Don’t Leave Me, Please~Chapter 3


Don’t Leave Me, Please
©Umu Humairo Cho, 2011
YeWook, KyuMin and EunHae
©God, Themselves, belong to each other🙂
Rating : T, Semi M
Length :
Chaptered ©Chapter 3
Summary : Jangan pernah menyerah untuk cinta, cobalah tetap bertahan selama kau bisa, jangan perduli kau sakit atau tidak, tapi, cobalah untuk bertahan untuk orang yang kau cinta.
Warning :
Yaoi, BL, BoyXBoy, Shonen-ai! AU! OOC!
A/N :
Don’t like don’t read😀
Just Read and Review ^^
.
.
Chapter Sebelumnya—
.
Lalu dokter dengan perlahan membuka perban di mataku, sampai akhirnya perban itu sudah di lepas semuanya. Perlahan aku membuka mataku, tapi belum terlihat apa-apa?! Aku kejapkan mataku berulang-ulang. Tapi tetap saja. Tidak terlihat apa-apa?

“Bagaimana Wookie-ah?” Minnie bertanya padaku. Bisa ku tangkap nadanya yang khawatir. Aku ragu menjawab, “Ma—masih gelap Minnie,” jawabku pelan menahan tangis. Seketika ia panik dan berbicara langsung pada dokter, “Dokter bagaimana?”

Bisa ku rasakan dokter menghela nafas sebelum berbicara padaku, “Coba kau tutup matamu lagi. Kerjapkan lagi dan tetaplah dalam keadaan menutup mata sekitar beberapa menit. Lalu coba buka kembali,“ aku mengikuti setiap apa yang dokter ucapkan. Dan aku—
Chapter 3—

“Heii~ aku—aku bisa melihat Minnie. Aku—” kataku tak percaya dan bisa kurasakan Minnie memelukku, “Wookie-ah,” bisik Minnie masih sambil memelukku. Tuhan, aku senang. Terima kasih🙂

*Setahun kemudian – Sungmin’s POV*

Satu tahun sudah berlalu semenjak konflik antara aku dan Kyu. Yeah—memang membaik karena ku yang harus mengalah. Tapi biarlah—ku lakukan karena aku mencintainya. Sangat.
Dan sekarang, lebih baik aku ke kantor Kyu dan membawakan makan siang untuknya. Hem, dia sedang apa ya sekarang. Ku harap ia sedang memikirkanku, hihihi.
Segera ku lajukan mobilku dan akhirnya sampai di kantornya. Saat di lobby aku bertemu dengan Hyukie, temanku sekaligus istrinya Donghae—sahabat Kyuhyun.

“Hai Minnie,“ sapanya padaku. Aku tersenyum dan balas menyapanya, “Hai Hyukie, mau ketemu Hae?“ tanyaku padanya. Ia mengangguk, “Ne,“

Kami berjalan beriringan, dan setelah sampai di depan ruangan Kyu aku bertanya pada sekretarisnya. “Yeon Sung ah, apa pak Kyuhyun ada di dalam?“ tanyaku pada sekretarisnya. “Ne bu, di dalam juga ada pak Donghae,“ balasnya dan aku hanya tersenyum kemudian menuju ruangan Kyuhyun bersama dengan Hyukie.

Krieettt—

Aku membuka pintu ruangannya. Kami memanggil mereka, “Kyu, Hae,“ kataku dan Hyuk bersamaan. Tapi apa yang kami dapat? Mereka—

‘PRAAAANG’

Seketika kami jatuhkan rantang yang kami bawa jatuh, dan yang kami panggil pun menoleh, “Minnie, Hyukie,“ dan seolah mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat.

‘BRUK’
Aku jatuh berduduk di lantai, ya Tuhan, apa salahku?
Suamiku berciuman dengan laki laki lain, apa yang harus ku lakukan?

