Your Destiny is Your Life


Your Destiny is Your Life

©Umu Humairo Cho, 2011

Leeteuk, Kyumin and others

©God, themselves, belong to each other

Genre :

Family, Fluffy, Friendship, Romance, Angst, Hurt/Comfort

Rating : K to T

Length : OneShoot

Summary :

Takdirku..memang seperti ini. Tapi aku..selalu menjalaninya dengan senyum juga bersamaan dengan rasa sayangku untuknya. Umma~ kau memang pahlawan untukku. Tak peduli bagaimana takdirku, karena itu pun adalah hidupku. Dan aku..hanya perlu menjalaninya bersama denganmu dan adik kecilku😀 Minnie sayang kalian^^

Warning :

Yaoi, BL, BoyXBoy, Shonen-ai, OOC! AU!

A/N :

Don’t like don’t read! Inspired from the song titled ‘Ibu’ singing by Iwan Fals. Title was changed! From Mama to Your Destiny is Your Life. Summary was changed too and you can read it by yourself but I can’t written the previous summary. Sorry😦

NOT PLAGIAT! Just enjoyed it! Hope you Read and Comment^^

.

.

‘PRAAANG’

“Eeeeeeh? Aduuuuh~ dimana nih? Umma pasti malah, aduuuh~~” seorang namja kecil yang kini tengah panik karena ia menjatuhkan sebuah pajangan yang ada di sebuah rumah. Beriringan dengan terdengarnya langkah kaki yang mendekat. Dan melihat sang anak kini tengah berjongkok, memikirkan hal terbaik untuk menyembunyikan pecahan itu namun terlambat. “Eeeh? Umma?” ucapnya takut-takut. Sang umma terlihat menghela napas lalu mendekati anaknya dan menggendongnya. Mengusap rambut sang anak, “Minnie~ lain kali hati-hati, ne? Nanti umma di marahi loh sama Nyonya Cho, hm?” ujarnya masih sambil mengusap rambut anaknya.

Sang anak menunduk dan memainkan kerah baju sang umma. “Mianhe umma~~ Minnie tidak cengaja :(“ katanya penuh penyesalan dan memeluk leher ummanya. “Ne, chagiiii~~ tapi lain kali jangan main-main di sekitar pajangan ya? Nanti kalau umma di pecat, Minnie ngga bisa makan es krim lagi. Mau?” mendengar itu, sang anak yang di panggil Minnie menggeleng cepat-cepat. “Aniiii~~ Minnie mau makan es klim umma~~” katanya manja dan sesekali menciumi pipi sang umma.

Sang umma tersenyum, “Ne, sekarang Minnie ikut umma dan duduk diam, ne?” katanya dan sang Minnie kecil pun mengangguk.

~<3~

“Minnie~~ cayaaaang~~ ummaaaa~~,  Minnie~~~ cayaaang appaaaa~~ kalau tidak cayaaaang~~ nanti~~ Tuhan~~ malaaaah~~” nyanyi Minnie kecil. Sang umma terkekeh mendengar nyanyian anaknya dengan nada burung kakak tua atau topi saya bundar- Itu dan sang anak mengganti liriknya. Hanya sebuah lirik kecil namun sangat berarti untuknya.

Ia tersenyum sambil membilas piring yang kala tengah ia cuci. Dan mulutnya bergerak, bergumam sesuatu yang sang anak tak dengar. “Umma juga selalu sayang Minnie~~” lirihnya dan kembali bekerja. Sesekali memperhatikan sang anak yang kini bermain dengan boneka bunny dan mobil-mobilannya.

~<3~

“Teukie-ah, kami pulang,” seruan membuat seseorang yang tengah mengangkat pakaian itu cepat-cepat menggendong anaknya dan membawanya bertemu siapa yang datang. Ia tahu siapa. Maka saat di depan orang itu ia menurunkan anaknya dan membungkuk, “Ah, Anda sudah kembali Nyonya Cho, Tuan Cho dan Tuan Muda Cho?”

Dua di antara mereka mengangguk. Namun tidak dengan satu orang lainnya. “Ya. Dan ada apa? Apa anakmu berbuat kesalahan lagi?” tanyanya seduktif membuat seseorang yang di panggil Teukie itu menegang. Akankah ia selamat hari ini?

“A-ano..saya minta maaf. T-tadi anak saya..menjatuhkan salah satu pajangan di ru—“

“APA? Aish! Sudah ku bilang berapa kali Kim Leeteuk! Jangan tangan anakmu kenapa sih?” seru orang itu memotong ucapan Leeteuk. “Mi-mianhe Nyonya,” ujarnya menyesal. “Kau—“

“Chulie-ah sudahlah! Kau tidak lihat Minnie terlihat ketakutan seperti itu? Bahkan Kyunnie pun juga,” ujar seseorang lagi menenangkan sang istri. “Tapi Hannie—“

“Em..ahjuma—“

“Sstt—panggil Nyonya sayang,” ujar sang umma menegur sang anak yang hendak berbicara. “Eh iya maksud Minnie~~ Nyonya Cho~~ jangan malahin umma Minnie yaaa? Tan Minnie yang ca~lah. Minnie minta maaf yaaa? Coalnya taji Minnie mau ucil kucing yang mau matanin itan di dapul pas umma ladi macaaak~~ telus Minnie kejal deh, eh kucingnya lali-nya ke luang tamu dan deketin yang duci-duci gedeee itu~~ eeeeh? Minnie tak cengaja menyentuhnya~~~ eeeh~ jatoh deh😦 Mianhe ahju—eh makcud Minnie Nyonya. Mianhe neee? Minnie yang calaah~~ jangan malahin umma, neeee?” cerita sang Minnie kecil membuat Nyonya Cho terdiam.

Bahkan anak dari Nyonya Cho pun terdiam. Saat melihat sang istri tak bicara, Hangeng—kepala keluarga di rumah itu angkat bicara, mendekati Minnie dan mensejajarkan tingginya, mengusap kepala namja kecil itu, “Ne Minnie ah. Tidak apa-apa kok. Heechul ahjuma ngga akan marahin umma lagi, ne? Hihi.. Minnie hebat ya bisa usir kucing :)” ujar Hangeng selaku Tuan Cho.

Mendengar itu, Minnie tersenyum lima jari, “Benel? Ahju—eh Nyonya Cho tak malah cama umma lagi? Yeaayyy \(^o^)/ ummaaa~~ ngga di malahin ladiiii~~ hehehe iya dun, Minnie hebat bica ucil kuciiing~~” ujarnya ceria membuat sang umma—Teukie tersenyum lembut melihat anaknya dan membuat Hangeng terkekeh melihat betapa cerianya anak kecil di depannya.

Tiba-tiba, seorang namja kecil lain lagi memegang tangannya membuat ia terkejut dan berhenti bersorak, “Eh? Ada apa Tuan Muda?” tanyanya seraya memiringkan tangannya. “Ne, Minnie hyung ayo main cama Kyunnie~~” ajaknya dan langsung menarik tangan Minnie. Mengabaikan protes dari sang pemilik tangan.

~<3~

“Kok Tuan Muda ajak Minnie main cih? Eman-nya Tuan Muda tak main cama teman-teman Tuan Muda, nee?” tanya Minnie saat ia sampai di taman belakang rumah keluarga Cho karena di tarik sang Tuan Muda. “Aku malas. Meleka ngga celu, huh!” jawabnya dan kemudian berjongkok di depan kolam ikan. Tangan bergerak menyuruh Minnie untuk duduk di sampingnya. “Em..Minnie hyung mau janji tak?” tanya Tuan Muda. “Em? Janji apa Tuan Muda?”

