalian sedih terus.”

~Flashback End~

.

.

Kibum semakin menangis mengingatnya. Hatinya sangat sakit. Amat sangat sakit. Kenapa Kyuhyun masih bisa tersenyum ketika apa yang ia ucap justru membuat dirinya dan sang umma menangis? Kenapa Kyuhyun—bisa setegar itu? Dan sekali lagi, kenapa harus Kyuhyun yang menderita penyakit keturunan itu? Kenapa bukan dirinya? Kenapa bukan Cho Kibum saja?

“Hiks,” isakan itu kembali terdengar. Kibum menutup mulutnya, menahan isakan itu agar tak keluar lagi. Tapi, sakit hatinya membuatnya ingin menjerit. Menjerit sekeras-kerasnya. “Hiks.”

“Menangis lagi, eoh?” suara seseorang membuatnya semakin menangis. Orang itu duduk di sampingnya dan langsung saja Kibum memeluknya. Siwon, ya orang itu Siwon –sang kekasih. “Hiks,” lagi, satu isakan. Siwon mengusap surai hitam milik Kibum. “Menangislah, asal jangan menangis di depan Kyuhyun.”

“Hiks..hiks,” Kibum benar-benar menangis. Ia benar-benar menumpahkan semuanya dalam dekapan Siwon. Siwon mengusap-usap bahu sang kekasih. Memeluknya erat berusaha memberikan ketenangan walau hatinya terasa pedih setiap saat ia melihat sang kekasih menangis. Tetapi ia bisa apa? Kibum mengabaikan semua ucapannya.

.

.

“Kibummie!” panggil seseorang dari belakang Kibum. Kibum yang sedang berjalan berdampingan dengan Siwon pun menoleh. Dan terlihatnya Donghae juga Eunhyuk di sana yang sedang menghampiri mereka.

Donghae sampai di depan Kibum dengan senyum innocentnya dan Eunhyuk dengan gummy smilenya. Kibum hanya membalas sekenanya karena tadi ia habis menangis. Detik berikutnya, Donghae pun buka suara. “Bummie, kau tidak ikut lomba tahunan kampus kita?”

Alis Kibum bertaut. “Lomba tahunan? Lomba skenario dua orang dalam satu tim? Maksudnya yang setiap tahunnya produser ternama Seoul bakalan mengambil satu dari sekian banyak naskah skenario yang menjadi skenario lomba, gitu? Emang udah di buka, Hae?” ucap serta Tanya Kibum. Donghae hanya mengangguk. “By the way, tadi kamu di cariin Mr. Shim. Palingan soal lomba itu. Katanya sih semenjak pendaftaran di buka, kamunya ngga nongol-nongol.”

“Eh? Seriusan? Tapi aku ngga tahu kalau pendaftarannya udah di buka. Haha, yasudahlah. Nanti aku akan menemui Mr. Shim deh. Gomawo infonya ya, Hae,” kata Kibum dan tersenyum pada Donghae. Donghae sendiri hanya mengangguk lalu mengait pinggang Eunhyuk. “Kalau begitu salam buat Kyuhyun ya? Yoa~ aku pergi dulu. Bye~”

Kibum mengangguk dan tersenyum. “Hah~ dasar Lee Donghae.”

Kibum dan Siwon pun melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda tadi.

.

.

“Nah, Kibum, kamu akan menjadi partner Lee Sungmin, sunbae mu di tingkat 5. Keberaratan?” ucap Mr. Shim menatap Kibum. Kibum cepat-cepat menggeleng dan menatap sunbae kampusnya merangkap sahabatnya itu. “Semoga kita bisa bekerja sama Sungmin hyung!” kata Kibum kemudian membungkuk.

Sungmin hanya tertawa, lalu balas membungkuk. “Semoga kita bisa menghasilkan yang terbaik, Kibummie~” balasnya sambil tersenyum yang membuat Kibum juga tersenyum padanya.

Ne, hyung :)”

.

.

“Jadi mau kerja kapan nih? Kalau di rumahku akhir-akhir ini ngga bisa. Kita butuh diskusi dulu, ‘kan?” Tanya Sungmin sesaat setelah mereka keluar dari ruangan Mr. Shim. Kibum tampak berpikir. “Ne hyung, di rumahku saja. Pulang kampus bisa?” ucap serta Tanya Kibum. Sungmin berpikir sebentar lalu mengangguk. “Ne, tapi kamu duluan saja, ya? Nanti aku menyusul ke rumahmu. Lagipula rumahmu Cuma beberapa blok dari rumahku, ‘kan?”

Kibum hanya mengangguk mendengarnya. “Ne hyung. Datang saja. Aku tunggu ya? Bye hyung!” ucap Kibum lalu berlari kecil menghampiri Siwon yang sudah menunggunya. “Ne, bye.”