“Kalian, kalian keterlaluan. Kenapa? Kenapa kalian seperti ini? Apa kalian tak mengerti kami hah? Apa kalian tak mengerti?“ ujar Hyukie membentak mereka, aku hanya bisa diam tak bergeming. Ini terlalu sakit.
“Dasar pembohong?!“ ujarku dan Hyukie bersamaan. Aku bangun dari posisiku dan berniat meninggalkan ruangan itu, tapi—langkahku tertahan olehnya. Oleh suami—ku. “Lepaskan aku pembohong!“ kataku memberontak agar Ia melepas pelukannya.
Namun ia tak bergeming dan mempererat pelukannya kepadaku, “Diamlah ku mohon,” jawabnya. Aku semakin berontak, “Ku bilang lepaskan Kyuhyu!!“ bentakku kini. “Shireo!“ balasnya. “Lepas.“ kataku terus dan lagi dan ia juga tetap membalasnya dengan terus mempertahankan aku didalam pelukannya, “Tidak akan.“
Kenapa? Kenapa tidak mau? Aku—aku ingin pergi saja dari sini. Kenapa kalian harus—aku kecewa, Kyu! Hatiku sakit sekali😦

*Eunhyuk’s POV*

Aku terus berlari—berusaha untuk terus menjauh darinya. Suami—ku. Yang telah mengkhianati aku.
Satu tahun aku berusaha memperbaiki keadaan kami sampai akhirnya kami menikah. Tapi kini? Dengan mudah ia berciuman dengan suami sahabatku? Tidakkah ini terlalu kejam untukku?
“Hyukie~“ panggilnya dan aku hanya terus berlari, sampai akhirnya tangannya berhasil menahanku dan Ia membawaku ke dalam pelukannya. Aku mencoba memberontak, namun aku kalah, tenaganya lebih kuat. Aku hanya diam dan menangis.
Ia mengelus rambutku, “Dengarkan aku,“ pintanya, “Kau pembohong,“ kataku. Namun ia justru mempererat pelukannya, “Dengarkanlah Hyukie, aku dan Kyu—“

“Apa? Kau dan Kyu apa? Dulu kau bilang hanya teman, sekarang terbukti, kalian bukan teman!“ ujarku memotong kalimatnya. Jawab aku—apa pembelaanmu, heh?

“Maaf.“ Hanya itu? Hanya itu yang kau ucapkan? Hanya itu?

Aku melepas pelukannya, “Sudahlah, lepaskan aku. Aku takkan pernah memaafkanmu, aku membencimu,“ kataku dan aku mendorongnya menjauh kemudian aku langsung berlari meninggalkannya sendirian, yang hanya terpaku melihat kepergianku.

*Yesung POV*

Hah, sudah lewat 1 tahun, apa kabarnya ia, ya Tuhan? Kondisiku juga semakin memburuk. Hah, menyebalkan.

“Yesung Hyung,“ panggil seseorang. Dan lamunanku tentangnya langsung buyar—menghilang lagi. Aku tersenyum melihat siapa yang memanggilku,  “Ne Kibum ah, ada apa?“ tanyaku padanya. Yap, adikku—bukan adik kandungku sih—tapi anak kandung umma dan appaku yang sekarang.

“Hyung mau ikut aku tidak? Bertemu dengan temanku?“ ajaknya padaku. Aku menautkan alisku. Bertemua dengan temannya? Dan seketika aku menyeringai—berniat menggodanya, “Teman apa teman?“ godaku. Ia cemberut, “Aish, teman kok Hyung. Kajja!“ balasnya dan menarik tanganku.

Dan langsung saja aku was-was dan memegang dadaku, “Ne ne, pelan pelan,“ kataku padanya dan dia hanya nyengir seolah tak berdosa, “Hehe, lupa Hyung.“

Dan kami pun meninggalkan rumah untuk menemui temannya.
*****
Kibum mengajakku pergi menemui temannya. Hem? Ditaman?