“Eeeh, tapi panggil aku Kyunnie dulu balu aku mau bilang~” katanya lagi. Minnie mengangguk, “Ne, Kyunnie. Eman-nya janji apa?” tanyanya lagi. Tuan Muda yang ingin di panggil Kyunnie itu menggenggam tangan mungil Minnie erat. “Beljanjilah akan telus jadi teman Kyunnie. Pokoknya Minnie hyung itu milik Kyunnie, neee? Minnie hyung halus ada di camping Kyunnie aja, dimana?” ujar serta tanya Kyunnie.

Minnie yang mendengar memiringkan kepalanya namun tersenyum lima jari dan mengangguk. “Ne! Minnie dan Kyunnie teman :D” ujarnya senang dan tersenyum ceria.

Setelah itu mereka hanya duduk diam sambil memperhatikan ikan-ikan di dalam kolam yang berlarian sambil mereka memberikan makan dengan tangan-tangan mereka. “Hihihi..lihat deh Kyunnie, itan-nya yang itu lucu. Mulutnya monyong-monyong nih nih nih kayak bedini~~” kata Minnie dan memperagakannya.

Kyunnie yang melihat terkekeh, gemas dan—

‘CHU~’

Mengecup sekilas bibir yang sedang dalam posisi memperagakan monyongnya mulut ikan di dalam kolam.

Minnie yang mendapat perlakuan itu kaget dan berseru, “Eeeh?” ujarnya bingung lalu menunduk. Walau ia tidak tahu itu apa, entah kenapa wajahnya terasa panas. Kyunnie yang melihat tersenyum lagi dan mengusap rambut Minnie, “Ne, Kyunnie cayang Minnie hyung, hehe~” kata Kyunnie lalu mengecup Minnie lagi sekilas namun kini di pipi.

Sedangkan yang menjadi korban hanya bisa diam dan menyembunyikan wajahnya. Namun di balik itu, ia tersenyum dan bergumam dengan lirih, “Minnie juga cayang Kyunnie.”

~<3~

Hari-hari terus berjalan. Seperti sekarang, hari ini hari Sabtu. Dan kebetulan Leeteuk tidak harus berada di kediaman keluarga Cho. Ia hanya bekerja di sana dari Senin hingga Jum’at. Kenapa? Karena memang itu permintaan Nyonya Cho sendiri.

Jadi sekarang apa yang akan Leeteuk lakukan? Tentu saja mencari pekerjaan yang kiranya mudah untuk di kerjakan.

Saat itu jam dinding tengah menunjukkan jarum jam yang tepat di angka tujuh. Masih terlalu pagi untuk membangunkan sang malaikat kecil.

Minnie kecil kini masih bergelut dengan selimut hangatnya. Mengabaikan sinar mentari yang masuk melalui celah-celah jendela. Sesekali mengubah posisi dan bergumam. Mungkinkah ia sedang bermimpi?

Leeteuk terkekeh kecil memperhatikan anaknya yang kini tengah bernyanyi sambil tertidur. Mendengarkan dengan seksama apa yang terucap bersamaan dengan irama yang ikut menjadikannya sebuah lagu.

“Catu..catu..Minnie..cayang umma~~ Dua..dua..Minnie..cayang appa~~ Ngh~ Tida-tida..Minnie..cayang dede~~ Catu..dua..tida..cayang semuanyaa~~ Emhh~~” nyanyinya sambil sesekali mengubah posisinya. Leeteuk tertawa kecil. Tapi tawaannya terhenti saat mendengar bait ketiga nyanyian tersebut. ‘Tida-tida..Minnie..cayang dede~~’

‘DEG’

‘Dede?’ tanyanya dalam hati. Seketika ia ingat akan tanggung jawabnya yang ia alihkan pada seseorang. Adik Minnie. Ya, Minnie memiliki adik yang artinya ia mempunyai anak bungsu. Ia menghela napas kecewa menyadari betapa tidak bergunanya ia. Harus menitipkan sang anak bungsu yang walau itu pada adik iparnya sendiri.

Ia merasa malu, tidak berguna dan tidak pantas. Mana ada seorang umma yang rela menitipkan sang anak hanya karena masalah ekonomi? ‘Tapi ini demi kebaikan malaikat terkecilku. Maafkan umma, sayang. Umma janji akan segera membawamu,’ gumamnya dalam hati.

Leeteuk kembali berpikir sampai akhirnya suara sang anak sulung mengalun indah di telinganya. “Umma~~ umma mau temana padi-padi udah lapih~~?” tanyanya masih sambil mengusap-usap matanya agar terbuka total. Leeteuk tersenyum dan mendekati sang anak. Mengelus rambutnya pelan, “Ne? Umma mau mengambil cucian para tetangga sayang~ Hari ini kan kita ngga ke rumah Tuan Muda. Jadinya umma ingin bekerja mengambil cucian tetangga saja, hm? Waeyo  chagi~~?”

Minnie mengerjap imut lalu memeluk ummanya seraya bertanya, “Minnie boleh ikut kan, ummaaa?” ucapnya sambil mendongak. Leeteuk menghela napas. Sebenarnya ia tidak ingin Minnie ikut. Tapi pasti anaknya ini akan merengek. Terpaksa ia mengangguk dan di sambut dengan ciuman di pipinya juga bisikan di telingannya, “Minnie cayang umma~ Cup~”

Dan Leeteuk hanya bisa tersenyum.

~<3~

Umma..umma~~ ayo cepat pulaaang~~ nanti Minnie tetinggalan kaltun kecukaan Minnie~~ Ayo umma~~” rengek Minnie pada Leeteuk seraya menarik tangannya. Leeteuk hanya bisa pasrah karena di kedua sisi tangannya ada dua buah keranjang pakaian kotor yang akan ia bawa dan isinya akan ia cuci sebersih Mungkin. Minnie yang tak mendapat respon dari sang umma. Melepas tarikannya dan berlari juga terus berteriak meminta umma-nya agar cepat. Tapi—

“Aduuhhh~~ huweee~~ Minnie jatuh~~ huhuhu~~ Ummaa..cakiiitt..hiks hiks,” tangisan Minnie terdengar. Ia merintih. Leeteuk mempercepat jalannya dan berjongkok tepat di depan sang anak. Meletakkan sejenak kedua keranjang itu dan mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya. Lalu memegang lutut sang anak juga memakaikannya. Kemudian memberi kecupan agar anaknya diam.

Dan bingo! Tangisan itu berhenti. Minnie memperhatikan sang umma dan balas tersenyum saat melihat sosok yang sangat di sayanginya tengah tersenyum. “Nee? Semoga cepat sembuh, Cup~” ucap Leeteuk dan mengecupnya lagi. Seakan memberi kekuatan dan keyakinan untuk sang anak.

Minnie bangkit dari jatuhnya dan memeluk leher ummanya. Kembali berbisik, “Telimakacih umma~~ Minnie cayang umma~ Cup~” bisiknya yang di akhiri kecupan. Leeteuk mengangguk, tersenyum dan balik mengecup pipi sang anak, bergumam pelan lalu memeluknya Minnie-nya, “Umma juga sayang Minnie.”

~<3~

Hari-hari tak pernah berubah bagi keluarga kecil itu. Seperti sekarang mereka tengah berada di kediaman keluarga Cho. Leeteuk dengan pekerjaannya, dan Minnie? Dengan Tuan Muda Cho-nya. Tunggu? Cho-nya? Ah entahlah. Dari mana seseorang bisa mendapatkan sebutan itu.

Hei lihat~ mereka di taman belakang.