.

.

Kibum berjalan pelan dengan Siwon di sampingnya. Ah, adakah yang bertanya kenapa mereka tidak naik mobil saja? Tentu saja jawabannya adalah karena Kibum yang memintanya. Siwon hanya menuruti ketika sang kekasih memintanya untuk tidak membawa mobil. Yah, hitung-hitung biar lebih romantis sih.

“Bummie,” panggil Siwon. Kibum yang sedari tadi menunduk dengan tangannya yang di genggam Siwon pun mendongakkan wajahnya menatap namja yang lebih tinggi darinya. “Ne Wonnie, waeyo?” balas Kibum sambil mengerjap imut yang membuat Siwon mengecup bibirnya. “Hihi kau imut sekali sih.”

Kibum cemberut. “Ya! Jangan menciumku sembarangan. Dasar kuda jelek!” kata Kibum kesal karena Siwon pasti selalu seperti itu. “Iya iya. Kajja.”

.

.

Lagi-lagi senja datang. Kyuhyun pun kembali terduduk di depan meja belajarnya. Ia membuka sebuah album foto, album foto tentang masa kecilnya dengan Kibum. Dengan sang hyung.

Sebuah senyuman terpatri indah. Membuat wajah itu semakin tampan. Dan yakinlah, siapapun yang melihat pasti akan terpesona.

Kyuhyun tertawa ketika melihat sebuah foto yang di mana ia berhasil mengerjai Kibum, membuat namja yang lebih tua setahun darinya itu terjatuh ke dalam kolam ikan di belakang rumahnya. Kyuhyun sangat jahil waktu itu.

Kyuhyun ingat ketika Kibum akhirnya mengejar dirinya. Kyuhyun berlari menghindari Kibum yang ingin memarahi kejahilannya. Tetapi, ternyata lari Kyuhyun lebih cepat sehingga Kibum tertinggal. Taman belakang rumah mereka memang luas. Apalagi taman belakang rumah mereka berhubungan langsung dengan alam. Rumah keluarga Cho berada di deretan paling ujung yang jika berjalan sedikit lagi saja akan bertemu dengan hamparan rumput juga bukit atau pegunungan. Karena itu, terkadang cuaca di sana lebih dingin.

Lagi-lagi Kyuhyun tertawa melihat foto-foto kenangan itu. Sampai akhirnya ia tersenyum. Tersenyum miris melihat foto kelulusan yang di mana, ia masih bisa berdiri tegak di samping kedua orang tuanya juga Kibum, sang hyung.

“Ah, seandainya aku masih bisa berdiri,”

“Kyuhyunnie?” panggilan itu membuat Kyuhyun menoleh dan mendapati Kibum juga Siwon di ambang pintu kamarnya. Kyuhyun tersenyum ke arah mereka. “Annyeong hyung,” sapa Kyuhyun sambil tersenyum. Keduanya hanya membalas senyum Kyuhyun hangat. Namun tiba-tiba Siwon berucap pamit pulang. “Ah Bummie, mianhe aku pamit pulang saja. Tadi umma sms aku. Mianhe ne?”

Kibum merengut namun sedetik kemudian mengangguk. “Huh! Ya sudah sana pulang.”

Siwon hanya terkekeh. “Haha dasar Cho Kibum. Baiklah Kyu, aku pulang dulu, ne. Jangan lupa minum obat. Bye Bummie, cup,” ujar Siwon dengan di akhiri kecupan di bibir Kibum membuat namja itu merengut. “Ya!” seru Kibum yang hanya di balaskan dengan tertawaan kecil sang kekasih.

“Dasar kuda jelek!” gerutunya kemudian.

Hyung? Kenapa kok mukanya seneng gitu?” Tanya Kyuhyun setelah melihat kelakukan aneh sang kakak dan calon kakak iparnya. Kibum menoleh menatap sang adik. “Eum?! Ah iya! Kyu, aku akan ikut lomba tahunan lagi, hehe. Sebentar lagi palingan sunbae ku akan datang.”

Kyuhyun hanya mengangguk-angguk. “Ah ne. Semoga hyung dan sunbae hyung menang lagi!”

Ne!”

.

.

Semilir angin senja berhembus menyapa permukaan kulit seorang namja manis yang tengah berjalan menuju rumah paling ujung di daerah itu. Sesekali ia tersenyum sambil bersiul. Ah, kira-kira aku kasih ide apa ya ke Kibum?, batinnya.

Namja itu sampai pada sebuah rumah yang ia tuju. Dengan segera, ia menekan bel yang ada.