“Wookie ah.“

DEG
Ku remas baju bagian dadaku, siapa yang tadi di panggil Kibum? Wookie? Apa benar dia Wookie. Orang itu menoleh dan betapa kagetnya aku, benar, dia Wookie-ku. Dia—

“Kibum, Su—Sungie,“ balasnya gugup saat menyebut namaku.

Alis Kibum bertaut saat Wookie terbata saat menyebut namaku, “Hai, kau mengenal Hyung ku?“ tanya Kibum pada Wookie.

Aku dan Wookie sama-sama mematung. Apa yang harus kami jawab? “Kamiii—“ kata kami bersamaan. Dengan cepat aku memotongnya—“Ah, tidak. Kami tidak kenal kok Bummie.“ kataku berbohong. Bisa ku lihat Wookie terkejut. Mianhae Wookie.
Namun ia segera menormalkan ekspresinya, “Iya Bummie, aku  juga tidak kenal,“ ujar Wookie. Tapi aku rasa Kibum tak semudah itu percaya.
Lihat saja, alisnya kini bertaut, “Tidak mungkin. Buktinya tadi kau memanggil nama Hyungku ‘Sungie‘. Apa itu tidak kenal?“ ujar Kibum pada Wookie, “Tapi—“

“Jujurlah Hyung,“ ujar Kibum lagi dan beralih padaku. Aku menyerah, “Baiklah.“

Akhirnya aku menceritakan semua yang terjadi. Aku tahu Kibum pasti sangat marah dan malu memiliki Hyung sepertiku. Aku tahu setelah ini Kibum akan membenciku. Tapi dia yang memaksa. Maafkan aku Kibum, Wookie.

“Kau—“ kata Kibum. Benarkan? Ia akan marah. Kibum akan memukulku kalau saja Wookie tidak menahannya, “Bummie sudahlah. Itu hanya masa lalu,“ ujar Wookie.
“Jika kau mau membunuhku silahkan Kibum ah. Aku Rela. Lagi pula tanpa kau bunuh pun aku akan segara MATI,“ kataku membuat Kibum tersentak juga Wookie yang terlihat terkejut dan menggumamkan namaku, “Sungie.”

*Ryeowook POV*
“Jika kau mau membunuhku silahkan Kibum ah. Aku Rela. Lagi pula tanpa kau bunuh pun aku akan segara MATI,“ katanya membuat Kibum tersentak juga membuatku terkejut dan menggumamkan namanya, “Sungie.”

Apa kalian tahu? Kenapa aku bisa mengenalinya? Padahal selama ini aku buta!
Itu karna aku merasakan hubungan batin dengannya.
Aku sudah terlalu hafal akan suaranya.
Apa aneh jika sekarang aku mengenalnya walau aku tak pernah melihat wajahnya.

Tapi kalian salah.
Aku punya banyak foto kenangan tentangnya yang masih ku simpan rapi di dalam album fotoku.
Aku selalu menyimpannya tanpa Minnie dan Kyuhyun tahu.
Saat aku sudah bisa melihat, aku langsung mengambil album itu dan melihat fotonya.
Jadi ini Sungieku.

Sekarang apa kalian mengerti?
Bahwa aku masih sangat mencintainya.
Masih sangat mencintainya.
Tapi Tuhan tak mengizinkan aku bersama dengan dia.
Malangnya.

Ucapanny tadi membuatku buka suara lagi, “Sungie, apa yang kau katakan?“ tanyaku. Ku lihat ia menghela nafas lalu menjawab, “Tidak apa apa. Sebaiknya aku pulang. Kibum, jangan pulang telat!“ balas Yesungie dan ingin berlalu, namun Kibum menahannya, “Tapi Hyung—“
Ia memotongnya, “Aku pulang. Selamat bersenang senang.“ ucapnya dan pergi meninggalkan aku dan Kibum. Berdua saja.

Tuhan, dengar pintaku, sekali ini saja, beritahu aku, apa dia sudah tidak mencintaiku lagi?
Apa tak ada kesempatan untukku mencintai dan memilikinya lagi? Aku sangat mencintainya ya Tuhan. Aku mohon.