“Minnie hyung..Minnie hyung.. Lihat-lihat, Kyunnie bikin mahkota dali bunga nih nih,” ujar sang Tuan Muda Cho dan memperlihatkannya pada Minnie. Mata Minnie berbinar dan hendak meraih mahkota bunga itu. Tapi tangan Tuan Muda-nya lebih cepat untuk menyembunyikannya membuat Minnie cemberut. “Kyunnie~~ Minnie mau itu~~” pintanya pada sang Tuan Muda.

Kyunnie—sang Tuan Muda, hanya tersenyum lalu memasangkan mahkota bunga itu pada rambut Minnie kemudian mengecup dahi Minnie membuat Minnie kembali memerah. “Hihi..itu memang buat Minnie hyung kok. Cantik kaaan?” ujarnya senang. Minnie dan mengangguk lalu mengecup balik pipi sang Tuan Muda membuat sang korban berjengit kaget, “Eeeeh?”

Dan sang pelaku hanya tersenyum.

~<3~

Bisakah keadaan berubah? Bisa. Dan bisakah takdir berubah? Tentu saja tidak bisa.

Karena semuanya berasal dari Tuhan dan kita sebagai manusia hanya bisa menjalaninya dengan lapang dada.

Tapi yang perlu di ketahui, Leeteuk tidaklah pernah merasa kurang ataupun menyesal hidup seperti ini. karena memiliki Minnie dan adiknya adalah anugrah terindah yang di berikan Tuhan.

~<3~

Pagi ini Sabtu kembali datang. Mau tak mau ia kembali berniat mengambil cucian dari rumah tetangga. Namun, Minnie tak mengizinkannya dengan alasan, ia ingin bertemu dengan sang adik yang berada jauh di sana. Merengek meminta sang umma mengabulkannya. “Ayolah umma~~ Minnie mau ketemu dede, neee?” pintanya untuk yang kesekian kali. Mau tak mau Leeteuk akhirnya mengangguk dan mengambil telpon genggam usangnya.

Memencet deretan nomor yang ada pada telpon genggam itu. Tapi sebelum ia menekan tombol ‘call’ telpon genggam itu berdering lebih dulu sehingga ia harus mengangkatnya. “Ne, yeoboseyo?”

“…”

Ne jinjja? Baru saja aku ingin ke sana, Ryeowookie~,”

“…”

Ne. Minnie kangen katanya sama dedeknya,”

“…”

Arraseo. Hyung tunggu ne? Arra, hati-hati, hem?”

“…”

Nado chagi, arra, arra.” Balasnya dan mengakhiri percakapan. Di sampingnya, sang anak masih menatapnya memohon. Lalu Leeteuk menangkup kedua pipi chubby Minnie dan mengusapnya lalu menciuminya, “Ne chagi~~ Wookie ahjuma sedang perjalan ke sini ne? Bersama dedek. Jadi Minnie tunggu aja, neee?” katanya di balas ucapan riang sang anak, “Ne umma :D”

Dan Minnie kecil berlari ke arah pintu. Menanti kedatangan orang-orang tersayangnya. Leeteuk hanya tersenyum dan beranjak ke dapur. Menyiapkan makanan untuk tamunya.

~<3~

Suara deru mesin di depan rumah terdengar. Juga teriakkan kebahagian sang anak yang memang sudah menanti-nanti kedatangan orang-orang itu. Bisa Leeteuk lihat Minnie dengan semangat menerjang mereka. Ya mereka, Ahjuma, ahjushi kesayangannya dan—sang adik.

“WOOKIE AHJUMA! YECUNG AHJUCHI! HYUKIE! MINNIE KANGEENNN~~~” serunya dan berlari menerjang mereka dengan pelukan. Satu dari dua namja dewasa itu sudah merentangkan tangan menyambut terjangan sang keponakan dan membawanya sejajar dengan keadaan sang adik.

Minnie meminta di dekatkan pada sang adik agar bisa menciumnya. Tapi namja itu menggodanya dan justru membawa masuk Minnie ke dalam rumah. Hal itu membuat Minnie memukul-mukul sayang sang ahjushi. “Ahjuchi ja-aaat~~ Minnie tan mau cium dede iiihh~~” ujarnya ngambek dan memajukan bibirnya.

Sang ahjushi yang melihat malah mencubit pipi sang keponakan seraya bergumam maaf, “Maaf chagi~~ ahjushi hanya bercanda, nee? Nah tuh sekarang Minnie bisa cium dede, ne?” ujarnya dan mendekatkan Minnie pada sang istri yang tengah menggendong seorang bayi. Lalu membiarkan sang kakak menciuminya.

Satu dari mereka mendekati Leeteuk dan memeluknya. “Ne? Apa kabar Leeteuk hyung? Aku dan Wookie sangat merindukanmu dan Minnie,” ucapnya dan Leeteuk balas memeluk juga mengusapkan tangannya pada rambut seseorang yang tengah memeluknya. “Ne Yesungie~ Aku baik dan Minnie juga baik. Kami pun merindukan kalian,” balasnya dengan nada parau. Menahan tangis yang entah kenapa tiba-tiba muncul.

Leeteuk mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya pada dada sang adik ipar. Menumpahkan semua kesedihan dan kerinduan yang ada. “Aku merindukan Kangin, Yesung-ah. Aku sangat merindukan hyung mu, hiks hiks,” Yesung hanya bisa memeluk kakak iparnya menenangkan. Sedang Wookie—istri dari Yesung sudah menangis namun segera di hapusnya agar Minnie tidak khawatir.

Karena anak kecil itu anak menangis melihat orang lain menangis.

“Ne ne, ahjumaaa? Apa dede natal di cana?” tanyanya imut sambil memiringkan kepalanya. Ryeowook—wookie—atau sang ahjuma menggeleng dan mengelus rambut Minnie, “Ani chagi~~ Hyukie anak yang baik, ne?” balasnya da mencium pipi Minnie sekilas. Kemudian kembali membiarkan Minnie dan Hyukie—adik Minnie bermain bersama.

Tiba-tiba..

Annyeong~” sapa seseorang memasuki rumahnya. Terlihat namja elegan sambil menggandeng seorang namja kecil. Leeteuk cepat-cepat menghapus air matanya dan membungkuk, “Ah, Nyonya Cho. Ada perlu apa Anda sampai ke sini, Nyonya? Apakah sangat penting?” tanya Leeteuk dan menatap majikannya.

Nyonya Cho ingin berucap, namun akibat tautan dari tangannya yang terlepas yang berarti sang anak memilih menghampiri namja kecil lain di ruangan itu menunda niatnya sebentar dan melihat sang anak menarik namja kecil itu keluar rumah. Ia menghela napas dan merasa bersalah kemudian menatap Leeteuk lagi. “Ne Teukie-ah. Aku ke sini karena ingin bilang bahwa kau tidak usah kerja padaku lagi, karena..”

“Apakah kali ini saya melakukan kesalahan yang sangat fatal, Nyonya? Saya..”

“Tidak! Makanya jangan potong omonganku, bodoh! Aku belum selesai tahu,” balas Nyonya Cho sengit. “Mianhe,” balas Leeteuk lirih. “Ne gwenchana. Jadi aku mengatakan itu karena aku, Hangeng dan Kyuhyun dan pindah ke California. Makanya aku menyuruhmu untuk tidak kerja padaku lagi. Maaf Leeteuk, selama ini aku suka marah-marah padamu. Tapi mengingat jasamu begitu banyak pada keluargaku, aku jadi tidak enak. Sebenarnya aku masih ingin kau bekerja tapi mau bagaimana ya? Soalnya kan—“

Gwenchana Nyonya. Saya mengerti,” potong Leeteuk lagi membuat Nyonya Cho memandangan tajam. “Aish kau ini. Ya sudahlah, ini gajimu selama ini dan beberapa bulan ke depan. Tidak apa-apa kan?” ujar Nyonya Cho kemudian dan memberikan amplop pada Leeteuk, “Ani Nyonya, ini terlalu banyak,” tolak Leeteuk tapi Nyonya Cho hanya menggeleng dan tersenyum, “Tidak apa-apa. Anggap saja itu sebagai bonus atas kesetiaanmu. Omong-omong aku ngga tega sih misahin Kyunnie sama Minnie. Tapi mau gimana lagi, ya kan?”