‘TING TONG’

Setelah menekannya, ia menunggu seseorang membukakan pintu. Tak lama, terlihatlah seseorang namja atau yeoja berusia duapuluh tahunan berdiri tegap di depannya.

“Ah, ne, apakah kamu teman Kibummie?” Tanya namja di depannya. Hem, sepertinya Kibum sudah bilang bahwa ia akan datang. Namja manis itu mengangguk. “Ne ahjuma. Sungmin imnida. Saya temannya Kibum,” ujar namja bernama Sungmin itu. Heechul, yang di panggil ahjuma hanya tertawa kecil. “Ne Sungmin-ah, silahkan masuk dan langsung saja ke kamar yang ada di depan tangga, ne? Kibummie ada di kamar adiknya.”

Ne ahjuma.”

Heran sebenarnya. Ia orang asing ‘kan? Tetapi kenapa umma Kibum percaya begitu saja? Ah, apa memang semua keluarga Cho itu baik-baik dan ramah-ramah? Sungmin hanya mengedikkan bahu dan menaiki tangga itu—menuju kamar yang tadi di tunjuk oleh Ahjuma Cho.

.

.

“Lain kali hyung ngga boleh ngatain Siwon hyung lagi. Dia ‘kan calon kakak iparku,” ucap Kyuhyun membuat Kibum melotot. “Ya! Memangnya siapa yang mau menikah dengan kuda jelek macam dia, huh!” balas Kibum pura-pura kesal. Sebenarnya ia suka Kyuhyun yang mengejeknya. Tetapi kenapa sih? Kyuhyun harus mengejeknya dengan membawa-bawa nama Siwon? Membuat semburat merah tipis hadir di pipi namja itu.

Kyuhyun tertawa. “Ahahaha lihat! Wajah hyung memerah tuh, wek!” balas Kyuhyun masih tertawa. Kibum hanya merengut kesal sampai akhirnya suara ketukan pintu membuat mereka saling pandang.

‘TOK TOK TOK’

Kyuhyun menatap bingung sang hyung, namun Kibum hanya mengedikkan bahu dan menyuruh orang itu masuk. “Masuk saja.”

Beberapa saat keduanya terdiam. Sampai akhirnya pintu itu terbuka.

‘Cklek’

Pintu itu pun terbuka menampakkan seseorang yang tidak asing bagi Kibum tetapi asing untuk Kyuhyun. Mata Kyuhyun tak berkedip melihatnya. Dia namja? Atau yeoja?

“Ah Sungmin hyung? Kau sudah datang?” seru Kibum saat melihat seniornya ada di depannya. Namja itu tersenyum hangat pada Kibum membuat Kyuhyun terdiam di tempatnya.

‘DEG DEG DEG’

‘Ah! Jantungku, berdetak cepat sekali,’ batinnya aneh. Lalu ia menoleh kea rah namja tadi dan seketika tatapan mereka bertemu. Sungmin, tersenyum kepada Kyuhyun membuat Kyuhyun salah tingkah. Ia hanya menundukkan kepalanya lalu menatap Sungmin kemudian berpaling. Kyuhyun..gugup.

Kibum yang melihat Kyuhyun seperti itu hanya tersenyum. Ia punya bahan untuk mengejek Kyuhyun. Sadar beberapa saat kemudian, Kibum pun mengenalkan Kyuhyun kepada Kibum. “Ah ne, hyung. Ini adikku, Cho Kyuhyun. Dan Kyunnie, ini senior ku, Lee Sungmin namanya.”

“Ah, salam kenal Kyuhyun-ssi,” ucap Sungmin dan berjalan menuju Kyuhyun, berniat berjabat tangan. Kyuhyun hanya tersenyum kaku. “Salam kenal juga Sungmin-ssi.”

‘DEG’

‘Ah! Tanganku tidak bisa ku gerakkan lagi,’ lagi-lagi batin Kyuhyun berseru. Ia ingin mengangkat tangannya, tetapi apa daya saat tangan itu tak bertenaga. Sungmin mengerutkan alis bingung. “Eum..”

“Ah ne maaf. T-tanganku kotor, hehe,” kata Kyuhyun kemudian saat menyadari Sungmin yang keheranan. Kyuhyun melirik Kibum yang tengah melotot tak percaya. Kibum menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Lagi-lagi, hatinya sakit melihat kejadian ini.

Mendengarnya, Sungmin memiringkan kepalanya. “Memang kenapa kalau kotor? Itu bukan masalah kok,” balasnya masih dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya. “Ah, a-aku. T-tanganku..”

Hyung, kajja ke kamarku. Lebih baik kita cepat-cepat memikirkan apa yang akan kita buat untuk lomba itu. Kajja,” ajak Kibum langsung memotong ucapan Kyuhyun. Kyuhyun merasa terselamatkan. Ah, kenapa jadi seperti ini.