“Wookie,“ panggil Kibum menyadarkan lamunanku. Aku menoleh padanya, “Ne, waeyo?“ balasku dan tersenyum. “Apa kau masih mencintainya?“ tanyanya tiba-tiba membuatku bingung harus menjawab apa.

“Aku—aku—sudahlah, itu tidak penting. Kita jadi ke toko buku kan?“ balasku gugup dan mengalihkan pembicaraan. Tidak suka ya Kibum-ah? Maafkan aku. Tapi kau tidak perlu tahu kan?

Dengan malas ia menjawab, “Iya jadi. Kajja.“

*ditempat lain | Yesung POV*

Aish, kenapa lagi dengan Jantung ini?
Arrggghhh, Tuhan, sakit sekali. Aku mohon jangan sekarang Tuhan.
Aku mohon.
“Yesung-ah,” ku dengar suara seseorang memanggilku. Namun belum sempat melihat siapa, ku rasakan semua ringan dan—

“YESUNGIIIEEEEEEEE~~~“

Semuanya gelap.

%%%

*Author POV*

“Bagaimana keadaannya dokter?“ Tanya Leeteuk langsung saat dokter keluar dari ICU. Leeteuk bisa melihat sang dokter menghela nafas, “Jantungnya sudah terlalu lemah, waktu hidupnya tinggal beberapa bulan lagi, kecuali ada cangkok Jantung untuknya,“ jawab sang dokter membuat Leeteuk terbelalak dengan Kangin disampingnya.

Ditutupnya mulutnya menggunakan kedua tangannya. “Beberapa bulan itu—“ ucapnya lagi menggantungkan kalimatnya. “Hanya 5 bulan kedepan,“ jawab sang dokter cepat membuat Leeteuk menangis dan Kangin yang memekik kaget, “MWO? Apa memang tidak ada cangkok Jantung untuknya?“ Tanya KangIn.
Dokter itu menghela nafas namun tersenyum, “Kami masih berusaha Mr. Kim,“ jawab Dokter berwibawa. “Terima kasih dokter, dan segera beritahu kami jika anda sudah menemukan cangkok yang cocok dan segera lakukan operasinya,“ ujar KangIn pada dokter itu.

“Baik Mr. Kim. Saya pergi dulu dan secepatnya saya mencarikan cangkok jantung yang cocok untuk Yesung-shi,“ ucap dokter lalu pamit pergi.

Dokter itu pun pergi, KangIn dan Leeteuk hanya miris melihat Yesung, dan tiba tiba seseorang masuk.
‘BRAKK’

“Umma, appa, gimana keadaan Yesung hyung?“ tanyaa seseorang yang ternyata Kibum. Leeteuk menghampiri anaknya dan memeluknya, “Bummie, kakakmu sangat membutuhkan cangkok Jantung Chagi,“ jawab Leeteuk seraya menangis di pelukan sang anak.
“Jan—Jantung?“ kata seseorang lagi membuat Leeteuk melihat siapa yang datang. Dan seketika ia bertanya pada anaknya, “Bummie, dia siapa?“ Tanya Leeteuk. “Dia temanku dan mantannya Yesung Hyung umma,“ jawab Kibum,
Leeteuk kaget namun  tersenyum, “Siapa namamu?“ Tanya Leeteuk seraya mendekati orang itu. “Kim Ryeowook ahjumma, panggil saja Wookie :)“ jawab Wookie ramah dan tersenyum. “Nama yang bagus ^^“ respon Leeteuk dan tersenyum juga.

Seketika hati Wookie tenang, “Terima kasih ahjuma. Jadi, apa maksudnya? Cangkok Jantung?“ tanya Wookie.  “Sungie punya penyakit Jantung Wookie-ah,“ jawab Leeteuk sedih membuat Wookie memekik kaget, “MWO?”

One thought on “Don’t Leave Me, Please~Chapter 3

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s