Ne Nyonya.” Dan senyuman kembali merekah.

~<3~

“Mianhe hyung,” lirih namja kecil itu. Sedangkan namja kecil lain memandangnya marah dan berseru. “Kyunnie bohong, huh! Minnie malah cama Kyunnie. Kyunnie bohong,” balas sebal dan membelakangi namja yang tadi meminta maaf. “Hyung~~ Kyunnie janji akan kembali, nee?” bujuknya lagi. Tapi Minnie hanya menggeleng dan berlari lalu berseru, “Ngga mau! Pokoknya Minnie malah cama Kyunnie! Kyunnie bohong cama Minnie! Kyunnie pembohong!”

Dan namja kecil bernama kecil Kyunnie itu hanya menatap punggung sang hyung dengan redup. Lalu berusaha untuk tetap menyusulnya.

~<3~

‘BRAK’

“Huh! Minnie malah cama Kyunnieeeee~~” teriak Minnie saat masuk ke dalam kamarnya. Mengabaikan beberapa pertanyaan dari sang umma, ahjuma, ahjushi bahkan Nyonya Cho. Lalu tak lama, tampaklah sang Tuan Muda. Ekspresinya terlihat sedih dan cepat-cepat memeluk umma-nya. Nyonya Cho yang mengerti mengelus rambut sang anak menenangkannya.

Lalu Kyunnie melepas pelukannya dan mendekati Leeteuk, mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya. Leeteuk yang mengerti berjongkok dan memperhatikan sang Tuan Muda.

Ahjuma~~ Minnie hyung kan malah cama Kyunnie. Jadi Kyunnie titip ini cama ahjuma aja, ne?” ucap Kyunnie atau Kyuhyun. Leeteuk mengangguk dan tersenyum, juga menghapus air mata yang mengalir di pipi Kyunnie, “Arrayo Tuan Muda. Maafkan Minnie, ne?” dan gelengan kepala ia dapatkan. “Kyunnie yang calah, Kyunnie yang halusnya minta maaf. Pokoknya kacih ini ke Minnie hyung, ya, ahjuma? Kyunnie halap, kalau Kyunnie kembali~~ Minnie hyung pakai balang itu, ne? Kyunnie pelcaya cama ahjuma. Coalnya Kyunnie cayang ahjuma, Cup~” ujar Kyunnie dan mengecup pipi Leeteuk.

Leeteuk mengangguk dan mengecup dahi Kyunnie, “Arra Tuan Muda. Ahjuma juga sayang Tuan Muda, ne? Nanti pasti ahjuma kasihkan ke Minnie kok,” dan Kyunnie hanya mengangguk kemudian mendekati ummanya. Menariknya pergi meninggalkan ruangan kecil itu. Sebelumnya, Kyunnie melihat ke arah anak bayi yang tengah pulas tertidur dan berkata, “Jaga Minnie hyung baik-baik ya, dede kecil.”

Dan seakan tahu, bayi kecil itu menggeliat imut. Seakan berkata iya walau tak kentara.

~<3~

“Iiih umma~~ pokoknya Minnie tak mau telimaa~~ cana buat umma ajaa~” tolak Minnie untuk yang kesekian kali. Pemberian itu..pemberian dari Kyunnie, ia tolak mentah-mentah saat sang umma baru saja mengucap nama Tuan Muda-nya itu. Sepertinya Minnie benar-benar marah ne?

“Ani, umma letakkan di sini, ne? Itu kan untuk Minnie, jadi Minnie harus menyimpannya, ne? Ngga baik loh menolak pemberian orang,” kata Leeteuk dan meninggalkan Minnie sendiri di kamar mereka.

Untuk beberapa hari sang adik beserta ahjuma dan ahjushinya menginap. Dan rencananya hari ini akan pulang kembali ke rumah mereka. Ada raut kesedihan di mata Minnie namun ia mengerti. Kelak suatu hari ia akan benar-benar tinggal dengan sang adik.

~<3~

Hari ini tepat 7 bulan kepergian keluarga Cho yang tentu saja kepergian Tuan Muda-nya itu. Dan sampai sekarang, Minnie masih belum mau menyentuh pemberian Kyunnie. Marah? Ya, Minnie masih marah sehingga enggan untuk menyentuhnya.

Minnie menatap bungkusan itu sekilas, lalu kemudian beranjak ke ruang depan. Berkumpul dengan adiknya lagi yang kali ini kembali menginap di sini.

Tangan mungil Minnie bermain di pipi sang adik. Hari ini juga, sang adik tepat berusia sebelas bulan. Sang adik tumbuh dengan baik dan sempurna. Membuat Minnie tersenyum dan suka sekali menciumi dan mencubiti pipi adiknya itu.

Tak lama, ia merasa bosan dan beranjak ke dapur memperhatikan sang umma. Di sana ada ahjushi yang tengah membuatku susu untuk adiknya. Minnie hanya duduk menopang dagu dengan kedua telapak tangannya di atas meja dan menggoyang-goyangkan kakinya. Ia merasa saaangat bosan.

~<3~

Bayi mungil itu menggeliat imut. Ryeowook terus memperhatikannya dengan seksama. Sesekali bayi itu menggumam tidak jelas sampai akhirnya. Kata pertama itu keluar indah dari bibir mungil bayi berusia sebelas bulan itu, “..mma..um..mmaa..mmaa~” gumamnya  dan menggerak-gerakkan tangannya.

Ryeowook hampir menangis dan tak percaya. Pertumbuhan yang begitu pesat untuk sang keponakan. Refleks, ia memanggil mereka, ya mereka itu—“Hyung! Hyung! Minnie! Yesungie Hyung!” serunya berulang kali. Membuat ketiga orang itu tergopoh-gopoh menghampirinya. “Waeyo ahjumaaa?” tanya Minnie pertama kali. “Ne, chagi waeyo?” kemudian Leeteuk dan Yesung.

Ryeowook tak menjawab. Air matanya kembali mengalir haru. Membuat Minnie salah paham dan menangis juga. “Ahujma..hiks..w-waeyo? D-dede n-natal, nee?” tanyanya di sela isak tangis. Ryeowook merasa bersalah dan segera menghapus air matanya. “Ani chagi ani~~ Mianhe ne, membuat Minnie khawatir? Hyukie baik kok, hanya saja..” rasa haru kembali menghinggapi.

“Wookie~ ada apa?” tanya Leeteuk lembut. Ryeowook tersenyum dalam tangisnya. “Ne! Hyukie~ Hyukie berucap kata pertamanya, hyungie~~” katanya membuat Leeteuk menutup mulutnya kaget. Tidak percaya akan secepat ini.

Minnie yang mengerti bertanya, “Neee? Ciapa yang di panggil? Pasti Minnie taan? Minnie tan? Minnie taaan?” tanya semangat. Tapi gelengan kepala Wookie membuat ia kecewa dan menunduk. “Kalo butan Minnie, telus ciapa, ahjumaaa?” tanyanya lagi. Ryeowook mengusap rambut Minnie lembut, “Ne, kita dengar saja siapa, hem?”