Kibum melirik Kyuhyun. “Ne Kyunnie. Nanti kamu jangan lupa makan yah? Aku kasih tahu umma nanti. Ne, annyeong,” ucap Kibum kemudian menarik tangan Sungmin keluar dari ruangan itu. “Ne hyung. Annyeong.”

Pintu pun tertutup, meninggalkan Kyuhyun yang menunduk. “Bodoh. Kenapa harus..di saat seperti ini?”

.

.

Mata Kyuhyun menerawang ke langit-langit kamar. Ia mengingat kejadian memalukan tadi. Ah, betapa ia ingin berjabat tangan dengan namja itu. Hem, tapi kalau dia namja, kenapa bisa secantik juga semanis dia? Aish!

Kyuhyun merasakan jantungnya berdetak kian cepat ketika membayangkan wajah namja bernama Sungmin yang merupakan senior di kampus sang hyung. Entah mengapa, ia merasa deg-degan.

“A-apa mungkin aku—? Aish! Mana boleh. Ingat kau itu siapa Cho Kyuhyun. Dia sempurna dan kau..tidak sama sekali,” ucap Kyuhyun yang kemudian justru terdengar seperti bisikan. Kyuhyun memegang dadanya, meremasnya saat merasakan getaran menyeruak masuk ketika lagi-lagi, Kyuhyun teringat dengan senyuman manis yang tadi ia lihat di wajah Sungmin.

“Aku..jatuh cinta,” gumamnya lirih nyaris tak terdengar.

.

.

Suasana di kamar itu begitu sepi, sampai akhirnya Sungmin memulai percakapan duluan. “Kenapa tadi kau langsung menarikku sih, Bummie?” Tanya Sungmin pada Kibum. Kibum yang tadinya sibuk dengan laptopnya pun menatap Sungmin. “Aniyo. Hanya saja, kita ‘kan harus cepat cari ide, hyung. Jadi—“

“Padahal aku mau berjabat tangan dengan adikmu, huh! Kibummie jahat ih!” ujar Sungmin memotong ucapan Kibum dengan nada yang terkesan manja. Kibum tak berkedip. “Hee? Jangan-jangan hyung suka sama Kyuhyun yah?”

‘DEG DEG DEG’

Jantung Sungmin berdetak dua kali lebih cepat mendengar tebakan Kibum.

A-aniya. Hanya saja aku suka melihat senyumnya, hehe,” jawab Sungmin kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.  Kibum terkekeh mendengarnya. “Bilang saja iya. Susah sekali sih hyung. Haha.”

“Aish terserahmu lah!”

Arra-arra. Dasar Sungmin hyung.”

.

.

Ahjuma, aku pamit dulu ya? Terimakasih makanannya. Masakan ahjuma sangat enak!” ucap serta puji Sungmin ketika ia hendak meninggalkan kediaman keluarga Cho. Heechul hanya tersenyum mendengarnya. “Haha ne, Minnie-ya. Sama-sama. Sering-seringlah kerja kelompok di sini bersama Kibummie. Lain kali ahjuma akan memasakkan masakan yaaang special untukmu,” balas Heechul membuat Sungmin terkekeh. “Ahaha, ahjuma bisa saja. Yasudah, aku pergi dulu, ne? Salam buat ahjushi deh. Kibummie, aku pulang ya?  Kyuhyun-ah, selamat malam.”

Ucapan Sungmin yang menyebut namanya membuat Kyuhyun yang sedari tadi diam tersentak. Ia mendongak dan bertemu pandang dengan Sungmin. Kemudian tersenyum, “Ah ne, hyung. S-selamat malam,” balas Kyuhyun tergagap membuat Heechul, Kibum dan Sungmin terkekeh. “Baiklah. Selamat malam semua.”

Setelahnya, Sungmin pun meninggalkan rumah bercorak putih-biru itu. Ia berjalan pelan kemudian berbalik kembali, membungkuk kepada Heechul juga tersenyum kepada Kibum dan Kyuhyun. “Sampai jumpa!” serunya lalu berbalik lagi.

Sebenarnya satu yang Sungmin harapkan ketika ia berbalik seperti itu. Senyum. Yap, senyuman Kyuhyun lah yang ingin dia lihat.

Sungmin memegang dadanya. Merasakan detak jantungnya yang entah mengapa menjadi begitu cepat. Ia mendongak memandang langit. Kemudian tersenyum dan bergumam. “Aku..jatuh cinta.” Juga jangan lupakan senyuman yang terpatri indah di bibirnya.

 .

.

T

B

C

.

.

Note : Wanna Review?

4 thoughts on “[KyuMin Vers] Life or Love? ~Chapter A

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s