Ryeowook memandang bayi kecil itu lagi. Seakan tahu, ia mengangkat tangannya ke arah Leeteuk dan bergumam—“..mma..um..mma..mmaaa~~” dan seketika, Leeteuk menerjang sayang anak bungsunya dan menggendongnya. Mendekapnya erat juga menciumi wajah serta rambut sang bayi berkali-kali. Ia sangat senang. Minnie juga menghampiri sang umma kemudian memeluknya. Leeteuk berjongkok dan memeluk Minnie. Menciumi kedua buah hati kecilnya.

Satu hal yang harus semua orang ketahui,

Ia bisa bertahan tanpa sang suami karena ia—

Memiliki dua anak yang amat sangat ia cintai.

~<3~

Hari terus berjalan, musim pun berganti. Tahun yang baru semakin terus mendekati, mendatangi siapa saja. Sama seperti mereka. Sama seperti Leeteuk yang kini semakin berumur, Minnie dan Hyukie yang semakin tumbuh.

Usia Minnie sekarang menginjak sepuluh tahun dan adik kesayangannya empat tahun. Kini tak ada lagi Minnie yang masih berucap marah itu menjadi malah, tapi kini Hyukie lah yang menggantikannya.

Siang itu mereka tengah bermain di taman dekat rumah mereka. Minnie begitu menjaga sang adik. Ia sangat menyayangi adiknya. Karena ia sangat menghargai umma-nya. Ia tak mau menyakiti Hyukie karena menyakiti Hyukie sama saja dengan menyakiti umma-nya.

“Hyung~~ cekolah itu enak tidak cih?” tanya Hyukie kecil. Minnie tersenyum dan menggeleng, mengusap rambut sang adik, “Hyung tidak tahu Hyukie~ Hyung saja tidak sekolah kan?” ujarnya sedih. Namun ia kembali ceria mengingat sang adik tidak suka melihatnya sedih.

Minnie sebenarnya anak yang pintar, tapi tidak adakah orang yang berbaik hati untuk menyekolahkannya?

~<3~

Usia mereka kini 13 tahun dan 9 tahun. Kabar baiknya adalah sekarang mereka berdua bersekolah dan sang ahjushi yang membiayai mereka. Minnie dan Hyukie sangat senang karena mereka mempunyai teman baru.

Sebisa mungkin Minnie tetap menjaga sang adik. Sebisa mungkin Minnie membantu sang umma bekerja. Karena ia tak ingin melihat umma-nya kelelahan. Seperti sekarang. Matahari berada di atas kepalanya. Terik matahari yang menyengat membuatnya tak patah semangat. Ia berniat mencari kerja sambilan namun permintaan sang adik menghentikannya, “Hyukie ikut, neee?” tanyanya memohon. Berulang kali menolak, Hyukie kembali memohon. Mau bagaimana lagi? Akhirnya Minnie mengangguk dan menggandeng tangan adiknya.

Soal bungkusan itu? Apakah benar? Sudah 9 tahun berlalu, Minnie masih belum membukanya? Entahlah, hanya Minnie yang tahu.

~<3~

Umma~~ Minnie dan Hyukie pulaaaaang~” seru keduanya ceria. Sang umma pun menyambut mereka dengan senyuman hangat. Mereka berdua menerjang sang umma secara bersamaan. Mencium kedua pipi sang umma juga secara bersamaan. Leeteuk hanya terkekeh. Ia sangat mencintai kedua anaknya.

“Ne, anak umma mau makan apa, hm?” tanyanya pada kedua buah hatinya. Mereka hanya menggeleng dan berkata, “Kami ngga minta yang special. Yang ada saja itu sudah cukup, ne?” jawab mereka bersamaan membuat Leeteuk mendaratkan ciuman di pipi kedua anaknya. “Arraseo. Kalian ganti baju dan makan, ne?” dan keduanya hanya mengangguk.

~<3~

“Ne hyung. Sudah lama Hyukie mau tanya. Sebenarnya, appa itu kemana?” tanyanya setelah menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Dari sisi lain, Leeteuk bisa mendengar pertanyaan anaknya. “Ne Hyukie, yang Hyung tahu, appa meninggal dua minggu setelah kamu lahir karena kecelakaan saat kerja,” balas Minnie membuat Hyukie terdiam. “Ne. Walau bagaimanapun, Hyukie tetap sayang appa. Sayang umma dan hyung^^” katanya membuat Minnie tersenyum, “Ne, kami juga sayang kamu.”

Ne, umma juga sayang Hyukie. Appa juga, Minnie hyung  juga. Terima kasih sudah menjadi anak umma dan appa yang penurut sayang. Dan Minnie, terima kasih untuk segalanya. Umma dan appa sayang kalian,’ batin Leeteuk lirih.

~<3~

Waktu terus berjalan. Kini Minnie memasuki tahun kedua-nya SMA. Bagaimana bisa? Tentu saja karena ia termasuk anak yang cerdas. Dan sang adik kini memasuki tahun pertama-nya di SMP. Usia Minnie yang semakin bertambah membuat ia semakin tampan. Lihat saja kulit putih susu nan mulusnya membuat ia jadi incaran. Namun entah kenapa hatinya tak merespon satu pun dari begitu banyak orang yang tergila-gila padanya.

Ia merasa..ia milik seseorang! Entahlah.

~<3~

Ne, harap tenang anak-anak. Karena kita kedatang murid baru dari California,” ucap sonsaengnim membuat Minni tersentak. California, bungkusan itu. Cho Kyuhyun? Aish jinjja. Siapa sih yang menyuruh author gila ini untuk menulis namanya? Ish!

Introduce yourself, please,” ujar sonsaengnim dan membuatku semakin malas. Aku..merasa..dekat dengannya.

Ne, annyeong. My name is Cho Kyuhyun. But you can call me Kyuhyun. I moved from California. Hope we can be good friends :D” ujarnya kemudian membungkuk dan melihat ke sekeliling dan ketika ia merasa menemukan sesuatu, ia melemparkan senyuman terbaik yang terlihat seperti..iblis, eh?

“Oke, ada yang mau bertanya?” dan seketika suasana kelas ribut. Setelah di suruh, yeoja itu bertanya. “Ne, Kyuhyun-shi. May I ask you?” tanya seorang siswa. Kyuhyun bisa melihat seorang namja di pojok sana semakin malas. Kyuhyun hanya mengangguk, “Em..do you have girlfriend?” pertanyaan itu membuat ia memutar bola matanya malas.

Dengan santai ia menjawab, “Ne, I have. And he’s here right now,” ujarnya menyeringai membuat kelas kembali gaduh dan Minnie yang terkejut.

So, Kyuhyun-shi. You can sit down with Kim Sungmin in there,” ucap sonsaengnim membuat Minnie atau lebih tepatnya Kim Sungmin melotot tak percaya. Sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum..iblis.

Sungmin atau Minnie meremas tangannya di bawah meja sesaat anak baru itu benar-benar duduk di sampingnya. Memandangnya intens seakan mau menelannya hidup-hidup. “Ne, long time no see, Minnie hyung~”

‘DEG DEG’

Dan Sungmin membenci kenyataan bahkan takdir hari ini.

~<3~

“Sampai kapan kau akan mendiami aku, hyung?” tanya anak baru itu. Sungmin hanya memutar bola matanya bosan dengan pertanyaan namja yang amat sangat ia benci. Eh? Benarkah.

Sungmin beranjak dari bangkunya karena sekarang jam istirahat. Namun tangan seseorang—lebih tepatnya tangan namja itu menghentikannya. “Ku mohon jangan seperti ini hyung. Seharusnya kau menger—“

“Berhenti berbicara, babo! Pergi sana. Aku-tidak-mengenal-mu, liar!” potong Sungmin dan meninggalkan namja—lebih tepatnya Kyuhyun  di kelas sendirian.

Dan tanpa di sadari. Setetes air jatuh dari matanya. Membasahi pipi Kyuhyun karena ia merasa sangat menyesal telah melanggar janji yang ia buat sendiri. “Bahkan sama sekali ia tak peduli dengan barang pemberianku. Maaf hyung, maafkan aku,” gumamnya dan pergi meninggalkan kelas menuju taman belakang.

~<3~

Tigabelas tahun di California, tak pernah ia lewati tanpa meminta umma-nya menyuruh orang kepercayaan keluarganya untuk mengawasi dan memantau Minnie-nya. Ya, Minnie-nya. Kyuhyun baru sadar, bahwa sejak kecil ia telah jatuh untuk pemuda manis itu. Dan sang umma mengetahuinya sehingga ia dengan senang hati menyuruh orang kepercayaannya untuk mengawasi Sungmin—Kim Sungmin, Minnie-nya sang anak.

Banyak foto yang tersimpan di telpon genggamnya. Mulai dari kepergiannya sampai hari ini. Foto-foto Minnie-nya. Foto-foto orang yang sangat ia sayangi bahkan..ia cintai. “Sungguh..aku..mencintaimu, Kim Sungmin hyung,” lirihnya dan mencium telpon genggamnya yang menampakkan foto seseorang yang kini tengah membencinya.

~<3~

“Minnie hyung!” panggil seseorang ceria. Sungmin juga tersenyum saat menyadari adiknya telah mengakhiri jam belajarnya di sekolah hari ini. Seseorang itu menghampiri Sungmin dengan orang lain di sampingnya. “Ne hyungie, maaf lama, hm?” kata namja itu meminta maaf. Sungmin hanya tersenyum dan mengelus rambut adiknya, “Arraseo chagi~ Ne, siapa ini?” ucap serta tanyanya. Sang adik menoleh, “Ne hyung. Ini Cho Donghae, teman sekelasku,”

‘DEG’

‘Kenapa harus Cho sih?’ batinnya. Yah, sepertinya Kim Sungmin kita ini anti akan marga itu.

Ne hyung. Cho Donghae imnida, bangapseumnida^^” ujarnya memperkenalkan dirinya seraya membungkuk. “Arraseo. Hyukie kajja kita pulang,” ucap serta ajaknya seraya menarik sang adik. Sedangkan Hyukie—Kim HyukJae hanya pasrah dan berbalik sebentar, melambaikan tangan dan berteriak, “Donghae-ya aku duluan,” dan orang itu hanya mengangguk juga tersenyum.

~<3~

“Minnie hyung. Hyung! Minnie hyung! Hyung!” panggilan itu terabaikan. Sungmin tetap menarik adiknya cepat meninggalkan sekolah. Berusaha tetap tak mendengar apa yang ia dengar. (jadi inget waktu Kyu manggil Sungmin—hyung—deh. Wkwkwkwk)

Hyung~~ ada yang manggil tuh~” kata sang adik mengingatkan. Namun sang hyung hanya berusaha tetap tuli. Tak mengindahkan apa yang ia dengar. “Huft. Sudahlah,” gumamnya dan kembali mengikuti langkah sang hyung.

~<3~

Umma~~ kami pulaaaang~~” seru keduanya. Melemparkan senyum terbaik untuk sang umma tercinta. Dan Leeteuk, hanya bisa tersenyum menanggapi betapa ceria kedua anak terkasihnya. “Ne chagi~ selamat datang,” sambutnya. Kedua anaknya menerjang Leeteuk dengan pelukan sayang, lalu mengecup pipinya bersamaan. “Kami sayang umma~” ucap mereka membuat Leeteuk tersenyum, mengecup dan membalas kalimat mereka, “Umma juga sayang kalian, chagi~~”

Dan detik selanjutnya, hanya ada tawa terdengar. Namun tidak dengan Sungmin yang teringat sesuatu. “Ne umma, Minnie ada janji sama temen. Minnie masuk terus langsung pergi ya?” tanyanya pada sang umma. Sang umma hanya mengangguk dan mengelus rambut Minnie penuh sayang. “Arraseo. Pulangnya jangan malam-malam, ne?”

Dan Minnie hanya mengangguk.

~<3~

“Minnie hyuuuung~~” panggilan itu membuat Sungmin berhenti dan menoleh. Terlihatlah sang adik yang tengah mengejarnya. “Hyung~~ Hyukie ikut, neee?” pintanya dengan monkey eyes. Hanya dua gerakan yang bisa di lakukan, menghela napas dan—mengangguk. “Tapi jangan bilang-bilang umma, ne? Hyung kerja karena tidak ingin umma terlalu lelah.”

Hyukie mengangguk, “Arra hyung!”

~<3~

“Apa ada yang ketinggalan Mi—“

“Tuan Muda Cho?” ia kira sang anak, tetapi ternyata yang datang adalah anak dari mantan majikannya. “Ne Leeteuk ahjuma~ Kyunnie kangen~~” katanya dan memeluk Leeteuk. Leeteuk hanya berusaha membalasnya. “Ahjuma juga kangen Tuan Muda,” balasnya. Leeteuk merasa pundaknya basah, ia khawatir, ‘Apakah Tuan Muda menangis?’ gumamnya dalam hati dan benar saja. Setelah ia melepas pelukannya, ia melihat wajah sang Tuan Muda sudah penuh dengan air mata.

Isakan itu masih terdengar, “A-ahjuma..M-minnie hyung..hiks..M-membenciku..hiks,” ucap Kyuhyun di sela tangisannya. Leeteuk hanya bisa menenangkan Kyuhyun dan mengusap lembut surai kecoklatan yang kian tumbuh—basah dan menutupi mata Kyuhyun. “Ani. Minnie tidak membencimu, dia hanya kecewa padamu, ne?”

Namun Kyuhyun menggeleng, “Tapi dia yang bilang bahwa dia membenciku, ahjuma~~” tapi Leeteuk menggeleng lagi dan menghapus air mata Kyuhyun. “Hanya terus berusaha untuk mendekatinya, ne, Tuan Muda? Saya yakin Minnie akan luluh^^” sarannya. Kyuhyun tersenyum dan mengangguk, “Terima kasih ahjuma. Semoga kau merestui aku untuk menjadikannya pilihanku,” balasnya membuat Leeteuk terkaget namun mengangguk, “Tentu saja saya merestui, Tuan Muda.”

Dan kalimat terakhir itu cukup untuk menjadikan Kyuhyun lebih bersemangat mengambil hati Sungmin-nya. Menjadi lebih semangat.

~<3~

“Berjuta kali pun kau menolakku, aku akan tetap mengejarmu hyung,” ujar Kyuhyun pada Sungmin di sampingnya saat mereka sedang dalam pelajaran bahasa Inggris. Sungmin hanya mendengar hanya mendengus kesal dan mengabaikan, “Terserah kau saja, Liar!”

Dan Kyuhyun hanya bisa tersenyum miris.

~<3~

‘BUK’

Satu benda terjatuh yang berasal dari dalam lokernya. Sebuah kotak yang selama ini ia abaikan. ‘Bagaimana mungkin kotak ini ada di sini?’ tanyanya dalam hati. Namun saat melihat sisi lain kotak itu, ternyata itu kotak yang berbeda.

“Ck! Siapa coba orang kurang kerjaan yang meletakkan benda laknat seperti ini di lokerku?” tanyanya pada dirinya sendiri. Mengabaikan banyak pasang mata yang merasa heran pada namja yang tengah menggerutu itu.

Merasa di perhatikan, Sungmin menolehkan kepalanya dan berkata, “Apa lihat-lihat? Ngga suka?” tanyanya sengit membuat mereka mendesah kecewa.

Begitu banyak yang mengincar Sungmin dari pertaman mereka berada di kelas ini. namun tak satu pun  yang berhasil mendapatkan hati sang pemuda cerdas itu.

~<3~

“Dua kotak yang sama namun dengan corak yang berbeda? Apa dia juga? Ish! Mau-nya tuh orang apa sih? Oke oke, aku akan membukanya dan langsung membuang apa yang ada di dalamnya, Tuan Muda Jelek!” ucap Sungmin pada dirinya sendiri dan membuka kedua bungkusan itu.

Bungkusan pertama..yang sejak tigabelas tahun lalu belum ia sentuh sekali pun, namun sekarang ia menyentuhnya. Merobek ujungnya untuk mengetahui apa yang tertera di dalamnya. Dan saat terbuka, selembar kertas terjatuh. Barang mungil itu ia pegang dan segara saja ia mengambil kertas itu lalu membacanya.

Terlihat deretan kalimat dengan tulisan yang masih acak-acakan.

~<3~

Annyeong, Minnie hyung.

Pasti saat Minnie hyung membacanya, Minnie hyung dalam keadaan malah cama Kyunnie, nee?

Ne Minnie hyung. Mianhe kalena Kyunnie melanggal janji kita, hyung. Cebenalnya Kyunnie juga tak mau cepelti ini. Tapi Kyunnie tak belhacil membujuk appa agal Kyunnie tetap tinggal dan beltemu dengan hyung telus. Appa bilang, cuatu caat Kyunnie, appa dan umma akan kembali.

Jadi, Kyunnie halap, hyung mau menunggu Kyunnie, nee? Dan juga memaafkan Kyunnie.

Cebagai tanda maafnya~~ Kyunnie kacih gantungan kelinci ini, neee?

Umma bilang, pasti hyung cuka cama hadiah ini. benal kan? Kyunnie halap begitu, hehe😀

 

Ne hyung. Itu aja deh. Kyunnie cayang hyung. Calanghae hyung. Campai ketemu, neee?

 

 

Dali,

Kyunnie^^

~<3~

Tanpa sadar Sungmin tersenyum. Namuan senyumnya menghilang saat mengingat bagaimana Kyuhyun bilang ia akan pergi jauh dari Sungmin. Sungmin memegang dadanya yang merasa sesak. Ia merasa di khianati. Namun ia bisa apa? Ia hanya bisa marah pada dirinya sendiri dan..Kyuhyun!

Ia mulai membuka bungkusan kedua. Dan ia tak menemukan apa-apa. Hanya selembar kertas kecil dengan di isi tulisan yang lebih rapih. Baris per baris ia baca dan resapi. Berusaha mengerti makna di dalamnya.

~<3~

Tigabelas tahun aku mengabaikan kesepianku.

Tigabelas tahun aku mengabaikan kasih sayangku.

Tigabelas tahun aku membunuh rasa sakitku.

Tigabelas tahun aku berusaha tersenyum untuk umma dan appaku.

Tigabelas tahun aku berusaha berbaur dengan orang-orang baru di sekitarku.

Tigabelas tahun aku berusaha meyakinkan diriku.

Tigabelas tahun aku berusaha untuk melupakanmu.

Tigabelas tahun terbuang sia-sia saat ternyata kau tetap ada di dalam pikiranku.

Tigabelas tahun aku membenci diriku.

Tigabelas tahun aku benar-benar merasa menyesal karena meninggalkanmu.

Tigabelas tahun aku terkadang menangis sendirian.

Dan selama tigabelas tahun aku benar-benar yakin, bahwa aku mencintaimu.

 

 

Hyung,

Tigabelas tahun bukan waktu yang sebentar untuk aku menyadari perasaanku.

Tigabelas tahun bukan waktu yang sebentar untuk aku berhenti menyalahkan diriku.

Tigabelas tahun bukan waktu yang sebentar untuk aku meminta orang-orang kepercayaan umma untuk tetap mengawasimu, mengambil gambarmu dan mengetahui semua yang kau lakukan.

Dan tigabelas tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk aku melepasmu.

 

 

Sekalipun saat aku kembali kau mengabaikan aku. Aku tak peduli hyung. Karena aku akan tetap berusaha. Menjadi yang terbaik agar aku pantas berada di sampingmu. Menjadi orang yang melindungimu.

 

 

Sekalipun, kau mengacuhkan segala apa yang aku ucapkan. Aku akan tetap berbicara sampai akhirnya kau meresponku. Sampai akhirnya aku mendengar suara lembutmu lagi.

 

 

Karena satu hal yang aku tahu hyung.

 

 

Untuk pertama dan terakhir kali—

 

 

—aku telah jatuh padamu. Dan tak ingin ku pungkiri itu.

 

 

Aku mencintaimu melebihi apapun yang terjadi selama tigabelas tahun yang lalu.

 

 

Mungkin kata maaf tak akan menebus semua kesalahanku. Tapi bisakah? Kau percaya bahwa aku amat sangat mencintaimu, hyung?

 

Percaya bahwa aku hanya menginginkanmu dari pertama kali kita mengenal sampai saat ini. Aku hanya ingin dirimu. Bisakah kau percaya sekali saja?

 

Hyung, sekalipun bumi ini berhenti berputar dan tak ada waktu untukku mengatakan bahwa aku amat sangat-sangat-sangat mencintaimu. Maka akan ku lakukan jikalau Tuhan masih mengizinkanku mengatakannya di kehidupan setelah dunia. Aku tak peduli ia akan marah.

 

Hanya satu yang aku mau—

 

—aku mau, kau—tahu—bahwa aku—mencintaimu😀

 

 

Saranghae yeongwonhi, Kim Sungmin hyung. Neomu saranghanikka😀

 

 

Dari aku yang masih kau abaikan,

Kyunnie

~<3~

Haruskah Sungmin egois lagi dengan tidak menangis. Namun kenyataan membuatnya mengeluarkan air mata kristal kesayangannya.

Air mata itu menganak sungai dengan indah di kedua pipinya membuat ia terisak. Benarkah semua yang Kyuhyun lakukan selama ini? tapi perasaan kecewanya membuat ia egois tak ingin memaafkan. Ia merasa benar-benar kecewa.

“Apa salahnya memaafkan orang, kan? Kalau Tuhan bisa memaafkan hambanya yang bersalah. Kenapa Minnie-nya umma, tidak? Ada yang salah dengan memaafkan orang, hem?” suara itu membuat Sungmin menghapus air matanya dan menatap mata sang umma dengan tatapan kesedihan.

Ia beranjak dan menerjang umma-nya dengan pelukan. Menyembunyikan wajahnya di balik leher sang umma. “Apa..hiks..Minnie keter..laluan..hiks..umma?” tanyanya sambil terisak. Leeteuk mengusap rambut sang anak. “Ani. Wajar saja kalau kita kecewa. Tapi, sebaiknya Minnie memaafkan Tuan Muda, ne? Tuan Muda ‘kan mengingkari janji kalian ada alasannya, chagi~ jadi apa salahnya Minnie memaafkannya, hm?” jawab sang umma.

Minnie memandangnya ragu. Leeteuk yang mengerti menghapus air mata sang anak. “Pelan-pelan Minnie, pasti kau bisa, hem?” Dan Minnie hanya bisa mengangguk. “Minnie akan coba.”

Dan selanjutnya, Leeteuk kembali memeluk sayang sang anak. Berusaha menenangkannya.

~<3~

Hari-hari terus berganti. Ada sedikit perubahan yang membuat Kyuhyun senang. Karena Sungmin, setidaknya mau membalas sapaannya. Seperti sekarang.

“Pagi, hyung,” sapa Kyuhyun saat masuk kelas. Sungmin meliriknya sekilas dan—“Hn..” hanya balasan singkat berambigu tapi Kyuhyun amat sangat~~senang. Kyuhyun memperhatikan Sungmin yang terus fokus pada bukunya dan ia terkejut saat melihat tas Sungmin dengan gantungan—KELINCI!

Tapi Kyuhyun tersenyum. Ia merasa Sungmin sudah bisa menerimanya kembali. Hanya terus berusaha untuk mendapatkan hati Sungmin lagi.

~<3~

Hyung, pulang bareng yuk?” ajak Kyuhyun. Sungmin meliriknya sekilas dan menjawab, “Aku pulang sama Hyukie. Lain kali aja,” tolaknya dan berjalan meninggalkan Kyuhyun. Beralih ke bangunan sebelah menunggu sang adik selesai dari belajarnya. “Kalau begitu Hyukie ikut aja. Beres ‘kan?” ujarnya lagi tetap berusaha mengajak Sungmin. Sungmin yang merasa malas menjawab, “Terserahmu lah.”

“Minnie Hyung!” seruan itu membuat Sungmin menoleh. Melihat sang adik berlari menuju dirinya bersama namja lain di sampingnya. Dan ia terkejut saat namja itu berseru, “Kyu hyung!” dan itu membuat ia menoleh ke arah Kyuhyun. Kyuhyun yang di perhatikan menjawab, “Em..dia itu adikku hyung,” dan keterjutannya bertambah,

Adik? Tapi masa bodohlah.

“Ngga penting hyung. Udah pulang yuk, Hae, Hyukie. Kita pulang bareng,” ajak Kyuhyun dan Sungmin hanya bisa pasrah membiarkan tangannya di tarik oleh Kyuhyun.

~<3~

At Taman Bermain.

Bagaimana mungkin bisa sekarang mereka ada di taman bermain? dan tentu saja karena kedua adik mereka yang merengek meminta pergi ke tempat ini. dan Sungmin meresponnya malas. Kyuhyun? Meresponnya dengan senang hati,

Satu per satu wahana mereka coba. Sampai wahana terakhir. Wahana yang di tolak mentah-mentah oleh Sungmin.

“Ayolah hyuuung~~” bujuk Hyukie. Sungmin menggeleng, “Ani!” tolaknya tegas. “Hyuuung~~ nanti aku bilang umma nih, hyuuung~~ Ayo dong~~” rengekan Hyukie berlanjut. Karena tak sanggup mendengarnya. Akhirnya Sungmin mengiyakan.

Karena batas orang untuk wahana bianglala hanya dua orang, akhirnya Sungmin satu tempat dengan Kyuhyun dan Hyukie dengan Donghae.

~<3~

“Masih ngga berubah ya hyung?” tanya Kyuhyun memecah keheningan. Sungmin hanya mengangkat bahu dan larut dalam pemandangan yang tercipta. Sampai pertanyaan itu membuat ia melihat Kyuhyun, “Apa kau masih membenciku?”

‘DEG’

Sungmin menatap Kyuhyun tajam walau jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Dengan segera ia memalingkan wajahnya dan menjawab, “Ani.” Dan itu membuat Kyuhyun tersenyum. Beranjak dari tempat lalu berjongkok di depan Sungmin. “Kalau begitu tatap aku,” ujarnya dan menangkup kedua telapak tangannya pada kedua pipi Sungmin membuatnya mau tak mau melihat mata Kyuhyun.

Dan perasaan itu kembali terasa.

“Kalau kau tak membenciku, menatapku bukan hal yang sulit ‘kan hyung?” Kyuhyun berucap lagi saat Sungmin berusaha menghindari tatapannya. “A-ani. Aku..aku hanya—“

“Kau hanya tidak mau menatapku? Kenapa?” pertanyaan itu membuat Sungmin terdiam. Ia menunduk, benar-benar menghindari tatapan mata Kyuhyun ke matanya. “Aku mencintaimu, hyung.”

‘DEG DEG’

“Tatap mataku, ku mohon,” namun Sungmin tak bergeming. Ia berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak cepat. Ia—merasa gugup. Merasa tak ada jawaban, Kyuhyun mengangkat dagu Sungmin  dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Sungmin membuatnya terkaget. Dan terbelalak lucu dan setelahnya hanya mereka yang tahu bagaimana rasanya.

Di luar, salju mulai berjatuhan ke permukaan bumi. Membiarkan dua pasang insan yang berusaha mengabaikan apapun yang ada di sekitarnya. Dan benarkan sekarang Kim Sungmin sudah bisa menerima Cho Kyuhyun?

Dan jawabannya adalah ia saat Kyuhyun merasa—Sungmin membalas ciumannya.

Dan takdirnya—akan terus ia jalani. Bersama Kyuhyun..sekarang—hingga nanti.

.

.

THE END

.

.

Nb : A-a-akhirnyaaaaaaaa~~ selesai juga~~ gimana-gimana? Gaje kah? Jelek kah? Boleh saya minta komen-nya kan? Makasih sebelumnya^^

Dan maaf ya kalau banyak typo(s)😦

 

With Love,

Umu Humairo Cho

18 thoughts on “Your Destiny is Your Life

  1. Saya sering baca ceritamu di Fanfiction.net. Tapi maaf karena saya ga punya akun. Jadi ga bisa review. Gantung nih. Sequel dong

  2. “Minnie~~ cayaaaang~~ ummaaaa~~,
    Minnie~~~ cayaaang appaaaa~~ kalau tidak
    cayaaaang~~ nanti~~ Tuhan~~ malaaaah~~”
    Kyaaa neomu Kyeopta😄, ngebayangin Umin kecil dengan pipit tembem nyanyiin itu bikin aku gemes n gigit bantal sndri

    Puisi diatas jga ngena bgt d hati aku, beneran bikin nangis
    Great Job Author^^

  3. Meskipun fia pernah baca ini di fb eonni *maaf kalau belum komenT^T*, fia nggk segan2 (?) baca ulang fic ini krn fic eonni yg trbaik x3

    Bagian yang paling fia suka di sini itu yg bagian surat Kyu setelah kembali dari california TTuTT so sweet banget… Dan itu buat Ming mulai menerima Kyu lagi xDDD *tebar confetti*

    Satu lagi, enggak tau kenapa, kalau bahasa cadel itu fia nggk nyaman bacanya -___-v mgkn utk fic K selanjutnya bahasa cadelnya bisa dikurangi eonni?

    Ah~ sweet fic eonni~ :3

  4. 13th kado perpisahan dr kyu ga pernah dibuka????
    Waaaaah

    Kerasa bgt betapa besar cinta kyu ke min🙂
    Suka cadel-cadel’a mereka

  5. Akgirnya sungmin luluh juga. Marganya kenapa jadi kim? Kenapa ga tetep lee aja? Perjuangan leeteuk berat, sedih bacanya huhuhu. Keep writtibg!

  6. aaawwwww kyumin so sweet banget….
    nah lho trus nasib eunhae gmn tu? di tinggal kakak2nya asik kissing gtu..
    ahahhaha..
    aku baca ff yg lain lg aahhh

My Lirow's Mind~

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s